1H-NMR (Nuclear Magnetic Resonance) atau spektroskopi resonansi magnet inti proton adalah teknik analisis yang digunakan untuk menentukan struktur molekul dengan menganalisis sinyal resonansi magnetik dari inti atom hidrogen (proton) dalam senyawa kimia. Untuk siswa SMA, khususnya dalam persiapan Olimpiade Kimia, pemahaman 1H-NMR difokuskan pada tiga aspek utama: jumlah sinyal, pola pembelahan (splitting), dan integrasi sinyal pada senyawa alifatik jenuh.
1. Konsep Dasar: Proton Ekuivalen
Proton-proton yang berada dalam lingkungan kimia yang sama disebut proton ekuivalen. Proton ekuivalen menghasilkan satu sinyal yang sama pada spektrum. Ada dua cara mengenali proton ekuivalen:
- Simetri molekul: Jika dua gugus H terhubungkan oleh sumbu simetri, keduanya ekuivalen.
- Posisi identik: H yang terikat pada C dengan lingkungan kimia identik bersifat ekuivalen.
Contoh proton ekuivalen:
- CH4: semua 4H ekuivalen → 1 sinyal
- CH3–CH3: semua 6H ekuivalen → 1 sinyal
- CH3–CH2–Cl: H pada CH3 ekuivalen satu sama lain, H pada CH2 ekuivalen satu sama lain, tetapi CH3 dan CH2 tidak ekuivalen → 2 sinyal
2. Jumlah Sinyal
Jumlah sinyal pada spektrum 1H-NMR sama dengan jumlah kelompok proton yang tidak ekuivalen dalam molekul. Langkah menentukannya:
- Gambar atau tulis struktur lengkap molekul.
- Identifikasi sumbu simetri (jika ada).
- Kelompokkan H yang berada di lingkungan kimia sama (ekuivalen).
- Jumlah kelompok = jumlah sinyal.
3. Pola Pembelahan Sinyal (Aturan n+1)
Pola pembelahan suatu sinyal ditentukan oleh jumlah proton pada atom C tetangga langsung (C yang bersebelahan dengan C yang mengandung H bersangkutan). Rumus yang digunakan:
di mana n = jumlah proton (H) pada semua C tetangga langsung.
| n (H tetangga) | Jumlah puncak | Nama pola | Singkatan |
|---|---|---|---|
| 0 | 1 | singlet | s |
| 1 | 2 | doublet | d |
| 2 | 3 | triplet | t |
| 3 | 4 | quartet | q |
| 4 | 5 | quintet | quint |
| 5 | 6 | sextet | sext |
| 6 | 7 | septet | sept |
| 7 | 8 | octet | oct |
| 8 | 9 | nonet | non |
| 9 | 10 | decet (destet) | dec |
Intensitas relatif tiap puncak dalam satu multiplet mengikuti koefisien segitiga Pascal:
| Pola | Rasio intensitas puncak | |||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| singlet | 1 | |||||||||
| doublet | 1 : 1 | |||||||||
| triplet | 1 : 2 : 1 | |||||||||
| quartet | 1 : 3 : 3 : 1 | |||||||||
| quintet | 1 : 4 : 6 : 4 : 1 | |||||||||
| septet | 1 : 6 : 15 : 20 : 15 : 6 : 1 | |||||||||

4. Integrasi Sinyal
Luas area di bawah setiap sinyal (integral) sebanding dengan jumlah proton yang menghasilkan sinyal tersebut. Perbandingan integral antar sinyal = perbandingan jumlah H masing-masing kelompok.
Contoh: CH3–CH2–Cl (kloroetana)
- Sinyal CH3: 3H
- Sinyal CH2: 2H
- Rasio integral = 3 : 2
Jika diketahui suatu senyawa punya 2 sinyal dengan rasio integral 3:1, bisa diduga ada gugus CH3 (3H) dan CH (1H), atau kelipatan yang sama.
5. Pergeseran Kimia (δ, Chemical Shift)
Pergeseran kimia (δ) diukur dalam ppm relatif terhadap standar TMS (tetrametilsilana, δ = 0 ppm). Nilai δ mencerminkan kerapatan elektron di sekitar proton: semakin kecil kerapatan elektron (proton lebih "telanjang"/deshielded), maka δ semakin besar (bergeser ke kiri/downfield).
| Jenis Proton | δ (ppm) |
|---|---|
| TMS (standar referensi) | 0 |
| Alkana —CH3, —CH2—, —CH— | 0,8 – 1,8 |
| Alkil halida —CH—X (X = F, Cl, Br, I) | 2,0 – 4,5 |
| Eter —O—CH— | 3,3 – 3,7 |
| Alkohol —CH—OH | 3,4 – 4,0 |
| Alkohol —OH | 0,5 – 5,0 (bervariasi) |
| Aldehida —CHO | 9,4 – 10,0 |
| Asam karboksilat —COOH | 10 – 12 |
| Alkena —CH= | 4,6 – 6,3 |
| Aromatik —ArH | 6,5 – 8,5 |
6. Contoh Analisis Spektrum 1H-NMR
a. CH4 (metana)
Jumlah sinyal: 1 | Pola: singlet (s)
- Semua 4H identik (ekuivalen) → 1 sinyal.
- Tidak ada C tetangga → n = 0 → singlet.

| Kelompok H | Jumlah H | n (H tetangga) | Pola |
|---|---|---|---|
| CH4 | 4 | 0 | singlet |
H pada CH4 terikat pada 1 C saja sehingga tidak punya H yang terikat pada C yang lain, serta posisi H simetris oleh karena itu pola sinyalnya adalah singlet dengan jumlah 1 sinyal.
b. CH3CH3 (etana)
Jumlah sinyal: 1 | Pola: singlet (s)
- Molekul simetris; sumbu simetri tepat di tengah ikatan C–C.
- Akibat simetri ini, semua 6H ekuivalen.
- Seolah tiap H hanya punya satu C (karena cermin), tidak ada C tetangga yang berbeda → n = 0 → singlet.

| Kelompok H | Jumlah H | n (H tetangga) | Pola |
|---|---|---|---|
| CH3–CH3 (ekuivalen) | 6 | 0 | singlet |
c. CH3CH2Cl (kloroetana)
Jumlah sinyal: 2 | Pola: triplet (CH3) dan quartet (CH2)
- H pada CH3: C tetangganya adalah CH2 yang mengikat 2H → n = 2 → triplet.
- H pada CH2: C tetangganya adalah CH3 yang mengikat 3H → n = 3 → quartet.
- Rasio integral CH3 : CH2 = 3 : 2.
| Kelompok H | Jumlah H | n (H tetangga) | Pola |
|---|---|---|---|
| CH3 | 3 | 2 (dari CH2) | triplet |
| CH2 | 2 | 3 (dari CH3) | quartet |
d. CH3CH2CH3 (propana)
Jumlah sinyal: 2 | Pola: triplet (CH3) dan septet (CH2)
- Molekul simetris; sumbu simetri tepat di CH2 tengah.
- Kedua gugus CH3 ekuivalen → terhitung sebagai satu sinyal.
- H pada CH3: C tetangganya adalah CH2 yang mengikat 2H → n = 2 → triplet.
- H pada CH2: C tetangganya adalah dua buah CH3, masing-masing mengikat 3H. Total n = 3 + 3 = 6 → septet.
- Rasio integral CH3 : CH2 = 6 : 2 = 3 : 1.

| Kelompok H | Jumlah H | n (H tetangga) | Pola |
|---|---|---|---|
| 2 × CH3 | 6 | 2 (dari CH2) | triplet |
| CH2 | 2 | 6 (dari 2 × CH3) | septet |
e. CH(CH3)3 (2-metilpropana / isobutana)
Jumlah sinyal: 2 | Pola: decet (CH) dan doublet (CH3)
- Tiga gugus CH3 ekuivalen satu sama lain (simetri tiga arah).
- H pada CH: punya tiga C tetangga, masing-masing CH3 mengikat 3H. Total n = 3 + 3 + 3 = 9 → decet (10 puncak). Karena intensitas puncak pinggir sangat rendah, sinyal ini sering tampak sebagai multiplet.
- H pada CH3: C tetangganya adalah CH yang hanya mengikat 1H → n = 1 → doublet.
- Rasio integral CH : CH3 = 1 : 9.
| Kelompok H | Jumlah H | n (H tetangga) | Pola |
|---|---|---|---|
| CH | 1 | 9 (dari 3 × CH3) | decet (multiplet) |
| 3 × CH3 | 9 | 1 (dari CH) | doublet |
f. CH3OH (metanol)
Jumlah sinyal: 2 | Pola: singlet (CH3) dan singlet (OH)
- H pada CH3: atom tetangga CH3 adalah O (bukan C yang membawa H), sehingga tidak ada coupling → n = 0 → singlet.
- H pada —OH: proton OH bersifat labil (exchangeable) sehingga tidak menunjukkan coupling dengan CH3 → singlet.
- Rasio integral CH3 : OH = 3 : 1.
| Kelompok H | Jumlah H | n | Pola |
|---|---|---|---|
| CH3 | 3 | 0 | singlet |
| —OH | 1 | 0 (labil) | singlet |
g. CH3CH2CH2CH3 (butana)
Jumlah sinyal: 2 | Pola: triplet (CH3) dan sextet (CH2)
- Molekul simetris; sumbu simetri di tengah ikatan C2–C3.
- Dua gugus CH3 (ujung) ekuivalen; dua gugus CH2 (tengah) ekuivalen.
- H pada CH3: tetangga CH2 mengikat 2H → n = 2 → triplet.
- H pada CH2 (tengah): punya dua C tetangga: CH3 (3H) dan CH2 ekuivalen lainnya (2H). Total n = 3 + 2 = 5 → sextet.
- Rasio integral CH3 : CH2 = 6 : 4 = 3 : 2.
| Kelompok H | Jumlah H | n (H tetangga) | Pola |
|---|---|---|---|
| 2 × CH3 | 6 | 2 | triplet |
| 2 × CH2 | 4 | 5 (3+2) | sextet |
h. CH3CH(OH)CH2CH3 (2-butanol)
Jumlah sinyal: 5 | Pola bervariasi
Penomoran: C1–C2(OH)–C3–C4
- CH3 (C1): tetangga C2 membawa 1H (CH) → n = 1 → doublet. (3H)
- CH (C2): tetangga C1 (3H) + C3 (2H) = 5H → n = 5 → sextet. (1H)
- CH2 (C3): tetangga C2 (1H) + C4 (3H) = 4H → n = 4 → quintet. (2H)
- CH3 (C4): tetangga C3 (2H) → n = 2 → triplet. (3H)
- —OH: proton labil → singlet. (1H)
- Rasio integral: 3 : 1 : 2 : 3 : 1
| Kelompok H | Jumlah H | n | Pola |
|---|---|---|---|
| CH3 (C1) | 3 | 1 | doublet |
| CH (C2) | 1 | 5 | sextet |
| CH2 (C3) | 2 | 4 | quintet |
| CH3 (C4) | 3 | 2 | triplet |
| —OH | 1 | 0 (labil) | singlet |
7. Strategi Identifikasi Struktur dari Data H-NMR (untuk Olimpiade)
Langkah sistematis saat menghadapi soal identifikasi struktur dari data 1H-NMR:
- Hitung derajat ketidakjenuhan (DBE) dari rumus molekul: DBE = (2C + 2 + N − H − X) / 2. Jika DBE = 0, senyawa jenuh.
- Hitung jumlah sinyal → tentukan jumlah kelompok H tidak ekuivalen.
- Baca rasio integrasi → tentukan jumlah H tiap sinyal.
- Baca pola splitting tiap sinyal → tentukan jumlah H di C tetangga.
- Baca nilai δ → perkirakan jenis gugus fungsi.
- Gabungkan informasi → rangkai struktur yang konsisten.
8. Keterbatasan Aturan n+1
- Aturan n+1 hanya berlaku jika semua proton tetangga memiliki konstanta kopling J yang sama (berlaku untuk senyawa sederhana di tingkat SMA).
- Jika dua gugus tetangga memiliki J berbeda, pola yang terbentuk adalah doublet of doublet (dd), bukan triplet, dan seterusnya.
- Proton pada gugus —OH, —NH2, dan —COOH umumnya tidak menunjukkan coupling karena pertukaran proton yang cepat.
- Ekuivalensi yang sebenarnya (homotopic vs enantiotopic vs diastereotopic) memerlukan analisis lebih mendalam di tingkat perguruan tinggi.
Ringkasan
| Aspek | Yang Ditentukan | Caranya |
|---|---|---|
| Jumlah sinyal | Banyak kelompok H tidak ekuivalen | Cari sumbu simetri; kelompokkan H ekuivalen |
| Pola splitting | Bentuk multiplet tiap sinyal | Hitung total H di C tetangga, gunakan n+1 |
| Integrasi | Jumlah H tiap kelompok | Bandingkan luas area tiap sinyal |
| Chemical shift (δ) | Jenis gugus fungsi/lingkungan kimia | Bandingkan dengan tabel referensi δ |
Untuk prediksi struktur yang lebih akurat, diperlukan kombinasi data 1H-NMR, 13C-NMR, spektrometri massa (MS), dan spektroskopi IR. Namun untuk tingkat SMA dan Olimpiade Kimia, pemahaman keempat aspek di atas sudah memberikan fondasi yang kuat.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar