Ringkasan Lengkap Logika Asam-Basa hingga Titrasi

Jumat, 17 April 2026

Berikut ini ringkasan logika dalam bahasan teori asam-basa, hidrolisis garam, larutan penyangga, titrasi asam-basa.
(Semua pokok bahasan dalam satu halaman dengan tab navigasi)

1.1. Definisi Inti (Tiga Teori Asam-Basa)

Ada tiga teori yang wajib diketahui, dari yang tersempit sampai terluas:

TeoriAsamBasaKeterbatasan
Arrhenius Melepas \(\ce{H^+}\) dalam air Melepas \(\ce{OH^-}\) dalam air Hanya berlaku dalam pelarut air
Brønsted–Lowry Donor proton (\(\ce{H^+}\)) Akseptor proton (\(\ce{H^+}\)) Tidak mencakup reaksi tanpa transfer proton
Lewis Akseptor pasangan elektron Donor pasangan elektron Paling luas, tapi jarang dipakai di SMA

Pasangan asam-basa konjugat (Brønsted-Lowry): Asam melepas \(\ce{H^+}\) → jadi basa konjugat. Basa menerima \(\ce{H^+}\) → jadi asam konjugat. Contoh:

\( \ce{CH3COOH + H2O ⇌ CH3COO^- + H3O^+} \)

Di sini: \(\ce{CH3COOH}\)/\(\ce{CH3COO^-}\) adalah pasangan konjugat; \(\ce{H2O}\)/\(\ce{H3O^+}\) adalah pasangan konjugat.

1.2. Sifat yang Selalu Muncul (Untuk Membedakan Asam ↔ Basa)

Sifat Asam Basa
Rasa Masam Pahit, licin/sabunin
Kertas lakmus Mengubah lakmus biru → merah Mengubah lakmus merah → biru
Reaksi dengan logam aktif Menghasilkan gas \(\ce{H2}\) Tidak bereaksi (kecuali logam amfoter)
Reaksi dengan karbonat Menghasilkan gas \(\ce{CO2}\) Tidak bereaksi
pH larutan < 7 > 7

1.3. Kuat vs Lemah (Logika Paling Penting untuk Perhitungan)

Asam/Basa KUAT

  • Ionisasi sempurna (≈ 100%) → semua molekul terurai menjadi ion.
  • Asam kuat: \(\ce{HCl, HBr, HI, HNO3, H2SO4}\) (ionisasi pertama), \(\ce{HClO4}\).
  • Basa kuat: \(\ce{NaOH, KOH, Ca(OH)2, Ba(OH)2, Sr(OH)2}\).

Logika pandu: \([\ce{H^+}]\) atau \([\ce{OH^-}]\) langsung sama dengan konsentrasi molarnya — tidak butuh Ka/Kb.

Asam/Basa LEMAH

  • Ionisasi sebagian saja (< 100%) → ada keseimbangan bolak-balik.
  • Asam lemah: \(\ce{CH3COOH, HF, HCN, H2CO3, H3PO4}\).
  • Basa lemah: \(\ce{NH3, CH3NH2, C6H5NH2}\) (anilin).

Derajat ionisasi (α): ukuran seberapa banyak yang terionisasi.

\( \alpha = \dfrac{\text{mol terionisasi}}{\text{mol mula-mula}} \times 100\% \)

Semakin kecil \(\alpha\) → semakin lemah asam/basanya. Untuk asam lemah: \(\alpha = \sqrt{K_a/C}\).

1.4. Air, \(K_w\), dan Hubungan pH–pOH

Air mengalami autoionisasi (sedikit):

\( \ce{2H2O ⇌ H3O^+ + OH^-} \)

Konstanta ionisasi air pada 25°C:

\( K_w = [\ce{H3O^+}][\ce{OH^-}] = 1 \times 10^{-14} \)

Penting: \(K_w\) bergantung suhu — pada suhu > 25°C, \(K_w\) membesar (ionisasi makin banyak), sehingga pH netral bisa < 7.

Hubungan pH dan pOH:

\( \mathrm{pH} + \mathrm{pOH} = 14 \quad (25°\mathrm{C}) \)

Hubungan \(K_a\) dan \(K_b\) pasangan konjugat:

\( K_a \times K_b = K_w = 1 \times 10^{-14} \)

Ini berguna di hidrolisis garam dan penyangga. Makin besar \(K_a\) suatu asam → makin kecil \(K_b\) basa konjugatnya (semakin lemah basa konjugatnya).

1.5. Definisi dan Skala pH

\( \mathrm{pH} = -\log[\ce{H3O^+}] \qquad \mathrm{pOH} = -\log[\ce{OH^-}] \)
  • pH < 7 → asam
  • pH = 7 → netral (pada 25°C)
  • pH > 7 → basa

Semakin kecil pH → semakin asam. Setiap penurunan 1 satuan pH → \([\ce{H^+}]\) naik 10×.

1.6. Perhitungan pH Langkah demi Langkah

A. Asam Kuat

  • Monoprotik (HCl, HNO₃, HBr):
\( [\ce{H^+}] = C_\text{asam} \quad \Rightarrow \quad \mathrm{pH} = -\log C \)
  • Diprotik kuat (\(\ce{H2SO4}\)) pada konsentrasi rendah (C < 0,01 M), hitung kontribusi ionisasi kedua juga. Untuk soal SMA, umumnya:
\( [\ce{H^+}] = 2C \quad (\text{jika C cukup kecil}) \)

B. Basa Kuat

\( [\ce{OH^-}] = n \times C \quad (n = \text{jumlah OH per rumus}) \quad \Rightarrow \quad \mathrm{pOH} = -\log[\ce{OH^-}] \quad \Rightarrow \quad \mathrm{pH} = 14 - \mathrm{pOH} \)

Contoh: \(\ce{Ca(OH)2}\) → \([\ce{OH^-}] = 2C\).

C. Asam Lemah (aproksimasi berlaku jika \(C/K_a > 100\) atau \(\alpha < 5\%\))

  1. Reaksi: \(\ce{HA ⇌ H^+ + A^-}\)
  2. ICE table (Initial–Change–Equilibrium):
    Jika mula-mula = C, maka: \([\ce{H^+}] = [\ce{A^-}] = x\), \([\ce{HA}] = C - x \approx C\)
  3. \(K_a = \dfrac{x^2}{C} \Rightarrow x = [\ce{H^+}] \approx \sqrt{K_a \cdot C}\)
  4. \(\mathrm{pH} = -\log[\ce{H^+}] = \dfrac{1}{2}(\mathrm{p}K_a - \log C)\)

D. Basa Lemah

  1. Reaksi: \(\ce{B + H2O ⇌ BH^+ + OH^-}\)
  2. \([\ce{OH^-}] \approx \sqrt{K_b \cdot C}\)
  3. \(\mathrm{pOH} = -\log[\ce{OH^-}]\), kemudian \(\mathrm{pH} = 14 - \mathrm{pOH}\)

E. Campuran Asam Kuat + Air (Pengenceran)

Jika larutan asam kuat diencerkan hingga sangat encer (\([\ce{H^+}]\) mendekati \(10^{-7}\) M), gunakan:

\( [\ce{H^+}]_\text{total} = [\ce{H^+}]_\text{asam} + [\ce{H^+}]_\text{air} \)

Ingat: pH tidak pernah bisa > 7 untuk larutan asam, betapapun encernya.

Prinsip Pandu Akhir untuk Siswa
  1. Kuat atau lemah? → Kuat = langsung pakai C. Lemah = pakai Ka/Kb + akar.
  2. Gunakan ICE table untuk asam/basa lemah jika α tidak bisa diabaikan.
  3. Selalu ingat \(K_w = 10^{-14}\) → hubungkan pH dan pOH.
  4. \(K_a \times K_b = K_w\) untuk pasangan konjugat → sangat berguna di hidrolisis dan penyangga.
  5. pH + pOH = 14 → jika tahu satu, langsung dapat yang lain.

Dengan poin-poin di atas, kamu sudah punya kerangka logika lengkap untuk semua soal asam-basa dasar hingga perhitungan pH. Tinggal latihan soal untuk mengasah!

2.1. Definisi Inti Hidrolisis Garam

  • Hidrolisis garam = reaksi ion garam dengan air yang menghasilkan asam lemah atau basa lemah.
  • Akibatnya, pH larutan bisa menjadi asam, basa, atau tetap netral.

