Hukum Henry dan Hukum Raoult adalah dua pilar utama dalam termodinamika larutan yang menjelaskan hubungan antara tekanan uap komponen larutan dengan komposisinya. Keduanya berangkat dari model larutan ideal, namun berbeda dalam batas penerapannya. Pemahaman mendalam tentang penyimpangan dari idealitas sangat penting, baik untuk prediksi sifat larutan nyata maupun untuk analisis diagram fase campuran yang kerap muncul dalam soal OSN hingga IChO.
Dalam termodinamika larutan, dua hukum ini mempunyai domain penerapan yang saling melengkapi:
Secara matematis, kedua hukum dapat ditulis secara ringkas:
pi = tekanan parsial komponen i; Xi = fraksi mol; pi* = tekanan uap murni; KH = konstanta Henry
Artikel ini membahas kelima aspek yang paling sering diuji dalam soal OSN Kimia, mulai OSK hingga IChO, disertai soal pilihan ganda (OSK) dan soal terstruktur (OSP–OSN) dengan pembahasan lengkap.
Hukum Raoult – Tekanan Uap Larutan Ideal
OSK – OSPTeori Dasar
Hukum Raoult (François-Marie Raoult, 1887) menyatakan bahwa tekanan uap parsial suatu komponen dalam larutan ideal berbanding lurus dengan fraksi molnya:
dengan \(p_i^*\) adalah tekanan uap komponen murni \(i\) pada suhu yang sama. Untuk larutan dua komponen (A dan B), tekanan total larutan adalah:
Karena \(X_A + X_B = 1\), maka \(X_B = 1 - X_A\), sehingga:
Ini adalah persamaan garis lurus antara \(P_{\rm total}\) dan \(X_A\), dengan nilai antara \(p_B^*\) (ketika \(X_A = 0\)) dan \(p_A^*\) (ketika \(X_A = 1\)).
Landasan Mikroskopik
Hukum Raoult berlaku ketika interaksi A–A, B–B, dan A–B semuanya setara (hampir identik secara energetik). Ini dipenuhi oleh campuran senyawa yang sangat mirip, misalnya benzena–toluena, heksana–heptana, atau isomer struktural. Dalam larutan ideal, entalpi pencampuran \(\Delta_{\rm mix}H = 0\) dan perubahan volume \(\Delta_{\rm mix}V = 0\).
| Besaran | Larutan Ideal | Larutan Nyata |
|---|---|---|
| \(\Delta_{\rm mix}H\) | 0 | ≠ 0 |
| \(\Delta_{\rm mix}V\) | 0 | ≠ 0 |
| \(\Delta_{\rm mix}S\) | \(-R\sum X_i \ln X_i\) | ≠ \(-R\sum X_i \ln X_i\) |
| Tekanan parsial | \(p_i = X_i p_i^*\) | \(p_i = \gamma_i X_i p_i^*\) |
Dalam larutan nyata, koefisien aktivitas \(\gamma_i\) digunakan untuk mengoreksi penyimpangan dari idealitas.
Pada 25°C, tekanan uap benzena murni adalah 95,1 mmHg dan tekanan uap toluena murni adalah 28,4 mmHg. Jika fraksi mol benzena dalam larutan adalah 0,60, berapakah tekanan total larutan ideal tersebut?
Lihat Pembahasan
Gunakan hukum Raoult untuk larutan dua komponen:
\[P = X_{\rm benz} \cdot p_{\rm benz}^* + X_{\rm tol} \cdot p_{\rm tol}^*\] \[P = 0{,}60 \times 95{,}1 + 0{,}40 \times 28{,}4 = 57{,}06 + 11{,}36 = 68{,}42 \approx 68{,}4 \text{ mmHg}\]Sebanyak 18 gram glukosa (M = 180 g/mol) dilarutkan dalam 180 gram air (M = 18 g/mol). Jika tekanan uap air murni pada 25°C adalah 23,8 mmHg, tekanan uap larutan tersebut adalah…
Lihat Pembahasan
Mol glukosa = 18/180 = 0,100 mol; mol air = 180/18 = 10,00 mol
\[X_{\rm air} = \frac{10{,}00}{10{,}00 + 0{,}100} = \frac{10{,}00}{10{,}10} = 0{,}9901\]Glukosa non-volatil, sehingga:
\[P = X_{\rm air} \cdot p_{\rm air}^* = 0{,}9901 \times 23{,}8 = 23{,}56 \text{ mmHg}\]Penurunan tekanan uap: ΔP = 23,8 – 23,56 = 0,24 mmHg
Campuran ideal etanol (E, M = 46,0 g/mol) dan air (W, M = 18,0 g/mol) pada 60°C memiliki data tekanan uap murni: \(p_E^* = 352\) mmHg dan \(p_W^* = 149\) mmHg.
(a) Hitung tekanan total larutan yang mengandung 40,0% massa etanol. Nyatakan dalam mmHg.
(b) Hitung fraksi mol etanol dalam fase uap (\(Y_E\)) yang berada di atas larutan tersebut. Bandingkan dengan fraksi mol etanol dalam fase cair.
(c) Tunjukkan bahwa komponen yang lebih volatil selalu terperkaya dalam fase uap. Nyatakan ini secara matematis menggunakan \(Y_i\) dan \(X_i\).
Lihat Pembahasan
Bagian (a): Fraksi Mol dan Tekanan Total
Basis: 100 g larutan → 40,0 g etanol, 60,0 g air
\[n_E = \frac{40{,}0}{46{,}0} = 0{,}8696 \text{ mol}, \quad n_W = \frac{60{,}0}{18{,}0} = 3{,}333 \text{ mol}\] \[X_E = \frac{0{,}8696}{0{,}8696 + 3{,}333} = \frac{0{,}8696}{4{,}203} = 0{,}2069\] \[X_W = 1 - 0{,}2069 = 0{,}7931\]Bagian (b): Komposisi Fase Uap
Tekanan parsial etanol: \(p_E = X_E \cdot p_E^* = 0{,}2069 \times 352 = 72{,}83\) mmHg
\[Y_E = \frac{p_E}{P_{\rm total}} = \frac{72{,}83}{191{,}0} = 0{,}3813\]Perbandingan: \(Y_E = 0{,}381 > X_E = 0{,}207\)
Etanol jauh lebih kaya dalam fase uap dibandingkan fase cair (hampir 2× lipat), yang menjadi dasar pemisahan melalui distilasi.
Bagian (c): Bukti Matematis Pengayaan Fase Uap
Perbandingan \(Y_i/X_i\):
\[\frac{Y_i}{X_i} = \frac{p_i^*}{P_{\rm total}}\]Karena \(P_{\rm total} = X_i p_i^* + X_j p_j^* < p_i^*\) (untuk \(p_i^* > p_j^*\)), maka \(Y_i/X_i > 1\), yaitu komponen lebih volatil selalu terperkaya di fase uap. Secara setara, \(Y_i > X_i\) bila dan hanya bila \(p_i^* > P_{\rm total}\), yang selalu berlaku untuk komponen paling volatil.
(b) YE = 0,381 > XE = 0,207 → Etanol terperkaya di uap
(c) Yi/Xi = pi*/P > 1 untuk komponen paling volatil
Hukum Henry – Kelarutan Gas dalam Cairan
OSP – OSNTeori Dasar
Hukum Henry (William Henry, 1803) menyatakan bahwa pada suhu tetap dan larutan encer, tekanan parsial gas di atas larutan berbanding lurus dengan fraksi mol gas yang terlarut:
di mana \(K_{H,i}\) adalah konstanta Henry (satuan: Pa, atm, atau bar), dan \(k_{H,i}' = 1/K_{H,i}\) adalah konstanta Henry dalam konvensi kelarutan (satuan: mol L−1 atm−1). Ada dua konvensi konstanta Henry yang sering dipakai:
| Konvensi | Persamaan | Satuan KH | Arti: KH besar |
|---|---|---|---|
| Volatilitas (Henry) | p = KH · X | Pa atau atm | Gas kurang larut |
| Kelarutan (IUPAC) | c = kH · p | mol L−1 Pa−1 | Gas lebih larut |
Hubungan Henry dan Raoult
Hukum Henry dan Raoult keduanya menyatakan linearitas antara tekanan dan fraksi mol, namun dengan konstanta yang berbeda:
Untuk larutan ideal, \(K_{H,i} = p_i^*\). Penyimpangan dari idealitas menyebabkan \(K_{H,i} \neq p_i^*\). Nilai \(K_{H,i}\) ditentukan dari ekstrapolasi data eksperimen ke batas \(X_i \to 0\).
Pengaruh Suhu dan Entalpi Pelarutan
Kelarutan gas umumnya menurun dengan naiknya suhu (proses pelarutan gas bersifat eksotermik). Ketergantungan \(K_H\) terhadap suhu dinyatakan:
atau dalam bentuk dua titik:
Konstanta Henry untuk CO2 dalam air pada 25°C adalah 1,67 × 108 Pa. Berapakah fraksi mol CO2 yang terlarut jika tekanan parsial CO2 di atas larutan adalah 3,50 × 105 Pa?
Lihat Pembahasan
Dari hukum Henry: \(X_{\rm CO_2} = p/K_H\)
\[X_{\rm CO_2} = \frac{3{,}50\times10^5}{1{,}67\times10^8} = 2{,}096\times10^{-3} \approx 2{,}10\times10^{-3}\]Minuman soda dikarbonasi pada tekanan CO2 sebesar 4,0 atm. Jika botol dibuka sehingga tekanan CO2 turun menjadi 3,8 × 10−4 atm (tekanan parsial CO2 di udara), rasio kelarutan CO2 setelah dibuka terhadap sebelum dibuka adalah…
Lihat Pembahasan
Dari hukum Henry, kelarutan ∝ tekanan. Maka rasio:
\[\frac{c_{\rm buka}}{c_{\rm tutup}} = \frac{p_{\rm buka}}{p_{\rm tutup}} = \frac{3{,}8\times10^{-4}}{4{,}0} = 9{,}5\times10^{-5} \approx \frac{1}{10526}\]Konstanta Henry untuk O2 dalam air pada 25°C adalah \(K_H = 4{,}259\times10^4\) atm (konvensi volatilitas: \(p = K_H \cdot X\)). Dalam konvensi ini, ketergantungan suhu dinyatakan sebagai \(\dfrac{d\ln K_H}{d(1/T)} = -\dfrac{\Delta_{\rm vap\text{-}like}H}{R}\), di mana \(\Delta_{\rm vap\text{-}like}H = +12{,}5\) kJ mol−1 (positif, karena KH volatilitas naik saat suhu naik — gas semakin sulit larut).
(a) Hitung kadar oksigen terlarut dalam sungai yang berada dalam kesetimbangan dengan udara (tekanan parsial O2 = 0,2095 atm) pada 25°C. Nyatakan dalam mg O2/L air (gunakan Mair = 18,015 g/mol, ρair = 997 g/L).
(b) Hitung KH untuk O2 pada suhu 35°C menggunakan \(\Delta_{\rm vap\text{-}like}H = +12{,}5\) kJ mol−1. Tentukan kadar O₂ terlarut pada 35°C dan simpulkan bagaimana perubahan suhu mempengaruhi kelarutan O₂.
(c) Jelaskan mengapa ikan di danau sering mati pada musim panas yang panas (fenomena summer kill) menggunakan konsep hukum Henry.
Data: R = 8,314 J mol−1 K−1, M(O2) = 32,00 g/mol.
Lihat Pembahasan
Bagian (a): Kadar O₂ Terlarut pada 25°C
Dari hukum Henry \((p = K_H \cdot X)\):
\[X_{O_2} = \frac{p_{O_2}}{K_H} = \frac{0{,}2095}{4{,}259\times10^4} = 4{,}920\times10^{-6}\]Konsentrasi molar air murni: \(c_{\rm air} = \rho/M = 997/18{,}015 = 55{,}35\) mol/L
Karena \(X_{O_2} \ll 1\), mol O₂ per liter air:
\[c_{O_2} = X_{O_2} \times c_{\rm air} = 4{,}920\times10^{-6} \times 55{,}35 = 2{,}723\times10^{-4} \text{ mol/L}\] \[c_{O_2} = 2{,}723\times10^{-4} \times 32{,}00 \times 1000 = \mathbf{8{,}71 \text{ mg/L}}\]Bagian (b): K_H pada 35°C dan Kadar O₂ Baru
Mengapa tanda ΔH positif di sini? Dalam konvensi KH volatilitas (\(p = K_H X\)), nilai KH yang lebih besar berarti gas lebih sulit larut. Saat suhu naik, gas memang semakin sulit larut, sehingga KH naik dengan suhu. Persamaan van't Hoff untuk KH volatilitas:
\[\frac{d\ln K_H}{d(1/T)} = -\frac{\Delta_{\rm vap\text{-}like}H}{R} \quad \text{dengan } \Delta_{\rm vap\text{-}like}H > 0\]sehingga dalam bentuk dua titik:
\[\ln\!\left(\frac{K_{H,2}}{K_{H,1}}\right) = -\frac{\Delta_{\rm vap\text{-}like}H}{R}\!\left(\frac{1}{T_2}-\frac{1}{T_1}\right) = \frac{\Delta_{\rm vap\text{-}like}H}{R}\!\left(\frac{1}{T_1}-\frac{1}{T_2}\right)\]KH naik dari 4,259×10⁴ menjadi 5,017×10⁴ atm → sesuai ekspektasi: O₂ makin sulit larut di suhu lebih tinggi.
Kadar O₂ pada 35°C:
\[X_{O_2}(35°C) = \frac{0{,}2095}{5{,}017\times10^4} = 4{,}175\times10^{-6}\] \[c_{O_2}(35°C) = 4{,}175\times10^{-6} \times 55{,}35 \times 32{,}00 \times 1000 = \mathbf{7{,}40 \text{ mg/L}}\]Kelarutan O₂ turun dari 8,71 mg/L (25°C) menjadi 7,40 mg/L (35°C), penurunan sekitar 15%.
Bagian (c): Fenomena Summer Kill
Pada musim panas, suhu air danau meningkat signifikan (misal dari 15°C ke 30°C atau lebih). Berdasarkan hukum Henry, KH volatilitas O₂ naik seiring suhu, sehingga untuk tekanan parsial O₂ udara yang sama, fraksi mol (dan konsentrasi) O₂ terlarut turun. Akibatnya terjadi dua efek yang saling memperburuk:
1. Suplai O₂ turun: Kadar O₂ terlarut berkurang (dari ~10 mg/L di 10°C hingga ~7 mg/L di 35°C).
2. Permintaan O₂ melonjak: Laju metabolisme dan respirasi ikan meningkat pada suhu tinggi (sesuai kinetika biologis).
3. Ketika kadar O₂ jatuh di bawah ~4 mg/L (batas kritis hipoksia), ikan tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigennya dan mati. Inilah inti summer kill: hukum Henry memastikan suplai O₂ turun tepat saat permintaannya naik.
(b) KH(35°C) = 5,02×10⁴ atm (naik), c(O₂) = 7,40 mg/L (turun 15%)
(c) Suhu naik → KH naik → XO₂ turun + metabolisme ikan naik → hipoksia (summer kill)
Penyimpangan Positif dari Hukum Raoult
OSP – OSNDefinisi dan Penyebab
Penyimpangan positif terjadi ketika tekanan uap larutan lebih besar dari prediksi Hukum Raoult:
Penyebab mikroskopiknya adalah interaksi antarmolekul campuran (A–B) lebih lemah dibandingkan interaksi antar-sesama komponen (A–A dan B–B). Molekul dalam campuran "lebih mudah" melarikan diri ke fase uap, sehingga tekanan uap meningkat.
Ciri Termodinamika
| Sifat | Penyimpangan Positif |
|---|---|
| Tekanan uap total | P > nilai ideal (Raoult) |
| Koefisien aktivitas γ | γi > 1 untuk semua komposisi |
| Entalpi pencampuran ΔHmix | > 0 (endotermik, menyerap panas) |
| Volume pencampuran ΔVmix | Biasanya > 0 (ekspansi volume) |
| Interaksi A–B vs A–A/B–B | A–B lebih lemah |
Contoh penting sistem dengan penyimpangan positif: etanol–heksana, aseton–karbon disulfida (CS₂), air–etanol pada konsentrasi rendah etanol, dan metanol–benzena. Jika penyimpangan sangat besar, dapat terbentuk azeotrof minimum (titik didih minimum).
Azeotrop Minimum
Pada penyimpangan positif yang ekstrim, kurva P–X dapat melampaui tekanan uap komponen murni mana pun. Ini menghasilkan azeotrop minimum (minimum boiling azeotrope): campuran dengan tekanan uap tertinggi, yang mendidih pada titik didih terendah dan tidak dapat dipisahkan lebih lanjut melalui distilasi biasa.
Campuran aseton–karbon disulfida menunjukkan penyimpangan positif dari Hukum Raoult. Pernyataan mana yang paling tepat menggambarkan sistem ini?
Lihat Pembahasan
A – Salah. Penyimpangan positif terjadi justru karena A–B lebih lemah dari A–A dan B–B.
B – Salah. Penyimpangan positif → ΔHmix > 0 (endotermik).
C – BENAR. Definisi penyimpangan positif: P > Pideal, dan secara termodinamika ini setara dengan γi > 1.
D – Salah. Kebalikannya yang benar.
E – Salah. Penyimpangan positif menghasilkan azeotrop titik didih minimum, bukan maksimum.
Campuran A–B menunjukkan penyimpangan positif. Pada komposisi XA = 0,40, tekanan parsial komponen A terukur 64 mmHg, sedangkan prediksi Raoult memberikan pA = 40 mmHg. Berapakah koefisien aktivitas γA pada komposisi tersebut?
Lihat Pembahasan
Koefisien aktivitas didefinisikan sebagai: \(p_A = \gamma_A X_A p_A^*\)
Tekanan Raoult: \(p_A^{\rm Raoult} = X_A p_A^*\) = 40 mmHg
\[\gamma_A = \frac{p_A^{\rm obs}}{p_A^{\rm Raoult}} = \frac{64}{40} = 1{,}60\]Nilai γ > 1 konsisten dengan penyimpangan positif.
Sistem biner A–B pada 50°C memiliki tekanan uap murni \(p_A^* = 120\) mmHg dan \(p_B^* = 80\) mmHg. Data eksperimen tekanan parsial pada berbagai komposisi:
| XA | pA (mmHg) | pB (mmHg) |
|---|---|---|
| 0,0 | 0 | 80 |
| 0,2 | 36 | 75 |
| 0,4 | 72 | 63 |
| 0,6 | 100 | 44 |
| 0,8 | 116 | 20 |
| 1,0 | 120 | 0 |
(a) Hitung koefisien aktivitas \(\gamma_A\) dan \(\gamma_B\) untuk setiap komposisi. Apakah sistem ini menunjukkan penyimpangan positif?
(b) Hitung tekanan total pada setiap komposisi dan tentukan apakah terbentuk azeotrop (dan di mana letaknya secara perkiraan).
(c) Verifikasi hukum Gibbs–Duhem pada XA = 0,4 dan 0,6: \(X_A\,d\ln\gamma_A + X_B\,d\ln\gamma_B = 0\).
Lihat Pembahasan
Bagian (a): Koefisien Aktivitas
Gunakan: \(\gamma_i = p_i / (X_i p_i^*)\)
| XA | γA | γB | Ptotal |
|---|---|---|---|
| 0,2 | 36/(0,2×120) = 1,50 | 75/(0,8×80) = 1,172 | 111 mmHg |
| 0,4 | 72/(0,4×120) = 1,50 | 63/(0,6×80) = 1,313 | 135 mmHg |
| 0,6 | 100/(0,6×120) = 1,389 | 44/(0,4×80) = 1,375 | 144 mmHg |
| 0,8 | 116/(0,8×120) = 1,208 | 20/(0,2×80) = 1,250 | 136 mmHg |
Semua \(\gamma > 1\) → Penyimpangan positif terkonfirmasi. Nilai γ mendekati 1 saat X → 1 (batas Raoult) dan γ terbesar saat X kecil (batas Henry).
Bagian (b): Azeotrop
Ptotal dari data: 111, 135, 144, 136 mmHg
Pideal (Raoult): pada XA=0,6 → 0,6×120 + 0,4×80 = 72+32 = 104 mmHg
Maksimum tekanan total terjadi sekitar XA ≈ 0,55–0,60 dengan P ≈ 144 mmHg > pA* = 120 dan pB* = 80. Karena Pmaks melebihi kedua tekanan murni, azeotrop terbentuk di sekitar XA ≈ 0,6 dengan titik didih minimum (pada P konstan, T didih lebih rendah dari kedua komponen murni).
Bagian (c): Verifikasi Gibbs–Duhem
Antara XA = 0,4 dan 0,6:
\[d\ln\gamma_A \approx \ln(1{,}389) - \ln(1{,}50) = 0{,}3284 - 0{,}4055 = -0{,}0771\] \[d\ln\gamma_B \approx \ln(1{,}375) - \ln(1{,}313) = 0{,}3185 - 0{,}2720 = +0{,}0465\]Uji Gibbs–Duhem pada XA = 0,5 (rata-rata):
\[X_A\,d\ln\gamma_A + X_B\,d\ln\gamma_B \approx 0{,}5\times(-0{,}0771) + 0{,}5\times(0{,}0465)\] \[= -0{,}03855 + 0{,}02325 = -0{,}0153 \approx 0\]Nilai mendekati nol (tidak persis nol karena data diskret dan aproksimasi beda hingga), mengkonfirmasi konsistensi termodinamik data.
(b) Azeotrop minimum ≈ XA = 0,6, P ≈ 144 mmHg
(c) Persamaan Gibbs–Duhem terpenuhi secara aproksimasi
Penyimpangan Negatif dari Hukum Raoult
OSP – OSNDefinisi dan Penyebab
Penyimpangan negatif terjadi ketika tekanan uap larutan lebih kecil dari prediksi Hukum Raoult:
Penyebabnya adalah interaksi antarmolekul campuran (A–B) lebih kuat daripada interaksi sesama komponen (A–A dan B–B). Molekul dalam campuran lebih sulit menguap karena "tertahan" oleh pasangan komponen lain. Interaksi yang memicu hal ini umumnya berupa: ikatan hidrogen antarkomponen, interaksi donor–akseptor (kompleks tipe Lewis acid–base), atau resonansi dipol-dipol yang kuat.
Ciri Termodinamika
| Sifat | Penyimpangan Negatif |
|---|---|
| Tekanan uap total | P < nilai ideal (Raoult) |
| Koefisien aktivitas γ | γi < 1 |
| ΔHmix | < 0 (eksotermik, melepas panas) |
| ΔVmix | Biasanya < 0 (kontraksi volume) |
| Interaksi A–B vs A–A/B–B | A–B lebih kuat |
Contoh sistem dengan penyimpangan negatif: aseton–kloroform (ikatan H C–H···O=C(CH₃)₂), HNO₃–air (hidrasi ionik kuat), HCl–air, asam asetat–piridin.
Azeotrop Maksimum
Pada penyimpangan negatif yang ekstrem, dapat terbentuk azeotrop maksimum (maximum boiling azeotrope): campuran dengan tekanan uap minimum dan titik didih tertinggi.
Campuran aseton (A) dan kloroform (C) menunjukkan penyimpangan negatif dari Hukum Raoult. Pernyataan yang BENAR tentang sistem ini adalah…
Lihat Pembahasan
A – Salah. Penyimpangan negatif → γ < 1.
B – Salah. ΔHmix < 0 (eksotermik), karena interaksi A–B lebih kuat.
C – Salah. Penyimpangan negatif menghasilkan azeotrop titik didih maksimum.
D – Salah. Justru sebaliknya: A–C lebih kuat.
E – BENAR. Kloroform bertindak sebagai donor ikatan H (C–H cukup asam) dan aseton sebagai akseptor (atom O karbonilnya), membentuk interaksi A–C yang kuat dan menurunkan tekanan uap.
Larutan HCl dalam air membentuk azeotrop pada 108,6°C. Pernyataan yang tepat adalah…
Lihat Pembahasan
A – Salah. 108,6°C > 100°C, azeotrop HCl memiliki titik didih lebih tinggi (azeotrop maksimum).
B – BENAR. Azeotrop maksimum = tekanan uap minimum = titik didih tertinggi. Pada tekanan total yang sama (misal 1 atm), suhu azeotrop lebih tinggi dari kedua komponen murni.
C – Salah. Azeotrop tidak dapat dipisahkan lebih lanjut dengan distilasi biasa.
D – Salah. HCl–air adalah sistem penyimpangan negatif.
E – Sebagian salah. Komposisi azeotrop bergantung PADA tekanan, bukan hanya suhu saja.
Pada 35°C, tekanan uap murni aseton (As) adalah 344 mmHg dan kloroform (Cl) adalah 293 mmHg. Data tekanan uap untuk campuran As–Cl diberikan:
| XAs | Ptotal (mmHg) | pAs (mmHg) |
|---|---|---|
| 0,00 | 293 | 0 |
| 0,20 | 255 | 34 |
| 0,40 | 235 | 62 |
| 0,60 | 240 | 107 |
| 0,80 | 269 | 192 |
| 1,00 | 344 | 344 |
(a) Konfirmasikan jenis penyimpangan dengan menghitung Pideal (Raoult) pada XAs = 0,4 dan bandingkan dengan data eksperimen.
(b) Hitung γAs dan γCl pada XAs = 0,4.
(c) Perkirakan komposisi dan tekanan total azeotrop dari data di atas (interpolasi linear). Jelaskan mengapa campuran ini membentuk azeotrop jenis ini.
Lihat Pembahasan
Bagian (a): Konfirmasi Penyimpangan
Pada XAs = 0,4, XCl = 0,6:
\[P_{\rm ideal} = 0{,}4\times344 + 0{,}6\times293 = 137{,}6 + 175{,}8 = 313{,}4 \text{ mmHg}\]Pobs = 235 mmHg < Pideal = 313,4 mmHg
→ Pobs < Pideal → Penyimpangan negatif dikonfirmasi.
Bagian (b): Koefisien Aktivitas pada XAs = 0,4
Tekanan parsial kloroform: pCl = Ptotal − pAs = 235 − 62 = 173 mmHg
\[\gamma_{\rm Cl} = \frac{p_{\rm Cl}}{X_{\rm Cl}\cdot p_{\rm Cl}^*} = \frac{173}{0{,}6\times293} = \frac{173}{175{,}8} = 0{,}984\]Kedua γ < 1 → konsisten dengan penyimpangan negatif.
Bagian (c): Lokasi Azeotrop
Dari data, Ptotal minimum = 235 mmHg terjadi pada XAs = 0,40. Ini adalah perkiraan lokasi azeotrop (tekanan minimum = titik didih maksimum). Untuk interpolasi lebih presisi antara 0,4 dan 0,6 (keduanya naik), azeotrop berada tepat di sekitar XAs ≈ 0,38–0,42.
Mengapa azeotrop maksimum? Ikatan hidrogen antarmolekul aseton–kloroform (C–H···O=C) lebih kuat dari ikatan dalam aseton murni dan kloroform murni. Interaksi ini menstabilkan fase cair secara berlebih dibanding fase uap, sehingga tekanan uap campuran lebih rendah dari ideal. Ketika efek ini maksimal (sekitar XAs = 0,4), tekanan uap total mencapai minimum, dan menurut hubungan Clausius-Clapeyron, titik didih isobarik menjadi maksimum.
(b) γAs = 0,451; γCl = 0,984 (< 1)
(c) Azeotrop di XAs ≈ 0,40, P ≈ 235 mmHg → azeotrop maksimum
Koefisien Aktivitas dan Persamaan Gibbs–Duhem
OSN – IChOKoefisien Aktivitas dan Fugasitas
Untuk memperhitungkan penyimpangan dari idealitas, tekanan parsial setiap komponen dinyatakan menggunakan koefisien aktivitas \(\gamma_i\):
Koefisien aktivitas \(\gamma_i\) bergantung pada komposisi dan suhu. Dua batas penting:
Nilai \(\gamma_i^\infty\) (dilambangkan juga \(\gamma_i^\infty\)) adalah ukuran kuantitatif penyimpangan saat zat terlarut sangat encer. Hubungannya dengan konstanta Henry:
Persamaan Gibbs–Duhem
Persamaan Gibbs–Duhem adalah hubungan konsistensi termodinamik antara potensial kimia (atau koefisien aktivitas) komponen-komponen dalam campuran. Pada suhu dan tekanan tetap:
Ini berarti kita tidak dapat mengubah \(\gamma_A\) secara bebas tanpa mempengaruhi \(\gamma_B\). Persamaan ini sangat berguna untuk:
- Menguji konsistensi termodinamik data eksperimen.
- Menghitung koefisien aktivitas satu komponen dari data komponen lainnya.
- Mengekstrapolasi data ke komposisi yang belum diukur.
Model Margules dan van Laar
Dua model sederhana yang digunakan untuk mengkorelasikan data koefisien aktivitas:
Model Margules simetris memiliki satu parameter (A = A12 = A21) dan cukup baik untuk sistem yang tidak terlalu asimetris. Hubungan dengan \(\gamma^\infty\): \(\ln\gamma_i^\infty = A\).
Koefisien aktivitas tak-hingga-encer etanol dalam air adalah \(\gamma_{\rm EtOH}^\infty = 4{,}5\). Tekanan uap etanol murni pada 25°C adalah 59 mmHg. Berapakah konstanta Henry untuk etanol dalam air pada suhu ini?
Lihat Pembahasan
Hubungan antara konstanta Henry dan koefisien aktivitas tak-hingga-encer:
\[K_H = \gamma^\infty \times p^* = 4{,}5 \times 59 = 265{,}5 \text{ mmHg}\]Nilai KH > p* menunjukkan bahwa etanol dalam larutan encer (air sebagai pelarut) lebih mudah menguap dari yang diprediksi hukum Raoult → penyimpangan positif.
Dari model Margules simetris dengan parameter A = 0,80, berapa koefisien aktivitas komponen A (\(\gamma_A\)) pada XA = 0,30?
Lihat Pembahasan
Dari model Margules dua-sufiks: \(\ln\gamma_A = A\cdot X_B^2\)
Dengan XA = 0,30 → XB = 0,70:
\[\ln\gamma_A = 0{,}80 \times (0{,}70)^2 = 0{,}80 \times 0{,}49 = 0{,}392\] \[\gamma_A = e^{0{,}392} = 1{,}480 \approx 1{,}48\]Nilai terdekat adalah 1,65 (pilihan C) — memeriksa ulang: e0.392 = 1,480. Pilihan paling dekat adalah C berdasarkan urutan soal, namun jawaban eksak adalah 1,480. Dalam soal olimpiade, perhatikan pembulatannya.
Sistem biner A–B pada 60°C memiliki \(p_A^* = 200\) mmHg dan \(p_B^* = 150\) mmHg. Model Margules simetris dengan parameter \(A = 1{,}20\) digunakan untuk mendeskripsikan sistem ini.
(a) Hitung \(\gamma_A\) dan \(\gamma_B\) pada XA = 0,5 menggunakan model Margules.
(b) Hitung tekanan total dan komposisi fase uap (YA) pada XA = 0,5. Bandingkan Ptotal dengan Pideal (Raoult).
(c) Tentukan apakah sistem ini membentuk azeotrop. Jika ya, perkirakan komposisi azeotropnya dengan menggunakan kondisi azeotrop \(\gamma_i X_i p_i^* = X_i P_{\rm az}\) untuk kedua komponen.
(d) Verifikasi hubungan Gibbs–Duhem pada XA = 0,5 menggunakan turunan analitik dari model Margules.
Data: \(e^{0{,}30} = 1{,}350\), \(e^{0{,}48} = 1{,}616\), \(e^{1{,}20} = 3{,}320\), \(\ln(3{,}320) = 1{,}200\).
Lihat Pembahasan
Bagian (a): Koefisien Aktivitas pada XA = 0,5
Model Margules simetris: \(\ln\gamma_A = A X_B^2\), \(\ln\gamma_B = A X_A^2\)
Dengan XA = XB = 0,5:
\[\ln\gamma_A = 1{,}20 \times (0{,}5)^2 = 1{,}20 \times 0{,}25 = 0{,}30\] \[\gamma_A = e^{0{,}30} = 1{,}350\] \[\ln\gamma_B = 1{,}20 \times (0{,}5)^2 = 0{,}30 \quad \Rightarrow \quad \gamma_B = 1{,}350\]Pada XA = XB = 0,5 dalam model simetris, kedua koefisien aktivitas selalu sama.
Bagian (b): Tekanan Total dan Komposisi Uap
Perbandingan dengan ideal:
\[P_{\rm ideal} = 0{,}5\times200 + 0{,}5\times150 = 175 \text{ mmHg}\]P = 236 > 175 mmHg → Penyimpangan positif, dengan parameter A > 0.
Bagian (c): Komposisi Azeotrop
Pada azeotrop: \(Y_A = X_A\), artinya \(\gamma_A p_A^* = \gamma_B p_B^* = P_{\rm az}\)
\[\frac{\gamma_A}{\gamma_B} = \frac{p_B^*}{p_A^*}\]Gunakan model Margules: \(\ln(\gamma_A/\gamma_B) = A(X_B^2 - X_A^2) = A(X_B-X_A)(X_B+X_A) = A(1-2X_A)\)
\[\ln\!\left(\frac{p_B^*}{p_A^*}\right) = A(1-2X_A^{\rm az})\] \[\ln\!\left(\frac{150}{200}\right) = 1{,}20(1-2X_A^{\rm az})\] \[-0{,}2877 = 1{,}20(1-2X_A^{\rm az})\] \[1-2X_A^{\rm az} = -0{,}2397\] \[X_A^{\rm az} = \frac{1+0{,}2397}{2} = 0{,}620\]Verifikasi: \(\ln\gamma_A^{\rm az} = 1{,}20\times(0{,}380)^2 = 0{,}1733 \Rightarrow \gamma_A = 1{,}189\)
\[P_{\rm az} = \gamma_A^{\rm az} \cdot p_A^* = 1{,}189\times200 = 237{,}8 \text{ mmHg}\]Sistem membentuk azeotrop minimum (penyimpangan positif) pada XA ≈ 0,620 dan Paz ≈ 238 mmHg.
Bagian (d): Verifikasi Gibbs–Duhem
Dari model Margules: \(\ln\gamma_A = AX_B^2 = A(1-X_A)^2\)
\[\frac{d\ln\gamma_A}{dX_A} = A\cdot2(1-X_A)\cdot(-1) = -2AX_B\] \[\frac{d\ln\gamma_B}{dX_A} = 2AX_A\]Substitusi ke Gibbs–Duhem:
\[X_A\!\left(\frac{d\ln\gamma_A}{dX_A}\right) + X_B\!\left(\frac{d\ln\gamma_B}{dX_A}\right) = X_A(-2AX_B) + X_B(2AX_A)\] \[= -2AX_AX_B + 2AX_AX_B = 0 \checkmark\]Model Margules memenuhi persamaan Gibbs–Duhem secara eksak, membuktikan konsistensi termodinamik internalnya.
(b) P = 236 mmHg > 175 mmHg (penyimpangan positif), YA = 0,571
(c) Azeotrop di XA ≈ 0,620, Paz ≈ 238 mmHg
(d) Margules memenuhi Gibbs–Duhem secara analitik ✓
Referensi:
Atkins & de Paula, Physical Chemistry, edisi 11 (Oxford University Press);
Smith, Van Ness & Abbott, Introduction to Chemical Engineering Thermodynamics, edisi 8;
Prausnitz, Lichtenthaler & de Azevedo, Molecular Thermodynamics of Fluid-Phase Equilibria;
Chang & Goldsby, Chemistry, edisi 12.
Artikel ini merupakan bagian dari seri persiapan singkat OSN Kimia di urip.info.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar