Pembahasan Soal Nomor 9 OSP Kimia 2023 (Kimia Organik)

Rabu, 08 Juli 2026

Berikut pembahasan soal OSP Kimia Tahun 2023 yang terdiri 9 soal. Setiap soal akan diberikan dalam tautan berbeda.

Kimia Organik (22 poin)

Senyawa A adalah senyawa yang banyak terkandung dalam sumber tanaman, di antaranya dari kulit batang kina dan biji kopi. Kandungan senyawa A pada biji kopi menyebabkan rasa asam ketika mengonsumsi kopi. Secara biosintesis, senyawa A disintesis melalui jalur shikimat yang melibatkan senyawa B, sebelum bertransformasi menjadi senyawa A. Kedua senyawa tersebut dapat menjadi bahan baku sintesis senyawa obat, salah satunya adalah Oseltamivir (Tamiflu®). Pertanyaan-pertanyaan berikut berhubungan dengan kedua senyawa tersebut.

  1. Senyawa A memiliki ________ atom C kiral, sehingga maksimum memiliki ________ stereoisomer. Konfigurasi absolut pada C nomor 1 adalah ________.
  2. Pembahasan bagian a.

    Pembacaan struktur dari gambar:

    Struktur A: cincin sikloheksana jenuh, penomoran C1–C6 searah jarum jam:

    • C1: mengikat −OH (digambar sebagai dash/garis putus-putus (menjauhi pembaca/sisi belakang cincin)) dan −COOH, (digambar sebagai wedge tebal (menghadap pembaca/sisi depan cincin))
    • C3: −OH digambar sebagai wedge tebal (sisi depan)
    • C4: −OH digambar sebagai dash (sisi belakang, sama seperti C3)
    • C5: −OH digambar sebagai dash (sisi belakang)
    • C2 dan C6: hanya −CH2− biasa, tanpa wedge/dash (tidak ada substituen selain H)

    Nama senyawa A: Asam (1S,3R,4S,5R)-1,3,4,5-tetrahidroksisikloheksana-1-karboksilat.

    3 4 5 6 1 2 HO HO OH OH O Asam (3R,4S,5R)-3,4,5- trihidrosisikloheks-1-ena-1-karboksilat Senyawa B 5 4 3 2 1 6 HO HO OH OH O OH Asam (1S,3R,4S,5R)-1,3,4,5- tetrahidroksisikloheksana-1-karboksilat Senyawa A

    Struktur B: pola wedge/dash pada C3 (dash), C4 (dash), C5 (wedge) berlawanan arah putar jarum dengan struktur A, tetapi C1=C2 digambar sebagai ikatan rangkap (garis rangkap pada cincin); C1 pada B hanya mengikat −COOH (wedge), tanpa −OH, karena C1 di sini adalah karbon sp² (alkena).

    Nama senyawa B: Asam (3R,4S,5R)-3,4,5-trihidrosisikloheks-1-ena-1-karboksilat.

    Identifikasi atom C kiral pada Senyawa A

    Keempat karbon cincin yang mengikat gugus −OH (C1, C3, C4, C5) masing-masing mengikat 4 gugus berbeda:

    • C1: −OH, −COOH, dan dua "lengan" cincin (C2→C3→C4→C5→C6 vs C6→C5→C4→C3→C2) yang berbeda konfigurasi stereokimianya → stereogenik
    • C3, C4, C5: masing-masing mengikat −OH, −H, dan dua sisi cincin yang berbeda → stereogenik

    C2 dan C6 hanya berupa −CH2− (mengikat 2 atom H yang identik) sehingga bukan pusat kiral.

    Jumlah atom C kiral = 4 (yaitu C1, C3, C4, C5)

    Jumlah maksimum stereoisomer

    Karena C1 mengikat gugus −COOH (sedangkan C4 hanya mengikat −H), tidak ada bidang simetri internal pada molekul yang dapat menyamakan sepasang stereoisomer (tidak ada kemungkinan bentuk meso), sehingga seluruh kombinasi konfigurasi menghasilkan stereoisomer yang berbeda:

    $$ \begin{aligned} \text{Jumlah stereoisomer maksimum} &= 2^n \\[4pt] &= 2^4 \\[4pt] &= 16 \end{aligned} $$
    Jumlah C kiral = 4   |   Stereoisomer maksimum = 16   |   Konfigurasi C1 = S.
  3. Ketika senyawa A direaksikan dengan formaldehid pada pH 5 – 6, maka akan terbentuk gugus asetal siklik yang terbentuk antara formaldehid dengan gugus −OH pada C ...
  4. Pembahasan bagian b.

    Formaldehid dapat membentuk asetal siklik (ketal 1,3-dioksolan, cincin 5) dengan pasangan gugus −OH yang berkedudukan cis dan berdekatan (1,2-diol cis) pada cincin sikloheksana, karena kedua atom O harus berada cukup dekat dan pada orientasi yang sesuai (biasanya cis-diequatorial/cis-diaxial) untuk membentuk jembatan −O−CH2−O−.

    Berdasarkan konfigurasi (3R,4S,5R) pada asam kuinat, gugus −OH pada C3 dan C4 berorientasi cis satu sama lain (posisi berdekatan/1,2-diol cis), sehingga keduanya dapat membentuk asetal siklik 5-anggota (1,3-dioksolan) dengan formaldehid — hal ini sesuai dengan strategi proteksi gugus yang lazim digunakan pada sintesis turunan asam kuinat/sikimat (misalnya sebagai asetonida 3,4-O-isopropiliden pada sintesis Oseltamivir).

    Ilustrasi reaksi:
    C3−OH + C4−OH + HCHO → cincin 1,3-dioksolan (C3−O−CH2−O−C4), melepaskan H2O
    Jawaban: nomor 3 dan 4
  5. Ketika senyawa A direaksikan dengan metil iodida berlebih dalam suasana basa, maka reaksi akan terjadi pada ....
  6. Pembahasan bagian c.

    Reaksi CH3I berlebih dengan basa (analog metilasi ekshaustif/Purdie–Hakomori) mengalkilasi seluruh gugus −OH yang dapat dideprotonasi oleh basa — baik gugus −OH alkohol (pada C1, C3, C4, C5) maupun gugus −OH karboksilat (menjadi ester metil), karena basa dan CH3I berlebih memastikan semua proton asam (termasuk proton alkohol yang kurang asam) berhasil dialkilasi melalui reaksi SN2 (substitusi Williamson):

    $$ \begin{aligned} \text{R}-\text{OH} \xrightarrow{\text{basa}} \text{R}-\text{O}^- \xrightarrow{\text{CH}_3\text{I}} \text{R}-\text{O}-\text{CH}_3 \end{aligned} $$
    Jawaban: semua gugus −OH dalam senyawa A, baik gugus alkohol maupun gugus karboksilat
  7. Ketika gugus karboksilat pada senyawa A sudah diubah menjadi gugus ester, maka gugus ester tersebut dapat ditransformasi lebih lanjut menjadi gugus aldehid menggunakan reagen ...
  8. Pembahasan bagian d.

    Reduksi ester menjadi aldehid memerlukan reduktor yang lebih lemah dan selektif dibandingkan LiAlH4 (yang akan mereduksi hingga alkohol primer). Reagen standar untuk berhenti tepat pada tahap aldehid adalah DIBAL-H [LiAlH(i-Bu)2] pada suhu rendah (−78 °C), diikuti workup asam untuk menghidrolisis kompleks hemiasetal-aluminium menjadi aldehid bebas:

    $$ \begin{aligned} \text{R}-\text{CO}_2\text{CH}_3 \xrightarrow[2.\ \text{H}_3\text{O}^+]{1.\ \text{DIBAL-H}} \text{R}-\text{CHO} \end{aligned} $$

    Reagen lain tidak sesuai: NaBH4 tidak cukup reaktif untuk mereduksi ester; Zn(Hg)/HCl (Clemmensen) untuk reduksi keton menjadi alkana; reagen Jones dan K2CrO4/asam bersifat oksidator, bukan reduktor.

    Jawaban: 1. LiAlH(i-Bu)2 (DIBAL-H) ; 2. H3O+
  9. Senyawa A dapat diperoleh melalui senyawa B melalui tahapan reaksi yang cukup panjang, salah satunya adalah ketika senyawa asetil ester B yang terasilasi pada semua gugus hidroksinya kemudian ditransformasi menjadi senyawa A. Reagen yang tepat untuk transformasi tersebut adalah ...
  10. Pembahasan bagian e.

    Perbedaan struktural utama antara Senyawa B (asam sikimat, ikatan rangkap C1=C2) dan Senyawa A (asam kuinat, C1 mengikat −OH tambahan sedangkan C2 tetap −CH2−) adalah adisi molekul air secara Markovnikov pada ikatan rangkap: gugus −OH baru harus masuk tepat pada C1 (karbon alkena yang lebih tersubstitusi, berikatan dengan gugus karboksilat), sedangkan atom H masuk ke C2.

    $$ \begin{aligned} \text{C1}=\text{C2} \ (\text{cincin sikloheksena}) \ + \ \text{H}_2\text{O} &\xrightarrow{\text{H}^+, \Delta} \ \text{C1(OH)}-\text{C2H}_2 \ (\text{cincin sikloheksana}) \end{aligned} $$

    Reagen yang tepat untuk hidrasi Markovnikov alkena ini adalah larutan H2SO4 encer, dengan pemanasan (adisi air terkatalisis asam pada alkena).

    Reagen lain tidak sesuai: H2/Pt hanya menjenuhkan ikatan rangkap tanpa menambahkan −OH (hasil deoksi, bukan hidroksi); OsO4 akan membentuk diol cis pada KEDUA karbon C1 dan C2 (tidak sesuai, karena C2 pada senyawa A tidak memiliki −OH); ozonolisis dan KMnO4 panas/asam akan memutus cincin secara oksidatif (tidak sesuai karena produk harus tetap berupa cincin utuh); NaBH4 dan Zn(Hg)/HCl tidak relevan karena tidak ada gugus karbonil/keton yang perlu direduksi di sini.

    Jawaban: larutan H2SO4, kalor
  11. Pasangan spektrum 13C-NMR (100 MHz, pelarut DMSO-d6) dan 1H-NMR (400 MHz, pelarut DMSO-d6), yang bersesuaian dengan senyawa A adalah ________
  12. Pembahasan bagian f.

    Analisis spektrum 13C-NMR (1 vs 2)

    Senyawa A (asam kuinat) sepenuhnya jenuh (tidak memiliki ikatan rangkap C=C), sehingga spektrum 13C-nya tidak boleh menunjukkan puncak pada daerah alkena (≈125–145 ppm), selain puncak karbonil (≈175–180 ppm, gugus −COOH) dan puncak-puncak di daerah C−O (≈65–75 ppm, untuk C1, C3, C4, C5) serta C−H2 alifatik (≈35–40 ppm, untuk C2 dan C6).

    • Spektrum 1: menunjukkan puncak tambahan di sekitar ≈140 ppm → mengindikasikan adanya karbon alkena → ini sesuai dengan Senyawa B (asam sikimat, memiliki C1=C2).
    • Spektrum 2: tidak ada puncak di daerah ≈125–145 ppm; hanya terdapat puncak karbonil (≈175 ppm), kluster puncak C−OH (≈65–75 ppm), dan puncak C−H2 (≈35–40 ppm) → sesuai dengan Senyawa A (asam kuinat, jenuh sepenuhnya).

    Analisis spektrum 1H-NMR (a vs b)

    Karena Senyawa A tidak memiliki proton vinilik (=CH−), spektrum 1H-nya seharusnya tidak menunjukkan puncak tajam terisolasi di daerah ≈6–7 ppm (daerah proton alkena terkonjugasi dengan karboksilat).

    • Spektrum b: menunjukkan puncak tajam terisolasi di sekitar ≈6–7 ppm → sesuai dengan proton vinilik pada Senyawa B.
    • Spektrum a: tidak ada puncak di daerah vinilik; puncak-puncak utama berada di daerah alifatik/−CH−OH (≈1–6 ppm) beserta puncak lebar (broad, karena pertukaran proton) untuk gugus −OH/−COOH → sesuai dengan Senyawa A (asam kuinat, tidak ada alkena).
    Jawaban: pasangan 13C-NMR nomor 2 dan 1H-NMR huruf a (yaitu pasangan "2 dan a")

Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info