Logika pandu: Hanya ion konjugat dari asam lemah atau basa lemah yang bereaksi dengan air. Ion dari asam/basa kuat tidak bereaksi (terlalu stabil).

Contoh: \(\ce{Na^+}\) berasal dari NaOH (basa kuat) → tidak terhidrolisis. \(\ce{CH3COO^-}\) berasal dari CH₃COOH (asam lemah) → terhidrolisis.

2.2. Klasifikasi Garam Berdasarkan Asam & Basa Pembentuknya

Asam Pembentuk Basa Pembentuk Jenis Garam Sifat Larutan Contoh
Kuat Kuat Netral pH = 7 NaCl, KNO₃, NaClO₄
Kuat Lemah Asam pH < 7 NH₄Cl, NH₄NO₃, AlCl₃
Lemah Kuat Basa pH > 7 CH₃COONa, Na₂CO₃, KCN
Lemah Lemah Amfoter pH tergantung Ka & Kb CH₃COONH₄, NH₄CN

2.3. Reaksi Hidrolisis yang Terjadi

Garam Basa (anion dari asam lemah, hidrolisis anionik)

Contoh: \(\ce{CH3COO^-}\) dari CH₃COOH lemah

\( \ce{CH3COO^- + H2O ⇌ CH3COOH + OH^-} \)

→ Menghasilkan \(\ce{OH^-}\) → larutan basa (pH > 7)

Garam Asam (kation dari basa lemah, hidrolisis kationik)

Contoh: \(\ce{NH4^+}\) dari NH₃ lemah

\( \ce{NH4^+ + H2O ⇌ NH3 + H3O^+} \)

→ Menghasilkan \(\ce{H3O^+}\) → larutan asam (pH < 7)

Garam Netral

Tidak ada hidrolisis yang berarti. Contoh: \(\ce{Na^+}\) dan \(\ce{Cl^-}\) tidak bereaksi dengan air → pH = 7.

Garam Amfoter (kedua ion lemah)

Kedua ion bereaksi secara bersamaan. Contoh: \(\ce{CH3COONH4}\)

\( \ce{CH3COO^- + H2O ⇌ CH3COOH + OH^-} \)
\( \ce{NH4^+ + H2O ⇌ NH3 + H3O^+} \)

Sifat larutan ditentukan oleh perbandingan Ka dan Kb:

  • Jika \(K_a > K_b\) → anion lebih kuat terhidrolisis → larutan basa
  • Jika \(K_a < K_b\) → kation lebih kuat terhidrolisis → larutan asam
  • Jika \(K_a = K_b\) → larutan netral (pH ≈ 7)

Perhatikan: di sini Ka = Ka asam lemah pembentuk, Kb = Kb basa lemah pembentuk.

2.4. Konstanta Hidrolisis (\(K_h\)) dan Hubungannya

Konstanta hidrolisis diturunkan dari \(K_w\):

Jenis HidrolisisRumus \(K_h\)Keterangan
Anion (garam basa) \(K_h = \dfrac{K_w}{K_a}\) Ka = Ka asam lemah pembentuk
Kation (garam asam) \(K_h = \dfrac{K_w}{K_b}\) Kb = Kb basa lemah pembentuk

Logika pandu: Semakin lemah asam/basa pembentuk (Ka/Kb kecil) → Kh makin besar → hidrolisis makin banyak → perubahan pH dari 7 makin besar.

2.5. Perhitungan pH Hidrolisis Garam

A. Garam Netral

\( \mathrm{pH} = 7 \)

B. Garam Basa (anion lemah)

Perlakukan seperti basa lemah dengan Kb = Kh:

\( [\ce{OH^-}] \approx \sqrt{K_h \cdot C} = \sqrt{\dfrac{K_w}{K_a} \cdot C} \)
\( \mathrm{pH} = 14 - \mathrm{pOH} = 14 + \dfrac{1}{2}\log\left(\dfrac{K_w \cdot C}{K_a}\right) \)

C. Garam Asam (kation lemah)

Perlakukan seperti asam lemah dengan Ka = Kh:

\( [\ce{H^+}] \approx \sqrt{K_h \cdot C} = \sqrt{\dfrac{K_w}{K_b} \cdot C} \)
\( \mathrm{pH} = \dfrac{1}{2}(14 - \mathrm{p}K_b - \log C) \)

D. Garam Amfoter (lemah + lemah)

Rumus aproksimasi (berlaku jika konsentrasi tidak terlalu kecil):

\( \mathrm{pH} \approx 7 + \dfrac{1}{2}(\mathrm{p}K_a - \mathrm{p}K_b) = 7 + \dfrac{1}{2}\log\left(\dfrac{K_b}{K_a}\right) \)

Catatan: pH garam amfoter hampir tidak bergantung konsentrasi! Hanya bergantung pada nilai Ka dan Kb.

2.6. Cara Menentukan Sifat Larutan Garam (Ringkas)

  1. Tentukan asam dan basa pembentuk garam.
  2. Klasifikasikan: kuat/lemah masing-masing.
  3. Gunakan tabel 2.2 untuk langsung menyimpulkan sifatnya.
  4. Untuk garam amfoter: bandingkan nilai Ka dan Kb.
  5. Untuk perhitungan pH: gunakan rumus di atas sesuai jenisnya.
Prinsip Pandu Akhir untuk Siswa
  1. Lihat asal asam & basa → tentukan jenis garam (netral/asam/basa).
  2. Hanya ion konjugat dari asam/basa lemah yang terhidrolisis.
  3. Garam netral = pH 7 (tidak ada hidrolisis).
  4. Gunakan \(K_h = K_w/K_a\) atau \(K_w/K_b\) → lalu akar untuk dapat \([\ce{H^+}]\) atau \([\ce{OH^-}]\).
  5. Garam amfoter: pH ≈ 7 + ½ log(Kb/Ka) — tidak bergantung konsentrasi.
  6. Ka lemah kecil → Kh besar → hidrolisis kuat → pH jauh dari 7.

Dengan poin-poin di atas, kamu sudah punya kerangka logika lengkap untuk semua soal hidrolisis garam. Gabungkan dengan ringkasan asam-basa sebelumnya!

3.1. Definisi Inti Larutan Penyangga

  • Larutan penyangga (buffer) = larutan yang dapat menahan perubahan pH secara signifikan ketika ditambahkan sedikit asam kuat, basa kuat, atau air.
  • Penyangga bekerja karena mengandung pasangan asam lemah dan basa konjugatnya (atau sebaliknya) dalam konsentrasi yang cukup.

Logika pandu: Penyangga bukan "penetralisir total" — ia hanya meminimalkan perubahan pH dengan cara mengubah asam/basa kuat menjadi asam/basa lemah.

3.2. Jenis Larutan Penyangga

Jenis Penyangga Komponen Utama Contoh Umum Kisaran pH Efektif
Penyangga Asam Asam lemah (HA) + basa konjugat (A⁻) CH₃COOH + CH₃COONa
H₂CO₃ + NaHCO₃
pKa ± 1
Penyangga Basa Basa lemah (B) + asam konjugat (BH⁺) NH₃ + NH₄Cl
CH₃NH₂ + CH₃NH₃Cl
14 − pKb ± 1

Penyangga paling efektif saat [HA] = [A⁻] (rasio 1:1), karena pH tepat di pKa dan kapasitas penyangga maksimum ke kedua arah.

3.3. Cara Membuat Larutan Penyangga

Ada dua cara umum yang sering muncul di soal:

Cara 1: Campuran Langsung

Campurkan asam lemah + garamnya (atau basa lemah + garamnya) langsung. Contoh: campurkan larutan CH₃COOH + larutan CH₃COONa.

Cara 2: Reaksi Parsial (Asam Lemah Berlebih atau Basa Lemah Berlebih)

Tambahkan asam lemah berlebih ke basa kuat (atau basa lemah berlebih ke asam kuat). Contoh: 0,3 mol CH₃COOH + 0,1 mol NaOH:

\( \ce{CH3COOH + NaOH -> CH3COONa + H2O} \)

Hasil reaksi: 0,2 mol CH₃COOH sisa + 0,1 mol CH₃COONa terbentuk → campuran ini adalah penyangga asam.

Syarat terbentuk penyangga: reaktan yang satu tidak habis bereaksi, sehingga tersisa campuran asam/basa lemah + garamnya.

3.4. Cara Kerja Penyangga (Mekanisme)

Penyangga Asam (HA/A⁻): saat ditambah asam atau basa

  • Ditambah asam kuat (\(\ce{H^+}\) masuk): \(\ce{H^+ + A^- -> HA}\) → A⁻ berkurang, HA bertambah, tapi perubahan pH kecil.
  • Ditambah basa kuat (\(\ce{OH^-}\) masuk): \(\ce{OH^- + HA -> A^- + H2O}\) → HA berkurang, A⁻ bertambah, tapi perubahan pH kecil.

Penyangga Basa (B/BH⁺): saat ditambah asam atau basa

  • Ditambah asam kuat (\(\ce{H^+}\) masuk): \(\ce{H^+ + B -> BH^+}\) → B berkurang, BH⁺ bertambah.
  • Ditambah basa kuat (\(\ce{OH^-}\) masuk): \(\ce{OH^- + BH^+ -> B + H2O}\) → BH⁺ berkurang, B bertambah.

3.5. Rumus Henderson–Hasselbalch

Penyangga Asam

\( \mathrm{pH} = \mathrm{p}K_a + \log \left( \dfrac{[\ce{A^-}]}{[\ce{HA}]} \right) = \mathrm{p}K_a + \log \left( \dfrac{n_{\text{garam}}}{n_{\text{asam}}} \right) \)

Penyangga Basa

\( \mathrm{pOH} = \mathrm{p}K_b + \log \left( \dfrac{[\ce{BH^+}]}{[\ce{B}]} \right) \quad \Rightarrow \quad \mathrm{pH} = 14 - \mathrm{pOH} \)

Tips: Dalam rumus Henderson–Hasselbalch, rasio mol bisa menggantikan rasio konsentrasi (karena volume sama untuk keduanya dalam campuran).

3.6. Perhitungan pH Penyangga (Langkah demi Langkah)

A. Dari Campuran Langsung

  1. Hitung mol masing-masing komponen: \(n = M \times V\)
  2. Hitung pKa = −log Ka
  3. Masukkan ke rumus Henderson–Hasselbalch

B. Dari Reaksi Parsial

  1. Hitung mol tiap reaktan
  2. Jalankan reaksi netralisasi sampai salah satu reaktan habis
  3. Tentukan sisa (mol HA dan mol A⁻ hasil)
  4. Masukkan ke Henderson–Hasselbalch

C. Setelah Ditambah Sedikit Asam/Basa Kuat

  1. Reaksikan asam/basa kuat yang ditambahkan dengan komponen penyangga yang sesuai
  2. Hitung mol baru dari HA dan A⁻ setelah reaksi
  3. Hitung pH baru dengan Henderson–Hasselbalch

3.7. Kapasitas Penyangga dan Contoh di Alam

  • Kapasitas penyangga makin besar jika konsentrasi komponen makin tinggi.
  • Kapasitas maksimum saat [HA] ≈ [A⁻] (rasio mendekati 1:1).
  • Pengenceran tidak mengubah pH penyangga ideal (rasio tetap sama), tetapi kapasitas menurun.

Contoh penyangga dalam kehidupan:

  • Darah: penyangga \(\ce{H2CO3/HCO3^-}\) → menjaga pH darah di 7,35–7,45.
  • Saliva: penyangga fosfat \(\ce{H2PO4^-/HPO4^{2-}}\) → melindungi gigi dari asam.
  • Sel: penyangga protein dan fosfat → menjaga pH intrasel ≈ 7,0–7,2.
Prinsip Pandu Akhir untuk Siswa
  1. Lihat jenis penyangga (asam atau basa) → pilih rumus Henderson–Hasselbalch yang tepat.
  2. Jika dibuat dari reaksi parsial → reaksikan dulu, baru hitung sisa mol, lalu masukkan ke rumus.
  3. Saat [A⁻] = [HA] → pH = pKa (titik paling stabil dan kapasitas maksimum).
  4. Ditambah asam/basa kuat → reaksikan dengan komponen penyangga → hitung mol baru → hitung pH baru.
  5. Pengenceran tidak mengubah pH penyangga, tapi menurunkan kapasitasnya.

Dengan poin-poin di atas, kamu sudah punya kerangka logika lengkap untuk semua soal larutan penyangga. Gabungkan dengan ringkasan asam-basa dan hidrolisis garam!

4.1. Definisi Inti Titrasi Asam-Basa

  • Titrasi = proses penambahan larutan standar (titran) secara perlahan ke dalam larutan yang dianalisis (analit) sampai titik ekivalen.
  • Tujuan: menentukan konsentrasi zat yang tidak diketahui, atau memverifikasi kemurnian suatu zat.
  • Titik ekivalen: saat mol asam tepat = mol basa (secara stoikiometri), reaksi sempurna. Ditentukan oleh stoikiometri, bukan indikator.
  • Titik akhir (endpoint): saat indikator berubah warna. Harus sedekat mungkin dengan titik ekivalen.

Alat: buret (titran) + erlenmeyer (analit) + statif + indikator/pH-meter.

4.2. Empat Jenis Titrasi Asam-Basa

Jenis Titrasi Analit Titran pH Titik Ekivalen Indikator yang Cocok Bentuk Kurva
Kuat–Kuat HCl NaOH pH = 7 Fenolftalein atau BTB Loncatan vertikal tajam di pH 7
Lemah–Kuat CH₃COOH NaOH pH > 7 Fenolftalein (8,2–10) Loncatan di daerah basa; ada daerah penyangga sebelum titik ekivalen
Kuat–Lemah HCl NH₃ pH < 7 Metil merah (4,4–6,2) Loncatan di daerah asam; ada daerah penyangga sesudah titik ekivalen
Lemah–Lemah Asam lemah Basa lemah pH ≈ 7 (tidak pasti) Tidak ada yang cocok Tidak ada loncatan jelas, kurva melandai

4.3. pH di Berbagai Titik Penting pada Kurva Titrasi

Untuk titrasi asam lemah HA dengan basa kuat NaOH (paling sering di soal):

Titik pada KurvaKondisiCara Hitung pH
Awal (0 mL NaOH) Hanya asam lemah HA \(\mathrm{pH} = \frac{1}{2}(\mathrm{p}K_a - \log C)\)
Sebelum titik ekivalen Campuran HA + A⁻ → penyangga Henderson–Hasselbalch: \(\mathrm{pH} = \mathrm{p}K_a + \log(n_{A^-}/n_{HA})\)
Setengah ekivalen (½ V_ek) mol HA = mol A⁻ \(\mathrm{pH} = \mathrm{p}K_a\) ← sangat penting!
Titik ekivalen (V_ek) Semua HA → A⁻ (garam basa) \([\ce{OH^-}] = \sqrt{(K_w/K_a) \cdot C_\text{garam}}\), lalu pH = 14 − pOH
Setelah titik ekivalen Kelebihan NaOH Hitung \([\ce{OH^-}]\) dari NaOH berlebih (dominan)

4.4. Bentuk Kurva Titrasi & Tips Membaca Kurva

A. Titrasi Asam Kuat – Basa Kuat (HCl + NaOH)

pH awal: sangat rendah (≈1–2, tergantung C) ↓ Naik perlahan saat NaOH ditambahkan ↓ Loncatan vertikal TAJAM di pH = 7 (bisa dari pH 3 ke 11 hanya dengan 1 tetes!) ↓ Naik perlahan lagi setelah titik ekivalen
  • Titik ekivalen tepat di pH = 7 (garam NaCl tidak terhidrolisis).
  • Indikator apa pun yang berubah di pH 4–10 cocok digunakan.
  • Tidak ada daerah penyangga di sepanjang kurva.
  • Loncatan paling tajam di antara semua jenis titrasi.

B. Titrasi Asam Lemah – Basa Kuat (CH₃COOH + NaOH)

pH awal: lebih tinggi dari asam kuat (≈3–5, karena ionisasi parsial) ↓ Daerah penyangga (HA/A⁻): kurva naik landai ↓ Titik setengah ekivalen: pH = pKa ← tandai di sini! ↓ Loncatan vertikal di daerah BASA (pH ≈ 7 → 11) ↓ Naik lambat setelah titik ekivalen (larutan mengandung garam basa)
  • Titik ekivalen di pH > 7 (garam CH₃COONa terhidrolisis → basa).
  • Fenolftalein (pH 8,2–10) adalah pilihan terbaik.
  • Titik setengah ekivalen berguna untuk menentukan pKa asam lemah secara eksperimen.
  • Loncatan lebih sempit dibanding titrasi kuat–kuat.

C. Titrasi Asam Kuat – Basa Lemah (HCl + NH₃)

pH awal: sangat rendah (≈1–2) ↓ Naik perlahan sampai titik ekivalen ↓ Loncatan vertikal di daerah ASAM (pH ≈ 3 → 7) ↓ Daerah penyangga BH⁺/B setelah titik ekivalen: kurva naik sangat lambat
  • Titik ekivalen di pH < 7 (garam NH₄Cl terhidrolisis → asam).
  • Metil merah (pH 4,4–6,2) atau bromokresol hijau cocok digunakan.
  • Fenolftalein tidak cocok karena pH transisinya terlalu tinggi.

D. Titrasi Asam Lemah – Basa Lemah

Kurva naik gradual sepanjang titrasi ↓ Tidak ada loncatan vertikal yang jelas ↓ Titik ekivalen sangat sulit ditentukan dengan indikator
  • Jarang dilakukan di praktikum karena titik akhir tidak tajam.
  • pH meter lebih cocok daripada indikator untuk menentukan titik ekivalen.

4.5. Pemilihan Indikator (Aturan Praktis)

  • Indikator berubah warna bertahap dalam rentang pH tertentu (± 1 satuan dari pKin-nya).
  • Syarat: rentang pH transisi indikator harus berada di dalam daerah loncatan vertikal kurva.
IndikatorRentang pH TransisiPerubahan WarnaCocok Untuk
Metil merah 4,4 – 6,2 Merah → Kuning Kuat–Lemah (pH < 7)
Bromokresol hijau 3,8 – 5,4 Kuning → Biru Kuat–Lemah
Bromotimol biru (BTB) 6,0 – 7,6 Kuning → Biru Kuat–Kuat
Fenolftalein 8,2 – 10,0 Tak berwarna → Merah muda Lemah–Kuat (pH > 7)

4.6. Perhitungan Dasar Titrasi

Persamaan titik ekivalen (berlaku umum):

\( M_\text{asam} \times V_\text{asam} \times n_\text{asam} = M_\text{basa} \times V_\text{basa} \times n_\text{basa} \)

Di mana n = jumlah proton/gugus OH yang terlibat (valensi). Contoh: H₂SO₄ → n = 2; Ca(OH)₂ → n = 2.

Titik setengah ekivalen (hanya untuk titrasi asam lemah/basa lemah):

\( V_\text{titran} = \tfrac{1}{2} V_\text{ekivalen} \quad \Rightarrow \quad \mathrm{pH} = \mathrm{p}K_a \text{ (untuk asam lemah)} \)

Ini digunakan secara eksperimen untuk menentukan nilai Ka suatu asam lemah.

Prinsip Pandu Akhir untuk Siswa
  1. Lihat kuat/lemah analit dan titran → tentukan jenis titrasi dan prediksi pH titik ekivalen.
  2. Hitung pH di empat titik: awal, sebelum titik ekivalen (penyangga), titik ekivalen (hidrolisis), dan setelah titik ekivalen (kelebihan titran).
  3. Pilih indikator yang rentang pH transisinya masuk di daerah loncatan vertikal.
  4. Titik setengah ekivalen → pH = pKa → cara eksperimen untuk menentukan Ka.
  5. Titrasi lemah–lemah → tidak ada loncatan tajam → hindari atau pakai pH meter.
  6. Gabungkan dengan penyangga & hidrolisis garam → semua titik pada kurva bisa dihitung!

Dengan poin-poin di atas, kamu sudah punya kerangka logika lengkap untuk semua jenis titrasi asam-basa dan cara membaca kurvanya. Gabungkan dengan ringkasan asam-basa, hidrolisis, dan penyangga sebelumnya!


Gunakan tab di atas untuk belajar secara sistematis. KaTeX sudah aktif di semua rumus.

Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info