Interkonversi antara Ion Kromat (CrO4^2-) dan Ion Dikromat (Cr2O7^2-)

Jumat, 10 April 2026

Interkonversi (Kesetimbangan Dinamis) CrO42−, Cr2O72−, dan Spesi Antara dalam Larutan Berair

Ion kromat (CrO42−) dan dikromat (Cr2O72−) adalah dua spesi kromium(VI) yang paling dikenal dan saling bertransformasi melalui reaksi asam-basa sederhana.

Interkonversi keduanya sangat bergantung pada pH larutan: dalam suasana basa, CrO42− (kuning) dominan; dalam suasana asam, Cr2O72− (jingga) terbentuk.

Artikel ini mengulas mekanisme interkonversi, spesi antara seperti HCrO4 dan H2CrO4, serta kemungkinan pembentukan polikromat (Cr3O102−, Cr4O132−) pada konsentrasi tinggi dan pH sangat rendah.

Analisis didasarkan pada prinsip kesetimbangan kimia, konstanta disosiasi asam, dan pengaruh konsentrasi terhadap distribusi spesi. Pemahaman ini penting dalam kimia analitik, sintesis anorganik, serta aplikasi industri seperti pelapisan logam dan pigmentasi.

1.

Pendahuluan

Ketika kalium kromat (K2CrO4) kuning dilarutkan dalam air dan diasamkan, warna larutan berubah menjadi jingga karena terbentuknya kalium dikromat (K2Cr2O7).

Sebaliknya, penambahan basa pada larutan jingga dikromat akan mengembalikan warna kuning kromat. Fenomena sederhana ini mencerminkan kesetimbangan kimia yang dinamis antara ion kromat dan dikromat, yang melibatkan spesi terprotonasi sebagai perantara.

Lebih dari sekadar perubahan warna, interkonversi ini memiliki implikasi luas pada reaktivitas redoks (Cr2O72− adalah oksidator kuat dalam asam), toksisitas, dan metode pemisahan.

2.

Kesetimbangan Utama: Kromat ⇄ Dikromat

Reaksi interkonversi yang paling mendasar adalah:

2CrO42−(aq) + 2H+(aq) ⇌ Cr2O72−(aq) + H2O(l)

Reaksi ini dapat dipandang sebagai kondensasi dua ion kromat dengan bantuan proton. Tetapan kesetimbangan (K) pada 25°C sekitar 4,2 × 1014, menunjukkan bahwa dalam suasana asam, kesetimbangan sangat bergeser ke kanan (pembentukan dikromat).

Sebaliknya, dalam basa, konsentrasi H+ rendah sehingga kesetimbangan bergeser ke kiri (pembentukan kromat).

Secara termodinamika, perubahan warna dari kuning (CrO42−) ke jingga (Cr2O72−) merupakan indikator visual perubahan pH. Namun, mekanisme sebenarnya tidak langsung, melainkan melalui tahap protonasi.

2.1 Tahap Protonasi: Peran HCrO4

Ion kromat adalah basa konjugat dari asam kromat (H2CrO4). Protonasi terjadi bertahap:

CrO42− + H+ ⇌ HCrO4    Ka2 = 3,2 × 10−7 (pKa2 ≈ 6,5)
HCrO4 + H+ ⇌ H2CrO4    Ka1 ≈ 1,8 × 10−1 (pKa1 ≈ 0,74)

Spesi HCrO4 (hidrogen kromat) adalah kunci dalam kondensasi. Dua ion HCrO4 dapat bereaksi membentuk dikromat melalui eliminasi air:

2HCrO4 ⇌ Cr2O72− + H2O

Dengan demikian, pada pH sekitar 6,5 (pKa2), konsentrasi HCrO4 maksimum, dan pembentukan dikromat mulai signifikan.

Pada pH di bawah 2, H2CrO4 menjadi dominan, tetapi spesies ini tidak stabil dan cenderung terdehidrasi membentuk CrO3 (kromium trioksida) atau berpolimerisasi.

3.

Diagram Distribusi Spesi terhadap pH

Distribusi relatif spesi Cr(VI) dalam larutan encer (~10-3 M) sebagai fungsi pH dapat dirangkum sebagai berikut:

Rentang pH Spesi Dominan Warna Larutan
pH > 8 CrO42− (kromat) Kuning cerah
pH 6 – 8 CrO42− dan HCrO4 (hidrogen kromat) Kuning kehijauan
pH 2 – 6 HCrO4 dan Cr2O72− (dikromat) Jingga
pH < 2 H2CrO4, Cr2O72−, polikromat Merah hingga jingga tua

Perlu dicatat bahwa pada pH sangat rendah (< 1) dan konsentrasi Cr(VI) tinggi (> 0,1 M), spesi polimer seperti trikromat (Cr3O102−) dan tetrakromat (Cr4O132−) dapat terbentuk.

Pengamatan Eksperimental: Jika larutan K2Cr2O7 jingga ditambahkan NaOH, warna berubah menjadi kuning (CrO42−).

Sebaliknya, penambahan H2SO4 pekat ke dalam larutan kromat pekat dapat menghasilkan kristal merah CrO3 yang mengendap. Ini menunjukkan dehidrasi total asam kromat.

4.

Spesi Lain dalam Sistem Krom(VI)

Selain kromat dan dikromat, beberapa spesi lain dapat hadir tergantung kondisi.

4.1 Asam Kromat (H2CrO4) dan Kromium Trioksida (CrO3)

H2CrO4 hanya stabil dalam larutan asam kuat encer. Pada konsentrasi tinggi, ia kehilangan air membentuk CrO3, padatan merah gelap yang sangat higroskopis dan oksidator kuat. CrO3 larut dalam air membentuk kembali H2CrO4 dan spesi turunannya.

H2CrO4 ⇌ CrO3 + H2O

4.2 Polikromat: Trikromat (Cr3O102−) dan Tetrakromat (Cr4O132−)

Dalam larutan asam pekat dengan konsentrasi Cr(VI) tinggi, dikromat dapat bereaksi lebih lanjut dengan HCrO4 membentuk polimer rantai melalui jembatan oksigen (ikatan Cr–O–Cr):

Cr2O72− + HCrO4 + H+ ⇌ Cr3O102− + H2O
Cr3O102− + HCrO4 + H+ ⇌ Cr4O132− + H2O

Polikromat memiliki warna merah lebih pekat dan merupakan oksidator yang lebih kuat. Mereka relevan dalam proses pelapisan krom (chrome plating) di mana larutan asam kromat pekat digunakan.

4.3 Spesi dalam Pelarut Organik

Dalam pelarut organik seperti eter atau aseton, spesi seperti CrO2Cl2 (kromil klorida) dapat terbentuk jika ada ion klorida dan asam sulfat pekat. Reaksi ini digunakan sebagai uji kualitatif untuk klorida.

5.

Faktor yang Mempengaruhi Interkonversi

Selain pH, beberapa faktor lain memengaruhi posisi kesetimbangan:

  • Konsentrasi total Cr(VI): Pada konsentrasi rendah (< 10-4 M), bahkan dalam asam, spesi monomer (HCrO4) lebih dominan daripada dikromat karena hukum aksi massa.
  • Suhu: Peningkatan suhu umumnya menggeser kesetimbangan ke arah monomer (kromat) karena reaksi kondensasi bersifat eksotermik.
  • Keberadaan ion lain: Ion seperti Ba2+ atau Pb2+ dapat mengendapkan kromat (BaCrO4 kuning, PbCrO4 kuning) sehingga menggeser kesetimbangan ke arah pembentukan CrO42−.
Aplikasi dalam Pemisahan:
Perbedaan kelarutan antara kromat dan dikromat dimanfaatkan dalam analisis kualitatif.

Misalnya, BaCrO4 mengendap dari larutan kromat (basa), tetapi tidak dari larutan dikromat asam karena [CrO42−] terlalu rendah. Dengan mengatur pH, kita dapat mengendapkan kromat secara selektif.
6.

Implikasi dalam Reaksi Redoks

Interkonversi kromat–dikromat erat kaitannya dengan kekuatan oksidasi. Seperti telah dijelaskan pada artikel sebelumnya, Cr2O72− adalah oksidator kuat dalam suasana asam (E° = +1,33 V), sedangkan CrO42− dalam basa jauh lebih lemah (E° ≈ –0,13 V).

Perubahan pH tidak hanya mengubah spesi dominan, tetapi juga potensial reduksi karena keterlibatan H+ dalam setengah-reaksi.

Oleh karena itu, untuk aplikasi oksidasi menggunakan dikromat (misalnya titrasi dikromatometri), kondisi asam harus dijaga agar reaksi berlangsung sempurna.

7.

Ringkasan Spesi dan Karakteristiknya

Spesi Rumus Biloks Cr Warna Kondisi Stabil
Kromat CrO42− +6 Kuning Basa (pH > 8)
Hidrogen kromat HCrO4 +6 Kuning pucat pH 2–6, konsentrasi rendah
Dikromat Cr2O72− +6 Jingga Asam (pH 2–6), konsentrasi sedang
Asam kromat H2CrO4 +6 Merah (larutan) Asam kuat encer
Kromium trioksida CrO3 +6 Merah tua (padat) Asam pekat, dehidrasi
Trikromat Cr3O102− +6 Merah jingga Asam sangat pekat
8.

Kesimpulan

Interkonversi antara CrO42− dan Cr2O72− adalah contoh klasik kesetimbangan yang dikendalikan pH, melibatkan protonasi dan kondensasi. Spesi HCrO4 bertindak sebagai perantara kunci. Pada konsentrasi tinggi dan keasaman ekstrem, polimer seperti trikromat dan tetrakromat dapat terbentuk.

Pemahaman tentang distribusi spesi ini sangat penting karena menentukan warna, kekuatan oksidasi, kelarutan garam, dan perilaku dalam berbagai proses kimia.

Dengan mengontrol pH dan konsentrasi, kimiawan dapat mengarahkan sistem Cr(VI) menuju spesi yang diinginkan untuk aplikasi spesifik, mulai dari titrasi redoks hingga sintesis pigmen.

Disusun berdasarkan prinsip kesetimbangan asam-basa dan kimia koordinasi - urip.info | 2026
Referensi:
Cotton & Wilkinson, Advanced Inorganic Chemistry; Greenwood & Earnshaw, Chemistry of the Elements.
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info