Tetapan laju (k) reaksi orde pertama untuk reaksi A → Produk dapat ditentukan menggunakan hukum laju diferensial maupun terintegrasi. Yang dimaksud dengan reaksi orde pertama adalah reaksi dengan laju reaksi (r) berbanding lurus dengan konsentrasi satu reaktan pangkat satu. Artinya, jika konsentrasi reaktan digandakan, laju reaksi pun menjadi dua kali lipat.
Contoh sistem yang mengikuti kinetika orde pertama antara lain peluruhan radioaktif, hidrolisis ester dalam suasana asam berlebih (reaksi pseudoorde pertama), dan dekomposisi N2O5 dalam fase gas.
Hukum Laju Diferensial
Menggambarkan laju sesaat sebagai fungsi konsentrasi pada waktu tertentu.Hukum Laju Terintegrasi
Menggambarkan hubungan konsentrasi dengan waktu secara langsung.Hukum laju diferensial menyatakan bahwa laju reaksi pada setiap saat sebanding dengan konsentrasi reaktan saat itu.
Untuk reaksi orde pertama A → Produk:
dengan: r = laju reaksi, [A] = konsentrasi A (mol L-1), k = tetapan laju, t = waktu.
Dari dimensi persamaan laju:
Satuan k untuk reaksi orde pertama adalah s-1 atau menit-1 (tidak bergantung pada satuan konsentrasi).
Dengan memvariasikan konsentrasi awal dan mengukur laju awal reaksi, nilai k dapat ditentukan:
Grafik log(r) vs log([A]) menghasilkan garis lurus dengan kemiringan 1 (orde pertama).
| [H2O2] (mol/L) | Laju r (mol L-1 s-1) |
|---|---|
| 0,200 | 7,40 × 10-4 |
| 0,400 | 1,48 × 10-3 |
| 0,600 | 2,22 × 10-3 |
✎ Tampilkan Penyelesaian
✎ Tampilkan Penyelesaian
| [N2O5] (mol/L) | Laju r (mol L-1 s-1) |
|---|---|
| 0,100 | 6,25 × 10-6 |
| 0,350 | 2,19 × 10-5 |
| 0,500 | 3,13 × 10-5 |
✎ Tampilkan Penyelesaian
Dari hukum laju diferensial, kita dapat menurunkan hukum laju terintegrasi melalui pemisahan variabel dan integrasi:
Waktu paruh (t1/2) adalah waktu yang diperlukan agar konsentrasi reaktan berkurang menjadi setengah nilai awalnya. Ketika [A]t = [A]0/2:
| Besaran | Persamaan |
|---|---|
| Hukum diferensial | r = k[A] |
| Hukum terintegrasi | ln[A]t = ln[A]0 − kt |
| Bentuk eksponensial | [A]t = [A]0 e−kt |
| Waktu paruh | t1/2 = 0,693 / k |
| Satuan k | s−1 (atau menit−1) |
| Grafik linear | ln[A] vs t (kemiringan = −k) |
✎ Tampilkan Penyelesaian
| t (menit) | [Sukrosa] (mol/L) | ln[Sukrosa] |
|---|---|---|
| 0 | 0,500 | −0,693 |
| 30 | 0,368 | −0,999 |
| 60 | 0,271 | −1,305 |
| 90 | 0,199 | −1,615 |
| 120 | 0,147 | −1,917 |
✎ Tampilkan Penyelesaian
✎ Tampilkan Penyelesaian
| Aspek | Hukum Diferensial | Hukum Terintegrasi |
|---|---|---|
| Persamaan | r = k[A] | ln[A]t = ln[A]0 − kt |
| Variabel | Laju & konsentrasi | Konsentrasi & waktu |
| Grafik linear | log r vs log[A] | ln[A] vs t |
| Menentukan k | k = r / [A] | k = −kemiringan grafik |
| Kegunaan | Menentukan orde & k dari laju awal | Prediksi konsentrasi & waktu paruh |
| Data dibutuhkan | Laju awal vs konsentrasi | Konsentrasi vs waktu |
Poin Kunci Reaksi Orde Pertama
1. Laju berbanding lurus dengan konsentrasi: r = k[A]
2. Satuan k selalu waktu−1 (s−1, menit−1, dll.)
3. Grafik ln[A] vs t berupa garis lurus, kemiringan = −k
4. Waktu paruh t1/2 = 0,693/k tidak bergantung pada konsentrasi
5. Konsentrasi meluruh secara eksponensial: [A]t = [A]0e−kt

Tidak ada komentar:
Posting Komentar