Reaksi Kompleksasi: Bilangan Koordinasi dan Konstanta Pembentukan
Jumat, 20 Maret 2026
1. Reaksi Kompleksasi
Reaksi kompleksasi adalah reaksi pembentukan ion kompleks (senyawa koordinasi) melalui interaksi antara ion logam pusat dengan satu atau lebih molekul atau ion yang disebut ligan. Reaksi ini berlangsung dalam kesetimbangan dan dapat dibalik.
Landasan teori: Dalam kerangka teori asam-basa Lewis, ion logam pusat berperan sebagai asam Lewis (akseptor pasangan elektron), sementara ligan berperan sebagai basa Lewis (donor pasangan elektron). Ikatan yang terbentuk disebut ikatan koordinasi atau ikatan datif, karena kedua elektron berasal dari satu pihak saja, yaitu ligan.
Mengapa ion logam dapat berperan sebagai asam Lewis? Ion logam transisi memiliki orbital d yang kosong atau setengah penuh, ditambah bilangan oksidasi positif yang menciptakan defisiensi elektron. Kondisi ini membuat ion logam "lapar" elektron dan siap menerima pasangan elektron dari ligan.
Mn+(aq) + x L(aq) ⇌ [MLx]n+(aq)
Tanda panah bolak-balik (⇌) menunjukkan bahwa reaksi adalah kesetimbangan. Ion kompleks yang terbentuk ditulis dalam kurung kotak, dengan muatan ion pusat dan ligan saling berkontribusi pada muatan total kompleks.
Syarat Pembentukan Kompleks
Ion pusat harus memiliki orbital kosong bertipe d, f, atau orbital hibrid yang sesuai. Umumnya berupa ion logam transisi (seperti Cu2+, Fe3+, Co3+, Ni2+), tetapi logam utama seperti Al3+, Be2+, dan Sn2+ juga dapat membentuk kompleks.
Ligan harus memiliki minimal satu atom donor dengan pasangan elektron bebas yang dapat disumbangkan ke orbital kosong ion pusat. Atom donor yang umum: N (dalam NH3 dan etilendiamina), O (dalam H2O dan oksalat), S (dalam tiosulfat), C (dalam CN− dan CO), serta halida Cl−, Br−, F−.
Perhatikan: warna bilangan koordinasi yang tertera di tiap reaksi. Angka x dalam MLx untuk ligan monodentat langsung sama dengan bilangan koordinasinya. Ini akan berkaitan erat dengan eksponen dalam rumus Kf.
2. Bilangan Koordinasi (BK)
Bilangan koordinasi adalah jumlah ikatan koordinasi yang terbentuk antara ion pusat dengan atom-atom donor dari ligan-ligannya. Dengan kata lain, BK menyatakan berapa banyak ikatan yang langsung tersambung ke ion pusat.
Untuk ligan monodentat: BK = jumlah molekul ligan. Untuk ligan polidentat: BK bisa lebih besar dari jumlah molekul ligan. Contoh: satu molekul EDTA4− memiliki 6 atom donor, sehingga ia sendiri menyumbang BK = 6. Kompleks [Ca(EDTA)]2− hanya mengandung satu ligan, tetapi BK = 6.
Faktor Penentu Bilangan Koordinasi
Ukuran ion pusat: ion logam lebih besar dapat menampung lebih banyak ligan di sekelilingnya tanpa hambatan sterik. Ion lantanida (La3+, Ce3+) sering memiliki BK = 8 atau lebih.
Muatan ion pusat: muatan lebih tinggi menarik ligan lebih kuat secara elektrostatis, cenderung meningkatkan BK.
Ukuran ligan: ligan besar (seperti PPh3) memenuhi ruang secara sterik sehingga membatasi BK. Ligan kecil (F−, H2O, CN−) memungkinkan BK lebih besar.
Konfigurasi elektron: ion dengan konfigurasi d8 (Ni2+, Pd2+, Pt2+, Au3+) cenderung membentuk kompleks segiempat planar (BK = 4), sementara ion d0 dan d10 sering membentuk tetrahedral (BK = 4).
Jenis ligan: ligan dengan efek medan kuat (CN−, CO) cenderung mendukung geometri oktahedral.
Geometri berdasarkan Bilangan Koordinasi (Coordination Number/CN)
Sumber bentuk-bentuk ion kompleks dapat dilihat dari sini atau dari sini
.
Catatan: BK = 4 dapat menghasilkan dua geometri berbeda: tetrahedral (sudut ~109,5°) atau segiempat planar (sudut 90°). Faktor penentunya adalah konfigurasi elektron d ion pusat. Ion dengan d8 (Ni2+, Pd2+, Pt2+) sangat kuat membentuk segiempat planar karena distorsi medan kristal lebih stabil. Ion dengan d10 (Zn2+, Cd2+) hampir selalu tetrahedral.
Bilangan Koordinasi 2 sampai 12: Tabel Lengkap
BK tidak hanya 2, 4, dan 6. Untuk keperluan olimpiade, penting dipahami bahwa BK dapat bervariasi dari 2 hingga lebih dari 12, terutama pada logam-logam blok-f (lantanida dan aktinida) yang memiliki orbital f untuk menampung banyak ligan.
Kunci memahami BK tinggi (7 s.d. 12): BK sangat tinggi hanya terjadi jika: (1) Ion pusat sangat besar (logam periode 5-6 ke bawah atau blok-f lantanida/aktinida), sehingga banyak ligan bisa ditampung tanpa tolakan sterik berlebihan. (2) Ligan yang digunakan kecil atau kompak seperti H2O, F−, CN−, atau ligan bidentat kompak seperti NO3− dan oksalat. (3) Tingkat oksidasi ion pusat tinggi sehingga orbital kosong tersedia lebih banyak dan tarikan elektrostatik terhadap ligan lebih kuat. Contoh [Ce(NO3)6]3− mencapai BK=12 karena 6 ligan NO3− masing-masing berikatan lewat dua atom O (bidentat), sehingga total atom donor = 6 × 2 = 12.
3. Konstanta Pembentukan Kompleks (Kf)
Karena reaksi kompleksasi adalah kesetimbangan, stabilitasnya dapat dinyatakan secara kuantitatif melalui konstanta kesetimbangan pembentukan, yang dilambangkan Kf (formation constant) atau Kstab (stability constant).
Untuk reaksi umum Mn+ + x L ⇌ [MLx]n+, ekspresi Kf adalah:
Perhatikan bahwa eksponen ligan adalah x, yang tidak lain adalah bilangan koordinasi (untuk ligan monodentat). Inilah kaitan langsung antara BK dan ekspresi Kf.
Makna fisik Kf: Kf yang besar berarti posisi kesetimbangan jauh ke kanan, yaitu kompleks terbentuk secara dominan dan sangat stabil. Kf yang kecil berarti kompleks mudah terurai kembali menjadi ion-ion penyusunnya.
Konstanta Disosiasi (Kd)
Kebalikan dari Kf adalah konstanta disosiasi (Kd), yang menyatakan kecenderungan kompleks untuk terurai:
Kd kecil berarti kompleks stabil (sedikit terdisosiasi). Kf besar dan Kd kecil adalah dua cara menyatakan hal yang sama: kompleks yang kuat dan stabil.
Pada kenyataannya, ligan monodentat bergabung satu demi satu ke ion pusat, bukan sekaligus. Setiap langkah memiliki konstanta kesetimbangannya sendiri:
Mengapa secara umum K1 > K2 > K3 > ... > Kx? Ada tiga alasan:
Faktor statistik: ligan pertama memiliki lebih banyak sisi kosong yang bisa dituju pada ion pusat, sehingga probabilitas pembentukan lebih besar. Setiap langkah berikutnya, jumlah sisi kosong berkurang.
Halangan sterik: ligan yang sudah terikat mengurangi ruang tersedia untuk ligan berikutnya.
Efek elektrostatik: untuk ligan bermuatan negatif, setiap ligan yang bergabung meningkatkan kepadatan muatan negatif di sekitar ion pusat, sehingga mempersulit ligan negatif berikutnya untuk mendekat.
Tabel Nilai Kf Berbagai Kompleks
Ion Kompleks
Ion Pusat
Ligan
BK
Geometri
Kf
[Ag(NH3)2]+
Ag+
NH3
2
Linear
1,7 × 107
[Ag(S2O3)2]3−
Ag+
S2O32−
2
Linear
1,1 × 1013
[Zn(NH3)4]2+
Zn2+
NH3
4
Tetrahedral
2,9 × 109
[Cu(NH3)4]2+
Cu2+
NH3
4
Segi. Planar
1,1 × 1012
[Cd(CN)4]2−
Cd2+
CN−
4
Tetrahedral
6,0 × 1018
[Ni(CN)4]2−
Ni2+
CN−
4
Segi. Planar
2,2 × 1031
[AlF6]3−
Al3+
F−
6
Oktahedral
6,9 × 1019
[Co(NH3)6]3+
Co3+
NH3
6
Oktahedral
2,0 × 1035
[Fe(CN)6]4−
Fe2+
CN−
6
Oktahedral
1,0 × 1035
[Fe(CN)6]3−
Fe3+
CN−
6
Oktahedral
1,0 × 1042
▲ BK rendah-menengah (monodentat) | ▼ Polidentat dan BK tinggi ▼
[Cu(CN)3]2−
Cu+
CN−
3
Trigonal Planar
β3 ≈ 1,0 × 1022
[Ni(CN)5]3−
Ni2+
CN−
5
Trigonal Bipir.
β5 ≈ 1,0 × 1031
[Cu(en)2]2+
Cu2+
en (bidentat)
4*
Segi. Planar
4,0 × 1019
[Ni(en)3]2+
Ni2+
en (bidentat)
6*
Oktahedral
1,9 × 1018
[Cu(EDTA)]2−
Cu2+
EDTA (heksadentat)
6*
Oktahedral Dist.
6,3 × 1018
[Fe(EDTA)]−
Fe3+
EDTA (heksadentat)
6*
Oktahedral
1,3 × 1025
* BK efektif dari atom donor yang terlibat langsung; jumlah molekul ligan jauh lebih sedikit.
Tren menarik dari tabel: (1) Ligan CN− selalu menghasilkan Kf jauh lebih besar dibanding NH3 untuk ion pusat yang sama, karena CN− adalah ligan medan kuat yang membentuk ikatan M-C dengan komponen π yang signifikan. (2) BK yang lebih besar tidak otomatis berarti Kf lebih besar, karena stabilitas kompleks juga sangat bergantung pada sifat ikatan M-L. (3) Baris yang disorot menunjukkan ligan polidentat, yang secara konsisten menghasilkan Kf lebih besar dibanding ligan monodentat dengan jumlah atom donor yang sama.
Perbandingan Stabilitas: Kation Sama, Ligan Berbeda
Bagaimana pengaruh jenis ligan terhadap stabilitas kompleks? Data berikut membandingkan ion Ag+ dengan berbagai ligan, serta ion Ni2+ dengan berbagai ligan baik monodentat maupun polidentat.
Ag+ + berbagai ligan (BK = 2)
Ligan
Kompleks
log Kf
Kf
Cl−
[AgCl2]−
5,0
1,0 × 105
Br−
[AgBr2]−
7,2
1,6 × 107
NH3
[Ag(NH3)2]+
7,2
1,7 × 107
I−
[AgI2]−
11,7
5,0 × 1011
S2O32−
[Ag(S2O3)2]3−
13,0
1,1 × 1013
CN−
[Ag(CN)2]−
21,1
1,3 × 1021
Urutan stabilitas halida: I− >> Br− > Cl−. Ini adalah ciri khas logam lunak (soft acid) seperti Ag+, yang lebih suka ligan lunak (polarisabel tinggi). CN− mendominasi karena selain lunak, ia juga membentuk ikatan π balik yang mengosongkan elektron berlebih dari logam.
Ni2+: monodentat hingga heksadentat
Ligan
Kompleks
Gigi
log Kf
H2O
[Ni(H2O)6]2+
1
referensi
NH3
[Ni(NH3)6]2+
1
8,7
en
[Ni(en)3]2+
2
18,3
trien
[Ni(trien)]2+
4
14,0
EDTA
[Ni(EDTA)]2−
6
18,6
Lompatan log Kf dari NH3 (8,7) ke en (18,3) mencolok sekali: selisih ≈ 9,6 log unit, padahal kedua ligan tersebut sama-sama menggunakan atom N sebagai donor. Inilah efek kelat yang akan dibahas di bawah.
Perbandingan Stabilitas: Ligan Sama (EDTA), Kation Berbeda
EDTA adalah ligan standar untuk membandingkan afinitas berbagai ion logam karena ia selalu menggunakan 6 atom donor yang sama terhadap siapa pun. Berikut data log Kf kompleks [M(EDTA)]n−:
Ca2+ [Ca(EDTA)]2−
10,7
1010,7
Mg2+ [Mg(EDTA)]2−
8,8
108,8
Mn2+ [Mn(EDTA)]2−
13,8
1013,8
Fe2+ [Fe(EDTA)]2−
14,3
1014,3
Co2+ [Co(EDTA)]2−
16,3
1016,3
Zn2+ [Zn(EDTA)]2−
16,5
1016,5
Ni2+ [Ni(EDTA)]2−
18,6
1018,6
Cu2+ [Cu(EDTA)]2−
18,8
1018,8
Pb2+ [Pb(EDTA)]2−
18,0
1018,0
Hg2+ [Hg(EDTA)]2−
21,7
1021,7
Fe3+ [Fe(EDTA)]−
25,1
1025,1
Tren Irving-Williams: untuk seri logam transisi pertama dengan bilangan oksidasi +2, urutan kestabilan kompleks mengikuti pola: Mn2+ < Fe2+ < Co2+ < Ni2+ < Cu2+ > Zn2+. Pola ini berlaku hampir untuk semua jenis ligan dan dikenal sebagai Seri Irving-Williams. Cu2+ memiliki log Kf maksimum di antara logam M2+ transisi pertama karena efek distorsi Jahn-Teller memperkuat dua ikatan aksial. Fe3+ jauh lebih tinggi karena muatan +3 menghasilkan tarikan elektrostatik dan polarisasi ligan yang jauh lebih kuat.
Efek Kelat: Monodentat vs Polidentat dengan Atom Donor yang Sama
Perbandingan paling mendalam tentang pengaruh ligan adalah membandingkan ligan yang menggunakan jenis atom donor yang identik, tetapi berbeda dalam derajat "kepelukan" (denticity) terhadap ion pusat. Inilah yang disebut efek kelat (chelate effect).
Definisi Efek Kelat: Stabilisasi tambahan yang diperoleh oleh kompleks kelat (terbentuk dari ligan polidentat yang membentuk cincin) dibandingkan kompleks setara dari ligan monodentat dengan jumlah dan jenis atom donor yang sama. Stabilisasi ini terutama bersumber dari faktor entropi.
Cu2+: 4 donor N, monodent. vs bidentat
Kedua kompleks memiliki 4 ikatan Cu-N, tetapi sumbernya berbeda:
Reaksi
log Kf
Cu2+ + 4 NH3 ⇌ [Cu(NH3)4]2+
12,0
Cu2+ + 2 en ⇌ [Cu(en)2]2+
19,6
Selisih Δlog Kf = 7,6 unit +7,6 log unit
Setara dengan ΔΔG° = −43,4 kJ/mol ekstra hanya karena ligan dirangkai menjadi bidentat.
Ni2+: 6 donor N, monodent. vs bidentat
Kedua kompleks memiliki 6 ikatan Ni-N:
Reaksi
log Kf
Ni2+ + 6 NH3 ⇌ [Ni(NH3)6]2+
8,7
Ni2+ + 3 en ⇌ [Ni(en)3]2+
18,3
Selisih Δlog Kf = 9,6 unit +9,6 log unit
Efek kelat makin besar karena lebih banyak cincin yang terbentuk (3 cincin chelatasi 5-anggota vs 1 atau 2).
Kesimpulan efek kelat: ΔH° kedua reaksi hampir sama (kekuatan ikatan Ni-N serupa karena atom donor sama). Perbedaan besar berasal dari ΔS°: reaksi dengan NH3 mengonsumsi 6 molekul bebas menjadi 1 kompleks, sehingga entropi menurun drastis (ΔS° negatif). Sebaliknya, reaksi en menghasilkan lebih banyak partikel bebas (6 H2O dilepas dari koordinasi, 3 en dipakai), sehingga entropi meningkat (ΔS° positif). Semakin banyak cincin kelat yang terbentuk, semakin besar kenaikan entropi sistem, dan semakin stabil kompleks. Ini sebabnya EDTA (6 atom donor dalam 1 molekul) membentuk kompleks yang sangat kuat: satu reaksi menghasilkan keuntungan entropi maksimal karena 6 H2O dilepaskan sekaligus hanya dengan 1 molekul EDTA.
4. Kaitan antara Reaksi, Bilangan Koordinasi, dan Kf
Hubungan ini dapat diringkas sebagai berikut. Bilangan koordinasi (BK) menentukan berapa banyak ligan yang terlibat dalam satu persamaan reaksi kompleksasi (stoikiometri). Stoikiometri itulah yang menentukan bentuk ekspresi Kf: eksponen ligan [L] dalam rumus Kf sama persis dengan nilai BK (untuk ligan monodentat). Semakin besar BK, semakin besar pula eksponen [L] dalam Kf, yang berarti Kf lebih sensitif terhadap perubahan konsentrasi ligan.
Secara konkret, bandingkan:
[Ag(NH3)2]+ dengan BK = 2: \( K_f = \dfrac{[\mathrm{Ag(NH_3)_2}^+]}{[\mathrm{Ag}^+][\mathrm{NH_3}]^2} \)
[Cu(NH3)4]2+ dengan BK = 4: \( K_f = \dfrac{[\mathrm{Cu(NH_3)_4}^{2+}]}{[\mathrm{Cu}^{2+}][\mathrm{NH_3}]^4} \)
[Co(NH3)6]3+ dengan BK = 6: \( K_f = \dfrac{[\mathrm{Co(NH_3)_6}^{3+}]}{[\mathrm{Co}^{3+}][\mathrm{NH_3}]^6} \)
Implikasi praktis: karena eksponen [L] bertambah seiring BK, menurunkan konsentrasi ligan bebas akan menurunkan stabilitas efektif kompleks ber-BK tinggi lebih dramatis dibanding ber-BK rendah. Ini relevan dalam analisis titrasi, pengolahan limbah logam, dan farmakologi (drug delivery berbasis kompleks logam).
5. Soal Terstruktur
Panduan tingkat kesulitan: Soal 1-6 merupakan soal Dasar untuk membangun pemahaman definisi dan perhitungan awal. Soal 7-12 merupakan soal Lanjutan/Olimpiade yang mengombinasikan beberapa konsep sekaligus.
Soal 1Dasar Definisi Konsep Kompleks
Jelaskan pengertian reaksi kompleksasi, bilangan koordinasi, dan konstanta pembentukan kompleks. Berikan satu contoh konkret untuk masing-masing konsep tersebut.
Ditanyakan: Definisi dan contoh dari tiga konsep dasar kimia koordinasi.
Pembahasan
Reaksi Kompleksasi
Reaksi antara ion logam (asam Lewis) dengan ligan (basa Lewis) yang menghasilkan ion kompleks melalui ikatan koordinasi. Contoh:
Jumlah ikatan koordinasi yang terbentuk antara ion pusat dengan atom-atom donor dari ligan. Dalam [Ni(CN)4]2−, terdapat 4 ligan CN− yang masing-masing menyumbang satu atom donor (C), sehingga bilangan koordinasi Ni = 4.
Konstanta Pembentukan Kf
Konstanta kesetimbangan untuk reaksi pembentukan kompleks. Untuk contoh di atas:
Nilai Kf = 2,2 × 1031 yang sangat besar menunjukkan bahwa kesetimbangan jauh ke arah pembentukan kompleks. Hampir tidak ada Ni2+ bebas yang tersisa dalam larutan.
Soal 2Dasar Menentukan Bilangan Koordinasi
Tentukan bilangan koordinasi ion pusat dalam senyawa kompleks berikut dan jelaskan alasannya:
K3[Fe(CN)6]
[Ni(CO)4]
[Co(NH3)5Cl]Cl2
Ditanyakan: bilangan koordinasi ion pusat pada masing-masing kompleks.
Pembahasan
a. K3[Fe(CN)6]
Tanda kurung kotak menunjukkan ion kompleks: [Fe(CN)6]3−. Ion pusat = Fe3+. Ligan = CN− sebanyak 6. CN− adalah ligan monodentat (1 atom donor tiap ligan), sehingga bilangan koordinasi Fe = 6 (oktahedral). K+ di luar kurung adalah ion lawan, bukan ligan.
b. [Ni(CO)4]
Ion pusat = Ni0 (nikel dalam keadaan oksidasi 0, karena CO adalah ligan netral). Ligan = CO sebanyak 4. CO berikatan lewat atom C (monodentat), sehingga bilangan koordinasi Ni = 4 (tetrahedral). Ini adalah contoh klasik kompleks karbonil logam.
c. [Co(NH3)5Cl]Cl2
Ion kompleks = [Co(NH3)5Cl]2+. Ion pusat = Co3+. Ligan di dalam kurung: 5 NH3 (monodentat) + 1 Cl− (monodentat) = total 6 ligan. Bilangan koordinasi Co = 6 (oktahedral). Dua Cl− di luar kurung adalah ion lawan bebas.
Kunci: hitung hanya ligan yang berada di dalam kurung kotak. Ion atau molekul di luar kurung adalah ion lawan (counter ion) yang tidak terikat langsung ke ion pusat.
Soal 3Dasar Reaksi dan Ekspresi Kf
Tuliskan persamaan reaksi pembentukan kompleks [Cu(NH3)4]2+ dari ion Cu2+ dan amonia, kemudian nyatakan rumus ekspresi konstanta pembentukan total Kf-nya. Mengapa nilai Kf menjadi lebih kecil bila hanya 2 molekul NH3 yang bergabung dibanding 4 molekul NH3?
Ditanyakan: persamaan reaksi, ekspresi Kf, dan perbandingan stabilitas.
Kf total (4 NH3) = K1 × K2 × K3 × K4. Karena K3 dan K4 keduanya > 1, Kf(4 NH3) >> Kf(2 NH3). Semakin banyak ligan yang bergabung sampai BK terpenuhi, semakin besar produk kumulatif dan semakin stabil kompleks yang dihasilkan.
Soal 4Dasar Menghitung [Ag+] Bebas dari Kf
Diketahui Kf untuk [Ag(NH3)2]+ adalah 1,6 × 107. Hitung konsentrasi ion Ag+ bebas dalam larutan yang mengandung [Ag(NH3)2]+ sebesar 0,10 M dan NH3 bebas 1,0 M.
Diketahui: [[Ag(NH3)2]+] = 0,10 M | [NH3] = 1,0 M | Kf = 1,6 × 107
[Ag+] bebas = 6,25 × 10−9 M. Perhatikan bahwa eksponen [NH3] = 2 karena BK = 2. Jika [NH3] dinaikkan menjadi 2,0 M, [Ag+] bebas akan turun 4 kali lipat menjadi ≈1,56 × 10−9 M, karena eksponen [NH3] di penyebut adalah kuadrat.
Soal 5Dasar Ligan CN− Berlebih pada Ni2+
Ke dalam larutan Ni2+ 0,010 M ditambahkan CN− berlebih sehingga konsentrasi CN− bebas = 0,10 M. Hitung konsentrasi Ni2+ yang tersisa dalam larutan. (Kf [Ni(CN)4]2− = 2,0 × 1031)
Diketahui: [Ni2+]awal = 0,010 M | [CN−]bebas = 0,10 M | Kf = 2,0 × 1031
Nilai 5,0 × 10−30 M secara praktis sama dengan nol: tidak ada ion Ni2+ bebas yang dapat dideteksi. Eksponen 4 pada [CN−] berasal dari BK = 4, dan mengalikan Kf besar ini dengan (0,10)4 = 10−4 menghasilkan faktor penyebut yang luar biasa: 2,0 × 1027.
Soal 6Dasar Cu2+ Bebas dengan Amonia Tidak Berlebih
Hitung konsentrasi ion Cu2+ bebas dalam larutan yang dibuat dengan mencampurkan Cu2+ 0,10 M dan NH3 2,0 M. Diasumsikan volume larutan tetap. (Kf [Cu(NH3)4]2+ = 2,1 × 1013)
Diketahui: [Cu2+]awal = 0,10 M | [NH3]awal = 2,0 M | Kf = 2,1 × 1013
Ditanyakan: [Cu2+] bebas (setelah kesetimbangan) = ?
Pembahasan
Langkah 1: Perkiraan konsentrasi setelah reaksi hampir sempurna
Karena Kf besar, hampir semua Cu2+ awal terkonversi ke kompleks:
Soal ini lebih realistis dari soal 5: NH3 tidak "berlebih" secara bebas, sehingga kita harus menghitung [NH3] bebas setelah dikurangi yang terpakai membentuk kompleks. Dalam olimpiade, langkah ini sering terlupakan, yang mengakibatkan hasil yang salah secara signifikan bila rasio NH3/Cu2+ tidak terlalu besar.
Soal 7-12 berikut ini adalah soal tingkat lanjut/olimpiade yang menggabungkan reaksi kompleksasi dengan konstanta solubilitas (Ksp), termodinamika (ΔG°), dan analisis sistem multi-kesetimbangan.
Soal 7Olimpiade Ion Bebas Cu2+ dalam Larutan Elektroplating
Larutan elektroplating tembaga mengandung ion kompleks [Cu(NH3)4]2+ sebesar 0,10 M dengan konsentrasi NH3 bebas 0,20 M. Kf kompleks ini adalah 1,1 × 1012. Berapakah konsentrasi ion Cu2+ bebas dalam larutan tersebut?
Diketahui: [[Cu(NH3)4]2+] = 0,10 M | [NH3] = 0,20 M | Kf = 1,1 × 1012
Konsentrasi Cu2+ bebas sangat kecil, jauh di bawah ambang toksisitas lingkungan (~1 × 10−6 M). Kompleksasi dengan NH3 mengikat hampir seluruh Cu2+, menjadikan larutan jauh lebih aman meskipun total tembaga tetap tinggi.
Soal 8Olimpiade Larutan Fixer Fotografi Analog
Dalam larutan fixer fotografi, ion Ag+ diikat oleh ion tiosulfat membentuk [Ag(S2O3)2]3− (Kf = 1,1 × 1013). Sebuah larutan fixer mengandung [[Ag(S2O3)2]3−] = 0,050 M dan [S2O32−] bebas = 0,20 M. Hitung konsentrasi Ag+ bebas.
Diketahui: [[Ag(S2O3)2]3−] = 0,050 M | [S2O32−] = 0,20 M | Kf = 1,1 × 1013
Konsentrasi Ag+ bebas yang sangat rendah (10−13 M) menjelaskan mengapa fixer bekerja efektif: perak hampir seluruhnya terikat sebagai kompleks tiosulfat dan dapat dibilas dari film/kertas foto, meninggalkan hanya AgBr yang tidak terfiks.
Soal 9Olimpiade Kelarutan AgCl dalam Larutan Amonia
Garam AgCl sangat sukar larut dalam air murni. Namun, dalam larutan NH3, kelarutannya meningkat drastis karena terbentuk kompleks [Ag(NH3)2]+. Hitung kelarutan AgCl dalam larutan NH3 1,00 M dan bandingkan dengan kelarutannya dalam air murni. (Ksp AgCl = 1,8 × 10−10; Kf [Ag(NH3)2]+ = 1,7 × 107)
Kelarutan dalam NH3 1,00 M (≈5,5 × 10−2 M) sekitar 4200 kali lebih besar dibanding dalam air murni (1,3 × 10−5 M). Ini menjelaskan fenomena nyata: endapan AgCl putih langsung larut saat ditetesi NH3 pekat, digunakan sebagai uji konfirmasi ion Ag+ dalam analisis kualitatif.
Soal 10Olimpiade Ion Fe3+ Bebas dalam Reagen Prussian Blue
Ion ferisianida [Fe(CN)6]3− digunakan dalam pembuatan pigmen Prussian Blue. Dalam suatu larutan, [[Fe(CN)6]3−] = 0,010 M dan [CN−] bebas = 0,10 M. Kf untuk [Fe(CN)6]3− adalah 1,0 × 1042. Berapakah konsentrasi Fe3+ bebas?
Diketahui: [[Fe(CN)6]3−] = 0,010 M | [CN−] = 0,10 M | Kf = 1,0 × 1042
[Fe3+] sebesar 10−38 M secara praktis berarti nol. Eksponen BK = 6 pada [CN−] membuat Kf yang sudah sangat besar (1042) semakin efektif "menekan" ion bebas ke nilai yang tidak terukur secara analitis. Ini menjelaskan mengapa senyawa sianida logam dalam bentuk kompleks stabil jauh lebih tidak toksik dibanding CN− bebas maupun ion logam bebasnya.
Soal 11Olimpiade Kelarutan Zn(OH)2 dalam Larutan Amonia
Dalam proses galvanik pelapisan seng, Zn(OH)2 dilarutkan dalam larutan NH3 1,00 M untuk membentuk kompleks [Zn(NH3)4]2+. Hitung kelarutan Zn(OH)2 dalam larutan NH3 1,00 M dan bandingkan dengan kelarutannya dalam air murni. (Ksp Zn(OH)2 = 3,0 × 10−17; Kf [Zn(NH3)4]2+ = 2,9 × 109)
Kelarutan meningkat dari 1,96 × 10−6 M (air murni) menjadi 2,8 × 10−3 M (NH3 1,00 M), sekitar 1430 kali lebih besar. Peningkatan ini lebih kecil dibanding kasus AgCl karena Kf [Zn(NH3)4]2+ (109) jauh lebih kecil dibanding Kf [Ag(NH3)2]+ (107 tetapi Ksp AgCl juga lebih kecil).
Soal 12Olimpiade Konstanta Bertahap dan Energi Gibbs
Ion Cu2+ bereaksi dengan etilendiamina (en) secara bertahap membentuk kompleks [Cu(en)2]2+ (BK = 4, segiempat planar). Konstanta pembentukan bertahap: K1 = 4,5 × 109 dan K2 = 9,0 × 106. (a) Hitung Kf keseluruhan. (b) Hitung ΔG° pembentukan [Cu(en)2]2+ pada suhu 25 °C. (c) Jelaskan mengapa K1 >> K2. (R = 8,314 J mol−1 K−1)
Diketahui: K1 = 4,5 × 109 | K2 = 9,0 × 106 | T = 298 K | R = 8,314 J mol−1 K−1
Ada tiga alasan mengapa langkah pertama jauh lebih spontan: (1) Faktor statistik: Cu2+ kosong memiliki 4 sisi ikatan yang tersedia untuk en pertama, sedangkan [Cu(en)]2+ hanya memiliki 2 sisi tersisa. (2) Efek kelat: en adalah ligan bidentat, pembentukan [Cu(en)]2+ melepas entropi lebih besar (favorable) dibanding langkah kedua karena peningkatan entropi sistem akibat pelepasan molekul air yang terdisplasi. (3) Hambatan sterik: en pertama yang terikat mempersempit ruang untuk en kedua. Meskipun K2 lebih kecil, nilainya (106) masih sangat besar sehingga langkah kedua tetap sangat spontan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar