Pembahasan Soal #7 OSP Kimia 2025 (Kinetika Reaksi)

Sabtu, 25 April 2026

Gas Y2 dan oksigen adalah gas-gas yang terdapat di atmosfer bumi. Gas Y2 dapat dihasilkan dari disosiasi XY2 dalam air. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut.

XY2(aq) → X(aq) + Y2(g)

Data berikut adalah volume gas Y2 yang dihasilkan selama selang waktu tertentu. Data ini merupakan dekomposisi larutan XY2 0,085 M pada 55 °C. Ketika t = ∞ menunjukkan bahwa reaksi telah selesai sempurna.

Waktu (menit)Volume gas Y2 (mL)
00
416,31
828,51
1237,65
1644,48
2049,60
2453,43
2856,29
3258,43
3660,03
4061,23
64,80


Pembahasan OSP 2025:
Nomor 1, Nomor 2, Nomor 3, Nomor 4, Nomor 5, Nomor 6, Nomor 7, Nomor 8, Nomor 9



a. Tentukan konsentrasi XY2 yang tersisa (dalam mM) pada waktu 8, 20, dan 32 menit.

[XY2] pada 8 menit = ...... mM

[XY2] pada 20 menit = ...... mM

[XY2] pada 32 menit = ...... mM

b. Orde total untuk reaksi di atas adalah ......

c. Konstanta laju untuk reaksi di atas adalah ...... dengan satuan ......

d. Waktu paruh yang sesuai untuk reaksi dengan kondisi di atas adalah ...... menit

e. Asumsikan waktu paruh reaksi di atas pada 55 °C adalah 15 menit dan pada 65 °C adalah 6 menit. Energi pengaktifan (EA) untuk reaksi di atas adalah ...... kJ/mol

Gas Y2 cenderung bersifat inert dibandingkan gas oksigen. Gas oksigen dapat digunakan untuk mengoksidasi HBr. Berikut adalah mekanisme yang diusulkan:

HBr + O2 → HOOBR   (Tahap 1) k1

HOOBr + HBr → 2HOBr   (Tahap 2) k2

HOOBr + HBr → H2O + Br2   (Tahap 3) k3

Diketahui bahwa berdasarkan pengamatan, laju reaksi oksidasi HBr memiliki orde 1 terhadap HBr dan orde 1 terhadap O2, selain itu tidak ditemukan HOBr dalam hasil reaksi akhir.

f. Tahap yang menjadi penentu laju adalah ......

g. Apakah usulan mekanisme di atas dapat diterima? ...... karena ......

Selain dapat dioksidasi menggunakan O2, ternyata HBr juga dapat bereaksi dengan Cl2. Sehingga persamaan reaksi:

Cl2(g) + HBr(g) → HCl(g)

Reaksi ini memiliki; Ea (forward) = 8 kJ dan Ea (reverse) = 74 kJ. Perhatikan diagram reaksi berikut.

h. Manakah kurva yang sesuai untuk reaksi antara HBr dan Cl2? ......

i. Reaksi HBr + Cl2 adalah reaksi yang bersifat ...... dengan nilai ΔHreaksi sebesar ...... kJ

j. Bentuk keadaan transisi yang terjadi adalah ......


Pembahasan Soal


a

Konsentrasi XY2 yang Tersisa

Tentukan [XY2] yang tersisa (dalam mM) pada waktu 8, 20, dan 32 menit.
Konsep dasar

Volume gas Y2 yang dihasilkan berbanding lurus dengan jumlah XY2 yang telah terurai. Maka jumlah XY2 yang tersisa berbanding lurus dengan selisih (V − Vt).

\[[\text{XY}_2]_t = [\text{XY}_2]_0 \times \frac{V_\infty - V_t}{V_\infty}\]

Dengan [XY2]0 = 85 mM dan V = 64,80 mL:

\[\text{Faktor konversi} = \frac{85\ \text{mM}}{64{,}80\ \text{mL}} = 1{,}3117\ \text{mM/mL}\]
Perhitungan tiap waktu
t (menit)Vt (mL)V − Vt (mL)[XY2]t (mM)
828,5164,80 − 28,51 = 36,2936,29 × 1,3117 = 47,60
2049,6064,80 − 49,60 = 15,2015,20 × 1,3117 = 19,94
3258,4364,80 − 58,43 = 6,376,37 × 1,3117 = 8,35
[XY2] pada t = 8 menit  = 47,60 mM
[XY2] pada t = 20 menit = 19,94 mM
[XY2] pada t = 32 menit = 8,35 mM
b

Orde Total Reaksi

Tentukan orde total reaksi dekomposisi XY2.
Metode: Linearisasi grafik

Uji tiga kemungkinan orde dengan memplot data [XY2] terhadap waktu:

OrdePlot linearSlope
0[XY2] vs t−k
1ln[XY2] vs t−k
21/[XY2] vs t+k
Cek linearitas ln[XY2] vs t
t (menit)[XY2] (mM)ln[XY2]
085,004,4427
847,603,8632
2019,942,9938
328,352,1223

Cek selisih ln[XY2] per selang waktu yang sama:

\[\begin{aligned} \Delta(\ln[\text{XY}_2])\ \text{per 12 menit}\ (t{=}8\to20) &: 3{,}8632 - 2{,}9938 = 0{,}8694 \\[4pt] \Delta(\ln[\text{XY}_2])\ \text{per 12 menit}\ (t{=}20\to32) &: 2{,}9938 - 2{,}1223 = 0{,}8715 \end{aligned}\]

Selisih hampir konstan → grafik ln[XY2] vs t linear → reaksi orde 1.

Orde total reaksi = 1 (orde satu)
c

Konstanta Laju (k)

Tentukan konstanta laju reaksi beserta satuannya.
Persamaan orde 1
\[\ln[\text{XY}_2]_t = \ln[\text{XY}_2]_0 - k \cdot t\]

Slope grafik ln[XY2] vs t = −k. Gunakan titik t=0 dan t=32:

\[\begin{aligned} k &= -\frac{\ln[\text{XY}_2]_{32} - \ln[\text{XY}_2]_0}{32 - 0} \\[6pt] &= -\frac{2{,}1223 - 4{,}4427}{32} \\[6pt] &= \frac{2{,}3204}{32} = 0{,}07251\ \text{menit}^{-1} \end{aligned}\]
Verifikasi dengan titik lain
\[\begin{aligned} t=0\ \&\ t=20:\ k &= -\frac{2{,}9938 - 4{,}4427}{20} = \frac{1{,}4489}{20} = 0{,}07245\ \text{menit}^{-1}\ \checkmark \\[6pt] t=0\ \&\ t=8:\ k &= -\frac{3{,}8632 - 4{,}4427}{8} = \frac{0{,}5795}{8} = 0{,}07244\ \text{menit}^{-1}\ \checkmark \end{aligned}\]

Rata-rata k ≈ 0,0725 menit⁻¹ (konsisten).

k = 0,0725 menit−1  ·  Satuan: menit−1
Untuk reaksi orde 1, satuan k selalu [waktu−1], karena laju = k × [XY2] dan satuan laju = M·s−1 (atau M·mnt−1), sehingga k = laju/[XY2] = M·mnt−1/M = mnt−1.
d

Waktu Paruh (t½)

Tentukan waktu paruh reaksi pada kondisi di atas.
Rumus waktu paruh orde 1
\[t_{1/2} = \frac{\ln 2}{k} = \frac{0{,}6931}{k}\]

Substitusikan k = 0,0725 menit−1:

\[t_{1/2} = \frac{0{,}6931}{0{,}0725} = 9{,}56\ \text{menit}\]
Ciri khas orde 1: waktu paruh tidak bergantung pada konsentrasi awal — selalu konstan sepanjang reaksi berlangsung.
t½ = 9,56 menit
e

Energi Pengaktifan (EA)

Diketahui t½ = 15 menit pada 55 °C dan t½ = 6 menit pada 65 °C. Tentukan EA.
Persamaan Arrhenius dua suhu
\[\ln\!\left(\frac{k_2}{k_1}\right) = \frac{E_a}{R}\left(\frac{1}{T_1} - \frac{1}{T_2}\right)\]

Karena orde 1 dan t½ = ln2/k, maka k berbanding terbalik dengan t½:

\[\begin{aligned} k_1\ (55{^\circ}\text{C},\ T_1 = 328\ \text{K}) &= \frac{\ln 2}{15} = 0{,}04621\ \text{menit}^{-1} \\[6pt] k_2\ (65{^\circ}\text{C},\ T_2 = 338\ \text{K}) &= \frac{\ln 2}{6} = 0{,}11552\ \text{menit}^{-1} \\[8pt] \ln\!\left(\frac{k_2}{k_1}\right) &= \ln\!\left(\frac{0{,}11552}{0{,}04621}\right) = \ln(2{,}500) = 0{,}9163 \end{aligned}\]
Hitung (1/T₁ − 1/T₂)
\[\begin{aligned} \frac{1}{T_1} &= \frac{1}{328} = 3{,}04878 \times 10^{-3}\ \text{K}^{-1} \\[6pt] \frac{1}{T_2} &= \frac{1}{338} = 2{,}95858 \times 10^{-3}\ \text{K}^{-1} \\[8pt] \frac{1}{T_1} - \frac{1}{T_2} &= (3{,}04878 - 2{,}95858)\times 10^{-3} = 9{,}020\times 10^{-5}\ \text{K}^{-1} \end{aligned}\]
Hitung EA
\[\begin{aligned} E_a &= \frac{R \cdot \ln(k_2/k_1)}{\dfrac{1}{T_1} - \dfrac{1}{T_2}} \\[10pt] &= \frac{8{,}314\ \text{J mol}^{-1}\text{K}^{-1} \times 0{,}9163}{9{,}020 \times 10^{-5}\ \text{K}^{-1}} \\[8pt] &= \frac{7{,}616}{9{,}020 \times 10^{-5}} = 84432\ \text{J/mol} \\[6pt] &\approx 84{,}4\ \text{kJ/mol} \end{aligned}\]
EA = 84,4 kJ/mol
f

Tahap Penentu Laju (Rate-Determining Step)

Mekanisme:
(1) HBr + O2 → HOOBr
(2) HOOBr + HBr → 2HOBr
(3) HOBr + HBr → H2O + Br2
Laju eksperimen: orde 1 terhadap HBr, orde 1 terhadap O2. HOBr tidak ditemukan di produk akhir.
Ekspresi laju dari tiap tahap
TahapReaksiEkspresi laju jika ini RDS
1HBr + O2 → HOOBrlaju = k1[HBr][O2]
2HOOBr + HBr → 2HOBrlaju = k2[HOOBr][HBr] → perlu eliminasi intermediat
3HOBr + HBr → H2O + Br2laju = k3[HOBr][HBr] → perlu eliminasi intermediat
Analisis: Tahap 1 sebagai RDS

Jika tahap 1 adalah tahap lambat (penentu laju), maka:

\[\text{laju} = k_1[\text{HBr}][\text{O}_2] \quad \Rightarrow \quad \text{orde 1 terhadap HBr, orde 1 terhadap O}_2\ \checkmark\]

Ini sesuai persis dengan data eksperimen!

Tahap penentu laju = Tahap 1: HBr + O2 → HOOBr (tahap paling lambat)
g

Validitas Mekanisme yang Diusulkan

Apakah mekanisme di atas dapat diterima?
Kriteria penerimaan mekanisme
KriteriaCekHasil
Reaksi keseluruhan benar Tahap 1 + 2 + 2×(Tahap 3):
4HBr + O2 → 2H2O + 2Br2
✓ Sesuai
Ekspresi laju sesuai eksperimen RDS = Tahap 1 → laju = k[HBr][O2] ✓ Orde 1 HBr, orde 1 O2
HOBr tidak muncul di produk akhir HOBr (produk tahap 2) dikonsumsi habis di tahap 3 ✓ Sesuai pengamatan
HOOBr adalah intermediat Dihasilkan tahap 1, dikonsumsi tahap 2 ✓ Tidak muncul di produk akhir
Catatan penting: stoikiometri tahap 3

Reaksi total: 4HBr + O2 → 2H2O + 2Br2

\[\begin{array}{rll} \text{Tahap 1:} & \text{HBr} + \text{O}_2 \to \text{HOOBr} & (\times 1) \\ \text{Tahap 2:} & \text{HOOBr} + \text{HBr} \to 2\,\text{HOBr} & (\times 1) \\ \text{Tahap 3:} & \text{HOBr} + \text{HBr} \to \text{H}_2\text{O} + \text{Br}_2 & (\times 2) \\ \hline \text{Total:} & 4\,\text{HBr} + \text{O}_2 \to 2\,\text{H}_2\text{O} + 2\,\text{Br}_2 & \checkmark \end{array}\]

HOOBr dan HOBr sama-sama bersifat sebagai zat antara (intermediat) yang tidak muncul di persamaan keseluruhan.

✓ Mekanisme DAPAT DITERIMA, karena:
(1) Penjumlahan semua tahap menghasilkan reaksi keseluruhan yang benar;
(2) Jika tahap 1 sebagai RDS, ekspresi laju = k[HBr][O2] sesuai orde eksperimen;
(3) HOBr sebagai intermediat habis dikonsumsi pada tahap 3 sehingga tidak ditemukan pada produk akhir.
h

Kurva Profil Energi yang Sesuai

Ea forward = 8 kJ, Ea reverse = 74 kJ. Manakah kurva yang sesuai?
Analisis arah energi
\[\begin{aligned} \Delta H_{\text{reaksi}} &= E_a(\text{maju}) - E_a(\text{balik}) \\[4pt] &= 8\ \text{kJ} - 74\ \text{kJ} = -66\ \text{kJ} \end{aligned}\]

ΔH < 0 → reaksi eksoterm: produk berada pada energi lebih rendah dari reaktan.

Profil eksoterm: reaktan (tinggi) → puncak transisi → produk (rendah). Tinggi dari reaktan ke puncak = 8 kJ (kecil). Tinggi dari produk ke puncak = 74 kJ (besar).

i

Jenis Reaksi dan Nilai ΔH

Tentukan sifat reaksi HBr + Cl2 dan nilai ΔHreaksi.
Hubungan Ea dan ΔH
\[\begin{aligned} \Delta H_{\text{reaksi}} &= E_a(\text{maju}) - E_a(\text{balik}) \\[4pt] &= 8\ \text{kJ} - 74\ \text{kJ} = -66\ \text{kJ} \end{aligned}\]

Karena ΔH < 0, reaksi melepaskan energi ke lingkungan → reaksi eksoterm.

Secara intuitif: energi pengaktifan maju (8 kJ) jauh lebih kecil dari energi pengaktifan balik (74 kJ), artinya produk jauh lebih stabil dari reaktan — ciri khas reaksi eksoterm.

Reaksi bersifat eksoterm dengan ΔHreaksi = −66 kJ
j

Bentuk Keadaan Transisi

Tentukan bentuk keadaan transisi (transition state) reaksi Cl2 + HBr → HCl + Br2.
Analisis mekanisme dasar

Reaksi ini merupakan reaksi transfer atom halogen. Salah satu atom Cl dari Cl2 menyerang atom H dari HBr:

\[\text{Cl}_2 + \text{H{-}Br} \;\longrightarrow\; [\text{Cl}{\cdots}\text{H}{\cdots}\text{Br}]^\ddagger \;\longrightarrow\; \text{HCl} + \text{Br}\cdot\]

Atau untuk reaksi keseluruhan, keadaan transisi menggambarkan kondisi di mana ikatan lama (H−Br dan Cl−Cl) sedang putus dan ikatan baru (H−Cl) sedang terbentuk secara bersamaan:

\[\text{Cl{-}Cl} + \text{H{-}Br} \;\longrightarrow\; [\text{Cl}{\cdots}\text{Cl}{\cdots}\text{H}{\cdots}\text{Br}]^\ddagger \;\longrightarrow\; \text{HCl} + \text{BrCl}\]
Struktur keadaan transisi

Keadaan transisi yang paling sederhana untuk transfer atom H dari HBr ke Cl:

\[\overset{\delta-}{\text{Cl}} \;\cdots\; \text{H} \;\cdots\; \overset{\delta-}{\text{Br}}\]

(Cl mulai berikatan dengan H; ikatan H−Br mulai melemah. Ikatan parsial ditandai dengan ···)

Struktur ini bersifat linear (geometri segitiga tak mungkin untuk transfer atom H antara dua atom diatomik).

Keadaan transisi berbentuk kompleks teraktivasi linear [Cl···H···Br], di mana ikatan Cl−H sedang terbentuk dan ikatan H−Br sedang putus secara bersamaan pada puncak energi.
Notasi ‡ (double dagger) adalah simbol standar untuk keadaan transisi. Muatan parsial δ− pada Cl dan Br menggambarkan distribusi elektron yang berubah selama transfer H berlangsung.
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info