Materi ini masih dalam tahap pengembangan, belum final.
1. Struktur dan Sifat Khas Benzena
A. Rumus dan Struktur Benzena
Struktur Kekulé: Alternatif ikatan tunggal dan rangkap
B. Konsep Resonansi dan Aromatisitas
- Siklik dan Planar: Molekul berbentuk cincin datar
- Terkonjugasi sempurna: Sistem π terdelokalisasi
- Memenuhi aturan 4n+2: Jumlah elektron π = 2, 6, 10, 14,...
- Benzena: 6 elektron π → 4(1)+2 = 6 → aromatik

C. Bukti Eksperimental Struktur Benzena
| Bukti | Penjelasan | Implikasi |
|---|---|---|
| Panjang ikatan C-C seragam | 1,39 Å (antara ikatan tunggal 1,54 Å dan rangkap 1,34 Å) | Ikatan identik, tidak ada alternatif tunggal-rangkap |
| Stabilitas tinggi | Entalpi hidrogenasi lebih rendah 150 kJ/mol dari perkiraan | Energi resonansi = 150 kJ/mol (stabilisasi) |
| Sulit mengalami adisi | Lebih suka substitusi daripada adisi | Mempertahankan sistem aromatik |
| Reaksi khas: Substitusi | Bukan adisi seperti alkena | Sistem π terkonjugasi dipertahankan |
2. Reaksi Benzena: Substitusi Elektrofilik Aromatik (SEAr)
- Pembentukan elektrofil (E+)
- Serangan elektrofil pada cincin benzena → kompleks σ (intermediet arenium)
- Kehilangan H+ → regenerasi sistem aromatik
A. Nitrasi
Mekanisme:
- Pembentukan elektrofil NO2+ (ion nitronium):
- Serangan NO2+ pada cincin benzena
- Kehilangan H+ membentuk nitrobenzena
B. Sulfonasi
Elektrofil: SO3 (asam sulfat fuming)
C. Halogenasi
Mekanisme: FeX3 mempolarisasi X2 → X+ dan FeX4-
D. Alkilasi Friedel-Crafts
Elektrofil: R+ (karbokation) dari alkil halida
Contoh: CH3Cl + AlCl3 → CH3+ + AlCl4-
E. Asilasi Friedel-Crafts
Elektrofil: R-CO+ (asil kation)
3. Turunan Benzena Penting dan Tata Namanya
A. Sistem Penamaan
- Jika satu substituen: nama substituen + "benzena"
- Jika dua substituen: gunakan awalan ortho- (1,2), meta- (1,3), para- (1,4)
- Jika ≥ tiga substituen: gunakan penomoran (beri nomor terendah)
- Beberapa nama trivial diterima (toluena, anilin, fenol, dll.)
B. Turunan Monosubstitusi Penting
Gugus: -CH3
Sifat: Cair tak berwarna, pelarut organik
Kegunaan: Pelarut, bahan baku TNT, sintesis kimia
Gugus: -OH
Sifat: Asam lemah (pKa ≈ 10), antiseptik
Kegunaan: Desinfektan, resin fenolik, aspirin
Gugus: -NH2
Sifat: Basa lemah, beracun
Kegunaan: Zat warna, obat, polimer
Gugus: -CHO
Sifat: Aroma almond, aldehid aromatik
Kegunaan: Flavor, parfum, sintesis
Gugus: -COOH
Sifat: Padatan kristal, asam lemah
Kegunaan: Pengawet makanan (E210)
Gugus: -NO2
Sifat: Cair kuning, beracun
Kegunaan: Bahan baku anilin, pelarut
C. Turunan Disubstitusi
| Nama | Struktur | Posisi | Contoh |
|---|---|---|---|
| o-xilena | C6H4(CH3)2 |
1,2-dimetilbenzena | Pelarut, bahan kimia |
| m-xilena | C6H4(CH3)2 |
1,3-dimetilbenzena | Bahan baku plastik |
| p-xilena | C6H4(CH3)2 |
1,4-dimetilbenzena | Bahan baku PET (botol plastik) |
| o-nitrotoluena | C6H4(CH3)(NO2) |
1-metil-2-nitrobenzena | Sintesis zat warna |
4. Pengaruh Substituen pada Reaktivitas Benzena
A. Substituen Pengarah Ortho-Para (Aktivator)
- Meningkatkan reaktivitas cincin benzena
- Mengarahkan substituen baru ke posisi ortho dan para
- Biasanya gugus pendonor elektron (efek +I atau +R)
| Substituen | Jenis | Contoh Senyawa | Mekanisme |
|---|---|---|---|
| -NH2, -NHR, -NR2 | Aktivator kuat | Anilin | Efek +R (resonansi) |
| -OH, -OR | Aktivator kuat | Fenol, Anisol | Efek +R |
| -CH3, -R (alkil) | Aktivator lemah | Toluena | Efek +I (induktif) |
| -C6H5 | Aktivator lemah | Bifenil | Efek +R terkonjugasi |
B. Substituen Pengarah Meta (Deaktivator)
- Menurunkan reaktivitas cincin benzena
- Mengarahkan substituen baru ke posisi meta
- Biasanya gugus penarik elektron (efek -I atau -R)
| Substituen | Jenis | Contoh Senyawa | Mekanisme |
|---|---|---|---|
| -NO2 | Deaktivator kuat | Nitrobenzena | Efek -R kuat |
| -CN | Deaktivator kuat | Benzonitril | Efek -I dan -R |
| -COOH, -COOR | Deaktivator sedang | Asam benzoat, Ester | Efek -R |
| -CHO, -COR | Deaktivator sedang | Benzaldehida, Asetofenon | Efek -R |
| -SO3H | Deaktivator kuat | Asam benzenasulfonat | Efek -I kuat |
5. Senyawa Aromatik Polisiklik
Struktur: 2 cincin benzena bersebelahan
Sifat: Padatan putih, bau khas
Kegunaan: Kapur barus, insektisida
Struktur: 3 cincin benzena linear
Sifat: Padatan tak berwarna, fluoresen
Kegunaan: Zat warna, penelitian
Struktur: 3 cincin benzena angular
Sifat: Isomer antrasena
Kegunaan: Biologi, obat
6. Aplikasi dan Bahaya Senyawa Aromatik
A. Aplikasi Industri
| Senyawa | Industri | Produk Akhir |
|---|---|---|
| Benzena | Petrokimia | Stirena (polistirena), Sikloheksana (nilon), Fenol |
| Toluena | Kimia, Bahan Peledak | TNT, Pelarut, Benzena (dealkilasi) |
| p-xilena | Polimer | Asam tereftalat → PET (botol plastik) |
| Fenol | Polimer, Farmasi | Bakelit, Aspirin, Disinfektan |
| Anilin | Zat Warna, Karet | Zat warna azo, MDI (poliuretan) |
B. Bahaya dan Toksisitas
- Karsinogen: Menyebabkan leukemia
- Toksik sistemik: Merusak sumsum tulang
- Volatil: Mudah menguap, bahaya inhalasi
- Batas paparan: Sangat rendah (0.5-1 ppm)
7. Contoh Soal dan Pembahasan
Pembahasan:
1. Rantai utama: benzena
2. Substituen: -NO2 (nitro), -Cl (kloro), -CH3 (metil)
3. Penomoran: beri nomor terendah untuk substituen
4. Urutan abjad: kloro (chloro) → metil (methyl) → nitro (nitro)
5. Dengan posisi 1,2,4: 1-kloro-2-metil-4-nitrobenzena
Atau nama trivial: p-nitro-o-klorotoluena (karena ada gugus metil)
Pembahasan:
Reaktivitas dalam nitrasi (SEAr) bergantung pada sifat substituen:
- Anilin (-NH2): Aktivator KUAT ortho-para → PALING REAKTIF
- Toluena (-CH3): Aktivator LEMAH ortho-para → Reaktif
- Benzena (tanpa substituen): Reaktivitas standar
- Nitrobenzena (-NO2): Deaktivator KUAT meta → PALING TIDAK REAKTIF
Urutan: Anilin > Toluena > Benzena > Nitrobenzena
Alasan: Gugus -NH2 mendonorkan elektron ke cincin (+R), membuat cincin kaya elektron dan mudah diserang elektrofil. Sebaliknya, -NO2 menarik elektron (-R), membuat cincin miskin elektron.
Pembahasan:
Reaksi:
Produk utama: o-nitrotoluena dan p-nitrotoluena
Penjelasan:
1. Gugus -CH3 pada toluena adalah aktivator ortho-para
2. Elektrofil NO2+ akan menyerang posisi ortho (1,2) dan para (1,4) terhadap gugus metil
3. Produk utama adalah campuran:
- o-nitrotoluena (1-metil-2-nitrobenzena): ≈ 60%
- p-nitrotoluena (1-metil-4-nitrobenzena): ≈ 40%
- m-nitrotoluena: sangat sedikit (< 5%)
Struktur produk:
|
C6H4
|
NO2
(posisi 1,2)
|
C6H4
\
NO2
(posisi 1,4)
Pembahasan:
Perbedaan keasaman:
- Fenol: pKa ≈ 10 (asam lemah)
- Etanol: pKa ≈ 16 (sangat lemah, praktis netral)
Penjelasan berdasarkan struktur:
1. Stabilitas anion fenoksida vs etoksida:
- Fenol terionisasi: C6H5OH → C6H5O- + H+
- Anion fenoksida (C6H5O-) distabilkan oleh resonansi
- Pasangan elektron pada O- dapat terdelokalisasi ke cincin aromatik
2. Struktur resonansi fenoksida:
3. Tidak ada resonansi pada etoksida:
- Etanol terionisasi: CH3CH2OH → CH3CH2O- + H+
- Anion etoksida TIDAK distabilkan resonansi
- Muatan negatif terlokalisasi hanya pada atom oksigen
4. Kesimpulan: Fenol lebih asam karena anion fenoksida yang terbentuk lebih stabil akibat delokalisasi muatan negatif ke cincin aromatik melalui resonansi.
1. Struktur: Cincin aromatik dengan 6 elektron π, resonansi, energi resonansi 150 kJ/mol
2. Reaksi khas: Substitusi Elektrofilik Aromatik (nitrasi, sulfonasi, halogenasi, Friedel-Crafts)
3. Pengaruh substituen: Aktivator ortho-para vs deaktivator meta
4. Turunan penting: Toluena, Fenol, Anilin, Benzaldehida, Asam benzoat
5. Bahaya: Benzena karsinogenik, perlu penanganan khusus

Tidak ada komentar:
Posting Komentar