Pembuatan Senyawa Kimia Skala Lab dan Industri

Selasa, 07 April 2026

Artikel ini disusun untuk keperluan pembelajaran Kimia SMA dan persiapan OSN Kimia. Konten mencakup prinsip dasar reaksi, pertimbangan termodinamika dan kinetika, serta aspek keselamatan laboratorium dalam proses sintesis senyawa H2SO4, NH3, Na2CO3, Cl2, NaOH, dan HNO3.

Daftar Isi
  1. Asam Sulfat (H2SO4) Proses Kontak
  2. Amonia (NH3) Proses Haber-Bosch
  3. Natrium Karbonat (Na2CO3) Proses Solvay
  4. Klorin (Cl2) & NaOH Proses Klor-Alkali
  5. Asam Nitrat (HNO3) Proses Ostwald
H2SO4
Asam Sulfat
dihydrogen sulfate • asam mineral terpenting secara industri
Asam sulfat adalah senyawa kimia dengan produksi terbesar di dunia (lebih dari 250 juta ton per tahun). Sifatnya sebagai asam kuat diprotik, oksidator kuat, dan agen pendehidrasi membuatnya krusial di industri pupuk (pembuatan superfosfat dan amonium sulfat), petrokimia, baterai, pemrosesan logam, dan sintesis berbagai senyawa organik.
Skala Laboratorium
Pembuatan H2SO4 di Laboratorium
Dasar Teori Di laboratorium, H2SO4 encer dapat dibuat dari reaksi langsung SO3 dengan air, atau secara tidak langsung melalui oksidasi bertahap belerang. Namun yang paling sering dipraktikkan adalah pengenceran H2SO4 pekat dan reaksi asam-basa untuk menghasilkan garam sulfat. Pembuatan "dari nol" di lab umumnya dimulai dari oksidasi S menjadi SO2, kemudian SO3, lalu absorpsi ke air.
Reaksi bertahap
S(s) + O2(g) SO2(g)   pembakaran belerang
2 SO2(g) + O2(g) 2 SO3(g)   oksidasi katalitik
SO3(g) + H2O(l) H2SO4(l)   ΔH = -130 kJ/mol
  1. Pembakaran belerang murni. Sejumlah kecil belerang (S) dibakar di dalam labu berbottom round dalam kondisi terbuka dengan aliran oksigen murni yang dikontrol. Oksigen berlebih diperlukan agar reaksi berjalan tuntas dan konsentrasi SO2 yang terbentuk cukup tinggi untuk tahap berikutnya. Pembakaran sempurna menghasilkan SO2 bukan S2O atau produk lain.
  2. Oksidasi SO2 menjadi SO3 dengan katalis V2O5. Gas SO2 dialirkan melalui tabung berisi vanadium(V) oksida pada suhu 450–550°C. Reaksi SO2 + O2 secara langsung sangat lambat tanpa katalis. V2O5 bekerja melalui mekanisme oksidasi-reduksi siklik: V5+ mengoksidasi SO2 menjadi SO3 sambil tereduksi menjadi V4+, lalu V4+ dioksidasi kembali oleh O2 dari udara. Ini adalah contoh katalisis heterogen.
  3. Absorpsi SO3 ke dalam H2SO4 pekat (oleum), bukan langsung ke air. Gas SO3 dialirkan ke dalam labu berisi H2SO4 98% untuk membentuk oleum (H2S2O7). Penyerapan SO3 langsung ke air sangat eksotermis dan menghasilkan kabut asam yang tidak bisa diserap secara efisien. Oleum (asam pirofosfat belerang) lebih mudah dikontrol dan memiliki efisiensi absorpsi mendekati 100%.
  4. Pengenceran oleum secara hati-hati dengan menambahkan air ke oleum. Air ditambahkan sedikit demi sedikit ke oleum sambil diaduk dan didinginkan dalam rendaman es. Aturan keselamatan: selalu tambahkan asam ke air, bukan air ke asam. Reaksi hidrasi SO3 sangat eksotermis; jika air ditambahkan ke H2SO4 pekat, panas lokal dapat menyebabkan percikan asam yang berbahaya.
  5. Karakterisasi konsentrasi dengan titrasi asam-basa dan pengukuran densitas. Konsentrasi H2SO4 berkorelasi linier dengan densitas larutannya, sehingga pengukuran densitas dengan piknometer atau hidrometer memberikan cara cepat menentukan kemurnian.
Perhatian Keselamatan H2SO4 pekat bersifat korosif kuat dan pendehidrasi jaringan. Selalu gunakan sarung tangan nitril tebal, kacamata pelindung, dan jas lab. Lakukan di lemari asam. Uap SO2 dan SO3 beracun.
Skala Industri
Proses Kontak (Contact Process)
Dasar Teori dan Prinsip Kesetimbangan Proses Kontak dikembangkan pada akhir abad ke-19 dan memanfaatkan prinsip Le Chatelier secara sistematis. Reaksi inti (SO2 + O2 → SO3) bersifat eksoterm (ΔH = -98 kJ/mol) dan melibatkan pengurangan mol gas (3 mol → 2 mol). Berdasarkan Le Chatelier: suhu rendah dan tekanan tinggi mendorong kesetimbangan ke kanan. Namun suhu terlalu rendah membuat laju reaksi tidak ekonomis, sehingga dipilih suhu optimal 450–550°C sebagai kompromi antara laju dan yield.
  1. Produksi SO2: pembakaran belerang atau pemanggangan mineral sulfida.
    • Belerang cair disemprotkan ke ruang pembakaran dengan udara kering:
      S + O2 → SO2
    • Alternatif: pemanggangan pirit (besi sulfida) di roaster fluidized-bed:
      4 FeS2 + 11 O2 → 2 Fe2O3 + 8 SO2
    Pembakaran belerang murni menghasilkan gas yang lebih bersih (tanpa arsenik atau fluor) sehingga tidak meracuni katalis. Pirit dipakai bila belerang tersedia dari industri metalurgi setempat sebagai produk sampingan.
  2. Pemurnian gas SO2: penghilangan debu, uap air, dan kontaminan. Gas dilewatkan melalui siklon separator, electrostatic precipitator, dan scrubber asam untuk menghilangkan partikel, arsenik (As2O3), dan uap asam yang dapat meracuni katalis. Kontaminan As, F, dan partikel halus dapat mengendap di permukaan aktif V2O5 dan menurunkan aktivitas katalis secara permanen (catalyst poisoning). Gas harus sekering mungkin karena uap air bereaksi dengan SO3 membentuk kabut asam yang sulit ditangani.
  3. Konversi katalitik SO2 menjadi SO3 dalam konverter multi-bed. Gas SO2 (7–10%) bercampur udara dialirkan melalui 4–5 lapisan katalis V2O5/K2SO4 di atas silika pada suhu masuk ~420°C. Gas didinginkan antarlapis untuk menggeser kesetimbangan. Konverter multi-bed dengan pendinginan antarlapis (intermediate heat exchange) mempertahankan suhu dalam rentang optimal. Setiap lapisan mengkonversi sebagian SO2 sehingga konversi total mencapai 99,5%. Suhu masuk pertama sedikit lebih tinggi agar katalis aktif, sedangkan lapisan terakhir bersuhu lebih rendah untuk mendorong kesetimbangan ke produk.
  4. Absorpsi ganda (double absorption) di menara oleum. Gas keluar lapisan katalis ke-3 diabsorpsi dahulu di menara asam (intermediate absorption), lalu sisa SO2 kembali ke katalis lapisan 4–5, dan gas akhir diabsorpsi di menara kedua. Sistem double absorption meningkatkan konversi keseluruhan dari ~98% (single absorption) menjadi 99,7–99,8%. Ini penting secara ekonomi dan lingkungan: setiap persen SO2 yang lolos adalah kerugian bahan baku sekaligus polutan udara (hujan asam).
  5. Pengenceran oleum menjadi H2SO4 berbagai konsentrasi dan pengemasan. Oleum dicampur dengan air terdeionisasi dalam mixer berlapis keramik asid-resisten untuk menghasilkan H2SO4 98%, 93%, atau 70% sesuai kebutuhan pasar. Berbagai industri hilir membutuhkan konsentrasi berbeda: industri baterai (37%), industri petrokimia (98%), industri pupuk (93%). Dilusi bertahap dengan kontrol panas memastikan keamanan proses.
Parameter Kondisi Optimal Alasan Pemilihan
Suhu katalis 450–550°C Kompromi laju reaksi vs. kesetimbangan; suhu >600°C geser kesetimbangan ke kiri
Tekanan 1–2 atm Tekanan lebih tinggi secara teori menguntungkan, namun biaya kompresor tidak sepadan dengan peningkatan yield; katalis V2O5 sudah efisien pada tekanan atmosfer
Katalis V2O5 + K2SO4 Promotor K2SO4 menurunkan suhu aktivasi dan memperpanjang umur katalis
Konsentrasi SO2 umpan 7–10% Di bawah 7%: terlalu encer, tidak ekonomis. Di atas 10%: panas reaksi sulit dikontrol, risiko overheating katalis
NH3
Amonia
azane • bahan baku pupuk nitrogen terpenting
Amonia adalah salah satu senyawa kimia yang paling banyak diproduksi secara industri global (lebih dari 175 juta ton per tahun), terutama sebagai bahan baku pupuk urea [(NH2)2CO], ammonium nitrat, dan ammonium sulfat. Kemampuannya mengikat ion H+ menjadikannya basa Bronsted-Lowry yang penting dalam berbagai proses kimia. Sintesis amonia dari N2 dan H2 adalah tonggak kimia industri modern.
Skala Laboratorium
Pembuatan NH3 di Laboratorium
Dasar Teori Di laboratorium, NH3 paling mudah dihasilkan dari reaksi garam amonium dengan basa kuat. Prinsipnya adalah reaksi desplacement (pengusiran): basa kuat seperti Ca(OH)2 atau NaOH menggeser NH4+ dari garamnya karena OH- memiliki afinitas proton lebih besar daripada NH3. Reaksi dipercepat dengan pemanasan karena NH3 adalah gas yang volatilitas-nya meningkat dengan suhu.
Metode lab utama
2 NH4Cl(s) + Ca(OH)2(s) CaCl2(aq) + 2 NH3(g) + 2 H2O(g)
Pemanasan 80–100°C • gas ditangkap dengan pengumpul gas terbalik atau larutan indikator
  1. Persiapan campuran padat NH4Cl dan Ca(OH)2 dengan perbandingan mol 2:1. Kedua padatan digerus halus dan dicampur merata di dalam labu destilasi kering. Penggerusan memperluas luas permukaan kontak antara dua reaktan padat, mempercepat laju reaksi heterogen. Campuran harus benar-benar kering karena kelembaban akan melarutkan NH4Cl dan mengubah mekanisme reaksi.
  2. Pemanasan perlahan menggunakan api kecil atau penangas air. Labu dipanaskan dari bawah dengan nyala kecil; gas yang keluar dialirkan melalui pipa ke tabung pengering (CaO atau NaOH padat). Pemanasan perlahan mencegah bumping dan ejeksi partikel padat ke dalam pipa gas. CaO dipilih sebagai agen pengering karena tidak bereaksi dengan NH3, berbeda dengan CaCl2 yang membentuk kompleks NH3·CaCl2.
  3. Pengeringan gas NH3 melewati padatan CaO atau NaOH. NH3 yang dihasilkan membawa uap air. CaO mengikat H2O membentuk Ca(OH)2 tanpa bereaksi dengan NH3. Silika gel tidak dapat digunakan karena bersifat asam dan akan bereaksi dengan NH3 basa.
  4. Pengumpulan gas NH3 dengan metode downward displacement of air. Labu penampung dibalik (mulut labu menghadap bawah) karena NH3 lebih ringan dari udara (densitas relatif = 0,597). Pengumpulan ke atas (upward displacement) menggunakan gas berat seperti CO2. Karena NH3 lebih ringan dari udara, ia naik ke atas sehingga labu pengumpul harus terbalik. Kertas lakmus merah basah dapat digunakan sebagai indikator: berubah biru menandakan NH3 terkumpul.
  5. Pengujian kemurnian dengan uji lakmus atau uji Nessler. Uji Nessler (larutan K2[HgI4] dalam KOH) sangat sensitif terhadap ion NH4+: terbentuk endapan coklat merah bila ada NH3/amonia. Ini memungkinkan deteksi konsentrasi NH3 sangat kecil sekalipun.
Skala Industri
Proses Haber-Bosch
Dasar Teori: Dilema Le Chatelier dan Kinetika Reaksi N2(g) + 3 H2(g) ⇌ 2 NH3(g) memiliki ΔH = -92 kJ/mol (eksoterm) dan Δngas = -2 (pengurangan mol). Menurut Le Chatelier: (1) suhu rendah mendorong kesetimbangan ke kanan namun laju sangat lambat; (2) tekanan tinggi mendorong ke kanan karena menghasilkan mol gas lebih sedikit. Fritz Haber (1909) menemukan bahwa besi terpromosikan (Fe dengan promotor Al2O3 dan K2O) memungkinkan reaksi berjalan cukup cepat pada 400–500°C sehingga yield ekonomis tercapai meski tidak setinggi suhu sangat rendah.
Reaksi sintesis Haber-Bosch
N2(g) + 3 H2(g) 2 NH3(g)   ΔH = -92 kJ/mol
• Katalis: Fe3O4 tereduksi + Al2O3 + K2O • T = 400–500°C • P = 150–300 atm
  1. Produksi gas nitrogen (N2) dari udara melalui distilasi fraksional udara cair. Udara dikompresi, didinginkan bertahap, dan dicairkan. N2 (titik didih -196°C) menguap lebih dulu dibanding O2 (-183°C) sehingga dapat dipisahkan. Atmosfer bumi terdiri dari 78% N2, sehingga ini adalah sumber paling murah dan berlimpah. Kemurnian N2 harus tinggi karena pengotor O2 akan mengoksidasi katalis besi.
  2. Produksi gas hidrogen (H2) melalui steam reforming gas alam.
    • Reforming primer: CH4 + H2O → CO + 3 H2  (katalis Ni, 800°C)
    • Water-gas shift: CO + H2O → CO2 + H2
    • Penghilangan CO2 dengan absorpsi oleh larutan K2CO3
    Steam reforming adalah sumber H2 paling ekonomis saat ini. CO harus dihilangkan dengan reaksi shift karena CO adalah racun bagi katalis besi pada konsentrasi serendah 1 ppm.
  3. Pencampuran N2 dan H2 dengan rasio mol 1:3 (stoikiometri). Rasio stoikiometri memaksimalkan konversi keduanya. Kelebihan salah satu reaktan meningkatkan biaya pemisahan dan mengurangi efisiensi keseluruhan. Pada kondisi tekanan tinggi, penyimpangan dari stoikiometri akan menurunkan yield secara signifikan.
  4. Kompresi campuran gas hingga 150–300 atm menggunakan kompresor sentrifugal bertingkat. Tekanan tinggi menggeser kesetimbangan ke arah produk (Le Chatelier: mol gas berkurang dari 4 menjadi 2). Konversi NH3 meningkat dari ~15% (1 atm) menjadi ~25–35% (200 atm) pada suhu yang sama. Tekanan di atas 300 atm memberikan peningkatan yield yang marginal namun biaya rekayasa dan risiko keselamatan meningkat drastis.
  5. Reaksi dalam reaktor katalitik (converter) pada suhu 400–500°C. Gas bertekanan tinggi melewati beberapa lapisan katalis besi dengan pendinginan antarlapis. Konversi per lintasan hanya ~15–25%. Meski suhu optimal termodinamika (kesetimbangan) adalah serendah mungkin, suhu terlalu rendah membuat laju reaksi tidak ekonomis. Suhu 400–500°C merupakan titik optimal di mana katalis aktif dan konversi per siklus cukup untuk operasi ekonomis. Ini adalah contoh klasik trade-off kinetika vs. termodinamika.
  6. Pendinginan dan pencairan NH3 dari campuran gas keluar reaktor. Gas campuran didinginkan di kondenser. NH3 mencair (titik didih -33°C) dan dipisahkan dari N2 dan H2 yang tidak bereaksi. Perbedaan titik didih yang besar antara NH3 (-33°C) dan N2+H2 (keduanya jauh di bawah -150°C) memudahkan pemisahan dengan pendinginan sederhana. NH3 cair yang terkumpul adalah produk akhir siap distribusi atau proses lebih lanjut.
  7. Resirkulasi gas N2 dan H2 yang tidak bereaksi kembali ke reaktor. Meski konversi per siklus hanya ~15–25%, resirkulasi memastikan konversi keseluruhan mendekati 97–98%. Tanpa resirkulasi, biaya bahan baku N2 dan H2 akan membuat proses tidak ekonomis sama sekali.
ParameterNilaiJustifikasi
Tekanan 150–300 atm Meningkatkan yield; di atas 300 atm biaya material dan safety terlalu tinggi
Suhu 400–500°C Kompromi laju (kinetika) vs. pergeseran kesetimbangan (termodinamika)
Katalis Fe3O4 tereduksi Promotor Al2O3 mencegah sintering, K2O meningkatkan aktivitas elektronis
Rasio N2:H2 1:3 (mol) Stoikiometri reaksi untuk memaksimalkan konversi kedua reaktan
Na2CO3
Natrium Karbonat (Soda Abu)
disodium carbonate • soda ash • bahan baku kaca, kertas, detergen
Na2CO3 (soda abu) adalah basa lemah berupa padatan putih yang digunakan secara luas dalam industri kaca (menyediakan Na2O), industri kertas dan pulp, detergen, pengolahan air, serta sebagai reagen analitik. Produksinya terutama melalui Proses Solvay yang dikembangkan Ernest Solvay pada 1863, menggantikan Proses Leblanc yang lebih tua dan lebih kotor.
Skala Laboratorium
Pembuatan Na2CO3 di Laboratorium
Dasar Teori Di laboratorium, Na2CO3 dapat diperoleh dari beberapa rute: (1) kalsinasi NaHCO3 (dekomposisi termal bikarbonat); (2) reaksi CO2 berlebih dengan NaOH menghasilkan NaHCO3, diikuti kalsinasi; (3) elektrodeposisi menggunakan elektrolisis larutan garam NaCl sajenuh. Metode termudah dan paling umum digunakan di laboratorium sekolah adalah kalsinasi NaHCO3.
Dekomposisi termal bikarbonat
2 NaHCO3(s) Na2CO3(s) + H2O(g) + CO2(g)
• Pemanasan 50–100°C • Reaksi endoterm • ΔH = +128 kJ/mol
  1. Timbang NaHCO3 (baking soda) murni secukupnya ke dalam cawan penguap porselen. Cawan porselen dipilih karena tahan suhu tinggi dan tidak bereaksi dengan karbonat. Massa awal dicatat untuk menghitung persentase dekomposisi dari selisih massa sebelum dan sesudah kalsinasi.
  2. Panaskan cawan di atas nyala api bunsen atau di dalam oven pada suhu 200–300°C selama 30 menit. Dekomposisi NaHCO3 dimulai pada ~50°C namun berjalan lambat. Suhu 200–300°C memastikan reaksi berlangsung sampai tuntas dalam waktu yang wajar. Pemanasan harus merata; penggunaan oven lebih baik daripada api langsung untuk menghindari panas berlebih setempat yang dapat melelehkan produk.
  3. Dinginkan cawan dalam desikator sampai suhu kamar, lalu timbang kembali. Desikator berisi silika gel mencegah produk Na2CO3 menyerap uap air dari udara selama proses pendinginan. Na2CO3 bersifat higroskopis dan dapat membentuk Na2CO3·10H2O (washing soda) bila dibiarkan di udara lembab, sehingga akan mengacaukan penimbangan.
  4. Uji kemurnian produk dengan larutan HCl encer (uji efervesen) dan indikator fenolftalein. Na2CO3 bereaksi dengan HCl menghasilkan gelembung CO2 yang dapat diamati. Indikator fenolftalein berubah merah-muda dalam larutan Na2CO3 (basa lemah, pH ~11,6), mengkonfirmasi sifat basa karbonat. Bila NaHCO3 belum terdekomposisi sempurna, perubahan warna fenolftalein akan berbeda karena pH lebih rendah.
Skala Industri
Proses Solvay (Proses Amonia-Soda)
Dasar Teori: Kelarutan Selektif dan Daur Ulang Amonia Proses Solvay memanfaatkan perbedaan kelarutan garam karbonat di air asin jenuh amonia. Prinsip kuncinya: NaHCO3 adalah garam dengan kelarutan terendah di antara campuran (NH4HCO3, NaCl, NaHCO3, NH4Cl) pada suhu rendah, sehingga mengendap secara selektif. Ini kemudian dikalsinasi menjadi Na2CO3. Keunggulan proses ini adalah daur ulang amonia: NH3 dipulihkan dari NH4Cl menggunakan Ca(OH)2 dan dipakai kembali, sehingga hanya NaCl dan CaCO3 yang diperlukan sebagai bahan baku utama.
Tahap-tahap reaksi kunci
NaCl(aq) + NH3(g) + CO2(g) + H2O(l) NaHCO3(s)↓ + NH4Cl(aq)
2 NaHCO3(s) Na2CO3(s) + H2O(g) + CO2(g)  kalsinasi
2 NH4Cl(aq) + Ca(OH)2(aq) CaCl2(aq) + 2 NH3(g) + 2 H2O(l)  daur ulang NH3
CaCO3(s) CaO(s) + CO2(g)  sumber CO2 dan Ca(OH)2
  1. Pembuatan larutan NaCl jenuh (brine) dan pembersihan dari Ca2+ dan Mg2+. Air garam dari tambang garam atau tambang bawah tanah dimurnikan dengan menambahkan sedikit Na2CO3 dan NaOH untuk mengendapkan CaCO3 dan Mg(OH)2. Ion Ca2+ dan Mg2+ akan mengendap sebagai karbonat atau sulfit di dalam menara karbonasi dan menyumbat pipa. Pemurnian brine di awal adalah kunci keandalan operasional jangka panjang.
  2. Saturasi brine dengan amonia (NH3) di menara absorpsi amonia. Gas NH3 dialirkan dari bawah menara, larutan brine mengalir dari atas. Suhu dijaga rendah (<30°C) untuk memaksimalkan kelarutan NH3. NH3 sangat larut di air (700 L/L air pada 20°C). Saturasi amonia meningkatkan kapasitas larutan untuk mengabsorpsi CO2 dan membantu mengendapkan NaHCO3 secara selektif karena ion NH4+ memiliki jari-jari ionik lebih besar dari Na+ sehingga garam karbonatnya lebih larut.
  3. Karbonasi: saturasi brine-amonia dengan CO2 bertekanan di menara karbonasi. Gas CO2 dari tungku kalsinasi batu kapur dialirkan masuk di bawah menara bertingkat. Suhu dikontrol sekitar 15–20°C menggunakan pendingin antarlempeng. Pada suhu rendah, NaHCO3 yang terbentuk memiliki kelarutan lebih rendah (kelarutan NaHCO3 turun dari 16 g/100 mL pada 60°C menjadi 6,9 g/100 mL pada 0°C), sehingga lebih mudah mengendap. Pendinginan di menara karbonasi adalah salah satu kunci selektivitas proses Solvay.
  4. Filtrasi endapan NaHCO3 dari larutan induk (NH4Cl). Slurry difiltrasi menggunakan filter putar vakum atau filter bertekanan. NaHCO3 yang diperoleh masih mengandung sekitar 15–20% NH4Cl sebagai pengotor. Pencucian dengan air dingin diperlukan namun harus minimal agar tidak melarutkan kembali produk.
  5. Kalsinasi NaHCO3 dalam drum rotary kiln pada suhu 170–200°C. Suhu 170–200°C cukup untuk mendekomposisi NaHCO3 menjadi Na2CO3 tanpa melebur produk (titik leleh Na2CO3 = 851°C). CO2 yang dilepas dalam tahap ini dikumpulkan dan dikembalikan ke menara karbonasi (step 3), sehingga tidak ada pemborosan CO2.
  6. Pemulihan amonia dari larutan NH4Cl menggunakan Ca(OH)2 (susu kapur). Larutan NH4Cl dipanaskan bersama Ca(OH)2 dalam kolom still untuk membebaskan NH3 yang dikembalikan ke menara absorpsi amonia (step 2). Ini adalah jantung efisiensi Proses Solvay. Amonia merupakan bahan yang mahal; daur ulang hampir total (efisiensi >95%) membuat proses ini jauh lebih ekonomis dari proses Leblanc sebelumnya. Ca(OH)2 dipilih karena Ka basa Ca(OH)2 cukup kuat untuk membebaskan NH3 dari NH4Cl.
Input Bahan Baku
NaCl (brine), CaCO3 (batu kapur)
NH3 awal (setelahnya di-recycle)
Air dan bahan bakar untuk kiln
Produk dan Limbah
Produk utama: Na2CO3 (soda ash)
Produk samping: CaCl2 (limbah cair, nilai ekonomi rendah)
Kelemahan: CaCl2 berlebih sulit dibuang
Cl2 & NaOH
Klorin dan Natrium Hidroksida
chlorine gas • caustic soda • dihasilkan bersama dalam proses klor-alkali
Cl2 dan NaOH adalah pasangan produk yang tidak dapat dipisahkan dalam proses industri modern: keduanya dihasilkan sekaligus dari elektrolisis larutan NaCl. Klorin (gas kuning-kehijauan) digunakan untuk disinfeksi air minum, pembuatan PVC, pelarut terklorinasi, dan bahan baku industri organik. NaOH (soda kaustik) adalah basa industri paling penting untuk pembuatan kertas, tekstil, sabun, pengolahan aluminium, dan berbagai proses kimia lainnya.
Skala Laboratorium
Pembuatan Cl2 di Laboratorium
Dasar Teori Klorin dapat diproduksi di laboratorium melalui oksidasi ion Cl- menggunakan oksidator kuat. Metode paling umum: reaksi HCl pekat dengan MnO2 atau KMnO4. MnO2 berfungsi sebagai oksidator (Mn4+ → Mn2+) yang mengoksidasi Cl- menjadi Cl2 (Cl- → Cl2). Ini adalah reaksi redoks di mana HCl berperan ganda: sebagai asam (menyediakan H+) sekaligus sumber ion Cl- yang dioksidasi.
Reaksi utama lab
MnO2(s) + 4 HCl(aq) MnCl2(aq) + Cl2(g) + 2 H2O(l)
• Pemanasan ringan • MnO2: oksidator • HCl harus pekat (37%)
2 KMnO4(aq) + 16 HCl(aq) 2 KCl + 2 MnCl2 + 5 Cl2(g) + 8 H2O
• Tanpa pemanasan • KMnO4 oksidator lebih kuat (Mn: +7 → +2)
  1. Masukkan MnO2 padat ke dalam labu destilasi, tambahkan HCl pekat perlahan. Perbandingan: 1 mol MnO2 dengan 4 mol HCl (sedikit berlebih). HCl pekat diperlukan karena ion Cl- harus berada dalam konsentrasi sangat tinggi agar reaksi oksidasi berjalan (potensial standar reduksi Cl2/Cl- = +1,36 V vs. MnO2/Mn2+ = +1,23 V; selisihnya kecil sehingga konsentrasi tinggi penting untuk menggeser kesetimbangan ke arah Cl2).
  2. Panaskan labu perlahan di atas waterbath atau pemanas listrik, sambil gas Cl2 dialirkan melalui pipa ke larutan NaOH (sebagai scrubber). Pemanasan mempercepat reaksi dan meningkatkan tekanan parsial Cl2 sehingga laju pengeluaran gas lebih stabil. Scrubber NaOH di ujung mengabsorpsi Cl2 berlebih: Cl2 + 2 NaOH → NaCl + NaOCl + H2O, mencegah polusi udara ruang kerja.
  3. Gas Cl2 dikeringkan dengan melewatkannya melalui H2SO4 pekat. Cl2 dari laboratorium membawa uap HCl dan uap air. H2SO4 pekat menyerap air dan HCl tanpa bereaksi dengan Cl2. Ini penting bila Cl2 digunakan untuk klorinasi senyawa organik yang sensitif air.
  4. Kumpulkan Cl2 dengan metode displacement udara (downward displacement karena Cl2 lebih berat dari udara, densitas relatif = 2,5). Gas Cl2 lebih berat dari udara sehingga terkumpul di bagian bawah wadah pengumpul. Tutup labu pengumpul menghadap ke atas. Kertas KI-amilum (biru jika ada Cl2) digunakan sebagai indikator kelengkapan pengisian.
Peringatan Keselamatan Kritis Cl2 adalah gas beracun dengan ambang bahaya (IDLH) hanya 10 ppm. Pada Perang Dunia I, digunakan sebagai senjata kimia. Selalu kerjakan di lemari asam dengan scrubber NaOH aktif. Tidak ada antidot spesifik; paparan memerlukan penanganan medis segera.
Skala Laboratorium
Pembuatan NaOH di Laboratorium
Dasar Teori Di laboratorium, NaOH dapat dibuat melalui: (1) reaksi Na2CO3 dengan Ca(OH)2 (proses kaustisasi), atau (2) elektrolisis larutan NaCl (skala kecil dengan sel elektrolitik sederhana). Kaustisasi memanfaatkan kelarutan diferensial: Ca2+ mengendap sebagai CaCO3 (larut rendah) sementara NaOH tetap dalam larutan.
Kaustisasi (metode lab umum)
Na2CO3(aq) + Ca(OH)2(aq) 2 NaOH(aq) + CaCO3(s)↓
• Suhu 80–90°C • Ksp CaCO3 = 3,3 × 10-9 • Reaksi bergerak ke kanan secara spontan
  1. Larutkan Na2CO3 dalam air panas, tambahkan Ca(OH)2 (kapur sirih) berlebih sedikit sambil diaduk. Suhu tinggi meningkatkan laju reaksi. Kelebihan sedikit Ca(OH)2 memastikan Na2CO3 bereaksi sempurna; kelebihan Ca(OH)2 tidak mengganggu karena akan ikut tersaring bersama CaCO3.
  2. Saring endapan CaCO3 panas menggunakan kertas saring atau filter Buchner vakum. Filtrasi panas lebih efisien karena viskositas larutan lebih rendah. Endapan CaCO3 harus dibuang; nilai ekonominya rendah dalam skala lab. Filtrat mengandung NaOH dalam larutan.
  3. Evaporasi larutan NaOH untuk meningkatkan konsentrasi, lalu kristalisasi bila diperlukan padatan. NaOH sangat higroskopis; bila diuapkan sampai kering di udara terbuka, padatan akan segera menyerap uap air. Evaporasi harus dilakukan di atmosfer kering atau langsung disimpan dalam wadah tertutup rapat setelah pemekatan.
  4. Standardisasi konsentrasi NaOH dengan titrasi menggunakan larutan standar asam oksalat (H2C2O4) atau KHP (kalium hidrogen ftalat). NaOH tidak dapat dibuat langsung sebagai standar primer karena higroskopis (menyerap CO2 dan H2O dari udara). Standardisasi dengan KHP (asam monobasa, massa molar tepat diketahui = 204,22 g/mol) diperlukan untuk mengetahui konsentrasi sebenarnya.
Skala Industri
Proses Klor-Alkali (Chlor-Alkali Process)
Dasar Teori: Elektrolisis dan Pemisahan Produk Proses klor-alkali adalah elektrolisis larutan NaCl jenuh. Reaksi total: 2 NaCl(aq) + 2 H2O(l) → Cl2(g) + H2(g) + 2 NaOH(aq). Tantangan utama: Cl2 dan NaOH harus dipisahkan secara ketat karena bila bertemu, mereka bereaksi membentuk NaOCl (hipoklorit) atau NaClO3 yang tidak diinginkan. Tiga teknologi digunakan: sel merkuri (kuno, terlarang di banyak negara), sel diafragma, dan sel membran (paling modern dan ramah lingkungan).
Reaksi elektroda
Anoda (+): 2 Cl-(aq) Cl2(g) + 2 e-  E° = -1,36 V (oksidasi)
Katoda (-): 2 H2O(l) + 2 e- H2(g) + 2 OH-(aq)  E° = -0,83 V (reduksi)
Netto: 2 NaCl + 2 H2O Cl2 + H2 + 2 NaOH  Esel = -2,19 V (butuh tegangan eksternal)
  1. Pembuatan dan pemurnian brine (larutan NaCl jenuh ~300 g/L). Garam batu atau garam laut dilarutkan. Ion Ca2+, Mg2+, SO42-, dan bahan organik dihilangkan hingga <20 ppb untuk sel membran. Membran penukar ion sangat sensitif terhadap pengotor multivalen. Ca2+ dan Mg2+ akan mengendap dalam membran Nafion dan memblokir aliran ion, meningkatkan hambatan listrik dan menurunkan selektivitas membran secara permanen.
  2. Elektrolisis dalam sel membran (membrane cell) menggunakan membran Nafion. Brine mengalir di sisi anoda titanium-RuO2. Ion Na+ bermigrasi melalui membran ke sisi katoda nikel. Air direduksi di katoda menghasilkan H2 dan OH-. Di anoda, Cl- teroksidasi menjadi Cl2. Membran Nafion (polimer sulfonate perfluorinated) bersifat selektif kation: hanya mengizinkan Na+ melewatinya, menolak Cl- dan OH-. Ini memastikan Cl2 (dari anoda) dan NaOH (dari katoda) tidak bercampur. Sisi katoda menghasilkan NaOH ~33%, kemudian dipekatkan dengan evaporasi.
  3. Pemrosesan Cl2 dari anoda: pendinginan, pengeringan, likuefaksi. Gas Cl2 panas didinginkan di heat exchanger, dikeringkan dengan H2SO4 pekat, lalu dicairkan dengan kompresor pada -35°C. Cl2 gas basah bersifat sangat korosif karena membentuk HClO dan HCl dengan air. Pengeringan melindungi pipa dan peralatan. Klorin cair lebih mudah disimpan dan ditransportasi dibanding gas.
  4. Pemekatan NaOH dari ~33% menjadi 50% menggunakan evaporator efek ganda. NaOH 50% adalah konsentrasi standar komersial. Evaporator efek ganda menggunakan uap dari tahap pertama sebagai panas untuk tahap kedua, meningkatkan efisiensi energi secara drastis dibanding evaporator tunggal.
  5. Pengelolaan H2 dari katoda: dipakai sebagai bahan bakar atau bahan baku HCl sintetis. H2 adalah produk sampingan berharga. Reaksinya dengan Cl2 secara langsung (H2 + Cl2 → 2 HCl) menghasilkan HCl murni tanpa sulfur atau kotoran lain, berbeda dari HCl yang dibuat dari garam dan H2SO4. Atau digunakan sebagai bahan bakar dalam furnace pabrik, mengurangi konsumsi gas alam.
Teknologi SelKemurnian NaOHKonsumsi EnergiCatatan
Membran (Nafion) 33–35%, sangat murni 2.200–2.500 kWh/t Cl2 Standar industri modern; ramah lingkungan
Diafragma (asbes/polimer) ~12%, mengandung NaCl 2.500–3.000 kWh/t Cl2 Lebih tua; NaOH perlu pemurnian lebih lanjut
Merkuri (terlarang) 50%, sangat murni 3.000–3.600 kWh/t Cl2 Dilarang di Eropa (2017) karena kontaminasi Hg
HNO3
Asam Nitrat
nitric acid • aqua fortis • bahan baku pupuk dan bahan peledak
Asam nitrat adalah asam kuat monoproton dan oksidator kuat yang penting untuk pembuatan amonium nitrat (pupuk dan bahan peledak), trinitrotoluena (TNT), nitrogliserin, pewarna, dan berbagai senyawa organik ternitrasi. Asam nitrat dapat melarutkan hampir semua logam kecuali emas, platinum, dan rhodium. Campurannya dengan HCl (aqua regia, 1:3) dapat melarutkan emas dan platina.
Skala Laboratorium
Pembuatan HNO3 di Laboratorium
Dasar Teori Di laboratorium, HNO3 dibuat melalui reaksi garam nitrat (biasanya NaNO3 atau KNO3) dengan asam kuat berubah rendah volatilitas seperti H2SO4 pekat. Prinsipnya: asam kuat (H2SO4) mendesak asam lemah/volatil (HNO3) keluar dari garamnya. HNO3 yang dihasilkan cukup volatil (titik didih 83°C) sehingga dapat didestilasi dari campuran reaksi.
Reaksi lab
NaNO3(s) + H2SO4(l, pekat) NaHSO4(s) + HNO3(g)
• Pemanasan <120°C • Destilasi pengumpul es • HNO3 yang dihasilkan: 65–68%
NaNO3(s) + H2SO4(l) Na2SO4(s) + 2 HNO3(g)
• Suhu >200°C • Reaksi lanjut (sebaiknya dihindari di lab)
  1. Masukkan NaNO3 kering ke dalam labu destilasi, tambahkan H2SO4 pekat (98%) perlahan-lahan ke padatan, bukan sebaliknya. H2SO4 ditambahkan ke padatan untuk mengontrol laju reaksi dan panas. Bila dibalik, panas lokal yang timbul di permukaan H2SO4 cair dapat mengdekomposisi HNO3 yang baru terbentuk menjadi NO2 coklat beracun, menurunkan yield secara signifikan.
  2. Rangkai alat destilasi dengan kondenser yang didinginkan air es. Labu penerima direndam dalam campuran es dan garam. HNO3 pekat di atas 68% (azeotrop) bersifat termolabil dan cenderung terdekomposisi menjadi NO2 bila dipanaskan berlebih. Kondenser dan penerima yang sangat dingin mencegah degradasi ini dan memaksimalkan yield. Azeotrop HNO3-H2O terbentuk pada 68% dengan titik didih 120,5°C; konsentrasi ini adalah batas praktis destilasi di lab.
  3. Panaskan labu reaksi sangat perlahan hingga ~120°C menggunakan waterbath atau penangas minyak. Jangan melebihi 150°C. Di atas 150°C, reaksi kedua (pembentukan Na2SO4) mulai berlangsung dan HNO3 dapat terdekomposisi: 4 HNO3 → 4 NO2 + O2 + 2 H2O. Gas NO2 (coklat) bersifat sangat beracun dan karsinogenik. Pengendalian suhu adalah kunci keselamatan.
  4. Tampung destilat (HNO3) dalam labu penerima berwarna gelap. Hentikan pemanasan bila warna kuning mulai muncul di destilat. HNO3 murni adalah cairan tidak berwarna. Warna kuning menandakan adanya NO2 terlarut, produk dekomposisi sebagian. Ini berarti suhu sudah terlalu tinggi. Penyimpanan dalam botol gelap mencegah fotolisis HNO3 oleh cahaya UV.
  5. Bila diperlukan HNO3 lebih pekat (>68%), gunakan destilasi azeotrop dengan tambahan H2SO4 sebagai dehydrating agent. H2SO4 mengikat air dari campuran HNO3-H2O, menggeser komposisi melewati azeotrop sehingga HNO3 lebih pekat dapat disuling. Produk yang didapat bisa mencapai HNO3 "berasap" (fuming nitric acid, >90%).
Bahaya Ganda HNO3 pekat: korosif kuat, oksidator kuat (dapat menimbulkan kebakaran pada kontak dengan bahan organik), dan menghasilkan gas NO2 beracun. Gas NO2 menyebabkan edema paru yang tertunda (gejala bisa muncul 4–24 jam setelah paparan). Selalu kerja di lemari asam.
Skala Industri
Proses Ostwald
Dasar Teori: Oksidasi Katalitik Bertahap Proses Ostwald (dikembangkan Wilhelm Ostwald, 1902) menggunakan NH3 sebagai bahan baku utama, yang selanjutnya dioksidasi bertahap menjadi NO, lalu NO2, dan akhirnya HNO3. Tahap pertama (oksidasi NH3 menjadi NO) adalah tahap penentu laju (rate-determining step) dan membutuhkan katalis platinum-rhodium karena reaksinya tidak terjadi secara signifikan tanpa katalis pada suhu yang praktis. Proses Ostwald secara ekonomi sangat bergantung pada ketersediaan NH3 dari Proses Haber-Bosch: keduanya saling terhubung dalam rantai nitrogen industri.
Tiga tahap oksidasi
Tahap 1: 4 NH3(g) + 5 O2(g) 4 NO(g) + 6 H2O(g)  Pt-Rh, 850–900°C, ΔH = -909 kJ
Tahap 2: 2 NO(g) + O2(g) 2 NO2(g)  suhu rendah (<50°C), tanpa katalis, ΔH = -113 kJ/mol
Tahap 3: 3 NO2(g) + H2O(l) 2 HNO3(aq) + NO(g)  menara absorpsi, T rendah, P tinggi
NO yang terlepas di tahap 3 direcycle ke tahap 2
  1. Persiapan campuran NH3 dan udara kering (rasio NH3:O2 = 1:1,7 molar) dengan kontrol ketat batas ledak. Campuran NH3-udara dapat meledak bila konsentrasi NH3 berada di antara 15–28% (batas ledak). Konsentrasi NH3 pada kondisi operasi ~10% dipilih agar berada di luar batas ledak bawah (15%), sambil tetap memberikan konversi yang baik. Kontrol rasio udara juga penting: kekurangan O2 menghasilkan N2 (reaksi samping) bukan NO.
  2. Oksidasi katalitik NH3 menjadi NO di atas kisi platina-rhodium pada suhu 850–900°C dan tekanan 1–10 atm. Waktu kontak gas dengan katalis hanya 0,001–0,0001 detik. Katalis Pt-Rh (biasanya campuran 90% Pt + 10% Rh dalam bentuk kisi halus) bekerja melalui adsorpsi NH3 dan O2 di permukaan. Waktu kontak sangat singkat disengaja untuk mencegah reaksi berlebih (over-oxidation) yang menghasilkan N2 atau N2O. Rhodium (Rh) meningkatkan selektivitas menuju NO dan memperkuat struktur kisi fisik dari Pt murni yang lunak. Suhu 850–900°C memberikan selektivitas NO terbaik (~96%).
  3. Pendinginan cepat gas keluar reaktor dari 900°C menjadi 150–200°C di heat recovery boiler untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi. Pendinginan cepat (quenching) mencegah reaksi terbalik NO → N2 yang terjadi saat suhu turun perlahan (fenomena retro-Ostwald). Panas yang dipulihkan digunakan sebagai uap untuk turbin listrik atau proses lain di pabrik, meningkatkan efisiensi energi keseluruhan secara signifikan.
  4. Oksidasi NO menjadi NO2 dalam kolom oksidasi pada suhu rendah (<50°C) dan tekanan tinggi (bila tekanan tinggi digunakan). Reaksi 2 NO + O2 → 2 NO2 bersifat eksoterm dan melibatkan pengurangan mol gas. Suhu rendah menguntungkan kesetimbangan ke arah NO2 (konstanta laju reaksi ini unik: meningkat saat suhu menurun, berbeda dari reaksi kebanyakan). Tekanan tinggi juga menguntungkan produksi NO2. Tidak ada katalis yang diperlukan dalam tahap ini.
  5. Absorpsi NO2 ke dalam air di menara absorpsi berlapis pada suhu <40°C. Air mengalir dari atas, gas NO2 dari bawah (mode counter-current). Tekanan 5–8 atm digunakan untuk meningkatkan efisiensi absorpsi. Absorpsi NO2 dalam air menghasilkan HNO3 dan NO. Mode counter-current memaksimalkan kontak antara gas dan cairan. Tekanan tinggi meningkatkan kelarutan gas NO2 (hukum Henry). NO yang dibebaskan dalam tahap ini dikembalikan (direcycle) ke tahap oksidasi NO–NO2 untuk tidak terbuang sia-sia.
  6. Pemekatan HNO3 dari ~60% menjadi 68% (azeotrop) atau >98% (fuming nitric acid) tergantung kebutuhan. Absorpsi langsung dalam proses tekanan tinggi (8–10 atm) dapat langsung menghasilkan HNO3 60–68% tanpa pemekatan tambahan. Untuk kebutuhan HNO3 >98% (digunakan untuk nitrasi senyawa organik), diperlukan dehidrasi dengan H2SO4 yang kemudian mendekomposisi azeotrop.
  7. Penanganan gas buang (tail gas): destruksi NOx residu sebelum dibuang ke atmosfer. Gas buang yang masih mengandung NO dan NO2 (NOx) direduksi menjadi N2 menggunakan NH3 dan katalis pada suhu 250–300°C (DeNOx SCR): 4 NO + 4 NH3 + O2 → 4 N2 + 6 H2O. NOx adalah polutan udara penyebab smog fotokimia dan hujan asam. Regulasi emisi global mewajibkan pabrik HNO3 modern menjaga kadar NOx di gas buang <200 ppm. Panas reaksi SCR juga dapat dipulihkan untuk pemanasan proses.
TahapKondisi KritisMengapa Dipilih
Oksidasi NH3 850–900°C, Pt-Rh Selektivitas NO maksimal; suhu lebih rendah menurunkan konversi, lebih tinggi menghasilkan N2
Oksidasi NO <50°C, tanpa katalis Reaksi berbeda: laju meningkat saat suhu turun; suhu rendah favorabel untuk NO2
Absorpsi NO2 5–8 atm, <40°C Tekanan tinggi meningkatkan kelarutan gas (Henry); suhu rendah mendorong kelarutan NO2
Katalis 90% Pt + 10% Rh Rh meningkatkan selektivitas NO dan ketahanan mekanis kisi; Pt murni terlalu lunak pada suhu tinggi
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info