Penentuan Kadar Protein dengan Metode Kjeldahl

Senin, 23 Maret 2026

Kemampuan menentukan kadar protein dalam bahan pangan, produk farmasi, maupun sampel biologis merupakan salah satu keterampilan analitik yang fundamental dalam kimia. Metode Kjeldahl merupakan salah satu metode yang paling populer untuk tujuan tersebut. Metode ini telah menjadi standar internasional dalam analisis protein selama lebih dari satu abad karena akurasi dan reproduktibilitasnya yang tinggi.

Prinsipnya sederhana namun elegan: nitrogen organik dalam sampel dikonversi menjadi ion amonium melalui pemanasan bersama asam sulfat pekat, kemudian amonia yang dibebaskan diukur secara titrimetri untuk memperoleh kadar nitrogen, yang selanjutnya dikalikan dengan faktor konversi tertentu untuk mendapatkan kadar protein.

Landasan Teori
1. Nitrogen sebagai Penanda Protein

Protein tersusun dari rantai panjang asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Setiap asam amino mengandung paling sedikit satu gugus amino (–NH2) dan satu gugus karboksil (–COOH). Berbeda dari lemak dan karbohidrat yang sama sekali tidak mengandung nitrogen, protein secara konsisten mengandung nitrogen dalam proporsi yang relatif tetap, yakni rata-rata sekitar 16% dari massanya.

Fakta inilah yang menjadi landasan metode Kjeldahl: daripada mengukur protein secara langsung (yang sulit dilakukan), kita cukup mengukur kandungan nitrogen dalam sampel, lalu mengalikannya dengan faktor konversi (\(F\)) untuk memperkirakan kadar protein:

Hubungan dasar %N dan %Protein
\[\begin{aligned} F &= \frac{100\%}{\%N_\text{rata-rata}} = \frac{100}{16} = 6{,}25 \end{aligned}\]
\[\begin{aligned} \%\text{Protein} &= \%N \times F \end{aligned}\]
2. Faktor Konversi Nitrogen ke Protein (F)

Faktor \(F = 6{,}25\) adalah nilai umum yang berlaku untuk campuran protein acak. Namun, berbagai sumber protein memiliki komposisi asam amino yang berbeda, sehingga rata-rata persentase nitrogen tidak selalu tepat 16%. Oleh karena itu, dalam analisis yang lebih presisi, digunakan faktor \(F\) yang spesifik untuk masing-masing sumber, sebagaimana ditunjukkan pada tabel berikut.

Sumber Protein %N
Rata-rata (%)
Faktor
F
Catatan
Umum/Daging/
Campuran
16,00 6,25 Nilai default jika sumber tidak diketahui
Susu/Kasein 15,67 6,38 Standar SNI untuk produk susu
Gandum/Tepung
terigu
17,54 5,70 Digunakan untuk produk berbasis gluten
Kedelai 17,51 5,71 Isolat dan tepung kedelai
Gelatin 18,02 5,55 Tinggi Pro dan Gly, rendah Trp
Kacang tanah 16,67 6,00 Produk kacang dan legum tertentu
Catatan: Metode Kjeldahl mengukur total nitrogen dalam sampel, termasuk nitrogen yang berasal dari senyawa bukan protein (Non-Protein Nitrogen, NPN) seperti urea, kreatin, asam amino bebas, dan nukleotida. Adanya NPN menyebabkan kadar protein sedikit overestimated. Kasus ekstrem adalah pemalsuan susu dengan melamin (C3H6N6) yang kaya nitrogen namun tidak bernilai gizi.
3. Gambaran Umum Metode Kjeldahl

Metode Kjeldahl terdiri dari tiga tahap berurutan:

I Destruksi
N organik dikonversi ke (NH4)2SO4 oleh H2SO4 pekat pada suhu ~380–400°C
II Destilasi
NaOH ditambahkan; NH4+ dibebaskan sebagai NH3(g) dan ditangkap oleh larutan penyerap
III Titrasi
NH3 yang tertangkap dititrasi; dari mol NH3 dihitung mol N, lalu %N dan %protein
4. Tahap I: Destruksi

Sampel dipanaskan dalam labu Kjeldahl bersama H2SO4 pekat dan katalis (umumnya campuran K2SO4 dan CuSO4, atau Se). Pemanasan pada suhu tinggi menyebabkan ikatan C–N, C–C, dan C–H dalam protein terputus. Karbon dan hidrogen teroksidasi menjadi CO2 dan H2O, sedangkan nitrogen organik dikonversi menjadi ion amonium NH4+ dalam bentuk garam (NH4)2SO4.

\[\ce{Protein\text{(N organik)} + H2SO4_{(pekat)} ->[\text{katalis},\, \Delta] (NH4)2SO4 + CO2(g) + H2O}\]

Proses destruksi dinyatakan selesai ketika larutan berubah menjadi jernih dan tidak berwarna atau biru pucat (jika menggunakan CuSO4). Durasi destruksi umumnya 1–2 jam.

Fungsi katalis: K2SO4 berfungsi menaikkan titik didih H2SO4 sehingga suhu destruksi lebih tinggi; CuSO4 atau Se berfungsi mempercepat reaksi oksidasi nitrogen. Tanpa katalis, destruksi berlangsung sangat lambat.
5. Tahap II: Destilasi

Setelah destruksi, larutan (NH4)2SO4 dipindahkan ke unit destilasi. Larutan NaOH pekat ditambahkan secara berlebih untuk membuat suasana sangat basa (pH > 11). Dalam kondisi basa, ion amonium NH4+ terurai melepaskan gas amonia NH3.

\[\ce{(NH4)2SO4 + 2NaOH -> Na2SO4 + 2NH3(g) + 2H2O}\]

Gas NH3 yang terbentuk dialirkan melalui kondensor dan diserap oleh larutan penyerap. Terdapat dua pilihan larutan penyerap yang umum digunakan, dan pilihan ini menentukan metode titrasi yang akan digunakan pada tahap berikutnya.

6. Tahap III: Titrasi (Tiga Varian)

Berdasarkan jenis larutan penyerap dan metode titrasinya, terdapat tiga varian yang umum dijumpai dalam literatur maupun soal olimpiade.

Varian A: Titrasi Langsung (Penyerap H3BO3)

NH3 diserap oleh larutan asam borat (H3BO3). Reaksi penyerapan membentuk ion dihidrogen borat yang bersifat basa:

Penyerapan: \[\ce{NH3 + H3BO3 -> NH4+ + H2BO3-}\]
Titrasi: \[\ce{H2BO3- + HCl -> H3BO3 + Cl-}\]

Karena H2BO3- bereaksi dengan HCl dalam rasio 1:1, dan H2BO3- terbentuk dari NH3 dalam rasio 1:1, maka secara keseluruhan: 1 mol NH3 setara dengan 1 mol HCl. Rumus perhitungannya:

Varian A: Titrasi Langsung
\[\begin{aligned} n_{\text{HCl}} &= \frac{V_{\text{HCl}} \times N_{\text{HCl}}}{1000} \\[8pt] n_{\text{NH}_3} &= n_{\text{HCl}} \quad (\text{rasio 1:1}) \\[8pt] m_N\ (\text{mg}) &= n_{\text{NH}_3} \times M_N \times 1000 \\[8pt] \%N &= \frac{m_N\ (\text{mg})}{m_\text{sampel}\ (\text{mg})} \times 100\% \end{aligned}\]
Varian B: Back-Titration tanpa Blanko (Penyerap HCl Berlebih)

NH3 diserap oleh larutan HCl standar yang disiapkan berlebih (volumenya sudah diketahui pasti). NH3 bereaksi dengan sebagian HCl tersebut membentuk NH4Cl.

Penyerapan: \[\ce{NH3 + HCl -> NH4Cl}\]

Sisa HCl yang tidak bereaksi dengan NH3 kemudian dititrasi balik (back-titration) dengan NaOH standar hingga titik ekuivalen.

Back-titrasi: \[\ce{HCl_{(sisa)} + NaOH -> NaCl + H2O}\]

Mol NH3 diperoleh dari selisih mol HCl awal dikurangi mol NaOH yang digunakan:

Varian B: Back-Titration tanpa Blanko
\[\begin{aligned} n_{\text{HCl, awal}} &= \frac{V_{\text{HCl}} \times M_{\text{HCl}}}{1000} \\[8pt] n_{\text{NaOH}} &= \frac{V_{\text{NaOH}} \times M_{\text{NaOH}}}{1000} \\[8pt] n_{\text{NH}_3} &= n_{\text{HCl, awal}} - n_{\text{NaOH, back}} \\[8pt] m_N\ (\text{mg}) &= n_{\text{NH}_3} \times 14{,}007 \times 1000 \end{aligned}\]
Varian C: Back-Titration dengan Larutan Blanko

Metode ini menggunakan dua titrasi: titrasi blanko (dilakukan tanpa sampel, hanya HCl penyerap + NaOH) dan titrasi sampel. Karena kedua titrasi menggunakan volume HCl penyerap yang sama, perbedaan volume NaOH yang digunakan langsung setara dengan mol NH3 dari sampel.

Logika blanko: Titrasi blanko mengukur berapa mol NaOH yang dibutuhkan untuk menetralisasi seluruh HCl penyerap (tanpa NH3). Pada titrasi sampel, sebagian HCl sudah dipakai oleh NH3, sehingga NaOH yang dibutuhkan lebih sedikit. Selisihnya setara dengan mol NH3.
Varian C: Back-Titration dengan Blanko
\[\begin{aligned} \Delta V &= V_{\text{NaOH, blanko}} - V_{\text{NaOH, sampel}} \\[8pt] n_{\text{NH}_3} &= \frac{\Delta V \times N_{\text{NaOH}}}{1000} \\[8pt] m_N\ (\text{mg}) &= n_{\text{NH}_3} \times 14{,}007 \times 1000 \end{aligned}\]
7. Rumus Akhir dan Satuan

Setelah diperoleh massa nitrogen (\(m_N\) dalam satuan mg), kadar nitrogen dan kadar protein dihitung dengan:

Rumus Ringkasan
\[\begin{aligned} \%N &= \frac{m_N\ \text{(mg)}}{m_\text{sampel}\ \text{(mg)}} \times 100\% \\[10pt] \%\text{Protein} &= \%N \times F \end{aligned}\]

Dalam beberapa referensi, rumus %N ditulis dalam satu persamaan kompak:

\[\%N = \frac{n_{\text{NH}_3} \times M_N \times 1000}{m_\text{sampel}\ \text{(mg)}} \times 100\%\]

di mana \(M_N = 14{,}007\ \text{g/mol}\) adalah massa molar nitrogen.

Soal Latihan OSN
Soal 1
Titrasi Langsung - Analisis Daging Sapi

Seorang analis pangan melakukan analisis kadar protein pada sampel daging sapi segar menggunakan metode Kjeldahl. Setelah proses destruksi dan destilasi, gas NH3 yang terlepas diserap oleh larutan H3BO3 berlebih. Larutan hasil penyerapan kemudian dititrasi dengan larutan HCl standar menggunakan indikator campuran (metil merah + bromokresol hijau) hingga warna berubah dari hijau menjadi abu-abu kemerahan.

Data Pengamatan
  • Massa sampel daging sapi: 500,0 mg
  • Volume HCl titran: 18,50 mL
  • Normalitas HCl: 0,1000 N
  • Faktor konversi: F = 6,25 (daging)

Pertanyaan: Tentukan (a) kadar nitrogen (%N) dan (b) kadar protein dalam sampel daging sapi tersebut.

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Mol HCl yang bereaksi

Mol HCl setara dengan mol NH3 yang tertangkap (rasio 1:1 sesuai reaksi titrasi).

\[\begin{aligned} n_{\text{HCl}} &= \frac{V_{\text{HCl}} \times N_{\text{HCl}}}{1000} \\[6pt] &= \frac{18{,}50\ \text{mL} \times 0{,}1000\ \text{N}}{1000} \\[6pt] &= 1{,}850 \times 10^{-3}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 2: Massa nitrogen
\[\begin{aligned} n_{\text{NH}_3} &= n_{\text{HCl}} = 1{,}850 \times 10^{-3}\ \text{mol} \\[6pt] n_N &= n_{\text{NH}_3} = 1{,}850 \times 10^{-3}\ \text{mol} \\[6pt] m_N &= n_N \times M_N \times 1000 \\[6pt] &= 1{,}850 \times 10^{-3} \times 14{,}007 \times 1000 \\[6pt] &= 25{,}913\ \text{mg} \end{aligned}\]
Langkah 3: %N dan %Protein
\[\begin{aligned} \%N &= \frac{m_N}{m_\text{sampel}} \times 100\% \\[6pt] &= \frac{25{,}913\ \text{mg}}{500{,}0\ \text{mg}} \times 100\% \\[6pt] &= 5{,}183\% \\[10pt] \%\text{Protein} &= \%N \times F \\[6pt] &= 5{,}183\% \times 6{,}25 \\[6pt] &= 32{,}39\% \end{aligned}\]
Jawaban: %N = 5,183%  |  Kadar Protein = 32,39% (b/b)
Soal 2
Back-Titration tanpa Blanko - Tepung Terigu

Dalam pengendalian mutu produk tepung terigu, dilakukan analisis kadar protein menggunakan metode Kjeldahl dengan penyerap HCl standar berlebih. Setelah destilasi, sisa HCl yang tidak bereaksi dengan NH3 dititrasi balik dengan NaOH standar.

Data Pengamatan
  • Massa sampel tepung terigu: 1000,0 mg
  • Volume HCl penyerap: 50,00 mL
  • Molaritas HCl penyerap: 0,1000 M
  • Volume NaOH back-titration: 35,40 mL
  • Molaritas NaOH: 0,1000 M
  • Faktor konversi: F = 5,70 (gandum)

Pertanyaan: Tentukan %N dan kadar protein dalam tepung terigu tersebut.

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Mol HCl penyerap (awal)
\[\begin{aligned} n_{\text{HCl, awal}} &= \frac{V_{\text{HCl}} \times M_{\text{HCl}}}{1000} \\[6pt] &= \frac{50{,}00 \times 0{,}1000}{1000} \\[6pt] &= 5{,}000 \times 10^{-3}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 2: Mol NaOH back-titration (= sisa HCl)
\[\begin{aligned} n_{\text{NaOH}} &= \frac{V_{\text{NaOH}} \times M_{\text{NaOH}}}{1000} \\[6pt] &= \frac{35{,}40 \times 0{,}1000}{1000} \\[6pt] &= 3{,}540 \times 10^{-3}\ \text{mol} \end{aligned}\]

Mol NaOH = mol HCl sisa (yang tidak bereaksi dengan NH3).

Langkah 3: Mol NH3 dari sampel
\[\begin{aligned} n_{\text{NH}_3} &= n_{\text{HCl, awal}} - n_{\text{NaOH, back}} \\[6pt] &= 5{,}000 \times 10^{-3} - 3{,}540 \times 10^{-3} \\[6pt] &= 1{,}460 \times 10^{-3}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 4: %N dan %Protein
\[\begin{aligned} m_N &= 1{,}460 \times 10^{-3} \times 14{,}007 \times 1000 = 20{,}450\ \text{mg} \\[8pt] \%N &= \frac{20{,}450}{1000{,}0} \times 100\% = 2{,}045\% \\[8pt] \%\text{Protein} &= 2{,}045\% \times 5{,}70 = 11{,}66\% \end{aligned}\]
Jawaban: %N = 2,045%  |  Kadar Protein = 11,66% (b/b), sesuai rentang tipikal tepung terigu protein sedang (10–12%).
Soal 3
Back-Titration dengan Blanko - Susu Bubuk Full Cream

Analisis Kjeldahl dilakukan pada sampel susu bubuk full cream. NH3 hasil destilasi diserap ke dalam larutan HCl standar. Titrasi balik dilakukan dengan NaOH 0,05000 M. Untuk mengoreksi kesalahan sistematis pada proses penyerapan, dilakukan juga titrasi blanko (tanpa sampel, hanya HCl penyerap).

Data Pengamatan
  • Massa sampel susu bubuk: 250,0 mg
  • Molaritas NaOH titran: 0,05000 M
  • Volume NaOH untuk titrasi blanko: 30,20 mL
  • Volume NaOH untuk titrasi sampel: 15,80 mL
  • Faktor konversi: F = 6,38 (susu/kasein)

Pertanyaan: Tentukan %N dan kadar protein dalam sampel susu bubuk tersebut.

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Selisih volume NaOH (ΔV)

Volume blanko lebih besar karena semua HCl penyerap harus dinetralkan. Pada titrasi sampel, sebagian HCl sudah dipakai oleh NH3, sehingga NaOH yang diperlukan lebih sedikit. Selisihnya setara mol NH3.

\[\begin{aligned} \Delta V &= V_{\text{blanko}} - V_{\text{sampel}} \\[6pt] &= 30{,}20\ \text{mL} - 15{,}80\ \text{mL} \\[6pt] &= 14{,}40\ \text{mL} \end{aligned}\]
Langkah 2: Mol NH3
\[\begin{aligned} n_{\text{NH}_3} &= \frac{\Delta V \times N_{\text{NaOH}}}{1000} \\[6pt] &= \frac{14{,}40 \times 0{,}05000}{1000} \\[6pt] &= 7{,}200 \times 10^{-4}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 3: %N dan %Protein
\[\begin{aligned} m_N &= 7{,}200 \times 10^{-4} \times 14{,}007 \times 1000 = 10{,}085\ \text{mg} \\[8pt] \%N &= \frac{10{,}085}{250{,}0} \times 100\% = 4{,}034\% \\[8pt] \%\text{Protein} &= 4{,}034\% \times 6{,}38 = 25{,}74\% \end{aligned}\]
Jawaban: %N = 4,034%  |  Kadar Protein = 25,74% (b/b), sesuai rentang tipikal susu bubuk full cream (24–27%).
Soal 4
Kontaminasi NPN - Melamin dalam Susu Formula

Pada tahun 2008, skandal pemalsuan susu formula di Tiongkok mengejutkan dunia. Melamin (C3H6N6, Mr = 126,12 g/mol) ditambahkan ke susu encer untuk menaikkan hasil uji protein Kjeldahl secara artifisial, karena melamin kaya nitrogen namun tidak bernilai gizi dan bersifat toksik.

Sebuah sampel susu formula (500,0 mg) dianalisis Kjeldahl dan diperoleh %N terukur = 4,80%. Dari analisis terpisah menggunakan HPLC, diketahui bahwa kadar melamin dalam sampel = 0,50% (b/b).

Data
  • Massa sampel: 500,0 mg
  • %N Kjeldahl terukur: 4,80%
  • Kadar melamin: 0,50% (b/b)
  • Mr melamin (C3H6N6): 126,12 g/mol
  • Faktor konversi: F = 6,38 (susu)

Pertanyaan: (a) Hitung kontribusi nitrogen dari melamin (mg N per 500,0 mg sampel). (b) Hitung kadar protein sejati setelah koreksi NPN. (c) Berapa persen overestimasi protein jika melamin diabaikan?

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Kontribusi N dari melamin (poin a)

Pertama, hitung massa melamin dalam 500,0 mg sampel, lalu hitung fraksi N dalam melamin. Melamin C3H6N6 mengandung 6 atom N per molekul.

\[\begin{aligned} m_\text{melamin} &= \frac{0{,}50}{100} \times 500{,}0\ \text{mg} = 2{,}500\ \text{mg} \\[10pt] \%N_\text{melamin} &= \frac{6 \times 14{,}007}{126{,}12} \times 100\% \\[6pt] &= \frac{84{,}042}{126{,}12} \times 100\% \\[6pt] &= 66{,}64\% \\[10pt] m_{N,\,\text{melamin}} &= 2{,}500\ \text{mg} \times \frac{66{,}64}{100} \\[6pt] &= 1{,}666\ \text{mg} \end{aligned}\]
Langkah 2: Kadar protein sejati (poin b)
\[\begin{aligned} m_{N,\,\text{total}} &= \frac{4{,}80}{100} \times 500{,}0\ \text{mg} = 24{,}00\ \text{mg} \\[8pt] m_{N,\,\text{protein}} &= m_{N,\,\text{total}} - m_{N,\,\text{melamin}} \\[6pt] &= 24{,}00 - 1{,}666 = 22{,}33\ \text{mg} \\[10pt] \%N_\text{protein} &= \frac{22{,}33}{500{,}0} \times 100\% = 4{,}467\% \\[8pt] \%\text{Protein sejati} &= 4{,}467\% \times 6{,}38 = 28{,}50\% \end{aligned}\]
Langkah 3: Persentase overestimasi (poin c)
\[\begin{aligned} \%\text{Protein semu} &= 4{,}80\% \times 6{,}38 = 30{,}62\% \\[8pt] \text{Overestimasi} &= \frac{30{,}62\% - 28{,}50\%}{28{,}50\%} \times 100\% \\[6pt] &= \frac{2{,}12}{28{,}50} \times 100\% \\[6pt] &= 7{,}44\% \end{aligned}\]
(a) N dari melamin = 1,666 mg  |  (b) Protein sejati = 28,50%  |  (c) Overestimasi = 7,44%
Hanya 0,50% melamin dalam sampel sudah cukup meningkatkan kadar protein terukur sebesar 7,44%. Kasus ini menunjukkan keterbatasan mendasar metode Kjeldahl dalam membedakan nitrogen protein dari NPN.
Soal 5
Soal Terbalik - Verifikasi Klaim Kadar Protein Isolat Kedelai

Sebuah produk isolat protein kedelai diklaim oleh produsennya mengandung protein sebesar 40,0% (b/b). Seorang analis ingin memverifikasi klaim tersebut menggunakan metode Kjeldahl titrasi langsung. Ia hanya memiliki larutan HCl standar dengan normalitas 0,05000 N.

Data
  • Massa sampel yang akan dianalisis: 800,0 mg
  • Klaim kadar protein: 40,0% (b/b)
  • Normalitas HCl yang tersedia: 0,05000 N
  • Faktor konversi: F = 5,71 (kedelai)

Pertanyaan: Berapa volume HCl (dalam mL) yang seharusnya dibutuhkan jika klaim produsen terbukti benar?

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Hitung %N dari %Protein (mundur)
\[\begin{aligned} \%N &= \frac{\%\text{Protein}}{F} = \frac{40{,}0\%}{5{,}71} = 7{,}005\% \end{aligned}\]
Langkah 2: Massa nitrogen dalam sampel
\[\begin{aligned} m_N &= \frac{\%N}{100\%} \times m_\text{sampel} \\[6pt] &= \frac{7{,}005}{100} \times 800{,}0\ \text{mg} \\[6pt] &= 56{,}04\ \text{mg} \end{aligned}\]
Langkah 3: Mol NH3 yang harus dihasilkan
\[\begin{aligned} n_{\text{NH}_3} &= \frac{m_N}{M_N \times 1000} \\[6pt] &= \frac{56{,}04\ \text{mg}}{14{,}007\ \text{g/mol} \times 1000\ \text{mg/g}} \\[6pt] &= 4{,}001 \times 10^{-3}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 4: Volume HCl yang diperlukan

Dalam titrasi langsung, mol HCl = mol NH3.

\[\begin{aligned} V_{\text{HCl}} &= \frac{n_{\text{HCl}}}{N_{\text{HCl}}} \times 1000 \\[6pt] &= \frac{4{,}001 \times 10^{-3}\ \text{mol}}{0{,}05000\ \text{N}} \times 1000 \\[6pt] &= 80{,}02\ \text{mL} \end{aligned}\]
Volume HCl yang dibutuhkan = 80,02 mL
Jika dalam percobaan diperoleh volume HCl yang berbeda signifikan dari 80,02 mL, maka klaim kadar protein 40,0% dari produsen perlu dipertanyakan.
Soal 6
Analisis Dumas (CHN Analyzer) - Kasein Murni

Selain Kjeldahl, metode Dumas (analisis pembakaran) juga digunakan untuk menentukan kadar nitrogen. Dalam metode ini, sampel dibakar sempurna dalam aliran oksigen murni pada suhu tinggi (~900°C). Nitrogen dalam sampel teroksidasi menjadi NOx, lalu direduksi oleh tembaga panas menjadi N2(g). Gas N2 yang terbentuk diukur volumenya setelah dipisahkan dari CO2 dan H2O.

Data
  • Massa kasein yang dibakar: 45,00 mg
  • Volume N2 yang dihasilkan: 5,93 mL
  • Suhu gas: 27°C (= 300 K)
  • Tekanan gas: 1 atm
  • Konstanta gas: R = 0,08206 L·atm/(mol·K)
  • Faktor konversi: F = 6,38 (kasein)

Pertanyaan: Tentukan %N dan kadar kasein sebagai protein menggunakan persamaan gas ideal.

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Mol N2 dari persamaan gas ideal
\[\begin{aligned} PV &= nRT \\[6pt] n_{\text{N}_2} &= \frac{PV}{RT} \\[6pt] &= \frac{1\ \text{atm} \times 5{,}93 \times 10^{-3}\ \text{L}}{0{,}08206\ \text{L\,atm\,mol}^{-1}\text{K}^{-1} \times 300\ \text{K}} \\[6pt] &= \frac{5{,}93 \times 10^{-3}}{24{,}618} \\[6pt] &= 2{,}409 \times 10^{-4}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 2: Mol atom N

Tiap molekul N2 mengandung 2 atom N:

\[\begin{aligned} n_N &= 2 \times n_{\text{N}_2} \\[6pt] &= 2 \times 2{,}409 \times 10^{-4} \\[6pt] &= 4{,}818 \times 10^{-4}\ \text{mol} \end{aligned}\]
Langkah 3: %N dan %Protein
\[\begin{aligned} m_N &= 4{,}818 \times 10^{-4} \times 14{,}007 \times 1000 \\[6pt] &= 6{,}748\ \text{mg} \\[10pt] \%N &= \frac{6{,}748}{45{,}00} \times 100\% \\[6pt] &= 14{,}996\% \approx 15{,}00\% \\[10pt] \%\text{Protein} &= 15{,}00\% \times 6{,}38 = 95{,}70\% \end{aligned}\]
%N = 15,00%  |  Kadar Protein (kasein) = 95,70%
Nilai ini wajar untuk kasein murni (isolat) yang memang seharusnya mengandung >90% protein. Metode Dumas dan Kjeldahl umumnya memberikan hasil yang sangat sebanding untuk sampel murni.
Soal 7
Analisis Duplo dan Presisi - Tepung Kedelai

Dalam validasi metode analitik, presisi diuji dengan cara melakukan pengukuran berulang pada sampel yang sama. Seorang analis melakukan analisis kadar protein secara duplo (dua ulangan paralel) pada tepung kedelai menggunakan metode Kjeldahl titrasi langsung.

Ulangan Massa Sampel (mg) Volume HCl (mL) Normalitas HCl (N)
1 250,0 16,82 0,1050
2 251,5 16,91 0,1050

Digunakan F = 5,71 (kedelai).

Pertanyaan: (a) Hitung %protein masing-masing ulangan. (b) Hitung rata-rata %protein. (c) Hitung simpangan baku (SD) dan simpangan baku relatif (RSD, dalam %). Gunakan rumus SD dengan pembagi \((n-1)\).

Lihat Pembahasan
Langkah 1: Ulangan 1
\[\begin{aligned} n_{\text{HCl},1} &= \frac{16{,}82 \times 0{,}1050}{1000} = 1{,}7661 \times 10^{-3}\ \text{mol} \\[8pt] m_{N,1} &= 1{,}7661 \times 10^{-3} \times 14{,}007 \times 1000 = 24{,}737\ \text{mg} \\[8pt] \%N_1 &= \frac{24{,}737}{250{,}0} \times 100\% = 9{,}895\% \\[8pt] \%P_1 &= 9{,}895\% \times 5{,}71 = 56{,}50\% \end{aligned}\]
Langkah 2: Ulangan 2
\[\begin{aligned} n_{\text{HCl},2} &= \frac{16{,}91 \times 0{,}1050}{1000} = 1{,}7756 \times 10^{-3}\ \text{mol} \\[8pt] m_{N,2} &= 1{,}7756 \times 10^{-3} \times 14{,}007 \times 1000 = 24{,}869\ \text{mg} \\[8pt] \%N_2 &= \frac{24{,}869}{251{,}5} \times 100\% = 9{,}888\% \\[8pt] \%P_2 &= 9{,}888\% \times 5{,}71 = 56{,}46\% \end{aligned}\]
Langkah 3: Rata-rata dan SD (poin b, c)
\[\begin{aligned} \overline{\%P} &= \frac{56{,}50\% + 56{,}46\%}{2} = 56{,}48\% \\[12pt] SD &= \sqrt{\frac{\sum_{i=1}^{n} (\%P_i - \overline{\%P})^2}{n - 1}} \\[8pt] &= \sqrt{\frac{(56{,}50 - 56{,}48)^2 + (56{,}46 - 56{,}48)^2}{2 - 1}} \\[8pt] &= \sqrt{\frac{(0{,}02)^2 + (-0{,}02)^2}{1}} \\[8pt] &= \sqrt{0{,}0004 + 0{,}0004} \\[8pt] &= \sqrt{0{,}0008} = 0{,}0283\% \\[12pt] RSD &= \frac{SD}{\overline{\%P}} \times 100\% \\[6pt] &= \frac{0{,}0283\%}{56{,}48\%} \times 100\% \\[6pt] &= 0{,}050\% \end{aligned}\]
(a) %P1 = 56,50%; %P2 = 56,46%  |  (b) Rata-rata = 56,48%  |  (c) SD = 0,028%; RSD = 0,050%
RSD sebesar 0,050% menunjukkan presisi yang sangat baik. Dalam praktik laboratorium, RSD di bawah 1% untuk duplo sudah dianggap memenuhi syarat presisi yang dapat diterima.

Simulasi Metode Kjeldahl
Dirancang oleh Urip.Info

Penentuan Kadar Protein melalui Analisis %N (Titrasi Langsung & Back-Titration)

Titrasi Langsung
(trap H3BO3)
Back-Titration
(trap HCl berlebih)
Back-Titration
(dengan larutan blanko)
NH3 hasil destilasi diserap larutan H3BO3, membentuk H2BO3-. Kemudian dititrasi langsung dengan HCl standar.
mol NH3 = mol HCl terpakai
Langkah Perhitungan
NH3 diserap larutan HCl standar berlebih. Sisa HCl yang tidak bereaksi dititrasi balik dengan NaOH standar.
mol NH3 = mol HClawal − mol NaOHback
Langkah Perhitungan
Digunakan dua titrasi: blanko (tanpa sampel, hanya HCl + NaOH) dan sampel. Selisih volume NaOH setara dengan mol NH3.
mol NH3 = (Vblanko − Vsampel) × NNaOH
Langkah Perhitungan
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info