Struktur Protein: Primer, Sekunder, Tersier, & Kuartener

Rabu, 08 April 2026

Protein adalah biopolimer yang tersusun dari asam amino yang terhubung melalui ikatan peptida (-CO-NH-). Fungsi protein sangat ditentukan oleh bentuk tiga dimensinya, yang dibangun secara hierarkis dari empat tingkatan struktur. Struktur protein yang dimaksud struktur primer, struktur sekunder, struktur tersier & struktur kuartener, termasuk peran jembatan disulfida (-S-S-) dan disertai latihan soal analitis setara olimpiade kimia.

Empat Tingkatan Struktur Protein
1
Tingkat Pertama
Struktur Primer

Definisi: Urutan linear asam amino dalam rantai polipeptida yang dihubungkan oleh ikatan peptida (ikatan kovalen antara gugus -COOH satu asam amino dengan gugus -NH2 asam amino berikutnya).

Informasi yang tersimpan: Urutan ini dikode langsung oleh DNA (kodon pada mRNA). Satu perubahan asam amino saja dapat mengubah fungsi protein sepenuhnya.

Ikatan utama: Ikatan peptida (ikatan kovalen kuat, tidak terputus oleh perubahan pH atau suhu moderat).

H2N-AA1-CO-NH-AA2-CO-NH-AA3-...-COOH
Ikatan Peptida (Kovalen) Linear/1 Dimensi Dikode DNA
Contoh: Insulin manusia: rantai A (21 asam amino) dan rantai B (30 asam amino). Hemoglobin: empat rantai polipeptida (2 rantai alpha, 2 rantai beta), masing-masing dengan urutan asam amino spesifik. Penyakit Anemia Sel Sabit: satu asam amino pada posisi ke-6 rantai beta hemoglobin berubah dari asam glutamat (hidrofilik) menjadi valin (hidrofobik).
2
Tingkat Kedua
Struktur Sekunder

Definisi: Pelipatan lokal rantai polipeptida membentuk pola berulang yang distabilkan oleh ikatan hidrogen antara atom H pada gugus -NH- dengan atom O pada gugus -C=O- dari tulang punggung (backbone) polipeptida.

Tiga motif utama:

a) Alpha-helix (α-helix): Rantai melingkar seperti pegas/spiral. Setiap putaran mengandung 3,6 residu asam amino. Ikatan hidrogen terbentuk antara residu ke-n dan residu ke-(n+4). Contoh: keratin rambut, miosin, kolagen (tripel heliks).

b) Beta-pleated sheet (β-sheet): Rantai polipeptida paralel atau antiparalel membentuk lembaran berlipat seperti akordeon. Ikatan hidrogen antar-rantai atau intra-rantai. Contoh: sutra fibroin, lembaran beta pada lisozim.

c) Beta-turn / loop: Penghubung antara segmen sekunder, memungkinkan rantai berbelok arah. Sering mengandung glisin atau prolin (asam amino pemutus helix).

Ikatan Hidrogen α-Helix β-Sheet Backbone saja
Catatan penting: Prolin (Pro) merupakan "pemecah helix" karena atom nitrogen-nya terikat pada dua karbon (struktur siklik), sehingga tidak bisa membentuk ikatan hidrogen pada posisi N-H dengan optimal dan menimbulkan kekakuan geometri yang tidak kompatibel dengan alfa-helix.
3
Tingkat Ketiga
Struktur Tersier

Definisi: Pelipatan tiga dimensi keseluruhan satu rantai polipeptida (termasuk semua elemen sekunder di dalamnya). Ini adalah konformasi fungsional untuk protein globular monomer.

Empat jenis interaksi yang menstabilkan:

1. Interaksi hidrofobik: Rantai samping nonpolar (Val, Leu, Ile, Phe) berkumpul di inti dalam menjauhi air (efek entropi dominan).

2. Ikatan hidrogen: Antara rantai samping polar (Ser-OH, Asn-CONH2, dll.).

3. Interaksi ionik (jembatan garam): Antara gugus bermuatan berlawanan, misalnya -NH3+ (Lys) dengan -COO- (Asp).

4. Ikatan disulfida (-S-S-): Ikatan kovalen antara dua residu sistein (dibahas khusus di bagian tersendiri).

3 Dimensi Hidrofobik Jembatan Garam Jembatan -S-S- Ikatan H (rantai samping)
Contoh: Mioglobin (penyimpan O2 pada otot): satu rantai polipeptida 153 asam amino dengan 8 segmen α-helix yang terlipat mengelilingi gugus heme. Ribonuklease A: 124 asam amino, distabilkan 4 jembatan disulfida. Lisozim: 129 asam amino, distabilkan 4 jembatan -S-S-.
4
Tingkat Keempat
Struktur Kuartener

Definisi: Asosiasi dua atau lebih rantai polipeptida (subunit) yang bersatu membentuk protein multimerik fungsional. Tidak semua protein memiliki struktur kuartener (hanya protein oligomerik).

Interaksi antar subunit: Mirip dengan struktur tersier: interaksi hidrofobik, ikatan hidrogen antar-subunit, interaksi ionik, dan kadang ikatan disulfida antar-subunit.

Terminologi subunit: Dimer (2 subunit), trimer (3), tetramer (4), dst. Subunit yang identik: homodimer/homotetramer. Subunit berbeda: heterodimer/heterotetramer.

Multi-subunit Non-Kovalen dominan Sinergi fungsi
Contoh penting: Hemoglobin: heterotetramer α2β2 (2 subunit alfa + 2 subunit beta, total 4 rantai polipeptida, masing-masing membawa 1 heme). Kooperativitas pengikatan O2 hanya mungkin karena struktur kuartener ini. Kollagen: tripel heliks tiga rantai polipeptida (dua α1, satu α2). Antibodi IgG: heterotetramer dengan 2 rantai berat + 2 rantai ringan, dihubungkan oleh jembatan -S-S- antar-rantai.
Ringkasan Perbandingan Empat Struktur
Struktur Dimensi Interaksi Utama Khas Contoh
Primer 1D (linear) Ikatan peptida (kovalen) Urutan aa Rantai insulin A/B
Sekunder Lokal 3D Ikatan hidrogen (backbone) α-helix, β-sheet Keratin, sutra fibroin
Tersier 3D global (1 rantai) Hidrofobik, H-bond, ionik, -S-S- Konformasi fungsional Mioglobin, lisozim
Kuartener 3D multi-rantai Non-kovalen + kadang -S-S- Multi-subunit Hemoglobin, kolagen

Jembatan Disulfida (-S-S-): Penjelasan Mendalam
Ikatan Disulfida (Jembatan -S-S-) Ikatan kovalen antar dua atom sulfur dari dua residu sistein; penstabil utama struktur protein di lingkungan oksidatif.
Mekanisme Pembentukan

Jembatan disulfida terbentuk melalui oksidasi dua gugus tiol (-SH) dari dua residu sistein (Cys) melalui reaksi oksidasi:

2 R-SH   +   [O]   →   R-S-S-R   +   H2O
(2 gugus tiol sistein) → (jembatan disulfida / sistin)

Dua sistein yang terhubung oleh jembatan disulfida disebut sistin. Reaksi ini bersifat reversibel: jembatan -S-S- dapat dipecah kembali oleh agen pereduksi seperti β-merkaptoetanol (BME) atau ditiotreitol (DTT) menjadi -SH bebas.

R-S-S-R   +   2 [H]   →   2 R-SH
(jembatan -S-S-) + (BME/DTT) → (sistein bebas)
Peran Jembatan -S-S- pada Tiap Tingkatan Struktur
Struktur Primer Jembatan -S-S- tidak relevan di sini karena struktur primer hanya menyatakan urutan asam amino dan ikatan peptida. Namun, posisi sistein dalam urutan primer menentukan jembatan -S-S- mana yang mungkin terbentuk.
Struktur Sekunder Jembatan -S-S- umumnya tidak berperan langsung dalam pembentukan α-helix atau β-sheet, karena ikatan hidrogen backbone sudah cukup. Namun, jembatan -S-S- dapat memengaruhi konformasi lokal jika dua sistein berdekatan dalam urutan primer.
Struktur Tersier (Peran Utama Intrarantai) Di sinilah jembatan -S-S- berperan paling penting untuk protein monomer. Jembatan -S-S- intrarantai menghubungkan dua bagian rantai polipeptida yang jauh dalam urutan primer, tetapi berdekatan dalam ruang 3D. Ini mengunci konformasi dan meningkatkan stabilitas termal, serta ketahanan terhadap denaturasi. Contoh klasik: Ribonuklease A (4 jembatan -S-S-), insulin (2 jembatan -S-S- antar rantai A-B + 1 intra rantai A), lisozim (4 jembatan -S-S-).
Struktur Kuartener (Jembatan -S-S- Antarrantai) Pada protein multimerik, jembatan -S-S- dapat menghubungkan antar subunit yang berbeda (interchain disulfide bond). Ini memberikan kestabilan struktural tambahan di atas interaksi non-kovalen. Contoh: Antibodi IgG menggunakan jembatan -S-S- untuk menghubungkan rantai berat (H) satu sama lain, dan rantai berat dengan rantai ringan (L). Insulin: jembatan -S-S- menghubungkan rantai A dengan rantai B (antar-rantai, relevan di tingkat kuartener fungsional).
Insulin: Ilustrasi Lengkap Jembatan -S-S-

