Simulasi Perbandingan Laju Reaksi pada Berbagai Suhu

Rabu, 14 Oktober 2026

Simulasi ini menggunakan representasi reaksi natrium tiosulfat dengan asam klorida:
S2O32− + 2 H+ → S + SO2 + H2O.
Tujuan simulasi membandingkan pengaruh suhu terhadap laju reaksi dapat dilakukan pengaturan suhu tiap kotak dengan slider.

Untuk simulasi kimia interaktif lain dari blog ini sila klik tautan ini.

Landasan Teori

Teori tumbukan. Reaksi terjadi bila partikel bertumbukan dengan energi minimal sebesar energi aktivasi (Ea) dan orientasi yang tepat. Suhu adalah ukuran energi kinetik rata-rata partikel. Pada suhu tertentu energi partikel beragam, dan hanya partikel berenergi cukup yang menghasilkan tumbukan efektif.

Dua efek kenaikan suhu.

  • Partikel bergerak lebih cepat sehingga frekuensi tumbukan sedikit bertambah. Efek ini kecil.
  • Fraksi tumbukan dengan energi ≥ Ea bertambah sangat besar. Inilah penyebab utama naiknya laju reaksi.

Hubungan ini dinyatakan oleh persamaan Arrhenius dengan T dalam kelvin (K = °C + 273):

k = A · e−Ea/RT

Suhu berada di pangkat sehingga kenaikan suhu yang kecil dapat menaikkan k cukup besar. Sebagai aturan praktis, banyak reaksi berlangsung sekitar 2 sampai 3 kali lebih cepat untuk setiap kenaikan 10 °C. Bila laju menjadi 2 kali tiap naik 10 °C:

Kenaikan suhu0 °C+10 °C+20 °C+30 °C
Laju relatif1248

Penting: suhu tidak mengubah Ea dan tidak mengubah jumlah produk akhir. Suhu hanya mengubah seberapa banyak partikel yang mampu melewati Ea, sehingga hanya laju reaksi yang berubah. Berbeda dengan katalis, suhu tidak menurunkan Ea.

Model dalam Simulasi

  • Tiap kotak berisi 40 partikel A (oranye, mewakili ion tiosulfat) dan 400 partikel B (biru, mewakili ion H+, berlebih). Posisi dan kecepatan awal kedua kotak identik, kecuali suhu yang diatur slider.
  • Suhu menentukan kecepatan gerak partikel. Tumbukan A dengan B efektif hanya bila energinya mencapai Ea, yang sama di kedua kotak. Bila efektif, A menjadi produk (hijau) dan satu B terpakai. Bila tidak, keduanya saling memantul. Persamaan reaksi disederhanakan menjadi A + B → produk.
  • Warna latar kotak menunjukkan suhu (biru = dingin, merah = panas). Reaksi dianggap selesai bila 90% A telah menjadi produk. Satuan energi dan waktu bersifat relatif.

Cara Menjalankan Simulasi

  1. Geser slider suhu di bawah tiap kotak (awal: 30 °C untuk kotak A dan 60 °C untuk kotak B). Untuk perbandingan yang adil, atur suhu sebelum menekan Mulai.
  2. Klik ▶ Mulai. Amati kecepatan gerak partikel, kilatan oranye (tumbukan efektif), dan perubahan A oranye menjadi hijau.
  3. Baca keterangan di bawah kotak: laju sesaat dan persentase tumbukan efektif.
  4. Amati Grafik 1 (distribusi energi tumbukan, berubah mengikuti slider), Grafik 2 (sisa A), dan Grafik 3 (laju).
  5. Slider boleh digeser saat simulasi berjalan atau dijeda. Perhatikan kemiringan kurva yang berubah setelah suhu diubah.
  6. Coba beberapa pasangan suhu, misalnya 20 °C dan 100 °C, 40 °C dan 50 °C, serta suhu yang sama di kedua kotak. Klik ↺ Ulang untuk mengulang dengan suhu sesuai slider.
Kotak A
Suhu A:
Kotak B
Suhu B:
Pereaksi APereaksi BProduk
Grafik 1. Distribusi energi tumbukan

Daerah berwarna di kanan garis Ea adalah fraksi tumbukan yang efektif. Sumbu vertikal dipotong agar ekor distribusi terlihat. Bentuk distribusi mengikuti model 2 dimensi ini.

Grafik 2. Sisa pereaksi A terhadap waktu
Grafik 3. Laju reaksi terhadap waktu

Interpretasi Hasil Simulasi

  • Grafik 1. Pada suhu lebih tinggi, kurva melebar dan daerah di kanan Ea menjadi lebih besar. Artinya lebih banyak tumbukan yang berenergi ≥ Ea. Kenaikan suhu yang kecil sudah membuat fraksi ini bertambah cukup besar.
  • Grafik 2 dan 3. Kotak bersuhu lebih tinggi menurunkan A lebih curam dan laju awalnya lebih besar. Laju kemudian menurun karena A makin sedikit. Selisih waktu selesai menunjukkan bahwa suhu lebih tinggi mempercepat reaksi.
  • Persentase tumbukan efektif. Jumlah tumbukan A–B per detik hanya sedikit lebih banyak pada suhu tinggi, tetapi persentase yang efektif naik jelas. Jadi penyebab utama bertambahnya laju adalah bertambahnya fraksi tumbukan berenergi cukup, bukan sekadar bertambahnya jumlah tumbukan.
  • Mengubah suhu saat berjalan. Bila slider digeser di tengah reaksi, kemiringan kurva ikut berubah mulai saat itu. Ini menunjukkan laju reaksi ditentukan oleh suhu pada saat tersebut.
  • Hasil akhir sama. Kedua kotak berakhir dengan A yang hampir semuanya menjadi produk. Suhu mengubah seberapa cepat reaksi berlangsung, bukan seberapa banyak produk terbentuk.

Kesimpulan: makin tinggi suhu, makin besar energi kinetik partikel, makin banyak tumbukan yang energinya mencapai Ea, sehingga laju reaksi makin besar.

Batasan model. Simulasi ini 2 dimensi dan disederhanakan: Ea tidak bergantung suhu, tidak ada faktor orientasi, dan satuan energi relatif. Kenaikan laju per 10 °C pada simulasi tidak harus tepat 2 kali, dan hasil tiap putaran sedikit berbeda karena unsur acak.

Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info