Pembahasan Soal Olimpiade Kimia Tingkat Nasional US 2026 Bagian 1/4

Rabu, 15 Juli 2026

Berikut ini pembahasan soal pilihan ganda dengan 4 opsi olimpiade kimia nasional dari US 2026 yang dapat digunakan sebagai tambahan belajar persiapan olimpiade kimia di Indonesia. Sumber soal dapat diakses di sini. Pembahasan di sini tidak sekadar mengarah ke jawaban yang benar tetapi dibahas mendetail sehingga pembaca dapat mempelajari secara utuh. Jumlah soal 60 butir pilihan ganda dengan 4 opsi. Pembahasan akan diberikan setiap 15 soal.

Pembahasan soal nomor 1-15;
Pembahasan soal nomor 16-30;
Pembahasan soal nomor 31-45;
Pembahasan soal nomor 46-60.

  1. Soal 1.

    Sebanyak 10,00 g kristal tembaga(II) sulfat pentahidrat, CuSO4·5H2O, dipanaskan kuat-kuat hingga semua air kristal menguap. Berapa massa tembaga(II) sulfat anhidrat yang tersisa?
    1. 1,67 g
    2. 3,61 g
    3. 6,39 g
    4. 8,99 g

    Konsep: Pemanasan kristal hidrat akan melepaskan seluruh molekul air kristal (H2O), menyisakan senyawa anhidratnya.

    $$ \text{CuSO}_4 \cdot 5\text{H}_2\text{O} \;\xrightarrow{\text{dipanaskan}}\; \text{CuSO}_4 \;+\; 5\text{H}_2\text{O} \;(\text{menguap}) $$

    Langkah 1: Tentukan massa molar (Mm) masing-masing zat

    Diketahui Ar: Cu = 63,5 ; S = 32 ; O = 16 ; H = 1

    $$ \begin{aligned} \text{Mm}\ \text{CuSO}_4 &= Ar_{Cu} + Ar_S + 4(Ar_O) \\[8pt] &= 63{,}5 + 32 + 4(16) \\[8pt] &= 63{,}5 + 32 + 64 \\[8pt] &= 159{,}5 \ \text{g/mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} \text{Mm}\ (5\text{H}_2\text{O}) &= 5 \times (2 \times Ar_H + Ar_O) \\[8pt] &= 5 \times (2(1) + 16) \\[8pt] &= 5 \times 18 \\[8pt] &= 90 \ \text{g/mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} \text{Mm}\ \text{CuSO}_4\cdot 5\text{H}_2\text{O} &= \text{Mm}\ \text{CuSO}_4 + \text{Mm}\ (5\text{H}_2\text{O}) \\[8pt] &= 159{,}5 + 90 \\[8pt] &= 249{,}5 \ \text{g/mol} \end{aligned} $$

    Langkah 2: Hitung jumlah kristal CuSO4·5H2O mula-mula ($n_{\text{CuSO}_4 \cdot 5\text{H}_2\text{O}}$)

    $$ \begin{aligned} n_{\text{CuSO}_4 \cdot 5\text{H}_2\text{O}} &= \dfrac{\text{massa}}{\text{Mm}} \\[8pt] &= \dfrac{10{,}00 \ \text{g}}{249{,}5 \ \text{g/mol}} \\[8pt] &= 0{,}04008 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 3: Tentukan jumlah CuSO4 anhidrat yang terbentuk ($n_{\text{CuSO}_4}$)

    Berdasarkan perbandingan koefisien reaksi (1 mol CuSO4·5H2O menghasilkan 1 mol CuSO4), maka:

    $$ \begin{aligned} n_{\text{CuSO}_4} &= n_{\text{CuSO}_4 \cdot 5\text{H}_2\text{O}} \\[8pt] &= 0{,}04008 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 4: Hitung massa CuSO4 anhidrat

    $$ \begin{aligned} \text{massa CuSO}_4 &= n_{\text{CuSO}_4} \times \text{Mm}_{\text{CuSO}_4} \\[8pt] &= 0{,}04008 \ \text{mol} \times 159{,}5 \ \text{g/mol} \\[8pt] &= 6{,}393 \ \text{g} \\[8pt] &\approx 6{,}39 \ \text{g} \end{aligned} $$

    Kesimpulan: Massa tembaga(II) sulfat anhidrat yang tersisa setelah pemanasan adalah 6,39 g.

    Jawaban: C. 6,39 g


  2. Soal 2.

    Etana bereaksi dengan oksigen menurut persamaan setara berikut.
    2C2H6(g) + 7O2(g) → 4CO2(g) + 6H2O(l)
    Suatu campuran etana dan oksigen bervolume 22,4 L pada keadaan STP. Campuran dibiarkan bereaksi seperti di atas, dan gas-gas yang dihasilkan kemudian bervolume 11,2 L pada STP. Berapa mol etana yang mula-mula ada?
    1. 0,20 mol
    2. 0,30 mol
    3. 0,40 mol
    4. Tidak dapat ditentukan dari informasi yang diberikan.

    Konsep kunci: Perhatikan bahwa H2O yang dihasilkan berwujud cair (l), bukan gas. Artinya H2O tidak ikut dihitung dalam volume gas akhir. Karena reaksi "dibiarkan bereaksi", reaksi akan berlangsung sampai salah satu pereaksi habis (pereaksi pembatas), namun soal tidak memberi tahu kita pereaksi mana yang habis, sehingga kita harus menguji kedua kemungkinan.

    Langkah 1: Ubah volume menjadi mol (STP: 1 mol = 22,4 L)

    $$ \begin{aligned} n_{\text{total awal}} &= \dfrac{V_{\text{awal}}}{22{,}4 \ \text{L/mol}} \\[8pt] &= \dfrac{22{,}4 \ \text{L}}{22{,}4 \ \text{L/mol}} \\[8pt] &= 1{,}00 \ \text{mol} \quad (\text{C}_2\text{H}_6 + \text{O}_2) \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} n_{\text{gas akhir}} &= \dfrac{V_{\text{akhir}}}{22{,}4 \ \text{L/mol}} \\[8pt] &= \dfrac{11{,}2 \ \text{L}}{22{,}4 \ \text{L/mol}} \\[8pt] &= 0{,}50 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Misalkan mol C2H6 mula-mula $= x$ dan mol O2 mula-mula $= y$, sehingga:

    $$ x + y = 1{,}00 \ \text{mol} $$

    Kemungkinan 1, C2H6 sebagai pereaksi pembatas (habis bereaksi)

    Gas sisa setelah reaksi hanya CO2 yang terbentuk + O2 yang berlebih (H2O mengembun/cair).

    $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2} &= \dfrac{4}{2}\,x = 2x \\[8pt] n_{\text{O}_2\ \text{bereaksi}} &= \dfrac{7}{2}\,x = 3{,}5x \\[8pt] n_{\text{O}_2\ \text{sisa}} &= y - 3{,}5x \end{aligned} $$

    Total gas akhir:

    $$ \begin{aligned} n_{\text{gas akhir}} &= n_{\text{CO}_2} + n_{\text{O}_2\ \text{sisa}} \\[8pt] &= 2x + (y - 3{,}5x) \\[8pt] &= y - 1{,}5x \\[8pt] &= (1 - x) - 1{,}5x \\[8pt] &= 1 - 2{,}5x \end{aligned} $$

    Substitusi $n_{\text{gas akhir}} = 0{,}5$ mol:

    $$ \begin{aligned} 1 - 2{,}5x &= 0{,}5 \\[8pt] 2{,}5x &= 0{,}5 \\[8pt] x &= 0{,}20 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Cek kevalidan: jika $x = 0{,}20$ mol, maka $y = 0{,}80$ mol. O2 yang dibutuhkan $= 3{,}5 \times 0{,}20 = 0{,}70$ mol $\leq 0{,}80$ mol → valid, C2H6 memang habis lebih dulu (O2 sisa $0{,}10$ mol).


    Kemungkinan 2, O2 sebagai pereaksi pembatas (habis bereaksi)

    Gas sisa setelah reaksi adalah CO2 yang terbentuk + C2H6 yang berlebih.

    $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2} &= \dfrac{4}{7}\,y \\[8pt] n_{\text{C}_2\text{H}_6\ \text{bereaksi}} &= \dfrac{2}{7}\,y \\[8pt] n_{\text{C}_2\text{H}_6\ \text{sisa}} &= x - \dfrac{2}{7}y \end{aligned} $$

    Total gas akhir:

    $$ \begin{aligned} n_{\text{gas akhir}} &= n_{\text{CO}_2} + n_{\text{C}_2\text{H}_6\ \text{sisa}} \\[8pt] &= \dfrac{4}{7}y + \left(x - \dfrac{2}{7}y\right) \\[8pt] &= x + \dfrac{2}{7}y \\[8pt] &= (1 - y) + \dfrac{2}{7}y \\[8pt] &= 1 - \dfrac{5}{7}y \end{aligned} $$

    Substitusi $n_{\text{gas akhir}} = 0{,}5$ mol:

    $$ \begin{aligned} 1 - \dfrac{5}{7}y &= 0{,}5 \\[8pt] \dfrac{5}{7}y &= 0{,}5 \\[8pt] y &= 0{,}70 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Maka:

    $$ \begin{aligned} x &= 1 - y \\[8pt] &= 1 - 0{,}70 \\[8pt] &= 0{,}30 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Cek kevalidan: jika $y = 0{,}70$ mol, C2H6 yang dibutuhkan $= \dfrac{2}{7}\times 0{,}70 = 0{,}20$ mol $\leq 0{,}30$ mol → valid, O2 memang habis lebih dulu (C2H6 sisa $0{,}10$ mol).


    Kesimpulan: Ternyata kedua skenario (C2H6 habis maupun O2 habis) sama-sama memenuhi data volume gas akhir 11,2 L, tetapi menghasilkan dua nilai mol etana awal yang berbeda:

    $$ x = 0{,}20 \ \text{mol} \quad \text{atau} \quad x = 0{,}30 \ \text{mol} $$

    Karena soal tidak memberikan informasi tambahan (misalnya komposisi awal campuran atau pereaksi mana yang berlebih) untuk membedakan kedua kemungkinan tersebut, maka mol etana mula-mula tidak dapat ditentukan secara pasti hanya dari data yang diberikan.

    Jawaban: D. Tidak dapat ditentukan dari informasi yang diberikan.


  3. Soal 3.

    Sebanyak 0,2700 g padatan putih dititrasi dengan 32,70 mL larutan NaOH 0,1834 M hingga mencapai titik akhir fenolftalein. Manakah rumus molekul senyawa tersebut?
    1. CHO2
    2. CH2O2
    3. C2H2O4
    4. C2H4O4

    Konsep: Titrasi asam-basa dengan indikator fenolftalein menentukan jumlah mol ion H+ (proton asam) yang dinetralkan oleh NaOH. Karena kita belum tahu berapa banyak proton asam yang dimiliki tiap molekul senyawa (basisitas asamnya), langkah pertama adalah menghitung massa ekivalen (massa per mol H+), baru kemudian menentukan rumus molekul yang sesuai dan masuk akal secara struktur kimia.

    Langkah 1: Hitung mol NaOH yang digunakan saat titik akhir titrasi

    $$ \begin{aligned} n_{\text{NaOH}} &= V_{\text{NaOH}} \times M_{\text{NaOH}} \\[8pt] &= 32{,}70 \ \text{mL} \times 0{,}1834 \ \text{mol/L} \\[8pt] &= 0{,}03270 \ \text{L} \times 0{,}1834 \ \text{mol/L} \\[8pt] &= 5{,}997 \times 10^{-3} \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 2: Hitung massa ekivalen (massa molar per mol H+ yang dinetralkan)

    Pada titik ekivalen, mol H+ dari asam = mol OH dari NaOH:

    $$ \begin{aligned} \text{Massa ekivalen} &= \dfrac{\text{massa padatan}}{n_{\text{H}^+}} \\[8pt] &= \dfrac{0{,}2700 \ \text{g}}{5{,}997 \times 10^{-3} \ \text{mol}} \\[8pt] &= 45{,}02 \ \text{g/mol H}^+ \end{aligned} $$

    Langkah 3: Hubungkan massa ekivalen dengan massa molar (Mm) melalui basisitas asam ($n$)

    Jika senyawa memiliki $n$ atom H yang bersifat asam (dapat dititrasi), maka:

    $$ \text{Mm}_{\text{senyawa}} = n \times \text{massa ekivalen} $$

    Karena basisitas $n$ belum diketahui, uji kemungkinan $n = 1$ (asam monoprotik) dan $n = 2$ (asam diprotik):

    $$ \begin{aligned} n = 1: \quad \text{Mm} &= 1 \times 45{,}02 \\[8pt] &= 45{,}02 \ \text{g/mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} n = 2: \quad \text{Mm} &= 2 \times 45{,}02 \\[8pt] &= 90{,}04 \ \text{g/mol} \end{aligned} $$

    Langkah 4: Cocokkan dengan Mm tiap pilihan jawaban

    Ar: C = 12 ; H = 1 ; O = 16

    $$ \begin{aligned} \text{Mm}\ \text{CHO}_2 &= 12 + 1 + 2(16) = 45 \ \text{g/mol} \\[4pt] \text{Mm}\ \text{CH}_2\text{O}_2 &= 12 + 2 + 2(16) = 46 \ \text{g/mol} \\[4pt] \text{Mm}\ \text{C}_2\text{H}_2\text{O}_4 &= 2(12) + 2 + 4(16) = 90 \ \text{g/mol} \\[4pt] \text{Mm}\ \text{C}_2\text{H}_4\text{O}_4 &= 2(12) + 4 + 4(16) = 92 \ \text{g/mol} \end{aligned} $$

    Ternyata dua pilihan cocok secara angka: CHO2 (45 g/mol, untuk $n=1$) dan C2H2O4 (90 g/mol, untuk $n=2$), karena keduanya memiliki perbandingan atom yang sama (C2H2O4 adalah dua kali lipat CHO2).

    Langkah 5: Uji kevalidan struktur (aturan paritas valensi)

    Sebuah molekul netral yang stabil (bukan radikal) harus memiliki total jumlah valensi genap, karena setiap ikatan menghubungkan dua atom. Ar valensi: C = 4, H = 1, O = 2.

    $$ \begin{aligned} \text{Total valensi CHO}_2 &= 1(4) + 1(1) + 2(2) \\[8pt] &= 4 + 1 + 4 \\[8pt] &= 9 \quad (\text{ganjil} \rightarrow \text{TIDAK mungkin membentuk molekul netral yang stabil}) \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} \text{Total valensi C}_2\text{H}_2\text{O}_4 &= 2(4) + 2(1) + 4(2) \\[8pt] &= 8 + 2 + 8 \\[8pt] &= 18 \quad (\text{genap} \rightarrow \text{VALID, dapat membentuk molekul stabil}) \end{aligned} $$

    Rumus CHO2 memiliki jumlah valensi ganjil sehingga secara struktur tidak dapat membentuk molekul netral yang stabil (akan berupa radikal). Sebaliknya, C2H2O4 adalah rumus molekul asam oksalat (HOOC–COOH), suatu asam dikarboksilat (diprotik) yang dikenal luas dan memiliki 2 atom H asam per molekul, sangat konsisten dengan hasil perhitungan $n = 2$.

    Kesimpulan: Padatan tersebut adalah asam oksalat dengan rumus molekul C2H2O4 (Mm = 90 g/mol), sesuai dengan asam diprotik yang bereaksi dengan NaOH pada perbandingan mol 1 : 2.

    Jawaban: C. C2H2O4


  4. Soal 4.

    Larutan natrium hidroksida berair menyerap karbon dioksida, baik karena karbon dioksida memiliki kelarutan yang cukup dalam air maupun karena ion hidroksida bereaksi sangat menguntungkan dengan CO2 berlebih membentuk ion bikarbonat. Sebuah wadah kaku dengan ruang kosong 10,00 L berisi 1,00 L NaOH 0,100 M dan dijaga pada suhu 25°C. Karbon dioksida dimasukkan ke dalam ruang kosong pada tekanan 1,33 atm, yang turun menjadi 1,00 atm setelah penyerapan oleh larutan NaOH berair selesai. Jika percobaan diulang dengan tekanan CO2 awal 1,50 atm, berapa konsentrasi NaOH (dalam 1,00 L) yang diperlukan agar tekanan CO2 turun menjadi 1,00 atm?
    1. 0,112 M
    2. 0,152 M
    3. 0,169 M
    4. 0,204 M

    Konsep kunci: Penurunan tekanan CO2 di ruang kosong terjadi melalui dua mekanisme sekaligus:

    1. Reaksi kimia antara CO2 berlebih dengan NaOH. Karena CO2 berlebih (tekanan akhir tidak nol), seluruh NaOH akan diubah menjadi ion bikarbonat (bukan berhenti di karbonat): $$\text{CO}_2(g) + \text{NaOH}(aq) \rightarrow \text{NaHCO}_3(aq)$$ sehingga 1 mol CO2 bereaksi per 1 mol NaOH.
    2. Kelarutan fisik CO2 dalam air (Hukum Henry), yang bergantung pada tekanan parsial CO2 akhir (kesetimbangan) di atas larutan, tidak bergantung pada NaOH.

    Strategi: gunakan data percobaan pertama untuk mencari konstanta Henry (karena mol NaOH sudah diketahui), lalu gunakan konstanta itu pada percobaan kedua untuk mencari konsentrasi NaOH yang belum diketahui.


    Langkah 1: Hitung total mol CO2 yang hilang dari fase gas pada Percobaan 1

    Gunakan PV = nRT pada ruang kosong V = 10,00 L, T = 298,15 K, R = 0,082057 L·atm/(mol·K):

    $$ \begin{aligned} RT &= 0{,}082057 \times 298{,}15 \\[8pt] &= 24{,}465 \ \text{L.atm/mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2,\ \text{awal},1} &= \dfrac{P_{1i}V}{RT} \\[8pt] &= \dfrac{1{,}33 \times 10{,}00}{24{,}465} \\[8pt] &= 0{,}5436 \ \text{mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2,\ \text{akhir},1} &= \dfrac{P_{1f}V}{RT} \\[8pt] &= \dfrac{1{,}00 \times 10{,}00}{24{,}465} \\[8pt] &= 0{,}4087 \ \text{mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} \Delta n_{1} &= n_{\text{CO}_2,\ \text{awal},1} - n_{\text{CO}_2,\ \text{akhir},1} \\[8pt] &= 0{,}5436 - 0{,}4087 \\[8pt] &= 0{,}1349 \ \text{mol} \quad (\text{total CO}_2\ \text{terserap: reaksi} + \text{larut fisik}) \end{aligned} $$

    Langkah 2: Pisahkan bagian yang bereaksi dengan NaOH dan bagian yang larut secara fisik

    $$ \begin{aligned} n_{\text{NaOH},1} &= 1{,}00 \ \text{L} \times 0{,}100 \ \text{M} \\[8pt] &= 0{,}1000 \ \text{mol} \quad (= n_{\text{CO}_2\ \text{bereaksi}}) \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2\ \text{larut fisik},1} &= \Delta n_1 - n_{\text{NaOH},1} \\[8pt] &= 0{,}1349 - 0{,}1000 \\[8pt] &= 0{,}0349 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 3: Tentukan konstanta Hukum Henry ($k_H$)

    CO2 yang larut secara fisik berada dalam kesetimbangan dengan tekanan parsial CO2 akhir ($P_f = 1{,}00$ atm) di dalam larutan 1,00 L:

    $$ \begin{aligned} [\text{CO}_2(aq)] &= k_H \times P_{\text{CO}_2} \\[8pt] k_H &= \dfrac{n_{\text{CO}_2\ \text{larut fisik},1}/V_{\text{larutan}}}{P_{1f}} \\[8pt] &= \dfrac{0{,}0349 \ \text{mol}/1{,}00 \ \text{L}}{1{,}00 \ \text{atm}} \\[8pt] &= 0{,}0349 \ \text{mol/(L.atm)} \end{aligned} $$

    (Nilai ini sangat dekat dengan konstanta Henry CO2 dalam air pada 25°C yang sesungguhnya, ≈ 0,034 mol/(L·atm), sehingga pendekatan ini konsisten.)


    Langkah 4: Terapkan pada Percobaan 2 (tekanan awal 1,50 atm, tekanan akhir tetap 1,00 atm)

    $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2,\ \text{awal},2} &= \dfrac{P_{2i}V}{RT} \\[8pt] &= \dfrac{1{,}50 \times 10{,}00}{24{,}465} \\[8pt] &= 0{,}6131 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Karena tekanan akhir sama (1,00 atm), $n_{\text{CO}_2,\ \text{akhir},2}$ sama seperti sebelumnya:

    $$ n_{\text{CO}_2,\ \text{akhir},2} = 0{,}4087 \ \text{mol} $$ $$ \begin{aligned} \Delta n_2 &= n_{\text{CO}_2,\ \text{awal},2} - n_{\text{CO}_2,\ \text{akhir},2} \\[8pt] &= 0{,}6131 - 0{,}4087 \\[8pt] &= 0{,}2044 \ \text{mol} \quad (\text{total CO}_2\ \text{terserap pada percobaan 2}) \end{aligned} $$

    Langkah 5: Hitung CO2 yang larut secara fisik pada Percobaan 2

    Karena tekanan kesetimbangan akhir sama persis (1,00 atm) dan volume larutan tetap 1,00 L, jumlah CO2 yang larut secara fisik juga sama dengan Percobaan 1:

    $$ \begin{aligned} n_{\text{CO}_2\ \text{larut fisik},2} &= k_H \times P_{2f} \times V_{\text{larutan}} \\[8pt] &= 0{,}0349 \ \text{mol/(L.atm)} \times 1{,}00 \ \text{atm} \times 1{,}00 \ \text{L} \\[8pt] &= 0{,}0349 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 6: Hitung mol NaOH (dan konsentrasinya) pada Percobaan 2

    $$ \begin{aligned} n_{\text{NaOH},2} &= \Delta n_2 - n_{\text{CO}_2\ \text{larut fisik},2} \\[8pt] &= 0{,}2044 - 0{,}0349 \\[8pt] &= 0{,}1695 \ \text{mol} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} [\text{NaOH}]_2 &= \dfrac{n_{\text{NaOH},2}}{V_{\text{larutan}}} \\[8pt] &= \dfrac{0{,}1695 \ \text{mol}}{1{,}00 \ \text{L}} \\[8pt] &= 0{,}169 \ \text{M} \end{aligned} $$

    Kesimpulan: Agar tekanan CO2 turun dari 1,50 atm menjadi 1,00 atm, diperlukan larutan NaOH dengan konsentrasi 0,169 M dalam 1,00 L larutan.

    Jawaban: C. 0,169 M


  5. Soal 5.

    Berapa konsentrasi ion klorida dalam larutan yang dibuat dengan mencampurkan 0,100 L LiCl 0,100 M, 0,200 L BaCl2 0,200 M, dan 0,300 L CeCl3 0,300 M?
    1. 0,200 M
    2. 0,233 M
    3. 0,467 M
    4. 0,600 M

    Konsep: Saat beberapa larutan dicampur, ion sejenis (Cl) yang berasal dari senyawa yang berbeda akan bergabung menjadi satu larutan. Untuk menentukan konsentrasi total ion Cl, kita perlu: (1) menghitung mol Cl dari masing-masing sumber (perhatikan koefisien stoikiometri ionisasinya), (2) menjumlahkan semua mol Cl, lalu (3) membaginya dengan volume total campuran (bukan volume masing-masing larutan).

    Perhatikan reaksi ionisasi (disosiasi) tiap senyawa dalam air:

    $$ \begin{aligned} \text{LiCl} &\rightarrow \text{Li}^+ + \text{Cl}^- \quad &(1 \ \text{ion Cl}^-\ \text{per rumus}) \\[4pt] \text{BaCl}_2 &\rightarrow \text{Ba}^{2+} + 2\text{Cl}^- \quad &(2 \ \text{ion Cl}^-\ \text{per rumus}) \\[4pt] \text{CeCl}_3 &\rightarrow \text{Ce}^{3+} + 3\text{Cl}^- \quad &(3 \ \text{ion Cl}^-\ \text{per rumus}) \end{aligned} $$

    Langkah 1: Hitung mol Cl dari LiCl

    $$ \begin{aligned} n_{\text{Cl}^-,\ \text{LiCl}} &= V_{\text{LiCl}} \times M_{\text{LiCl}} \times 1 \\[8pt] &= 0{,}100 \ \text{L} \times 0{,}100 \ \text{mol/L} \times 1 \\[8pt] &= 0{,}0100 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 2: Hitung mol Cl dari BaCl2

    $$ \begin{aligned} n_{\text{Cl}^-,\ \text{BaCl}_2} &= V_{\text{BaCl}_2} \times M_{\text{BaCl}_2} \times 2 \\[8pt] &= 0{,}200 \ \text{L} \times 0{,}200 \ \text{mol/L} \times 2 \\[8pt] &= 0{,}0800 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 3: Hitung mol Cl dari CeCl3

    $$ \begin{aligned} n_{\text{Cl}^-,\ \text{CeCl}_3} &= V_{\text{CeCl}_3} \times M_{\text{CeCl}_3} \times 3 \\[8pt] &= 0{,}300 \ \text{L} \times 0{,}300 \ \text{mol/L} \times 3 \\[8pt] &= 0{,}2700 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 4: Jumlahkan seluruh mol Cl

    $$ \begin{aligned} n_{\text{Cl}^-,\ \text{total}} &= n_{\text{Cl}^-,\ \text{LiCl}} + n_{\text{Cl}^-,\ \text{BaCl}_2} + n_{\text{Cl}^-,\ \text{CeCl}_3} \\[8pt] &= 0{,}0100 + 0{,}0800 + 0{,}2700 \\[8pt] &= 0{,}3600 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 5: Hitung volume total campuran

    $$ \begin{aligned} V_{\text{total}} &= V_{\text{LiCl}} + V_{\text{BaCl}_2} + V_{\text{CeCl}_3} \\[8pt] &= 0{,}100 + 0{,}200 + 0{,}300 \\[8pt] &= 0{,}600 \ \text{L} \end{aligned} $$

    Langkah 6: Hitung konsentrasi total ion Cl

    $$ \begin{aligned} [\text{Cl}^-] &= \dfrac{n_{\text{Cl}^-,\ \text{total}}}{V_{\text{total}}} \\[8pt] &= \dfrac{0{,}3600 \ \text{mol}}{0{,}600 \ \text{L}} \\[8pt] &= 0{,}600 \ \text{M} \end{aligned} $$

    Kesimpulan: Konsentrasi total ion klorida dalam larutan campuran tersebut adalah 0,600 M.

    Jawaban: D. 0,600 M


  6. Soal 6.

    Sebuah tabung U dibagi menjadi dua kompartemen oleh membran semipermeabel yang hanya dapat dilewati air. Pada sisi kiri tabung U ditambahkan 10 mL larutan sukrosa 0,20 M dan pada sisi kanan ditambahkan 10 mL larutan natrium klorida 0,15 M. Manakah yang paling menggambarkan keadaan tabung U setelah kesetimbangan tercapai?

    Konsep kunci: Membran semipermeabel hanya melewatkan pelarut (air), bukan zat terlarut. Air akan berpindah secara osmosis dari kompartemen dengan konsentrasi partikel terlarut (osmolaritas) lebih rendah menuju kompartemen dengan osmolaritas lebih tinggi, sampai osmolaritas kedua sisi (mendekati) setara. Yang menentukan osmolaritas bukan hanya molaritas, tetapi juga jumlah partikel yang dihasilkan tiap satuan rumus zat (faktor van't Hoff, $i$):

    • Sukrosa adalah non-elektrolit (tidak terionisasi) → $i = 1$
    • NaCl adalah elektrolit kuat, terdisosiasi sempurna menjadi Na+ dan Cl → $i = 2$

    Langkah 1: Hitung jumlah partikel osmotik (osmol) awal di tiap sisi

    $$ \begin{aligned} n_{\text{kiri}} \ (\text{sukrosa}) &= V \times M \times i \\[8pt] &= 10 \ \text{mL} \times 0{,}20 \ \text{mol/L} \times 1 \\[8pt] &= 2{,}0 \ \text{mmol partikel} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} n_{\text{kanan}} \ (\text{NaCl}) &= V \times M \times i \\[8pt] &= 10 \ \text{mL} \times 0{,}15 \ \text{mol/L} \times 2 \\[8pt] &= 3{,}0 \ \text{mmol partikel} \end{aligned} $$

    Karena $n_{\text{kanan}} > n_{\text{kiri}}$ (3,0 mmol vs 2,0 mmol), sisi kanan (NaCl) memiliki osmolaritas awal lebih tinggi. Air akan berpindah dari kiri (sukrosa) ke kanan (NaCl), sehingga volume/tinggi larutan di sisi kanan akan bertambah, dan sisi kiri berkurang. Ini langsung menyingkirkan pilihan B dan D, yang menyatakan sisi kanan lebih rendah dari kiri.

    Langkah 2: Terapkan kekekalan volume total

    Karena zat terlarut tidak dapat melewati membran (hanya air yang berpindah), total volume gabungan kedua sisi tetap konstan:

    $$ V_{\text{kiri}} + V_{\text{kanan}} = 10 \ \text{mL} + 10 \ \text{mL} = 20 \ \text{mL} $$

    Langkah 3: Terapkan syarat kesetimbangan osmotik (osmolaritas kedua sisi setara)

    $$ \dfrac{n_{\text{kiri}}}{V_{\text{kiri}}} = \dfrac{n_{\text{kanan}}}{V_{\text{kanan}}} $$

    Substitusi $V_{\text{kanan}} = 20 - V_{\text{kiri}}$:

    $$ \begin{aligned} \dfrac{2{,}0}{V_{\text{kiri}}} &= \dfrac{3{,}0}{20 - V_{\text{kiri}}} \\[8pt] 2{,}0\,(20 - V_{\text{kiri}}) &= 3{,}0\,V_{\text{kiri}} \\[8pt] 40 - 2{,}0\,V_{\text{kiri}} &= 3{,}0\,V_{\text{kiri}} \\[8pt] 40 &= 5{,}0\,V_{\text{kiri}} \\[8pt] V_{\text{kiri}} &= 8{,}0 \ \text{mL} \end{aligned} $$ $$ \begin{aligned} V_{\text{kanan}} &= 20 - V_{\text{kiri}} \\[8pt] &= 20 - 8{,}0 \\[8pt] &= 12{,}0 \ \text{mL} \end{aligned} $$

    Langkah 4: Bandingkan tinggi (proporsional terhadap volume, karena luas penampang tabung U sama)

    $$ \begin{aligned} \dfrac{h_{\text{kiri}}}{h_{\text{kanan}}} = \dfrac{V_{\text{kiri}}}{V_{\text{kanan}}} &= \dfrac{8{,}0 \ \text{mL}}{12{,}0 \ \text{mL}} \\[8pt] &= 0{,}667 \\[8pt] &\approx 67\% \end{aligned} $$

    Tinggi larutan di sisi kiri (sukrosa) berkurang menjadi sekitar 8 mL, sementara sisi kanan (NaCl) bertambah menjadi sekitar 12 mL. Rasio ketinggian sisi kanan (~67%).

    Kesimpulan: Karena NaCl terdisosiasi menjadi 2 partikel per satuan rumus sedangkan sukrosa tidak terdisosiasi, osmolaritas larutan NaCl (setara 0,30 Osm) lebih tinggi daripada larutan sukrosa (0,20 Osm), meskipun molaritas NaCl lebih kecil. Air berpindah secara neto dari sisi sukrosa (kiri) ke sisi NaCl (kanan), sehingga pada kesetimbangan tinggi kolom di sisi kiri menjadi lebih rendah dari tinggi kolom di sisi kanan.

    Jawaban: A.


  7. Soal 7.

    Suatu campuran gas memadamkan serpihan kayu yang menyala dan tidak membuat air kapur menjadi keruh ketika dialirkan ke dalamnya. Pernyataan mana yang paling tepat menggambarkan campuran gas tersebut?
    1. Hanya mengandung karbon dioksida.
    2. Hanya mengandung oksigen.
    3. Mengandung karbon dioksida dan oksigen.
    4. Tidak mengandung karbon dioksida maupun oksigen.

    Konsep: Soal ini menguji pemahaman terhadap dua uji identifikasi gas klasik dalam kimia dasar:

    1. Uji serpihan kayu membara (glowing splint test), digunakan untuk mengidentifikasi gas oksigen (O2).
    2. Uji air kapur / air kalium/kalsium hidroksida (limewater test), digunakan untuk mengidentifikasi gas karbon dioksida (CO2).

    Langkah 1: Analisis uji serpihan kayu membara

    Jika gas yang diuji adalah oksigen (atau kaya oksigen), serpihan kayu yang membara (glowing, tanpa nyala api) akan menyala kembali berapi (relight) karena O2 mendukung pembakaran/reaksi oksidasi dengan cepat:

    $$ \text{bahan bakar (kayu)} + \text{O}_2 \xrightarrow{\text{cepat}} \text{nyala api} $$

    Namun pada soal ini, gas tersebut memadamkan serpihan kayu yang menyala (bukan menyalakannya kembali). Ini menunjukkan bahwa gas tersebut tidak mendukung pembakaran, sehingga:

    $$ \text{Gas tersebut BUKAN oksigen (tidak mengandung O}_2\text{ secara signifikan)} $$

    Langkah 2: Analisis uji air kapur (limewater)

    Jika gas yang diuji adalah karbon dioksida, air kapur (larutan Ca(OH)2) akan menjadi keruh (berkabut putih) akibat terbentuknya endapan kalsium karbonat:

    $$ \text{CO}_2(g) + \text{Ca(OH)}_2(aq) \rightarrow \text{CaCO}_3(s)\!\downarrow + \text{H}_2\text{O}(l) $$

    Namun pada soal ini, air kapur tidak menjadi keruh, yang berarti tidak terbentuk endapan CaCO3, sehingga:

    $$ \text{Gas tersebut BUKAN karbon dioksida (tidak mengandung CO}_2\text{ secara signifikan)} $$

    Langkah 3: Gabungkan kedua kesimpulan

    Dari kedua uji di atas diperoleh dua fakta negatif sekaligus:

    $$ \begin{aligned} &\text{Uji 1 (serpihan kayu padam)} \;\Rightarrow\; \text{gas} \neq \text{O}_2 \\[6pt] &\text{Uji 2 (air kapur tetap jernih)} \;\Rightarrow\; \text{gas} \neq \text{CO}_2 \end{aligned} $$

    Karena campuran gas tersebut gagal menunjukkan ciri khas O2 maupun ciri khas CO2, maka campuran gas tersebut pasti tidak mengandung O2 maupun CO2 (kemungkinan besar terdiri dari gas inert/tidak reaktif terhadap kedua uji tersebut, seperti nitrogen atau gas mulia).

    Kesimpulan: Karena campuran gas tidak menyalakan kembali serpihan kayu membara (menandakan tidak ada O2) dan tidak mengeruhkan air kapur (menandakan tidak ada CO2), maka campuran gas tersebut tidak mengandung karbon dioksida maupun oksigen.

    Jawaban: D. Tidak mengandung karbon dioksida maupun oksigen.


  8. Soal 8.

    Peralatan gelas laboratorium manakah yang paling berguna untuk menentukan titik leleh suatu senyawa organik padat?

    Berikut adalah identifikasi nama untuk masing-masing alat laboratorium kimia pada gambar:

    1. Kondensor Graham (Graham Condenser): Kondensor dengan pipa dalam berbentuk spiral (koil) yang berfungsi untuk mengembunkan uap dalam proses distilasi.
    2. Tabung Thiele (Thiele Tube): Tabung kaca khusus yang digunakan untuk menentukan titik leleh suatu zat dengan pemanasan minyak yang merata melalui konveksi.
    3. Gelas Ukur Bersumbat (Stoppered Graduated Cylinder): Silinder berskala yang dilengkapi dengan sumbat kaca asah untuk mengukur volume cairan sekaligus mencegah penguapan atau kontaminasi.
    4. Buret (Burette): Tabung kaca panjang berskala dengan kran di bagian bawah yang berfungsi untuk mengeluarkan volume cairan secara akurat, biasanya digunakan dalam proses titrasi.

    Jawaban: B.


  9. Soal 9.

    Gas manakah yang dapat dikondensasikan menjadi cairan berwarna biru?
    1. Karbon dioksida
    2. Hidrogen
    3. Nitrogen dioksida
    4. Ozon

    Konsep: Warna suatu zat pada wujud cair dapat berbeda dari wujud gasnya, karena kerapatan molekul yang lebih tinggi pada fase cair dapat memperkuat penyerapan cahaya tampak (hukum Beer-Lambert: absorbansi berbanding lurus dengan konsentrasi/kerapatan). Untuk menjawab soal ini, perlu diketahui sifat fisik masing-masing gas ketika dikondensasikan.

    Langkah 1: Tinjau setiap pilihan gas dan wujud cairnya

    A. Karbon dioksida (CO2)
    CO2 cair (dan padat, dikenal sebagai "dry ice") bersifat tidak berwarna (colorless). Molekul CO2 tidak memiliki elektron yang mudah tereksitasi oleh cahaya tampak, sehingga tidak menyerap panjang gelombang cahaya tampak secara signifikan.

    B. Hidrogen (H2)
    H2 cair juga tidak berwarna. Molekul H2 sangat kecil dan sederhana, transisi elektroniknya berada jauh di daerah ultraviolet, bukan di daerah cahaya tampak.

    C. Nitrogen dioksida (NO2)
    Gas NO2 sendiri berwarna cokelat kemerahan. Namun, ketika didinginkan dan dikondensasikan, NO2 cenderung berdimerisasi menjadi N2O4 yang berwujud cairan tidak berwarna hingga kekuningan pucat, bukan biru.

    $$ 2\text{NO}_2(g) \; \rightleftharpoons \; \text{N}_2\text{O}_4(l) $$

    D. Ozon (O3)
    Gas ozon murni berwarna biru pucat, tetapi ketika dikondensasikan menjadi cairan, warnanya menjadi jauh lebih pekat, yaitu biru tua (deep blue). Hal ini terjadi karena molekul O3 memiliki pita serapan (absorption band) pada daerah cahaya tampak (sekitar wilayah merah-oranye dari spektrum), sehingga cairan ozon tampak biru karena cahaya merah-oranye diserap dan yang diteruskan/dipantulkan adalah warna komplementernya, yaitu biru.

    Langkah 2: Bandingkan dengan fakta yang dikenal (analogi oksigen cair)

    Sebagai perbandingan yang familiar, oksigen cair (O2) juga dikenal berwarna biru pucat karena alasan spektroskopi yang serupa (transisi elektronik pada molekul O2 yang menyerap cahaya di daerah merah). Ozon (O3), yang merupakan alotrop oksigen dengan tiga atom, menunjukkan efek serupa namun jauh lebih kuat/pekat, menghasilkan warna biru tua yang jelas terlihat pada wujud cairnya.

    Kesimpulan: Di antara keempat pilihan, hanya ozon (O3) yang dikenal membentuk cairan berwarna biru (biru tua) ketika dikondensasikan, sedangkan CO2 dan H2 cair tidak berwarna, dan NO2 cair (sebagai N2O4) tidak berwarna hingga kekuningan pucat.

    Jawaban: D. Ozon


  10. Soal 10.

    Cairan manakah yang saling bercampur dalam semua perbandingan?
    1. H2O dan CH2Cl2
    2. H2O dan (CH3)2CO
    3. C6H12 dan Hg
    4. C6H12 dan CH3OH

    Konsep: Kelarutan sempurna (miscibility) antara dua cairan dalam segala perbandingan umumnya mengikuti prinsip "like dissolves like", cairan dengan kepolaran dan jenis gaya antarmolekul yang serupa (terutama kemampuan membentuk ikatan hidrogen) akan bercampur sempurna, sedangkan cairan dengan kepolaran atau jenis ikatan yang sangat berbeda akan cenderung memisah menjadi dua fase (immiscible) atau hanya larut sebagian (partially miscible).

    Langkah 1: Tinjau pilihan A: H2O dan CH2Cl2 (diklorometana)

    Air merupakan pelarut polar protik dengan ikatan hidrogen kuat. CH2Cl2 bersifat sedikit polar namun tidak dapat membentuk ikatan hidrogen dengan air secara efektif dan memiliki densitas serta sifat non-polar yang dominan (banyak digunakan sebagai pelarut ekstraksi organik yang justru memisah dari fase air).

    $$ \text{H}_2\text{O} \; + \; \text{CH}_2\text{Cl}_2 \;\longrightarrow\; \text{dua lapisan terpisah (tidak bercampur sempurna)} $$

    → Kelarutan CH2Cl2 dalam air sangat terbatas (~13 g/L), bukan miscible dalam segala perbandingan.

    Langkah 2: Tinjau pilihan B: H2O dan (CH3)2CO (aseton)

    Aseton adalah molekul polar kecil yang memiliki gugus karbonil (C=O) sangat elektronegatif. Meskipun aseton adalah pelarut polar aprotik (tidak memiliki atom H yang terikat langsung pada O), aseton dapat bertindak sebagai akseptor ikatan hidrogen yang kuat terhadap molekul air (atom O aseton menerima ikatan hidrogen dari H pada air):

    $$ \text{H}_2\text{O} \cdots \text{O=C(CH}_3)_2 $$

    Ukuran molekul aseton yang kecil dan interaksi dipol-dipol serta ikatan hidrogen yang kuat dengan air menyebabkan aseton dan air bercampur sempurna dalam segala perbandingan (fully miscible), inilah sebabnya aseton sering digunakan sebagai pelarut pencuci di laboratorium karena dapat bercampur baik dengan air maupun pelarut organik.

    Langkah 3: Tinjau pilihan C: C6H12 (sikloheksana) dan Hg (raksa)

    Sikloheksana adalah senyawa non-polar (hidrokarbon jenuh) yang hanya memiliki gaya London (dispersi). Merkuri (Hg) adalah logam cair yang terikat melalui ikatan logam (metallic bonding), sama sekali berbeda jenis interaksinya dengan gaya antarmolekul sikloheksana.

    $$ \text{C}_6\text{H}_{12} \; + \; \text{Hg} \;\longrightarrow\; \text{sama sekali tidak bercampur (immiscible total)} $$

    → Kedua cairan ini sangat tidak larut satu sama lain, bahkan salah satu pasangan cairan paling tidak bercampur yang bisa dibayangkan dalam kimia.

    Langkah 4: Tinjau pilihan D: C6H12 (sikloheksana) dan CH3OH (metanol)

    Sikloheksana bersifat non-polar, sedangkan metanol bersifat polar protik dengan ikatan hidrogen yang kuat (mirip air, meski gugus alkilnya menambah sedikit sifat non-polar). Karena perbedaan kepolaran yang cukup besar, campuran sikloheksana–metanol dikenal menunjukkan kelarutan terbatas (partial miscibility) pada suhu ruang, keduanya dapat memisah menjadi dua fase cair pada komposisi dan suhu tertentu (fenomena UCST, upper critical solution temperature), sehingga tidak bercampur sempurna dalam segala perbandingan.

    Langkah 5: Bandingkan seluruh pilihan

    $$ \begin{aligned} \text{A: H}_2\text{O} + \text{CH}_2\text{Cl}_2 &\;\Rightarrow\; \text{tidak bercampur sempurna} \\[4pt] \text{B: H}_2\text{O} + (\text{CH}_3)_2\text{CO} &\;\Rightarrow\; \textbf{bercampur sempurna (miscible)} \\[4pt] \text{C: C}_6\text{H}_{12} + \text{Hg} &\;\Rightarrow\; \text{sama sekali tidak bercampur} \\[4pt] \text{D: C}_6\text{H}_{12} + \text{CH}_3\text{OH} &\;\Rightarrow\; \text{hanya larut sebagian} \end{aligned} $$

    Kesimpulan: Hanya pasangan air dan aseton yang memiliki kesamaan sifat antarmolekul (kemampuan membentuk ikatan hidrogen yang kuat serta ukuran molekul kecil) yang cukup untuk membuat keduanya bercampur sempurna dalam segala perbandingan.

    Jawaban: B. H2O dan (CH3)2CO


  11. Soal 11.

    Manakah cara terbaik untuk membuat 0,5 L larutan asam sulfat 1 M?
    1. 0,5 mol asam sulfat pekat harus ditambahkan ke dalam labu ukur 500 mL, kemudian ditambahkan air suling secukupnya hingga tanda batas.
    2. 0,5 mol asam sulfat pekat harus ditambahkan perlahan ke dalam sekitar 300 mL air suling dalam labu Erlenmeyer 1 L, kemudian ditambahkan air suling hingga mencapai tanda 500 mL pada labu.
    3. 11,2 L gas sulfur trioksida, diukur pada STP, harus dialirkan melalui 500 mL air suling dalam labu Erlenmeyer 1 L.
    4. Ke dalam 0,5 mol perak sulfat yang disuspensikan dalam sekitar 300 mL air dalam labu ukur 500 mL, ditambahkan 1,0 mol HCl (sebagai larutan air pekat). Larutan diencerkan hingga tanda batas dengan air suling, kemudian disaring untuk mengendapkan AgCl.

    Konsep kunci: Soal ini bukan sekadar soal stoikiometri, melainkan menguji pemahaman tentang teknik dan keselamatan laboratorium dalam membuat larutan asam sulfat pekat menjadi larutan encer bermolaritas tepat. Prinsip keselamatan yang wajib diketahui: "selalu tambahkan asam ke dalam air, JANGAN PERNAH menambahkan air ke dalam asam pekat", karena pengenceran H2SO4 pekat sangat eksotermik (melepaskan panas besar). Jika air ditambahkan ke asam pekat, panas yang dilepas secara lokal dapat membuat air mendidih tiba-tiba dan memercikkan asam pekat yang sangat korosif.

    Langkah 1: Cek target stoikiometri yang harus dicapai (berlaku untuk semua opsi sebagai patokan)

    $$ \begin{aligned} n_{\text{H}_2\text{SO}_4\ \text{dibutuhkan}} &= V \times M \\[8pt] &= 0{,}5 \ \text{L} \times 1 \ \text{mol/L} \\[8pt] &= 0{,}5 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Langkah 2: Evaluasi Opsi A

    Opsi ini menambahkan 0,5 mol H2SO4 pekat langsung ke dalam labu ukur kosong, baru kemudian menambahkan air suling hingga tanda batas. Ini melanggar prinsip keselamatan karena air ditambahkan ke dalam asam pekat yang sudah berada di labu (bukan sebaliknya). Selain itu, labu ukur adalah alat gelas presisi berdinding tipis yang tidak dirancang untuk menahan panas besar dari reaksi pengenceran eksotermik, risiko labu retak atau memercik sangat tinggi.

    $$ \text{Opsi A} \;\Rightarrow\; \text{TIDAK aman (air ditambahkan setelah asam berada di wadah presisi)} $$

    Langkah 3: Evaluasi Opsi B

    Opsi ini menambahkan 0,5 mol H2SO4 pekat secara perlahan ke dalam ~300 mL air suling yang sudah lebih dulu berada dalam labu Erlenmeyer 1 L (wadah gelas tebal dan tahan panas, dengan volume berlebih untuk menyerap dan menyebarkan panas pengenceran), baru kemudian diencerkan hingga tanda 500 mL. Prosedur ini sesuai kaidah keselamatan "asam ke air", dan menggunakan wadah awal yang cukup besar serta tahan panas untuk proses pencampuran yang eksotermik, sebelum diencerkan tepat ke volume akhir.

    $$ \text{Opsi B} \;\Rightarrow\; \text{AMAN dan sesuai prosedur standar (asam ditambahkan perlahan ke air berlebih)} $$

    Langkah 4: Evaluasi Opsi C

    Cek jumlah mol gas SO3 pada STP:

    $$ \begin{aligned} n_{\text{SO}_3} &= \dfrac{V}{22{,}4 \ \text{L/mol}} \\[8pt] &= \dfrac{11{,}2 \ \text{L}}{22{,}4 \ \text{L/mol}} \\[8pt] &= 0{,}5 \ \text{mol} \end{aligned} $$

    Secara stoikiometri, reaksi SO3 + H2O → H2SO4 akan menghasilkan tepat 0,5 mol H2SO4, sama seperti target. Namun secara praktik, mengalirkan gas SO3 langsung ke dalam air sangat berbahaya: reaksinya sangat cepat dan eksotermik, menghasilkan kabut asam sulfat (aerosol) yang sangat korosif dan sulit dikendalikan, serta sebagian gas SO3 dapat lolos tanpa bereaksi sempurna (mengurangi ketepatan konsentrasi akhir). Inilah sebabnya secara industri, SO3 tidak pernah dihidrasi langsung dengan air, melainkan diserap dalam H2SO4 pekat menjadi oleum terlebih dahulu.

    $$ \text{Opsi C} \;\Rightarrow\; \text{stoikiometri benar, TETAPI metode sangat berbahaya dan tidak praktis} $$

    Langkah 5: Evaluasi Opsi D

    Reaksi yang terjadi:

    $$ \text{Ag}_2\text{SO}_4(s) + 2\text{HCl}(aq) \rightarrow 2\text{AgCl}(s)\!\downarrow + \text{H}_2\text{SO}_4(aq) $$

    Cek rasio stoikiometri:

    $$ \begin{aligned} \dfrac{n_{\text{HCl}}}{n_{\text{Ag}_2\text{SO}_4}} &= \dfrac{1{,}0 \ \text{mol}}{0{,}5 \ \text{mol}} \\[8pt] &= 2 \quad (\text{sesuai koefisien reaksi } 2:1) \end{aligned} $$

    Meski stoikiometri terlihat pas (menghasilkan 0,5 mol H2SO4 setelah AgCl disaring), metode ini sangat tidak praktis: Ag2SO4 hanya sedikit larut dalam air (reaksi heterogen padat-cair yang lambat dan sulit dipastikan sempurna), garam perak jauh lebih mahal dan tidak lazim digunakan hanya untuk membuat larutan asam sulfat encer (yang seharusnya cukup diencerkan langsung dari asam pekat), serta proses penyaringan endapan AgCl di dalam labu ukur akan mengganggu ketepatan volume akhir larutan.

    $$ \text{Opsi D} \;\Rightarrow\; \text{stoikiometri pas di atas kertas, TETAPI metode rumit, mahal, dan tidak praktis} $$

    Kesimpulan: Dari keempat opsi, hanya Opsi B yang memenuhi baik ketepatan stoikiometri (0,5 mol H2SO4 dalam 500 mL) maupun prosedur keselamatan laboratorium yang benar: asam pekat ditambahkan perlahan ke dalam air berlebih di dalam wadah yang tahan panas, sebelum diencerkan tepat ke volume akhir.

    Jawaban: B. 0,5 mol asam sulfat pekat harus ditambahkan perlahan ke dalam sekitar 300 mL air suling dalam labu Erlenmeyer 1 L, kemudian ditambahkan air suling hingga mencapai tanda 500 mL pada labu.


  12. Soal 12.

    Seorang kimiawan menentukan fraksi magnesium yang terbakar di udara membentuk Mg3N2 dengan menambahkan abu yang terbentuk dari massa magnesium pita yang diketahui ke dalam air, menyuling campuran tersebut ke dalam asam klorida berlebih yang diketahui, dan mentitrasi balik kelebihan HCl dengan NaOH hingga titik akhir metil jingga. Kesalahan manakah yang akan menyebabkan fraksi magnesium nitrida yang dihitung menjadi terlalu tinggi?
    1. Hasil sulingan dikumpulkan dalam labu tersendiri dan kemudian ditambahkan ke dalam HCl.
    2. Fenolftalein digunakan sebagai indikator sebagai pengganti metil jingga.
    3. Kalium hidrogen ftalat yang digunakan untuk menstandarisasi NaOH telah menyerap sedikit uap air dari udara.
    4. Ketika larutan HCl dihisap ke dalam pipet volumetrik yang digunakan untuk menuangkannya, terdapat gelembung besar.

    Memahami prosedur eksperimen:

    Pita magnesium yang dibakar di udara membentuk campuran magnesium oksida (MgO) dan magnesium nitrida (Mg3N2). Abu hasil pembakaran ditambahkan ke air, di mana Mg3N2 bereaksi melepaskan gas amonia:

    $$ \text{Mg}_3\text{N}_2(s) + 6\text{H}_2\text{O}(l) \rightarrow 3\text{Mg(OH)}_2(s) + 2\text{NH}_3(g) $$

    Gas NH3 ini disuling (didistilasi) langsung ke dalam larutan HCl berlebih yang diketahui jumlahnya, di mana ia bereaksi:

    $$ \text{NH}_3(g) + \text{HCl}(aq) \rightarrow \text{NH}_4\text{Cl}(aq) $$

    Sisa (kelebihan) HCl yang tidak bereaksi kemudian dititrasi balik dengan NaOH standar hingga titik akhir metil jingga. Dari sini, jumlah mol NH3 (dan karenanya Mg3N2) dihitung melalui:

    $$ n_{\text{NH}_3} = n_{\text{HCl, awal}} - n_{\text{HCl, sisa (dari titrasi balik)}} $$

    Karena rumus ini adalah pengurangan dua nilai besar, kesalahan yang membuat $n_{\text{HCl, awal}}$ (yang diasumsikan) menjadi terlalu tinggi, atau yang membuat $n_{\text{HCl, sisa}}$ (yang terukur) menjadi terlalu rendah, akan membuat $n_{\text{NH}_3}$ hasil hitung menjadi terlalu tinggi, dan sebaliknya. Mari uji tiap opsi terhadap logika ini.


    Opsi A, Distilat dikumpulkan terpisah, baru ditambahkan ke HCl

    Jika gas NH3 tidak langsung diserap oleh HCl saat distilasi (melainkan dikumpulkan dulu di labu terpisah), sebagian NH3 yang bersifat sangat volatil berisiko lolos ke udara sebelum sempat bereaksi dengan HCl.

    $$ n_{\text{NH}_3\ \text{tertangkap}} < n_{\text{NH}_3\ \text{sebenarnya}} $$

    Ini membuat $n_{\text{HCl, sisa}}$ terukur menjadi lebih besar dari seharusnya (karena lebih sedikit HCl yang bereaksi dengan NH3), sehingga $n_{\text{NH}_3}$ hasil hitung menjadi terlalu rendah. → Bukan penyebab hasil terlalu tinggi.

    Opsi B, Fenolftalein menggantikan metil jingga

    Larutan yang dititrasi balik mengandung HCl sisa (asam kuat) dan NH4+ (asam lemah, pKa ≈ 9,25) dari reaksi NH3 + HCl. Metil jingga (trayek pH ≈ 3,1–4,4) berhenti tepat saat HCl sisa habis bereaksi, tanpa ikut menitrasi NH4+. Fenolftalein (trayek pH ≈ 8,2–10) baru berubah warna jauh di atas titik ekivalen HCl sisa, sudah memasuki daerah NH4+ mulai terdeprotonasi:

    $$ \text{NH}_4^+ + \text{OH}^- \rightarrow \text{NH}_3 + \text{H}_2\text{O} \quad (\text{titrasi ekstra yang tidak diinginkan}) $$

    Ini membuat volume NaOH yang terpakai lebih banyak dari seharusnya, sehingga $n_{\text{HCl, sisa}}$ terukur menjadi terlalu tinggi, dan $n_{\text{NH}_3}$ hasil hitung menjadi terlalu rendah. → Bukan penyebab hasil terlalu tinggi.


    Opsi C, KHP standardisasi menyerap uap air

    Kalium hidrogen ftalat (KHP) yang lembap berarti sebagian massa yang ditimbang adalah air, bukan KHP murni. Jika kimiawan mengasumsikan seluruh massa adalah KHP murni:

    $$ n_{\text{KHP, dianggap}} = \dfrac{m_{\text{total (KHP + air)}}}{\text{Mm}_{\text{KHP}}} \;>\; n_{\text{KHP, sebenarnya}} $$

    Karena konsentrasi NaOH dihitung sebagai $C_{\text{NaOH}} = n_{\text{KHP, dianggap}}/V_{\text{NaOH}}$, konsentrasi NaOH hasil standardisasi menjadi terlalu tinggi. Pada titrasi balik, ini membuat $n_{\text{HCl, sisa}} = C_{\text{NaOH}} \times V_{\text{NaOH}}$ terhitung terlalu tinggi, sehingga $n_{\text{NH}_3}$ hasil hitung menjadi terlalu rendah. → Bukan penyebab hasil terlalu tinggi.


    Opsi D, Gelembung besar saat HCl dihisap ke pipet volumetrik

    Pipet volumetrik dikalibrasi untuk mengantarkan volume cairan yang tepat (misalnya $V_{\text{nominal}}$). Jika terdapat gelembung udara besar di dalam pipet saat larutan dihisap, sebagian ruang pipet terisi udara, bukan cairan HCl, sehingga volume HCl yang benar-benar dituangkan ke labu penampung distilat menjadi lebih kecil dari volume nominal:

    $$ V_{\text{HCl, sebenarnya dituang}} < V_{\text{nominal (yang diasumsikan)}} $$

    Namun, kimiawan tetap mengasumsikan volume penuh $V_{\text{nominal}}$ telah dituangkan saat menghitung mol HCl awal:

    $$ n_{\text{HCl, awal (dianggap)}} = C_{\text{HCl}} \times V_{\text{nominal}} \;>\; n_{\text{HCl, awal (sebenarnya)}} $$

    Sementara itu, titrasi balik NaOH mengukur $n_{\text{HCl, sisa}}$ dengan benar, sesuai jumlah HCl yang sebenarnya ada di dalam labu (yang sudah lebih sedikit karena gelembung). Ketika kedua nilai ini dimasukkan ke rumus:

    $$ \begin{aligned} n_{\text{NH}_3,\ \text{dihitung}} &= n_{\text{HCl, awal (dianggap, terlalu tinggi)}} - n_{\text{HCl, sisa (terukur benar)}} \\[8pt] &> n_{\text{HCl, awal (sebenarnya)}} - n_{\text{HCl, sisa (terukur benar)}} \\[8pt] &= n_{\text{NH}_3,\ \text{sebenarnya}} \end{aligned} $$

    Hasilnya, $n_{\text{NH}_3}$ (dan karenanya fraksi Mg3N2) yang dihitung menjadi terlalu tinggi, karena selisih pengurangan "membandingkan" jumlah HCl awal yang dianggap lebih banyak dari kenyataan, dengan jumlah HCl sisa yang terukur akurat berdasarkan jumlah HCl yang sesungguhnya (lebih sedikit) ada dalam sistem.


    Kesimpulan: Dari keempat kesalahan, hanya gelembung udara pada pipet volumetrik HCl (Opsi D) yang menyebabkan jumlah mol HCl awal dianggap lebih banyak daripada yang sebenarnya dituangkan, sehingga perhitungan mol NH3 (dan fraksi Mg3N2) menjadi terlalu tinggi. Ketiga opsi lainnya (A, B, C) justru menyebabkan hasil perhitungan menjadi terlalu rendah.

    Jawaban: D. Ketika larutan HCl dihisap ke dalam pipet volumetrik yang digunakan untuk menuangkannya, terdapat gelembung besar.


  13. Soal 13.

    H2O memiliki titik didih normal yang lebih tinggi daripada HF (100°C vs 20°C). Manakah penjelasan terbaik untuk perbedaan ini?
    1. H2O memiliki momen dipol yang lebih besar daripada HF.
    2. H2O lebih dapat terpolarisasi daripada HF.
    3. H2O membentuk ikatan hidrogen yang lebih kuat daripada HF.
    4. H2O membentuk lebih banyak ikatan hidrogen per mol daripada HF.

    Konsep kunci: Titik didih suatu zat molekuler bergantung pada seberapa besar total gaya antarmolekul yang harus diatasi agar molekul dapat lepas ke fase gas. Untuk molekul yang mampu membentuk ikatan hidrogen, yang menentukan bukan hanya kekuatan satu ikatan hidrogen, tetapi juga jumlah/jaringan ikatan hidrogen yang dapat dibentuk tiap molekul. Mari evaluasi tiap opsi satu per satu.

    Langkah 1: Bandingkan momen dipol H2O dan HF (Opsi A)

    $$ \begin{aligned} \mu_{\text{H}_2\text{O}} &\approx 1{,}85 \ \text{D} \\[8pt] \mu_{\text{HF}} &\approx 1{,}82 \ \text{D} \end{aligned} $$

    Kedua momen dipol ini hampir identik (selisih sangat kecil), padahal selisih titik didihnya sangat besar (100°C vs 20°C, selisih 80°C). Jika momen dipol menjadi faktor dominan, seharusnya titik didih HF dan H2O tidak berbeda sejauh ini. → Opsi A bukan penjelasan utama.

    Langkah 2: Bandingkan polarisabilitas H2O dan HF (Opsi B)

    Polarisabilitas berkaitan dengan jumlah elektron dan ukuran awan elektron suatu molekul. H2O dan HF sama-sama memiliki 10 elektron (isoelektronik) dan ukuran molekul yang sebanding, sehingga polarisabilitas keduanya tidak jauh berbeda. Selain itu, gaya dispersi London (yang berkaitan dengan polarisabilitas) biasanya bukan kontributor utama pada zat-zat kecil yang didominasi ikatan hidrogen seperti H2O dan HF. → Opsi B bukan penjelasan utama.

    Langkah 3: Bandingkan kekuatan satu ikatan hidrogen individual H2O vs HF (Opsi C)

    Karena F memiliki keelektronegatifan lebih tinggi daripada O, ikatan H–F lebih polar, dan secara empiris energi ikatan hidrogen tunggal pada HF justru lebih kuat daripada energi ikatan hidrogen tunggal pada H2O:

    $$ \begin{aligned} E_{\text{ikatan H}\cdots\text{F}} &\approx 29 \ \text{kJ/mol} \\[8pt] E_{\text{ikatan O–H}\cdots\text{O}} &\approx 21\text{–}23 \ \text{kJ/mol} \end{aligned} $$

    Pernyataan pada Opsi C ("H2O membentuk ikatan hidrogen yang lebih kuat daripada HF") justru bertentangan dengan fakta di atas, ikatan hidrogen tunggal pada HF sebenarnya lebih kuat. → Opsi C salah/tidak tepat.

    Langkah 4: Bandingkan jumlah ikatan hidrogen yang dapat dibentuk tiap molekul (Opsi D)

    Perhatikan struktur elektronik dan geometri masing-masing molekul:

    $$ \begin{aligned} \text{H}_2\text{O}&: 2 \ \text{atom H (donor)} \; + \; 2 \ \text{pasangan elektron bebas pada O (akseptor)} \\[8pt] \text{HF}&: 1 \ \text{atom H (donor)} \; + \; 3 \ \text{pasangan elektron bebas pada F, tetapi geometri membatasi hanya 1 dapat efektif digunakan sebagai akseptor} \end{aligned} $$

    Karena H2O memiliki 2 atom H donor dan 2 pasang elektron bebas akseptor yang seimbang, setiap molekul air rata-rata dapat berpartisipasi dalam hingga 4 ikatan hidrogen (2 sebagai donor, 2 sebagai akseptor), membentuk jaringan tiga dimensi yang sangat luas dan saling terhubung:

    $$ \text{rata-rata ikatan H per molekul H}_2\text{O} \approx 4 $$

    Sebaliknya, HF hanya memiliki 1 atom H sebagai donor, sehingga setiap molekul HF hanya dapat membentuk 1 ikatan hidrogen sebagai donor dan efektifnya sekitar 1 sebagai akseptor, menghasilkan struktur rantai zig-zag satu dimensi (bukan jaringan 3D):

    $$ \text{rata-rata ikatan H per molekul HF} \approx 2 $$

    Meskipun satu ikatan hidrogen HF lebih kuat daripada satu ikatan hidrogen H2O, total energi ikatan hidrogen per mol jauh lebih besar pada air karena jumlah ikatan yang jauh lebih banyak per molekul:

    $$ \begin{aligned} E_{\text{total, H}_2\text{O}} &\approx 4 \times 22 \ \text{kJ/mol} \approx 88 \ \text{kJ/mol (per mol molekul, dibagi 2 karena tiap ikatan dipakai bersama)} \\[8pt] E_{\text{total, HF}} &\approx 2 \times 29 \ \text{kJ/mol} \approx 58 \ \text{kJ/mol (dengan pembagian serupa)} \end{aligned} $$

    Jaringan ikatan hidrogen yang lebih ekstensif inilah yang membutuhkan lebih banyak energi (suhu lebih tinggi) untuk diputuskan secara keseluruhan agar molekul air dapat menguap, menjelaskan titik didih H2O yang jauh lebih tinggi.

    Kesimpulan: Meskipun ikatan hidrogen tunggal pada HF secara individual lebih kuat daripada pada H2O, air mampu membentuk jaringan ikatan hidrogen tiga dimensi yang jauh lebih ekstensif (rata-rata 4 ikatan hidrogen per molekul, dibandingkan sekitar 2 pada HF) karena keseimbangan jumlah atom H donor dan pasangan elektron bebas akseptornya. Jumlah ikatan hidrogen total yang lebih banyak inilah, bukan kekuatan satu ikatan atau momen dipol/polarisabilitas, yang menjadi penjelasan terbaik mengapa titik didih H2O jauh lebih tinggi daripada HF.

    Jawaban: D. H2O membentuk lebih banyak ikatan hidrogen per mol daripada HF.


  14. Soal 14.

    Suatu larutan kamfer dalam benzena didinginkan perlahan untuk menentukan titik bekunya, menghasilkan data seperti yang ditunjukkan di bawah ini. Titik beku apakah yang harus dilaporkan?
    1. 4,38°C
    2. 4,78°C
    3. 4,88°C
    4. 4,98°C

    Konsep kunci, fenomena "supercooling" (superpendinginan): Saat suatu larutan cair didinginkan hingga mencapai titik bekunya, seringkali kristalisasi (pembekuan) tidak langsung dimulai tepat pada titik beku sejati. Larutan dapat terus mendingin sedikit di bawah titik beku sejatinya sebelum kristal mulai terbentuk, fenomena ini disebut supercooling. Begitu kristalisasi akhirnya dimulai, panas kristalisasi (kalor lebur) yang dilepaskan akan menaikkan kembali suhu larutan menuju titik beku sejati, di mana suhu kemudian relatif stabil (membentuk plato/dataran) selama proses pembekuan berlangsung.

    Langkah 1: Identifikasi pola kurva pendinginan pada grafik

    Dari grafik $T$ vs $t$ yang diberikan, dapat diamati tiga daerah:

    $$ \begin{aligned} &\text{Daerah 1 (0–5 menit)}: \quad \text{suhu turun terus-menerus dari} \approx 6{,}9°C \text{ hingga minimum} \approx 4{,}38°C \\[8pt] &\text{Daerah 2 (5–8 menit)}: \quad \text{suhu naik kembali secara tajam dari titik minimum} \\[8pt] &\text{Daerah 3 (8–14 menit)}: \quad \text{suhu mencapai puncak/plato mendatar} \approx 4{,}88°C\text{, sebelum akhirnya sedikit menurun lagi setelah} \approx 15 \text{ menit} \end{aligned} $$

    Langkah 2: Interpretasikan tiap daerah secara fisik

    Daerah 1 (penurunan awal hingga 4,38°C): Ini adalah fase supercooling, larutan mendingin di bawah titik beku sejatinya tanpa ada kristal padatan yang terbentuk (belum ada nukleasi kristal). Suhu 4,38°C bukan titik beku sejati, melainkan hanya titik terendah sesaat sebelum kristalisasi dimulai (dapat bervariasi tergantung seberapa "bersih"/bebas nukleus larutan tersebut, sehingga tidak reproducible/tidak dapat diandalkan sebagai data titik beku).

    $$ T = 4{,}38°C \;\Rightarrow\; \text{HANYA suhu minimum supercooling, BUKAN titik beku sejati} $$

    Daerah 2 (kenaikan tajam setelah 5 menit): Begitu kristal kamfer/benzena mulai terbentuk (nukleasi terjadi), kalor lebur (kalor kristalisasi) yang dilepaskan proses pembekuan lebih besar daripada laju kehilangan panas ke lingkungan, sehingga suhu larutan naik kembali secara cepat menuju titik beku sejatinya.

    Daerah 3 (plato/dataran, puncak ≈ 4,88°C): Setelah suhu naik kembali, sistem mencapai kesetimbangan padat–cair sejati, di mana laju pelepasan kalor lebur oleh kristal yang terus terbentuk kira-kira menyeimbangkan laju kehilangan panas ke lingkungan, inilah titik beku sejati larutan, ditandai dengan suhu yang relatif konstan (plato) pada nilai tertinggi yang dicapai setelah fase supercooling.

    Langkah 3: Mengapa bukan nilai lain?

    $$ \begin{aligned} 4{,}38°C &\Rightarrow \text{suhu minimum akibat supercooling (bukan kesetimbangan sejati)} \\[6pt] 4{,}78°C &\Rightarrow \text{suhu pada fase penurunan akhir plato (setelah sebagian besar pelarut sudah membeku, larutan sisa menjadi lebih pekat sehingga titik bekunya sedikit turun lagi, bukan titik beku awal)} \\[6pt] 4{,}88°C &\Rightarrow \text{suhu puncak plato, tercapai segera setelah kristalisasi dimulai dan sebelum konsentrasi larutan sisa berubah signifikan, inilah representasi TERBAIK dari titik beku sejati} \\[6pt] 4{,}98°C &\Rightarrow \text{tidak pernah tercapai pada kurva (di atas nilai maksimum plato yang teramati)} \end{aligned} $$

    Perlu dicatat bahwa karena ini adalah larutan (kamfer dalam benzena), bukan zat murni, plato tidak akan benar-benar datar sempurna, begitu pelarut (benzena) mulai membeku keluar dari larutan, kamfer yang tersisa dalam fase cair menjadi semakin pekat, yang secara bertahap akan sedikit menurunkan titik beku larutan sisa (efek penurunan titik beku/depresi titik beku akibat peningkatan konsentrasi zat terlarut). Inilah mengapa suhu plato sedikit menurun setelah $t \approx 14$ menit. Oleh karena itu, titik beku yang paling representatif untuk dilaporkan adalah suhu tertinggi pada plato, yaitu saat komposisi larutan masih paling mendekati komposisi awal (sebelum banyak pelarut yang membeku keluar).

    Kesimpulan: Titik beku sejati larutan tidak dibaca dari titik minimum supercooling (4,38°C, karena belum ada kesetimbangan padat-cair sejati), juga bukan dari bagian akhir plato yang sudah mulai turun akibat pemekatan larutan (4,78°C). Titik beku yang tepat dilaporkan adalah suhu puncak plato, yaitu suhu tertinggi yang dicapai segera setelah proses kristalisasi dimulai dan menstabilkan sistem pada kesetimbangan padat-cair sejatinya.

    Jawaban: C. 4,88°C


  15. Soal 15.

    Tekanan uap butana pada 0°C adalah 1 atm. Sampel butana cair sebanyak 0,100 mol pada 0°C dimasukkan ke dalam wadah 2,25 L yang dievakuasi dan terisolasi dengan baik. Pernyataan manakah yang benar menggambarkan sistem setelah mencapai kesetimbangan?
    I. Suhu lebih rendah dari 0°C

    II. Seluruh butana berada dalam fase gas.
    1. Hanya I
    2. Hanya II
    3. Baik I maupun II
    4. Baik I maupun II tidak benar

    Konsep kunci: Wadah bersifat kaku (volume tetap, tidak ada kerja terhadap lingkungan) dan terisolasi dengan baik (tidak ada kalor $Q$ yang masuk/keluar, adiabatik). Berdasarkan Hukum Termodinamika I:

    $$ \Delta U = Q - W = 0 - 0 = 0 $$

    Artinya energi dalam total sistem harus konstan. Ini adalah kunci untuk memahami mengapa penguapan butana ke dalam ruang vakum akan mendinginkan sistem itu sendiri (proses self-cooling/pendinginan evaporatif), karena tidak ada sumber kalor eksternal yang dapat menyediakan energi yang dibutuhkan untuk penguapan (kalor laten penguapan).


    Langkah 1: Cek apakah butana AKAN menguap sama sekali

    Wadah awalnya dalam keadaan vakum (tekanan gas = 0 atm), jauh di bawah tekanan uap jenuh butana pada 0°C (1 atm). Karena tekanan awal jauh di bawah tekanan kesetimbangan uap-cair, butana cair pasti akan mulai menguap begitu dimasukkan ke wadah, untuk mengisi ruang kosong tersebut menuju kesetimbangan.


    Langkah 2: Uji Pernyataan I: apakah suhu turun di bawah 0°C?

    Karena wadah adiabatik (tidak ada kalor dari luar) dan kaku (tidak ada kerja terhadap lingkungan), energi yang dibutuhkan untuk mengubah sebagian butana cair menjadi gas (kalor laten penguapan, $\Delta H_{vap}$) harus diambil dari energi dalam (kalor sensibel) butana itu sendiri, bukan dari luar:

    $$ q_{\text{penguapan}} = n_{\text{menguap}} \times \Delta H_{vap} \;\; \text{diambil dari} \;\; q_{\text{pendinginan sisa zat}} = m \times C_p \times \Delta T $$

    Karena tidak ada kalor eksternal yang tersedia untuk menutupi kebutuhan energi penguapan ini, suhu sistem otomatis turun saat sebagian cairan menguap, fenomena ini identik dengan pendinginan evaporatif yang umum terjadi (misalnya gas propana yang membeku dingin saat dilepaskan dari tabung tekanan, atau keringat yang mendinginkan kulit saat menguap).

    $$ \boxed{\text{Pernyataan I: BENAR} \; \Rightarrow \; T_{\text{akhir}} < 0°C} $$

    Langkah 3: Uji Pernyataan II: apakah SELURUH butana menjadi gas?

    Untuk menguji ini, pertama hitung: seandainya suhu sistem tetap tepat 0°C, berapa tekanan yang dihasilkan jika seluruh 0,100 mol butana menguap sempurna dalam wadah 2,25 L?

    $$ \begin{aligned} P_{\text{jika semua menguap, T tetap 0°C}} &= \dfrac{nRT}{V} \\[8pt] &= \dfrac{0{,}100 \ \text{mol} \times 0{,}08206 \ \text{L.atm/(mol.K)} \times 273{,}15 \ \text{K}}{2{,}25 \ \text{L}} \\[8pt] &= \dfrac{2{,}2414 \ \text{L.atm}}{2{,}25 \ \text{L}} \\[8pt] &= 0{,}9962 \ \text{atm} \end{aligned} $$

    Nilai ini ($\approx 0{,}996$ atm) memang sedikit di bawah tekanan uap jenuh pada 0°C (1,000 atm), artinya, seandainya suhu tetap tepat 0°C, seluruh butana memang bisa menguap sempurna tanpa melebihi kejenuhan (karena tekanan hasil penguapan total masih di bawah tekanan jenuh).

    Namun, dari Langkah 2 kita tahu bahwa proses penguapan tersebut justru menurunkan suhu sistem di bawah 0°C (bukan tetap konstan). Berdasarkan hubungan Clausius–Clapeyron, tekanan uap jenuh selalu menurun seiring turunnya suhu:

    $$ \ln P_{sat} = -\dfrac{\Delta H_{vap}}{R}\cdot\dfrac{1}{T} + C \quad \Rightarrow \quad T\downarrow \;\Rightarrow\; P_{sat}\downarrow $$

    Karena angka 0,9962 atm sudah sangat dekat dengan batas kejenuhan (1,000 atm), hanya sedikit di bawahnya, sedangkan proses penguapan itu sendiri pasti menurunkan suhu (dan karenanya menurunkan pula batas kejenuhan $P_{sat}(T)$ yang baru menjadi lebih rendah dari 1 atm), sistem tidak akan mampu menguapkan seluruh cairan sebelum mencapai kesetimbangan uap-cair (saturasi) pada suhu barunya yang lebih rendah. Dengan kata lain, begitu suhu mulai turun akibat penguapan, tekanan uap jenuh yang dapat dicapai pada suhu yang lebih rendah tersebut juga ikut turun, sehingga kesetimbangan tercapai lebih dahulu (dengan sisa cairan yang masih ada) sebelum seluruh butana sempat menguap habis.

    $$ \boxed{\text{Pernyataan II: SALAH} \; \Rightarrow \; \text{masih tersisa fase cair (kesetimbangan cair–uap), TIDAK seluruhnya menjadi gas}} $$

    Kesimpulan: Sistem yang terisolasi secara adiabatik menyebabkan penguapan butana mendinginkan dirinya sendiri (self-cooling), sehingga suhu akhir pasti berada di bawah 0°C (Pernyataan I benar). Namun, karena penurunan suhu ini juga menurunkan tekanan uap jenuh yang dapat dicapai, kesetimbangan uap–cair baru akan tercapai sebelum seluruh cairan sempat menguap habis, sehingga tetap tersisa sedikit fase cair butana dalam wadah (Pernyataan II salah).

    Jawaban: A. Hanya I


Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info