Senyawa biner antara H dan S dapat bersifat superkonduktor pada tekanan, p = 155 GPa dan suhu kritis, Tc = 203 K. Senyawa tersebut mengkristal dalam sel satuan kubus dengan ukuran: a = 3,0639 Å sesuai gambar berikut (kristal kubus, S ada di setiap pojok kubus, dan pusat badan kubus, dan H ada di setiap tengah rusuk dan tengah muka kubus).
Pembahasan OSP 2025:
Nomor 1, Nomor 2, Nomor 3, Nomor 4, Nomor 5, Nomor 6, Nomor 7, Nomor 8, Nomor 9
a. Berdasarkan struktur diatas,
- Jumlah atom H dalam sel satuan adalah ...... (Jawaban bilangan bulat)
- Jumlah atom S dalam sel satuan adalah ...... (Jawaban bilangan bulat)
- Jika rumus empiris senyawa tersebut ditulis sebagai HxSy, nilai x adalah ...... , sedangkan nilai y adalah ......
b. Volume sel satuan senyawa tersebut adalah ...... nm3
c. Massa jenis senyawa tersebut adalah ...... g/cm3
d. Panjang ikatan H-S dalam senyawa tersebut adalah ...... nm
e. Berdasarkan struktur kristal di atas, orbital hibrida yang digunakan untuk berikatan pada senyawa di atas adalah .....
- Tidak berhibridisasi
- sp2
- sp3
- sp
- Tidak tahu
- sp3d
Selain senyawa tersebut, H dan S juga dapat membentuk hidrogen polisulfida yang memiliki rumus umum H2Sn, n ≥ 2. Senyawa hidrogen yang paling sederhana adalah H2S2, senyawa tersebut dapat terdisosiasi membentuk spesi SH menurut reaksi:
H2S2 → 2SH
Berikut adalah diagram orbital molekul untuk SH.
Multiplisitas suatu konfigurasi elektron ditentukan dari rumus 2S+1 dengan S adalah nilai harga mutlak total spin. Nilai multiplisitas 1, 2 dan 3 secara berurutan disebut dengan singlet, doublet dan triplet.
f. HOMO SH pada keadaan dasar adalah ...
- σ
- Nonbonding (nb)
- π
- σ*
- π*
g. Spesi SH pada keadaan dasar memiliki multiplisitas ....
h. Untuk spesi SH, SH+, dan SH−, urutan besarnya momen magnet yang sesuai adalah ...
- SH− > SH > SH+
- SH+ > SH > SH−
- Tidak tahu
- SH > SH− > SH+
- SH− > SH− > SH+
- SH+ > SH− > SH
Pembahasan Soal
Jumlah Atom H dan S dalam Sel Satuan
| Posisi | Jumlah posisi | Fraksi per posisi | Kontribusi |
|---|---|---|---|
| Pojok (corner) | 8 | 1/8 | 1 |
| Pusat badan (body center) | 1 | 1 | 1 |
| Total atom S | 2 | ||
| Posisi | Jumlah posisi | Fraksi per posisi | Kontribusi |
|---|---|---|---|
| Tengah rusuk (edge center) | 12 | 1/4 | 3 |
| Tengah muka (face center) | 6 | 1/2 | 3 |
| Total atom H | 6 | ||
Perbandingan H : S = 6 : 2 = 3 : 1, sehingga rumus empiris adalah H3S.
Atom S dalam sel satuan = 2
Rumus empiris: HxSy → x = 3, y = 1 (H3S)
Volume Sel Satuan
Massa Jenis Senyawa
Sel satuan mengandung 6 atom H dan 2 atom S:
Panjang Ikatan H–S
Atom S berada di pojok kubus. Atom H berada di tengah rusuk kubus. Rusuk kubus menghubungkan dua pojok, sehingga jarak dari pojok (posisi S) ke tengah rusuk (posisi H) adalah setengah panjang rusuk:
Orbital Hibrida pada H3S
Perhatikan bahwa soal ini menyertakan diagram orbital molekul (MO) untuk SH. Ini menandakan bahwa pendekatan yang digunakan adalah teori orbital molekul (MO theory), bukan teori ikatan valensi (VB theory).
Dalam kerangka MO theory, ikatan terbentuk melalui kombinasi linear orbital atom (LCAO), orbital atom-atom yang terlibat dikombinasikan secara langsung untuk menghasilkan orbital molekul ikatan (bonding) dan antiikatan (antibonding). Tidak ada tahap hibridisasi dalam proses ini.
| Aspek | VB Theory | MO Theory |
|---|---|---|
| Pendekatan ikatan | Tumpang tindih orbital atom yang dihibridisasi | LCAO, orbital atom dikombinasikan langsung |
| Hibridisasi | Ya, diperlukan (sp, sp², sp³, ...) | Tidak ada hibridisasi |
| Elektron | Terlokalisasi pada ikatan tertentu | Terdelokalisasi atas seluruh molekul |
| Output | Geometri molekul, sudut ikatan | Diagram MO, urutan energi, sifat magnetik |
Karena soal menggunakan kerangka MO theory, konsep hibridisasi tidak berlaku di sini. Orbital yang terlibat dalam pembentukan ikatan S–H adalah orbital atom S dan H yang berkombinasi secara linear (LCAO) tanpa melewati proses hibridisasi terlebih dahulu.
Dalam MO theory, ikatan terbentuk melalui LCAO, tidak ada konsep hibridisasi orbital.
HOMO SH pada Keadaan Dasar
S memiliki 6 elektron valensi (3s²3p⁴), H memiliki 1 elektron (1s¹). Total elektron valensi SH = 7 elektron.
Urutan pengisian MO untuk molekul diatomik heteronuklir SH (dari energi terendah):
Pengisian elektron: σ²(bawah) → σ²(atas) → π⁴ → nonbonding¹
Elektron ke-7 mengisi orbital nonbonding yang merupakan orbital terisi tertinggi.
Multiplisitas SH pada Keadaan Dasar
Konfigurasi MO SH: σ² σ² π⁴ nonbonding¹
Orbital nonbonding terisi 1 elektron → 1 elektron tidak berpasangan.
Urutan Momen Magnet SH, SH+, dan SH−
Urutan MO SH dari energi terendah: σ → σ → π (×2, terdegenerasi) → nonbonding → π* → σ*
Kunci: orbital π bersifat terdegenerasi dua, sehingga aturan Hund berlaku saat mengisinya.
| Spesi | Jumlah e⁻ | Konfigurasi MO | e⁻ tak berpasangan |
|---|---|---|---|
| SH | 7 | σ² σ² π² π² nb¹ | 1 |
| SH⁺ | 6 | σ² σ² π¹ π¹ (aturan Hund!) | 2 |
| SH⁻ | 8 | σ² σ² π² π² nb² | 0 |
SH⁺ memiliki 6 elektron valensi. Setelah mengisi σ²σ² (4 elektron), tersisa 2 elektron untuk orbital π yang terdegenerasi dua. Berdasarkan aturan Hund, kedua elektron ini menempati masing-masing satu orbital π dengan spin paralel:
Ini analog dengan O₂ yang juga paramagnetik dengan 2 elektron tak berpasangan di π*.
| Spesi | n | μ (μB) | Sifat |
|---|---|---|---|
| SH⁺ | 2 | $\sqrt{2(4)} = \sqrt{8} = 2{,}83\ \mu_B$ | Paramagnetik |
| SH | 1 | $\sqrt{1(3)} = \sqrt{3} = 1{,}73\ \mu_B$ | Paramagnetik |
| SH⁻ | 0 | $0$ | Diamagnetik |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar