Senyawa X yang berasal dari resin tanaman pimas diketahui memiliki data analisis unsur sebagai berikut: C = 79,42%; H = 10,00%; O = 10,58%. Spektrum massa dan spektrum IR senyawa X ditunjukkan di bawah ini.
Pembahasan OSP 2025:
Nomor 1, Nomor 2, Nomor 3, Nomor 4, Nomor 5, Nomor 6, Nomor 7, Nomor 8, Nomor 9
a. Rumus molekul senyawa X yang direpresentasikan sebagai CqHrOs, dengan nilai q, r, dan s secara berturut-turut adalah (isilah dengan bilangan bulat):
q = ......
r = ......
s = ......
sehingga senyawa X memiliki nilai DBE (double bond equivalent, isilah dengan bilangan bulat): ......
Berdasarkan spektrum IR, senyawa X memiliki gugus fungsi utama: ......
Gunakan data spetroskopi yang ada di sini untuk referensi menjawab soal-soal OSN Kimia.
Senyawa X mengalami reaksi disproporsionasi dan dehidrogenasi dalam katalis Pd/Al2O3 menghasilkan senyawa Z. Ketika larutan Br2/CCl4 ditambahkan ke dalam dua tabung reaksi berbeda yang didalamnya masing-masing hanya berisi larutan senyawa X dan senyawa Z saja di dalam CCl4, warna khas brom hanya hilang di dalam tabung yang berisi senyawa X saja. Senyawa Z dapat membentuk kompleks berwarna kehijauan ketika ditambahkan larutan FeBr3.
c. Berdasarkan informasi ini, senyawa Z memiliki nilai DBE (isilah dengan bilangan bulat): ......
dan kemampuannya membentuk kompleks berwarna kehijauan dengan FeBr3 disebabkan oleh adanya gugus fungsi: ......
Senyawa X dapat ditransformasi menjadi senyawa Y berikut.
d. Senyawa Y memiliki ...... karbon kiral, sehingga memiliki stereokimia maksimum yang dimiliki adalah (isi dengan bilangan bulat): ......
e. Ketika senyawa Y direaksikan dengan H2O2 dalam suasana basa, maka reaksi akan terjadi pada ......
f. Reagen yang paling sesuai mereduksi senyawa Y menjadi turunan alkoholnya tanpa mempengaruhi ikatan rangkapannya adalah ......
- NH2NH2, KOH, dietilen glikol 180°C
- 1. NaBH4; 2. H3O+
- Tidak tahu
- H2, Pd/C, 25°C, 1 atm
- Zn(Hg) dalam HCl
g. Reagen yang paling sesuai untuk memutuskan ikatan rangkap senyawa Y tanpa mempengaruhi gugus karbonilnya adalah ......
- Tidak tahu
- 1. K2CrO4 dalam suasana asam; 2. Zn, HCl
- 1. 1,2-etandiol, pH 5-6; 2. O3; 3. H2O2, OH-; 4. H3O+
- 1. ekivalen etanol; 2. OsO4; 3. NaHSO4; 4. H3O+
- 1. O3; 2. Zn, HCl
Pembahasan Soal
Rumus molekul, DBE, dan gugus fungsi utama
| Unsur | % | Mr | Mol relatif | Bagi terkecil | Rasio bulat |
|---|---|---|---|---|---|
| C | 79,42 | 12,011 | 6,612 | \(\dfrac{6,612}{0,661}\) = 10,00 | 10 |
| H | 10,00 | 1,008 | 9,921 | \(\dfrac{9,921}{0,661}\) = 15,01 | 15 |
| O | 10,58 | 15,999 | 0,661 | \(\dfrac{0,661}{0,661}\) = 1,00 | 1 |
Rumus empiris = C10H15O, Mr empiris = 10(12,011) + 15(1,008) + 15,999 = 151,23
Spektrum massa menunjukkan ion molekuler M⁺ = 302.
Verifikasi:
Mr = 20(12,011) + 30(1,008) + 2(15,999) = 240,22 + 30,24 + 32,00 = 302,46 ✓
Verifikasi komposisi:
| Unsur | Terhitung (%) | Data soal (%) |
|---|---|---|
| C | 20 × \(\dfrac{12,011}{302,46}\) × 100% = 79,42% | 79,42% ✓ |
| H | 30 × \(\dfrac{1,008}{302,46}\) × 100% = 10,00% | 10,00% ✓ |
| O | 2 × \(\dfrac{15,999}{302,46}\) × 100% = 10,58% | 10,58% ✓ |
Pita-pita IR diagnostik senyawa X:
| Bilangan gelombang (cm⁻¹) | Interpretasi |
|---|---|
| 2400–3300 (lebar, kuat) | –OH dari asam karboksilat (O–H stretch) |
| ~2900 | C–H sp³ stretch (alifatik) |
| 1690–1710 (kuat) | C=O stretch asam karboksilat (terkonjugasi) |
| ~1460, ~1380 | C–H bending gem-dimetil |
| 1000 – 1300 | berhubungan dengan getaran ulur C-O |
Gugus fungsi utama: asam karboksilat (–COOH)
DBE = 6
Gugus fungsi utama: Asam karboksilat (–COOH)
Spektrum ¹³C-NMR yang bersesuaian dengan senyawa X
(C₂₀H₃₀O₂) memiliki 20 karbon.
| Wilayah δ (ppm) | Jenis Karbon | Jumlah (est.) |
|---|---|---|
| 180–185 | C=O asam karboksilat (–COOH) | 1 |
| 130–145 | C=C olefinik (sp²), 2 ikatan rangkap | 4 |
| 35–55 | CH, CH₂, C kuarterner (alifatik ring) | 9–10 |
| 15–35 | CH₃ (metil, isopropil, gem-dimetil) | 5–6 |
Spektrum ¹³C C₂₀H₃₀O₂ menunjukkan:
- Satu sinyal di ~182 ppm → C=O asam karboksilat
- Empat sinyal di ~120–145 ppm → 4 karbon olefinik (2 ikatan C=C)
- Sinyal-sinyal di 15–55 ppm → karbon alifatik (CH, CH₂, CH₃, C)
- Total sinyal: hingga 20 puncak (jika semua berbeda)
Spektrum a memenuhi itu, sementara spektrum b tidak terdapat sinyal di sekitar ~182 ppm sehingga ini tidak sesuai karena tidak menunjukkan keberadaan -COOH.
Senyawa Z: DBE dan gugus fungsi
Reaksi dehidrogenasi dan disproporsionasi menyebabkan senyawa X kehilangan atom hidrogen untuk mencapai bentuk yang lebih stabil secara termodinamika, yaitu aromatisasi.
Identifikasi Senyawa Z
- Uji Br2/CCl4 (Negatif): Warna brom tidak hilang. Ini menunjukkan bahwa ikatan rangkap alifatik pada X telah berubah menjadi ikatan rangkap dalam sistem aromatik, yang lebih stabil dan tidak mudah mengalami reaksi adisi.
- Uji FeBr3 (Kompleks Hijau): Munculnya warna kehijauan menunjukkan adanya interaksi antara asam Lewis (Fe3+) dengan sistem elektron pi (π) pada gugus fungsi aromatik.
Perhitungan Nilai DBE Senyawa Z
Karena terjadi proses aromatisasi (pembentukan cincin benzena), senyawa kehilangan 2 atom hidrogen dari struktur aslinya (C20H30O2 → C20H28O2).
DBE Z = \(\dfrac{2(20) + 2 - 28}{2} = \dfrac{14}{2}\) = 7
Rincian 7 unit DBE tersebut adalah:
- 3 unit dari 3 cincin (struktur trisiklik).
- 3 unit dari 3 ikatan rangkap di dalam cincin aromatik.
- 1 unit dari ikatan rangkap C=O pada gugus karboksilat.
Gugus fungsi yang membentuk kompleks hijau dengan FeBr₃: cincin aromatik
Jumlah karbon kiral dan stereoisomer maksimum senyawa Y
Reaksi senyawa Y dengan H₂O₂ dalam suasana basa
Senyawa Y (dekahidrofenantrenon) memiliki:
- Gugus keton (C=O) — dalam cincin
- Ikatan C=C terkonjugasi dengan keton → sistem enon (α,β-unsaturated ketone)
H₂O₂ dalam suasana basa (HOO⁻ = hidroperoksida anion) bertindak sebagai nukleofil dalam epoksidasi konjugat (nukleofilik) — berbeda dari epoksidasi elektrofilik (mCPBA).
- Basa menghasilkan HOO⁻ dari H₂O₂
- HOO⁻ menyerang posisi β (karbon β dari C=O) melalui adisi Michael
- Intermediat enolat melakukan siklisasi intramolekul → α,β-epoksi keton
Selektivitas: Reaksi hanya terjadi pada ikatan C=C terkonjugasi dengan karbonil (bukan C=C terisolasi). Gugus keton sendiri tidak diserang karena HOO⁻ adalah nukleofil lunak yang lebih suka posisi β karbon karbonil teraktivasi.
Produk: α,β-epoksi keton (via epoksidasi nukleofilik Weiss-Cook)
Mekanisme: HOO⁻ beradisi Michael pada posisi β-karbon → epoksida
Reagen untuk mereduksi keton → alkohol tanpa mempengaruhi C=C
- a NH₂NH₂, KOH, dietilen glikol, 180°C → Reduksi Wolff-Kishner: C=O → CH₂ (bukan ke alkohol). Salah target.
- b NaBH₄ lalu H₃O⁺ → Reduksi selektif keton/aldehida → alkohol. NaBH₄ tidak mereduksi C=C terisolasi maupun terkonjugasi. Ini jawaban yang benar. ✓ Benar
- c Tidak tahu
- d H₂, Pd/C, 25°C → Hidrogenasi katalitik: mereduksi C=C dan dapat mereduksi karbonil. Tidak selektif.
- e Zn(Hg)/HCl → Reduksi Clemmensen: C=O → CH₂ (bukan alkohol). Salah target.
NaBH₄ adalah hidrida reduktor lunak yang hanya reaktif terhadap karbonil elektrofilik (keton, aldehida). Ia tidak cukup reaktif untuk mereduksi:
- Ikatan C=C (alkena) terisolasi
- Ikatan C=C dalam sistem enon (hanya karbonil yang tereduksi, bukan C=C)
- Ester, amida, asam karboksilat (membutuhkan LiAlH₄)
(NaBH₄ mereduksi keton selektif → alkohol; ikatan C=C tidak terpengaruh)
Reagen untuk memutus C=C tanpa mempengaruhi karbonil
Ozonolisis (O₃) memutus C=C → aldehida/keton. Masalahnya, Y sudah memiliki gugus keton yang tidak boleh berubah. Strategi: proteksi dulu → reaksi → deproteksi.
- a Tidak tahu
- b K₂CrO₄ (asam) + Zn/HCl → Oksidasi kuat kromat + reduksi; tidak selektif dan tidak memutus C=C secara terkontrol.
- c 1. 1,2-etandiol, pH 5–6 (proteksi C=O sebagai 1,3-dioksolan/asetal) → 2. O₃ (ozonolisis memutus C=C) → 3. H₂O₂/OH⁻ (oksidatif workup, aldehida → asam) → 4. H₃O⁺ (deproteksi asetal → keton semula). Strategi paling tepat. ✓ Benar
- d OsO₄ → dihydroxylation (menambah diol pada C=C), bukan pemutus ikatan. Tidak sesuai tujuan.
- e 1. O₃; 2. Zn/HCl → Ozonolisis reductive tanpa proteksi karbonil terlebih dahulu: keton ikut berubah/terganggu. Tidak selektif.
-
Proteksi keton dengan 1,2-etandiol (katalis asam, pH 5–6):
C=O + HOCH₂CH₂OH → asetal siklik (1,3-dioksolan) + H₂O
Keton terlindungi, tidak akan bereaksi dengan O₃. -
Ozonolisis C=C dengan O₃:
C=C + O₃ → ozonida → fragmentasi
Ikatan C=C terputus; asetal stabil terhadap O₃. - Workup oksidatif H₂O₂/OH⁻ → intermediat aldehida → asam karboksilat
-
Deproteksi asetal dengan H₃O⁺:
asetal + H₃O⁺ → C=O (keton semula) + HOCH₂CH₂OH
Strategi: Proteksi keton (asetal) → ozonolisis C=C → oksidatif workup → deproteksi







Tidak ada komentar:
Posting Komentar