Teori Tumbukan & Kinetika Reaksi

Minggu, 12 April 2026

Teori tumbukan (collision theory) adalah model pertama yang menjelaskan secara mikroskopik mengapa laju reaksi bergantung pada suhu, konsentrasi, dan sifat zat. Model ini dikembangkan oleh Svante Arrhenius, Max Trautz, dan William Lewis pada awal abad ke-20, berangkat dari teori kinetik gas.

Ide pokoknya sederhana: molekul reaktan harus bertumbukan sebelum reaksi bisa terjadi. Namun tidak semua tumbukan menghasilkan produk. Hanya tumbukan yang memenuhi dua syarat berikut yang disebut tumbukan efektif:

Energi Cukup Energi kinetik relatif saat tumbukan harus melampaui energi aktivasi Ea
🎯
Orientasi Tepat Geometri tumbukan harus sesuai agar ikatan baru dapat terbentuk atau ikatan lama dapat putus

Dari dua syarat ini, laju reaksi dapat dituliskan sebagai:

\[ r = Z \cdot f \cdot p \]

Z = frekuensi tumbukan total, f = fraksi molekul berenergi ≥ Ea, p = faktor orientasi

Artikel ini membahas ketujuh aspek teori tumbukan yang paling sering muncul dalam soal olimpiade kimia, dari tingkat OSN kabupaten hingga IChO, lengkap dengan satu soal terstruktur dan pembahasan untuk setiap topik.

1

Frekuensi Tumbukan (Z)

OSN Nasional

Teori Dasar

Frekuensi tumbukan adalah jumlah total tumbukan per satuan volume per satuan waktu. Untuk gas ideal, nilai ini diturunkan dari teori kinetik molekuler. Ada dua kasus yang perlu dibedakan:

Tumbukan sesama molekul sejenis (A-A):

\[ Z_{AA} = \sqrt{2}\,\pi d^2\,\bar{u}\,n^2 \]

Tumbukan antara dua jenis molekul berbeda (A-B):

\[ Z_{AB} = \pi d_{AB}^2\,\bar{u}_{\rm rel}\,n_A\,n_B \]

dengan \(d_{AB} = \tfrac{1}{2}(d_A + d_B)\) adalah diameter tumbukan rata-rata. Kecepatan rata-rata molekul dan kecepatan relatifnya dinyatakan sebagai:

\[ \bar{u} = \sqrt{\frac{8RT}{\pi M}} = \sqrt{\frac{8k_{\rm B}T}{\pi m}} \qquad \bar{u}_{\rm rel} = \sqrt{\frac{8k_{\rm B}T}{\pi \mu}}, \quad \mu = \frac{m_A m_B}{m_A + m_B} \]
SimbolBesaranSatuan SI
\(n\)rapat partikel (number density)m−3
\(d\)diameter kinetik molekulm
\(m\)massa satu molekulkg
\(M\)massa molarkg mol−1
\(\mu\)massa tereduksikg

Rapat partikel \(n\) dihitung dari persamaan gas ideal: \(n = P/(k_{\rm B}T)\). Perlu dicatat bahwa nilai Z sangat besar (sekitar 1034 m−3 s−1) namun hanya sebagian kecil tumbukan yang menghasilkan reaksi.

Soal 1 – Frekuensi Tumbukan O2

Molekul O2 memiliki diameter kinetik \(d = 3,46 \times 10^{-10}\) m. Pada suhu \(T = 300\) K dan tekanan \(P = 1,013 \times 10^{5}\) Pa, hitunglah frekuensi tumbukan \(Z_{AA}\) (satuan: m−3 s−1).

Data: \(k_{\rm B} = 1,381 \times 10^{-23}\) J K−1, \(R = 8,314\) J mol−1 K−1, \(M({\rm O_2}) = 32,0 \times 10^{-3}\) kg mol−1.