Insulin manusia memiliki tiga jembatan disulfida:

Jembatan Posisi Tipe Fungsi
-S-S- #1 A7 - B7 Antarrantai Menghubungkan rantai A dan B
-S-S- #2 A20 - B19 Antarrantai Menghubungkan rantai A dan B
-S-S- #3 A6 - A11 Intrarantai (rantai A) Menstabilkan konformasi rantai A
Konteks industri: Saat produksi insulin rekombinan, rantai A dan B disintesis terpisah lalu digabungkan secara in vitro dengan kondisi oksidasi terkontrol untuk membentuk jembatan -S-S- yang tepat. Pembentukan jembatan -S-S- yang salah (mismatch) akan menghasilkan insulin tidak aktif.
Jembatan -S-S- vs Ikatan Lain: Kekuatan Relatif
Jenis Ikatan Energi (kJ/mol) Kovalen? Pemutus
Ikatan peptida ~360 Ya Hidrolisis (asam/basa kuat, protease)
Jembatan -S-S- ~250 Ya BME, DTT, pH basa ekstrem
Ikatan hidrogen 4-30 Tidak Pemanasan, urea, denaturan
Interaksi hidrofobik 4-20 Tidak Deterjen (SDS), pelarut organik
Interaksi ionik 5-40 Tidak pH ekstrem, konsentrasi garam tinggi

📝
Soal Pilihan Ganda - Level Olimpiade
Level analitis tinggi; klik "Lihat Pembahasan" untuk jawaban
PG 1
Suatu protein globular monomer didenaturasi menggunakan urea 8 M (pemutus ikatan hidrogen) dan β-merkaptoetanol (agen pereduksi). Setelah denaturasi sempurna, kedua agen tersebut dihilangkan secara perlahan dan protein kembali ke konformasi aslinya (refolding). Pernyataan manakah yang paling tepat menjelaskan fenomena ini?
A) Proses refolding membuktikan bahwa struktur tersier ditentukan secara eksklusif oleh ikatan hidrogen dan jembatan -S-S-.
B) Semua informasi yang diperlukan untuk mencapai konformasi 3D fungsional sudah tersimpan dalam urutan asam amino (struktur primer).
C) Refolding hanya mungkin jika protein dibantu oleh chaperon molekuler dalam kondisi in vitro.
D) Jembatan -S-S- harus terbentuk lebih dulu sebelum struktur sekunder dapat terbentuk.
E) Urea memutus ikatan peptida sehingga refolding memerlukan enzim ligase peptida.
Lihat Pembahasan

Jawaban: B

Eksperimen klasik ini pertama kali dilakukan oleh Christian Anfinsen pada ribonuklease A (1973, Hadiah Nobel). Kesimpulan fundamentalnya: semua informasi yang diperlukan untuk mencapai struktur tiga dimensi yang benar tersimpan sepenuhnya dalam urutan asam amino (struktur primer). Ini dikenal sebagai "Dogma Anfinsen" atau prinsip penentuan diri (self-assembly).

  • A salah: Bukan eksklusif ikatan hidrogen + -S-S-; interaksi hidrofobik adalah pendorong utama refolding.
  • C salah: Chaperon membantu in vivo (mencegah agregasi) tetapi Anfinsen menunjukkan refolding dapat terjadi in vitro tanpa chaperon.
  • D salah: Urutan pembentukan struktur: hidrofobik collapse terjadi lebih dulu, barulah jembatan -S-S- terbentuk secara oksidatif.
  • E salah: Urea memutus ikatan NON-KOVALEN (ikatan hidrogen), bukan ikatan peptida (kovalen). β-merkaptoetanol memutus -S-S-.
PG 2
Sebuah rantai polipeptida mengandung 4 residu sistein pada posisi 6, 11, 14, dan 20. Jika protein ini membentuk 2 jembatan disulfida intrarantai, berapa jumlah kombinasi berbeda pembentukan pasangan jembatan -S-S- yang mungkin secara teoritis?
A) 2
B) 3
C) 4
D) 6
E) 8
Lihat Pembahasan

Jawaban: B

Dengan 4 sistein (sebut saja C1, C2, C3, C4) yang harus berpasangan menjadi 2 jembatan -S-S-, masalah ini adalah menghitung jumlah perfect matching (pasangan sempurna) dari 4 elemen.

Rumus: jumlah cara membagi 2n elemen menjadi n pasang = (2n-1)!! = 1 × 3 × 5 × ... × (2n-1).

Untuk n=2 (4 sistein, 2 pasang): (2×2-1)!! = 3!! = 1 × 3 = 3.

Ketiga kombinasi itu adalah:

  • (C1-C2) dan (C3-C4)
  • (C1-C3) dan (C2-C4)
  • (C1-C4) dan (C2-C3)

Hanya satu di antaranya yang merupakan jembatan "asli" (native) yang menghasilkan protein fungsional. Dua lainnya disebut "scrambled" disulfide yang menghasilkan protein tidak aktif.

PG 3
Pada gel elektroforesis SDS-PAGE, protein hemoglobin dijalankan dalam dua kondisi: (1) dengan penambahan β-merkaptoetanol (BME), dan (2) tanpa BME. SDS memutus semua interaksi non-kovalen. Bagaimana pita yang dihasilkan pada kondisi (1) dan (2)?
A) (1) 1 pita besar; (2) 2 pita (rantai α dan β)
B) (1) 2 pita (rantai α dan β); (2) 1 pita besar
C) (1) 2 pita (rantai α dan β); (2) 1 pita ukuran tetramer
D) Sama-sama 2 pita karena jembatan -S-S- tidak menghubungkan subunit hemoglobin
E) (1) 4 pita; (2) 2 pita besar
Lihat Pembahasan

Jawaban: D

Ini adalah soal yang membutuhkan pengetahuan spesifik: subunit hemoglobin (α2β2) tidak dihubungkan oleh jembatan -S-S- antarsubunit. Keempat subunit hemoglobin diikat semata-mata oleh interaksi non-kovalen (hidrofobik, ikatan H, ionik).

SDS memutus semua interaksi non-kovalen. Maka pada KEDUA kondisi, subunit-subunit akan terpisah.

  • Hemoglobin punya 2 jenis subunit: rantai α (~141 aa, ~15 kDa) dan rantai β (~146 aa, ~16 kDa).
  • Kedua kondisi menghasilkan 2 pita (rantai α dan β, ukurannya hampir sama sehingga kadang nampak 1-2 pita berdekatan).
  • BME tidak memberi perbedaan karena tidak ada jembatan -S-S- antarsubunit yang harus diputus.

Berbeda dengan antibodi IgG yang MEMILIKI jembatan -S-S- antarrantai: tanpa BME = 1 pita besar (rantai terhubung kovalen), dengan BME = 2 pita (rantai berat dan rantai ringan).

PG 4
Prolin sering disebut "helix breaker" (pemecah heliks). Alasan yang paling tepat adalah...
A) Prolin memiliki rantai samping bermuatan positif yang mengganggu ikatan hidrogen backbone.
B) Atom nitrogen prolin terikat pada dua karbon dalam cincin pirolidin sehingga tidak memiliki atom H bebas pada -N- untuk membentuk ikatan hidrogen, dan kekakuan cincinnya membatasi sudut dihedral φ.
C) Prolin adalah asam amino terkecil sehingga rantai sampingnya tidak cukup besar untuk menstabilkan helix.
D) Prolin memiliki gugus -SH yang bereaksi dengan oksigen dalam helix.
E) Prolin mengandung dua ikatan peptida sehingga mengganggu geometri helix.
Lihat Pembahasan

Jawaban: B

Prolin unik karena rantai sampingnya membentuk cincin pirolidin yang menyertakan atom N backbone. Akibatnya:

  • Tidak ada atom H pada N-H: N prolin tidak punya H bebas, sehingga tidak bisa menjadi donor ikatan hidrogen yang dibutuhkan α-helix (N-H ... O=C).
  • Kekakuan sudut φ: Cincin pirolidin sangat kaku, membatasi sudut dihedral φ hanya sekitar -60° sampai -75°, padahal α-helix memerlukan φ sekitar -57°. Nilai φ prolin tidak kompatibel dengan geometri ideal helix.
  • Tonjolan cincin: Cincin pirolidin juga menciptakan efek sterik yang mengganggu heliks di posisi tersebut.

Karena alasan ini, prolin sering ditemukan di "belokan" (beta-turn) dan awal/akhir segmen helix, bukan di tengah-tengah helix.

PG 5
Seorang peneliti menemukan bahwa suatu enzim kehilangan aktivitasnya pada pH 2 tetapi dapat pulih kembali jika pH dinormalkan ke pH 7. Namun, jika dipanaskan pada 90°C, aktivitas tidak dapat pulih. Interpretasi yang paling konsisten dengan temuan ini adalah...
A) pH rendah memutus ikatan peptida secara permanen; panas memutus jembatan -S-S-.
B) pH rendah mendenaturasi struktur tersier secara reversibel (memutus ikatan ionik/H-bond rantai samping); pemanasan menyebabkan agregasi/denaturasi ireversibel termasuk kemungkinan pemecahan jembatan -S-S-.
C) pH rendah merusak struktur primer; pemanasan hanya memengaruhi struktur sekunder.
D) Pemanasan memutus ikatan peptida sehingga protein tidak bisa refolding.
E) pH rendah dan panas sama-sama memutus jembatan -S-S-, namun pemulihan pH memungkinkan pembentukan ulang -S-S-.
Lihat Pembahasan

Jawaban: B

Analisis pH rendah (pH 2):

  • pH rendah memprotonasi gugus karboksilat (-COO- menjadi -COOH) dan mempengaruhi gugus amino pada rantai samping.
  • Interaksi ionik (jembatan garam) yang menstabilkan struktur tersier terganggu.
  • Ikatan hidrogen rantai samping juga terganggu.
  • Ini bersifat reversibel karena saat pH dinormalkan, muatan ionik pulih dan protein dapat refolding kembali.

Analisis pemanasan 90°C:

  • Suhu tinggi mengacaukan semua interaksi non-kovalen sekaligus (hidrofobik, H-bond, ionik).
  • Protein yang terdenaturasi oleh panas cenderung beraggregasi (membentuk gumpalan) karena rantai hidrofobik terpapar dan berinteraksi antar-protein.
  • Agregasi bersifat ireversibel karena pembentukan agregat yang sangat stabil mencegah refolding menjadi monomer native.
  • Jembatan -S-S- juga dapat mengalami shuffling pada suhu tinggi.
📝
Soal Uraian Terstruktur - Level Olimpiade
Jawab secara sistematis; klik "Lihat Pembahasan" untuk panduan jawaban
U-1
Insulin manusia terdiri dari rantai A (21 asam amino) dan rantai B (30 asam amino) yang dihubungkan oleh jembatan disulfida. Dalam biosintesisnya, insulin pertama kali disintesis sebagai preproinsulin (rantai tunggal 110 asam amino) yang kemudian menjadi proinsulin, lalu insulin aktif.
(a)Jelaskan mengapa proinsulin (rantai tunggal) lebih mudah membentuk jembatan -S-S- yang benar dibandingkan jika rantai A dan B langsung dicampur secara terpisah. Kaitkan dengan konsep struktur protein!
(b)Tuliskan reaksi pembentukan satu jembatan -S-S- dari dua gugus -SH sistein. Apakah reaksi ini termasuk redoks? Identifikasi oksidator dan reduktornya!
(c)Seorang peneliti ingin mengkarakterisasi insulin menggunakan SDS-PAGE (i) tanpa agen pereduksi dan (ii) dengan DTT. Prediksi pola pita yang dihasilkan dan jelaskan!
Lihat Pembahasan

(a) Penjelasan proinsulin:

Proinsulin adalah rantai tunggal yang mengandung rantai A dan B yang dihubungkan oleh peptida C. Karena merupakan satu rantai kontinu, struktur sekunder dan tersier proinsulin menempatkan keenam sistein (A6, A7, A11, A20, B7, B19) secara spasial berdekatan pada pasangan yang benar, sesuai dengan energi minimum sistem (Dogma Anfinsen). Entropy konformasi yang "tepat" sudah dibatasi oleh urutan primer proinsulin.

Sebaliknya, jika rantai A (3 Cys) dan rantai B (2 Cys) dicampur secara terpisah, kemungkinan pembentukan pasangan -S-S- yang salah (mismatch scrambled) sangat tinggi karena tidak ada "panduan" konformasi yang tepat. Prinsip ini juga mendasari mengapa insulin rekombinan seringkali disintesis sebagai proinsulin terlebih dahulu.

(b) Reaksi redoks jembatan -S-S-:

2 R-SH → R-S-S-R + 2H+ + 2e- (setengah reaksi oksidasi)

Ya, ini reaksi redoks:

  • Sulfur dalam -SH: bilangan oksidasi -2. Sulfur dalam -S-S-: bilangan oksidasi -1. Terjadi oksidasi sulfur (dari -2 ke -1).
  • Reduktor: dua residu sistein (donor elektron).
  • Oksidator: O2 (in vivo, di ruang endoplasma retikulum dengan bantuan enzim PDI, Protein Disulfide Isomerase) atau H2O2, atau oxidized glutathione (GSSG).

(c) Prediksi SDS-PAGE:

  • Tanpa DTT: SDS memutus ikatan non-kovalen (kuartener dan tersier non-kovalen), tetapi jembatan -S-S- tetap utuh. Rantai A dan B masih terhubung via 2 jembatan -S-S- antarrantai. Hasilnya: 1 pita berukuran ~5.8 kDa (A+B bersatu via -S-S-).
  • Dengan DTT: DTT memutus semua jembatan -S-S-. Rantai A (21 aa, ~2.5 kDa) dan rantai B (30 aa, ~3.4 kDa) terpisah. Hasilnya: 2 pita, satu lebih kecil (rantai A) dan satu sedikit lebih besar (rantai B). Pada gel standar, keduanya sangat kecil sehingga memerlukan gel persentase tinggi (Tricine-SDS-PAGE).
U-2
Hemoglobin (Hb) dewasa normal (HbA) memiliki rumus subunit α2β2. Pada anemia sel sabit (sickle cell anemia), terjadi mutasi titik pada gen rantai beta: kodon ke-6 berubah dari GAG (Glu) menjadi GTG (Val).
(a)Pada tingkat struktur protein manakah mutasi ini terjadi, dan bagaimana ia memengaruhi tingkatan struktur yang lebih tinggi?
(b)Jelaskan mengapa valin pada posisi ke-6 menyebabkan sel darah merah berbentuk sabit pada kondisi kadar O2 rendah, tetapi tidak pada kadar O2 tinggi. Kaitkan dengan sifat fisikokimia asam amino!
(c)Bagaimana mutasi ini memengaruhi perilaku HbS pada SDS-PAGE dibandingkan HbA? Jelaskan!
Lihat Pembahasan

(a) Tingkatan struktur yang terdampak:

Mutasi terjadi pada struktur primer (urutan asam amino): asam glutamat (Glu, polar, bermuatan negatif pada pH 7) digantikan valin (Val, nonpolar, hidrofobik).

Dampak hierarkis:

  • Tersier: Valin pada permukaan luar rantai beta mengganggu interaksi dengan pelarut (air). Valin bersifat hidrofobik dan "tidak nyaman" di permukaan.
  • Kuartener: HbS dalam kondisi deoksigenasi membentuk polimer serat panjang (agregat kuartener abnormal) karena valin-6 dari satu tetramer masuk ke dalam "saku hidrofobik" yang dibentuk oleh Phe-85 dan Leu-88 pada rantai beta tetramer lain.

(b) Mekanisme sel sabit:

Hemoglobin memiliki dua konformasi: oksigenasi (R-state/relax) dan deoksigenasi (T-state/tense).

  • Saat O2 tinggi (R-state): saku hidrofobik pada rantai beta tertutup. Val-6 tidak dapat masuk ke saku tetramer lain. HbS larut normal.
  • Saat O2 rendah (T-state): konformasi berubah dan saku hidrofobik terbuka. Val-6 HbS yang hidrofobik masuk ke saku ini, menghubungkan tetramer satu ke tetramer lain secara non-kovalen, membentuk polimer serat panjang yang tidak larut. Serat ini menyebabkan sel darah merah berbentuk sabit (rigid, kaku).

(c) SDS-PAGE HbA vs HbS:

SDS-PAGE memisahkan protein berdasarkan ukuran (massa molekul), bukan muatan. Penggantian Glu (BM residu: ~129 Da) dengan Val (BM residu: ~99 Da) hanya mengubah massa total sekitar 30 Da pada protein ~16 kDa. Perbedaan ini tidak dapat dideteksi pada SDS-PAGE konvensional. Kedua rantai β (HbA dan HbS) akan berpindah pada posisi yang sama. Untuk membedakan HbA dan HbS digunakan elektroforesis berbasis muatan (Hemoglobin electrophoresis, pH 8.6): HbS bergerak lebih lambat karena kehilangan satu muatan negatif (Glu digantikan Val yang netral).

U-3
Keratin (protein rambut) dan fibroin sutra adalah keduanya protein struktural, tetapi memiliki sifat mekanik berbeda: rambut elastis dan dapat meregang, sedangkan sutra sangat kuat namun tidak elastis.
(a)Kaitkan perbedaan sifat mekanik ini dengan perbedaan struktur sekunder dominan pada kedua protein!
(b)Jelaskan peran jembatan -S-S- dalam menentukan sifat mekanik keratin rambut! Mengapa rambut yang sudah di-"perm" (permanent wave) berbentuk berbeda dari rambut aslinya?
(c)Jika keratin diperlakukan dengan urea 8 M + BME, kemudian dianalisis dengan SDS-PAGE, pita apa yang Anda prediksi? Bandingkan dengan tanpa BME!
Lihat Pembahasan

(a) Struktur sekunder dan sifat mekanik:

  • Keratin (α-keratin): Didominasi α-helix. Rantai-rantai α-helix saling melilit membentuk coiled-coil, lalu berberkas menjadi mikrofibril dan makrofibril. Struktur seperti pegas ini memungkinkan deformasi elastis: rambut dapat diregangkan dan kembali ke bentuk semula (reversibel jika tidak melampaui batas elastis). Ikatan hidrogen α-helix menjadi "per" (spring).
  • Fibroin sutra (β-fibroin): Didominasi antiparallel β-sheet. Lembaran beta yang padat dan terjalin membentuk struktur yang sangat rigid. Tidak ada ruang untuk "melar" karena konformasi sudah memaksimalkan panjang rantai. Maka sutra sangat kuat tarik namun tidak elastis.

(b) Peran -S-S- pada keratin dan "permanent wave":

Keratin rambut mengandung banyak sistein (~18% residu). Jembatan -S-S- antarrantai coiled-coil mengunci bentuk rambut secara kovalen (kuat, tidak terputus oleh air/shampo).

Proses permanent wave:

  1. Rambut digulung pada rol sesuai bentuk yang diinginkan.
  2. Larutan pereduksi (thioglycolate/ammonium thioglycolate) diaplikasikan: ini memutus jembatan -S-S- yang ada. Rantai polipeptida menjadi fleksibel dan mengikuti bentuk rol.
  3. Rambut didiamkan dalam posisi baru, lalu larutan oksidator (H2O2, natrium bromat) diaplikasikan: jembatan -S-S- baru terbentuk pada posisi yang sesuai dengan konformasi baru (bentuk gulungan).
  4. Hasilnya: jembatan -S-S- baru mengunci rambut dalam bentuk keriting permanen.

(c) SDS-PAGE keratin:

  • Dengan urea + BME: Semua ikatan non-kovalen (urea) dan jembatan -S-S- (BME) terputus. Rantai polipeptida keratin terpisah sempurna. Hasilnya: pita-pita sesuai dengan rantai polipeptida individual keratin (keratin tipe I ~40-50 kDa, keratin tipe II ~55-70 kDa). Biasanya terlihat beberapa pita.
  • Tanpa BME (hanya urea): Interaksi non-kovalen terputus tetapi jembatan -S-S- antarrantai tetap utuh. Pasangan rantai keratin yang terhubung -S-S- tidak terpisah sempurna, menghasilkan pita dengan massa molekul lebih besar atau pola yang berbeda/smear.
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info