Pembahasan Soal #1 OSP Kimia 2025 (Spektroskopi-Karakterisasi Reduksi)

Minggu, 26 April 2026

Reaksi reduksi berikut akan dikarakterisasi keberhasilannya dengan spektroskopi serapan UV-vis, NMR, FTIR, dan spektrometri massa.

Pembahasan OSP 2025:
Nomor 1, Nomor 2, Nomor 3, Nomor 4, Nomor 5, Nomor 6, Nomor 7, Nomor 8, Nomor 9



a. Teknik karakterisasi pertama yang dilakukan adalah spektroskopi serapan UV-vis dimana diprediksi panjang gelombang serapan maksimum etil benzena akan berada pada panjang gelombang yang lebih ...... dibanding stirena. Fenomena ini disebut sebagai pergeseran ......

b. Jika diukur dengan spektrometri massa, maka massa eksak (exact mass) teoritis produk reaksi yang dijadikan acuan adalah ...... (Jawaban dalam 8 angka penting)

c. Indikasi reaksi reduksi tersebut telah berhasil bisa dilihat dengan membandingkan spektrum FTIR stirena dengan produk dimana diamati ...... puncak di daerah 1630 cm-1 yang diasumsikan berkorelasi dengan gugus ......

d. Dengan spektroskopi 13C NMR, kedua senyawa akan memberikan jumlah sinyal karbon yang sama yaitu ...... sinyal karbon dimana konfirmasi keberhasilan reaksi dapat dilihat berdasarkan jumlah sinyal karbon yang berada dibawah geseran kimia 90 ppm. Pada daerah di bawah 90 ppm, stirena akan memberikan ...... sinyal ...... dan etil benzena akan memberikan ...... sinyal (jawaban bilangan bulat)

e. Berdasarkan skema reaksi di atas, jika diukur melalui teknik spektroskopi 1H-NMR, sinyal proton a akan memiliki geseran kimia yang lebih ...... dibanding sinyal proton b. Selain pergeseran sinyal, konfirmasi terjadinya reaksi juga terlihat pada perubahan multiplisitas dimana proton b akan memiliki multiplisitas ...... yang sebelumnya proton a memiliki multiplisitas ...... Pada produk etil benzena, rasio paling sederhana integrasi sinyal b terhadap sinyal c adalah ...... : ......

Diketahui massa isotop:

Hidrogen
IsotopMassa
1H1,007825
2H2,014102
3H3,016049
Karbon
IsotopMassa
12C12,000000
13C13,003355
14C14,003242
Klorin
IsotopMassa
35Cl34,968853
37Cl36,965903
Bromin
IsotopMassa
79Br78,918338
81Br80,916291
Nitrogen
IsotopMassa
14N14,003074
15N15,000109
Oksigen
IsotopMassa
16O15,994915
17O16,999132
18O17,999160

Pembahasan Soal


a

Spektroskopi UV-vis — Arah dan Nama Pergeseran

λmaks etilbenzena berada pada panjang gelombang yang lebih ...... dibanding stirena. Fenomena ini disebut pergeseran ......
Sistem kromofor stirena vs etilbenzena
SenyawaSistem πKonjugasiλmaks
Stirena (C₆H₅–CH=CH₂)Cincin benzena + C=C vinilTerkonjugasi penuh~254 nm
Etilbenzena (C₆H₅–CH₂CH₃)Cincin benzena sajaTidak ada C=C ekstra~254 nm → ~206 nm

Pada stirena, ikatan C=C vinil terkonjugasi dengan cincin benzena memperluas sistem π → energi transisi HOMO-LUMO lebih kecil → λmaks lebih panjang.

Setelah reduksi, C=C hilang, sistem konjugasi menyusut → energi transisi lebih besar → λmaks bergeser ke panjang gelombang yang lebih pendek.

Ilustrasi pergeseran energi
λ (nm) Absorbansi 206 254 Etilbenzena Stirena Pergeseran biru
Pergeseran biru (hypsochromic shift): pergeseran λmaks ke panjang gelombang lebih pendek / energi lebih tinggi akibat pengurangan sistem konjugasi atau perubahan pelarut yang meningkatkan energi keadaan tereksitasi. Kebalikannya disebut pergeseran merah (bathochromic shift).
λmaks etilbenzena lebih pendek (biru) dibanding stirena.
Fenomena ini disebut pergeseran biru (hypsochromic shift).
b

Massa Eksak (Exact Mass) Teoritis Etilbenzena

Hitung massa eksak teoritis produk reaksi (etilbenzena) dalam 8 angka penting.
Formula molekul etilbenzena

Stirena = C₈H₈. Reaksi reduksi menambahkan 2 atom H (H₂) ke ikatan C=C vinil:

\[\text{C}_8\text{H}_8 + \text{H}_2 \;\longrightarrow\; \text{C}_8\text{H}_{10}\]

Etilbenzena = C₈H₁₀. Massa eksak dihitung menggunakan isotop paling melimpah: 12C dan 1H.

Perhitungan massa eksak
\[\begin{aligned} m_{\text{eksak}} &= 8 \times m(^{12}\text{C}) + 10 \times m(^{1}\text{H}) \\[6pt] &= 8 \times 12{,}000000 + 10 \times 1{,}007825 \\[6pt] &= 96{,}000000 + 10{,}07825\mathbf{0} \\[6pt] &= 106{,}07825\ \text{u} \end{aligned}\]
Massa eksak (monoisotopic mass) selalu menggunakan isotop paling ringan yang paling melimpah untuk setiap unsur: ¹²C (bukan rata-rata 12,011), ¹H (bukan rata-rata 1,008). Ini berbeda dari massa molar rata-rata yang digunakan dalam stoikiometri biasa.
Massa eksak etilbenzena = 106,07825 u
c

Spektroskopi FTIR — Konfirmasi Reduksi

Diamati ...... puncak di daerah 1630 cm−1 yang berkorelasi dengan gugus ......
Pita serapan 1630 cm⁻¹

Daerah 1620–1680 cm⁻¹ merupakan karakteristik regang ikatan C=C alkena. Pada stirena, terdapat ikatan C=C vinil (–CH=CH₂) yang terkonjugasi dengan cincin benzena, sehingga pita ini muncul.

GugusRentang (cm⁻¹)Intensitas
C=C alkena (regang)1620–1680Sedang
C=C aromatik (regang)1450–1600Sedang–kuat
C=O keton/aldehida1700–1750Sangat kuat
C–H sp² (ulur)3000–3100Sedang
Perbandingan stirena vs etilbenzena
SenyawaPita 1630 cm⁻¹Alasan
StirenaAda (muncul)Memiliki C=C vinil (–CH=CH₂)
EtilbenzenaHilangC=C vinil telah direduksi menjadi C–C alkana (–CH₂CH₃)
Puncak di 1630 cm⁻¹ pada etilbenzena hilang (tidak teramati).
Gugus yang berkorelasi: C=C alkena (vinil).
d

Spektroskopi ¹³C NMR — Jumlah Sinyal dan Daerah Alifatik

Jumlah sinyal karbon yang sama yaitu ...... sinyal. Di bawah 90 ppm: stirena memberikan ...... sinyal ...... dan etilbenzena memberikan ...... sinyal.
Analisis simetri molekul

Kedua senyawa memiliki cincin benzena monosubstitusi yang simetris — terdapat bidang simetri yang membuat C-orto (2 karbon) ekivalen dan C-meta (2 karbon) ekivalen.

Karbon unik pada masing-masing senyawa
Stirena (C₆H₅–CH=CH₂)
  • C1 ipso ~137 ppm
  • C2 orto ~126 ppm
  • C3 meta ~128 ppm
  • C4 para ~128 ppm
  • Ca =CH– ~136 ppm
  • Cb =CH₂ ~113 ppm
Etilbenzena (C₆H₅–CH₂CH₃)
  • C1 ipso ~144 ppm
  • C2 orto ~128 ppm
  • C3 meta ~128 ppm
  • C4 para ~126 ppm
  • Cb –CH₂– ~29 ppm ← <90 ppm
  • Cc –CH₃ ~15 ppm ← <90 ppm

Keduanya memiliki 6 karbon unik → 6 sinyal ¹³C.

Sinyal di bawah 90 ppm (daerah alifatik/sp³)
SenyawaKarbon < 90 ppmJumlah sinyal
StirenaTidak ada — semua karbon sp² (aromatik + vinil) berada di atas 100 ppm0 sinyal
EtilbenzenaCb (–CH₂–, ~29 ppm) dan Cc (–CH₃, ~15 ppm)2 sinyal
Karbon vinil stirena (Ca ~136 ppm, Cb ~113 ppm) keduanya berada di atas 90 ppm, sehingga stirena memberikan 0 sinyal di daerah alifatik. Munculnya 2 sinyal baru di bawah 90 ppm pada etilbenzena (Cb dan Cc) merupakan bukti langsung keberhasilan reduksi C=C menjadi C–C.
Jumlah sinyal ¹³C = 6 sinyal (sama untuk keduanya)
Stirena di bawah 90 ppm: 0 sinyal
Etilbenzena di bawah 90 ppm: 2 sinyal (–CH₂– dan –CH₃)
e

Spektroskopi ¹H NMR — Geseran Kimia, Multiplisitas, dan Integrasi

Proton a lebih ...... dari proton b. Multiplisitas proton b adalah ...... (sebelumnya proton a memiliki multiplisitas ......). Rasio integrasi b : c adalah ...... : ......
Identifikasi proton a dan b
ProtonSenyawaPosisiLingkungan kimiaδ (ppm)
aStirena=CH– (C1 vinil)Vinil terkonjugasi, efek anisotropi cincin~6,6
bEtilbenzena–CH₂– (C1 etil)Alifatik, terdekat ke cincin~2,6
cEtilbenzena–CH₃ (C2 etil)Alifatik ujung~1,2

Proton a (δ ~6,6 ppm) jauh lebih ter-deshielded dari proton b (δ ~2,6 ppm) karena berada pada karbon sp² vinil yang terkonjugasi dengan cincin aromatik.

Pergeseran kimia proton a vs b
\[\delta_a \approx 6{,}6\ \text{ppm} \;\gg\; \delta_b \approx 2{,}6\ \text{ppm}\]

Proton a berada pada geseran kimia yang lebih besar (downfield) dibanding proton b.

Multiplisitas proton a (stirena)

Proton a (=CH–) berada di C1 vinil, bertetangga dengan dua proton pada =CH₂ yang tidak ekivalen satu sama lain (satu cis, satu trans terhadap proton a). Karena kedua proton =CH₂ berbeda, masing-masing memberikan kopling yang berbeda (Jcis ≠ Jtrans):

\[\text{Proton a}: \underbrace{d \times d}_{\text{doublet of doublets (dd)}} \quad (J_{\text{trans}} \approx 17\ \text{Hz},\ J_{\text{cis}} \approx 11\ \text{Hz})\]
Multiplisitas proton b (etilbenzena)

Proton b (–CH₂–) bertetangga dengan 3 proton ekivalen dari –CH₃ (proton c). Aturan n+1:

\[\text{Proton b}: n + 1 = 3 + 1 = 4 \quad \Rightarrow \quad \textbf{kuartet (quartet)}\]
Rasio integrasi b : c

Pada rantai etil (–CH₂CH₃) etilbenzena:

SinyalProtonJumlah H
b–CH₂–2
c–CH₃3
\[\text{Rasio integrasi}\ b : c = 2 : 3\]
Perubahan multiplisitas dari dd (doublet of doublets) pada proton a stirena menjadi kuartet pada proton b etilbenzena merupakan salah satu bukti terkuat keberhasilan reaksi reduksi melalui ¹H NMR, selain pergeseran δ dari ~6,6 ppm ke ~2,6 ppm.
Proton a memiliki geseran kimia lebih besar (downfield) dari proton b.
Multiplisitas proton b: kuartet (proton a sebelumnya: doublet of doublets, dd).
Rasio integrasi b : c = 2 : 3
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info