🔎 Lihat Pembahasan

Langkah 1: Rapat Partikel n

\[ \begin{aligned} n &= \frac{P}{k_{\rm B}T} = \frac{1,013 \times 10^{5}}{1,381 \times 10^{-23} \times 300} \\ &= \frac{1,013 \times 10^{5}}{4,143 \times 10^{-21}} = 2,445 \times 10^{25}\,{\rm m}^{-3} \end{aligned} \]

Langkah 2: Kecepatan Rata-rata

\[ \begin{aligned} \bar{u} &= \sqrt{\frac{8RT}{\pi M}} = \sqrt{\frac{8 \times 8,314 \times 300}{\pi \times 32,0 \times 10^{-3}}} \\ &= \sqrt{\frac{19955}{0,1005}} = \sqrt{198551} = 445,6\,{\rm m\,s}^{-1} \end{aligned} \]

Langkah 3: Frekuensi Tumbukan ZAA

\[ \begin{aligned} Z_{AA} &= \sqrt{2}\,\pi d^2\,\bar{u}\,n^2 \\ &= \sqrt{2}\times\pi\times(3,46\times10^{-10})^2\times445,6\times(2,445\times10^{25})^2 \\ &= 1,4142 \times \pi \times 1,197\times10^{-19} \times 445,6 \times 5,978\times10^{50} \\ &= 5,319\times10^{-19} \times 445,6 \times 5,978\times10^{50} \end{aligned} \]
\[ \begin{aligned} Z_{AA} &= 2,370\times10^{-16} \times 5,978\times10^{50} \\ &= 1,42 \times 10^{35}\,{\rm m}^{-3}{\rm s}^{-1} \end{aligned} \]
Jawaban: ZAA = 1,42 × 1035 m−3 s−1

Angka ini menunjukkan lebih dari 1035 tumbukan per meter kubik per detik, namun hanya sebagian sangat kecil yang menghasilkan reaksi (bergantung pada Ea dan faktor orientasi p).

2

Faktor Orientasi p (Steric Factor)

OSN Nasional

Teori Dasar

Tidak semua tumbukan berenergi cukup menghasilkan reaksi. Molekul memiliki orientasi tertentu yang mengharuskan atom-atom yang terlibat dalam pembentukan/pemutusan ikatan untuk saling berhadapan dengan benar. Faktor orientasi atau steric factor p merupakan fraksi tumbukan berenergi cukup yang memiliki orientasi tepat tersebut.

Konstanta laju reaksi dalam kerangka teori tumbukan adalah:

\[ k = p\cdot\frac{Z}{[A][B]}\cdot e^{-E_a/RT} \]

sehingga faktor p dapat dihitung dari data eksperimen:

\[ p = \frac{k_{\rm obs}}{(Z/[A][B])\cdot f}, \qquad f = e^{-E_a/RT} \]
Jenis reaksiTipikal nilai p
Reaksi atom/ion sederhana≈ 1
Molekul kecil simetris10−1 – 10−2
Molekul besar/asimetris10−4 – 10−6

Nilai p yang sangat kecil menunjukkan bahwa tumbukan harus terjadi dalam sudut yang sangat sempit agar reaksi berlangsung, sementara p mendekati 1 berarti hampir semua orientasi tumbukan efektif.

Soal 2 – Menentukan Faktor Orientasi p

Reaksi bimolekuler fase gas A + B → P pada \(T = 500\) K memiliki data berikut:

\(Z/([A][B]) = 6,0 \times 10^{11}\) L mol−1 s−1,   \(E_a = 100,0\) kJ mol−1,   \(k_{\rm obs} = 2,14\) L mol−1 s−1.

Tentukan faktor orientasi \(p\) dan jelaskan maknanya secara fisik.

Data: \(R = 8,314\) J mol−1 K−1.

🔎 Lihat Pembahasan

Langkah 1: Hitung Faktor Boltzmann f

\[ \begin{aligned} f &= e^{-E_a/RT} = \exp\!\left(-\frac{100,0\times10^3}{8,314\times500}\right) \\ &= \exp(-24,05) = 3,57 \times 10^{-11} \end{aligned} \]

Langkah 2: Konstanta Laju Terprediksi (tanpa koreksi orientasi)

\[ \begin{aligned} k_{\rm pred} &= \frac{Z}{[A][B]}\cdot f \\ &= 6,0\times10^{11} \times 3,57\times10^{-11} \\ &= 21,4\,{\rm L\,mol}^{-1}{\rm s}^{-1} \end{aligned} \]

Langkah 3: Faktor Orientasi p

\[ \begin{aligned} p &= \frac{k_{\rm obs}}{k_{\rm pred}} = \frac{2,14}{21,4} = 0,100 \end{aligned} \]
Jawaban: p = 0,100 (atau 10%)

Interpretasi: Hanya 10% dari tumbukan yang memiliki energi cukup (\(\geq E_a\)) juga memiliki orientasi yang tepat untuk menghasilkan reaksi. Ini berarti geometri pendekatan antar molekul cukup sensitif, namun tidak terlalu ketat (nilai p = 0,1 tergolong sedang untuk molekul bukan atom).

3

Persamaan Arrhenius dan Variasi Suhu

OSN Provinsi – Nasional

Teori Dasar

Svante Arrhenius (1889) merumuskan hubungan empiris antara konstanta laju dan suhu berdasarkan fakta bahwa laju reaksi meningkat secara eksponensial dengan suhu:

\[ k = A\,e^{-E_a/RT} \]

di mana \(A\) adalah faktor pre-eksponensial (satuan sama dengan \(k\)) yang mencerminkan frekuensi tumbukan dan faktor orientasi, serta \(E_a\) adalah energi aktivasi (J mol−1). Bentuk logaritmik persamaan ini memberikan persamaan garis lurus:

\[ \ln k = \ln A - \frac{E_a}{RT} \quad \Longrightarrow \quad \ln k = -\frac{E_a}{R}\cdot\frac{1}{T} + \ln A \]

Plot \(\ln k\) versus \(1/T\) menghasilkan garis lurus dengan kemiringan \(-E_a/R\). Untuk menghitung \(E_a\) dari dua pasang data \((k_1, T_1)\) dan \((k_2, T_2)\):

\[ \ln\!\left(\frac{k_2}{k_1}\right) = \frac{E_a}{R}\!\left(\frac{1}{T_1} - \frac{1}{T_2}\right) \quad \Longrightarrow \quad E_a = \frac{R\ln(k_2/k_1)}{\dfrac{1}{T_1} - \dfrac{1}{T_2}} \]
Catatan penting: Aturan van't Hoff ("laju reaksi naik dua kali lipat setiap suhu naik 10°C") hanyalah aproksimasi kasar. Nilai persisnya bergantung pada \(E_a\) dan suhu awal. Untuk \(E_a\) besar, kenaikannya bisa jauh lebih dari dua kali lipat.
Soal 3 – Energi Aktivasi N2O5

Reaksi dekomposisi \(2\,{\rm N_2O_5}(g) \to 4\,{\rm NO_2}(g) + {\rm O_2}(g)\) memiliki data:

\(k_1 = 1,72 \times 10^{-5}\) s−1 pada \(T_1 = 298\) K

\(k_2 = 2,02 \times 10^{-3}\) s−1 pada \(T_2 = 338\) K

(a) Tentukan \(E_a\).   (b) Hitung \(k\) pada \(T_3 = 318\) K.

Data: \(R = 8,314\) J mol−1 K−1.

🔎 Lihat Pembahasan

(a) Energi Aktivasi

\[ \begin{aligned} \ln\!\left(\frac{k_2}{k_1}\right) &= \ln\!\left(\frac{2,02\times10^{-3}}{1,72\times10^{-5}}\right) = \ln(117,4) = 4,766 \\[6pt] \frac{1}{T_1} - \frac{1}{T_2} &= \frac{1}{298} - \frac{1}{338} = \frac{338-298}{298\times338} = \frac{40}{100724} \\ &= 3,971\times10^{-4}\,{\rm K}^{-1} \end{aligned} \]
\[ \begin{aligned} E_a &= \frac{R\ln(k_2/k_1)}{\dfrac{1}{T_1}-\dfrac{1}{T_2}} = \frac{8,314 \times 4,766}{3,971\times10^{-4}} \\[6pt] &= \frac{39,61}{3,971\times10^{-4}} = 99,75\,{\rm kJ\,mol}^{-1} \end{aligned} \]

(b) Konstanta Laju pada T3 = 318 K

\[ \begin{aligned} \frac{1}{T_1} - \frac{1}{T_3} &= \frac{1}{298} - \frac{1}{318} = \frac{20}{94764} = 2,111\times10^{-4}\,{\rm K}^{-1} \\[6pt] \ln\!\left(\frac{k_3}{k_1}\right) &= \frac{E_a}{R}\!\left(\frac{1}{T_1}-\frac{1}{T_3}\right) = \frac{99750}{8,314}\times2,111\times10^{-4} \\ &= 11998 \times 2,111\times10^{-4} = 2,533 \end{aligned} \]
\[ k_3 = k_1 \times e^{2,533} = 1,72\times10^{-5} \times 12,60 = 2,17\times10^{-4}\,{\rm s}^{-1} \]
(a) Ea = 99,8 kJ mol−1  |  (b) k pada 318 K = 2,17 × 10−4 s−1
4

Diagram Koordinat Reaksi dan Energi Aktivasi

OSN Kabupaten – Provinsi

Teori Dasar

Diagram koordinat reaksi memplot energi potensial sistem terhadap jalannya reaksi (koordinat reaksi). Beberapa titik penting dalam diagram ini:

  • Puncak diagram adalah kompleks teraktivasi (keadaan transisi), bukan spesies yang dapat diisolasi.
  • Ea(maju) adalah energi yang diperlukan untuk mengubah reaktan menjadi keadaan transisi.
  • Ea(balik) adalah energi yang diperlukan untuk reaksi berlangsung ke arah sebaliknya.

Berdasarkan hukum Hess, selisih kedua energi aktivasi sama dengan entalpi reaksi:

\[ \Delta H = E_a^{\rm maju} - E_a^{\rm balik} \quad \Longleftrightarrow \quad E_a^{\rm balik} = E_a^{\rm maju} - \Delta H \]

Ketika katalis ditambahkan, ia menyediakan jalur reaksi alternatif dengan energi aktivasi lebih rendah (\(E_a' < E_a\)), tetapi tidak mengubah \(\Delta H\) karena titik awal dan akhir energi reaktan serta produk tidak berubah. Faktor percepatan laju akibat katalis pada suhu \(T\) adalah:

\[ \frac{k_{\rm kat}}{k} = \frac{A\,e^{-E_a'/RT}}{A\,e^{-E_a/RT}} = e^{(E_a - E_a')/RT} = e^{\Delta E_a/RT} \]
Soal 4 – Efek Katalis pada Diagram Energi

Reaksi A → B memiliki \(E_a^{\rm maju} = 85\) kJ mol−1 dan \(\Delta H = -35\) kJ mol−1.

(a) Tentukan \(E_a^{\rm balik}\).

(b) Suatu katalis menurunkan \(E_a^{\rm maju}\) sebesar 20 kJ mol−1. Hitung faktor percepatan laju reaksi maju pada \(T = 400\) K.

Data: \(R = 8,314\) J mol−1 K−1.

🔎 Lihat Pembahasan

(a) Energi Aktivasi Reaksi Balik

\[ \begin{aligned} E_a^{\rm balik} &= E_a^{\rm maju} - \Delta H \\ &= 85 - (-35) = 120\,{\rm kJ\,mol}^{-1} \end{aligned} \]

Reaksi balik lebih sulit karena Ea(balik) > Ea(maju), konsisten dengan reaksi maju yang eksoterm (ΔH < 0).

(b) Faktor Percepatan akibat Katalis

\[ \begin{aligned} \Delta E_a &= E_a - E_a' = 20\,{\rm kJ\,mol}^{-1} = 20000\,{\rm J\,mol}^{-1} \\[6pt] \frac{k_{\rm kat}}{k} &= e^{\Delta E_a/RT} = \exp\!\left(\frac{20000}{8,314 \times 400}\right) \\ &= \exp(6,014) = e^6 \times e^{0,014} \\ &= 403,4 \times 1,014 = 409 \end{aligned} \]
(a) Ea(balik) = 120 kJ mol−1  |  (b) Laju maju meningkat ≈ 409 kali dengan katalis

Catatan: Katalis mempercepat reaksi maju DAN balik dengan faktor yang sama. Kesetimbangan tidak bergeser, tetapi dicapai lebih cepat.

5

Distribusi Maxwell–Boltzmann

OSN Nasional

Teori Dasar

Molekul dalam suatu gas tidak semuanya bergerak dengan kecepatan yang sama. Distribusi Maxwell–Boltzmann menggambarkan probabilitas menemukan molekul pada kecepatan tertentu:

\[ f(u) = 4\pi n\left(\frac{m}{2\pi k_{\rm B}T}\right)^{3/2} u^2 \exp\!\left(-\frac{mu^2}{2k_{\rm B}T}\right) \]

Fraksi molekul dengan energi kinetik translasi \(E \geq E_a\) (faktor Boltzmann) diturunkan dari distribusi energi di atas. Untuk kondisi \(E_a \gg k_{\rm B}T\) (yang berlaku pada kebanyakan reaksi kimia):

\[ f = \frac{N(E \geq E_a)}{N_{\rm total}} \approx e^{-E_a/RT} \]

Ketika suhu naik, dua hal terjadi secara bersamaan:

  1. Kecepatan rata-rata molekul meningkat ∝ \(\sqrt{T}\), sehingga frekuensi tumbukan \(Z \propto \sqrt{T}\).
  2. Fraksi molekul berenergi \(\geq E_a\) meningkat secara eksponensial.

Efek eksponensial jauh mendominasi efek \(\sqrt{T}\), sehingga laju reaksi meningkat sangat cepat dengan suhu.

Soal 5 – Distribusi Energi dan Percepatan Laju

Suatu reaksi memiliki \(E_a = 50,0\) kJ mol−1. Bandingkan fraksi molekul berenergi \(\geq E_a\) pada \(T_1 = 300\) K dan \(T_2 = 310\) K. Jika \(Z \propto \sqrt{T}\), berapa faktor percepatan laju reaksi total saat suhu naik 10 K?

Data: \(R = 8,314\) J mol−1 K−1.

🔎 Lihat Pembahasan

Langkah 1: Fraksi pada T1 = 300 K

\[ \begin{aligned} -\frac{E_a}{RT_1} &= -\frac{50000}{8,314\times300} = -20,054 \\ f_1 &= e^{-20,054} = e^{-20}\times e^{-0,054} \\ &= 2,061\times10^{-9}\times0,9474 = 1,952\times10^{-9} \end{aligned} \]

Langkah 2: Fraksi pada T2 = 310 K

\[ \begin{aligned} -\frac{E_a}{RT_2} &= -\frac{50000}{8,314\times310} = -19,399 \\ f_2 &= e^{-19,399} = e^{-19}\times e^{-0,399} \\ &= 5,603\times10^{-9}\times0,671 = 3,760\times10^{-9} \end{aligned} \]

Langkah 3: Perbandingan f dan Faktor Percepatan Total

\[ \begin{aligned} \frac{f_2}{f_1} &= \frac{3,760\times10^{-9}}{1,952\times10^{-9}} = 1,926 \\[8pt] \text{Faktor dari } Z: &\quad \sqrt{\frac{T_2}{T_1}} = \sqrt{\frac{310}{300}} = 1,0165 \\[8pt] \text{Faktor percepatan total} &= \frac{f_2}{f_1}\times\sqrt{\frac{T_2}{T_1}} = 1,926\times1,017 = 1,96 \end{aligned} \]
Fraksi f hampir dua kali lipat (1,926x). Faktor percepatan laju total ≈ 1,96 (hampir dua kali lipat) hanya dari kenaikan 10 K.

Analisis: Dari total faktor 1,96, kontribusi fraksi Boltzmann adalah 1,926 (98%) dan kontribusi frekuensi tumbukan √T hanya 1,017 (2%). Ini membuktikan bahwa perubahan fraksi molekul berenergi cukup adalah penyebab utama percepatan laju reaksi oleh suhu.

6

Teori Keadaan Transisi (TST / Eyring)

IChO – AChO

Teori Dasar

Teori Keadaan Transisi (Transition State Theory), dikembangkan oleh Henry Eyring, Meredith Evans, dan Michael Polanyi (1935), merupakan penyempurnaan teori tumbukan. TST mengasumsikan bahwa reaktan berada dalam kesetimbangan semu dengan kompleks teraktivasi (keadaan transisi) ‡, sebelum terurai menjadi produk.

Persamaan Eyring untuk konstanta laju adalah:

\[ k = \frac{k_{\rm B}T}{h}\exp\!\left(-\frac{\Delta G^\ddagger}{RT}\right) = \frac{k_{\rm B}T}{h}\exp\!\left(\frac{\Delta S^\ddagger}{R}\right)\exp\!\left(-\frac{\Delta H^\ddagger}{RT}\right) \]

Bentuk linearnya untuk analisis eksperimen:

\[ \ln\!\left(\frac{k}{T}\right) = \ln\!\left(\frac{k_{\rm B}}{h}\right) + \frac{\Delta S^\ddagger}{R} - \frac{\Delta H^\ddagger}{RT} \]

Dari dua pasang data, \(\Delta H^\ddagger\) diperoleh dari:

\[ \Delta H^\ddagger = \frac{-R\left[\ln\!\left(\dfrac{k_1}{T_1}\right) - \ln\!\left(\dfrac{k_2}{T_2}\right)\right]}{\dfrac{1}{T_1} - \dfrac{1}{T_2}} \]
ParameterMakna fisikTipikal untuk reaksi bimolekuler
\(\Delta H^\ddagger\)Energi yang diperlukan untuk membentuk TSPositif, 40–150 kJ mol−1
\(\Delta S^\ddagger > 0\)TS lebih bebas dari reaktan (jarang)Reaksi unimolekuler dengan TS longgar
\(\Delta S^\ddagger < 0\)TS lebih teratur (kehilangan kebebasan gerak)Reaksi bimolekuler: −100 hingga −200 J mol−1K−1

Hubungan antara parameter Eyring dan Arrhenius: \(E_a = \Delta H^\ddagger + RT\) (gas, reaksi unimolekuler) dan \(A = \dfrac{ek_{\rm B}T}{h}\exp\!\left(\dfrac{\Delta S^\ddagger}{R}\right)\).

Soal 6 – Parameter Aktivasi Eyring

Reaksi orde pertama memiliki data:

\(k_1 = 3,5 \times 10^{-2}\) s−1 pada \(T_1 = 500\) K

\(k_2 = 1,2 \times 10^{-1}\) s−1 pada \(T_2 = 520\) K

Tentukan \(\Delta H^\ddagger\) dan \(\Delta S^\ddagger\).

Data: \(R = 8,314\) J mol−1K−1, \(k_{\rm B} = 1,381\times10^{-23}\) J K−1, \(h = 6,626\times10^{-34}\) J s.

🔎 Lihat Pembahasan

Langkah 1: Hitung ln(k/T) untuk Masing-masing Suhu

\[ \begin{aligned} \ln\!\left(\frac{k_1}{T_1}\right) &= \ln\!\left(\frac{3,5\times10^{-2}}{500}\right) = \ln(7,0\times10^{-5}) \\ &= \ln(7,0) - 5\ln(10) = 1,946 - 11,513 = -9,567 \\[6pt] \ln\!\left(\frac{k_2}{T_2}\right) &= \ln\!\left(\frac{1,2\times10^{-1}}{520}\right) = \ln(2,308\times10^{-4}) \\ &= \ln(2,308) - 4\ln(10) = 0,837 - 9,210 = -8,373 \end{aligned} \]

Langkah 2: Entalpi Aktivasi ΔH

\[ \begin{aligned} \frac{1}{T_1} - \frac{1}{T_2} &= \frac{1}{500} - \frac{1}{520} = \frac{20}{260000} = 7,692\times10^{-5}\,{\rm K}^{-1} \\[8pt] \Delta H^\ddagger &= \frac{-R\left[(-9,567) - (-8,373)\right]}{7,692\times10^{-5}} \\ &= \frac{-8,314\times(-1,194)}{7,692\times10^{-5}} = \frac{9,927}{7,692\times10^{-5}} \\ &= 129,1\,{\rm kJ\,mol}^{-1} \end{aligned} \]

Langkah 3: Entropi Aktivasi ΔS (menggunakan data pada T1 = 500 K)

\[ \begin{aligned} \frac{k_{\rm B}T_1}{h} &= \frac{1,381\times10^{-23}\times500}{6,626\times10^{-34}} = 1,042\times10^{13}\,{\rm s}^{-1} \\[6pt] \ln\!\left(\frac{k_1}{T_1}\right) &= \ln\!\left(\frac{k_{\rm B}}{h}\right) + \frac{\Delta S^\ddagger}{R} - \frac{\Delta H^\ddagger}{RT_1} \end{aligned} \]
\[ \begin{aligned} \frac{\Delta S^\ddagger}{R} &= \ln\!\left(\frac{k_1}{T_1}\right) - \ln\!\left(\frac{k_{\rm B}}{h}\right) + \frac{\Delta H^\ddagger}{RT_1} \\ &= -9,567 - \ln(2,084\times10^{10}) + \frac{129100}{8,314\times500} \\ &= -9,567 - 30,670 + 31,052 = -9,185 \end{aligned} \]
\[ \Delta S^\ddagger = -9,185 \times 8,314 = -76,4\,{\rm J\,mol}^{-1}{\rm K}^{-1} \]
ΔH = 129,1 kJ mol−1  |  ΔS = −76,4 J mol−1 K−1

Interpretasi: \(\Delta S^\ddagger < 0\) menunjukkan bahwa keadaan transisi lebih teratur daripada reaktan, yaitu ada kehilangan derajat kebebasan rotasi atau vibrasi saat membentuk TS. Nilai −76 J mol−1K−1 konsisten dengan reaksi yang melewati TS yang cukup terkekang secara geometri.

7

Efek Isotop Kinetik (KIE)

IChO – AChO

Teori Dasar

Ketika sebuah atom dalam reaktan digantikan oleh isotopnya yang lebih berat (terutama H diganti D atau T), konstanta laju reaksi dapat berubah secara signifikan. Fenomena ini disebut Kinetic Isotope Effect (KIE) dan digunakan untuk menentukan langkah penentu laju (rate-determining step) dalam mekanisme reaksi.

\[ {\rm KIE} = \frac{k_{\rm H}}{k_{\rm D}} \]

Dasar fisika KIE adalah perbedaan energi titik nol (zero-point energy, ZPE) antara ikatan C–H dan C–D. Ikatan C–H memiliki ZPE lebih tinggi karena atom H lebih ringan (frekuensi vibrasi lebih tinggi). Akibatnya, energi aktivasi untuk pemutusan C–H lebih rendah dibandingkan C–D:

\[ \frac{k_{\rm H}}{k_{\rm D}} \approx \exp\!\left(\frac{\Delta E_{\rm ZPE}}{RT}\right), \quad \Delta E_{\rm ZPE} = \frac{h}{2}\left(\nu_{\rm C{-}H} - \nu_{\rm C{-}D}\right) \]
Jenis KIERentang kH/kDMakna
Primary KIE2 – 7 (pada 25°C)Ikatan C–H putus pada langkah penentu laju
Secondary KIE1,0 – 1,3Rehybridisasi atom C–H di langkah penentu laju
Inverse KIE< 1C–H terbentuk (bukan putus) di langkah penentu laju
Efek terowongan> 7Atom H melewati barier melalui tunneling kuantum

KIE merupakan bukti mekanistik yang kuat. Apabila mengganti H dengan D tidak mengubah laju reaksi (\(k_{\rm H}/k_{\rm D} \approx 1\)), artinya pemutusan ikatan C–H bukan bagian dari langkah penentu laju.

Soal 7 – Identifikasi Langkah Penentu Laju via KIE

Dua sampel suatu senyawa, satu mengandung C–H dan satu lagi C–D pada posisi reaksi, diuji dalam kondisi identik. Diperoleh:

\(k_{\rm H} = 4,2 \times 10^{-3}\) s−1    dan    \(k_{\rm D} = 7,0 \times 10^{-4}\) s−1

(a) Hitung nilai KIE.   (b) Tentukan apakah pemutusan ikatan C–H terlibat dalam langkah penentu laju.   (c) Apa implikasinya terhadap mekanisme reaksi?

🔎 Lihat Pembahasan

(a) Nilai KIE

\[ {\rm KIE} = \frac{k_{\rm H}}{k_{\rm D}} = \frac{4,2\times10^{-3}}{7,0\times10^{-4}} = 6,0 \]

(b) Identifikasi Langkah Penentu Laju

Karena \(2 \leq {\rm KIE} = 6,0 \leq 7\), ini masuk dalam rentang primary KIE. Artinya pemutusan ikatan C–H terlibat langsung dalam langkah penentu laju.

(c) Implikasi Mekanistik

Pemutusan ikatan C–H terjadi pada atau sebelum langkah tertinggi dalam diagram energi. Jika mekanisme melibatkan beberapa langkah, langkah yang memutus C–H adalah langkah yang paling lambat. Mekanisme yang mengusulkan langkah penentu laju tanpa pemutusan C–H dapat dieliminasi.

KIE = 6,0 → Primary KIE → Pemutusan ikatan C–H ADA pada langkah penentu laju

Catatan: Jika KIE > 7, perlu dipertimbangkan efek terowongan kuantum (quantum tunneling), di mana atom H "menembus" barier energi aktivasi alih-alih meloncatinya. Efek ini makin penting pada suhu rendah dan untuk atom H (bukan D atau T).

Referensi:
Atkins & de Paula, Physical Chemistry, edisi 10;
Anslyn & Dougherty, Modern Physical Organic Chemistry;
Chang & Goldsby, Chemistry, edisi 12.

Artikel ini merupakan bagian dari seri persiapan singkat OSN Kimia di urip.info.

Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info