Pembahasan Soal Topik D (Asam-Basa) - OSN Kimia Tingkat Kab/Kota Tahun 2026

Selasa, 07 Juli 2026

Berikut pembahasan soal-soal OSN Kimia tingkat kabupaten/kota tahun 2026. Pada postingan ini disajikan khusus soal Topik D (Asam-Basa). Soal tentang bahasan ini berjumlah 5 item soal.

Bahasan Soal OSN Kab/Kota 2025 bidang kimia topik lainnya dapat dibaca pada tautan berikut:

Topik D – Asam-Basa (16 poin)

Topik D - Soal 1 (2 poin)

Data berikut digunakan pada Topik D soal 1-5. Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.

Pernyataan yang paling tepat mengenai spesi dihidrogen fosfat adalah .....

  1. Bersifat asam dengan Ka = 10−7,20
  2. Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−7,20 dan sebagai basa Kb = 10−11,85
  3. Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−7,20 dan sebagai basa Kb = 10−2,15
  4. Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−12,35 dan sebagai basa Kb = 10−6,80
  5. Bersifat amfoter, sebagai asam Ka = 10−12,35 dan sebagai basa Kb = 10−7,20

Pembahasan Soal D-1

Data: Asam fosfat (H3PO4)

  • pKa1 = 2,15  →  Ka1 = 10−2,15
  • pKa2 = 7,20  →  Ka2 = 10−7,20
  • pKa3 = 12,35  →  Ka3 = 10−12,35
  • Kw = 1,00 × 10−14

1. Apa itu Spesi Dihidrogen Fosfat?

Asam fosfat (H3PO4) adalah asam triprotik – artinya ia memiliki tiga proton (H+) yang bisa dilepas, satu per satu, menghasilkan tiga spesi anion:

Tahap ionisasiSpesi yang terbentukNama
Setelah melepas 1 H+H2PO4Dihidrogen fosfat
Setelah melepas 2 H+HPO42−Hidrogen fosfat
Setelah melepas 3 H+PO43−Fosfat

Jadi dihidrogen fosfat = H2PO4, yaitu spesi yang sudah melepas 1 proton dari H3PO4.


2. Mengapa H2PO4 Bersifat Amfoter?

Amfoter berarti suatu spesi bisa bertindak sebagai asam (melepas H+) sekaligus sebagai basa (menerima H+), tergantung kondisinya.

H2PO4 masih punya dua atom H yang bisa dilepas (fungsi asam), dan juga bisa menerima kembali 1 proton untuk membentuk H3PO4 lagi (fungsi basa).

3. Fungsi Asam H2PO4

Ketika bertindak sebagai asam, H2PO4 melepas 1 proton:

H2PO4  ⇌  H+ + HPO42−

Ini adalah ionisasi tahap ke-2 dari H3PO4, sehingga konstantanya adalah Ka2:

$$K_a = K_{a_2} = 10^{-7{,}20}$$

4. Fungsi Basa H2PO4

Ketika bertindak sebagai basa, H2PO4 menerima 1 proton dan kembali membentuk H3PO4:

H2PO4 + H+  ⇌  H3PO4

Reaksi ini adalah kebalikan dari ionisasi tahap ke-1 H3PO4:

H3PO4  ⇌  H+ + H2PO4     (Ka1 = 10−2,15)

Karena reaksi basa adalah kebalikannya, maka:

$$ \begin{aligned} K_b &= \frac{K_w}{K_{a_1}} \\[8pt] &= \frac{10^{-14}}{10^{-2{,}15}} \\[8pt] &= 10^{-14 - (-2{,}15)} \\[8pt] &= 10^{-11{,}85} \end{aligned} $$

5. Pembahasan Tiap Pilihan

PilihanPernyataanStatusAlasan
A Hanya bersifat asam, Ka = 10−7,20 ❌ Salah H2PO4 juga bisa bertindak sebagai basa, jadi bukan hanya asam.
B Amfoter; Ka = 10−7,20 dan Kb = 10−11,85 ✅ Benar Ka = Ka2; Kb = Kw/Ka1 = 10−14/10−2,15 = 10−11,85
C Amfoter; Ka = 10−7,20 dan Kb = 10−2,15 ❌ Salah Kb bukan Ka1 secara langsung. Harus Kw/Ka1, bukan Ka1 itu sendiri.
D Amfoter; Ka = 10−12,35 dan Kb = 10−6,80 ❌ Salah Ka = 10−12,35 adalah milik HPO42−, bukan H2PO4.
E Amfoter; Ka = 10−12,35 dan Kb = 10−7,20 ❌ Salah Kedua nilai tersebut bukan milik H2PO4.
✅ Jawaban: B

6. Ringkasan – Cara Cepat Menentukan Ka dan Kb Spesi Amfoter

Untuk spesi amfoter hasil ionisasi asam poliprotik tahap ke-n:

  • Ka = Kan+1  (ionisasi berikutnya, tahap setelah spesi ini terbentuk)
  • Kb = Kw / Kan  (kebalikan dari ionisasi yang menghasilkan spesi ini)

Untuk H2PO4 (terbentuk dari tahap ke-1, yaitu n = 1):

  • Ka = Ka2 = 10−7,20
  • Kb = Kw / Ka1 = 10−14 / 10−2,15 = 10−11,85

Topik D - Soal 2 (3 poin)

Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.

pH larutan asam fosfat 0,100 M adalah .....

  1. 1,08
  2. 1,58
  3. 1,63
  4. 1,91
  5. 2,15

Pembahasan Soal D-2

Data: pKa1 = 2,15;  pKa2 = 7,20;  pKa3 = 12,35;  Kw = 1,00 × 10−14


1. Kenapa Cukup Pakai Ionisasi Tahap Pertama?

Asam fosfat (H3PO4) adalah asam triprotik yang terionisasi dalam 3 tahap:

TahapReaksiNilai Ka
1 H3PO4 ⇌ H+ + H2PO4 Ka1 = 10−2,15 ≈ 7,08 × 10−3
2 H2PO4 ⇌ H+ + HPO42− Ka2 = 10−7,20 ≈ 6,31 × 10−8
3 HPO42− ⇌ H+ + PO43− Ka3 = 10−12,35 ≈ 4,47 × 10−13
Perbandingan Ka₁ vs Ka₂:
$$\frac{K_{a_1}}{K_{a_2}} = \frac{10^{-2{,}15}}{10^{-7{,}20}} = 10^{5{,}05} \approx 10^5$$ Ka₁ lebih besar 100.000 kali dibanding Ka₂. Artinya, kontribusi H+ dari tahap 2 dan 3 sangat kecil dan dapat diabaikan. Ionisasi tahap pertama saja sudah cukup untuk menghitung pH.

2. Menyusun Tabel ABS (Ionisasi Tahap 1)

H3PO4   ⇌   H+  +  H2PO4
H3PO4 H+ H2PO4
Awal (M)0,10000
Berubah (M)−x+x+x
Setimbang (M)0,100 − xxx

3. Menyusun Persamaan Ka1

$$K_{a_1} = \frac{[\text{H}^+][\text{H}_2\text{PO}_4^-]}{[\text{H}_3\text{PO}_4]} = \frac{x \cdot x}{0{,}100 - x} = \frac{x^2}{0{,}100 - x}$$

4. Cek: Apakah Aproksimasi x ≪ 0,100 Berlaku?

Aturan praktis: aproksimasi valid jika $\dfrac{K_a}{C} \leq 0{,}01$ (ionisasi ≤ 10%).

$$\frac{K_{a_1}}{C} = \frac{10^{-2{,}15}}{0{,}100} = \frac{7{,}08 \times 10^{-3}}{0{,}100} = 0{,}071 \approx 7{,}1\%$$ Hasil 7,1% masih mendekati batas, jadi aproksimasi masih dapat diterima untuk perhitungan tingkat SMA, namun kita tetap harus hati-hati. Pada soal OSN, lebih baik diselesaikan dengan persamaan kuadrat agar hasilnya lebih akurat.

5. Penyelesaian dengan Persamaan Kuadrat

Dari persamaan kesetimbangan:

$$\frac{x^2}{0{,}100 - x} = 10^{-2{,}15} = 7{,}079 \times 10^{-3}$$

Kalikan kedua ruas dengan $(0{,}100 - x)$:

$$x^2 = 7{,}079 \times 10^{-3} \,(0{,}100 - x)$$ $$x^2 = 7{,}079 \times 10^{-4} - 7{,}079 \times 10^{-3}\,x$$ $$x^2 + 7{,}079 \times 10^{-3}\,x - 7{,}079 \times 10^{-4} = 0$$

Gunakan rumus kuadrat $x = \dfrac{-b + \sqrt{b^2 + 4ac}}{2a}$ (ambil akar positif):

$$ \begin{aligned} a &= 1,\quad b = 7{,}079 \times 10^{-3},\quad c = -7{,}079 \times 10^{-4} \\[8pt] D &= b^2 + 4ac \\[8pt] &= (7{,}079 \times 10^{-3})^2 + 4(1)(7{,}079 \times 10^{-4}) \\[8pt] &= 5{,}011 \times 10^{-5} + 2{,}832 \times 10^{-3} \\[8pt] &= 2{,}882 \times 10^{-3} \\[8pt] \sqrt{D} &= \sqrt{2{,}882 \times 10^{-3}} = 5{,}368 \times 10^{-2} \\[8pt] x &= \frac{-7{,}079 \times 10^{-3} + 5{,}368 \times 10^{-2}}{2} \\[8pt] &= \frac{4{,}660 \times 10^{-2}}{2} \\[8pt] &= 2{,}330 \times 10^{-2} \text{ M} \end{aligned} $$

6. Menghitung pH

$$ \begin{aligned} [\text{H}^+] &= x = 2{,}330 \times 10^{-2} \text{ M} \\[8pt] \text{pH} &= -\log[\text{H}^+] \\[8pt] &= -\log(2{,}330 \times 10^{-2}) \\[8pt] &= -(\log 2{,}330 + \log 10^{-2}) \\[8pt] &= -(0{,}367 - 2) \\[8pt] &= -(-1{,}633) \\[8pt] &= 1{,}633 \end{aligned} $$
✅ Jawaban yang tepat C.
pH larutan H3PO4 0,100 M ≈ 1,63

7. Ringkasan Langkah

LangkahYang Dilakukan
1Fokus pada ionisasi tahap 1 (Ka₁ ≫ Ka₂)
2Buat tabel ABS, nyatakan [H+] = x
3Substitusi ke ekspresi Ka, bentuk persamaan kuadrat
4Selesaikan dengan rumus kuadrat, ambil nilai x positif
5pH = −log x

Topik D - Soal 3 (3 poin)

Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.

Pada soal 2, fraksi H+ yang disumbangkan oleh reaksi deprotonasi kedua adalah .....

  1. ~ 10−3
  2. ~ 10−4
  3. ~ 10−5
  4. ~ 10−6
  5. ~ 10−7

Pembahasan Soal D-3

Data: pKa1 = 2,15;  pKa2 = 7,20;  pKa3 = 12,35;  Kw = 1,00 × 10−14


1. Mengingat Hasil Soal 2

Dari soal 2, diketahui bahwa pada kesetimbangan ionisasi tahap 1:

  • [H+]total ≈ [H2PO4] = 2,330 × 10−2 M
  • [H3PO4] sisa = 0,100 − 0,02330 = 0,07670 M

Nilai-nilai ini menjadi kondisi awal untuk menghitung ionisasi tahap 2.


2. Apa yang Dimaksud "Fraksi H+ dari Tahap 2"?

Setelah tahap 1 selesai, spesi H2PO4 yang terbentuk dapat terionisasi lebih lanjut (tahap 2):

H2PO4  ⇌  H+ + HPO42−

Jika ionisasi tahap 2 menghasilkan tambahan H+ sebesar $y$ mol/L, maka:

$$\text{Fraksi} = \frac{[\text{H}^+]_{\text{dari tahap 2}}}{[\text{H}^+]_{\text{total}}} = \frac{y}{[\text{H}^+]_{\text{total}}}$$
Kunci pemahaman: Setiap mol H2PO4 yang terionisasi pada tahap 2 menghasilkan tepat 1 mol H+ dan 1 mol HPO42−. Maka: $$y = [\text{HPO}_4^{2-}]_{\text{setimbang}}$$

3. Menyusun Tabel ABS untuk Ionisasi Tahap 2

Kondisi awal diambil dari hasil kesetimbangan tahap 1:

H2PO4 H+ HPO42−
Awal (M)2,330 × 10−22,330 × 10−20
Berubah (M)−y+y+y
Setimbang (M)2,330 × 10−2 − y2,330 × 10−2 + yy

4. Persamaan Ka2

$$K_{a_2} = \frac{[\text{H}^+][\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]} = \frac{(2{,}330\times10^{-2}+y)\cdot y}{2{,}330\times10^{-2}-y}$$

Karena Ka2 = 10−7,20 = 6,310 × 10−8 sangat kecil, maka $y \ll 2{,}330 \times 10^{-2}$. Aproksimasi ini sangat valid (beda 5 orde besaran), sehingga:

$$K_{a_2} \approx \frac{(2{,}330\times10^{-2})\cdot y}{2{,}330\times10^{-2}} = y$$

Jadi:

$$ \begin{aligned} y &= K_{a_2} \\[8pt] &= 10^{-7{,}20} \\[8pt] &= 6{,}310 \times 10^{-8} \text{ M} \end{aligned} $$
Mengapa y = Ka2?
Ini terjadi karena konsentrasi H+ yang sudah ada dari tahap 1 (2,330 × 10−2 M) sama persis dengan konsentrasi H2PO4 awalnya. Keduanya saling menghilangkan dalam aproksimasi, menyisakan $y \approx K_{a_2}$ secara langsung.

5. Menghitung Fraksi

Total [H+] setelah tahap 2:

$$ \begin{aligned} [\text{H}^+]_{\text{total}} &= 2{,}330\times10^{-2} + y \\[8pt] &\approx 2{,}330\times10^{-2} \text{ M} \quad (\text{karena } y \ll 2{,}330\times10^{-2}) \end{aligned} $$

Fraksi H+ dari deprotonasi kedua:

$$ \begin{aligned} \text{Fraksi} &= \frac{y}{[\text{H}^+]_{\text{total}}} \\[8pt] &= \frac{6{,}310\times10^{-8}}{2{,}330\times10^{-2}} \\[8pt] &= 2{,}708\times10^{-6} \\[8pt] &\approx 2{,}71\times10^{-6} \end{aligned} $$
✅ Jawaban yang tepat D,
Fraksi H+ dari deprotonasi kedua = ~10−6

Topik D - Soal 4 (4 poin)

Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.

Indikator yang paling tepat untuk menentukan titik ekuivalen pertama (TE1) dalam titrasi 50,0 mL larutan asam fosfat 0,100 M dan larutan NaOH 0,100 M pada 25 °C adalah .....

  1. Metil oranye (rentang kerja 3,1–4,4)
  2. Bromokresol hijau (rentang kerja 3,8–5,4)
  3. Bromotimol biru (rentang kerja 6,0–7,6)
  4. Fenolftalein (rentang kerja 8,2–10,0)
  5. Timolftalein (rentang kerja 9,4–10,6)

Pembahasan Soal D-4

Data: pKa1 = 2,15;  pKa2 = 7,20;  pKa3 = 12,35;  Kw = 1,00 × 10−14

Titrasi: 50,0 mL H3PO4 0,100 M + NaOH 0,100 M, suhu 25 °C


1. Reaksi pada Titik Ekuivalen Pertama (TE1)

Saat H3PO4 dititrasi dengan NaOH, reaksi berlangsung bertahap. TE1 tercapai ketika tepat 1 mol NaOH bereaksi dengan 1 mol H3PO4:

H3PO4 + NaOH  →  NaH2PO4 + H2O

Menghitung mol dan volume NaOH yang dibutuhkan untuk TE1:

$$ \begin{aligned} n_{\text{H}_3\text{PO}_4} &= 0{,}0500 \text{ L} \times 0{,}100 \text{ mol/L} = 5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \\[8pt] n_{\text{NaOH}} &= n_{\text{H}_3\text{PO}_4} = 5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \\[8pt] V_{\text{NaOH}} &= \frac{5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol}}{0{,}100 \text{ mol/L}} = 50{,}0 \text{ mL} \end{aligned} $$

Jadi pada TE1, 50,0 mL NaOH ditambahkan sehingga volume total larutan menjadi 100,0 mL.

Spesi dominan di larutan pada TE1 adalah H2PO4 (dihidrogen fosfat), dengan konsentrasi:

$$ \begin{aligned} [\text{H}_2\text{PO}_4^-] &= \frac{5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol}}{0{,}1000 \text{ L}} = 0{,}0500 \text{ M} \end{aligned} $$

2. Sifat H2PO4 di TE1: Spesi Amfoter

Seperti yang sudah dibahas pada Soal 1, H2PO4 bersifat amfoter -- bisa bertindak sebagai asam maupun basa secara bersamaan dalam larutan:

Sebagai asam:   H2PO4 ⇌ H+ + HPO42−    (Ka2 = 10−7,20)

Sebagai basa:   H2PO4 + H+ ⇌ H3PO4       (Kb = Kw/Ka1 = 10−11,85)

3. Rumus pH Larutan Amfoter

Untuk spesi amfoter yang terbentuk dari ionisasi tahap ke-n asam poliprotik, berlaku rumus aproksimasi:

$$\text{pH} = \frac{\text{p}K_{a_n} + \text{p}K_{a_{n+1}}}{2}$$

Rumus ini valid selama konsentrasi spesi amfoter jauh lebih besar dari Ka-nya (berlaku pada kebanyakan kasus praktis).

H2PO4 terbentuk dari ionisasi tahap ke-1, sehingga nilai yang relevan adalah pKa1 dan pKa2:

$$ \begin{aligned} \text{pH} &= \frac{\text{p}K_{a_1} + \text{p}K_{a_2}}{2} \\[8pt] &= \frac{2{,}15 + 7{,}20}{2} \\[8pt] &= \frac{9{,}35}{2} \\[8pt] &= 4{,}675 \end{aligned} $$
Mengapa rumus ini berlaku?
Pada larutan murni H2PO4, reaksi autoprotolisis mendominasi: $$2\,\text{H}_2\text{PO}_4^- \;\rightleftharpoons\; \text{H}_3\text{PO}_4 + \text{HPO}_4^{2-}$$ Dari kesetimbangan ini bisa diturunkan bahwa $[\text{H}^+] = \sqrt{K_{a_1} \cdot K_{a_2}}$, sehingga: $$\text{pH} = \frac{\text{p}K_{a_1} + \text{p}K_{a_2}}{2}$$ Hasilnya tidak bergantung pada konsentrasi H2PO4 (selama asumsi pengenceran ekstrem tidak terpenuhi), sehingga pengenceran akibat pencampuran larutan tidak mempengaruhi pH.

4. Pemilihan Indikator

pH di TE1 = 4,68. Indikator yang tepat adalah yang rentang perubahan warnanya mencakup atau paling dekat dengan pH 4,68:

PilihanIndikatorRentang KerjaMencakup pH 4,68?
A Metil oranye 3,1 – 4,4 ❌  4,68 > 4,4 (terlalu rendah)
B Bromokresol hijau 3,8 – 5,4 ✅  3,8 ≤ 4,68 ≤ 5,4 (tepat di tengah!)
C Bromotimol biru 6,0 – 7,6 ❌  4,68 < 6,0 (terlalu tinggi)
D Fenolftalein 8,2 – 10,0 ❌  4,68 < 8,2 (jauh terlalu tinggi)
E Timolftalein 9,4 – 10,6 ❌  4,68 < 9,4 (jauh terlalu tinggi)

pH 4,68 jatuh tepat di dalam rentang bromokresol hijau (3,8–5,4).

✅  Indikator yang paling tepat: B. Bromokresol hijau (rentang 3,8–5,4)
    pH TE1 = 4,68 berada di dalam rentang indikator ini.

5. Ringkasan Strategi Soal

LangkahYang DilakukanHasil
1 Tentukan reaksi di TE1 H3PO4 + NaOH → NaH2PO4
2 Identifikasi spesi dominan H2PO4 (amfoter)
3 Gunakan rumus pH amfoter pH = (pKa1 + pKa2) / 2 = 4,68
4 Pilih indikator yang mencakup pH tersebut Bromokresol hijau (3,8–5,4)

Topik D - Soal 5 (4 poin)

Untuk asam fosfat, pKa1 = 2,15; pKa2 = 7,20; pKa3 = 12,35; dan Kw = 1,00 × 10−14.

Sebanyak 50,0 mL larutan asam fosfat 0,100 M dititrasi dengan larutan NaOH 0,100 M pada 25 °C. Setelah penambahan 75,0 mL NaOH 0,100 M, pH larutan adalah .....

  1. 4,68
  2. 6,20
  3. 7,20
  4. 7,78
  5. 9,78

Pembahasan Soal D-5

Data: pKa1 = 2,15;  pKa2 = 7,20;  pKa3 = 12,35;  Kw = 1,00 × 10−14

50,0 mL H3PO4 0,100 M dititrasi dengan NaOH 0,100 M pada 25 °C.


1. Posisi Titrasi: Di Mana Kita Berada?

Pertama, identifikasi titik-titik ekuivalen titrasi H3PO4 dengan NaOH:

Titik EkuivalenReaksiVolume NaOH yang dibutuhkan
TE1 H3PO4 + NaOH → NaH2PO4 50,0 mL
TE2 NaH2PO4 + NaOH → Na2HPO4 100,0 mL (total)
TE3 Na2HPO4 + NaOH → Na3PO4 150,0 mL (total)
Penambahan 75,0 mL NaOH berada tepat di tengah antara TE1 (50 mL) dan TE2 (100 mL).
Ini adalah titik setengah ekuivalen kedua (half-equivalence point ke-2).
0 – 50 mL
▼ kita di sini 75 mL
100 – 150 mL
Awal
(0 mL)
TE1
(50 mL)
75 mL TE2
(100 mL)
TE3
(150 mL)

2. Menghitung Mol Sebelum dan Sesudah Reaksi

Mol masing-masing spesi sebelum reaksi:

$$ \begin{aligned} n_{\text{H}_3\text{PO}_4} &= 0{,}0500 \text{ L} \times 0{,}100 \text{ mol/L} = 5{,}00 \times 10^{-3} \text{ mol} \\[8pt] n_{\text{NaOH}} &= 0{,}0750 \text{ L} \times 0{,}100 \text{ mol/L} = 7{,}50 \times 10^{-3} \text{ mol} \end{aligned} $$

Reaksi berlangsung secara bertahap. NaOH pertama menghabiskan H3PO4 (TE1 = 5,00 × 10−3 mol NaOH), lalu sisa NaOH bereaksi dengan H2PO4:

Tahap 1:   H3PO4 + NaOH → NaH2PO4 + H2O

Tahap 2:   H2PO4 + NaOH → HPO42− + H2O
H3PO4 NaOH H2PO4 HPO42−
Mula-mula (mmol) 5,00 7,50 0 0
Setelah Tahap 1 (mmol) 0 2,50 (sisa) 5,00 0
Setelah Tahap 2 (mmol) 0 0 2,50 2,50
Hasil akhir: larutan mengandung H2PO4 dan HPO42− dalam jumlah yang sama persis (2,50 mmol masing-masing). Ini adalah sistem buffer konjugat.

3. Menghitung pH dengan Persamaan Henderson-Hasselbalch

Larutan mengandung pasangan asam-basa konjugat H2PO4 / HPO42−, yang berkaitan melalui Ka2:

H2PO4  ⇌  H+ + HPO42−     (Ka2, pKa2 = 7,20)

Persamaan Henderson-Hasselbalch:

$$\text{pH} = \text{p}K_{a_2} + \log\frac{[\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]}$$

Karena mol H2PO4 = mol HPO42− = 2,50 mmol, dan keduanya berada dalam volume yang sama:

$$\frac{[\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]} = \frac{n_{\text{HPO}_4^{2-}}}{n_{\text{H}_2\text{PO}_4^-}} = \frac{2{,}50}{2{,}50} = 1$$

Substitusi ke Henderson-Hasselbalch:

$$ \begin{aligned} \text{pH} &= \text{p}K_{a_2} + \log\frac{[\text{HPO}_4^{2-}]}{[\text{H}_2\text{PO}_4^-]} \\[8pt] &= 7{,}20 + \log(1) \\[8pt] &= 7{,}20 + 0 \\[8pt] &= 7{,}20 \end{aligned} $$
✅ Jawaban yang tepat: C
pH larutan setelah penambahan 75,0 mL NaOH = 7,20

4. Mengapa pH = pKa2? Konsep Half-Equivalence Point

Pada titik half-equivalence (setengah titik ekuivalen), tepat separuh spesi asam telah dikonversi menjadi basa konjugatnya. Dalam kasus ini:
  • Separuh H2PO4 (hasil TE1) telah diubah menjadi HPO42−
  • Sehingga [H2PO4] = [HPO42−]
  • Maka log(1) = 0, dan pH = pKa2
Sifat umum: pH di half-equivalence point ke-n selalu sama dengan pKan.

5. Peta Lengkap Titik-Titik Kunci Titrasi Ini

Volume NaOHKondisipH
0 mL H3PO4 murni 0,100 M 1,63 (dari soal 2)
25 mL Half-equivalence ke-1: [H3PO4] = [H2PO4] pKa1 = 2,15
50 mL (TE1) H2PO4 amfoter 0,0500 M (pKa1 + pKa2)/2 = 4,68
75 mL Half-equivalence ke-2: [H2PO4] = [HPO42−] pKa2 = 7,20
100 mL (TE2) HPO42− amfoter 0,0333 M (pKa2 + pKa3)/2 = 9,78
125 mL Half-equivalence ke-3: [HPO42−] = [PO43−] pKa3 = 12,35

Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info