Berikut pembahasan soal-soal OSN Kimia tingkat kabupaten/kota tahun 2026. Pada postingan ini disajikan khusus soal Topik D (Asam-Basa). Soal tentang bahasan ini berjumlah 5 item soal.
Bahasan Soal OSN Kab/Kota 2025 bidang kimia topik lainnya dapat dibaca pada tautan berikut:
- Topik A: Struktur Anorganik
- Topik B: Kinetika
- Topik C: Kimia Organik
- Topik D: Asam-Basa
- Topik F: Dasar-Dasar Spektroskopi
- Topik G: Kelarutan
- Topik H: Sifat Koligatif Larutan
- Topik I: Termodinamika
- Topik J: Elektrokimia
Topik D - Soal 1 (2 poin)
Data berikut digunakan pada Topik D soal 1-5. Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.
Pernyataan yang paling tepat mengenai spesi dihidrogen fosfat adalah .....
- Bersifat asam dengan Ka = 10−7,20
- Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−7,20 dan sebagai basa Kb = 10−11,85
- Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−7,20 dan sebagai basa Kb = 10−2,15
- Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−12,35 dan sebagai basa Kb = 10−6,80
- Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−12,35 dan sebagai basa Kb = 10−7,20
Pembahasan Soal D-1
Data: Asam fosfat (H3PO4)
- pKa1 = 2,15 → Ka1 = 10−2,15
- pKa2 = 7,20 → Ka2 = 10−7,20
- pKa3 = 12,35 → Ka3 = 10−12,35
- Kw = 1,00 × 10−14
1. Apa itu Spesi Dihidrogen Fosfat?
Asam fosfat (H3PO4) adalah asam triprotik – artinya ia memiliki tiga proton (H+) yang bisa dilepas, satu per satu, menghasilkan tiga spesi anion:
| Tahap ionisasi | Spesi yang terbentuk | Nama |
|---|---|---|
| Setelah melepas 1 H+ | H2PO4− | Dihidrogen fosfat |
| Setelah melepas 2 H+ | HPO42− | Hidrogen fosfat |
| Setelah melepas 3 H+ | PO43− | Fosfat |
Jadi dihidrogen fosfat = H2PO4−, yaitu spesi yang sudah melepas 1 proton dari H3PO4.
2. Mengapa H2PO4− Bersifat Amfoter?
H2PO4− masih punya dua atom H yang bisa dilepas (fungsi asam), dan juga bisa menerima kembali 1 proton untuk membentuk H3PO4 lagi (fungsi basa).
3. Fungsi Asam H2PO4−
Ketika bertindak sebagai asam, H2PO4− melepas 1 proton:
Ini adalah ionisasi tahap ke-2 dari H3PO4, sehingga konstantanya adalah Ka2:
$$K_a = K_{a_2} = 10^{-7{,}20}$$4. Fungsi Basa H2PO4−
Ketika bertindak sebagai basa, H2PO4− menerima 1 proton dan kembali membentuk H3PO4:
Reaksi ini adalah kebalikan dari ionisasi tahap ke-1 H3PO4:
Karena reaksi basa adalah kebalikannya, maka:
$$ \begin{aligned} K_b &= \frac{K_w}{K_{a_1}} \\[8pt] &= \frac{10^{-14}}{10^{-2{,}15}} \\[8pt] &= 10^{-14 - (-2{,}15)} \\[8pt] &= 10^{-11{,}85} \end{aligned} $$5. Pembahasan Tiap Pilihan
| Pilihan | Pernyataan | Status | Alasan |
|---|---|---|---|
| A | Hanya bersifat asam, Ka = 10−7,20 | ❌ Salah | H2PO4− juga bisa bertindak sebagai basa, jadi bukan hanya asam. |
| B | Amfoter; Ka = 10−7,20 dan Kb = 10−11,85 | ✅ Benar | Ka = Ka2; Kb = Kw/Ka1 = 10−14/10−2,15 = 10−11,85 |
| C | Amfoter; Ka = 10−7,20 dan Kb = 10−2,15 | ❌ Salah | Kb bukan Ka1 secara langsung. Harus Kw/Ka1, bukan Ka1 itu sendiri. |
| D | Amfoter; Ka = 10−12,35 dan Kb = 10−6,80 | ❌ Salah | Ka = 10−12,35 adalah milik HPO42−, bukan H2PO4−. |
| E | Amfoter; Ka = 10−12,35 dan Kb = 10−7,20 | ❌ Salah | Kedua nilai tersebut bukan milik H2PO4−. |
6. Ringkasan – Cara Cepat Menentukan Ka dan Kb Spesi Amfoter
Untuk spesi amfoter hasil ionisasi asam poliprotik tahap ke-n:
- Ka = Kan+1 (ionisasi berikutnya, tahap setelah spesi ini terbentuk)
- Kb = Kw / Kan (kebalikan dari ionisasi yang menghasilkan spesi ini)
Untuk H2PO4− (terbentuk dari tahap ke-1, yaitu n = 1):
- Ka = Ka2 = 10−7,20
- Kb = Kw / Ka1 = 10−14 / 10−2,15 = 10−11,85
Topik D - Soal 2 (3 poin)
Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.
pH larutan asam fosfat 0,100 M adalah .....
- 1,08
- 1,58
- 1,63
- 1,91
- 2,15
Pembahasan Soal D-2
Data: pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; Kw = 1,00 × 10−14
1. Kenapa Cukup Pakai Ionisasi Tahap Pertama?
Asam fosfat (H3PO4) adalah asam triprotik yang terionisasi dalam 3 tahap:
| Tahap | Reaksi | Nilai Ka |
|---|---|---|
| 1 | H3PO4 ⇌ H+ + H2PO4− | Ka1 = 10−2,15 ≈ 7,08 × 10−3 |
| 2 | H2PO4− ⇌ H+ + HPO42− | Ka2 = 10−7,20 ≈ 6,31 × 10−8 |
| 3 | HPO42− ⇌ H+ + PO43− | Ka3 = 10−12,35 ≈ 4,47 × 10−13 |
$$\frac{K_{a_1}}{K_{a_2}} = \frac{10^{-2{,}15}}{10^{-7{,}20}} = 10^{5{,}05} \approx 10^5$$ Ka₁ lebih besar 100.000 kali dibanding Ka₂. Artinya, kontribusi H+ dari tahap 2 dan 3 sangat kecil dan dapat diabaikan. Ionisasi tahap pertama saja sudah cukup untuk menghitung pH.
2. Menyusun Tabel ABS (Ionisasi Tahap 1)
| H3PO4 | H+ | H2PO4− | |
|---|---|---|---|
| Awal (M) | 0,100 | 0 | 0 |
| Berubah (M) | −x | +x | +x |
| Setimbang (M) | 0,100 − x | x | x |
3. Menyusun Persamaan Ka1
$$K_{a_1} = \frac{[\text{H}^+][\text{H}_2\text{PO}_4^-]}{[\text{H}_3\text{PO}_4]} = \frac{x \cdot x}{0{,}100 - x} = \frac{x^2}{0{,}100 - x}$$4. Cek: Apakah Aproksimasi x ≪ 0,100 Berlaku?
$$\frac{K_{a_1}}{C} = \frac{10^{-2{,}15}}{0{,}100} = \frac{7{,}08 \times 10^{-3}}{0{,}100} = 0{,}071 \approx 7{,}1\%$$ Hasil 7,1% masih mendekati batas, jadi aproksimasi masih dapat diterima untuk perhitungan tingkat SMA, namun kita tetap harus hati-hati. Pada soal OSN, lebih baik diselesaikan dengan persamaan kuadrat agar hasilnya lebih akurat.
5. Penyelesaian dengan Persamaan Kuadrat
Dari persamaan kesetimbangan:
$$\frac{x^2}{0{,}100 - x} = 10^{-2{,}15} = 7{,}079 \times 10^{-3}$$Kalikan kedua ruas dengan $(0{,}100 - x)$:
$$x^2 = 7{,}079 \times 10^{-3} \,(0{,}100 - x)$$ $$x^2 = 7{,}079 \times 10^{-4} - 7{,}079 \times 10^{-3}\,x$$ $$x^2 + 7{,}079 \times 10^{-3}\,x - 7{,}079 \times 10^{-4} = 0$$Gunakan rumus kuadrat $x = \dfrac{-b + \sqrt{b^2 + 4ac}}{2a}$ (ambil akar positif):
$$ \begin{aligned} a &= 1,\quad b = 7{,}079 \times 10^{-3},\quad c = -7{,}079 \times 10^{-4} \\[8pt] D &= b^2 + 4ac \\[8pt] &= (7{,}079 \times 10^{-3})^2 + 4(1)(7{,}079 \times 10^{-4}) \\[8pt] &= 5{,}011 \times 10^{-5} + 2{,}832 \times 10^{-3} \\[8pt] &= 2{,}882 \times 10^{-3} \\[8pt] \sqrt{D} &= \sqrt{2{,}882 \times 10^{-3}} = 5{,}368 \times 10^{-2} \\[8pt] x &= \frac{-7{,}079 \times 10^{-3} + 5{,}368 \times 10^{-2}}{2} \\[8pt] &= \frac{4{,}660 \times 10^{-2}}{2} \\[8pt] &= 2{,}330 \times 10^{-2} \text{ M} \end{aligned} $$6. Menghitung pH
$$ \begin{aligned} [\text{H}^+] &= x = 2{,}330 \times 10^{-2} \text{ M} \\[8pt] \text{pH} &= -\log[\text{H}^+] \\[8pt] &= -\log(2{,}330 \times 10^{-2}) \\[8pt] &= -(\log 2{,}330 + \log 10^{-2}) \\[8pt] &= -(0{,}367 - 2) \\[8pt] &= -(-1{,}633) \\[8pt] &= 1{,}633 \end{aligned} $$pH larutan H3PO4 0,100 M ≈ 1,63
7. Ringkasan Langkah
| Langkah | Yang Dilakukan |
|---|---|
| 1 | Fokus pada ionisasi tahap 1 (Ka₁ ≫ Ka₂) |
| 2 | Buat tabel ABS, nyatakan [H+] = x |
| 3 | Substitusi ke ekspresi Ka, bentuk persamaan kuadrat |
| 4 | Selesaikan dengan rumus kuadrat, ambil nilai x positif |
| 5 | pH = −log x |
Topik D - Soal 3 (3 poin)
Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.
Pada soal 2, fraksi H+ yang disumbangkan oleh reaksi deprotonasi kedua adalah .....
- ~ 10−3
- ~ 10−4
- ~ 10−5
- ~ 10−6
- ~ 10−7
Pembahasan Soal D-3
Data: pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; Kw = 1,00 × 10−14
1. Mengingat Hasil Soal 2
Dari soal 2, diketahui bahwa pada kesetimbangan ionisasi tahap 1:
- [H+]total ≈ [H2PO4−] = 2,330 × 10−2 M
- [H3PO4] sisa = 0,100 − 0,02330 = 0,07670 M
Nilai-nilai ini menjadi kondisi awal untuk menghitung ionisasi tahap 2.
2. Apa yang Dimaksud "Fraksi H+ dari Tahap 2"?
Setelah tahap 1 selesai, spesi H2PO4− yang terbentuk dapat terionisasi lebih lanjut (tahap 2):
Jika ionisasi tahap 2 menghasilkan tambahan H+ sebesar $y$ mol/L, maka:
$$\text{Fraksi} = \frac{[\text{H}^+]_{\text{dari tahap 2}}}{[\text{H}^+]_{\text{total}}} = \frac{y}{[\text{H}^+]_{\text{total}}}$$3. Menyusun Tabel ABS untuk Ionisasi Tahap 2
Kondisi awal diambil dari hasil kesetimbangan tahap 1:
| H2PO4− | H+ | HPO42− | |
|---|---|---|---|
| Awal (M) | 2,330 × 10−2 | 2,330 × 10−2 | 0 |
| Berubah (M) | −y | +y | +y |
| Setimbang (M) | 2,330 × 10−2 − y | 2,330 × 10−2 + y | y |
4. Persamaan Ka2
$$K_{a_2} = \frac{[\text{H}^+][\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]} = \frac{(2{,}330\times10^{-2}+y)\cdot y}{2{,}330\times10^{-2}-y}$$Karena Ka2 = 10−7,20 = 6,310 × 10−8 sangat kecil, maka $y \ll 2{,}330 \times 10^{-2}$. Aproksimasi ini sangat valid (beda 5 orde besaran), sehingga:
$$K_{a_2} \approx \frac{(2{,}330\times10^{-2})\cdot y}{2{,}330\times10^{-2}} = y$$Jadi:
$$ \begin{aligned} y &= K_{a_2} \\[8pt] &= 10^{-7{,}20} \\[8pt] &= 6{,}310 \times 10^{-8} \text{ M} \end{aligned} $$Ini terjadi karena konsentrasi H+ yang sudah ada dari tahap 1 (2,330 × 10−2 M) sama persis dengan konsentrasi H2PO4− awalnya. Keduanya saling menghilangkan dalam aproksimasi, menyisakan $y \approx K_{a_2}$ secara langsung.
5. Menghitung Fraksi
Total [H+] setelah tahap 2:
$$ \begin{aligned} [\text{H}^+]_{\text{total}} &= 2{,}330\times10^{-2} + y \\[8pt] &\approx 2{,}330\times10^{-2} \text{ M} \quad (\text{karena } y \ll 2{,}330\times10^{-2}) \end{aligned} $$Fraksi H+ dari deprotonasi kedua:
$$ \begin{aligned} \text{Fraksi} &= \frac{y}{[\text{H}^+]_{\text{total}}} \\[8pt] &= \frac{6{,}310\times10^{-8}}{2{,}330\times10^{-2}} \\[8pt] &= 2{,}708\times10^{-6} \\[8pt] &\approx 2{,}71\times10^{-6} \end{aligned} $$Fraksi H+ dari deprotonasi kedua = ~10−6
Topik D - Soal 4 (4 poin)
Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.
Indikator yang paling tepat untuk menentukan titik ekuivalen pertama (TE1) dalam titrasi 50,0 mL larutan asam fosfat 0,100 M dan larutan NaOH 0,100 M pada 25 °C adalah .....
- Metil oranye (rentang kerja 3,1–4,4)
- Bromokresol hijau (rentang kerja 3,8–5,4)
- Bromotimol biru (rentang kerja 6,0–7,6)
- Fenolftalein (rentang kerja 8,2–10,0)
- Timolftalein (rentang kerja 9,4–10,6)
Pembahasan Soal D-4
Data: pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; Kw = 1,00 × 10−14
Titrasi: 50,0 mL H3PO4 0,100 M + NaOH 0,100 M, suhu 25 °C
1. Reaksi pada Titik Ekuivalen Pertama (TE1)
Saat H3PO4 dititrasi dengan NaOH, reaksi berlangsung bertahap. TE1 tercapai ketika tepat 1 mol NaOH bereaksi dengan 1 mol H3PO4:
Menghitung mol dan volume NaOH yang dibutuhkan untuk TE1:
$$ \begin{aligned} n_{\text{H}_3\text{PO}_4} &= 0{,}0500 \text{ L} \times 0{,}100 \text{ mol/L} = 5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \\[8pt] n_{\text{NaOH}} &= n_{\text{H}_3\text{PO}_4} = 5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \\[8pt] V_{\text{NaOH}} &= \frac{5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol}}{0{,}100 \text{ mol/L}} = 50{,}0 \text{ mL} \end{aligned} $$Jadi pada TE1, 50,0 mL NaOH ditambahkan sehingga volume total larutan menjadi 100,0 mL.
Spesi dominan di larutan pada TE1 adalah H2PO4− (dihidrogen fosfat), dengan konsentrasi:
$$ \begin{aligned} [\text{H}_2\text{PO}_4^-] &= \frac{5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol}}{0{,}1000 \text{ L}} = 0{,}0500 \text{ M} \end{aligned} $$2. Sifat H2PO4− di TE1: Spesi Amfoter
Seperti yang sudah dibahas pada Soal 1, H2PO4− bersifat amfoter -- bisa bertindak sebagai asam maupun basa secara bersamaan dalam larutan:
Sebagai basa: H2PO4− + H+ ⇌ H3PO4 (Kb = Kw/Ka1 = 10−11,85)
3. Rumus pH Larutan Amfoter
Untuk spesi amfoter yang terbentuk dari ionisasi tahap ke-n asam poliprotik, berlaku rumus aproksimasi:
$$\text{pH} = \frac{\text{p}K_{a_n} + \text{p}K_{a_{n+1}}}{2}$$Rumus ini valid selama konsentrasi spesi amfoter jauh lebih besar dari Ka-nya (berlaku pada kebanyakan kasus praktis).
H2PO4− terbentuk dari ionisasi tahap ke-1, sehingga nilai yang relevan adalah pKa1 dan pKa2:
$$ \begin{aligned} \text{pH} &= \frac{\text{p}K_{a_1} + \text{p}K_{a_2}}{2} \\[8pt] &= \frac{2{,}15 + 7{,}20}{2} \\[8pt] &= \frac{9{,}35}{2} \\[8pt] &= 4{,}675 \end{aligned} $$Pada larutan murni H2PO4−, reaksi autoprotolisis mendominasi: $$2\,\text{H}_2\text{PO}_4^- \;\rightleftharpoons\; \text{H}_3\text{PO}_4 + \text{HPO}_4^{2-}$$ Dari kesetimbangan ini bisa diturunkan bahwa $[\text{H}^+] = \sqrt{K_{a_1} \cdot K_{a_2}}$, sehingga: $$\text{pH} = \frac{\text{p}K_{a_1} + \text{p}K_{a_2}}{2}$$ Hasilnya tidak bergantung pada konsentrasi H2PO4− (selama asumsi pengenceran ekstrem tidak terpenuhi), sehingga pengenceran akibat pencampuran larutan tidak mempengaruhi pH.
4. Pemilihan Indikator
pH di TE1 = 4,68. Indikator yang tepat adalah yang rentang perubahan warnanya mencakup atau paling dekat dengan pH 4,68:
| Pilihan | Indikator | Rentang Kerja | Mencakup pH 4,68? |
|---|---|---|---|
| A | Metil oranye | 3,1 – 4,4 | ❌ 4,68 > 4,4 (terlalu rendah) |
| B | Bromokresol hijau | 3,8 – 5,4 | ✅ 3,8 ≤ 4,68 ≤ 5,4 (tepat di tengah!) |
| C | Bromotimol biru | 6,0 – 7,6 | ❌ 4,68 < 6,0 (terlalu tinggi) |
| D | Fenolftalein | 8,2 – 10,0 | ❌ 4,68 < 8,2 (jauh terlalu tinggi) |
| E | Timolftalein | 9,4 – 10,6 | ❌ 4,68 < 9,4 (jauh terlalu tinggi) |
pH 4,68 jatuh tepat di dalam rentang bromokresol hijau (3,8–5,4).
pH TE1 = 4,68 berada di dalam rentang indikator ini.
5. Ringkasan Strategi Soal
| Langkah | Yang Dilakukan | Hasil |
|---|---|---|
| 1 | Tentukan reaksi di TE1 | H3PO4 + NaOH → NaH2PO4 |
| 2 | Identifikasi spesi dominan | H2PO4− (amfoter) |
| 3 | Gunakan rumus pH amfoter | pH = (pKa1 + pKa2) / 2 = 4,68 |
| 4 | Pilih indikator yang mencakup pH tersebut | Bromokresol hijau (3,8–5,4) |
Topik D - Soal 5 (4 poin)
Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.
Sebanyak 50,0 mL larutan asam fosfat 0,100 M dititrasi dengan larutan NaOH 0,100 M pada 25 °C. Setelah penambahan 75,0 mL NaOH 0,100 M, pH larutan adalah .....
- 4,68
- 6,20
- 7,20
- 7,78
- 9,78
Pembahasan Soal D-5
Data: pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; Kw = 1,00 × 10−14
50,0 mL H3PO4 0,100 M dititrasi dengan NaOH 0,100 M pada 25 °C.
1. Posisi Titrasi: Di Mana Kita Berada?
Pertama, identifikasi titik-titik ekuivalen titrasi H3PO4 dengan NaOH:
| Titik Ekuivalen | Reaksi | Volume NaOH yang dibutuhkan |
|---|---|---|
| TE1 | H3PO4 + NaOH → NaH2PO4 | 50,0 mL |
| TE2 | NaH2PO4 + NaOH → Na2HPO4 | 100,0 mL (total) |
| TE3 | Na2HPO4 + NaOH → Na3PO4 | 150,0 mL (total) |
Ini adalah titik setengah ekuivalen kedua (half-equivalence point ke-2).
(0 mL) TE1
(50 mL) 75 mL TE2
(100 mL) TE3
(150 mL)
2. Menghitung Mol Sebelum dan Sesudah Reaksi
Mol masing-masing spesi sebelum reaksi:
$$ \begin{aligned} n_{\text{H}_3\text{PO}_4} &= 0{,}0500 \text{ L} \times 0{,}100 \text{ mol/L} = 5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \\[8pt] n_{\text{NaOH}} &= 0{,}0750 \text{ L} \times 0{,}100 \text{ mol/L} = 7{,}50 \times 10^{-3} \text{ mol} \end{aligned} $$Reaksi berlangsung secara bertahap. NaOH pertama menghabiskan H3PO4 (TE1 = 5,00 × 10−3 mol NaOH), lalu sisa NaOH bereaksi dengan H2PO4−:
Tahap 2: H2PO4− + NaOH → HPO42− + H2O
| H3PO4 | NaOH | H2PO4− | HPO42− | |
|---|---|---|---|---|
| Mula-mula (mmol) | 5,00 | 7,50 | 0 | 0 |
| Setelah Tahap 1 (mmol) | 0 | 2,50 (sisa) | 5,00 | 0 |
| Setelah Tahap 2 (mmol) | 0 | 0 | 2,50 | 2,50 |
3. Menghitung pH dengan Persamaan Henderson-Hasselbalch
Larutan mengandung pasangan asam-basa konjugat H2PO4− / HPO42−, yang berkaitan melalui Ka2:
Persamaan Henderson-Hasselbalch:
$$\text{pH} = \text{p}K_{a_2} + \log\frac{[\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]}$$Karena mol H2PO4− = mol HPO42− = 2,50 mmol, dan keduanya berada dalam volume yang sama:
$$\frac{[\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]} = \frac{n_{\text{HPO}_4^{2-}}}{n_{\text{H}_2\text{PO}_4^-}} = \frac{2{,}50}{2{,}50} = 1$$Substitusi ke Henderson-Hasselbalch:
$$ \begin{aligned} \text{pH} &= \text{p}K_{a_2} + \log\frac{[\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]} \\[8pt] &= 7{,}20 + \log(1) \\[8pt] &= 7{,}20 + 0 \\[8pt] &= 7{,}20 \end{aligned} $$pH larutan setelah penambahan 75,0 mL NaOH = 7,20
4. Mengapa pH = pKa2? Konsep Half-Equivalence Point
- Separuh H2PO4− (hasil TE1) telah diubah menjadi HPO42−
- Sehingga [H2PO4−] = [HPO42−]
- Maka log(1) = 0, dan pH = pKa2
5. Peta Lengkap Titik-Titik Kunci Titrasi Ini
| Volume NaOH | Kondisi | pH |
|---|---|---|
| 0 mL | H3PO4 murni 0,100 M | 1,63 (dari soal 2) |
| 25 mL | Half-equivalence ke-1: [H3PO4] = [H2PO4−] | pKa1 = 2,15 |
| 50 mL (TE1) | H2PO4− amfoter 0,0500 M | (pKa1 + pKa2)/2 = 4,68 |
| 75 mL | Half-equivalence ke-2: [H2PO4−] = [HPO42−] | pKa2 = 7,20 |
| 100 mL (TE2) | HPO42− amfoter 0,0333 M | (pKa2 + pKa3)/2 = 9,78 |
| 125 mL | Half-equivalence ke-3: [HPO42−] = [PO43−] | pKa3 = 12,35 |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar