Koefisien Partisi: Definisi & Perhitungan (Disertai Soal dan Pembahasan)

Selasa, 17 Maret 2026

Koefisien partisi merupakan salah satu konstanta paling serbaguna dalam kimia. Nilai tunggal ini mampu memprediksi seberapa efektif suatu senyawa diekstraksi di laboratorium, apakah suatu obat baru layak diformulasikan untuk konsumsi oral, hingga seberapa berbahaya suatu polutan bagi ekosistem perairan. Bagian-bagian berikut akan membahas landasan teori, rumus, dan penerapannya secara bertahap.

1 Pengertian dan Dasar Teori

Ketika suatu zat dimasukkan ke dalam campuran dua pelarut yang tidak saling campur (sistem heterogen), zat tersebut akan terdistribusi di antara kedua lapisan hingga tercapai kesetimbangan. Proses ini disebut partisi atau distribusi.

Contoh intuitif: tambahkan iodin (I2) ke dalam campuran air dan karbon tetraklorida (CCl4). Iodin akan membagi diri ke kedua lapisan. Lapisan CCl4 akan tampak ungu pekat karena I2 jauh lebih larut dalam pelarut non-polar ini. Prinsip yang mengatur perbandingan konsentrasi tersebut pertama kali dirumuskan oleh Walther Nernst pada tahun 1891.

Hukum Distribusi Nernst: Pada suhu tetap, perbandingan konsentrasi suatu zat yang terdistribusi antara dua pelarut tak bercampur adalah konstan, tidak bergantung pada jumlah zat yang ditambahkan, selama zat berada dalam spesies kimia yang sama di kedua fasa.

Syarat Berlakunya Hukum Nernst

  • Zat berada dalam spesies kimia yang identik di kedua fasa (tidak terionisasi berbeda, tidak terdimerisasi)
  • Larutan cukup encer (berlaku idealitas)
  • Suhu dan tekanan konstan
  • Kedua pelarut benar-benar tidak saling melarut

Ketika salah satu syarat tidak terpenuhi, misalnya ketika asam lemah sebagian terionisasi di fasa air, diperlukan modifikasi berupa koefisien distribusi nyata \(D\) yang akan dibahas di bagian 5.

2 Klarifikasi Simbol: KD, Kpc, P, dan D

Salah satu sumber kebingungan terbesar ketika membaca referensi yang berbeda adalah penggunaan simbol yang beragam untuk konsep yang terkadang sama, terkadang berbeda. Bagian ini meluruskan semuanya secara tuntas.

Inti masalah: Tidak ada standar simbol tunggal yang disepakati secara internasional untuk koefisien partisi. Simbol bervariasi antar buku teks, jurnal, dan tingkat pendidikan. Yang penting adalah memahami definisi operasionalnya, bukan simbolnya.
Simbol Nama Lengkap Definisi Syarat Berlaku Konteks Umum
\(K_D\) Koefisien Partisi Nernst \(\dfrac{[\text{A}]_{\text{org}}}{[\text{A}]_{\text{aq}}}\) (hanya satu spesies identik) Zat tidak terionisasi, tidak dimerisasi, larutan encer Kimia analitik, buku teks SMA/universitas, soal olimpiade
\(K_{pc}\) Koefisien Partisi (Partition Coefficient) Identik dengan \(K_D\) (hanya beda notasi) Sama dengan \(K_D\) Beberapa buku teks Asia Tenggara dan India
\(P\) Partition Coefficient (farmasi) \(\dfrac{[\text{A}]_{\text{oktanol}}}{[\text{A}]_{\text{air}}}\) (sistem oktanol/air, zat netral) Zat tidak terionisasi, sistem oktanol–air baku Farmakologi, toksikologi, kimia medisinal; biasanya \(\log P\)
\(D\) Koefisien Distribusi Nyata \(\dfrac{[\text{A}]_{\text{org}}}{[\text{A}]_{\text{aq,total}}}\) (semua spesies kimia di fasa air) Berlaku selalu; mencakup ionisasi, dimerisasi, kompleksasi Kimia analitik lanjut, ekstraksi logam, farmasi (\(\log D\))

2.1 Hubungan Matematis Antar Simbol

Hierarki dan Hubungan
\[\begin{aligned} K_D = K_{pc} &\quad \text{(selalu identik, hanya beda nama)} \\[10pt] D &= \frac{K_D}{1 + K_a/[\text{H}^+]} \leq K_D \quad \text{(untuk asam lemah)} \\[10pt] P &= K_D \;\text{atau}\; D \quad \text{(tergantung konteks, khusus sistem oktanol/air)} \end{aligned}\]

\(K_D = K_{pc}\) adalah identitas murni. \(D \leq K_D\) selalu, dengan \(D = K_D\) hanya bila tidak ada ionisasi. \(P\) adalah \(K_D\) yang diukur pada sistem baku oktanol/air.

2.2 Panduan Praktis: Simbol Mana yang Dipakai?

Konteks SMA / Olimpiade

Gunakan \(K_D\) atau \(K_{pc}\). Keduanya sama. Ikuti simbol yang digunakan soal. Asumsi default: zat tidak terionisasi kecuali disebutkan.

Konteks Farmasi / log P

Gunakan \(P\) atau \(\log P\). Selalu sistem oktanol/air. Zat netral. Bila zat dapat terionisasi, gunakan \(\log D\) yang bergantung pH.

Konteks Analitik Lanjut

Gunakan \(D\) bila zat dapat terionisasi, terdimerisasi, atau membentuk kompleks. \(D\) bergantung pH dan kondisi larutan.

Tips membaca soal/referensi: Kalau soal menulis \(K_{pc}\), perlakukan persis seperti \(K_D\). Kalau soal menulis \(P\), cek apakah ada informasi tentang ionisasi. Kalau ada, \(P\) berlaku untuk spesies netral saja dan perlu dihitung \(D\) terlebih dahulu. Kalau tidak ada info ionisasi, \(P \approx K_D\) dan langsung dapat digunakan dalam rumus ekstraksi.

2.3 Contoh Penggunaan Nyata di Berbagai Referensi

Referensi / SumberSimbol yang DipakaiMakna Sebenarnya
Buku teks kimia analitik (Harvey, Skoog)\(K_D\)Koefisien partisi Nernst, spesies identik
Soal olimpiade kimia Indonesia (OSN/IChO)\(K_D\) atau \(K_{pc}\)Sama, koefisien partisi Nernst
Buku teks Asia (beberapa penerbit India)\(K_{pc}\)Identik dengan \(K_D\)
Jurnal farmakologi, database PubChem\(\log P\)\(K_D\) oktanol/air untuk spesies netral
Jurnal farmasi/kimia medisinal\(\log D\)\(D\) oktanol/air, bergantung pH (mencakup ionisasi)
Kimia analitik lanjut, ekstraksi logam\(D\)Koefisien distribusi nyata, semua spesies

3 Rumus Koefisien Partisi KD

3.1 Definisi

Koefisien partisi \(K_D\) didefinisikan sebagai rasio konsentrasi kesetimbangan zat A di fasa organik terhadap fasa air:

Koefisien Partisi (Hukum Nernst)
\[K_D = \frac{[A]_{\text{org}}}{[A]_{\text{aq}}}\]

\([A]_{\text{org}}\) = konsentrasi zat A dalam fasa organik (mol/L)  |  \([A]_{\text{aq}}\) = konsentrasi zat A dalam fasa air (mol/L)

Nilai \(K_D\) mencerminkan afinitas relatif zat terhadap kedua pelarut. \(K_D \gg 1\) berarti zat lebih non-polar (lebih memilih fasa organik), sedangkan \(K_D \ll 1\) berarti zat lebih polar (lebih memilih fasa air).

3.2 Hubungan Massa dan Volume

Misalkan massa awal zat adalah \(m_0\), dilarutkan dalam \(V_{\text{aq}}\) mL air, lalu diekstraksi satu kali dengan \(V_{\text{org}}\) mL pelarut organik. Jika massa yang tersisa di fasa air setelah kesetimbangan adalah \(m_r\), maka:

Massa Tersisa di Fasa Air
\[\begin{aligned} K_D &= \frac{\dfrac{m_0 - m_r}{V_{\text{org}}}}{\dfrac{m_r}{V_{\text{aq}}}} \\[14pt] m_r &= \frac{m_0 \cdot V_{\text{aq}}}{K_D \cdot V_{\text{org}} + V_{\text{aq}}} \end{aligned}\]
Catatan: Karena \(K_D\) adalah perbandingan konsentrasi (bukan mol), volume kedua pelarut harus selalu disertakan dalam setiap perhitungan pemindahan massa.

4 Efisiensi Ekstraksi dan Ekstraksi Berulang

4.1 Efisiensi Ekstraksi Tunggal

Efisiensi ekstraksi \(E\) menyatakan fraksi (persentase) zat yang berhasil berpindah dari fasa air ke fasa organik:

Efisiensi Ekstraksi Satu Kali
\[E = \frac{K_D \cdot V_{\text{org}}}{K_D \cdot V_{\text{org}} + V_{\text{aq}}} \times 100\%\]

4.2 Fraksi Tersisa Setelah n Ekstraksi Berulang

Jika ekstraksi dilakukan sebanyak \(n\) kali, setiap kali menggunakan \(V_{\text{org}}\) mL pelarut organik segar, fraksi massa zat yang masih tersisa di fasa air adalah:

Ekstraksi Berulang n Kali
\[\begin{aligned} q_n &= \left(\frac{V_{\text{aq}}}{V_{\text{aq}} + K_D \cdot V_{\text{org}}}\right)^n \\[14pt] m_{\text{eks}} &= m_0 \left[1 - \left(\frac{V_{\text{aq}}}{V_{\text{aq}} + K_D \cdot V_{\text{org}}}\right)^n\right] \end{aligned}\]

\(q_n\) = fraksi yang tersisa di fasa air setelah \(n\) ekstraksi  |  \(m_{\text{eks}}\) = massa total yang terekstraksi ke fasa organik

Prinsip Fundamental: Banyak ekstraksi kecil selalu lebih efisien daripada satu ekstraksi besar dengan volume pelarut yang sama. Ini karena fungsi \(q_n\) bersifat eksponensial terhadap \(n\). Inilah dasar desain kolom kromatografi dan proses ekstraksi industri.

4.3 Ilustrasi Kuantitatif

Misalkan \(K_D = 5\), \(V_{\text{aq}} = 100\) mL, total pelarut = 60 mL. Perbandingan dua strategi:

StrategiPerhitungan \(q\)Fraksi Tersisa% Terekstraksi
1× dengan 60 mL\(100/(100+5\times60) = 0{,}250\)25,0%75,0%
3× dengan 20 mL\((100/200)^3 = 0{,}125\)12,5%87,5%

5 Koefisien Distribusi Nyata dan Pengaruh pH

Untuk asam lemah HA atau basa lemah, hanya spesies yang tidak terionisasi yang dapat memasuki fasa organik non-polar. Akibatnya, derajat ionisasi di fasa air, yang dikontrol oleh pH, sangat memengaruhi hasil ekstraksi.

5.1 Penurunan Rumus D untuk Asam Lemah

Koefisien distribusi nyata \(D\) didefinisikan menggunakan total konsentrasi spesies asam di fasa air (baik HA maupun A):

Koefisien Distribusi Nyata Kasus Asam Lemah
\[\begin{aligned} D &= \frac{[\text{HA}]_{\text{org}}}{[\text{HA}]_{\text{aq}} + [\text{A}^-]_{\text{aq}}} \\[14pt] D &= \frac{K_D}{1 + \dfrac{K_a}{[\text{H}^+]}} \end{aligned}\]

\(K_D\) = koefisien partisi sejati (hanya spesies HA)  |  \(K_a\) = tetapan ionisasi asam  |  \([\text{H}^+]\) = konsentrasi proton di fasa air

Interpretasi fisik:

  • pH rendah (\([\text{H}^+] \gg K_a\)): \(D \approx K_D\) (hampir semua dalam bentuk HA, ekstraksi sangat efisien)
  • pH tinggi (\([\text{H}^+] \ll K_a\)): \(D \to 0\) (terionisasi penuh menjadi A, hampir tidak terekstraksi)

5.2 pH Kritis

pH kritis adalah kondisi di mana \(D = 1\), artinya zat terbagi rata antara kedua fasa:

pH Kritis (untuk Asam Lemah)
\[\begin{aligned} D = 1 \;\Rightarrow\; K_D &= 1 + \frac{K_a}{[\text{H}^+]} \\[10pt] [\text{H}^+]_{\text{kritis}} &= \frac{K_a}{K_D - 1} \\[10pt] \text{pH}_{\text{kritis}} &= -\log\!\left(\frac{K_a}{K_D - 1}\right) \end{aligned}\]
Di atas pH kritis, \(D < 1\) dan ekstraksi ke fasa organik tidak lagi dominan. Dalam praktik, ekstraksi asam lemah selalu dilakukan pada pH jauh di bawah pH kritis untuk efisiensi optimal.

6 Contoh Kasus dan Aplikasi

🧪

Sintesis Organik

Ekstraksi cair-cair memisahkan produk dari reaktan atau pengotor polar pasca-reaksi.

💊

Distribusi Obat

log P (log KD oktanol/air) memprediksi kemampuan obat menembus membran sel lipid bilayer.

🌿

Ekotoksikologi

Kow memprediksi bioakumulasi pestisida dan PCB dalam rantai makanan.

🔬

Kromatografi

Pemisahan kromatografis adalah partisi berulang ribuan kali antara fasa diam dan fasa gerak.

Contoh Data Koefisien Partisi

Sistem (Organik/Air)ZatKDImplikasi
CCl4 / airI2~85Lapisan CCl4 ungu pekat
Benzena / airAsam benzoat (HA)~87Sangat mudah diekstraksi di pH rendah
Oktanol / airAspirin~1,2 (log P)Cukup lipofilik untuk diserap oral
Dietil eter / airGlukosa<0,01Hampir seluruhnya di fasa air
CHCl3 / airKafein~4,6Ekstraksi teh/kopi dengan kloroform
Aturan Lipinski (Rule of Five): Obat oral yang baik umumnya memiliki log P antara 0 dan 5. Terlalu lipofilik (log P > 5) menyebabkan akumulasi jaringan dan toksisitas; terlalu hidrofilik (log P < 0) menyebabkan obat tidak dapat menembus membran sel.

7 Soal dan Pembahasan

Tiga soal variatif (reguler) diikuti dua soal tingkat olimpiade, ditambah tiga soal berbasis kompetisi nyata (OSK & IChO). Klik Lihat Pembahasan untuk membuka solusi.

1
Menghitung KD dari Data Massa Total
Dasar

Iodin (I2) dilarutkan ke dalam sistem dua fasa: 100 mL air dan 50 mL CCl4. Setelah kesetimbangan, konsentrasi I2 dalam lapisan CCl4 terukur sebesar 0,0600 M. Diketahui total mol I2 yang ditambahkan adalah \(4{,}20 \times 10^{-3}\) mol.

  1. Tentukan konsentrasi I2 dalam lapisan air pada kesetimbangan.
  2. Hitung koefisien partisi \(K_D\) (CCl4/air) untuk sistem ini.
Lihat Pembahasan
Langkah (a) Konsentrasi di Fasa Air

Hitung mol I2 yang ada di fasa CCl4:

\[\begin{aligned} n_{\text{CCl}_4} &= [\text{I}_2]_{\text{CCl}_4} \times V_{\text{CCl}_4} \\[6pt] &= 0{,}0600 \text{ mol/L} \times 0{,}050 \text{ L} \\[6pt] &= 3{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \end{aligned}\]

Mol I2 di fasa air (hukum kekekalan materi):

\[\begin{aligned} n_{\text{air}} &= n_{\text{total}} - n_{\text{CCl}_4} \\[6pt] &= 4{,}20 \times 10^{-3} - 3{,}00 \times 10^{-3} \\[6pt] &= 1{,}20 \times 10^{-3} \text{ mol} \end{aligned}\]

Konsentrasi di fasa air:

\[[\text{I}_2]_{\text{air}} = \frac{1{,}20 \times 10^{-3}}{0{,}100} = 1{,}20 \times 10^{-2} \text{ M}\]
\([\text{I}_2]_{\text{air}} = 0{,}0120 \text{ M}\)
Langkah (b) Koefisien Partisi
\[\begin{aligned} K_D &= \frac{[\text{I}_2]_{\text{CCl}_4}}{[\text{I}_2]_{\text{air}}} = \frac{0{,}0600}{0{,}0120} = 5{,}00 \end{aligned}\]
\(K_D = 5{,}00\)  (CCl4/air)
Konsentrasi I2 di lapisan CCl4 tepat 5 kali lebih tinggi dari lapisan air. Untuk sistem I2/CCl4 nyata, nilai ini lebih rendah dari literatur (~85) karena ini data hipotetis yang disederhanakan untuk latihan.
2
Efisiensi Ekstraksi Tunggal pada Herbisida
Sedang

Suatu herbisida organik memiliki koefisien partisi \(K_D = 30{,}0\) (heksana/air). Sebanyak 0,180 g herbisida dilarutkan dalam 120 mL air, kemudian diekstraksi satu kali menggunakan 40 mL heksana.

  1. Hitung efisiensi ekstraksi \(E\).
  2. Hitung massa herbisida yang berpindah ke fasa heksana.
  3. Hitung massa yang masih tersisa di fasa air. Verifikasi dengan rumus \(m_r\) secara langsung.
Lihat Pembahasan
Langkah (a) Efisiensi Ekstraksi
\[\begin{aligned} E &= \frac{K_D \cdot V_{\text{org}}}{K_D \cdot V_{\text{org}} + V_{\text{aq}}} \times 100\% \\[10pt] &= \frac{30{,}0 \times 40}{(30{,}0 \times 40) + 120} \times 100\% = \frac{1200}{1320} \times 100\% = 90{,}91\% \end{aligned}\]
\(E = 90{,}91\%\)
Langkah (b) Massa di Heksana
\[m_{\text{heksana}} = 0{,}180 \times 0{,}9091 = 0{,}1636 \text{ g}\]
\(m_{\text{heksana}} = 0{,}164 \text{ g}\)
Langkah (c) Massa Tersisa dan Verifikasi
\[m_{\text{sisa}} = 0{,}180 - 0{,}1636 = 0{,}0164 \text{ g}\]

Verifikasi langsung:

\[m_r = \frac{0{,}180 \times 120}{1320} = \frac{21{,}6}{1320} = 0{,}01636 \text{ g} \;\checkmark\]
\(m_{\text{sisa}} = 0{,}0164 \text{ g}\) (kedua cara menghasilkan nilai yang sama)
3
Ekstraksi Sekali vs Berulang pada Alkaloid
Sedang–Tinggi

Suatu alkaloid memiliki \(K_D = 5{,}0\) (diklorometan/air). Sebanyak 0,400 g alkaloid terlarut dalam 100 mL air. Tersedia total 60 mL diklorometan.

Bandingkan dua strategi berikut dan hitung massa alkaloid yang terekstraksi pada masing-masing:

(A) Satu kali ekstraksi dengan 60 mL diklorometan

(B) Tiga kali ekstraksi, masing-masing dengan 20 mL diklorometan (volume sama, dibagi tiga)

Strategi mana yang lebih efisien? Jelaskan secara matematis mengapa hal ini terjadi.

Lihat Pembahasan
Strategi A: Satu Ekstraksi 60 mL
\[\begin{aligned} E_A &= \frac{5{,}0 \times 60}{(5{,}0 \times 60) + 100} = \frac{300}{400} = 75{,}0\% \end{aligned}\] \[m_A = 0{,}400 \times 0{,}750 = 0{,}300 \text{ g}\]
Strategi A: \(m_{\text{eks}} = 0{,}300 \text{ g}\)  (\(E = 75{,}0\%\))
Strategi B: Tiga Ekstraksi @ 20 mL

Fraksi tersisa setelah setiap ekstraksi dengan 20 mL:

\[\frac{V_{\text{aq}}}{V_{\text{aq}} + K_D \cdot V_{\text{org}}} = \frac{100}{100 + 5{,}0 \times 20} = \frac{100}{200} = 0{,}500\]

Setelah 3 ekstraksi:

\[\begin{aligned} q_3 &= (0{,}500)^3 = 0{,}125 \\[6pt] m_{\text{sisa}} &= 0{,}400 \times 0{,}125 = 0{,}0500 \text{ g} \\[6pt] m_B &= 0{,}400 - 0{,}0500 = 0{,}350 \text{ g} \end{aligned}\]
Strategi B: \(m_{\text{eks}} = 0{,}350 \text{ g}\)  (\(E = 87{,}5\%\))
Perbandingan dan Penjelasan
Strategi B lebih efisien (87,5% vs 75,0%). Penjelasan matematis: fungsi fraksi tersisa \(q_n = \left(\tfrac{V_{\text{aq}}}{V_{\text{aq}}+K_DV}\right)^n\) bersifat geometris menurun. Membagi volume total menjadi \(n\) bagian menghasilkan nilai yang selalu lebih kecil dari satu ekstraksi besar, akibat ketidaksamaan antara rata-rata aritmetika dan geometrika. Semakin besar \(n\), semakin besar keunggulannya.
4
Partisi Asam Lemah: Koefisien Distribusi Nyata dan pH Kritis
Olimpiade

Asam benzoat (C6H5COOH) terdistribusi antara air dan benzena. Koefisien partisi sejati (hanya spesies tak terionisasi HA) \(K_D = 87{,}0\). Data lain:

\(K_a\) (asam benzoat) \(= 6{,}3 \times 10^{-5}\)  |  \(mM = 122\) g/mol
Larutan: 100 mL air mengandung \(2{,}00 \times 10^{-3}\) mol asam benzoat total
Pelarut ekstraksi: 50 mL benzena
  1. Turunkan ekspresi koefisien distribusi nyata \(D\) sebagai fungsi \([\text{H}^+]\) dari definisi pertama.
  2. Hitung nilai \(D\) pada pH 4,00.
  3. Hitung massa asam benzoat yang terekstraksi ke benzena pada pH 4,00.
  4. Hitung \(D\) pada pH 6,00. Bandingkan dengan (b) dan jelaskan secara kimia mengapa \(D\) menurun drastis.
  5. Tentukan pH kritis di mana \(D = 1\). Apa maknanya secara praktis?
Lihat Pembahasan Lengkap
Penurunan Rumus D (a)

Kesetimbangan ionisasi di fasa air: \(\text{HA} \rightleftharpoons \text{H}^+ + \text{A}^-\)

Hanya HA (tak terionisasi) yang dapat masuk benzena, sehingga \(K_D = [\text{HA}]_{\text{benz}}/[\text{HA}]_{\text{air}}\).

Definisi \(D\):

\[D = \frac{[\text{HA}]_{\text{benz}}}{[\text{HA}]_{\text{air}} + [\text{A}^-]_{\text{air}}}\]

Substitusi \([\text{HA}]_{\text{benz}} = K_D[\text{HA}]_{\text{air}}\) dan \([\text{A}^-] = \dfrac{K_a[\text{HA}]_{\text{air}}}{[\text{H}^+]}\):

\[D = \frac{K_D}{1 + \dfrac{K_a}{[\text{H}^+]}}\]
\(\displaystyle D = \frac{K_D}{1 + K_a/[\text{H}^+]}\)
Nilai D pada pH 4,00 (b)
\[\begin{aligned} D &= \frac{87{,}0}{1 + \dfrac{6{,}3 \times 10^{-5}}{1{,}0 \times 10^{-4}}} = \frac{87{,}0}{1{,}630} = 53{,}4 \end{aligned}\]
\(D_{\text{pH 4}} = 53{,}4\)
Massa Terekstraksi pada pH 4,00 (c)
\[\begin{aligned} E &= \frac{53{,}4 \times 50}{(53{,}4 \times 50) + 100} = \frac{2670}{2770} = 96{,}4\% \end{aligned}\] \[m_0 = 2{,}00 \times 10^{-3} \times 122 = 0{,}244 \text{ g}\] \[m_{\text{eks}} = 0{,}244 \times 0{,}964 = 0{,}235 \text{ g}\]
\(m_{\text{eks}} = 0{,}235\) g  (\(E = 96{,}4\%\))
Nilai D pada pH 6,00 dan Perbandingan (d)
\[\begin{aligned} D &= \frac{87{,}0}{1 + \dfrac{6{,}3 \times 10^{-5}}{1{,}0 \times 10^{-6}}} = \frac{87{,}0}{64{,}0} = 1{,}36 \end{aligned}\]
\(D_{\text{pH 6}} = 1{,}36\)  (vs \(D_{\text{pH 4}} = 53{,}4\), turun ~40 kali lipat!)
Penjelasan kimia: Pada pH 6, \(K_a \gg [\text{H}^+]\), sehingga sebagian besar asam benzoat telah terionisasi menjadi ion benzoat C6H5COO. Ion bermuatan negatif ini sangat terhidrasi dan tidak dapat memasuki fasa non-polar benzena. \(K_D\) sejati tidak berubah, tetapi konsentrasi HA di fasa air sangat berkurang akibat ionisasi, menekan nilai \(D\) secara drastis.
pH Kritis (e)
\[\begin{aligned} \frac{K_a}{[\text{H}^+]} &= K_D - 1 = 86{,}0 \\[8pt] [\text{H}^+] &= \frac{6{,}3 \times 10^{-5}}{86{,}0} = 7{,}33 \times 10^{-7} \text{ M} \end{aligned}\] \[\text{pH}_{\text{kritis}} = -\log(7{,}33 \times 10^{-7}) = 6{,}13\]
pH kritis = 6,13. Pada pH > 6,13, \(D < 1\) sehingga asam benzoat lebih banyak tersisa di fasa air. Ekstraksi efisien hanya dapat dilakukan di bawah pH 6,13, idealnya pada pH < 4.
5
Back-Extraction Dua Tahap: Pemurnian Antibiotik
Olimpiade

Senyawa antibiotik A (basa lemah) dan pengotor B (senyawa netral non-polar) keduanya terdapat dalam 200 mL air. Antibiotik A bersifat basa lemah: pada pH netral ia tidak terprotonasi (non-polar), tetapi pada pH 2 ia terprotonasi penuh (menjadi polar dan mudah larut air).

\(K_D = [\text{CHCl}_3]/[\text{H}_2\text{O}]\):
pH 7:   \(K_D(A) = 45{,}0\)  |  \(K_D(B) = 320\)  (B non-polar, tidak terpengaruh pH)
pH 2:   \(K_D(A) = 0{,}60\)  |  \(K_D(B) = 320\)
Komposisi awal (200 mL air, pH 7):   \(m_A = 0{,}900\) g,   \(m_B = 0{,}300\) g

Tahap 1: Ekstraksi dengan 50 mL CHCl3 pada pH 7.

Tahap 2: Fasa kloroform hasil Tahap 1 di-back-extract dengan 50 mL air pH 2.

  1. Hitung massa A dan B yang masuk ke fasa kloroform pada Tahap 1.
  2. Hitung massa A dan B yang berpindah ke fasa air pH 2 pada Tahap 2.
  3. Hitung kemurnian A (%) dalam fasa air pH 2 akhir.
  4. Hitung % recovery A dari keseluruhan proses. Diskusikan trade-off antara kemurnian dan recovery.
Lihat Pembahasan Lengkap
Tahap 1: Ekstraksi ke CHCl3 pada pH 7 (a)

Senyawa A (\(K_D = 45{,}0\)):

\[\begin{aligned} E_A &= \frac{45{,}0 \times 50}{(45{,}0 \times 50) + 200} = \frac{2250}{2450} = 91{,}84\% \end{aligned}\] \[m_{A,\text{CHCl}_3} = 0{,}900 \times 0{,}9184 = 0{,}8265 \text{ g}\]

Senyawa B (\(K_D = 320\)):

\[\begin{aligned} E_B &= \frac{320 \times 50}{(320 \times 50) + 200} = \frac{16000}{16200} = 98{,}77\% \end{aligned}\] \[m_{B,\text{CHCl}_3} = 0{,}300 \times 0{,}9877 = 0{,}2963 \text{ g}\]
Fasa CHCl3 Tahap 1:   \(m_A = 0{,}827\) g  |  \(m_B = 0{,}296\) g
Kedua senyawa terekstraksi hampir sempurna ke kloroform. Kemurnian di fasa kloroform = 73,6%, masih kotor, diperlukan Tahap 2.
Tahap 2: Back-Extraction ke Air pH 2 (b)

Senyawa A pada pH 2 (\(K_D = 0{,}60\)):

\[\begin{aligned} f_{A \to \text{air}} &= \frac{50}{0{,}60 \times 50 + 50} = \frac{50}{80} = 0{,}6250 \end{aligned}\] \[m_{A,\text{air pH2}} = 0{,}8265 \times 0{,}6250 = 0{,}5166 \text{ g}\]

Senyawa B pada pH 2 (\(K_D = 320\)):

\[\begin{aligned} f_{B \to \text{air}} &= \frac{50}{320 \times 50 + 50} = \frac{50}{16050} = 3{,}116 \times 10^{-3} \end{aligned}\] \[m_{B,\text{air pH2}} = 0{,}2963 \times 3{,}116 \times 10^{-3} = 9{,}23 \times 10^{-4} \text{ g}\]
Fasa air pH 2:   \(m_A = 0{,}5166\) g  |  \(m_B = 9{,}23 \times 10^{-4}\) g
Kemurnian A (c)
\[\begin{aligned} \%\,\text{Kemurnian} &= \frac{0{,}5166}{0{,}5166 + 9{,}23 \times 10^{-4}} \times 100\% = 99{,}82\% \end{aligned}\]
Kemurnian A = 99,82%
% Recovery dan Diskusi Trade-off (d)
\[\%\,\text{Recovery} = \frac{0{,}5166}{0{,}900} \times 100\% = 57{,}4\%\]
% Recovery A = 57,4%
Trade-off kemurnian vs recovery: Proses dua tahap ini meningkatkan kemurnian A dari ~75% menjadi 99,82%, tetapi hanya 57,4% dari A awal yang dapat dipulihkan. Dalam industri farmasi, kemurnian >99% sering menjadi prioritas mutlak. Recovery yang rendah dapat dikompensasi dengan mendaur ulang fasa kloroform (mengulang back-extraction dengan porsi air segar), atau dengan mengoptimalkan volume dan jumlah tahap menggunakan persamaan Craig counter-current distribution.
6
I2 dalam Sistem Air / CS2
OSK Kimia 2014

Dalam proses ekstraksi dikenal suatu tetapan yang disebut koefisien partisi \(K_d\), yaitu perbandingan antara konsentrasi zat terlarut pada fasa atas terhadap konsentrasi pada fasa bawah. Koefisien partisi untuk iodin (I2) antara air dan karbon disulfida (CS2) pada 20 °C adalah \(K_d = 2{,}4 \times 10^{-3}\), dengan satuan konsentrasi g I2 per mL pelarut.

Kerapatan air = 1,00 g/mL  |  Kerapatan CS2 = 1,26 g/mL  (pada 20 °C)
Larutan: 100 mL larutan I2 dalam air, konsentrasi \(5{,}0 \times 10^{-4}\) M  |  \(mM\) I2 = 254 g/mol
Diekstraksi dengan: 20 mL CS2
  1. Tentukan lapisan mana (atas atau bawah) yang ditempati CS2 berdasarkan kerapatannya, lalu tuliskan ungkapan matematis \(K_d\) yang benar untuk sistem ini.
  2. Hitung massa I2 (dalam gram) yang berpindah ke fasa CS2 setelah tercapai kesetimbangan.
  3. Berdasarkan nilai \(K_d\), jelaskan secara kualitatif dalam pelarut mana I2 lebih mudah larut.
Lihat Pembahasan
Langkah (a) Identifikasi Lapisan dan Rumus Kd

Kerapatan CS2 = 1,26 g/mL > kerapatan air = 1,00 g/mL, sehingga CS2 berada di lapisan bawah dan air berada di lapisan atas.

\[K_d = \frac{[\text{I}_2]_{\text{air (atas)}}}{[\text{I}_2]_{\text{CS}_2 \text{ (bawah)}}} = 2{,}4 \times 10^{-3}\]
Catatan koreksi: Soal asli menampilkan formula \(K_d = [\text{I}_2]_{\text{CS}_2}/[\text{I}_2]_{\text{air}}\) yang terbalik dari definisi "atas/bawah" karena CS2 justru berada di bawah. Formula yang benar sesuai definisi adalah yang tertulis di atas.
Langkah (b) Massa I2 ke Fasa CS2
\[m_0 = (0{,}100 \times 5{,}0 \times 10^{-4}) \times 254 = 0{,}0127 \text{ g}\]

Misal massa yang berpindah ke CS2 = \(x\) gram:

\[\begin{aligned} K_d &= \frac{(0{,}0127 - x)/100}{x/20} = 2{,}4 \times 10^{-3} \\[8pt] 0{,}0127 - x &= 1{,}2 \times 10^{-2}\,x \\[6pt] x &= \frac{0{,}0127}{1{,}012} = 0{,}01255 \text{ g} \end{aligned}\]
Massa I2 ke fasa CS2 = 0,01255 g (sekitar 99% dari total)
Langkah (c) Interpretasi Kualitatif

\(K_d = [\text{I}_2]_{\text{air}}/[\text{I}_2]_{\text{CS}_2} = 2{,}4 \times 10^{-3} \ll 1\), artinya konsentrasi I2 di air jauh lebih kecil dibanding di CS2.

I2 jauh lebih mudah larut dalam CS2 daripada dalam air. Rasio kelarutan CS2/air ≈ 417 kali. Hal ini konsisten: I2 adalah molekul non-polar yang lebih menyukai pelarut non-polar seperti CS2.
7
Partisi Asam Organik HA antara n-Oktanol dan Air
IChO 2021

Suatu asam organik HA mempunyai koefisien partisi \(P\) antara n-oktanol dan air yang didefinisikan sebagai:

\[P = \frac{C_{\text{HA, oktanol}}}{C_{\text{HA, air}}}\]

pada keadaan di mana HA tidak terionisasi. Sebanyak 50,0 mL larutan HA 0,010 M dalam air dikocok dengan 50,0 mL n-oktanol sampai tercapai kesetimbangan. Setelah pemisahan, analisis menunjukkan bahwa konsentrasi HA di fasa air menjadi 0,0040 M.

  1. Hitung nilai \(P\) untuk HA pada sistem n-oktanol/air tersebut.
  2. Jika proses ekstraksi diulang satu kali lagi dengan 50,0 mL n-oktanol segar terhadap larutan air hasil ekstraksi pertama, hitung fraksi HA yang tersisa di fasa air setelah dua kali ekstraksi.
  3. Jelaskan mengapa senyawa obat dengan nilai \(P\) terlalu besar atau terlalu kecil tidak ideal sebagai obat oral.
Lihat Pembahasan
Langkah (a) Nilai P
\[\begin{aligned} n_0 &= 0{,}0500 \times 0{,}010 = 5{,}0 \times 10^{-4} \text{ mol} \\[6pt] n_{\text{air}} &= 0{,}0500 \times 0{,}0040 = 2{,}0 \times 10^{-4} \text{ mol} \\[6pt] n_{\text{okt}} &= 3{,}0 \times 10^{-4} \text{ mol} \end{aligned}\] \[\begin{aligned} C_{\text{HA, oktanol}} &= \frac{3{,}0 \times 10^{-4}}{0{,}0500} = 6{,}0 \times 10^{-3} \text{ M} \\[8pt] P &= \frac{6{,}0 \times 10^{-3}}{4{,}0 \times 10^{-3}} = 1{,}5 \end{aligned}\]
\(P = 1{,}5\)  (\(\log P \approx 0{,}18\))
Langkah (b) Fraksi Tersisa Setelah 2 Ekstraksi
\[\begin{aligned} f &= \frac{50{,}0}{50{,}0 + 1{,}5 \times 50{,}0} = \frac{50{,}0}{125} = 0{,}400 \\[8pt] q_2 &= (0{,}400)^2 = 0{,}160 \end{aligned}\]
Fraksi tersisa di fasa air = 0,160 (16,0%). Artinya 84% HA telah terekstraksi.
Langkah (c) Hubungan P dengan Efektivitas Obat Oral
\(P\) terlalu kecil (\(\log P < 0\)): Obat terlalu hidrofilik dan tidak dapat menembus membran sel lipid bilayer. Obat terperangkap di saluran cerna, tidak diserap ke sirkulasi sistemik.

\(P\) terlalu besar (\(\log P > 5\)): Obat terlalu lipofilik. Meski mudah menembus membran, obat tidak cukup larut dalam cairan tubuh untuk didistribusikan ke jaringan target dan cenderung terakumulasi di jaringan lemak, berpotensi toksik.

Kisaran ideal: \(\log P\) antara 0 dan 5 (Aturan Lipinski), dengan titik optimal sekitar \(\log P = 1{,}5\text{–}2{,}5\) untuk banyak obat oral.
8
Pengaruh Perubahan Volume Pelarut terhadap Distribusi Obat
Sedang

Sebanyak 100 mg suatu obat netral N dilarutkan dalam campuran 50,0 mL pelarut organik dan 50,0 mL air dalam sebuah corong pisah. Setelah kesetimbangan, analisis menunjukkan konsentrasi obat di fasa air = 0,67 mg/mL dan di fasa organik = 1,33 mg/mL.

  1. Definisikan dan hitung koefisien partisi \(K\) obat N antara pelarut organik dan air.
  2. Jika percobaan diulang dengan 100 mg obat N yang sama, tetapi kali ini menggunakan 100 mL pelarut organik dan 50 mL air (nilai \(K\) tetap), hitung konsentrasi obat di masing-masing fasa pada kesetimbangan.
Lihat Pembahasan
Langkah (a) Definisi dan Nilai K
\[K = \frac{[\text{N}]_{\text{org}}}{[\text{N}]_{\text{air}}} = \frac{1{,}33}{0{,}67} = 1{,}99 \approx 2{,}0\]

Verifikasi: \(1{,}33 \times 50 + 0{,}67 \times 50 = 66{,}5 + 33{,}5 = 100 \text{ mg} \;\checkmark\)

\(K = 2{,}0\)  (organik/air)
Langkah (b) Konsentrasi dengan Vorg = 100 mL

Misalkan massa yang masuk ke fasa organik = \(y\) mg:

\[\begin{aligned} 2{,}0 &= \frac{y/100}{(100-y)/50} = \frac{y \times 50}{100(100-y)} \\[8pt] 4(100 - y) &= y \;\Rightarrow\; y = 80 \text{ mg} \end{aligned}\] \[\begin{aligned} [\text{N}]_{\text{org}} &= \frac{80}{100} = 0{,}80 \text{ mg/mL} \\[6pt] [\text{N}]_{\text{air}} &= \frac{20}{50} = 0{,}40 \text{ mg/mL} \end{aligned}\]

Verifikasi: \(K = 0{,}80/0{,}40 = 2{,}0 \;\checkmark\)

\([\text{N}]_{\text{org}} = 0{,}80\) mg/mL  |  \([\text{N}]_{\text{air}} = 0{,}40\) mg/mL
Bandingkan dengan percobaan awal: konsentrasi di kedua fasa turun karena volume organik diperbesar dua kali. Meski 80% massa sudah di fasa organik (vs 66,5% sebelumnya), konsentrasi di fasa organik justru lebih rendah (0,80 vs 1,33 mg/mL) karena terdilusi oleh volume yang lebih besar. Ini menunjukkan bahwa efisiensi ekstraksi dan konsentrasi akhir adalah dua hal yang berbeda.
urip.info  |  Materi Kimia SMA & Olimpiade  |  Koefisien Partisi & Ekstraksi Cair-Cair
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info