Dimerisasi Molekul - Bahasan Sesuai OSN Kimia

Rabu, 15 April 2026

1. Pendahuluan: Konsep Dimerisasi

Dimerisasi adalah proses penggabungan dua unit molekul identik (monomer) membentuk satu spesi baru yang disebut dimer. Secara umum, reaksi dimerisasi ditulis sebagai:

\[2\,\text{M}(g) \rightleftharpoons \text{M}_2(g)\]

Dimerisasi berbeda dari polimerisasi karena reaksi berhenti pada produk dua-unit. Gaya pendorong dimerisasi sangat bervariasi, mulai dari pembentukan ikatan kovalen baru, ikatan koordinasi (dativ), ikatan hidrogen ganda, hingga interaksi van der Waals yang diperkuat secara kooperatif.

Terminologi Kunci
Monomer
Molekul tunggal sebelum bergabung.
Dimer
Produk gabungan dua unit monomer yang identik.
Derajat dimerisasi (β)
Fraksi monomer yang telah membentuk dimer (0 ≤ β ≤ 1).
Derajat disosiasi (α)
Fraksi dimer yang telah terurai kembali menjadi monomer.
Kdim
Tetapan kesetimbangan dimerisasi; semakin besar K, semakin stabil dimer.

Dari sudut pandang termodinamika, semua proses dimerisasi memiliki kesamaan: ΔS < 0 (dua mol gas menjadi satu mol), sehingga faktor entropi selalu melawan pembentukan dimer. Kestabilan dimer pada suhu tertentu ditentukan oleh seberapa besar ΔH negatif mampu mengimbangi penalti entropi T|ΔS|.

\[\Delta G^\circ = \Delta H^\circ - T\Delta S^\circ \quad\Rightarrow\quad \text{dimer stabil jika } |\Delta H^\circ| > T|\Delta S^\circ|\]

2. Dimerisasi NO2 ↔ N2O4

Pasangan NO2/N2O4 adalah contoh dimerisasi paling ikonik dalam kimia gas. Gas NO2 berwarna coklat kemerahan dan bersifat paramagnetik karena atom N memiliki satu elektron tidak berpasangan. Ketika dua radikal NO2 bertumbukan, elektron tidak berpasangan ini bergabung membentuk ikatan N–N, menghasilkan N2O4 yang tidak berwarna dan diamagnetik.

\[2\,\text{NO}_2(g) \rightleftharpoons \text{N}_2\text{O}_4(g)\]
\(\Delta H^\circ = -57{,}2\ \text{kJ/mol},\quad \Delta S^\circ = -175{,}8\ \text{J mol}^{-1}\text{K}^{-1}\)

Struktur Elektronik dan Geometri

Monomer NO2 memiliki geometri bengkok (sudut O–N–O ≈ 134°) dengan hibridisasi sp2. Elektron tidak berpasangan menempati orbital sp2 yang mengarah "ke luar". Dalam N2O4, ikatan N–N terbentuk tetapi sangat panjang (≈ 175 pm), jauh melebihi ikatan N–N tunggal normal (≈ 145 pm). Kelemahan ikatan ini mencerminkan resonansi ekstensif dalam molekul dan menjelaskan mengapa N2O4 mudah kembali menjadi NO2 pada suhu tinggi.

Analisis Termodinamika dan Prediksi Perilaku

Karena ΔH < 0 dan ΔS < 0, persamaan Gibbs menentukan bahwa ada suhu kritis:

\[T_{\text{kritis}} = \frac{\Delta H^\circ}{\Delta S^\circ} = \frac{-57200}{-175{,}8} \approx 325\ \text{K}\ (52^\circ\text{C})\]

Di bawah 52°C: N2O4 (dimer) lebih stabil (ΔG < 0). Di atas 52°C: NO2 (monomer) yang lebih stabil (ΔG > 0). Ini langsung teramati secara visual: tabung berisi campuran menjadi lebih coklat saat dicelup ke air panas, dan nyaris tak berwarna saat didinginkan.

Suhu Rendah (es)
Warna
Hampir tidak berwarna
Spesi dominan
N2O4 (dimer)
Kp
Besar (> 1)
Suhu Tinggi (air panas)
Warna
Coklat tua pekat
Spesi dominan
NO2 (monomer)
Kp
Kecil (< 1)

Ekspresi Kp melalui Derajat Disosiasi (α)

Mulai dari 1 mol N2O4 murni dengan derajat disosiasi α:

SpesiAwal (mol)Kesetimbangan (mol)Fraksi mol
N2O411 − α(1−α)/(1+α)
NO202α/(1+α)
Total11 + α1
\[K_p = \frac{(P_{\text{NO}_2})^2}{P_{\text{N}_2\text{O}_4}} = \frac{\left(\dfrac{2\alpha}{1+\alpha}\right)^2 P}{\dfrac{1-\alpha}{1+\alpha}} = \frac{4\alpha^2 P}{1-\alpha^2}\]

Massa molar rata-rata terukur dari massa jenis gas: \(\overline{mM} = \rho RT/P\), dan karena massa total tetap = 92 g (1 mol N2O4) sedangkan mol total = 1+α:

\[\overline{mM} = \frac{92}{1+\alpha} \quad\Rightarrow\quad \alpha = \frac{92}{\overline{mM}} - 1\]
Trik OSN: Nilai α dapat langsung ditentukan dari satu pengukuran massa jenis tanpa perlu mengetahui Kp terlebih dahulu. Setelah α diketahui, Kp dihitung dari tekanan parsial masing-masing komponen.

3. Dimerisasi Asam Asetat melalui Ikatan Hidrogen Ganda

Dalam fasa gas, asam asetat (CH3COOH) membentuk dimer siklik yang sangat stabil melalui dua ikatan hidrogen O–H···O yang saling memperkuat (efek kooperatif). Dimer ini berbentuk cincin delapan-atom (O–H···O–C–O–H···O–C).

\[2\,\text{CH}_3\text{COOH}(g) \rightleftharpoons (\text{CH}_3\text{COOH})_2(g)\]
\(\Delta H^\circ \approx -60\ \text{kJ/mol},\quad K_p \approx 3{,}6\times 10^4\ \text{atm}^{-1}\ (25^\circ\text{C})\)

Nilai Kp yang sangat besar menunjukkan bahwa pada suhu kamar dan tekanan 1 atm, hampir seluruh molekul asam asetat dalam fasa gas berada sebagai dimer. Pengukuran massa jenis uap asam asetat di sekitar 100–150°C akan menghasilkan mM apparent yang jauh lebih besar dari 60 g/mol, mendekati 120 g/mol.

Formula Derajat Dimerisasi dari Data Densitas

Misalkan β = fraksi mol monomer yang telah berubah menjadi dimer. Mulai dari 2 mol CH3COOH:

SpesiAwal (mol)Setimbang (mol)Fraksi mol
CH3COOH (monomer)22(1−β)2(1−β)/(2−β)
(CH3COOH)2 (dimer)0ββ/(2−β)
Total22−β1
\[\overline{mM} = \frac{2 \times 60}{2-\beta} = \frac{120}{2-\beta} \quad\Rightarrow\quad \beta = 2 - \frac{120}{\overline{mM}}\]
Penting: Formula di atas berlaku karena massa total sistem tidak berubah selama dimerisasi. Persamaan serupa dapat diturunkan untuk sistem lain dengan mengingat bahwa:
\(\overline{mM} = mM_{\text{monomer}} \times \dfrac{n_{\text{awal}}}{n_{\text{total setimbang}}}\).

4. Dimerisasi AlCl3 melalui Ikatan Koordinasi

Aluminium klorida, baik dalam bentuk padat sublim maupun uap pada suhu rendah-sedang, sangat cenderung berada sebagai dimer Al2Cl6. Monomer AlCl3 adalah asam Lewis yang ekstrem: atom Al memiliki hibridisasi sp2 (trigonal planar) dengan satu orbital 3p kosong yang sangat electrophilik.

\[2\,\text{AlCl}_3(g) \rightleftharpoons \text{Al}_2\text{Cl}_6(g)\]
\(\Delta H^\circ \approx -126\ \text{kJ/mol}\) (eksoterm kuat, dimer sangat stabil di bawah ∼400°C)

Mekanisme Pembentukan Ikatan Jembatan

Dalam Al2Cl6, dua atom Cl bertindak sebagai jembatan: masing-masing mendonasikan satu pasangan bebas ke orbital 3p kosong pada Al dari monomer tetangga. Ini adalah ikatan koordinasi (dativ) dengan Cl sebagai donor dan Al sebagai akseptor. Akibat penerimaan pasangan bebas ini, geometri Al berubah dari trigonal planar (sp2) menjadi tetrahedral (sp3).

Al Al Cl Cl Cl Cl Cl Cl Cl jembatan (ikatan koordinasi) Cl terminal Cl terminal

Perbandingan Monomer dan Dimer AlCl3

PropertiAlCl3 (monomer)Al2Cl6 (dimer)
Hibridisasi Alsp2sp3
Geometri di sekitar AlTrigonal planarTetrahedral (distorted)
Sudut ikatan Cl–Al–Cl120°≈ 90–115° (bervariasi)
Orbital kosong pada AlYa (1 orbital 3p)Tidak (terisi ikatan koordinasi)
Sifat asam LewisSangat kuatLemah (terpuaskan)
Catatan tentang AlCl3 dalam Pelarut
Dalam pelarut polar (seperti dietil eter), monomer AlCl3 lebih disukai karena ikatan koordinasi antara Al dan atom O pelarut lebih kuat daripada ikatan Cl–Al pada dimer. Ini menjelaskan reaktivitas AlCl3 yang tinggi sebagai katalis Friedel-Crafts dalam pelarut.

5. Dimerisasi BH3 → Diboran B2H6: Ikatan 3c-2e

Borana (BH3) adalah spesi yang sangat reaktif dan hampir tidak pernah ditemukan bebas dalam kondisi normal. Ia langsung berdimerisasi membentuk diboran (B2H6), yang merupakan contoh paradigmatik senyawa defisiensi elektron dengan ikatan tidak konvensional.

\[2\,\text{BH}_3(g) \longrightarrow \text{B}_2\text{H}_6(g)\]
\(\Delta H^\circ \approx -170\ \text{kJ/mol}\) (reaksi spontan dan tidak dapat balik pada kondisi normal)

Ikatan 3-Pusat 2-Elektron (3c-2e)

Tidak seperti Al2Cl6 di mana Cl jembatan memiliki pasangan bebas yang didonasikan, atom H tidak memiliki pasangan bebas. Sebagai gantinya, setiap ikatan B–Hjembatan–B menggunakan hanya dua elektron untuk mengikat tiga atom sekaligus. Ini disebut ikatan 3-pusat 2-elektron (3c-2e) atau "ikatan pisang" (banana bond).

Dari sudut pandang teori orbital molekul: satu orbital sp3 dari masing-masing B dan orbital 1s dari H jembatan bergabung membentuk tiga MO (bonding, non-bonding, antibonding). Hanya MO bonding yang terisi oleh 2 elektron, menghasilkan delokalisasi elektron di sepanjang B–H–B.

B B H 3c-2e H 3c-2e H H H H H terminal H terminal

Data Geometri B2H6

ParameterNilaiKeterangan
Hibridisasi Bsp3Berbeda dari BH3 (sp2)
B–Hterminal119 pmIkatan 2c-2e normal
B–Hjembatan133 pmLebih panjang = lebih lemah per e
Sudut Ht–B–Ht≈ 121°Mendekati sp3 terdistorsi
Sudut Hj–B–Hj≈ 97°Terkompres karena jembatan

Perbandingan B2H6 dengan Al2Cl6

AspekB2H6Al2Cl6
Atom jembatanH (tanpa pasangan bebas)Cl (punya pasangan bebas)
Jenis ikatan jembatan3c-2e (banana bond)2c-2e koordinasi (dativ)
Hibridisasi atom pusatsp3sp3
Jumlah e per ikatan jembatan2 untuk 3 atom2 untuk 2 atom (normal)
ΔH dimerisasi−170 kJ/mol−126 kJ/mol

6. Oligomerisasi HF: Dimer hingga Heksamer

Hidrogen fluorida memiliki ikatan hidrogen paling kuat di antara semua hidrida halogen, karena F memiliki elektronegativitas tertinggi (3,98) dan ukuran terkecil sehingga ikatan H sangat pendek dan kuat. Dalam fasa gas, HF tidak sekadar berdimer, melainkan membentuk oligomer dengan rentang ukuran yang bergantung pada suhu dan tekanan.

\[n\,\text{HF}(g) \rightleftharpoons (\text{HF})_n(g)\quad (n = 2, 3, 4, 5, 6)\]
Heksamer (HF)6 dengan struktur cincin siklik mendominasi pada T rendah hingga sedang dalam fasa gas

Heksamer (HF)6 berbentuk cincin dengan 6 ikatan hidrogen F–H···F yang terstabilisasi secara kooperatif. Efek kooperatif berarti ikatan H ke-2 dan seterusnya menjadi lebih kuat dari yang pertama karena polarisasi yang saling memperkuat.

Fasa Gas (T rendah)
Spesi dominan
(HF)6 cincin siklik
Energi per ikatan H
≈ 29 kJ/mol
Efek kooperatif
Tiap ikatan perkuat yang lain
Fasa Cair
Struktur
Campuran rantai zig-zag dan cincin
Titik didih
19,5°C (anomali tinggi untuk HX)
Viskositas
Tinggi akibat ikatan H ekstensif
Fasa Gas (T tinggi)
Spesi dominan
Monomer HF (di atas ≈90°C)
Perilaku
Mendekati gas ideal
Warna
Tidak berwarna
Anomali titik didih hidrida grup 17: HF (19,5°C) >> HCl (−85°C) < HBr (−67°C) < HI (−35°C). Titik didih HF yang jauh lebih tinggi merupakan bukti langsung dari oligomerisasi kuat melalui ikatan hidrogen, yang membutuhkan energi lebih besar untuk membebaskan molekul ke fasa gas.

7. Perbandingan Termodinamika Semua Sistem

Sistem Dimerisasi Reaksi ΔH° (kJ/mol) Mekanisme Ikatan Kestabilan Dimer
NO2/N2O4 2NO2 → N2O4 −57,2 Ikatan kovalen N–N (lemah) Sedang
CH3COOH 2 HAc → (HAc)2 −60 Ikatan hidrogen ganda (kooperatif) Tinggi (K besar)
AlCl3 2 AlCl3 → Al2Cl6 −126 Ikatan koordinasi Cl → Al Sangat tinggi
BH3 2 BH3 → B2H6 −170 Ikatan 3c-2e (banana bond) Paling tinggi
HF (dimer) 2 HF → (HF)2 −25 Ikatan hidrogen (tunggal) Sedang

Urutan Kekuatan Gaya Pengikatan

\[\underbrace{\text{3c-2e}}_{\Delta H \approx -170} > \underbrace{\text{koordinasi}}_{\Delta H \approx -126} > \underbrace{\text{ikatan H ganda}}_{\Delta H \approx -60} \approx \underbrace{\text{kovalen lemah}}_{\Delta H \approx -57} > \underbrace{\text{ikatan H tunggal}}_{\Delta H \approx -25}\]

Perlu diingat bahwa nilai ΔG (bukan sekadar ΔH) yang menentukan kestabilan aktual pada suhu tertentu. Semua dimerisasi memiliki ΔS < 0, sehingga pada suhu tinggi faktor T|ΔS| mendestabilisasi dimer secara umum. Sistem dengan ΔH yang sangat negatif (seperti B2H6) tetap stabil pada suhu lebih tinggi.

Latihan Soal Setara OSN Kimia

SOAL 1

Pada suhu 60°C dan tekanan total 1,00 atm, campuran gas NO2 dan N2O4 dalam kesetimbangan memiliki massa jenis sebesar 2,74 g/L. Gunakan R = 0,08206 L·atm mol−1K−1.

(a) Tentukan massa molar rata-rata campuran (\(\overline{mM}\)) pada kondisi tersebut.

(b) Hitung derajat disosiasi N2O4 (α) dari campuran tersebut.

(c) Hitung nilai Kp untuk reaksi:

\[\text{N}_2\text{O}_4(g) \rightleftharpoons 2\,\text{NO}_2(g)\]
Lihat Pembahasan Soal 1
1
Massa molar rata-rata dari hukum gas ideal:
\[\overline{mM} = \frac{\rho RT}{P} = \frac{2{,}74 \times 0{,}08206 \times 333{,}15}{1{,}00} \approx 74{,}9\ \text{g/mol}\]
2
Derajat disosiasi α: Mulai dari 1 mol N2O4. Massa total tetap = 92 g, mol total = 1+α, sehingga:
\[\overline{mM} = \frac{92}{1+\alpha} \Rightarrow 1+\alpha = \frac{92}{74{,}9} = 1{,}228 \Rightarrow \boxed{\alpha = 0{,}228}\]
3
Tekanan parsial masing-masing komponen:
\[P_{\text{N}_2\text{O}_4} = \frac{1-\alpha}{1+\alpha} \times P_{\text{tot}} = \frac{1-0{,}228}{1+0{,}228} = \frac{0{,}772}{1{,}228} \times 1{,}00 = 0{,}629\ \text{atm}\] \[P_{\text{NO}_2} = \frac{2\alpha}{1+\alpha} \times P_{\text{tot}} = \frac{2 \times 0{,}228}{1{,}228} \times 1{,}00 = 0{,}371\ \text{atm}\]
4
Nilai Kp:
\[K_p = \frac{(P_{\text{NO}_2})^2}{P_{\text{N}_2\text{O}_4}} = \frac{(0{,}371)^2}{0{,}629} = \frac{0{,}1376}{0{,}629} \approx \boxed{0{,}219\ \text{atm}}\]

Catatan: Nilai Kp yang kecil (<1) konfirm bahwa pada 60°C, N2O4 masih cukup dominan, namun sudah banyak NO2 terbentuk (konsisten dengan T > 52°C).

SOAL 2

Uap asam asetat (CH3COOH, mM = 60,05 g/mol) pada suhu 120°C dan tekanan 0,800 atm memiliki massa jenis 1,49 g/L. Diasumsikan hanya terjadi dimerisasi melalui ikatan hidrogen:

\[2\,\text{CH}_3\text{COOH}(g) \rightleftharpoons (\text{CH}_3\text{COOH})_2(g)\]

(a) Hitung massa molar rata-rata uap pada kondisi tersebut.

(b) Tentukan derajat dimerisasi β (fraksi monomer awal yang berubah menjadi dimer).

(c) Hitung Kp untuk reaksi dimerisasi tersebut (dalam satuan atm−1).

Lihat Pembahasan Soal 2
1
Massa molar rata-rata:
\[\overline{mM} = \frac{\rho RT}{P} = \frac{1{,}49 \times 0{,}08206 \times 393{,}15}{0{,}800} = \frac{48{,}09}{0{,}800} \approx 60{,}1\ \text{g/mol}\]
Hasil mendekati 60 g/mol menunjukkan hampir semua monomer. Ini wajar karena pada 120°C dan P rendah, dimer sebagian besar sudah terurai. Mari selesaikan dengan data hipotetis \(\overline{mM}\) = 85,0 g/mol untuk memperlihatkan teknik lengkap.
2
Derajat dimerisasi β untuk \(\overline{mM}\) = 85,0 g/mol: Basis: 2 mol monomer, total mol setimbang = 2−β.
\[\overline{mM} = \frac{2 \times 60}{2-\beta} = \frac{120}{2-\beta} \Rightarrow 2-\beta = \frac{120}{85{,}0} = 1{,}412\] \[\Rightarrow \boxed{\beta = 0{,}588 \approx 58{,}8\%}\]
3
Fraksi mol dan tekanan parsial:
\[n_{\text{monomer}} = 2(1-\beta) = 2(0{,}412) = 0{,}824\ \text{mol}\] \[n_{\text{dimer}} = \beta = 0{,}588\ \text{mol};\quad n_{\text{tot}} = 1{,}412\ \text{mol}\] \[\chi_{\text{monomer}} = \frac{0{,}824}{1{,}412} = 0{,}584;\quad \chi_{\text{dimer}} = \frac{0{,}588}{1{,}412} = 0{,}416\]
Dengan Ptot = 0,800 atm:
\[P_{\text{monomer}} = 0{,}584 \times 0{,}800 = 0{,}467\ \text{atm}\] \[P_{\text{dimer}} = 0{,}416 \times 0{,}800 = 0{,}333\ \text{atm}\]
4
Kp dimerisasi:
\[K_p = \frac{P_{\text{dimer}}}{(P_{\text{monomer}})^2} = \frac{0{,}333}{(0{,}467)^2} = \frac{0{,}333}{0{,}218} \approx \boxed{1{,}53\ \text{atm}^{-1}}\]

Teknik analisis ini dapat diterapkan ke semua sistem dimerisasi: (1) cari \(\overline{mM}\) dari densitas, (2) hitung β dari formula massa molar, (3) buat tabel ICE, (4) hitung Kp.

SOAL 3

Untuk kesetimbangan dimerisasi:  \(2\,\text{NO}_2(g) \rightleftharpoons \text{N}_2\text{O}_4(g)\)  diketahui ΔH° = −57,2 kJ/mol dan Kp = 8,80 pada 25°C (keadaan standar 1 bar). Gunakan R = 8,314 J mol−1K−1.

(a) Hitung ΔG° pada 25°C.

(b) Perkirakan nilai Kp pada 100°C menggunakan persamaan van’t Hoff.

(c) Pada suhu berapakah Kp = 1 (ΔG° = 0)? Apa implikasi fisiknya? Asumsikan ΔS° = −175,8 J mol−1K−1.

Lihat Pembahasan Soal 3
1
ΔG° pada 25°C (T = 298 K):
\[\Delta G^\circ = -RT\ln K_p = -(8{,}314)(298)\ln(8{,}80)\] \[= -2477 \times 2{,}175 = -5388\ \text{J/mol} \approx \boxed{-5{,}39\ \text{kJ/mol}}\]
2
Kp pada T2 = 100°C = 373 K via van’t Hoff:
\[\ln\frac{K_{p,2}}{K_{p,1}} = -\frac{\Delta H^\circ}{R}\left(\frac{1}{T_2}-\frac{1}{T_1}\right)\] \[= -\frac{-57200}{8{,}314}\left(\frac{1}{373}-\frac{1}{298}\right) = 6879 \times (-6{,}74\times10^{-4}) = -4{,}64\]
\[\frac{K_{p,2}}{8{,}80} = e^{-4{,}64} = 9{,}64\times10^{-3} \Rightarrow \boxed{K_{p,2} \approx 0{,}085}\]
Kp turun dari 8,80 menjadi 0,085, faktor 100 lebih kecil. Ini konsisten dengan reaksi eksotermik: kenaikan suhu menggeser kesetimbangan ke kiri (Le Chatelier).
3
Suhu saat Kp = 1: Kondisi ini terjadi ketika ΔG° = 0:
\[\Delta G^\circ = \Delta H^\circ - T\Delta S^\circ = 0 \Rightarrow T = \frac{\Delta H^\circ}{\Delta S^\circ} = \frac{-57200}{-175{,}8} = \boxed{325{,}4\ \text{K} \approx 52{,}3^\circ\text{C}}\]
Pada 52°C, aktivitas NO2 dan N2O4 "sama-sama disukai" dalam arti termodinamika (Kp = 1). Di bawah 52°C: N2O4 lebih stabil. Di atas 52°C: NO2 lebih stabil.
SOAL 4

Uap AlCl3 pada suhu 300°C dan tekanan 1,00 atm memiliki massa jenis 4,47 g/L (R = 0,08206 L·atm mol−1K−1; mM AlCl3 = 133,5; mM Al2Cl6 = 267,0).

(a) Tentukan massa molar rata-rata uap AlCl3 pada 300°C.

(b) Hitung fraksi mol Al2Cl6 (χ) dalam campuran kesetimbangan.

(c) Jelaskan mengapa Al pada monomer AlCl3 berhidridisasi sp2, sedangkan Al pada dimer Al2Cl6 berhidridisasi sp3. Apa jenis ikatan pada atom Cl jembatan?

Lihat Pembahasan Soal 4
1
Massa molar rata-rata (T = 573 K):
\[\overline{mM} = \frac{\rho RT}{P} = \frac{4{,}47 \times 0{,}08206 \times 573}{1{,}00} \approx \boxed{210{,}2\ \text{g/mol}}\]
2
Fraksi mol Al2Cl6 (χ):
\[\overline{mM} = (1-\chi) \times 133{,}5 + \chi \times 267{,}0 = 133{,}5 + 133{,}5\chi\] \[210{,}2 = 133{,}5 + 133{,}5\chi \Rightarrow \chi = \frac{76{,}7}{133{,}5} \approx \boxed{0{,}575}\]
Jadi ≈ 57,5% mol adalah dimer dan 42,5% mol adalah monomer pada 300°C, 1 atm.
3
Penjelasan hibridisasi dan jenis ikatan:

Monomer AlCl3 (sp2): Al membentuk 3 ikatan Al–Cl menggunakan 3 orbital sp2. Sisa 1 orbital 3p tetap kosong dan tidak terlibat ikatan. Geometri trigonal planar, sudut 120°. Orbital 3p kosong ini menjadikan Al asam Lewis yang sangat kuat.

Dimer Al2Cl6 (sp3): Dua atom Cl jembatan, masing-masing memiliki 3 pasangan bebas, mendonasikan satu pasangan bebas ke orbital 3p kosong dari Al monomer tetangga. Ikatan Cl→Al ini adalah ikatan koordinasi (ikatan dativ/ikatan kovalen koordinasi): elektron dari Cl yang digunakan bersama. Setelah Al menerima satu pasangan bebas, jumlah domain elektron di sekitar Al menjadi 4, sehingga hibridisasinya berubah menjadi sp3 dengan geometri tetrahedral.
\[\underbrace{\text{AlCl}_3}_{\text{sp}^2,\text{ trigonal planar}} + \underbrace{:\text{Cl}:}_{\text{donor}} \longrightarrow \underbrace{\text{Al}\leftarrow\text{Cl}}_{\text{sp}^3,\text{ tetrahedral}}\]
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info