Senyawa A adalah senyawa minyak atsiri atau minyak esensial yang memiliki aroma menyegarkan yang khas. Senyawa B merupakan hasil dari proses siklisasi senyawa A. Pertanyaan-pertanyaaan berikut berhubungan dengan kedua senyawa tersebut.
Bagian-1 | Bagian-6 |
Bagian-2 | Bagian-7 |
Bagian-3 | Bagian-8 |
Bagian-4 | Bagian-9 |
Bagian-5 | Bagian-10 |
Soal a.
(a1) Konfigurasi absolut pada karbon kiral senyawa A adalah ....,
(a2) sedangkan karbon nomor 1 pada senyawa B adalah ....
(a3) Senyawa B memiliki .... atom C kiral,
(a4) sehingga memiliki jumlah stereoisomer maksimum .... stereoisomer.
a1. Penentuan Konfigurasi Absolut
Langkah 1: Identifikasi Pusat Stereogenik (C3)
Pusat stereogenik adalah C3 karena terikat pada 4 gugus berbeda:
- H (hidrogen)
- CH3 (metil)
- C2 (rantai ke aldehida)
- C4 (rantai ke ikatan ganda)
Langkah 2: Prioritas Gugus Berdasarkan Aturan Cahn-Ingold-Prelog
Urutkan prioritas gugus yang terikat pada C3:
- -C(=O)H (gugus aldehida di C1, prioritas tertinggi karena O)
- -CH2-C4 (rantai ke C4, karena karbon berikutnya terikat pada C, H, H)
- -CH3 (metil, terikat pada H, H, H)
- -H (prioritas terendah)
Langkah 3: Penentuan Konfigurasi (R atau S)
Langkah-langkah menentukan konfigurasi:
- Tempatkan molekul sehingga H (prioritas 4) berada di belakang.
- Urutkan prioritas 1 → 2 → 3:
- Jika searah jarum jam: konfigurasi R.
- Jika berlawanan jarum jam: konfigurasi S.
Catatan: Pada senyawa ini, urutan prioritas 1→2→3 berlawanan arah pergerakan jarum jam ketika H di belakang, maka konfigurasinya S.
a2. Penentuan Konfigurasi Absolut
Langkah 1: Identifikasi Pusat Stereogenik (C1)
Pusat stereogenik adalah C1 karena terikat pada 4 gugus berbeda:
- OH (hidroksida)
- C2 (rantai ke karbon nomor 2)
- C6 (rantai ke karbon nomor 6)
- H (mengarah ke belakang/tidak ditampilkan)
Langkah 2: Prioritas Gugus Berdasarkan Aturan Cahn-Ingold-Prelog
Urutkan prioritas gugus yang terikat pada C3:
- OH (prioritas tertinggi, karena O > C)
- C2 (bandingkan atom berikutnya: C terikat ke C, H, H)
- C6 (analog dengan C2, tetapi prioritas lebih rendah karena panjang rantai)
- H (prioritas terendah)
Langkah 3: Penentuan Konfigurasi (R atau S)
Langkah-langkah menentukan konfigurasi:
- Tempatkan molekul sehingga H (prioritas 4) berada di belakang.
- Urutkan prioritas 1 → 2 → 3:
- Jika searah jarum jam: konfigurasi R.
- Jika berlawanan jarum jam: konfigurasi S.
Catatan: Pada senyawa ini, urutan prioritas 1→2→3 searah pergerakan jarum jam ketika H di belakang, maka konfigurasinya R.
a3. Penentuan jumlah atom C kiral
Atom C kiral ditentukan dengan memperhatikan gugus yang diikat, ketika keeampat gugus yang dikat berbeda berarti C tersebut merupakan C-kiral. Bila jenis gugus yang diikat sama, pertimbangan/bandingkan untuk rangkaian berikutnya.
Pada struktur B ini jumlah atom C kiral sebanyak 3, dalam gambar ditunjukkan pada C dengan nomor warna merah.
a4. Penentuan jumlah steroisomer
Jumlah stereoisomer ditentukan dengan menggunakan rumus 2n, dengan n = jumlah atom C kiral. Jadi dalam soal ini jumlah steroisomer senyawa B = 23 = 8 stereosiomer.
Soal b.
Ketika senyawa A direaksikan dengan larutan asam klorida encer pada kondisi normal, maka akan terbentuk gugus klorida pada posisi atom karbon....
Reaksi (S)-3,7-dimetilokt-6-enal dengan HCl Encer
Mekanisme Reaksi:
- HCl encer bereaksi dengan ikatan rangkap C6=C7
- Adisi mengikuti Aturan Markovnikov:
- H+ menempel di C6 (y) (karbon kurang tersubstitusi)
- Cl- menempel di C7 (x) (karbon lebih tersubstitusi)
Kesimpulan:
Gugus klorida (-Cl) akan terikat pada C7 (x).
Pilihan jawaban yang benar: "x".
Soal c.
Ketika senyawa A direaksikan dengan larutan natrium borohidrida dalam metanol yang dilanjutkan dengan penambahan asam, maka reaksi akan terjadi pada ....
Reaksi (S)-3,7-dimetilokt-6-enal dengan NaBH4/Metanol + Asam
Mekanisme Reaksi:
- Natrium borohidrida (NaBH4) adalah reduktor lemah yang secara selektif mereduksi:
- Gugus karbonil aldehida (C=O) di C1 menjadi CH2OH
- Tidak bereaksi dengan gugus alkena (C=C) atau karbon kiral
- Produk antara: alkohol primer dari reduksi aldehida
- Penambahan asam: memprotonasi alkoksida menjadi alkohol
Kesimpulan:
Reaksi terjadi pada gugus karbonil aldehida (C1).
Pilihan jawaban yang benar: "gugus karbonil".
Soal d.
- Senyawa A dapat diputuskan ikatan rangkapnya pada posisi x dan y menjadi senyawa karbonil yang memiliki bilangan oksidasi karbon pada gugus karbonil ada yang +1 dan +2. Tahapan reaksi beserta reagen yang digunakan yang paling tepat untuk menghasilkan produk tersebut adalah .... (pilih salah satu)
- Produk dari reaksi ini adalah ... (boleh pilih lebih dari satu)
Analisis Opsi Pereaksi dan Produk
Opsi Reaksi yang Dipilih:
Mekanisme Reaksi:
- 1,3-propanadiol (pelindung karbonil):
- Melindungi gugus aldehida di C1 dengan membentuk asetal siklik
- Reaksi: CHO + HO-CH2-CH2-CH2-OH → siklik asetal (pH 5-6)
- Ozonolisis (O3):
- Memutus ikatan rangkap C6=C7 membentuk ozonida
- Reduksi ((CH3)2S):
- Mengubah ozonida menjadi dua gugus karbonil
- C6 → aldehida (akan teroksidasi lebih lanjut)
- C7 → keton (propanon)
- Hidrolisis (H3O+):
- Melepas gugus pelindung asetal di C1
- Mengembalikan gugus aldehida asli di C1
- Mengoksidasi aldehida di C6 menjadi asam/dial
Produk yang Terbentuk:
- Propanon (dari C7-C8)
- 3-metilheksandial (dialdehida dari C1-C6)
Penjelasan:
Proses ini menghasilkan dua senyawa karbonil berbeda:
- Propanon (keton): Bilangan oksidasi C= +2
- 3-metilheksandial (dialdehida): Bilangan oksidasi C= +1 (per gugus CHO)
Reaksi ini spesifik karena:
- 1,3-propanadiol melindungi aldehida asli di C1
- Ozonolisis selektif hanya memutus ikatan rangkap
- (CH3)2S mencegah over-oksidasi
Soal e.
- Senyawa B direaksikan dengan dimetilsulfat dalam suasana basa, selanjutnya direaksikan dengan asam peroksiasetat menghasilkan senyawa C. Senyawa C akan memiliki gugus .....
- metil pada karbon 1 dan gugus hidroksi pada karbon z
- metoksi pada karbon nomor 1 dan gugus hidroksi pada posisi karbon u
- metil pada karbon 1 dan epoksida pada posisi v dan w
- tidak tahu
- metoksi pada karbon 1 dan epoksida pada posisi v dan w
- metoksi pada karbon w dan gugus hidroksi pada karbon v
- Kemudian senyawa C yang diperoleh direaksikan dengan CH3MgBr dalam eter kering yang dilanjutkan dengan penambahan asam sehingga diperoleh senyawa D. Senyawa D akan memiliki gugus ....
- metoksi pada karbon 1, gugus hidroksi pada karbon v, dan gugus metil terikat pada karbon w
- metil pada karbon 1, gugus hidroksi pada karbon z, dan gugus metoksi pada karbon v
- metil pada karbon 1, metoksi pada karbon u, gugus hidroksida pada posisi v dan w
- metoksi pada karbon w, gugus hidroksi pada karbon v, dan gugus metil pada karbon u
- tidak tahu
- metoksi pada karbon 1, gugus hidroksi pada karbon w, dan gugus metil terikat pada karbon v
1. Pembentukan senyawa C.
1a: Reaksi Senyawa B + (CH3)2SO4 / basa → senyawa M
1b: Reaksi Senyawa M + Asam peroksiasetat (CH3COOOH) → senyawa C
1a. Reagen:
- Dimetilsulfat ((CH3)2SO4): Agen metilasi yang menyediakan gugus metil (-CH3) melalui reaksi substitusi nukleofilik (SN2).
- Suasana basa (misalnya NaOH): Mendeprotonasi gugus hidroksil (-OH) menjadi ion alkoksida (-O-), meningkatkan nukleofilisitasnya.
1a. Mekanisme:
- Gugus hidroksil (-OH) pada karveol dideprotonasi oleh basa, membentuk ion alkoksida (R-O-).
- Ion alkoksida menyerang dimetilsulfat secara nukleofilik, menggantikan gugus sulfat dengan gugus metil, menghasilkan eter.
1a. Produk M: (1R)-5-methyl-2-(prop-1-en-2-yl)-1-methoxycyclohexane (gugus -OH menjadi -OCH3).
1b. Reagen:
- Asam peroksiasetat (CH3COOOH): Agen epoksidasi yang mentransfer atom oksigen ke ikatan rangkap karbon-karbon, membentuk cincin epoksida.
1b. Mekanisme:
- Ikatan rangkap pada gugus isopropenil (-C(CH3)=CH2) di senyawa M bereaksi dengan asam peroksiasetat.
- Oksigen ditambahkan ke ikatan rangkap melalui adisi sin, membentuk cincin epoksida (oxirane) pada gugus isopropenil.
1b Produk C: (1R)-5-methyl-2-(2-methyloxiran-2-yl)-1-methoxycyclohexane (ikatan rangkap menjadi epoksida).
2. Pembentukan D: C + CH3MgBr, Eter kering; Asam (H3O+) → D
2. Reagen:
- CH3MgBr: Reagen Grignard, sumber nukleofil CH3-, menyerang karbon epoksida yang kurang tersubstitusi.
- Eter kering: Pelarut nonpolar (misalnya dietil eter) untuk menjaga reaktivitas Grignard.
- Asam (H3O+): Memprotonasi alkoksida hasil reaksi Grignard menjadi gugus hidroksil (-OH).
2. Mekanisme:
- Nukleofil CH3- dari CH3MgBr menyerang karbon kurang tersubstitusi (karbon 2' epoksida) pada gugus 2-methyloxiran-2-yl, membuka cincin epoksida dan membentuk alkoksida.
- Hidrolisis dengan asam memprotonasi alkoksida menjadi gugus hidroksil, menghasilkan alkohol tersier.
3. Produk D: (1R)-5-methyl-2-(1-hydroxy-1-methylpropyl)-1-methoxycyclohexane (epoksida terbuka, membentuk -C(CH3)(OH)CH2CH3).
Jawaban pertanyaan soal e:
Senyawa C memiliki gugus metoksi pada karbon 1 dan epoksida pada posisi v dan w.
Senyawa D memiliki gugus metoksi pada karbon 1, gugus hidroksi pada karbon v, dan gugus metil terikat pada karbon w.
Soal f.
Pasangan spektrum 13C-NMR (100 MHz, pelarut CDCl3) dan 1H-NMR (400 MHz, pelarut CDCl3), yang bersesuaian dengan senyawa A adalah: ....., sedangkan untuk senyawa B adalah: ....
Analisis untuk gambar spektra-1: Puncak kuat sekitar 200 ppm = gugus C=O; Puncak kuat sekitar 120/130 ppm = gugus alkena; Puncak kuat sekitar 20-50 ppm = CH2-R; Data ini sesuai dengan senyawa A dan tidak untuk senyawa B karena senyawa B karena ia tidak punya gugus C=O
Analisis untuk gambar spektra-2: Tidak terdapat puncak kuat sekitar 200 ppm = gugus C=O, berarti jelas sekali ini tidak cocok dengan senyawa A; Puncak kuat sekitar 120/130 ppm = gugus alkena; Puncak kuat sekitar 20-50 ppm = CH2-R; Data ini sesuai dengan senyawa A dan tidak untuk senyawa B karena senyawa B karena ia tidak punya gugus C=O, ini bisa saja sesuai dengan senyawa B.
Analisis spektra-a secara kasar (karena visual kurang jelas): Puncak-puncak yang ada berkemungkinan untuk mengindikasikan senyawa B tetapi tidak untuk senyawa A karena tidak ada puncak atau geseran di sekitar 10 ppm.
Analisis spektra-b secara kasar (karena visual kurang jelas): Puncak dekat 10 ppm = gugus aldehide (HC=O); Puncak 5 ppm = gugus alkena; Puncak sekitar 1-2,5 ppm = CH–Alkana; Data ini sesuai dengan senyawa A dan tidak untuk senyawa B karena senyawa B karena ia tidak punya gugus HC=O
Pasangan spektrum 13C-NMR (100 MHz, pelarut CDCl3) dan 1H-NMR (400 MHz, pelarut CDCl3), yang bersesuaian dengan senyawa A adalah: 1-b, sedangkan untuk senyawa B adalah: 2-a.
Tolong dikoreksi bila ada bahasan yang kurang tepat. Terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar