Reaksi reduksi berikut akan dikarakterisasi keberhasilannya dengan spektroskopi serapan UV-vis, NMR, FTIR, dan spektrometri massa.
Pembahasan OSP 2025:
Nomor 1, Nomor 2, Nomor 3, Nomor 4, Nomor 5, Nomor 6, Nomor 7, Nomor 8, Nomor 9
a. Teknik karakterisasi pertama yang dilakukan adalah spektroskopi serapan UV-vis dimana diprediksi panjang gelombang serapan maksimum etil benzena akan berada pada panjang gelombang yang lebih ...... dibanding stirena. Fenomena ini disebut sebagai pergeseran ......
b. Jika diukur dengan spektrometri massa, maka massa eksak (exact mass) teoritis produk reaksi yang dijadikan acuan adalah ...... (Jawaban dalam 8 angka penting)
c. Indikasi reaksi reduksi tersebut telah berhasil bisa dilihat dengan membandingkan spektrum FTIR stirena dengan produk dimana diamati ...... puncak di daerah 1630 cm-1 yang diasumsikan berkorelasi dengan gugus ......
d. Dengan spektroskopi 13C NMR, kedua senyawa akan memberikan jumlah sinyal karbon yang sama yaitu ...... sinyal karbon dimana konfirmasi keberhasilan reaksi dapat dilihat berdasarkan jumlah sinyal karbon yang berada dibawah geseran kimia 90 ppm. Pada daerah di bawah 90 ppm, stirena akan memberikan ...... sinyal ...... dan etil benzena akan memberikan ...... sinyal (jawaban bilangan bulat)
e. Berdasarkan skema reaksi di atas, jika diukur melalui teknik spektroskopi 1H-NMR, sinyal proton a akan memiliki geseran kimia yang lebih ...... dibanding sinyal proton b. Selain pergeseran sinyal, konfirmasi terjadinya reaksi juga terlihat pada perubahan multiplisitas dimana proton b akan memiliki multiplisitas ...... yang sebelumnya proton a memiliki multiplisitas ...... Pada produk etil benzena, rasio paling sederhana integrasi sinyal b terhadap sinyal c adalah ...... : ......
Diketahui massa isotop:
| Isotop | Massa |
|---|---|
| 1H | 1,007825 |
| 2H | 2,014102 |
| 3H | 3,016049 |
| Isotop | Massa |
|---|---|
| 12C | 12,000000 |
| 13C | 13,003355 |
| 14C | 14,003242 |
| Isotop | Massa |
|---|---|
| 35Cl | 34,968853 |
| 37Cl | 36,965903 |
| Isotop | Massa |
|---|---|
| 79Br | 78,918338 |
| 81Br | 80,916291 |
| Isotop | Massa |
|---|---|
| 14N | 14,003074 |
| 15N | 15,000109 |
| Isotop | Massa |
|---|---|
| 16O | 15,994915 |
| 17O | 16,999132 |
| 18O | 17,999160 |
Pembahasan Soal
Spektroskopi UV-vis — Arah dan Nama Pergeseran
| Senyawa | Sistem π | Konjugasi | λmaks |
|---|---|---|---|
| Stirena (C₆H₅–CH=CH₂) | Cincin benzena + C=C vinil | Terkonjugasi penuh | ~254 nm |
| Etilbenzena (C₆H₅–CH₂CH₃) | Cincin benzena saja | Tidak ada C=C ekstra | ~254 nm → ~206 nm |
Pada stirena, ikatan C=C vinil terkonjugasi dengan cincin benzena memperluas sistem π → energi transisi HOMO-LUMO lebih kecil → λmaks lebih panjang.
Setelah reduksi, C=C hilang, sistem konjugasi menyusut → energi transisi lebih besar → λmaks bergeser ke panjang gelombang yang lebih pendek.
Fenomena ini disebut pergeseran biru (hypsochromic shift).
Massa Eksak (Exact Mass) Teoritis Etilbenzena
Stirena = C₈H₈. Reaksi reduksi menambahkan 2 atom H (H₂) ke ikatan C=C vinil:
Etilbenzena = C₈H₁₀. Massa eksak dihitung menggunakan isotop paling melimpah: 12C dan 1H.
Spektroskopi FTIR — Konfirmasi Reduksi
Daerah 1620–1680 cm⁻¹ merupakan karakteristik regang ikatan C=C alkena. Pada stirena, terdapat ikatan C=C vinil (–CH=CH₂) yang terkonjugasi dengan cincin benzena, sehingga pita ini muncul.
| Gugus | Rentang (cm⁻¹) | Intensitas |
|---|---|---|
| C=C alkena (regang) | 1620–1680 | Sedang |
| C=C aromatik (regang) | 1450–1600 | Sedang–kuat |
| C=O keton/aldehida | 1700–1750 | Sangat kuat |
| C–H sp² (ulur) | 3000–3100 | Sedang |
| Senyawa | Pita 1630 cm⁻¹ | Alasan |
|---|---|---|
| Stirena | Ada (muncul) | Memiliki C=C vinil (–CH=CH₂) |
| Etilbenzena | Hilang | C=C vinil telah direduksi menjadi C–C alkana (–CH₂CH₃) |
Gugus yang berkorelasi: C=C alkena (vinil).
Spektroskopi ¹³C NMR — Jumlah Sinyal dan Daerah Alifatik
Kedua senyawa memiliki cincin benzena monosubstitusi yang simetris — terdapat bidang simetri yang membuat C-orto (2 karbon) ekivalen dan C-meta (2 karbon) ekivalen.
- C1 ipso ~137 ppm
- C2 orto ~126 ppm
- C3 meta ~128 ppm
- C4 para ~128 ppm
- Ca =CH– ~136 ppm
- Cb =CH₂ ~113 ppm
- C1 ipso ~144 ppm
- C2 orto ~128 ppm
- C3 meta ~128 ppm
- C4 para ~126 ppm
- Cb –CH₂– ~29 ppm ← <90 ppm
- Cc –CH₃ ~15 ppm ← <90 ppm
Keduanya memiliki 6 karbon unik → 6 sinyal ¹³C.
| Senyawa | Karbon < 90 ppm | Jumlah sinyal |
|---|---|---|
| Stirena | Tidak ada — semua karbon sp² (aromatik + vinil) berada di atas 100 ppm | 0 sinyal |
| Etilbenzena | Cb (–CH₂–, ~29 ppm) dan Cc (–CH₃, ~15 ppm) | 2 sinyal |
Stirena di bawah 90 ppm: 0 sinyal
Etilbenzena di bawah 90 ppm: 2 sinyal (–CH₂– dan –CH₃)
Spektroskopi ¹H NMR — Geseran Kimia, Multiplisitas, dan Integrasi
| Proton | Senyawa | Posisi | Lingkungan kimia | δ (ppm) |
|---|---|---|---|---|
| a | Stirena | =CH– (C1 vinil) | Vinil terkonjugasi, efek anisotropi cincin | ~6,6 |
| b | Etilbenzena | –CH₂– (C1 etil) | Alifatik, terdekat ke cincin | ~2,6 |
| c | Etilbenzena | –CH₃ (C2 etil) | Alifatik ujung | ~1,2 |
Proton a (δ ~6,6 ppm) jauh lebih ter-deshielded dari proton b (δ ~2,6 ppm) karena berada pada karbon sp² vinil yang terkonjugasi dengan cincin aromatik.
Proton a berada pada geseran kimia yang lebih besar (downfield) dibanding proton b.
Proton a (=CH–) berada di C1 vinil, bertetangga dengan dua proton pada =CH₂ yang tidak ekivalen satu sama lain (satu cis, satu trans terhadap proton a). Karena kedua proton =CH₂ berbeda, masing-masing memberikan kopling yang berbeda (Jcis ≠ Jtrans):
Proton b (–CH₂–) bertetangga dengan 3 proton ekivalen dari –CH₃ (proton c). Aturan n+1:
Pada rantai etil (–CH₂CH₃) etilbenzena:
| Sinyal | Proton | Jumlah H |
|---|---|---|
| b | –CH₂– | 2 |
| c | –CH₃ | 3 |
Multiplisitas proton b: kuartet (proton a sebelumnya: doublet of doublets, dd).
Rasio integrasi b : c = 2 : 3



Tidak ada komentar:
Posting Komentar