Pembahasan Soal Topik C (Kimia Organik) - OSN Kimia Tingkat Kab/Kota Tahun 2026

Selasa, 07 Juli 2026

Berikut pembahasan soal-soal OSN Kimia tingkat kabupaten/kota tahun 2026. Pada postingan ini disajikan khusus soal Topik C (Kimia Organik). Soal tentang bahasan ini berjumlah 5 item soal.

Bahasan Soal OSN Kab/Kota 2025 bidang kimia topik lainnya dapat dibaca pada tautan berikut:

Topik C – Kimia Organik (14 poin)

Narasi di bawah ini digunakan untuk menjawab soal 1 sampai dengan soal 5. Di sini dilakukan pewarnaan agar lebih mudah dibaca, karena pada soal asli kalimatnya berangkai tanpa paragraf.

Senyawa A memiliki data sebagai berikut:
analisis unsur C = 63,1%; H = 5,3%;
spektrum massa: m/z 152 (M+);
FTIR: 3200–3500 cm−1, 1715 cm−1;
1H NMR: δ 10,8 (1H, br s), 6,8–7,8 (4H, m), 3,90 (3H, s);
13C NMR: δ 170, 161, 52 ppm.
Senyawa A direaksikan dengan CH3I/K2CO3 dalam aseton menghasilkan senyawa B.

Senyawa B memiliki:
spektrum massa dengan m/z 166;
spektrum FTIR B tidak menunjukkan serapan vibrasi –OH;
serta spektrum 1H NMR B memiliki dua sinyal singlet dengan integrasi total 6H.
Selanjutnya, senyawa B direaksikan dengan LiBH4, dilanjutkan dengan penambahan larutan asam (H3O+), menghasilkan senyawa C.

Senyawa C memiliki data spektroskopi berikut:
spektrum massa dengan m/z 138;
spektrum FTIR: 3350 cm−1, tidak ada serapan vibrasi C=O.
Senyawa C kemudian dioksidasi dengan piridinium klorokromat atau PCC menghasilkan senyawa D.

Data spektroskopi senyawa D:
spektrum massa dengan m/z 136;
spektrum FTIR: 1690 cm−1 serta pita lemah pada 2720–2820 cm−1;
1H NMR δ 10,4 (1H, s).
Akhirnya, senyawa D direaksikan dengan reagen ilida Ph3P=CHCO2Et menghasilkan senyawa E.

Senyawa E memiliki data sebagai berikut:
analisis unsur C = 69,9%; H = 6,8%;
spektrum massa: m/z 206 (M+);
spektrum FTIR: 1710 cm−1 dan 1635 cm−1;
spektrum 1H NMR menunjukkan dua proton pada geseran kimia 6,45 dan 7,65 Hz dengan tetapan kopling J = 16 Hz.

Jawablah soal-soal berikut (soal nomor 1 hingga nomor 5 Topik C ini) berdasarkan informasi transformasi senyawa A hingga menjadi senyawa E sesuai narasi di atas.


Pembahasan soal ini dilakukan secara terintegrasi dan runut dimulai dari identifikasi dan analisis kemudian dilanjutkan menjawab pertanyaan soal nomor 1 hingga 5, dengan merujuk hasil identifikasi dan analisis tersebut.

Identifikasi bertahap berdasarkan data analisis unsur, spektrum massa, FTIR, dan NMR - uraian langkah demi langkah sesuai narasi soal.

Tabel Data Spektroskopi

Senyawa M+
(m/z)
Analisis
Unsur
FTIR
(cm−1)
1H NMR
(δ, ppm)
13C NMR
(δ, ppm)
A 152 C 63,1%;
H 5,3%
3200–3500 (OH lebar);
1715 (C=O)
10,8 (1H, br s);
6,8–7,8 (4H, m);
3,90 (3H, s)
170; 161; 52
B 166 - Tidak ada serapan OH Dua singlet,
total integrasi 6H
-
C 138 - 3350 (OH tajam);
tidak ada C=O
- -
D 136 - 1690 (C=O terkonjugasi)
2720–2820 (C–H aldehida)
10,4 (1H, s) -
E 206 C 69,9%;
H 6,8%
1710 (C=O ester);
1635 (C=C)
6,45 (1H, d, J=16 Hz);
7,65 (1H, d, J=16 Hz)
-
ReaksiPereaksi / KondisiProdukJenis Transformasi
A → B CH3I / K2CO3 / aseton B (m/z 166) Substitusi nukleofilik / metilasi gugus OH
B → C LiBH4, lalu H3O+ C (m/z 138) Reduksi ester → alkohol primer
C → D PCC D (m/z 136) Oksidasi alkohol primer → aldehida
D → E Ph3P=CHCO2Et (ilida Wittig) E (m/z 206) Reaksi Wittig: aldehida → alkena terkonjugasi

Identifikasi Step by Step

A

Senyawa A - Titik awal rangkaian reaksi

A1. Tentukan kadar oksigen dari analisis unsur.
Data yang diberikan hanya kadar C dan H. Karena senyawa hanya mengandung C, H, dan O:
$\begin{aligned} \%~O &= 100\% - \%~C - \%~H\\[8pt] &= 100\% - 63,1\% - 5,3\%\\[8pt] &= 31,6\% \end{aligned}$
A2. Hitung perbandingan mol tiap unsur.
Bagi setiap kadar (%) dengan massa atom relatif (Ar):
$\begin{aligned} n~C &= \dfrac{63,1}{12} = 5,258\\[8pt] n~H &= \dfrac{5,3}{1} = 5,300\\[8pt] n~O &= \dfrac{31,6}{16} = 1,975 \end{aligned}$
A3. Sederhanakan rasio dengan membagi nilai terkecil.
Nilai terkecil adalah 1,975 (milik O). Bagi semua dengan 1,975:
$\begin{aligned} C &= \dfrac{5,258}{1,975} = 2,66\\[8pt] H &= \dfrac{5,300}{1,975} = 2,68\\[8pt] O &= \dfrac{1,975}{1,975} = 1 \end{aligned}$
→ Rasio C : H : O ≈ 2,66 : 2,68 : 1
Karena hasil hitung belum berupa bilangan bulat, kalikan semua dengan 3:
C : 2,66 × 3 ≈ 8 H : 2,68 × 3 ≈ 8 O : 1,00 × 3 = 3 → Formula empiris: C8H8O3
A4. Konfirmasi rumus molekul dengan spektrum massa.
BM = (8 × 12) + (8 × 1) + (3 × 16) = 96 + 8 + 48 = 152 Sama dengan M+ = 152 → rumus molekul = C8H8O3
A5. Hitung Derajat Ketidakjenuhan (DBE).
Rumus untuk CxHyOz (O tidak berkontribusi pada DBE):
$ \begin{aligned}\text{DBE} &= \dfrac{(2 \times \Sigma C) + 2 - \Sigma H}{2}\\ &= \dfrac{(2 \times 8) + 2 - 8}{2}\\ &= \dfrac{16 + 2 - 8}{2}\\ &= \dfrac{10}{2}\\ &= \mathbf{5}\end{aligned}$
DBE = 5 = 4 (cincin benzena: 3 ikatan C=C + 1 cincin) + 1 (gugus C=O) ✓
A6. Interpretasi FTIR.
3200–3500 cm−1 (lebar) → regangan O–H asam karboksilat
Acuan:
OH asam ~2500–3300 cm−1,
sangat lebar akibat ikatan H dimer

1715 cm−1 → regangan C=O
Acuan:
C=O asam ~1700–1725 cm−1;
C=O ester ~1735–1750 cm−1

Posisi 1715 konsisten dengan asam karboksilat aromatik, bukan ester.
A7. Interpretasi 1H NMR.
δ 10,8 (1H, br s) → proton –COOH
Acuan:
COOH δ 10–12 ppm, hilang dengan D2O

δ 6,8–7,8 (4H, m) → 4H aromatik, pola disubstitusi (orto atau para, keduanya memberikan 4H)
Acuan:
ArH δ 6,5–8,5 ppm

δ 3,90 (1H, s) → gugus –OCH3, singlet karena tidak ada H tetangga
Acuan:
ArOCH3 δ 3,7–3,9 ppm
A8. Interpretasi 13C NMR.
δ 170 ppm → karbon karbonil C=O
Acuan:
C=O asam/ester ~165–180 ppm

δ 161 ppm → C aromatik terikat ke O (–Car–OCH3)
Acuan:
C aromatik teroksigenasi ~155–165 ppm

δ 52 ppm → karbon –OCH3
Acuan:
ArOCH3 ~52–56 ppm
A9. Rakit struktur dari semua data.
Formula C8H8O3, DBE = 5 → benzena + 1 gugus C=O FTIR: OH lebar + C=O 1715 → gugus –COOH (2 atom O) NMR: singlet 3H δ 3,90 → –OCH3 (1 atom O) Total O: 2 (dari COOH) + 1 (dari OCH3) = 3 atom O ✓ Struktur: CH3O–C6H4–COOH (posisi orto) Verifikasi: C1+6+1H3+4+1O1+2 = C8H8O3 ✓, BM = 152 ✓
Senyawa A = Asam 2-metoksibenzoat
Struktur: CH3O–C6H4–COOH (orto)
Rumus: C8H8O3
BM = 152 ✓
CH3I / K2CO3 / aseton - substitusi nukleofilik / O-metilasi: gugus –COOH → –COOCH3
B

Senyawa B - Produk metilasi senyawa A

B1. Analisis perubahan massa dari A ke B.
M+ A = 152     M+ B = 166 Selisih = 166 − 152 = +14 Reaksi: –OH + CH3I → –OCH3 + HI Perubahan massa: hilang 1H (−1), masuk CH3 (+15) → net = +14 ✓
B2. Mengapa –COOH yang termetilasi, bukan –OCH3?
Gugus –OCH3 pada senyawa A sudah merupakan eter, bukan –OH bebas, sehingga tidak bereaksi lagi dengan CH3I. K2CO3 (basa) mengambil proton dari –COOH membentuk –COO (nukleofil), lalu ion ini menyerang CH3I (elektrofil) secara SN2 menghasilkan –COOCH3.
B3. Konfirmasi dari FTIR: hilangnya serapan OH.
Senyawa A: OH lebar di 3200–3500 cm−1 (dari –COOH) Senyawa B: serapan OH hilang → –COOH sudah berubah menjadi –COOCH3
B4. Konfirmasi dari 1H NMR: dua singlet total 6H.
Singlet pertama (3H): –OCH3 aromatik (tetap dari A, δ ~3,85) Singlet kedua (3H): –COOCH3 baru (δ ~3,90) Keduanya tidak bertetangga dengan H lain → tidak ada kopling → muncul sebagai singlet ✓
B5. Hitung DBE dan verifikasi formula B.
Formula B = C9H10O3:
$ \begin{aligned}\text{DBE} &= \dfrac{(2 \times \Sigma C) + 2 - \Sigma H}{2}\\ &= \dfrac{(2 \times 9) + 2 - 10}{2}\\ &= \dfrac{18 + 2 - 10}{2}\\ &= \dfrac{10}{2}\\ &= \mathbf{5}\end{aligned}$ 5 = 4 (benzena) + 1 (C=O ester) ✓ BM = (9×12) + (10×1) + (3×16) = 108 + 10 + 48 = 166
Senyawa B = Metil 2-metoksibenzoat
Struktur: CH3O–C6H4–COOCH3 (orto)
Rumus: C9H10O3
BM = 166 ✓
LiBH4, kemudian H3O+ - reduksi ester menjadi alkohol primer
C

Senyawa C - Produk reduksi senyawa B

C1. Memahami cara kerja LiBH4.
LiBH4 adalah reduktor kuat yang mereduksi ester (–COOR) menjadi alkohol primer (–CH2OH). Prosesnya: ester → aldehida (antara) → alkohol primer. Penambahan H3O+ di akhir mengurai kompleks bor dan membebaskan produk alkohol.
C2. Analisis perubahan massa dari B ke C.
M+ B = 166     M+ C = 138 Selisih = 138 − 166 = −28 Gugus –COOCH3 (BM = 59) berubah menjadi –CH2OH (BM = 31) Selisih gugus: 31 − 59 = −28 ✓ Penjelasan: gugus –OCH3 dari ester lepas sebagai CH3OH, posisi C=O mendapat 2H dari LiBH4.
C3. Interpretasi FTIR senyawa C.
3350 cm−1 (tajam) → regangan O–H alkohol
Acuan:
OH alkohol ~3200–3550 cm−1, lebih tajam dari OH asam

Tidak ada serapan C=O → ester telah tereduksi sempurna menjadi –CH2OH ✓ Catatan: OH alkohol (tajam) berbeda dari OH asam A (lebar), karena ikatan H alkohol lebih lemah.
C4. Hitung DBE dan verifikasi formula C.
Formula C = C8H10O2:
$ \begin{aligned}\text{DBE} &= \dfrac{(2 \times \Sigma C) + 2 - \Sigma H}{2}\\ &= \dfrac{(2 \times 8) + 2 - 10}{2}\\ &= \dfrac{16 + 2 - 10}{2}\\ &= \dfrac{8}{2}\\ &= \mathbf{4}\end{aligned}$
DBE = 4 → hanya cincin benzena, tidak ada C=O lagi ✓ BM = (8×12) + (10×1) + (2×16) = 96 + 10 + 32 = 138
Senyawa C = (2-Metoksifenil)metanol
Struktur: CH3O–C6H4–CH2OH (orto)
Rumus: C8H10O2
BM = 138 ✓
PCC (piridinium klorokromat) - oksidasi selektif alkohol primer menjadi aldehida
D

Senyawa D - Produk oksidasi senyawa C dengan PCC

D1. Mengapa menggunakan PCC, bukan KMnO4 atau K2Cr2O7?
PCC adalah oksidator ringan yang selektif: mengoksidasi alkohol primer (–CH2OH) hanya sampai aldehida (–CHO), dan berhenti. Oksidator kuat seperti KMnO4 akan melanjutkan oksidasi hingga asam karboksilat (–COOH). PCC juga tidak memengaruhi gugus –OCH3 aromatik.
D2. Analisis perubahan massa dari C ke D.
M+ C = 138     M+ D = 136 Selisih = 136 − 138 = −2 Oksidasi alkohol primer melepaskan 2 atom H (dehidrogenasi): –CH2OH → –CHO    (hilang 2H = massa −2) ✓
D3. Interpretasi FTIR: pita C=O di 1690 cm−1.
1690 cm−1 → C=O aldehida aromatik
Acuan:
CHO alifatik ~1720; CHO aromatik/terkonjugasi ~1680–1700 cm−1

Posisi lebih rendah dari CHO alifatik karena konjugasi dengan cincin benzena memanjangkan sistem π dan melemahkan ikatan C=O.
D4. Interpretasi FTIR: pita lemah di 2720–2820 cm−1 (pita Fermi aldehida).
2720–2820 cm−1 → regangan C–H aldehida
Acuan:
dua pita khas CHO ~2700–2850 cm−1

Muncul sebagai dua pita akibat resonansi Fermi antara regangan C–H (fundamental) dengan harmonik tekukan C–H aldehida. Pasangan pita ini adalah sidik jari diagnostik aldehida yang sangat khas - tidak ada gugus lain yang memberikan pita di daerah ini.
D5. Interpretasi 1H NMR: δ 10,4 (1H, s).
δ 10,4 ppm → proton aldehida (–CHO)
Acuan:
proton CHO δ 9,4–10,5 ppm

Sangat downfield karena efek deshielding kuat dari gugus C=O. Muncul sebagai singlet (s) karena proton CHO tidak memiliki proton tetangga untuk berkopling.
D6. Hitung DBE dan verifikasi formula D.
Formula D = C8H8O2:
$ \begin{aligned}\text{DBE} &= \dfrac{(2 \times \Sigma C) + 2 - \Sigma H}{2}\\ &= \dfrac{(2 \times 8) + 2 - 8}{2}\\ &= \dfrac{16 + 2 - 8}{2}\\ &= \dfrac{10}{2}\\ &= \mathbf{5}\end{aligned}$ 5 = 4 (benzena) + 1 (C=O aldehida) ✓ BM = (8×12) + (8×1) + (2×16) = 96 + 8 + 32 = 136
Senyawa D = 2-Metoksibenzaldehida
Struktur: CH3O–C6H4–CHO (orto)
Rumus: C8H8O2
BM = 136 ✓
Ph2P=CHCO2Et (ilida Wittig terstabilkan) - reaksi Wittig: aldehida + ilida → alkena + Ph2P=O
E

Senyawa E - Produk reaksi Wittig dari senyawa D

E1. Tentukan kadar oksigen dari analisis unsur.
$\begin{aligned} \%~O &= 100\% - \%~C - \%~H\\[8pt] &= 100\% - 69,9\% - 6,8\%\\[8pt] &= 23,3\% \end{aligned}$
E2. Hitung perbandingan mol tiap unsur.
$\begin{aligned} n~C &= \dfrac{69,9}{12} = 5,258\\[8pt] n~H &= \dfrac{6,8}{1} = 6,800\\[8pt] n~O &= \dfrac{23,3}{16} = 1,456 \end{aligned}$
E3. Sederhanakan rasio dengan membagi nilai terkecil.
Nilai terkecil adalah 1,456 (milik O):
$\begin{aligned} C &= \dfrac{5,258}{1,456} = 4,00\\[8pt] H &= \dfrac{6,800}{1,456} = 4,67\\[8pt] O &= \dfrac{1,456}{1,456} = 1 \end{aligned}$
→ Rasio C : H : O ≈ 4 : 4,67 : 1
H belum bulat, kalikan semua dengan 3:
C : 4,00 × 3 = 12 H : 4,67 × 3 ≈ 14 O : 1,00 × 3 = 3 → Formula empiris: C12H14O3
E4. Konfirmasi rumus molekul dengan spektrum massa.
BM = (12×12) + (14×1) + (3×16) = 144 + 14 + 48 = 206 Sama dengan M+ = 206 → rumus molekul = C12H14O3
E5. Hitung DBE senyawa E.
$ \begin{aligned}\text{DBE} &= \dfrac{(2 \times \Sigma C) + 2 - \Sigma H}{2}\\ &= \dfrac{(2 \times 12) + 2 - 14}{2}\\ &= \dfrac{24 + 2 - 14}{2}\\ &= \dfrac{12}{2}\\ &= \mathbf{6}\end{aligned}$ 6 = 4 (benzena) + 1 (C=C alkena) + 1 (C=O ester) ✓
E6. Rekonstruksi struktur dari mekanisme reaksi Wittig.
Reaksi Wittig: atom C dari –CHO (aldehida D) + atom C dari ilida membentuk ikatan C=C baru, Ph3P=O dibuang sebagai produk sampingan.
D: CH3O–C6H4CHO  +  Ph3P=CH–CO2C2H5 → CH3O–C6H4–CH=CH–CO2C2H5  +  Ph3P=O Verifikasi: D (C8H8O2) + gugus =CHCO2Et (C4H6O2, BM=70) − O (dari CHO) = C12H14O3
E7. Interpretasi FTIR senyawa E.
1710 cm−1 → C=O ester terkonjugasi
Acuan:
ester jenuh ~1735–1750; ester α,β-tak jenuh ~1705–1720 cm−1

Sedikit lebih rendah dari ester biasa karena C=O berkonjugasi dengan C=C di sebelahnya. 1635 cm−1 → regangan C=C alkena terkonjugasi
Acuan:
C=C terisolasi ~1620–1680 cm−1

Pita ini lebih lemah dibanding C=O karena perubahan momen dipol C=C lebih kecil.
E8. Interpretasi 1H NMR: menentukan geometri ikatan C=C dari nilai J.
δ 6,45 ppm (1H, d, J=16 Hz) → proton Ha pada Cα (lebih dekat ke cincin) δ 7,65 ppm (1H, d, J=16 Hz) → proton Hb pada Cβ (lebih dekat ke ester) Keduanya doublet (d) karena hanya berkopling satu sama lain melalui ikatan C=C. Penentuan geometri dari nilai J: J trans (H berseberangan, konfigurasi E) = 12–18 Hz J cis (H bersebelahan, konfigurasi Z) = 6–12 Hz J = 16 Hz > 12 Hz → posisi trans → konfigurasi (E)
E9. Mengapa reaksi Wittig ini menghasilkan isomer (E)?
Ilida Ph3P=CHCO2Et adalah ilida terstabilkan oleh gugus ester yang menarik elektron. Ilida terstabilkan bereaksi melalui keadaan transisi yang meminimalkan tolakan sterik, sehingga menghasilkan produk alkena trans (E) sebagai produk utama. Hal ini dikonfirmasi oleh J = 16 Hz.
Senyawa E = Etil (E)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat
Struktur: CH3O–C6H4–CH=CH–COOC2H5 (orto, trans/E)
Rumus: C12H14O3
BM = 206 ✓

Rangkuman Identifikasi

A C8H8O3, m/z 152 Asam 2-metoksibenzoat
B C9H10O3, m/z 166 Metil 2-metoksibenzoat
C C8H10O2, m/z 138 (2-Metoksifenil)metanol
D C8H8O2, m/z 136 2-Metoksibenzaldehida
E C12H14O3, m/z 206 Etil (E)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat


SOAL NOMOR 1 HINGGA NOMOR 5

Soal 1 (2 poin)

Senyawa A memiliki derajat ketidakjenuhan (DBE, double bond equivalent) sebesar .....

  1. 2
  2. 3
  3. 4
  4. 5
  5. 6

Jawaban yang tepat D: DBE = 5

Rujukan bahasan/analisis/perhitungannya ada di bagian A5.


Soal 2 (1 poin)

Transformasi senyawa A menjadi senyawa B terutama menunjukkan terjadinya reaksi ….

  1. adisi elektrofilik
  2. substitusi nukleofilik
  3. reduksi
  4. oksidasi
  5. substitusi elektrofilik aromatik

Jawaban yang tepat B: substitusi nukleofilik.

Rujukan bahasan/analisis ada di bagian B2.


Soal 3 (4 poin)

Senyawa C adalah….

  1. (2-Metoksifenil)metanol
  2. 2-Metoksibezaldehida
  3. Metil 2-Metoksibenzoat
  4. (2-Hidroksi fenil)metanol
  5. Asam 2-metoksibenzoat

Jawaban yang tepat A: (2-Metoksifenil)metanol, posisi orto (nomor 2).

1 1 2 3 4 5 6 O CH 3 OH (2-metoksifenil)metanol

Rujukan bahasan/analisis ada di bagian C (dari C1 hingga C4).


Soal 4 (2 poin)

Data spektrum FTIR senyawa D yang menunjukkan pita serapan pada 2720–2820 cm−1 mengindikasikan adanya gugus fungsi ....

  1. Alkohol primer
  2. Ester aromatik
  3. Aldehida aromatik
  4. Asam karboksilat
  5. Amina primer

Jawaban yang tepat C: Aldehida aromatik dengan nama: 2-metoksibenzaldehid.

1 2 3 4 5 6 O O CH 3 2-metoksibenzaldehid

Rujukan bahasan/analisis ada di bagian D (dari D1 hingga D6)


Topik C - Soal 5 (5 poin)

Nama IUPAC senyawa E yang paling tepat adalah ….

  1. Etil (Z)-3-(2-hidroksifenil)prop-2-enoat
  2. Etil (Z)-3-fenilprop-2-enoat
  3. Metil (E)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat
  4. Etil (Z)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat
  5. Etil (E)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat

Jawaban yang tepat E: Etil (E)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat.

1 2 3 O O 1 2 3 4 5 6 O CH 3 1 2 etil (E)-3-(2-metoksifenil)prop-2-enoat

Rujukan bahasan/analisis ada di bagian E (dari E1 hingga E9).

Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info