Kimia unsur mempelajari sifat, kelimpahan, dan pemanfaatan unsur-unsur dalam kehidupan. Pembahasan ini mencakup pola sifat periodik, metode ekstraksi dari mineral, serta manfaat dan dampaknya bagi manusia dan lingkungan. Dalam konteks Indonesia yang kaya sumber daya alam, pemahaman kimia unsur menjadi kunci untuk pemanfaatan berkelanjutan, menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan pelestarian lingkungan.

1. Klasifikasi Unsur dalam Sistem Periodik
1.A. Golongan Utama (Representatif)
Unsur-unsur golongan utama terletak pada golongan IA hingga VIIIA. Elektron valensi unsur-unsur ini berada pada kulit terluar subkulit s dan p.
-
Golongan IA (Alkali)
- Contoh: Li, Na, K, Rb, Cs, Fr
- Konfigurasi elektron: ns1
- Sifat fisik: Lunak (dapat dipotong pisau), titik leleh rendah, konduktor listrik baik, warna perak mengkilap
- Sifat kimia: Sangat reaktif, reduktor kuat, mudah teroksidasi, bereaksi keras dengan air
- Reaksi dengan air: 2Na + 2H2O → 2NaOH + H2 (eksotermik)
- Reaksi dengan halogen: 2Na + Cl2 → 2NaCl (pembentukan garam)
- Senyawa penting: NaCl (garam dapur), NaOH (soda api), Na2CO3 (soda ash), KNO3 (saltpeter)
- Kegunaan: Natrium untuk lampu jalan, kalium untuk pupuk, litium untuk baterai
- Kereaktifan meningkat: Li < Na < K < Rb < Cs
-
Golongan IIA (Alkali Tanah)
- Contoh: Be, Mg, Ca, Sr, Ba, Ra
- Konfigurasi elektron: ns2
- Sifat fisik: Lebih keras dari alkali, titik leleh lebih tinggi, warna putih keperakan
- Sifat kimia: Kurang reaktif dibanding alkali, reduktor cukup kuat, bereaksi lambat dengan air (kecuali Be dan Mg)
- Reaksi dengan air: Ca + 2H2O → Ca(OH)2 + H2 (lambat), Mg bereaksi dengan air panas
- Reaksi dengan oksigen: 2Mg + O2 → 2MgO (nyala putih terang)
- Senyawa penting: CaCO3 (kalsit/batu kapur), Mg(OH)2 (antacid/milk of magnesia), Ca(OH)2 (kapur sirih), CaSO4 (gipsum)
- Kegunaan: Mg untuk paduan logam (magnesium alloy), Ca untuk tulang dan gigi, Ba untuk kontras sinar-X
- Kereaktifan meningkat: Be < Mg < Ca < Sr < Ba
-
Golongan IIIA (Boron/Aluminium)
- Contoh: B, Al, Ga, In, Tl
- Konfigurasi elektron: ns2 np1
- Sifat fisik: Variatif: B nonlogam, Al logam, titik leleh tinggi untuk B (2.076°C), rendah untuk Ga (30°C)
- Sifat kimia: Bersifat amfoter (khususnya Al), Al reduktor kuat, boron bersifat nonlogam
- Reaksi aluminium dengan asam: 2Al + 6HCl → 2AlCl3 + 3H2
- Reaksi aluminium dengan basa: 2Al + 2NaOH + 6H2O → 2Na[Al(OH)4] + 3H2
- Senyawa penting: Al2O3 (alumina), AlCl3 (katalis Friedel-Crafts), B2O3 (asam borat), Na2B4O7 (boraks)
- Kegunaan: Al untuk kemasan dan pesawat, B untuk kaca borosilikat (pyrex), Ga untuk semikonduktor
- Sifat khusus: Al membentuk lapisan oksida pelindung (Al2O3), Ga cair pada suhu kamar
-
Golongan IVA (Karbon/Silikon)
- Contoh: C, Si, Ge, Sn, Pb
- Konfigurasi elektron: ns2 np2
- Sifat fisik: C (nonlogam), Si dan Ge (metaloid), Sn dan Pb (logam), variasi alotropi (C: grafit, intan, fullerene)
- Sifat kimia: Dapat membentuk 4 ikatan kovalen, bilangan oksidasi +4 dan +2 (khusus Sn dan Pb), C dan Si membentuk rantai panjang (catenation)
- Reaksi karbon dengan oksigen: C + O2 → CO2 (pembakaran sempurna), 2C + O2 → 2CO (tidak sempurna)
- Reaksi silikon dengan basa: Si + 2NaOH + H2O → Na2SiO3 + 2H2
- Senyawa penting: CO2, CO, CH4 (metana), SiO2 (silika), Na2SiO3 (water glass), SnO2, PbO
- Kegunaan: C untuk bahan bakar dan baja, Si untuk semikonduktor dan kaca, Sn untuk pelapis kaleng, Pb untuk baterai
- Sifat khusus: Kestabilan bilangan oksidasi +2 meningkat ke bawah (efek pasangan inert), Pb2+ lebih stabil daripada Pb4+
-
Golongan VA (Nitrogen/Fosfor)
- Contoh: N, P, As, Sb, Bi
- Konfigurasi elektron: ns2 np3
- Sifat fisik: N dan P nonlogam, As dan Sb metaloid, Bi logam, alotropi fosfor (putih, merah, hitam)
- Sifat kimia: Dapat membentuk 3 ikatan kovalen (pasangan elektron bebas), bilangan oksidasi -3 sampai +5, N membentuk ikatan rangkap tiga N≡N
- Reaksi nitrogen dengan hidrogen: N2 + 3H2 ⇌ 2NH3 (proses Haber-Bosch)
- Reaksi fosfor dengan oksigen: P4 + 5O2 → P4O10 (pembakaran fosfor putih)
- Senyawa penting: NH3 (amonia), HNO3 (asam nitrat), H3PO4 (asam fosfat), Na3PO4 (detergen), (NH4)2HPO4 (pupuk)
- Kegunaan: N untuk pupuk dan bahan peledak, P untuk pupuk dan detergen, As untuk semikonduktor
- Sifat khusus: Fosfor putih piroforik (terbakar spontan di udara), nitrogen sangat stabil (ikatan rangkap tiga kuat)
-
Golongan VIA (Oksigen/Belerang)
- Contoh: O, S, Se, Te, Po
- Konfigurasi elektron: ns2 np4
- Sifat fisik: O dan S nonlogam, Se dan Te metaloid, Po logam radioaktif, alotropi belerang (rombik, monoklin)
- Sifat kimia: Dapat membentuk 2 ikatan kovalen, bilangan oksidasi -2, +2, +4, +6, oksidator kuat (khususnya O), kecenderungan membentuk ion O2-
- Reaksi belerang dengan oksigen: S + O2 → SO2 (pembakaran belerang)
- Reaksi belerang dengan logam: Fe + S → FeS (pembentukan sulfida)
- Senyawa penting: H2O, H2O2 (hidrogen peroksida), SO2, SO3, H2SO4 (asam sulfat), Na2SO4 (garam Glauber)
- Kegunaan: O untuk respirasi dan industri, S untuk asam sulfat dan vulkanisasi karet, Se untuk fotosel dan xerografi
- Sifat khusus: Oksigen paramagnetik (molekul O2 memiliki elektron tidak berpasangan), belerang membentuk rantai S8
-
Golongan VIIA (Halogen)
- Contoh: F, Cl, Br, I, At
- Konfigurasi elektron: ns2 np5
- Sifat fisik: F2 dan Cl2 gas, Br2 cair, I2 padat, warna bertambah gelap ke bawah
- Sifat kimia: Oksidator kuat, mudah membentuk ion negatif X-, kereaktifan menurun: F > Cl > Br > I, afinitas elektron tinggi
- Reaksi dengan logam: 2Na + Cl2 → 2NaCl (pembentukan garam halida)
- Reaksi dengan hidrogen: H2 + Cl2 → 2HCl (pembentukan asam halida)
- Senyawa penting: NaCl, HCl, NaF (pencegah gigi berlubang), AgBr (film fotografi), CHCl3 (kloroform), CCl4
- Kegunaan: Cl untuk desinfektan air, F untuk pasta gigi, I untuk antiseptik, Br untuk obat penenang
- Sifat khusus: Fluorin paling elektronegatif (3,98), hanya fluorin yang dapat mengoksidasi air: 2F2 + 2H2O → 4HF + O2
-
Golongan VIIIA (Gas Mulia)
- Contoh: He, Ne, Ar, Kr, Xe, Rn
- Konfigurasi elektron: ns2 np6 (oktet) kecuali He: 1s2 (duplet)
- Sifat fisik: Gas monoatomik, titik didih sangat rendah, inert secara kimia, tidak berwarna dan tidak berbau
- Sifat kimia: Sangat stabil, energi ionisasi sangat tinggi, afinitas elektron ≈ 0, sukar membentuk senyawa (kecuali Xe dan Kr dengan F dan O)
- Senyawa penting: XeF2, XeF4, XeF6, XeO3, XeO4 (hanya xenon yang membentuk senyawa stabil)
- Kegunaan: He untuk balon dan pendingin, Ne untuk lampu neon, Ar untuk pengelasan dan bola lampu, Kr untuk lampu kilat fotografi
- Sifat khusus: Helium memiliki titik didih terendah (4,2 K), xenon dapat membentuk senyawa dengan fluorin dan oksigen
- Pengecualian: Xe dan Kr dapat bereaksi dengan F2 membentuk fluorida: Xe + F2 → XeF2 (dengan katalis dan kondisi khusus)
Contoh Soal 1.A.1 - Golongan IIIA
Aluminium disebut logam amfoter. Jelaskan apa yang dimaksud dengan sifat amfoter aluminium dan tuliskan dua reaksi yang menunjukkan sifat tersebut (masing-masing satu dengan asam dan satu dengan basa).
Pembahasan:
Sifat amfoter adalah kemampuan suatu zat untuk bereaksi baik dengan asam maupun basa. Aluminium menunjukkan sifat ini karena Al2O3 dan Al(OH)3 dapat larut dalam kedua medium.
Reaksi dengan asam (HCl):
2Al + 6HCl → 2AlCl3 + 3H2
Reaksi dengan basa (NaOH):
2Al + 2NaOH + 6H2O → 2Na[Al(OH)4] + 3H2
Atau: Al(OH)3 + NaOH → Na[Al(OH)4]
Produk dengan basa adalah natrium tetrahidroksoaluminat (III).
Contoh Soal 1.A.2 - Golongan IVA
Timah (Sn) dan timbal (Pb) menunjukkan efek pasangan inert. Jelaskan apa yang dimaksud dengan efek pasangan inert dan bagaimana pengaruhnya terhadap kestabilan bilangan oksidasi +2 dan +4 pada Sn dan Pb.
Pembahasan:
Efek pasangan inertadalah kecenderungan elektron s pada kulit terluar untuk tidak berpartisipasi dalam ikatan karena distabilkan oleh muatan inti yang tinggi.
Pada golongan IVA:
- Konfigurasi elektron valensi: ns2 np2
- Tanpa efek pasangan inert: Keempat elektron berpartisipasi → bilangan oksidasi +4 stabil
- Dengan efek pasangan inert: Elektron s (ns2) tidak ikut berikatan → hanya 2 elektron p yang berikatan → bilangan oksidasi +2 stabil
Pengaruh pada Sn dan Pb:
- Sn4+ lebih stabil daripada Sn2+ (efek pasangan inert lemah)
- Pb2+ lebih stabil daripada Pb4+ (efek pasangan inert kuat)
- Pb4+ bersifat oksidator kuat (mudah tereduksi menjadi Pb2+)
Contoh Soal 1.A.3 - Golongan VA
Nitrogen (N2) sangat stabil dan sulit bereaksi dibandingkan dengan unsur golongan VA lainnya. Jelaskan mengapa nitrogen sangat stabil secara kimia dan mengapa fosfor putih (P4) justru sangat reaktif.
Pembahasan:
Stabilitas nitrogen:
- Molekul N2 memiliki ikatan rangkap tiga N≡N yang sangat kuat
- Energi ikatan N≡N sangat tinggi (941 kJ/mol)
- Orbital yang terisi penuh dan simetris
- Tidak memiliki orbital d kosong untuk ekspansi oktet
- Membutuhkan katalis atau kondisi khusus (suhu dan tekanan tinggi) untuk bereaksi
Reaktivitas fosfor putih (P4):
- Struktur tetrahedral dengan ikatan P-P yang tertekan (sudut ikatan 60° vs normal 109,5°)
- Energi ikatan P-P lebih rendah (200 kJ/mol)
- Tegangan sudut (angle strain) membuat molekul tidak stabil
- Piroforik: terbakar spontan di udara pada suhu kamar
- Harus disimpan dalam air untuk mencegah oksidasi
Contoh Soal 1.A.4 - Golongan VIA
Oksigen dan belerang sama-sama anggota golongan VIA, tetapi memiliki sifat yang berbeda. Bandingkan sifat kimia oksigen dan belerang dalam hal: (a) bilangan oksidasi yang umum, (b) jenis ikatan yang dibentuk, (c) kemampuan membentuk rantai (catenation).
Pembahasan:
Perbandingan Oksigen (O) dan Belerang (S):
| Sifat | Oksigen (O) | Belerang (S) |
|---|---|---|
| Bilangan oksidasi umum | -2 (paling stabil) -1 (dalam peroksida) 0 (O2) |
-2, +2, +4, +6 +4 dan +6 stabil |
| Jenis ikatan | Ikatan rangkap dua O = O Ikatan ionik sebagai O2- Ikatan hidrogen (dengan H) |
Ikatan tunggal S-S Ikatan kovalen koordinat Dapat ekspansi oktet |
| Catenation (rantai) | Sangat terbatas Hanya pada peroksida (-O-O-) Ikatan O-O lemah (146 kJ/mol) |
Sangat baik Membentuk rantai S8, Sn2- Ikatan S-S cukup kuat (226 kJ/mol) |
Contoh Soal 1.A.5 - Semua Golongan
Unsur-unsur golongan utama memiliki tren sifat yang teratur dalam tabel periodik. Jelaskan bagaimana sifat-sifat berikut berubah dari kiri ke kanan dalam satu periode dan dari atas ke bawah dalam satu golongan: (a) jari-jari atom, (b) energi ionisasi pertama, (c) karakter logam, (d) keelektronegatifan.
Pembahasan:
| Sifat | Dalam satu periode (kiri → kanan) | Dalam satu golongan (atas → bawah) |
|---|---|---|
| Jari-jari atom | Berkurang Muatan inti efektif bertambah Elektron valensi lebih tertarik ke inti |
Bertambah Kulit elektron bertambah Jarak elektron valensi ke inti bertambah |
| Energi ionisasi pertama | Bertambah Sulit melepaskan elektron Jari-jari kecil, muatan inti besar |
Berkurang Mudah melepaskan elektron Jari-jari besar, elektron jauh dari inti |
| Karakter logam | Berkurang Dari logam → metaloid → nonlogam Keelektronegatifan bertambah |
Bertambah Nonlogam atas → logam bawah Energi ionisasi berkurang |
| Keelektronegatifan | Bertambah Kecenderungan menarik elektron bertambah Kekurangan elektron menuju oktet |
Berkurang Kecenderungan menarik elektron berkurang Jari-jari besar, elektron kurang tertarik |
1.B. Unsur Transisi Periode 4
Unsur transisi periode 4 mencakup 10 unsur dari Skandium (Sc) hingga Seng (Zn). Unsur-unsur ini memiliki elektron yang mengisi subkulit d (3d). Periode 4 sering disebut sebagai deret transisi pertama dan merupakan yang paling dipelajari di SMA.
1.B.1 Karakteristik Umum Unsur Transisi Periode 4
- Konfigurasi elektron: [Ar] 4s1-2 3d1-10
- Sifat logam: Semua berwujud padat pada suhu kamar (kecuali Hg pada periode lain), keras, titik leleh dan titik didih tinggi
- Bilangan oksidasi: Memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi (kecuali Sc dan Zn)
- Warna senyawa: Senyawanya umumnya berwarna karena transisi elektron d-d
- Sifat magnetik: Umumnya paramagnetik (tertarik magnet) karena memiliki elektron tidak berpasangan
- Sifat katalitik: Banyak digunakan sebagai katalis dalam industri
- Kemampuan membentuk ion kompleks: Dapat membentuk senyawa koordinasi dengan ligan
Tabel Lengkap Unsur Transisi Periode 4
| Unsur | Simbol | Nomor Atom | Konfigurasi Elektron | Bilangan Oksidasi Umum | Warna Ion Khas | Kegunaan Utama |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Skandium | Sc | 21 | [Ar] 4s2 3d1 | +3 | Tidak berwarna (Sc3+) | Paduan aluminium, lampu hemat energi |
| Titanium | Ti | 22 | [Ar] 4s2 3d2 | +3, +4 | Ungu (Ti3+), tidak berwarna (Ti4+) | Pesawat terbang, implan medis, cat putih (TiO2) |
| Vanadium | V | 23 | [Ar] 4s2 3d3 | +2, +3, +4, +5 | Ungu (V2+), hijau (V3+), biru (VO2+), kuning (VO2+) | Baja vanadium, katalis (V2O5), keramik |
| Kromium | Cr | 24 | [Ar] 4s1 3d5 | +2, +3, +6 | Biru (Cr2+), hijau/violet (Cr3+), jingga (Cr2O72-) | Pelapis krom, stainless steel, pigmen kuning (PbCrO4) |
| Mangan | Mn | 25 | [Ar] 4s2 3d5 | +2, +3, +4, +6, +7 | Merah muda (Mn2+), ungu (MnO4-), hijau (MnO42-) | Baja, baterai alkaline, KMnO4 (desinfektan) |
| Besi | Fe | 26 | [Ar] 4s2 3d6 | +2, +3 | Hijau pucat (Fe2+), kuning/coklat (Fe3+) | Baja, konstruksi, hemoglobin, katalis Haber |
| Kobalt | Co | 27 | [Ar] 4s2 3d7 | +2, +3 | Merah muda (Co2+), biru (CoCl42-) | Magnet kuat, pigmen biru, vitamin B12 |
| Nikel | Ni | 28 | [Ar] 4s2 3d8 | +2, +3 | Hijau (Ni2+) | Stainless steel, baterai nikel-kadmium, koin |
| Tembaga | Cu | 29 | [Ar] 4s1 3d10 | +1, +2 | Tidak berwarna (Cu+), biru (Cu2+) | Kabel listrik, perunggu/kuningan, uang logam |
| Seng | Zn | 30 | [Ar] 4s2 3d10 | +2 | Tidak berwarna (Zn2+) | Galvanisasi besi, baterai, suplemen, krim antiseptik |
1.B.2 Sifat Khusus dan Penting Unsur Transisi Periode 4
-
Anomali Konfigurasi Elektron
Beberapa unsur transisi memiliki konfigurasi elektron yang menyimpang dari aturan Aufbau:
- Kromium (Cr): [Ar] 4s1 3d5 (bukan [Ar] 4s2 3d4)
- Tembaga (Cu): [Ar] 4s1 3d10 (bukan [Ar] 4s2 3d9)
Penyebab: Stabilitas setengah penuh (d5) dan penuh (d10) pada subkulit d.
-
Warna pada Senyawa Transisi
Senyawa unsur transisi berwarna karena transisi elektron d-d:
- Elektron dapat berpindah antara orbital d yang terpecah dalam medan ligan
- Energi transisi sesuai dengan energi cahaya tampak (400-700 nm)
- Warna yang terlihat adalah warna komplementer dari cahaya yang diserap
- Pengecualian: Sc3+, Ti4+, Zn2+ tidak berwarna karena orbital d kosong atau penuh
-
Variasi Bilangan Oksidasi
Unsur transisi menunjukkan berbagai bilangan oksidasi karena:
- Energi ionisasi bertingkat untuk elektron 4s dan 3d relatif berdekatan
- Stabilitas bilangan oksidasi tertentu karena faktor:
- Stabilitas setengah penuh (d5) dan penuh (d10)
- Kesesuaian dengan muatan ligan dalam kompleks
- Entalpi kisi dan entalpi hidrasi
- Contoh: Mangan memiliki bilangan oksidasi dari +2 sampai +7
1.B.3 Reaksi-Reaksi Penting Unsur Transisi Periode 4
- Reaksi Besi dengan Asam:
Dengan asam non-pengoksidasi: Fe + 2HCl → FeCl2 + H2
Dengan asam pengoksidasi (HNO3pekat): Fe + 6HNO3 → Fe(NO3)3 + 3NO2 + 3H2O
- Reaksi Tembaga dengan Asam Nitrat:
Dengan HNO3pekat: Cu + 4HNO3 → Cu(NO3)2 + 2NO2 + 2H2O
Dengan HNO3encer: 3Cu + 8HNO3 → 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O
- Reaksi Mangan dalam Berbagai Bilangan Oksidasi:
Reduksi KMnO4 dalam suasana asam: MnO4- + 8H+ + 5e- → Mn2+ + 4H2O
Dalam suasana basa: MnO4- + 2H2O + 3e- → MnO2 + 4OH-
- Pembentukan Ion Kompleks:
Fe3+ dengan SCN-: Fe3+ + SCN- → [Fe(SCN)]2+ (merah darah)
Cu2+ dengan NH3: Cu2+ + 4NH3 → [Cu(NH3)4]2+ (biru tua)
1.B.4 Aplikasi dan Kegunaan dalam Kehidupan
💊 Kesehatan dan Medis
- Besi (Fe): Hemoglobin dalam sel darah merah
- Kobalt (Co): Vitamin B12 (kobalamin)
- Seng (Zn): Enzim pencernaan, penyembuhan luka
- Titanium (Ti): Implan tulang dan gigi
🏭 Industri dan Teknologi
- Baja: Fe dengan C, Cr, Ni, Mn, V
- Katalis: V2O5 (proses kontak), Fe (proses Haber)
- Elektronik: Cu untuk kabel, Ni untuk baterai
- Magnet: Co, Fe, Ni untuk magnet kuat
🎨 Pigmen dan Warna
- Putih: TiO2 (titanium dioksida)
- Biru: CoAl2O4 (kobalt blue)
- Hijau: Cr2O3 (kromium oksida)
- Kuning: PbCrO4 (krom kuning)
🔧 Lain-lain
- Konstruksi: Aluminium untuk rangka bangunan
- Transportasi: Magnesium untuk paduan ringan
- Pertanian: CuSO₄ sebagai fungisida
- Energi: Uranium untuk pembangkit nuklir
Contoh Soal 1.B.1 - Konfigurasi Elektron dan Anomali
Mengapa kromium (Cr, Z = 24) memiliki konfigurasi elektron [Ar] 4s1 3d5 dan bukan [Ar] 4s2 3d4 seperti yang diharapkan dari aturan Aufbau? Jelaskan konsep stabilitas yang terkait dengan hal ini dan berikan satu contoh unsur lain yang menunjukkan anomali serupa.
Pembahasan:
Penyebab anomali konfigurasi elektron kromium:
- Menurut aturan Hund, konfigurasi elektron yang memiliki orbital setengah penuh lebih stabil
- [Ar] 4s1 3d5 memiliki orbital 3d setengah penuh (5 elektron di 5 orbital)
- Stabilitas tambahan dari konfigurasi setengah penuh mengimbangi energi yang diperlukan untuk mempromosikan satu elektron dari 4s ke 3d
- Perbedaan energi antara 4s dan 3d kecil, sehingga pertukaran stabilisasi terjadi
Contoh unsur lain:
Tembaga (Cu, Z = 29) dengan konfigurasi [Ar] 4s1 3d10
- Bukan [Ar] 4s2 3d9 seperti yang diharapkan
- Konfigurasi 3d10 (penuh) lebih stabil
- Satu elektron dari 4s dipromosikan ke 3d untuk mencapai konfigurasi penuh
Kesimpulan:
Stabilitas konfigurasi setengah penuh (d5) dan penuh (d10)
mengatasi aturan Aufbau untuk beberapa unsur transisi.
Contoh Soal 1.B.2 - Warna Senyawa Transisi
Larutan CuSO4 berwarna biru, larutan KMnO4 berwarna ungu, dan larutan K2Cr2O7 berwarna jingga. Namun, larutan ZnSO4 tidak berwarna (bening). Jelaskan:
- Mengapa senyawa unsur transisi umumnya berwarna?
- Mengapa senyawa seng (Zn) tidak berwarna meskipun termasuk unsur transisi?
- Bagaimana hubungan antara warna yang terlihat dengan panjang gelombang cahaya yang diserap?
Pembahasan:
- Penyebab warna pada senyawa unsur transisi:
- Adanya elektron d yang tidak penuh (d1 sampai d9)
- Dalam medan ligan, orbital d terpecah menjadi dua tingkat energi (Δ)
- Elektron dapat berpindah dari orbital d tingkat rendah ke tinggi dengan menyerap energi cahaya
- Energi yang diserap sesuai dengan energi cahaya tampak (ΔE = hν)
- Cahaya yang tidak diserap dipantulkan/ditransmisikan, menghasilkan warna komplementer
- Seng (Zn) tidak berwarna karena:
- Konfigurasi elektron Zn2+: [Ar] 3d10
- Subkulit d penuh, tidak ada elektron yang dapat melakukan transisi d-d
- Tidak ada orbital d yang terisi sebagian untuk menyerap cahaya tampal
- Transisi elektron yang mungkin memerlukan energi tinggi (UV), bukan cahaya tampak
- Hubungan warna terlihat dan cahaya diserap:
Senyawa Warna Terlihat Cahaya yang Diserap Panjang Gelombang (nm) CuSO4 Biru Merah, kuning 600-700, 570-590 KMnO4 Ungu Hijau-kuning 500-570 K2Cr2O7 Jingga Biru 450-500 Warna komplementer: warna yang berseberangan dalam lingkaran warna.
Contoh Soal 1.B.3 - Bilangan Oksidasi dan Stabilitas
Mangan (Mn) menunjukkan bilangan oksidasi dari +2 sampai +7. Jawablah pertanyaan berikut:
- Mengapa unsur transisi dapat memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi?
- Manakah bilangan oksidasi mangan yang paling stabil? Jelaskan alasannya.
- Tuliskan rumus kimia untuk senyawa mangan dengan bilangan oksidasi: +2, +4, +6, dan +7.
- Mengapa MnO4- (bilangan oksidasi +7) bersifat oksidator kuat?
Pembahasan:
- Penyebab multiple bilangan oksidasi:
- Energi ionisasi elektron 4s dan 3d relatif berdekatan
- Elektron dapat dilepaskan secara bertahap dari kedua subkulit tersebut
- Stabilisasi oleh faktor kristal field, hidrasi, dan entalpi kisi
- Bilangan oksidasi paling stabil:
- Mn2+ (+2) paling stabil dalam larutan air
- Alasan: Konfigurasi [Ar] 3d5 (setengah penuh) sangat stabil
- Mn2+ memiliki stabilitas tambahan dari energi hidrasi yang tinggi
- MnO2 (+4) stabil sebagai padatan
- Rumus kimia:
- +2: MnCl2, MnSO4, MnO
- +4: MnO2 (pirolusit)
- +6: K2 mnO4 (manganat), MnO42- (hijau)
- +7: KMnO4 (permanganat), Mn2O7, MnO4- (ungu)
- MnO4- sebagai oksidator kuat:
- Bilangan oksidasi +7 adalah yang tertinggi untuk Mn
- Cenderung direduksi menjadi bilangan oksidasi lebih rendah yang stabil
- Potensial reduksi tinggi: E° = +1,51 V (dalam asam)
- Dapat mengoksidasi banyak zat: Fe2+, C2O42-, H2O2, dll.
- Produk reduksi tergantung pH:
- Asam: Mn2+ (tak berwarna/merah muda)
- Netral/basa: MnO2 (coklat)
- Basa kuat: MnO42- (hijau)
Contoh Soal 1.B.4 - Aplikasi dalam Kehidupan
Besi adalah unsur transisi yang sangat penting dalam kehidupan. Jelaskan:
- Peran besi dalam hemoglobin dan mengapa kekurangan besi menyebabkan anemia?
- Proses korosi besi dan reaksi elektrokimianya.
- Perbedaan antara besi tuang, baja karbon, dan baja tahan karat (stainless steel).
- Mengapa besi(III) oksida (Fe2O3) digunakan sebagai pigmen cat dan besi(II) sulfat (FeSO4) sebagai koagulan dalam pengolahan air?
Pembahasan:
- Besi dalam hemoglobin:
- Ion Fe2+ terikat pada porfirin membentuk heme
- 4 gugus heme + globin = hemoglobin
- Fe2+ mengikat O2 secara reversibel di paru-paru
- Kekurangan Fe → produksi hemoglobin berkurang → anemia
- Gejala: lemas, pucat, sesak napas karena kurang oksigen
- Korosi besi (perkaratan):
- Reaksi elektrokimia dengan O2 dan H2O
- Anoda (oksidasi): Fe → Fe2+ + 2e-
- Katoda (reduksi): O2 + 2H2O + 4e- → 4OH-
- Fe2+ + 2OH- → Fe(OH)2 → Fe2O3·xH2O (karat)
- Faktor: kelembaban, elektrolit, kontak dengan logam lain
- Perbedaan jenis besi/baja:
Jenis Komposisi Sifat Kegunaan Besi tuang Fe + 2-4% C + Si Keras, rapuh, titik leleh rendah Velg, mesin, perapian Baja karbon Fe + 0,1-1,5% C Kuat, liat, dapat ditempa Konstruksi, mobil, rel Baja tahan karat Fe + Cr (10-20%) + Ni Tahan korosi, mengkilap Peralatan dapur, implan - Kegunaan senyawa besi:
- Fe2O3 sebagai pigmen: Warna merah/coklat stabil, murah, tahan cuaca, tidak beracun
- FeSO4 sebagai koagulan: Fe2+ teroksidasi menjadi Fe3+ → Fe(OH)3 koloidal mengikat kotoran → mengendap
Contoh Soal 1.B.5 - Ion Kompleks dan Katalis
Unsur transisi sering membentuk ion kompleks dan berperan sebagai katalis. Jelaskan:
- Apa yang dimaksud dengan ion kompleks? Sebutkan komponen-komponennya.
- Mengapa [Cu(NH3)4]2+ berwarna biru lebih tua daripada Cu2+ dalam air?
- Bagaimana mekanisme katalisis homogen oleh ion transisi? Berikan contoh proses Haber dengan katalis besi.
- Mengapa V2O5 digunakan sebagai katalis dalam proses kontak pembuatan H2SO4?
Pembahasan:
- Ion kompleks dan komponen:
- Ion kompleks: Ion yang terdiri dari ion pusat logam terikat pada ligan
- Komponen:
- Ion pusat: Logam transisi (Fe3+, Cu2+, Co2+, dll.)
- Ligan: Molekul/ion yang mendonorkan pasangan elektron (H2O, NH3, Cl-, CN-)
- Bilangan koordinasi: Jumlah ligan yang terikat (4 atau 6 umum)
- Muatan kompleks: Jumlah muatan ion pusat + ligan
- Perubahan warna [Cu(NH3)4]2+:
- Cu2+ dalam air: [Cu(H2O)6]2+ berwarna biru muda
- Dengan NH3: terbentuk [Cu(NH3)4 (H2O)2]2+ biru tua
- Penyebab: NH3adalah ligan kuat bidang (strong field ligand)
- Pembelahan orbital d (Δ) lebih besar dengan NH3 daripada H2O
- Energi transisi d-d berbeda → panjang gelombang cahaya yang diserap berbeda
- Warna biru lebih tua karena penyerapan bergeser ke merah (energi lebih rendah)
- Mekanisme katalisis dan proses Haber:
- Mekanisme katalisis homogen:
- Pembentukan kompleks antara katalis dan reaktan
- Modifikasi jalur reaksi dengan energi aktivasi lebih rendah
- Pelepasan produk dan regenerasi katalis
- Proses Haber (N2 + 3H2 → 2NH3):
- Adsorpsi N2 dan H2pada permukaan katalis Fe
- Pelemasan ikatan N≡N oleh kompleks dengan Fe
- Penambahan atom H bertahap membentuk NH3
- Desorpsi NH3 dari permukaan katalis
- Katalis: Fe dengan promotor K2O, Al2O3
- Suhu: 400-500°C, Tekanan: 200 atm
- Mekanisme katalisis homogen:
- V2O5 dalam proses kontak:
- Reaksi: 2SO2 + O2 ⇌ 2SO3 (ΔH = -197 kJ/mol)
- Mekanisme katalisis V2O5:
- SO2 + V2O5 → SO3 + V2O4
- 2V2O4 + O2 → 2V2O5
- Keunggulan V2O5:
- Aktif pada suhu sedang (400-450°C)
- Tahan terhadap racun katalis (impurities)
- Murah dibanding katalis platinum
- Selektivitas tinggi untuk SO3
2. Sifat Periodik Unsur
Sifat periodik adalah sifat unsur yang berubah secara teratur seiring pertambahan nomor atom dalam satu periode atau golongan.
1. Jari-jari Atom
- Dalam satu golongan (dari atas ke bawah): Jari-jari atom bertambah karena bertambahnya kulit elektron
- Dalam satu periode (dari kiri ke kanan): Jari-jari atom berkurang karena muatan inti efektif bertambah
2. Energi Ionisasi
- Energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron terluar dari atom netral
- Dalam satu golongan: Energi ionisasi berkurang dari atas ke bawah
- Dalam satu periode: Energi ionisasi bertambah dari kiri ke kanan
3. Keelektronegatifan
- Kecenderungan atom untuk menarik pasangan elektron dalam ikatan kovalen
- Skala Pauling: F = 3,98 (paling elektronegatif), Cs = 0,7 (paling rendah)
- Dalam satu periode: Keelektronegatifan bertambah dari kiri ke kanan
- Dalam satu golongan: Keelektronegatifan berkurang dari atas ke bawah
Contoh Soal 2.1
Urutkan unsur-unsur berikut berdasarkan kenaikan jari-jari atom: Mg, Ca, Be, Sr. Jelaskan alasan pengurutan tersebut.
Pembahasan:
Urutan jari-jari atom: Be < Mg < Ca < Sr
Alasan:
- Semua unsur berada dalam golongan IIA (alkali tanah)
- Dalam satu golongan, jari-jari atom bertambah dari atas ke bawah karena:
- Bertambahnya nomor atom = bertambahnya muatan inti
- Bertambahnya jumlah kulit elektron (Be: 2 kulit, Mg: 3 kulit, Ca: 4 kulit, Sr: 5 kulit)
- Efek penambahan kulit lebih dominan daripada peningkatan muatan inti
Contoh Soal 2.2
Mengapa energi ionisasi pertama unsur gas mulia sangat tinggi dibandingkan unsur golongan lain dalam periode yang sama? Jelaskan.
Pembahasan:
Energi ionisasi gas mulia sangat tinggi karena:
- Konfigurasi elektron yang stabil (oktet/duplet)
- Kulit elektron terluar sudah penuh, sangat sukar melepaskan elektron
- Memenuhi kaidah kestabilan oktet (kecuali He yang duplet)
- Afinitas elektron rendah, tidak mudah menerima elektron
- Contoh: Neon (Ne) memiliki EI₁ = 2081 kJ/mol, sedangkan natrium (Na) hanya 496 kJ/mol
3. Kelimpahan dan Ekstraksi Unsur di Alam
3.A. Kelimpahan Unsur di Alam dan Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan mineral yang melimpah. Letak geologis Indonesia pada pertemuan tiga lempeng tektonik (Eurasia, Indo-Australia, Pasifik) membuatnya kaya akan berbagai jenis mineral dan unsur.
3.A.1. Kelimpahan Unsur di Kerak Bumi dan Indonesia
| Unsur | % di Kerak Bumi | Bentuk/Mineral Utama | Lokasi di Indonesia |
|---|---|---|---|
| Oksigen (O) | 46,6% | Silikat, oksida, air, udara | Seluruh wilayah (atmosfer, air, mineral) |
| Silikon (Si) | 27,7% | Pasir silika (SiO2), kuarsa | Bangka Belitung, Kalimantan, Jawa Barat |
| Aluminium (Al) | 8,1% | Bauksit (Al2O3.nH2O) | Bintan (Kepri), Kalimantan Barat |
| Besi (Fe) | 5,0% | Hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3O4) | Lampung, Sulawesi, Kalimantan |
| Kalsium (Ca) | 3,6% | Batu kapur (CaCO3), gipsum (CaSO4) | Pegunungan kapur Jawa, Sumatra, Sulawesi |
| Natrium (Na) | 2,8% | Garam batu (NaCl), sendawa (NaNO3) | Madura, Nusa Tenggara, pantai Indonesia |
| Kalium (K) | 2,6% | Sylvite (KCl), carnallite (KMgCl3) | Jawa, Sumatra (terikat dalam tanah) |
| Magnesium (Mg) | 2,1% | Magnesit (MgCO3), dolomit (CaMg(CO3)2) | Pulau Gowa (Sulsel), Jawa Timur |
3.A.2. Kelimpahan Unsur Transisi Periode 4 di Indonesia
| Unsur Transisi | Mineral Utama | Cadangan Indonesia | Lokasi Penambangan | Status Global |
|---|---|---|---|---|
| Nikel (Ni) | Garnierit, pentlandit | Terbesar di dunia (21%) | Sulawesi, Maluku, Papua | Produsen terbesar |
| Tembaga (Cu) | Kalkopirit (CuFeS2) | 3% dunia | Papua (Grasberg), Jawa Barat | Produsen signifikan |
| Timah (Sn) | Kassiterit (SnO2) | 17% dunia | Bangka Belitung, Kundur | Produsen terbesar ke-2 |
| Emas (Au) | Elektron, kalkopirit | 5% dunia | Papua, Jawa Barat, Nusa Tenggara | Produsen utama |
| Bauksit (Al) | Gibsit, boehmite | 4% dunia | Bintan, Kalimantan Barat | Produsen signifikan |
| Besi (Fe) | Hematit, magnetit | Sedang | Lampung, Kalimantan | Importir netto |
3.B. Metode Ekstraksi Unsur Berdasarkan Kereaktifan
Deret Kereaktifan Logam dan Metode Ekstraksi
Logam Sangat Reaktif:
- K, Na, Ca, Mg, Al
- Metode: Elektrolisis lelehan
- Contoh: Al dari bauksit
Logam Reaktif Sedang:
- Zn, Fe, Sn, Pb
- Metode: Reduksi dengan C/CO
- Contoh: Fe dari hematit
Logam Kurang Reaktif:
- Cu, Hg, Ag
- Metode: Pemanggangan/reduksi
- Contoh: Cu dari kalkopirit
Logam Sangat Tidak Reaktif:
- Au, Pt
- Metode: Pemisahan fisik
- Contoh: Au dari batuan
3.C. Ekstraksi Unsur-Unsur Penting di Indonesia
3.C.1. Ekstraksi Aluminium dari Bauksit (Al2O3):
Indonesia memiliki cadangan bauksit terbesar ke-6 dunia dengan produksi utama di Bintan, Kepulauan Riau.
Proses Bayer + Hall-Héroult:
- Pemurnian bauksit (Proses Bayer):
- Bauksit + NaOH pekat → NaAlO2 + pengotor
- Pengendapan Al(OH)3 dengan pengenceran dan penambahan seed crystal
- Pemanasan Al(OH)3 → Al2O3 murni
- Elektrolisis (Proses Hall-Héroult):
- Al2O3 dilarutkan dalam kriolit cair (Na3AlF6)
- Elektrolisis pada 950-1000°C dengan anoda karbon
- Reaksi: 2Al2O3 → 4Al + 3O2
- O2 bereaksi dengan anoda karbon: C + O2 → CO2
Isu Lingkungan: Lumpur merah (red mud) dari proses Bayer mengandung NaOH dan logam berat yang berbahaya.
3.C.2. Ekstraksi Nikel di Indonesia:
Indonesia produsen nikel terbesar dunia dengan cadangan 21% global. Kebijakan hilirisasi mendorong pengolahan nikel di dalam negeri.
Dua Jenis Bijih Nikel:
- Nikel sulfida: Pentlandit ((Ni,Fe)9 S8) - lebih mudah diekstraksi
- Nikel laterit: Garnierit ((Ni,Mg)3 Si2O5 (OH)4) - dominan di Indonesia
Proses Pirometalurgi untuk Nikel Laterit:
- Pengeringan: Mengurangi kadar air bijih
- Reduksi: Dalam tanur putar (rotary kiln) dengan batubara
- Peletisasi: Pembentukan pelet nikel
- Peleburan: Dalam tanur listrik → ferronikel
Proses Hidrometalurgi (HPAL):
- Leaching dengan asam sulfat bertekanan tinggi
- Pemisahan dengan solvent extraction
- Elektrowinning → nikel murni
- Digunakan untuk baterai EV
Isu: Konflik lahan dengan masyarakat, limbah tailing, deforestasi.
3.C.3. Ekstraksi Tembaga di Papua:
Tambang Grasberg, Papua, merupakan tambang tembaga terbesar kedua dunia dan tambang emas terbesar.
Proses untuk Kalkopirit (CuFeS2):
- Penghancuran dan penggilingan: Bijih menjadi bubuk halus
- Flotasi: Pemisahan mineral dengan gelembung udara
- Pemanggangan: 2CuFeS2 + O2 → Cu2 S + 2FeS + SO2
- Konversi:
- 2Cu2 S + 3O2 → 2Cu2O + 2SO2
- Cu2 S + 2Cu2O → 6Cu + SO2
- Pemurnian elektrolitik: Anoda tembaga tidak murni, katoda tembaga murni
Isu: Limbah tailing ke sungai Aikwa, konflik dengan masyarakat adat, kesenjangan ekonomi.
3.D. Industri Bahan Bangunan: Konteks Indonesia
Indonesia mengalami booming konstruksi yang membutuhkan bahan bangunan dalam jumlah besar. Berikut analisis unsur-unsur kimia dalam bahan bangunan:
🏗️ Semen (Ca, Si, Al, Fe)
Komposisi kimia:
- Batu kapur (CaCO3): 60-67%
- Tanah liat (Al2O3.2SiO2.2H2O): 17-25%
- Pasir besi (Fe2O3): 3-8%
- Gipsum (CaSO4.2H2O): 3-5%
Reaksi pengerasan:
2(3CaO.SiO2) + 6H2O → 3CaO.2SiO2.3H2O + 3Ca(OH)2
Isu: Penambangan kapur merusak ekosistem karst, emisi CO2 tinggi.
🧱 Batu Bata dan Keramik (Si, Al, O)
Komposisi: Tanah liat (Al-silikat) dengan penambahan pasir
Proses:
- Pencampuran tanah liat + pasir + air
- Pencetakan dan pengeringan
- Pembakaran (900-1.200°C)
- Reaksi dehidrasi dan sinterisasi
Isu: Pembakaran menggunakan kayu → deforestasi, emisi partikulat.
🏔️ Batu Belah dan Split (CaCO3, SiO2)
Jenis batuan:
- Batuan kapur: CaCO3 (kalsit)
- Batuan andesit: (Na,Ca)-silikat
- Batuan basalt: Mg,Fe-silikat
Kegunaan:
- Pondasi bangunan
- Bahan perkerasan jalan
- Konstruksi bendungan
Isu: Kerusakan lanskap, debu, kebisingan alat berat.
Kasus Konkret: Karst Gombong vs Industri Semen
Latar Belakang: Kawasan karst Gombong (Jawa Tengah) kaya batu kapur tetapi juga memiliki sistem akuifer penting dan ekosistem unik.
Konflik:
- Pihak pro-tambang: Menyediakan lapangan kerja, pendapatan daerah, bahan baku semen
- Pihak kontra-tambang: Mengancam mata air, merusak ekosistem karst, mengurangi daya dukung lingkungan
Solusi berkelanjutan:
- Zonasi kawasan karst (area yang boleh dan tidak boleh ditambang)
- Rehabilitasi pascatambang
- Pengembangan ekowisata sebagai alternatif ekonomi
- Pemanfaatan limbah industri lain sebagai bahan baku alternatif
3.E. Isu-isu Kontemporer Pertambangan di Indonesia
⚠️ Tambang Ilegal (PETI)
Lokasi: Kalimantan, Sumatra, Sulawesi
Masalah:
- Penggunaan merkuri untuk ekstraksi emas
- Kerusakan lingkungan parah tanpa reklamasi
- Pendapatan tidak masuk kas negara
- Konflik sosial dengan penambang legal
Dampak kimia: Pencemaran Hg di perairan → bioakumulasi dalam ikan → penyakit Minamata.
💰 Hilirisasi Minerba
Kebijakan: Larangan ekspor bijih nikel (2020), bauksit (2023)
Tujuan:
- Nilai tambah dalam negeri
- Penyerapan tenaga kerja
- Penguasaan teknologi
- Industri baterai EV dan stainless steel
Tantangan: Investasi besar, teknologi tinggi, daya saing global.
🌍 Transisi Energi dan Mineral Kritis
Mineral untuk energi terbarukan:
- Nikel: Baterai EV
- Tembaga: Kabel dan motor listrik
- Aluminium: Rangka kendaraan ringan
- Timah: Solder elektronik
Paradoks: Eksploitasi mineral untuk energi bersih tetapi proses penambangan merusak lingkungan.
Solusi: Circular economy, daur ulang baterai, pertambangan berkelanjutan.
Contoh Soal 3.1 - Ekstraksi Aluminium
Indonesia memiliki cadangan bauksit besar di Kepulauan Riau. Jelaskan:
- Mengapa ekstraksi aluminium dari bauksit memerlukan dua tahap proses (Bayer dan Hall-Héroult)?
- Mengapa Al2O3perlu dilarutkan dalam kriolit sebelum dielektrolisis?
- Apa dampak lingkungan dari produksi aluminium dan bagaimana mitigasinya?
- Mengapa Indonesia mengekspor bauksit mentah daripada mengolahnya di dalam negeri? (Analisis kebijakan hilirisasi 2023)
Pembahasan:
- Dua tahap proses diperlukan karena:
- Proses Bayer: Memurnikan bauksit (hanya 40-60% Al2O3) menjadi alumina murni (Al2O399%)
- Proses Hall-Héroult: Mereduksi Al2O3 menjadi Al logam melalui elektrolisis
- Pengotor (Fe2O3, SiO2) dalam bauksit akan mengganggu elektrolisis dan mengurangi kemurnian Al
- Fungsi kriolit (Na3AlF6):
- Menurunkan titik leleh: Titik leleh Al2O3 murni = 2.072°C → dengan kriolit = 950-1.000°C
- Meningkatkan konduktivitas listrikcampuran
- Melarutkan Al2O3dengan baik
- Mengurangi konsumsi energisecara signifikan
- Dampak lingkungan dan mitigasi:
Dampak Penyebab Mitigasi Lumpur merah Limbah proses Bayer (Fe2O3 + NaOH) Netralisasi dengan CO2, daur ulang NaOH, penggunaan untuk bahan bangunan Emisi gas rumah kaca CO2 dari anoda karbon + PFC dari elektrolisis Teknologi anoda inert (tipe Soderberg), energi terbarukan Konsumsi energi tinggi Elektrolisis (13-16 kWh/kg Al) Efisiensi sel, daur ulang Al (hanya 5% energi dari produksi primer) Deforestasi Pembukaan lahan tambang bauksit Rehabilitasi pascatambang, AMDAL ketat - Analisis kebijakan hilirisasi:
- Sebelum 2023: Ekspor bauksit mentah → nilai tambah rendah, Indonesia hanya pengekspor bahan mentah
- Setelah larangan 2023: Dorongan investasi smelter dalam negeri
- Keuntungan: Nilai tambah meningkat 10-15x, penyerapan tenaga kerja, transfer teknologi
- Tantangan: Investasi besar (US Dollar 1-2 miliar/smelter), konsumsi energi tinggi, kompetisi global
- Contoh: PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) + smelter di Kalimantan Barat
Contoh Soal 3.2 - Nikel dan Baterai EV
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar dunia. Nikel kritis untuk baterai kendaraan listrik (EV). Analisis:
- Mengapa nikel penting untuk baterai litium-ion?
- Bandingkan proses pirometalurgi dan hidrometalurgi untuk pengolahan nikel laterit.
- Apa dampak sosial-ekonomi kebijakan hilirisasi nikel bagi Indonesia?
- Bagaimana paradoks "energi bersih vs kerusakan lingkungan" dalam penambangan nikel untuk EV?
Pembahasan:
- Peran nikel dalam baterai Li-ion:
- Katoda NMC: LiNix mnyCozO2 (x + y + Z = 1)
- Fungsi nikel:
- Meningkatkan densitas energi (kapasitas penyimpanan)
- Mengurangi ketergantungan pada kobalt yang mahal dan bermasalah etis
- Stabilitas struktural dan kinerja siklus baterai
- Evolusi: NMC 111 → NMC 622 → NMC 811 (lebih banyak Ni)
- Perbandingan proses pengolahan nikel:
Aspect Pirometalurgi Hidrometalurgi (HPAL) Produk Ferronikel (paduan Fe-Ni) Nikel sulfat (NiSO4) untuk baterai Suhu Tinggi (1400-1600°C) Sedang (250°C) dengan tekanan tinggi Energi Banyak (batubara/listrik) Sedang (asam + pemanas) Limbah Slag (terak) dalam jumlah besar Tailing asam yang harus dinetralkan Investasi US Dollar 1-2 miliar US Dollar 2-3 miliar (lebih mahal) Kelayakan Bijih kadar tinggi ( > 1,8% Ni) Bijih kadar rendah (0,8-1,5% Ni) - Dampak hilirisasi nikel:
- Positif:
- Nilai ekspor meningkat dari US Dollar 3,3 miliar (2019) → US Dollar 30+ miliar (2024)
- Investasi US Dollar 30+ miliar untuk smelter
- Penyerapan tenaga kerja 60.000+ langsung
- Industri hilir: baterai EV, stainless steel
- Contoh: PT Hyundai-LG Indonesia (US Dollar 1,1 miliar) untuk pabrik baterai
- Negatif:
- Deforestasi Sulawesi dan Maluku
- Konflik lahan dengan masyarakat adat
- Pencemaran laut dari tailing
- Ketergantungan pada fluktuasi harga nikel global
- Positif:
- Paradoks energi bersih:
- Dilema: EV mengurangi emisi CO2 dari transportasi tetapi
penambangan nikel menghasilkan:
- Deforestasi (penyerap CO2)
- Emisi dari proses pirometalurgi
- Kerusakan biodiversitas Sulawesi (Wallacea hotspot)
- Solusi berkelanjutan:
- Pertambangan bertanggung jawab (responsible mining)
- Daur ulang baterai (circular economy)
- Teknologi baterai alternatif (Na-ion, solid-state)
- Standar lingkungan ketat (ESG compliance)
- Dilema: EV mengurangi emisi CO2 dari transportasi tetapi
penambangan nikel menghasilkan:
Contoh Soal 3.3 - Industri Semen dan Batu Kapur
Industri semen di Indonesia tumbuh pesat seiring pembangunan infrastruktur. Batu kapur (CaCO3) merupakan bahan baku utama. Analisis:
- Jelaskan reaksi kimia utama dalam produksi semen Portland.
- Mengapa penambangan batu kapur sering menimbulkan konflik dengan masyarakat?
- Hitung jumlah CO2yang dihasilkan dari produksi 1 ton semen (CaCO3 → CaO + CO2).
- Bagaimana solusi berkelanjutan untuk industri semen?
Pembahasan:
- Reaksi kimia produksi semen:
- Kalsinasi (pemanasan):
CaCO3 → CaO + CO2(ΔH = +178 kJ/mol)
Suhu: 900-1000°C dalam rotary kiln
- Pembentukan klinker:
2CaO + SiO2 → 2CaO·SiO2 (C2S)
3CaO + SiO2 → 3CaO·SiO2 (C3S)
3CaO + Al2O3 → 3CaO·Al2O3 (C3Al)
4CaO + Al2O3 + Fe2O3 → 4CaO·Al2O3·Fe2O3 (C4AlF)
- Penggilingan dengan gipsum:
Klinker + 5% gipsum (CaSO4·2H2O) → semen Portland
- Kalsinasi (pemanasan):
- Konflik masyarakat vs penambangan kapur:
- Kawasan karst sebagai akuifer: Sumber mata air bagi pertanian dan air minum
- Ekosistem unik: Gua, stalaktit/stalagmit, spesies endemik
- Dampak fisik: Debu, kebisingan, getaran dari peledakan
- Kerusakan lanskap: Perubahan bentang alam permanen
- Kasus: Rembang (Jawa Tengah), Gombong, Citatah (Jawa Barat)
- Perhitungan CO2 dari 1 ton semen:
- Komposisi klinker: ≈ 65% CaO dari CaCO3
- Massa CaO dalam 1 ton klinker: 650 kg
- Reaksi: CaCO3 (100 g/mol) → CaO (56 g/mol) + CO2 (44 g/mol)
- Perbandingan massa: 100 g CaCO3 → 56 g CaO + 44 g CO2
- Untuk 650 kg CaO:
CaCO3yang diperlukan = (100/56) × 650 kg = 1.160,7 kg
CO2yang dihasilkan = (44/56) × 650 kg = 510,7 kg
- Total CO2 per ton semen:
- Dari kalsinasi: ≈ 510 kg
- Dari pembakaran batubara: ≈ 300 kg
- Dari transportasi: ≈ 50 kg
- Total: ≈ 860 kg CO2/ton semen
- Industri semen global: 8% emisi CO2 dunia
- Solusi berkelanjutan industri semen:
Strategi Teknologi/Implementasi Potensi Pengurangan Bahan baku alternatif Fly ash (limbah PLTU), slag (limbah baja), metakaolin 30-50% pengganti klinker CCS (Carbon Capture Storage) Menangkap CO2 dari cerobong, menyimpan di formasi geologi 90% emisi CO2 Energi terbarukan Biomassa, RDF (Refuse Derived Fuel) dari sampah 40% energi panas Semen rendah karbon Semen geopolimer (alkali-activated materials) 80% lebih rendah CO2 Efisiensi proses Pre-heater, pre-calciner, waste heat recovery 20-30% energi Contoh Indonesia: PT Semen Indonesia menggunakan alternative fuel (biomassa) dan CCS pilot project.
Contoh Soal 3.4 - Emas dan Merkuri
Penambangan emas skala kecil (PESK) di Indonesia sering menggunakan merkuri. Analisis:
- Jelaskan proses amalgamasi emas dengan merkuri dan mengapa berbahaya.
- Hitung rasio Au:Hg dalam amalgam jika 1 gram emas memerlukan 5 gram merkuri.
- Apa dampak merkuri terhadap kesehatan dan lingkungan?
- Bagaimana alternatif teknologi pengolahan emas tanpa merkuri?
Pembahasan:
- Proses amalgamasi dan bahayanya:
- Proses: Campuran bijih emas + merkuri → amalgam Au-Hg → pemanasan → Hg menguap → emas murni
- Reaksi: Au + Hg → AuHg (amalgam)
- Bahaya:
- Uap merkuri beracun: Hg menguap pada 357°C, inhalasi menyebabkan keracunan
- Pencemaran air: Merkuri terbuang ke sungai → metilmerkuri oleh bakteri
- Bioakumulasi: Metilmerkuri terakumulasi dalam rantai makanan (ikan → manusia)
- Efisiensi rendah: Hanya 30-40% emas tertangkap, sisanya terbuang dengan merkuri
- Perhitungan rasio Au:Hg:
- Diketahui: 1 g Au : 5 g Hg
- Massa atom: Au = 197 g/mol, Hg = 200,6 g/mol
- Mol Au = 1/197 = 0,00508 mol
- Mol Hg = 5/200,6 = 0,02493 mol
- Rasio mol Hg:Au = 0,02493/0,00508 = 4,91 ≈ 5:1
- Artinya: Untuk setiap 1 atom Au, digunakan ≈5 atom Hg
- Indonesia: 350 ton emas/tahun → 1750 ton merkuri terbuang (asumsi 5:1)
- Dampak merkuri:
Dampak Kesehatan Dampak Lingkungan Kasus di Indonesia - Kerusakan sistem saraf
- Gangguan perkembangan janin
- Gagal ginjal
- Gangguan motorik (tremor)
- Penyakit Minamata
- Pencemaran sungai dan tanah
- Kematian biota perairan
- Akumulasi dalam rantai makanan
- Kerusakan ekosistem permanen
- Sekotong (NTB): 80% penambang gejala keracunan
- Poboya (Sulteng): kadar Hg di udara 10x batas aman
- Bombana (Sultra): 45% anak stunting terkait Hg
- Konvensi Minamata: Indonesia ratifikasi 2017
- Alternatif tanpa merkuri:
Teknologi Prinsip Kerja Keunggulan Tantangan Sianidasi Au + 2CN- + ½O2 + H2O → [Au(CN)2]- + 2OH- Efisiensi > 90%, dapat skala kecil Sianida beracun, perlu pengelolaan tepat Gravity Concentration Pemisahan berdasarkan densitas (meja goyang, dulang) Aman, murah, tidak butuh bahan kimia Efisiensi rendah (40-60%) Flotasi Pemisahan dengan gelembung udara dan reagent Baik untuk bijih sulfida, efisiensi tinggi Butuh reagent kimia, instalasi kompleks Borax Method Pengganti merkuri dengan boraks sebagai fluks Aman, murah, tersedia lokal Butuh pelatihan, hasil bervariasi Igoli Process Leaching dengan HCl + oxidizing agent Aman, dapat di-skala kecil Butuh pelatihan, bahan kimia khusus Program pemerintah: Lembaga pengolahan emas skala kecil (LPESK), pelatihan, pendampingan.
Contoh Soal 3.5 - Ekonomi Sirkular dan Daur Ulang
Ekonomi sirkular menjadi solusi untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam. Analisis:
- Apa perbedaan ekonomi linear vs sirkular dalam konteks pertambangan?
- Hitung potensi penghematan energi dari daur ulang aluminium vs produksi primer.
- Bagaimana daur ulang baterai EV dapat mengurangi kebutuhan penambangan nikel?
- Apa tantangan penerapan ekonomi sirkular di Indonesia?
Pembahasan:
- Perbedaan ekonomi linear vs sirkular:
Aspect Ekonomi Linear (Take-Make-Waste) Ekonomi Sirkular Model Tambang → Produksi → Konsumsi → Buang Tambang → Produksi → Konsumsi → Daur Ulang → Produksi Sumber daya Ekstraktif, habis pakai Diperpanjang penggunaan, diregenerasi Limbah Buang, tidak bernilai Input untuk proses baru Energi Tinggi (produksi primer) Rendah (daur ulang) Contoh Baterai sekali pakai → TPA Baterai EV → daur ulang → baterai baru - Penghematan energi daur ulang aluminium:
- Produksi primer (dari bauksit): 13-16 kWh/kg Al
- Daur ulang (dari scrap): 0,5-1,5 kWh/kg Al
- Penghematan energi: (13-0,5)/13 × 100% = 96%
- Pengurangan emisi CO2: 95% (dari 8-12 kg CO2/kg Al → 0,4-0,6 kg CO2/kg Al)
- Potensi Indonesia: Konsumsi aluminium ≈ 500.000 ton/tahun
- Jika 50% didaur ulang: 250.000 ton × 12 kWh/kg = 3 juta MWh/tahun
- Setara dengan listrik untuk 1 juta rumah
- Daur ulang baterai EV dan pengurangan penambangan:
- Komposisi baterai NMC: Ni (10-20%), Co (5-10%), Li (1-2%), Mn (5-10%)
- Proses daur ulang:
- Disassembly: Pembongkaran manual/robotik
- Pyrometallurgy: Peleburan → alloy Ni-Co-Cu
- Hydrometallurgy: Leaching dengan asam → pemurnian dengan solvent extraction
- Direct recycling: Regenerasi katoda langsung
- Recovery rate: 95% Ni, 95% Co, 80% Li
- Potensi pengurangan penambangan:
- Global EV stock 2030: 145 juta unit
- Baterai lifetime: 8-10 tahun
- Sumber sekunder (2035): 30-40% kebutuhan nikel untuk baterai
- Indonesia: Potensi 50.000 ton nikel/tahun dari daur ulang (2030)
- Regulasi: Extended Producer Responsibility (EPR) untuk produsen baterai
- Tantangan ekonomi sirkular di Indonesia:
Tantangan Contoh Solusi Teknologi Daur ulang baterai EV butuh teknologi tinggi Transfer teknologi, joint venture, R&D Ekonomi Biaya daur ulang > harga bahan mentah Insentif fiskal, extended producer responsibility Sosial Kebiasaan masyarakat (buang vs daur ulang) Edukasi, bank sampah, insentif Regulasi Belum ada regulasi khusus ekonomi sirkular UU Ekonomi Sirkular (dalam proses), PP Pengelolaan Sampah Infrastruktur Tidak ada fasilitas daur ulang baterai EV skala komersial Investasi smelter daur ulang, industrial estate Data Tidak ada data aliran material yang komprehensif Material flow analysis, database nasional Peluang: Indonesia bisa menjadi hub daur ulang baterai Asia Tenggara dengan keunggulan bahan baku dan lokasi strategis.
4. Manfaat dan Dampak Unsur/Senyawa dalam Kehidupan
4.A. Manfaat Unsur dan Senyawa dalam Berbagai Sektor
Pemanfaatan unsur dan senyawa kimia telah mengubah peradaban manusia. Di Indonesia, berbagai industri bergantung pada pengolahan sumber daya mineral untuk pembangunan nasional.
4.A.1. Sektor Kesehatan dan Farmasi
💊 Unsur Esensial dalam Tubuh
| Besi (Fe) | Hemoglobin, transport O2 | Daging, bayam, kacang |
| Seng (Zn) | Enzim, imunitas, penyembuhan | Daging, biji-bijian |
| Tembaga (Cu) | Enzim pernapasan, kolagen | Kerang, hati, kacang |
| Selenium (Se) | Antioksidan (glutathione) | Kacang Brazil, ikan |
| Kromium (Cr) | Metabolisme glukosa | Brokoli, anggur |
| Yodium (I) | Hormon tiroid | Garam beryodium, ikan |
🏥 Senyawa Farmasi dan Medis
- Karbon Aktif: Penyerap racun (keracunan)
- Mg(OH)2: Antasid (maag)
- AgNO3: Antiseptik (tetes mata bayi)
- BaSO4: Kontras radiologi (foto rontgen)
- Li2CO3: Stabilisator suasana hati (bipolar)
- Pt kompleks: Cisplatin (kemoterapi kanker)
- Radioisotop:
- 99m tc: Pencitraan organ
- 131I: Terapi kanker tiroid
- 60Co: Radioterapi kanker
4.A.2. Sektor Pertanian dan Pangan
🌱 Pupuk Kimia dan Unsur Hara
Makro Nutrien (NPK):
- N (Nitrogen): Urea, ZA, NPK
Reaksi: CO(NH2)2 + H2O → 2NH3 + CO2
- P (Fosfor): SP-36, TSP, DAP
- K (Kalium): KCl, K2 SO4, ZK
Mikro Nutrien:
- Fe: Fe-EDTA, FeSO4
- Zn: ZnSO4 (khusus padi)
- Cu: CuSO4
- Mn: MnSO4
- B: Borax (Na2B4O7)
- Mo: Na2MoO4
Pestisida:
- Organofosfat: Klorpirifos, malation
- Karbamat: Karbofuran, propoxur
- Piretroid: Sipermetrin, deltametrin
- Herbisida: Glifosat, paraquat
- Fungisida: Tembaga oksiklorida
Kasus Indonesia: Subsidi pupuk mencapai Rp 30 triliun/tahun, namun efisiensi hanya 30-40% karena salah aplikasi.
4.A.3. Sektor Industri dan Teknologi
🔋 Baterai dan Penyimpanan Energi
- Baterai Alkaline: Zn/MnO2/KOH
- Baterai litium-ion:
- Anoda: Graphite (C)
- Katoda: LiCoO2, LiFePO4, NMC
- Elektrolit: LiPF6 dalam pelarut organik
- Baterai Timbal-asam: Pb/PbO2/H2SO4
- Baterai Nikel-kadmium: NiO(OH)/Cd/KOH
- Superkapasitor: Karbon aktif, graphene
Indonesia: Target produksi baterai EV 140 GWh/tahun (2027).
💻 Elektronik dan Semikonduktor
- Silikon (Si): Chip, sel surya (PV)
- Gallium Arsenide (GaAs): LED, laser
- Indium Tin Oxide (ITO): Layar sentuh
- Rare Earth Elements:
- Neodymium (Nd): Magnet permanen
- Europium (Eu): Fosfor merah TV
- Terbium (Tb): Fosfor hijau
- Logam mulia: Au, Ag, Pt untuk kontak listrik
🏭 Katalis Industri
| Proses Kontak | V2O5 | SO2 → SO3 |
| Proses Haber | Fe + promotor | N2 + H2 → NH3 |
| Oksidasi Amonia | Pt-Rh gauze | NH3 → NO |
| Catalytic Converter | Pt, Pd, Rh | CO, NOx, HC → CO2, N2, H2O |
| Polimerisasi | Ziegler-Natta | TiCl3 + Al(C2H5)3 |
| Cracking Minyak | Zeolit | Pemecahan hidrokarbon |
4.A.4. Sektor Konstruksi dan Infrastruktur
🏗️ Material Konstruksi Modern
Baja dan Paduan:
- Baja Karbon: Fe + C (0,1-1,5%)
- Baja Tahan Karat: Fe + Cr (10-20%) + Ni
- Baja Perkakas: Fe + W, Mo, V, Co
- Baja Mangan: Fe + Mn (11-14%) untuk rel kereta
Paduan Non-Besi:
- Kuningan: Cu + Zn
- Perunggu: Cu + Sn
- Duralumin: Al + Cu + Mg + Mn
- Magnalium: Al + Mg
Material Komposit:
- Beton Bertulang: Semen + agregat + baja
- FRP: Fiber Reinforced Polymer
- Karbon Fiber: Ringan dan kuat
Proyek Strategis Indonesia: IKN Nusantara, Jakarta-Bandung HSR, smelter nikel, kilang minyak.
4.B. Dampak Negatif dan Isu Lingkungan
4.B.1. Pencemaran Logam Berat
☠️ Logam Berat dan Toksisitas
| Logam Berat | Sumber Pencemar | Efek Kesehatan | Ambang Batas (μg/L) | Kasus di Indonesia |
|---|---|---|---|---|
| Merkuri (Hg) | Tambang emas, PLTU, industri | Kerusakan saraf, ginjal, janin | 1 (air), 0,5 (udara μg/m³) | Sekotong (NTB), Poboya (Sulteng) |
| Timbal (Pb) | Bensin bertimbal, baterai, cat | Anemia, kerusakan otak, ginjal | 10 (air), 0,5 (udara μg/m³) | Jakarta (darah anak > 10 μg/dL) |
| Kadmium (Cd) | Baterai Ni-Cd, pupuk fosfat | Itai-itai, kanker, ginjal | 3 (air), 5 (beras mg/kg) | Cisadane (Banten) > ambang |
| Kromium (Cr6+) | Penyamakan kulit, tekstil | Kanker paru, iritasi kulit | 50 (air), 0,5 (udara μg/m³) | Citarum (Jabar) tercemar Cr |
| Arsen (As) | Pestisida, PLTU, geologi | Kanker kulit, kardiovaskular | 10 (air), 3 (beras mg/kg) | Sumatera (air tanah alami) |
Mekanisme Toksisitas:
- Penggantian logam esensial: Pb menggantikan Ca dalam tulang
- Inhibisi enzim: Hg berikatan dengan -SH grup enzim
- Stress oksidatif: Peningkatan ROS (Reactive Oxygen Species)
- Bioakumulasi: Akumulasi dalam jaringan lemak, konsentrasi meningkat dalam rantai makanan
4.B.2. Pencemaran Udara dan Hujan Asam
Polutan Udara dan Dampaknya
Hujan Asam:
Sumber: SO2 (PLTU, industri), NOx (kendaraan, industri)
Reaksi:
SO2 + H2O → H2SO3 → H2SO4
NOx + H2O → HNO3
pH hujan normal: 5,6 (CO2 dalam air)
pH hujan asam: < 5,0
Dampak: Korosi bangunan, matinya biota perairan, kerusakan hutan
Partikulat (PM2,5, PM10):
Sumber: Pembakaran, industri, konstruksi
Komposisi: Karbon, logam, sulfat, nitrat
Dampak kesehatan: ISPA, jantung, kanker paru
Jakarta 2023: PM2,5 = 37,3 μg/m³ (7x WHO guideline)
Gas Berbahaya:
- CO: Kendaraan, pembakaran tidak sempurna
- O3 permukaan: Fotokimia dari NOx + HC
- VOC: Bensin, pelarut industri
- Dioxin: Pembakaran sampah plastik
4.B.3. Pencemaran Air dan Eutrofikasi
💧 Masalah Kualitas Air
Eutrofikasi:
Penyebab: Kelebihan N dan P dari pupuk, limbah domestik
Proses:
- Blooming alga/fitoplankton
- Kematian alga → dekomposisi bakteri
- Konsumsi O2 tinggi → hipoksia/anoksia
- Kematian ikan dan biota aerob
Kasus: Danau Limboto (Sulut), Rawa Pening (Jateng)
Parameter Kualitas Air:
- BOD/COD: Bahan organik terurai
- TSS: Padatan tersuspensi
- Logam berat: Hg, Pb, Cd, Cr
- Mikroplastik: Partikel plastik < 5mm
- Patogen: E. coli, koliform
Citarum: 75% tercemar berat, 15 juta orang bergantung
4.B.4. Isu Global dan Perubahan Iklim
🌍 Kontributor Perubahan Iklim
| Gas Rumah Kaca | Sumber Antropogenik | GWP (100 tahun) | Masa Hidup (tahun) | Kontributor Utama Indonesia |
|---|---|---|---|---|
| CO2 | Pembakaran fosil, deforestasi | 1 | 100-1000 | Kebakaran hutan, PLTU batubara |
| CH4 | Pertanian (sawah), ternak, landfill | 28-36 | 12 | Sawah (2,4 juta ha), TPA |
| N2O | Pupuk nitrogen, industri | 265-298 | 114 | Pupuk urea (6,7 juta ton/tahun) |
| SF6 | Industri elektronik, transformator | 23.500 | 3.200 | Industri kelistrikan |
| PFC, HFC | Pendingin, semikonduktor | 1.000-14.800 | 270-50.000 | AC, refrigerasi |
Emisi Indonesia 2022: 1,2 Gt CO2e (1,7% global), target NDC: pengurangan 31,89% dengan kemampuan sendiri, 43,20% dengan bantuan internasional (2030).
4.C. Penanganan dan Solusi Berkelanjutan
4.C.1. Remediasi Lingkungan
🌿 Fitoremediasi
Penggunaan tanaman untuk menyerap polutan:
- Hiperakumulator:
- Pb: Sunflower, Indian mustard
- Cd: Thlaspi caerulescens
- Hg: Arabidopsis thaliana
- As: Pakis (Pteris vittata)
- Mekanisme: Rizofiltrasi, fitoekstraksi, fitostabilisasi
- Kasus: Tailing tambang Timika dengan tanaman lokal
🦠 Bioremediasi
Mikroorganisme pengurai polutan:
- Bakteri pereduksi sulfat: Desulfovibrio (reduksi Cr6+ → Cr3+)
- Bakteri pengoksidasi merkuri: Pseudomonas
- Bakteri pendegradasi minyak: Alcanivorax (tumpahan minyak)
- Bioaugmentasi: Penambahan kultur bakteri spesifik
- Biosurfaktan: Meningkatkan bioavailabilitas polutan
🧪 Remediasi Kimia-Fisika
- Adsorpsi: Karbon aktif, zeolit, biochar
- Presipitasi: Penambahan kapur (pH ↑) untuk logam
- Pertukaran ion: Resin penukar ion
- Elektrokinetik: Migrasi ion dengan medan listrik
- Solidifikasi/Stabilisasi: Pengikat semen, fly ash
4.C.2. Teknologi Bersih dan Green Chemistry
♻️ 12 Prinsip Green Chemistry (Anastas & Warner)
- Pencegahan limbahdaripada pengolahan limbah
- Atom economy: Memaksimalkan incorporasi bahan ke produk
- Sintesis kimia kurang berbahaya
- Merancang bahan kimia lebih aman
- Pelarut dan auxiliaries lebih aman
- Desain untuk efisiensi energi
- Gunakan bahan baku terbarukan
- Kurangi derivatisasi(blocking groups, protection/deprotection)
- Katalisis(lebih baik daripada stoichiometric reagents)
- Desain untuk degradasi
- Analisis real-time untuk pencegahan polusi
- Kimia yang lebih aman untuk kecelakaan
Contoh Aplikasi:
- CO2 Superkritis: Pengganti pelarut organik (dry cleaning, ekstraksi)
- Biokatalis: Enzim sebagai katalis (lebih selektif, kondisi ringan)
- Sonokimia: Ultrasonik untuk meningkatkan reaksi
- Elektrosintesis: Menggunakan elektron sebagai reagent
4.C.3. Kebijakan dan Regulasi di Indonesia
📜 Regulasi Pengelolaan Bahan Kimia
| Regulasi | Fokus | Implementasi | Tantangan |
|---|---|---|---|
| UU 32/2009 PLH |
AMDAL, baku mutu, sanksi | Izin lingkungan, pengawasan | Kapasitas pengawasan terbatas |
| PP 22/2021 PPLH |
Penegakan hukum lingkungan | Denda administratif, pidana | Koordinasi lintas instansi |
| Perpres 18/2020 RPJMN Hijau |
Pembangunan berkelanjutan | Target rendah karbon | Konsistensi kebijakan |
| Permen ESDM 7/2014 | Pertambangan berkelanjutan | Rehabilitasi pascatambang | Implementasi di lapangan |
| Konvensi Minamata (UU 11/2017) |
Pengurangan merkuri | Pelarangan impor Hg, alternatif PESK | Tambang emas ilegal masih banyak |
| NDC (Nationally Determined Contribution) |
Penurunan emisi GRK | Energi terbarukan, kehutanan | Pembiayaan, teknologi |
Contoh Soal 4.1 - Pupuk dan Eutrofikasi
Petani di daerah aliran sungai (DAS) Citarum menggunakan pupuk urea dan SP-36 secara intensif untuk meningkatkan produksi padi. Analisis:
- Jelaskan bagaimana pupuk nitrogen dan fosfor menyebabkan eutrofikasi di perairan.
- Hitung jumlah nitrogen yang masuk ke sungai jika 30% dari 200 kg urea/ha tercuci (urea: CO(NH2)2, Ar: C = 12, O = 16, N = 14, H = 1).
- Apa dampak eutrofikasi terhadap ekosistem perairan dan kesehatan manusia?
- Bagaimana strategi pengurangan dampak eutrofikasi dari sektor pertanian?
Pembahasan:
- Mekanisme eutrofikasi oleh N dan P:
- N dan P adalah faktor pembatas pertumbuhan alga/fitoplankton
- Pupuk tercuci oleh hujan/irigasi ke sungai/danau (runoff)
- Peningkatan N dan P → blooming alga (algae bloom)
- Alga mati → dekomposisi oleh bakteri aerob → konsumsi O2 tinggi
- Kadar O2 terlarut turun (hipoksia/anoksia) → kematian ikan dan biota aerob
- Beberapa alga menghasilkan toksin (cyanobacteria) berbahaya
- Perhitungan nitrogen tercuci:
- Massa urea/ha = 200 kg
- Yang tercuci = 30% × 200 kg = 60 kg urea
- Mr urea = 12 + 16 + (14 × 2) + (1 × 4) = 60 g/mol
- Massa N dalam urea = (28/60) × 100% = 46,67%
- N dalam 60 kg urea = 46,67% × 60 kg = 28 kg N/ha
- Luas sawah DAS Citarum ≈ 200.000 ha → potensi N tercuci = 5.600 ton N/tahun
- Dampak eutrofikasi:
Ekosistem Perairan Kesehatan Manusia Ekonomi - Penurunan biodiversitas
- Zona mati (dead zones)
- Perubahan spesies dominan
- Penurunan kualitas air
- Bau busuk (H2S)
- Toksin dari cyanobacteria (microcystin)
- Penyakit kulit, pencernaan
- Biaya pengolahan air meningkat
- Kontaminasi sumber air minum
- Penurunan nilai gizi ikan
- Penurunan hasil perikanan
- Biaya pengolahan air tinggi
- Penurunan pariwisata
- Kerugian sektor pertanian
- Biaya remediasi tinggi
- Strategi pengurangan dampak:
Strategi Implementasi Potensi Pengurangan Precision Agriculture Uji tanah, dosis tepat, waktu aplikasi optimal 30-50% penggunaan pupuk Buffer Zone Tanaman riparian 10-50 m dari sungai 50-90% runoff tertahan Pupuk Slow-Release Pupuk lepas terkendali (coated urea) 40-60% lebih efisien Pengelolaan Air Alternate wetting and drying (AWD) pada padi 30% pengurangan N tercuci Integrasi Ternak-Tanaman Pupuk organik dari kotoran ternak 25-50% pengurangan pupuk kimia Biochar Penambahan biochar ke tanah (retensi nutrisi) 20-40% pengurangan leaching
Contoh Soal 4.2 - Baterai dan Limbah Elektronik
Indonesia memproduksi 1,8 juta ton limbah elektronik (e-waste) per tahun, termasuk baterai bekas. Analisis:
- Sebutkan komponen berbahaya dalam baterai bekas dan dampaknya.
- Hitung potensi recovery logam dari 1 juta ponsel bekas (asumsi: 0,5 g Au/phone, 5 g Cu/phone).
- Bagaimana proses daur ulang baterai Li-ion yang aman dan ekonomis?
- Apa tantangan pengelolaan e-waste di Indonesia dan solusinya?
Pembahasan:
- Komponen berbahaya dalam baterai:
Jenis Baterai Komponen Berbahaya Dampak Lingkungan/Kesehatan Li-ion LiPF6, Co, Ni, Mn, pelarut organik Toksisitas logam, kebakaran/ledakan, pencemaran air Timbal-asam Pb, H2SO4 Keracunan timbal, korosif, pencemaran tanah/air Ni-Cd Cd, Ni, KOH Karsinogenik (Cd), akumulasi biologi, toksik kronis Alkaline Zn, MnO2, KOH Korosif, toksisitas Zn dan Mn dalam kadar tinggi Button cell Hg, Ag2O, Zn Toksisitas merkuri, akumulasi dalam rantai makanan - Perhitungan recovery logam:
- 1 juta ponsel × 0,5 g Au/phone = 500.000 g Au = 500 kg Au
- Harga emas ≈ Rp 1.000.000/g → nilai = 500 kg × 1.000.000 Rp/g = Rp 500 miliar
- 1 juta ponsel × 5 g Cu/phone = 5.000.000 g Cu = 5.000 kg Cu = 5 ton Cu
- Harga tembaga ≈ Rp 120.000/kg → nilai = 5 ton × 120.000 Rp/kg = Rp 600 juta
- Logam lain: Ag ≈ 100 kg, Pd ≈ 10 kg, total nilai ≈ Rp 600-700 miliar
- Urban mining: 1 ton ponsel bekas = 300 g Au vs 5 g Au/ton bijih emas
- Daur ulang baterai Li-ion:
- Pretreatment:
- Sorting berdasarkan tipe baterai
- Discharging (pengosongan sisa listrik)
- Disassembly manual/robotik
- Shredding/crushing dalam atmosfer inert (N2/CO2)
- Pyrometallurgy:
- Peleburan > 1.400°C
- Produk: alloy Co-Cu-Ni-Fe, slag Li-Al-Si
- Recovery: Co, Ni, Cu (95%), Li (40-60%)
- Kekurangan: energi tinggi, Li recovery rendah
- Hydrometallurgy:
- Leaching dengan H2SO4/HCl + H2O2
- Solvent extraction dengan D2EHPA, Cyanex
- Electrowinning/presipitasi
- Recovery: Li, Co, Ni, Mn ( > 90%)
- Direct Recycling:
- Regenerasi katoda langsung
- Relithiation dengan Li salt
- Energy saving 50%, value retention 80%
- Pretreatment:
- Tantangan dan solusi e-waste di Indonesia:
Tantangan Realitas di Indonesia Solusi Regulasi Belum ada UU khusus e-waste, hanya PP 101/2014 (limbah B3) Percepatan RUU Pengelolaan Sampah Spesifik Infrastruktur Hanya 1-2 fasilitas daur ulang e-waste skala industri Insentif investasi, teknologi TTG (tepat guna) Kesadaran masyarakat 80% e-waste berakhir di TPA/dibakar/dibuang sembarangan Edukasi, program take-back, drop box Ekonomi informal Daur ulang informal (pengepul) tanpa perlindungan Formalisasi, pelatihan K3, alat pelindung diri Extended Producer Responsibility Produsen elektronik belum wajib ambil kembali produk bekas Regulasi EPR, insentif produsen bertanggung jawab Data dan monitoring Tidak ada data komprehensif aliran e-waste Sistem tracking, digital platform Model sukses: PT Prasadha Pamunah Limbah Industri, Bali Fokus (komunitas daur ulang), program HP bekas oleh operator seluler.
Contoh Soal 4.3 - Pestisida dan Residu Kimia
Penggunaan pestisida di sektor pertanian Indonesia mencapai 100.000 ton/tahun. Analisis:
- Klasifikasikan jenis-jenis pestisida berdasarkan target organisme dan berikan contoh senyawanya.
- Jelaskan mekanisme kerja organofosfat sebagai insektisida dan mengapa berbahaya bagi manusia.
- Hitung waktu paruh residu pestisida jika konsentrasi awal 10 ppm menjadi 2,5 ppm setelah 30 hari.
- Bagaimana strategi pengendalian hama terpadu (PHT) untuk mengurangi ketergantungan pestisida?
Pembahasan:
- Klasifikasi pestisida:
Jenis Target Contoh Senyawa Mekanisme Insektisida Serangga Klorpirifos, sipermetrin, imidakloprid Neurotoksin, inhibitor kolinesterase Herbisida Gulma Glifosat, paraquat, 2,4-D Inhibitor enzim, fotosintesis, hormon Fungisida Jamur Mancozeb, tembaga oksiklorida, triazol Inhibitor respirasi, sintesis membran Rodentisida Rodentia Warfarin, bromadiolon Antikoagulan, pendarahan internal Nematisida Nematoda Metam natrium, fosthiazate Neurotoksin, inhibitor respirasi Akarisida Tungau Propargit, abamektin Neurotoksin, inhibitor respirasi - Mekanisme organofosfat dan bahaya:
- Mekanisme: Inhibitor irreversibel asetilkolinesterase (AChE)
- Reaksi:
AChE + organofosfat → fosforilasi AChE (inaktif)
Akibat: Akumulasi asetilkolin di sinaps → overstimulasi saraf
- Gejala keracunan: Miosis (pupil mengecil), lakrimasi, saliva berlebihan, kejang, gagal napas, kematian
- Antidot: Atropin (blok reseptor muskarinik) + pralidoxime (reaktivasi AChE)
- Kasus Indonesia: Brebes (Jateng) 2022: 25 kasus keracunan pestisida, 2 meninggal
- Perhitungan waktu paruh:
- Konsentrasi awal (C0) = 10 ppm
- Konsentrasi akhir (Ct) = 2,5 ppm setelah t = 30 hari
- Reaksi orde pertama: ln(Ct/C0) = -kt
- ln(2,5/10) = -k × 30
- ln(0,25) = -1,386 = -30k
- k = 1.386/30 = 0,0462 hari-1
- T1/2 = ln2/k = 0,693/0,0462 = 15 hari
- Implikasi: Setelah 4× waktu paruh (60 hari), residu ≈ 0,625 ppm (masih di atas MRL 0,01 ppm untuk beberapa sayuran)
- Strategi PHT (Pengendalian Hama Terpadu):
Komponen PHT Contoh Implementasi Potensi Pengurangan Pestisida Kultur teknis Rotasi tanaman, varietas resisten, waktu tanam tepat 20-30% Mekanis/fisik Perangkap lampu, perangkap feromon, pembungkusan buah 15-25% Biologis Musuh alami (parasitoid, predator), mikroba (Bacillus thuringiensis) 30-50% Botanicals Ekstrak mimba (azadirachtin), tembakau (nikotin), sirsak 25-40% Pengamatan rutin Ambang ekonomi, bukan jadwal rutin 40-60% Kimia sebagai pilihan terakhir Pestisida selektif, dosis tepat, aplikasi tepat 50-70% dibanding pola konvensional Keberhasilan: Program PHT padi di Subang (Jabar) mengurangi insektisida 70% dengan peningkatan hasil 15%.
Contoh Soal 4.4 - Energi Terbarukan dan Mineral Kritis
Transisi energi membutuhkan mineral kritis untuk teknologi energi terbarukan. Analisis:
- Sebutkan 5 mineral kritis untuk transisi energi dan aplikasinya.
- Bandingkan dampak lingkungan pembangkit batubara vs panel surya dari aspek daur hidup (life cycle).
- Hitung kebutuhan nikel untuk target 140 GWh kapasitas baterai EV di Indonesia (asumsi: NMC 811, densitas energi 250 Wh/kg).
- Bagaimana mengelola paradoks "green technology vs destructive mining"?
Pembahasan:
- Mineral kritis untuk transisi energi:
Mineral Aplikasi Cadangan Indonesia Kebutuhan Global 2040 (IEA) Nikel Baterai EV, stainless steel 21% dunia (terbesar) ↑ 41x dari 2020 Tembaga Kabel, motor, transformator 3% dunia ↑ 2,7x dari 2020 Kobalt Baterai EV, magnet Minimal ↑ 21x dari 2020 Litium Baterai EV, penyimpanan Sedang (eksplorasi) ↑ 42x dari 2020 Rare Earth Elements Magnet permanen (turbin angin, motor EV) Minimal ↑ 7x dari 2020 Silikon (metalurgi) Panel surya (PV) Melimpah (pasir silika) ↑ 3x dari 2020 - Perbandingan LCA batubara vs panel surya:
Aspek PLTU Batubara 1 MWh Panel Surya 1 MWh Emisi CO2 820-1.050 kg (operasional) 40-80 kg (hanya manufaktur) Polutan udara SO2, NOx, PM, Hg, abu Minimal (hanya manufaktur) Kebutuhan air 1.500-2.500 L (pendinginan) 20-40 L (pembersihan panel) Lahan 2-5 ha/MW (termasuk tambang) 4-8 ha/MW (dapat rooftop) Limbah padat Abu 300-400 kg/MWh Minimal (daur ulang panel) Energi balik (EPBT) Tidak ada (energi fosil) 1-3 tahun (panel 25 tahun) Dampak penambangan Batubara: lubang besar, acid mine drainage Silikon: kuarsa (SiO2) relatif bersih Kesimpulan: Panel surya lebih bersih secara operasional, tetapi manufakturnya membutuhkan mineral dan energi.
- Perhitungan kebutuhan nikel:
- Target kapasitas baterai = 140 GWh = 140.000 MWh
- Densitas energi = 250 Wh/kg → 1 kg baterai = 0,25 kWh
- Total massa baterai = 140.000.000 kWh ÷ 0,25 kWh/kg = 560.000.000 kg = 560.000 ton
- Komposisi NMC 811: Ni:Mn:Co = 8:1:1 (atom) ≈ Ni 60% berat katoda
- Katoda ≈ 30% berat total baterai
- Nikel dalam baterai = 560.000 ton × 30% × 60% = 100.800 ton Ni
- Efisiensi proses = 80% → nikel mentah dibutuhkan = 100.800 ÷ 0,8 = 126.000 ton Ni
- Produksi nikel Indonesia 2023 = 1,6 juta ton → cukup untuk 12-13 pabrik baterai skala ini
- Mengelola paradoks:
Strategi Implementasi Contoh di Indonesia Pertambangan Berkelanjutan Green mining standards, zero waste mining, rehabilitasi Program PROPER Kementerian ESDM Circular Economy Daur ulang baterai EV, urban mining Rencana pabrik daur ulang baterai (Hyundai-LG) Teknologi Alternatif Baterai tanpa kobalt/nikel (LFP), solid-state Riset LFP oleh BRIN, universitas Efisiensi Material Reduksi kandungan mineral kritis, design for recycling Standardisasi baterai untuk memudahkan daur ulang Transparansi Rantai Pasok Blockchain tracking, sertifikasi (IRMA, CERA) Program traceability nikel Keadilan Sosial Partisipasi masyarakat, benefit sharing, AMDAL partisipatif Free, Prior, Informed Consent (FPIC) untuk masyarakat adat Prinsip: Transisi energi harus adil (just transition) yang memperhatikan pekerja, masyarakat, dan lingkungan.
Contoh Soal 4.5 - Kimia Hijau dan Industri Berkelanjutan
Green Chemistry menawarkan paradigma baru untuk industri kimia yang berkelanjutan. Analisis:
- Jelaskan prinsip Atom Economy dan berikan contoh reaksi dengan atom economy tinggi dan rendah.
- Bagaimana supercritical CO2 dapat menggantikan pelarut organik berbahaya?
- Hitung E-factor (Environmental Factor) untuk proses yang menghasilkan 1 ton produk dengan 300 kg limbah.
- Apa tantangan penerapan Green Chemistry di industri Indonesia dan bagaimana mengatasinya?
Pembahasan:
- Prinsip Atom Economy:
- Definisi: Persentase massa atom reaktan yang terinkorporasi ke produk yang diinginkan
- Rumus: AE = (Berat molekul produk ÷ Σ Berat molekul reaktan) × 100%
- Contoh AE tinggi: Adisi etena untuk membuat etanol
C2H4 + H2O → C2H5OH
Mr: 28 + 18 → 46
AE = 46/46 × 100% = 100%
- Contoh AE rendah: Sintesis obat tradisional dengan banyak protecting group
Banyak langkah, banyak reagen auxiliary, banyak limbah
AE tipikal obat: 5-10%
- Supercritical CO2 sebagai pelarut hijau:
- Sifat supercritical CO2:
- Titik kritis: 31,1°C, 73,8 atm
- Menggabungkan sifat gas (difusivitas tinggi) dan cair (pelarutan)
- Tunable: Sifat dapat diatur dengan tekanan dan suhu
- Keunggulan:
- Aman: Tidak mudah terbakar, tidak beracun
- Murah dan melimpah: Dapat didaur ulang dari industri
- Mudah dipisahkan: Dengan dekompresi → CO2 gas
- Tidak meninggalkan residu: Pada produk
- Aplikasi:
- Dry cleaning: Pengganti perkloretilen (karsinogen)
- Ekstraksi: Kafein dari kopi, hop dari bir, minyak atsiri
- Polimerisasi: Medium untuk sintesis polimer
- Partikel nano: Teknologi RESS (Rapid Expansion of Supercritical Solutions)
- Contoh Indonesia: Ekstraksi kurkumin dari kunyit, minyak nilam
- Sifat supercritical CO2:
- Perhitungan E-factor:
- Definisi: E-factor = Massa total limbah ÷ Massa produk
- Produk = 1 ton = 1000 kg
- Limbah = 300 kg
- E-factor = 300 ÷ 1000 = 0,3
- Interpretasi:
Industri E-factor Tipikal Volume Produksi Limbah Total Minyak bumi 0,1 Besar Besar (meski E kecil) Kimia dasar 1-5 Besar Besar Farmasi 25-100 Kecil Sedang-besar Industri halus 5-50 Kecil Kecil-sedang - Target Green Chemistry: E-factor mendekati 0
- Tantangan dan solusi Green Chemistry di Indonesia:
Tantangan Dampak Solusi Biaya investasi tinggi Teknologi hijau sering lebih mahal awal Insentif fiskal, green financing, perhitungan LCC (Life Cycle Cost) Keterbatasan teknologi Ketergantungan impor teknologi R&D dalam negeri, kemitraan universitas-industri, transfer teknologi Regulasi belum mendukung Insentif untuk teknologi konvensional masih ada Internalisasi biaya eksternal, tax pollution bukan profit Mindset bisnis Short-term profit oriented Education, sustainability reporting, green branding Supply chain Bahan baku hijau belum tersedia secara luas Pengembangan industri pendukung, bio-based economy Kompetensi SDM Kurangnya ahli green chemistry Kurikulum green chemistry di perguruan tinggi, pelatihan industri Peluang Indonesia:
- Bio-based economy: Biomassa melimpah untuk bahan kimia terbarukan
- Industri farmasi herbal: Ekstraksi hijau untuk jamu dan fitofarmaka
- Eco-industrial park: Symbiosis industri (limbah satu = input lainnya)
- Contoh sukses: Pabrik bioetanol, industri oleokimia dari kelapa sawit, ekstraksi superkritis untuk rempah
5. Aspek Sosial Eksplorasi Mineral
Dampak Sosial dan Ekonomi Penambangan Unsur
Eksplorasi dan penambangan mineral mengandung unsur-unsur kimia memiliki dampak sosial yang kompleks:
5.A. Dampak Positif
- Penyerapan tenaga kerja: Menciptakan lapangan kerja langsung dan tidak langsung
- Pendapatan daerah dan negara: Dari pajak, royalti, dan dividen BUMN
- Pengembangan infrastruktur: Jalan, jembatan, listrik, air bersih untuk masyarakat sekitar
- Transfer teknologi: Peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal
- Pengembangan UKM: Munculnya usaha pendukung tambang
5.B. Dampak Negatif
- Konflik lahan: Perebutan hak atas tanah antara perusahaan dan masyarakat lokal
- Degradasi lingkungan: Kerusakan ekosistem, pencemaran air dan tanah
- Kesehatan masyarakat: Paparan debu, logam berat, dan bahan kimia berbahaya
- Perubahan sosial budaya: Gaya hidup konsumtif, erosi nilai-nilai tradisional
- Ketergantungan ekonomi: Ekonomi monokultur yang rentan terhadap fluktuasi harga
5.C. Studi Kasus: Penambangan Nikel di Indonesia
Indonesia merupakan produsen nikel terbesar di dunia. Eksplorasi nikel menimbulkan berbagai isu sosial:
- Pemberdayaan vs peminggiran: Apakah masyarakat lokal benar-benar diuntungkan?
- Pembangunan berkelanjutan: Bagaimana memastikan manfaat jangka panjang setelah tambang tutup?
- Keadilan distributif: Apakah keuntungan dibagi secara adil antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat?
- Pertambangan ilegal: Menyebabkan kerusakan lingkungan parah tanpa tanggung jawab
5.D. Prinsip Pertambangan Berkelanjutan
- Good Mining Practice: Standar operasi yang aman dan ramah lingkungan
- Corporate Social Responsibility (CSR): Program pemberdayaan masyarakat
- Rehabilitasi pascatambang: Restorasi ekosistem dan alih fungsi lahan
- Partisipasi masyarakat: Keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan
- Ekonomi sirkular: Daur ulang dan penggunaan kembali limbah tambang
Contoh Soal 5.1
Analisis dilema etika dalam penambangan litium untuk baterai kendaraan listrik. litium diperlukan untuk transisi energi bersih, tetapi penambangannya memiliki dampak sosial dan lingkungan. Bagaimana menyeimbangkan kebutuhan energi bersih dengan perlindungan masyarakat dan lingkungan?
Pembahasan:
Dilema etika penambangan litium:
- Kebutuhan vs dampak: litium penting untuk baterai kendaraan listrik (mengurangi emisi CO2), tetapi penambangannya menggunakan banyak air dan merusak ekosistem gurun
- Keadilan iklim: Negara maju beralih ke kendaraan listrik, tetapi dampak penambangan ditanggung negara berkembang
- Solusi:
- Peningkatan efisiensi proses penambangan dan daur ulang litium
- Pengembangan teknologi baterai alternatif (natrium-ion, solid-state)
- Standar lingkungan dan sosial yang ketat untuk operasi penambangan
- Pemberdayaan masyarakat lokal melalui bagi hasil yang adil
- Transparansi dalam rantai pasok litium
Latihan Soal Kontekstual
- Masyarakat di sekitar daerah pertambangan bauksit mengeluhkan air sungai yang keruh dan berkurangnya hasil tangkapan ikan. Unsur aluminium diekstraksi dari bauksit. Jelaskan hubungan antara penambangan bauksit dengan keluhan masyarakat tersebut.
- Baterai litium-ion banyak digunakan dalam handphone dan kendaraan listrik. Mengapa litium dipilih sebagai bahan baterai? Apa dampak lingkungan dari pembuangan baterai litium yang tidak tepat?
- Pada proses pengolahan bijih tembaga dari mineral kalkopirit (CuFeS2), dihasilkan gas SO2. Jelaskan mengapa gas ini berbahaya bagi lingkungan dan bagaimana menanganinya secara tepat.
- Petani di daerah pegunungan kapur menggunakan kapur pertanian (CaCO3) untuk menetralkan tanah asam. Jelaskan reaksi kimia yang terjadi dan mengapa hal ini bermanfaat untuk pertanian.
- Pencemaran merkuri di Teluk Minamata Jepang menyebabkan penyakit saraf yang parah. Jelaskan mengapa merkuri sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan bagaimana proses bioakumulasinya dalam rantai makanan.
- Pupuk urea (CO(NH2)2) mengandung nitrogen yang penting untuk pertumbuhan tanaman. Namun, penggunaan berlebihan dapat menyebabkan eutrofikasi. Jelaskan proses eutrofikasi dan dampaknya bagi ekosistem perairan.
- Penggunaan CFC (chlorofluorocarbon) pada lemari es dan AC lama menyebabkan penipisan lapisan ozon. Jelaskan mekanisme kimiawi perusakan ozon oleh CFC dan alternatif pengganti yang lebih ramah lingkungan.
- Tambang emas tradisional sering menggunakan merkuri untuk mengikat emas. Jelaskan cara kerja amalgamasi emas dengan merkuri dan mengapa metode ini berbahaya bagi penambang dan lingkungan.
- Pembangkit listrik tenaga batubara menghasilkan fly ash yang mengandung logam berat. Jelaskan pemanfaatan fly ash dalam industri konstruksi dan potensi risikonya terhadap lingkungan.
- Indonesia memiliki kebijakan hilirisasi nikel untuk meningkatkan nilai tambah. Jelaskan apa yang dimaksud dengan hilirisasi nikel dan dampak sosial-ekonomi yang diharapkan dari kebijakan ini.
- Industri tekstil di Majalaya, Jawa Barat menggunakan zat warna sintetis yang mengandung kromium (Cr). Limbah cair industri ini mencemari Sungai Citarum. Jelaskan mengapa kromium hexavalent (Cr6+) lebih berbahaya daripada kromium trivalent (Cr3+) dan bagaimana metode remediasi yang tepat untuk menangani pencemaran ini.
- Petani di daerah Brebes mengalami keracunan pestisida organofosfat. Jelaskan mekanisme kerja pestisida organofosfat pada serangga dan mengapa senyawa ini juga berbahaya bagi manusia. Hitung dosis LD50jika 50% tikus percobaan mati pada dosis 50 mg/kg berat badan.
- PLTU batubara di Cirebon menghasilkan limbah FGD (Flue Gas Desulfurization) gipsum. gipsum sintetis ini mengandung trace element seperti selenium dan merkuri. Jelaskan pemanfaatan FGD gipsum dalam industri konstruksi dan analisis risiko lingkungannya jika digunakan secara tidak tepat.
- Kebijakan biodiesel B35 di Indonesia menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku. Jelaskan reaksi transesterifikasi dalam produksi biodiesel dan analisis dampak lingkungan positif (pengurangan emisi) vs negatif (deforestasi, perubahan penggunaan lahan) dari kebijakan ini.
- Masyarakat di sekitar pabrik semen di Rembang mengeluhkan debu dan gangguan pernapasan. Debu semen mengandung senyawa kalsium silikat dan alumina. Jelaskan mekanisme kerusakan kesehatan akibat paparan debu semen dan hitung konsentrasi debu jika dalam 24 jam terkumpul 5 mg debu di alat sampling dengan laju alir 2 L/menit.
- Penggunaan pupuk NPK di lahan pertanian intensif di Karawang menyebabkan peningkatan emisi N2O (gas rumah kaca). Jelaskan proses mikrobiologis pembentukan N2O dari pupuk nitrogen dan hitung potensi pemanasan global dari 1 kg N2O dibandingkan dengan CO2 dalam periode 100 tahun (GWP N2O = 298).
- Industri pengolahan ikan di Muara Baru menggunakan formalin (HCHO) sebagai pengawet ilegal. Jelaskan mengapa formalin berbahaya bagi kesehatan konsumen dan uji kimia sederhana yang dapat digunakan untuk mendeteksi formalin pada ikan. Tulis reaksi antara formalin dengan reagent uji.
- Pembangunan IKN Nusantara membutuhkan material konstruksi dalam jumlah besar. Analisis dampak lingkungan dari produksi 1 juta ton semen untuk proyek ini (hitung emisi CO2) dan rekomendasikan strategi konstruksi hijau untuk mengurangi dampak lingkungan.
- Pencemaran mikroplastik di perairan Indonesia semakin mengkhawatirkan. Mikroplastik berasal dari degradasi plastik makro. Jelaskan proses fotodegradasi dan fragmentasi plastik menjadi mikroplastik, serta analisis bahayanya terhadap biota laut dan rantai makanan.
- Pengembangan industri baterai EV di Indonesia menggunakan nikel laterit sebagai bahan baku. Bandingkan proses pirometalurgi dan hidrometalurgi untuk pengolahan nikel laterit dalam hal: (a) efisiensi energi, (b) recovery nikel, (c) dampak lingkungan, (d) biaya investasi, dan (e) kesesuaian untuk baterai EV.
Kunci Jawaban Latihan Soal (20 Soal)
- Penambangan bauksit menyebabkan erosi tanah yang membuat sungai keruh, mengganggu ekosistem perairan dan mengurangi oksigen terlarut sehingga ikan mati.
- litium dipilih karena densitas energi tinggi dan ringan. Baterai yang dibuang sembarangan dapat mencemari tanah dan air dengan logam berat.
- SO2 menyebabkan hujan asam yang merusak ekosistem. Penanganan dengan konversi menjadi asam sulfat atau netralisasi dengan kapur.
- CaCO3 + 2H+ → Ca2+ + CO2 + H2O. Menetralkan keasaman tanah meningkatkan ketersediaan hara untuk tanaman.
- Merkuri merusak sistem saraf. Bioakumulasi terjadi melalui rantai makanan: plankton → ikan kecil → ikan besar → manusia.
- Eutrofikasi: kelebihan nutrisi menyebabkan blooming alga, kematian alga mengurangi oksigen, menyebabkan kematian ikan.
- CFC terurai oleh UV melepaskan atom Cl yang mengkatalisis destruksi ozon. Alternatif: HFC, hidrokarbon, atau CO2 sebagai refrigerant.
- Merkuri membentuk amalgam dengan emas. Bahaya: uap merkuri beracun, merkuri mencemari air dan tanah.
- Fly ash digunakan sebagai substitusi semen. Risiko: leaching logam berat jika tidak diolah dengan baik.
- Hilirisasi: mengolah nikel menjadi produk bernilai tinggi (stainless steel, baterai). Dampak: penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan negara, transfer teknologi.
- Cr6+ lebih beracun karena bersifat karsinogenik dan mudah larut. Remediasi: reduksi menjadi Cr3+ dengan Fe2+ atau SO2, presipitasi sebagai Cr(OH)3, fitoremediasi dengan tanaman hiperakumulator.
- Organofosfat menghambat asetilkolinesterase. LD50 = 50 mg/kg. Pada manusia menyebabkan akumulasi asetilkolin → kejang, gagal napas.
- FGD gipsum untuk papan gipsum dan semen. Risiko: leaching Se dan Hg jika pH turun. Perlu stabilisasi sebelum digunakan.
- Transesterifikasi: trigliserida + metanol → biodiesel + gliserol. Positif: kurangi emisi 50-80%. Negatif: deforestasi, hilangnya biodiversitas, konflik lahan.
- Debu semen menyebabkan silikosis. Konsentrasi = 5 mg / (2 L/m × 60 m/j × 24 j × 0,001 m³/L) = 5/2,88 = 1,74 mg/m³ (melebihi baku mutu 1 mg/m³).
- N2O dari nitrifikasi dan denitrifikasi oleh bakteri. 1 kg N2O setara 298 kg CO2. Emisi Indonesia dari pupuk: 6,7 juta ton urea → ~0,5 juta ton N2O → setara 149 juta ton CO2.
- Formalin karsinogenik. Uji dengan KMnO4 (warna ungu hilang) atau Schiff's reagent (menjadi ungu). Reaksi: HCHO + KMnO4 → HCOOH + MnO2.
- 1 juta ton semen ≈ 860.000 ton CO2. Strategi hijau: material daur ulang, semen ramah lingkungan, efisiensi energi, prefabrikasi.
- Fotodegradasi oleh UV → fragmentasi → mikroplastik. Bahaya: tertelan biota, transfer toksin, gangguan pencernaan, masuk rantai makanan ke manusia.
- Pirometalurgi: energi tinggi (1.400°C), recovery 85-90%, limbah slag besar, investasi US Dollar 1-2M, untuk ferronikel. Hidrometalurgi: energi sedang, recovery > 90%, limbah asam, investasi US Dollar 2-3M, cocok untuk baterai EV.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar