Materi Kimia: Biomolekul (Karbohidrat, Lipid, Protein, Asam Nukleat)

Kamis, 15 Januari 2026

Biomolekul merupakan senyawa organik yang menyusun struktur dan menjalankan fungsi biologis pada semua organisme hidup. Klasifikasi biomolekul menjadi empat kelompok utama - karbohidrat, protein, lipid, dan asam nukleat. Hal ini didasarkan pada perbedaan struktur kimia, sifat fisikokimia, dan peran biologisnya.

Materi ini masih dalam tahap pengembangan, belum final.

Melalui pemahaman mendalam tentang biomolekul, kita dapat menjelaskan berbagai fenomena kehidupan mulai dari metabolisme energi, sintesis protein, pewarisan sifat, hingga mekanisme penyakit. Materi ini dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan komprehensif yang menghubungkan konsep kimia dasar dengan aplikasi biologis yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

A. KARBOHIDRAT

A1. Pengertian dan Fungsi Karbohidrat

Karbohidrat adalah senyawa organik yang tersusun atas unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) dengan rumus umum Cn(H2O)n. Senyawa ini juga dikenal sebagai sakarida (dari bahasa Yunani "sakcharon" yang berarti gula).

Karbohidrat memiliki peran vital dalam sistem kehidupan, dengan fungsi-fungsi utama sebagai berikut:

  • Sumber energi utama: Setiap gram karbohidrat menghasilkan 4 kkal energi
  • Penyusun struktur sel: Seperti selulosa pada dinding sel tumbuhan
  • Komponen materi genetik: Ribosa dan deoksiribosa pada RNA dan DNA
  • Cadangan energi: Dalam bentuk pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan
  • Pengatur metabolisme lemak: Mencegah ketosis (penggunaan lemak berlebihan)

A2. Klasifikasi Karbohidrat

Karbohidrat dapat diklasifikasikan berdasarkan dua cara utama:

A2-a. Berdasarkan Jumlah Unit Sakarida

Jenis Jumlah Unit Contoh Sifat
Monosakarida 1 unit gula sederhana Glukosa, fruktosa, galaktosa Tidak dapat dihidrolisis, berasa manis, larut air
Disakarida 2 unit monosakarida Sukrosa, maltosa, laktosa Dapat dihidrolisis menjadi 2 monosakarida
Oligosakarida 3-10 unit monosakarida Rafinosa, stakiosa Umumnya ditemukan dalam kacang-kacangan
Polisakarida > 10 unit monosakarida Pati, selulosa, glikogen Tidak berasa manis, sulit larut dalam air

A2-b. Berdasarkan Gugus Fungsional

  • Aldosa: Mengandung gugus aldehid (-CHO) pada ujung rantai. Contoh: glukosa, galaktosa
  • Ketosa: Mengandung gugus keton (> C=O) di dalam rantai. Contoh: fruktosa

Catatan Penting: Monosakarida dan disakarida umumnya disebut sebagai "gula" karena memiliki rasa manis dan kristal yang larut dalam air. Polisakarida tidak memiliki rasa manis dan umumnya tidak larut dalam air.

A3. Monosakarida

Monosakarida adalah unit terkecil karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi senyawa yang lebih sederhana. Berdasarkan jumlah atom karbon, monosakarida dibedakan menjadi:

  • Triosa (3 atom C): Gliser aldehid, dihidroksiaseton
  • Tetrosa (4 atom C): Eritrosa
  • Pentosa (5 atom C): Ribosa, deoksiribosa, arabinosa
  • Heksosa (6 atom C): Glukosa, fruktosa, galaktosa

Monosakarida Penting

A3-a. Glukosa (C6H12O6)

Disebut juga dekstrosa atau gula anggur. Merupakan aldosa dan gula pereduksi. Glukosa merupakan sumber energi utama dalam tubuh manusia dan banyak ditemukan dalam buah-buahan, madu, dan sirup jagung.

Rumus struktur beberapa monosakarida (rantai terbuka):
C 1 C 2 OH H C 3 H HO C 4 OH H C 5 OH H CH 2 OH 6 O H Glukosa C 1 C 2 OH H C 3 H HO C 4 H HO C 5 OH H CH 2 OH 6 O H Galaktosa CH 2 OH 1 C 2 O C 3 H HO C 4 OH H C 5 OH H CH 2 OH 6 Fruktosa

A3-b. Fruktosa (C6H12O6)

Disebut juga levulosa atau gula buah. Merupakan ketosa dan gula pereduksi. Fruktosa memiliki rasa paling manis di antara monosakarida (1,7 kali lebih manis daripada sukrosa).

A3-c. Galaktosa (C6H12O6)

Tidak ditemukan bebas di alam, tetapi merupakan komponen disakarida laktosa (gula susu). Merupakan aldosa dan gula pereduksi.

Sifat Monosakarida: Semua monosakarida merupakan gula pereduksi karena memiliki gugus aldehid atau keton bebas yang dapat mereduksi ion logam seperti Cu2+ dalam uji Benedict/Fehling.

A4. Disakarida

Disakarida terbentuk dari dua monosakarida yang dihubungkan oleh ikatan glikosidik dengan melepas satu molekul air (reaksi kondensasi).

Reaksi umum: Monosakarida + Monosakarida → Disakarida + H2O
Disakarida Monosakarida Penyusun Jenis Ikatan Sumber Sifat
Sukrosa (gula pasir) Glukosa + Fruktosa α-1,2-glikosidik Tebu, bit, maple Non-pereduksi
Maltosa (gula malt) Glukosa + Glukosa α-1,4-glikosidik Kecambah biji-bijian Pereduksi
Laktosa (gula susu) Glukosa + Galaktosa β-1,4-glikosidik Susu mamalia Pereduksi

Contoh Hidrolisis Disakarida:

Sukrosa (C12H22O11) + H2O → Glukosa (C6H12O6) + Fruktosa (C6H12O6)

Proses ini terjadi dengan bantuan enzim sukrase atau dalam kondisi asam.

Mengapa Sukrosa Non-Pereduksi? Pada sukrosa, gugus aldehid glukosa dan gugus keton fruktosa saling berikatan, sehingga tidak ada gugus pereduksi bebas. Sedangkan pada maltosa dan laktosa, masih ada gugus pereduksi bebas.

A5. Polisakarida

Polisakarida adalah polimer dari banyak monosakarida (biasanya glukosa) yang dihubungkan oleh ikatan glikosidik. Berbeda dengan monosakarida dan disakarida, polisakarida tidak berasa manis dan umumnya tidak larut dalam air.

Jenis-Jenis Polisakarida Penting

A5-a. Pati (Amilum)

Merupakan cadangan energi pada tumbuhan. Terdiri dari dua komponen:

  • Amilosa (20-30%): Rantai lurus α-glukosa dengan ikatan α-1,4-glikosidik. Memberikan warna biru dengan iodium.
  • Amilopektin (70-80%): Rantai bercabang dengan ikatan α-1,4-glikosidik (rantai utama) dan α-1,6-glikosidik (cabang). Memberikan warna ungu kemerahan dengan iodium.

A5-b. Glikogen

Disebut juga "pati hewan", merupakan cadangan energi pada hewan dan manusia (disimpan di hati dan otot). Strukturnya mirip amilopektin tetapi lebih bercabang.

A5-c. Selulosa

Merupakan komponen struktural utama dinding sel tumbuhan. Terdiri dari rantai lurus β-glukosa dengan ikatan β-1,4-glikosidik. Manusia tidak dapat mencerna selulosa karena tidak memiliki enzim selulase.

A5-d. Kitin

Penyusun eksoskeleton (kerangka luar) arthropoda (serangga, udang, kepiting) dan dinding sel jamur. Terdiri dari N-asetilglukosamin dengan ikatan β-1,4-glikosidik.

Polisakarida Monomer Jenis Ikatan Fungsi Reaksi dengan Iodin
Pati α-glukosa α-1,4 dan α-1,6 Cadangan energi tumbuhan Warna biru (amilosa)
Glikogen α-glukosa α-1,4 dan α-1,6 Cadangan energi hewan Warna merah-coklat
Selulosa β-glukosa β-1,4 Struktur dinding sel tumbuhan Tidak bereaksi
Kitin N-asetilglukosamin β-1,4 Eksoskeleton arthropoda Tidak bereaksi

A6. Reaksi Pengenalan Karbohidrat

Beberapa uji kimia digunakan untuk mengidentifikasi jenis karbohidrat:

Uji Prinsip Hasil Positif Mengidentifikasi
Molisch Dehidrasi karbohidrat oleh H2SO4 pekat menjadi furfural yang bereaksi dengan α-naftol Cincin ungu di batas cairan Semua karbohidrat
Benedict/Fehling Reduksi Cu2+ (biru) menjadi Cu+ (Cu2O merah bata) oleh gula pereduksi Endapan merah bata Gula pereduksi (monosakarida dan beberapa disakarida)
Tollens Reduksi Ag+ menjadi Ag (cermin perak) oleh gula pereduksi Cermin perak pada dinding tabung Gula pereduksi
Iodin Pembentukan kompleks antara amilosa dan iodium Warna biru tua Pati (amilosa)
Barfoed Reduksi Cu2+ dalam kondisi asam lemah Endapan merah bata cepat Monosakarida (berbeda dari disakarida)
Seliwanoff Dehidrasi ketosa oleh HCl menjadi hidroksimetilfurfural bereaksi dengan resorsinol Warna merah ceri Ketosa (fruktosa)

Perbedaan Uji Benedict dan Barfoed: Uji Benedict untuk semua gula pereduksi, sedangkan uji Barfoed khusus membedakan monosakarida (bereaksi cepat) dari disakarida (bereaksi lambat).

A7. Latihan Soal dan Pembahasan

Soal 1: Struktur dan Jenis Karbohidrat

Suatu karbohidrat memiliki rumus molekul C6H12O6, memberikan hasil positif pada uji Benedict, dan menghasilkan warna merah ceri pada uji Seliwanoff. Tentukan:

  1. Jenis karbohidrat tersebut (monosakarida, disakarida, atau polisakarida)
  2. Termasuk aldosa atau ketosa?
  3. Sebutkan satu contoh senyawa yang memiliki sifat tersebut!

Jawaban:

a. Karbohidrat tersebut adalah monosakarida karena memiliki rumus C6H12O6 yang merupakan rumus umum heksosa.

b. Termasuk ketosa karena memberikan hasil positif pada uji Seliwanoff yang spesifik untuk ketosa.

c. Contoh senyawa: Fruktosa (gula buah). Fruktosa memiliki rumus C6H12O6, merupakan gula pereduksi (positif Benedict), dan merupakan ketosa (positif Seliwanoff).

Soal 2: Disakarida dan Ikatan Glikosidik

Hidrolisis lengkap 1 molekul laktosa menghasilkan 2 molekul monosakarida.

  1. Tuliskan reaksi hidrolisis laktosa secara lengkap!
  2. Sebutkan jenis ikatan yang menghubungkan kedua monosakarida dalam laktosa!
  3. Mengapa laktosa memberikan hasil positif pada uji Benedict?

Jawaban:

a. Reaksi hidrolisis laktosa:

Laktosa (C12H22O11) + H2O → Glukosa (C6H12O6) + Galaktosa (C6H12O6)

b. Ikatan pada laktosa adalah ikatan β-1,4-glikosidik karena menghubungkan atom karbon nomor 1 pada galaktosa (β) dengan atom karbon nomor 4 pada glukosa.

c. Laktosa memberikan hasil positif pada uji Benedict karena memiliki gugus pereduksi bebas pada molekul glukosanya. Pada laktosa, hanya gugus anomerik galaktosa yang terikat, sedangkan gugus anomerik glukosa tetap bebas dan dapat mereduksi ion Cu2+.

Soal 3: Polisakarida dan Sifatnya

Diberikan tiga sampel polisakarida: pati, glikogen, dan selulosa. Bagaimana cara membedakan ketiga polisakarida tersebut melalui uji kimia sederhana? Jelaskan prosedur dan hasil yang diharapkan!

Jawaban:

Langkah-langkah membedakan ketiga polisakarida:

  1. Uji Iodin:
    • Pati: Memberikan warna biru tua/ungu karena adanya amilosa
    • Glikogen: Memberikan warna merah-coklat
    • Selulosa: Tidak memberikan perubahan warna (tetap coklat muda)
  2. Uji Kelarutan dalam Air Panas:
    • Pati: Membentuk koloid/larutan keruh
    • Glikogen: Larut sebagian
    • Selulosa: Tidak larut sama sekali
  3. Uji Hidrolisis dengan HCl kemudian uji Benedict:
    • Semua akan positif setelah hidrolisis karena terurai menjadi glukosa (gula pereduksi)
    • Pati dan glikogen lebih mudah terhidrolisis daripada selulosa

Dengan kombinasi uji-uji di atas, ketiga polisakarida dapat dibedakan dengan jelas.

Soal 4: Aplikasi Konsep Karbohidrat

Seorang siswa melakukan percobaan terhadap tiga sampel larutan makanan. Hasil pengujian adalah sebagai berikut:

Sampel Uji Benedict Uji Iodin Uji Barfoed
A Positif (endapan merah bata) Negatif Positif cepat (endapan merah bata dalam 2 menit)
B Positif (endapan merah bata) Negatif Positif lambat (endapan merah bata dalam 10 menit)
C Negatif (tetap biru) Positif (warna biru tua) Negatif

Tentukan jenis karbohidrat yang mungkin terdapat pada masing-masing sampel dan jelaskan alasanmu!

Jawaban:

Sampel A: Kemungkinan mengandung monosakarida (seperti glukosa atau fruktosa). Alasan: Positif Benedict menunjukkan gula pereduksi, negatif iodin menunjukkan bukan pati, positif cepat Barfoed menunjukkan monosakarida (bukan disakarida).

Sampel B: Kemungkinan mengandung disakarida pereduksi (seperti maltosa atau laktosa). Alasan: Positif Benedict menunjukkan gula pereduksi, negatif iodin menunjukkan bukan pati, positif lambat Barfoed menunjukkan disakarida pereduksi.

Sampel C: Kemungkinan mengandung pati. Alasan: Negatif Benedict menunjukkan bukan gula pereduksi, positif iodin menunjukkan pati (karena memberi warna biru), negatif Barfoed sesuai karena pati bukan monosakarida.

Soal 5: Perbandingan Sifat Karbohidrat

Buatlah tabel perbandingan antara sukrosa, laktosa, dan maltosa berdasarkan:

  1. Monosakarida penyusun
  2. Jenis ikatan glikosidik
  3. Sifat sebagai gula pereduksi atau non-pereduksi
  4. Sumber alaminya

Jawaban:

Disakarida Monosakarida Penyusun Jenis Ikatan Sifat Pereduksi Sumber Alami
Sukrosa Glukosa + Fruktosa α-1,2-glikosidik Non-pereduksi Tebu, bit, maple
Laktosa Glukosa + Galaktosa β-1,4-glikosidik Pereduksi Susu mamalia
Maltosa Glukosa + Glukosa α-1,4-glikosidik Pereduksi Kecambah biji-bijian, hidrolisis pati

Penjelasan tambahan: Sukrosa bersifat non-pereduksi karena kedua gugus pereduksi (aldehid pada glukosa dan keton pada fruktosa) saling berikatan. Sedangkan pada laktosa dan maltosa, masih ada gugus pereduksi bebas yang dapat mereduksi ion Cu2+ dalam uji Benedict.

B. PROTEIN

Protein adalah biomolekul kompleks yang tersusun atas rantai asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Protein memiliki peran vital dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup.

B1. Asam Amino

Asam amino adalah monomer penyusun protein. Terdapat 20 jenis asam amino standar yang membentuk protein dalam tubuh manusia. Struktur umum asam amino terdiri dari:

  • Gugus amino (-NH2)
  • Gugus karboksil (-COOH)
  • Atom hidrogen (-H)
  • Gugus R (rantai samping) yang berbeda untuk setiap asam amino
Struktur umum: H2N-CHR-COOH

B2. Ion Zwitter

Asam amino dapat membentuk ion zwitter (dari bahasa Jerman "zwitter" berarti hibrida) dalam larutan air. Pada kondisi pH tertentu (titik isoelektrik), asam amino memiliki muatan positif dan negatif secara bersamaan.

H3N+-CHR-COO-

Pada pH rendah (asam), asam amino bermuatan positif. Pada pH tinggi (basa), asam amino bermuatan negatif. Pada titik isoelektrik, muatan netto = 0.

B3. Asam Amino Esensial dan Nonesensial

Jenis Jumlah Contoh Keterangan
Asam Amino Esensial 9 jenis Leusin, Lisin, Valin, Isoleusin, dll. Tidak dapat disintesis tubuh, harus dari makanan
Asam Amino Nonesensial 11 jenis Alanin, Serin, Glutamat, Aspartat, dll. Dapat disintesis tubuh dari senyawa lain

B4. Ikatan Peptida

Ikatan peptida adalah ikatan kovalen yang menghubungkan gugus karboksil suatu asam amino dengan gugus amino asam amino lainnya, dengan melepas molekul air (reaksi kondensasi).

-NH-CHR-CO-NH-CHR'-CO-

Ikatan peptida memiliki karakteristik:

  • Ikatan amida (-CO-NH-)
  • Memiliki sifat parsial rangkap (hibrid resonansi)
  • Panjang ikatan 1,32 Å (antara ikatan tunggal dan rangkap)
  • Planar (atom C, O, N, H pada bidang yang sama)

B5. Struktur Protein

Protein memiliki empat tingkat struktur:

Tingkat Struktur Deskripsi Stabilisasi Contoh
Primer Urutan linear asam amino Ikatan peptida kovalen Insulin, hemoglobin
Sekunder Pelipatan lokal rantai polipeptida Ikatan hidrogen antar gugus -NH dan -CO α-heliks, β-sheet
Tersier Pelipatan tiga dimensi satu rantai polipeptida Ikatan hidrogen, ionik, van der Waals, disulfida Mioglobin, ribonuklease
Kuarterner Asosiasi beberapa subunit protein Interaksi non-kovalen antar subunit Hemoglobin (4 subunit), kolesterol

B6. Hidrolisis Protein/Peptida

Hidrolisis protein adalah pemutusan ikatan peptida menjadi asam amino penyusunnya dengan penambahan air. Dapat dilakukan dengan:

  • Hidrolisis asam/basa: Menggunakan HCl pekat atau NaOH pada suhu tinggi
  • Hidrolisis enzimatik: Menggunakan enzim protease (pepsin, tripsin)
Protein + nH2O → Asam amino

B7. Denaturasi Protein

Denaturasi adalah perubahan struktur protein (sekunder, tersier, kuarterner) tanpa memutus ikatan peptida, menyebabkan hilangnya fungsi biologis protein.

Penyebab denaturasi:

  • Suhu tinggi: Memutus ikatan non-kovalen (telur matang)
  • pH ekstrim: Mengubah muatan protein
  • Pelarut organik: Mengganggu interaksi hidrofobik
  • Detergen: Mengganggu ikatan hidrofobik
  • Logam berat: Mengendapkan protein (Hg2+, Pb2+)
  • Adukan mekanik: Memutus ikatan non-koveden (mengocok putih telur)

Perbedaan Denaturasi vs Koagulasi: Denaturasi adalah perubahan struktur, sedangkan koagulasi adalah penggumpalan protein yang telah terdenaturasi.

B8. Penggolongan Protein

Berdasarkan Komposisi:

Jenis Komposisi Contoh
Protein sederhana Hanya tersusun dari asam amino Albumin, globulin, histon
Protein konjugasi Asam amino + gugus non-protein (prostetik) Hemoglobin (hem), lipoprotein (lipid), glikoprotein (karbohidrat)

Berdasarkan Bentuk:

Jenis Karakteristik Contoh Fungsi
Protein fibrosa Bentuk serat, tidak larut air, stabil Kolagen, keratin, fibrin Struktural
Protein globular Bentuk bola, larut air, mudah terdenaturasi Enzim, hemoglobin, antibodi Fungsional

B9. Reaksi Pengenalan Protein

Uji Prinsip Hasil Positif Spesifisitas
Biuret Kompleks Cu2+ dengan ikatan peptida dalam suasana basa Warna ungu/violet Ikatan peptida (minimal 2)
Xantoproteat Nitrasi cincin benzena pada asam amino aromatik dengan HNO3 pekat Warna kuning (asam) → jingga (basa) Tirosin, fenilalanin, triptofan
Millon Reaksi ion merkuri dengan gugus fenol Endapan merah Tirosin
Ninhidrin Oksidasi asam amino α menghasilkan amonia + ninhidrin tereduksi Warna biru-ungu (asam amino) / kuning (prolin) Semua asam amino α
Hopkins-Cole Reaksi indol (triptofan) dengan aldehid dalam H2SO4 Cincin ungu Triptofan
Timbal asetat Deteksi belerang (S) dalam protein Endapan hitam (PbS) Sistein, metionin

Uji Biuret: Tidak hanya untuk protein, tetapi juga senyawa dengan minimal 2 ikatan peptida. Hasil positif: ungu (protein), merah muda (dipeptida), biru (tidak ada ikatan peptida).

B10. Latihan Soal dan Pembahasan Protein

Soal 1: Struktur Asam Amino dan Ion Zwitter

Suatu asam amino memiliki titik isoelektrik (pI) pada pH 6.0. Jika asam amino tersebut dilarutkan dalam larutan dengan pH 4.0:

  1. Bagaimana muatan keseluruhan asam amino tersebut?
  2. Bagaimana pergerakan asam amino tersebut dalam medan listrik (elektroforesis)?
  3. Tuliskan struktur ion zwitter asam amino alanin (R = -CH3) pada titik isoelektriknya!

Jawaban:

a. Pada pH 4.0 (lebih rendah dari pI 6.0), asam amino bermuatan positif. Karena pH < pI, berarti lingkungan lebih asam, sehingga gugus -NH2 akan menerima proton menjadi -NH3+, sedangkan gugus -COOH tetap sebagai -COOH (tidak terionisasi).

b. Karena bermuatan positif, asam amino akan bergerak ke katoda (elektroda negatif) dalam elektroforesis.

c. Struktur ion zwitter alanin pada titik isoelektrik:

H3N+-CH(CH3)-COO-
Soal 2: Ikatan Peptida dan Struktur Protein

Seorang peneliti mengisolasi protein dengan sifat-sifat berikut:

  • Berbentuk serat panjang
  • Tidak larut dalam air
  • Stabil terhadap perubahan pH dan suhu
  • Banyak mengandung asam amino dengan rantai samping non-polar

Tentukan:

  1. Termasuk protein fibrosa atau globular?
  2. Tingkat struktur protein mana yang paling menentukan sifat di atas?
  3. Sebutkan 2 contoh protein dengan sifat serupa!

Jawaban:

a. Berdasarkan sifatnya, protein tersebut termasuk protein fibrosa. Ciri-ciri protein fibrosa: berbentuk serat, tidak larut air, stabil, banyak mengandung asam amino non-polar.

b. Sifat-sifat di atas paling ditentukan oleh struktur tersier (pelipatan tiga dimensi) dan komposisi asam amino. Protein fibrosa memiliki struktur tersier yang memanjang dan stabil.

c. Contoh protein fibrosa: kolagen (protein pada kulit, tulang, tendon) dan keratin (protein pada rambut, kuku, bulu).

Soal 3: Denaturasi Protein

Jelaskan mengapa:

  1. Memanaskan putih telur menyebabkan perubahan dari cairan bening menjadi padatan putih?
  2. Menambahkan cuka (asam asetat) pada susu menyebabkan penggumpalan?
  3. Logam berat seperti merkuri (Hg2+) bersifat racun bagi tubuh?

Jawaban:

a. Pemanasan putih telur menyebabkan denaturasi protein (terutama ovalbumin). Suhu tinggi memutus ikatan hidrogen dan interaksi hidrofobik yang menstabilkan struktur protein, menyebabkan protein terurai dan membentuk jaringan padat (koagulasi).

b. Penambahan cuka menurunkan pH susu mendekati titik isoelektrik protein susu (kasein). Pada titik isoelektrik, muatan protein netral, mengurangi gaya tolak-menolak antar molekul protein, sehingga terjadi agregasi dan penggumpalan.

c. Ion logam berat seperti Hg2+ bereaksi dengan gugus sulfhidril (-SH) pada protein (terutama enzim), membentuk ikatan kuat yang mendenaturasi protein dan menghambat fungsi enzim esensial dalam tubuh.

Soal 4: Uji Pengenalan Protein

Seorang siswa melakukan uji terhadap tiga sampel protein dengan hasil sebagai berikut:

Sampel Uji Biuret Uji Xantoproteat Uji Timbal Asetat
A Ungu Kuning → Jingga Tidak ada endapan
B Ungu Tidak berwarna Endapan hitam
C Biru (negatif) Tidak berwarna Tidak ada endapan

Analisis sifat-sifat sampel A, B, dan C berdasarkan hasil uji di atas!

Jawaban:

Sampel A: Protein yang mengandung asam amino aromatik (positif xantoproteat) tetapi tidak mengandung belerang (negatif timbal asetat). Contoh: protein kaya tirosin/fenilalanin tetapi miskin sistein/metionin.

Sampel B: Protein yang tidak mengandung asam amino aromatik (negatif xantoproteat) tetapi mengandung belerang (positif timbal asetat). Contoh: protein kaya sistein/metionin tetapi miskin tirosin/fenilalanin/triptofan.

Sampel C: Bukan protein atau peptida dengan ikatan peptida minimal 2 (negatif biuret), tidak mengandung asam amino aromatik (negatif xantoproteat), dan tidak mengandung belerang (negatif timbal asetat). Mungkin asam amino tunggal atau senyawa lain.

Soal 5: Hidrolisis Protein dan Aplikasi

Dalam industri makanan, hidrolisis protein memiliki berbagai aplikasi:

  1. Mengapa protein perlu dihidrolisis dalam pembuatan kecap?
  2. Apa perbedaan hidrolisis asam dan hidrolisis enzimatik dalam produksi protein terhidrolisis?
  3. Jelaskan bagaimana prinsip hidrolisis protein digunakan dalam tes alergi makanan!

Jawaban:

a. Protein kedelai (dalam pembuatan kecap) dihidrolisis untuk:

  • Memecah protein menjadi asam amino dan peptida kecil yang larut
  • Menghasilkan rasa umami (gurih) dari asam amino glutamat
  • Membuat produk yang lebih mudah dicerna

b. Perbedaan hidrolisis asam vs enzimatik:

Aspect Hidrolisis Asam Hidrolisis Enzimatik
Suhu Tinggi (100-130°C) Sedang (30-60°C)
Spesifisitas Tidak spesifik, semua ikatan terputus Spesifik, tergantung enzim
Produk Asam amino bebas, mungkin rusak Peptida spesifik, asam amino utuh

c. Dalam tes alergi makanan, protein alergen dihidrolisis parsial untuk menghasilkan peptida yang mempertahankan epitop (bagian yang dikenali antibodi) tetapi mengurangi kemampuan menyebabkan reaksi alergi parah, sehingga dapat digunakan untuk tes kulit atau desensitisasi.

C. LIPID

Lipid adalah kelompok senyawa organik heterogen yang bersifat hidrofobik (tidak larut dalam air) tetapi larut dalam pelarut organik non-polar seperti eter, kloroform, dan benzena. Lipid berperan penting dalam penyimpanan energi, penyusun membran sel, dan fungsi biologis lainnya.

C1. Pengertian dan Fungsi Lipid

Lipid bukanlah suatu kelas senyawa tunggal tetapi merupakan kelompok senyawa dengan sifat kelarutan yang serupa. Fungsi utama lipid meliputi:

Fungsi Penjelasan Contoh Lipid
Sumber dan Cadangan Energi Menyediakan 9 kkal/g (lebih tinggi dari karbohidrat dan protein) Triglisrida dalam jaringan adiposa
Penyusun Membran Sel Membentuk bilayer fosfolipid yang semipermeabel Fosfolipid, kolesterol
Insulasi dan Proteksi Melindungi organ dan menjaga suhu tubuh Lemak subkutan
Pelarut Vitamin Melarutkan vitamin A, D, E, K (vitamin larut lemak) Lemak makanan
Prekursor Hormon Bahan baku sintesis hormon steroid Kolesterol

C2. Klasifikasi Lipid

Berdasarkan struktur kimianya, lipid diklasifikasikan menjadi:

C2-a. Lipid Sederhana

Esters asam lemak dengan berbagai alkohol.

  • Lemak netral (Triglisrida): Esters asam lemak dengan gliserol
  • Minyak: Triglisrida yang cair pada suhu kamar
  • Lilin (Wax): Esters asam lemak dengan alkohol monohidrat berantai panjang

C2-b. Lipid Kompleks (Kompleks Lipid)

Mengandung gugus tambahan selain asam lemak dan alkohol.

  • Fosfolipid: Mengandung gugus fosfat
  • Glikolipid: Mengandung karbohidrat
  • Lipoprotein: Kombinasi lipid dengan protein

C2-c. Lipid Turunan (Derived Lipids)

Hasil hidrolisis lipid sederhana atau kompleks.

  • Asam lemak: Penyusun berbagai lipid
  • Steroid: Struktur inti sterana (4 cincin terpadu)
  • Terpena: Disusun oleh unit isoprena

C3. Sifat Fisik-Kimia Lipid

C3-a. Sifat Fisik

  • Titik Leleh: Dipengaruhi oleh tingkat kejenuhan asam lemak
    • Asam lemak jenuh: titik leleh tinggi (padat)
    • Asam lemak tak jenuh: titik leleh rendah (cair)
  • Bilangan Iodin: Indikator tingkat ketidakjenuhan (makin tinggi, makin tak jenuh)
  • Bilangan Penyabunan: Berat molekul rata-rata asam lemak dalam lemak
  • Kelarutan: Tidak larut air, larut pelarut organik

C3-b. Sifat Kimia

  • Hidrolisis: Pemecahan lemak menjadi asam lemak dan gliserol
  • Saponifikasi: Hidrolisis lemak dengan basa menghasilkan sabun
  • Hidrogenasi: Penambahan H2 pada ikatan rangkap (mengubah minyak menjadi margarin)
  • Oksidasi dan Ketengikan: Kerusakan lemak oleh oksigen udara

C4. Asam Lemak

Asam lemak adalah asam karboksilat dengan rantai hidrokarbon panjang. Klasifikasi asam lemak:

Jenis Struktur Sifat Contoh Sumber
Jenuh Semua ikatan C-C tunggal Padat, titik leleh tinggi, stabil Asam palmitat (C16:0), asam stearat (C18:0) Lemak hewan, minyak kelapa sawit
Tak Jenuh Tunggal 1 ikatan rangkap C=C Cair, titik leleh sedang Asam oleat (C18:1, ω-9) Minyak zaitun, minyak canola
Tak Jenuh Ganda ≥2 ikatan rangkap C=C Cair, titik leleh rendah, mudah tengik Asam linoleat (ω-6), asam α-linolenat (ω-3) Minyak ikan, minyak biji bunga matahari
Rumus umum asam lemak jenuh: CH3(CH2)nCOOH
Contoh: Asam stearat = CH3(CH2)16COOH

C5. Lemak dan Minyak (Triglisrida)

Triglisrida adalah ester yang terbentuk dari satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak. Merupakan bentuk utama penyimpanan energi pada hewan (lemak) dan tumbuhan (minyak).

Struktur triglisrida: CH2OCOR1 - CHOCOR2 - CH2OCOR3

Perbedaan Lemak dan Minyak:

Aspek Lemak Minyak
Wujud pada suhu kamar Padat Cair
Asam lemak penyusun Lebih banyak jenuh Lebih banyak tak jenuh
Titik leleh Tinggi Rendah
Sumber Hewan (lemak sapi, babi) Tumbuhan (minyak kelapa, zaitun)

C6. Fosfolipid

Fosfolipid adalah lipid yang mengandung gugus fosfat. Merupakan komponen utama membran sel (membentuk bilayer fosfolipid).

Struktur fosfolipid: Gliserol + 2 asam lemak + gugus fosfat + gugus kepala polar

Struktur amfipatik:

  • Kepala polar: Hidrofilik (suka air), mengandung fosfat dan gugus tambahan seperti kolin, serin, etanolamin
  • Ekor non-polar: Hidrofobik (takut air), terdiri dari rantai asam lemak

Contoh fosfolipid penting:

  • Fosfatidilkolin (lesitin): Komponen utama membran sel, emulsifier alami
  • Fosfatidiletanolamin (kefalin): Berperan dalam pembekuan darah
  • Fosfatidilserin: Berperan dalam sinyal apoptosis

C7. Steroid

Steroid adalah lipid dengan struktur dasar berupa empat cincin karbon terpadu (3 cincin sikloheksana dan 1 cincin siklopentana).

Inti steroid: Cincin A, B, C (sikloheksana) + cincin D (siklopentana)

Contoh steroid penting:

Steroid Fungsi Sumber
Kolesterol Komponen membran sel, prekursor hormon steroid, vitamin D, asam empedu Hati, makanan hewani
Hormon Steroid
  • Kortisol: Regulasi metabolisme, respons stres
  • Estrogen/progesteron: Hormon seks wanita
  • Testosteron: Hormon seks pria
Kelenjar adrenal, gonad
Asam Empedu Emulsifikasi lemak dalam pencernaan Hati
Vitamin D Metabolisme kalsium dan fosfor Sinar matahari, makanan

C8. Reaksi Kimia Lipid

C8-a. Hidrolisis

Pemecahan triglisrida menjadi gliserol dan asam lemak dengan bantuan air.

Triglisrida + 3H2O → Gliserol + 3 Asam Lemak

C8-b. Saponifikasi (Penyabunan)

Hidrolisis triglisrida dengan basa kuat (NaOH/KOH) menghasilkan sabun (garam asam lemak) dan gliserol.

Triglisrida + 3NaOH → Gliserol + 3RCOONa (sabun)

Contoh Saponifikasi:

Asam stearat + NaOH → Natrium stearat (sabun) + H2O

C17H35COOH + NaOH → C17H35COONa + H2O

C8-c. Hidrogenasi

Penambahan hidrogen pada ikatan rangkap asam lemak tak jenuh, mengubah minyak menjadi lemak padat.

Asam oleat (tak jenuh) + H2 → Asam stearat (jenuh)

C8-d. Oksidasi dan Ketengikan

Kerusakan lemak/minyak oleh oksigen udara, menghasilkan senyawa berbau dan berasa tidak sedap.

  • Ketengikan hidrolitik: Oleh enzim lipase/air
  • Ketengikan oksidatif: Oleh oksigen udara (radikal bebas)
  • Ketengikan ketonik: Oleh mikroorganisme

C9. Uji Pengenalan Lipid

Uji Prinsip Prosedur Hasil Positif
Uji Kelarutan Lipid larut dalam pelarut organik non-polar Teteskan sampel pada eter/kloroform Larut sempurna
Uji Noda pada Kertas Lipid meninggalkan noda transparan pada kertas Oleskan sampel pada kertas, panaskan Noda transparan permanen
Uji Sudan III/IV Pewarna Sudan larut dalam lipid Campur sampel dengan Sudan III/IV Warna merah/oranye pada lipid
Uji Akrolein Dekomposisi gliserol menjadi akrolein yang berbau tajam Panaskan lemak dengan KHSO4 Bau tajam menyengat (akrolein)
Uji Saponifikasi Pembentukan sabun dari lemak dengan basa Panaskan lemak dengan NaOH, lalu tambahkan NaCl Terbentuk sabun (mengapung/mengendap)

C10. Latihan Soal dan Pembahasan Lipid

Soal 1: Sifat dan Klasifikasi Lipid

Seorang siswa mengamati dua sampel lipid dengan sifat sebagai berikut:

  • Sampel A: Padat pada suhu kamar (25°C), berasal dari hewan
  • Sampel B: Cair pada suhu kamar, berasal dari tumbuhan

Berdasarkan sifat tersebut:

  1. Manakah yang mengandung lebih banyak asam lemak jenuh?
  2. Mengapa sampel A padat sedangkan B cair pada suhu yang sama?
  3. Jika dilakukan hidrogenasi pada sampel B, apa yang akan terjadi?

Jawaban:

a. Sampel A mengandung lebih banyak asam lemak jenuh. Lemak hewani umumnya kaya asam lemak jenuh yang menyebabkan titik leleh tinggi dan berwujud padat pada suhu kamar.

b. Sampel A padat karena mengandung asam lemak jenuh lebih banyak yang memiliki struktur rantai lurus sehingga dapat berkemas rapat dengan interaksi van der Waals yang kuat. Sampel B cair karena mengandung asam lemak tak jenuh lebih banyak yang memiliki ikatan rangkap menyebabkan struktur rantai bengkok, tidak dapat berkemas rapat, sehingga interaksi antar molekul lemah dan titik leleh rendah.

c. Hidrogenasi pada sampel B akan menambah atom hidrogen pada ikatan rangkap, mengubah asam lemak tak jenuh menjadi jenuh. Hal ini akan meningkatkan titik leleh sampel B, dan dapat mengubahnya dari cair menjadi semi-padat atau padat (seperti dalam pembuatan margarin dari minyak nabati).

Soal 2: Fosfolipid dan Membran Sel

Fosfolipid merupakan komponen utama membran sel.

  1. Jelaskan struktur amfipatik fosfolipid!
  2. Bagaimana sifat kelarutan bagian kepala dan ekor fosfolipid?
  3. Mengapa fosfolipid dapat membentuk bilayer dalam air?
  4. Sebutkan perbedaan fosfolipid dengan triglisrida!

Jawaban:

a. Struktur amfipatik fosfolipid terdiri dari:

  • Kepala polar/hidrofilik: Terdiri dari gugus fosfat dan gugus tambahan (seperti kolin, etanolamin)
  • Ekor non-polar/hidrofobik: Terdiri dari dua rantai asam lemak (sering satu jenuh dan satu tak jenuh)

b. Sifat kelarutan:

  • Bagian kepala: Hidrofilik (suka air), larut dalam air karena bermuatan atau polar
  • Bagian ekor: Hidrofobik (takut air), tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik non-polar

c. Fosfolipid membentuk bilayer dalam air karena:

  • Bagian kepala polar berinteraksi dengan air (mengarah ke fase air)
  • Bagian ekor non-polar menghindari air (mengarah ke dalam, saling berinteraksi)
  • Susunan ini meminimalkan energi dan menstabilkan sistem

d. Perbedaan fosfolipid dan triglisrida:

Aspek Fosfolipid Trigliserida
Jumlah asam lemak 2 3
Gugus tambahan Gugus fosfat + kepala polar Tidak ada
Fungsi utama Komponen membran sel Cadangan energi
Sifat Amfipatik Hidrofobik
Soal 3: Reaksi Kimia Lipid

Tuliskan reaksi kimia untuk proses berikut:

  1. Saponifikasi tristearin (trigliserida asam stearat) dengan NaOH
  2. Hidrogenasi asam oleat (C18H34O2)
  3. Hidrolisis triolein (trigliserida asam oleat)

Jawaban:

a. Saponifikasi tristearin:

(C17H35COO)3C3H5 + 3NaOH → C3H5(OH)3 + 3C17H35COONa
Tristearin + Natrium hidroksida → Gliserol + Natrium stearat (sabun)

b. Hidrogenasi asam oleat:

C17H33COOH + H2 → C17H35COOH
Asam oleat (tak jenuh) + Hidrogen → Asam stearat (jenuh)

c. Hidrolisis triolein:

(C17H33COO)3C3H5 + 3H2O → C3H5(OH)3 + 3C17H33COOH
Triolein + Air → Gliserol + Asam oleat
Soal 4: Steroid dan Kolesterol

Kolesterol sering disebut sebagai "lipid esensial yang kontroversial".

  1. Sebutkan 3 fungsi kolesterol dalam tubuh!
  2. Mengapa kolesterol perlu diatur kadarnya dalam darah?
  3. Apa perbedaan LDL dan HDL? Manakah yang disebut "kolesterol jahat" dan mengapa?
  4. Bagaimana struktur dasar steroid?

Jawaban:

a. Tiga fungsi kolesterol:

  1. Komponen membran sel: Memengaruhi fluiditas membran
  2. Prekursor hormon steroid: Seperti kortisol, estrogen, testosteron
  3. Prekursor vitamin D dan asam empedu: Untuk metabolisme kalsium dan pencernaan lemak

b. Kadar kolesterol perlu diatur karena:

  • Kolesterol berlebih dapat mengendap di dinding pembuluh darah membentuk plak aterosklerosis
  • Dapat menyumbat pembuluh darah menyebabkan penyakit jantung dan stroke
  • Tubuh sudah memproduksi kolesterol sendiri, asupan berlebih dari makanan meningkatkan risiko

c. Perbedaan LDL dan HDL:

Parameter LDL (Low Density Lipoprotein) HDL (High Density Lipoprotein)
Kepadatan Rendah Tinggi
Fungsi Mengangkut kolesterol dari hati ke jaringan Mengangkut kolesterol dari jaringan ke hati
Julukan "Kolesterol jahat" "Kolesterol baik"
Alasan Meningkatkan deposisi kolesterol di pembuluh darah Membersihkan kolesterol dari pembuluh darah

d. Struktur dasar steroid terdiri dari empat cincin karbon terpadu: 3 cincin sikloheksana (cincin A, B, C) dan 1 cincin siklopentana (cincin D). Pada kolesterol, terdapat rantai samping pada C17 dan gugus hidroksil pada C3.

Soal 5: Aplikasi dan Identifikasi Lipid

Seorang siswa memiliki 3 sampel: minyak goreng, margarin, dan sabun batang.

  1. Bagaimana cara membedakan ketiganya dengan uji kelarutan dalam air dan eter?
  2. Uji apa yang dapat membedakan minyak goreng dengan margarin?
  3. Mengapa sabun dapat membersihkan lemak/minyak yang menempel di piring?
  4. Jelaskan mekanisme kerja sabun sebagai emulsifier!

Jawaban:

a. Uji kelarutan:

Sampel Dalam Air Dalam Eter
Minyak goreng Tidak larut (terpisah) Larut sempurna
Margarin Tidak larut (terpisah) Larut sempurna
Sabun batang Larut (membentuk larutan berbuih) Tidak larut atau larut sebagian

b. Untuk membedakan minyak goreng dan margarin:

  • Uji wujud pada suhu kamar: Minyak goreng cair, margarin padat/semi-padat
  • Uji titik leleh: Margarin memiliki titik leleh lebih tinggi
  • Uji derajat ketidakjenuhan (bilangan iodin): Minyak goreng biasanya lebih tidak jenuh (bilangan iodin lebih tinggi)

c. Sabun dapat membersihkan lemak karena:

  • Struktur amfipatik: kepala polar (hidrofilik) dan ekor non-polar (hidrofobik)
  • Ekor hidrofobik mengikat partikel lemak/minyak
  • Kepala hidrofilik berinteraksi dengan air
  • Membentuk misel yang mengemulsi lemak sehingga dapat dibilas dengan air

d. Mekanisme sabun sebagai emulsifier:

  1. Molekul sabun mengelilingi tetesan minyak dengan ekor hidrofobik mengarah ke minyak
  2. Kepala hidrofilik mengarah ke air
  3. Terbentuk misel yang menstabilkan emulsi minyak dalam air
  4. Muatan negatif pada kepala sabun menyebabkan misel saling tolak, mencegah penggabungan kembali
  5. Misel dapat dibilas dengan air karena bagian luarnya hidrofilik

D. ASAM NUKLEAT

Asam nukleat adalah biomolekul yang berfungsi sebagai penyimpan dan pembawa informasi genetik pada semua organisme hidup. Terdapat dua jenis utama asam nukleat: DNA (Deoxyribonucleic Acid) dan RNA (Ribonucleic Acid).

D1. Struktur Asam Nukleat

D1-a. Komponen Penyusun Asam Nukleat

Asam nukleat tersusun atas monomer yang disebut nukleotida. Setiap nukleotida terdiri dari tiga komponen:

Komponen Deskripsi Fungsi Contoh
Gula Pentosa Gula dengan 5 atom karbon Menyediakan kerangka struktur Ribosa (RNA), Deoksiribosa (DNA)
Gugus Fosfat Gugus PO43- Memberikan muatan negatif, menghubungkan nukleotida Asam fosfat
Basa Nitrogen Senyawa heterosiklik mengandung nitrogen Penyimpan informasi genetik Adenin, Guanin, Sitosin, Timin, Urasil
Struktur nukleotida: Basa Nitrogen - Gula Pentosa - Gugus Fosfat

D1-b. Basa Nitrogen

Basa nitrogen pada asam nukleat dikelompokkan menjadi dua jenis:

Kelompok Struktur Basa Jenis Asam Nukleat Pasangan Basa
Purina Cincin ganda (6+5 anggota) Adenin (A), Guanin (G) DNA dan RNA A-T (DNA), A-U (RNA)
Pirimidina Cincin tunggal (6 anggota) Sitosin (C), Timin (T), Urasil (U) T: DNA saja, U: RNA saja G-C (DNA dan RNA)

Aturan Chargaff: Dalam DNA, jumlah adenin = timin (A=T) dan jumlah guanin = sitosin (G=C). Jumlah purina = pirimidina (A+G = T+C).

D1-c. Ikatan dalam Asam Nukleat

  • Ikatan Fosfodiester: Menghubungkan gugus fosfat suatu nukleotida dengan gugus OH pada karbon 3' gula pentosa nukleotida berikutnya
  • Ikatan Hidrogen: Menghubungkan pasangan basa komplementer antara dua rantai DNA (A-T: 2 ikatan H; G-C: 3 ikatan H)
  • Ikatan Glikosidik: Menghubungkan basa nitrogen dengan gula pentosa pada karbon 1'

D2. Perbedaan DNA dan RNA

Karakteristik DNA (Asam Deoksiribonukleat) RNA (Asam Ribonukleat)
Gula Pentosa Deoksiribosa (kehilangan O pada C2') Ribosa (memiliki OH pada C2')
Basa Nitrogen Adenin, Guanin, Sitosin, Timin Adenin, Guanin, Sitosin, Urasil
Struktur Double helix (rantai ganda), panjang, stabil Single strand (rantai tunggal), pendek, tidak stabil
Lokasi dalam Sel Nukleus, mitokondria, kloroplas Nukleus, sitoplasma, ribosom
Fungsi Penyimpan informasi genetik, replikasi Transkripsi, translasi, regulasi gen
Stabilitas Kimia Stabil (deoksiribosa lebih tahan hidrolisis) Kurang stabil (ribosa rentan hidrolisis)

D3. Struktur DNA: Model Double Helix Watson-Crick

James Watson dan Francis Crick (1953) mengusulkan model struktur DNA:

  • Rantai ganda antiparalel: Dua rantai polinukleotida berjalan berlawanan arah (5'→3' dan 3'→5')
  • Double helix: Berpilinkan ke kanan (heliks B-DNA)
  • Pasangan basa komplementer: A selalu berpasangan dengan T (2 ikatan H), G selalu berpasangan dengan C (3 ikatan H)
  • Backbone luar: Terdiri dari gula-fosfat yang hidrofilik
  • Basa nitrogen di dalam: Terlindung dari lingkungan aqueous, berinteraksi melalui ikatan hidrogen
Panjang satu putaran heliks DNA: 3.4 nm, mengandung 10 pasangan basa
Diameter heliks: 2 nm
Jarak antar pasangan basa: 0.34 nm

D4. Jenis-Jenis RNA dan Fungsinya

Jenis RNA Singkatan Persentase Fungsi Utama Karakteristik
Messenger RNA mRNA 3-5% Membawa kode genetik dari DNA ke ribosom untuk sintesis protein Rantai tunggal, memiliki kodon (triplet nukleotida)
Transfer RNA tRNA 10-15% Mengangkut asam amino ke ribosom selama sintesis protein Struktur daun semanggi (cloverleaf), memiliki antikodon
Ribosomal RNA rRNA 80-85% Komponen struktural dan katalitik ribosom Rantai tunggal, kompleks dengan protein ribosom
Small Nuclear RNA snRNA <1% Terlibat dalam prosesing pre-mRNA (splicing) Komponen spliceosome
Micro RNA miRNA <1% Regulasi ekspresi gen post-transkripsi Rantai pendek (21-25 nukleotida)

D5. Fungsi Asam Nukleat

D5-a. Fungsi DNA

  • Penyimpan informasi genetik: Mengkode semua informasi untuk perkembangan dan fungsi organisme
  • Replikasi: Duplikasi diri untuk pembelahan sel
  • Transkripsi: Template untuk sintesis RNA
  • Mutasi dan variasi genetik: Dasar evolusi dan keragaman spesies

D5-b. Fungsi RNA

  • Sintesis protein: mRNA (template), tRNA (pembawa asam amino), rRNA (katalis)
  • Regulasi gen: miRNA, siRNA mengatur ekspresi gen
  • Katalisis: Ribozim (RNA dengan aktivitas katalitik)
  • Penyimpan informasi genetik: Pada beberapa virus (HIV, influenza)

D6. Proses Sentral Dogma Molekuler

Aliran informasi genetik menurut Francis Crick (1958):

DNA → (Transkripsi) → RNA → (Translasi) → Protein

D6-a. Replikasi DNA

Proses duplikasi DNA sebelum pembelahan sel. Sifat:

  • Semi-konservatif: Masing-masing molekul DNA anak mengandung satu rantai induk dan satu rantai baru
  • Memerlukan primer, DNA polimerase, helicase, ligase
  • Terjadi dalam arah 5'→3'

D6-b. Transkripsi

Sintesis RNA menggunakan DNA sebagai template. Tahapan:

  1. Inisiasi: RNA polimerase berikatan dengan promoter
  2. Elongasi: Penambahan nukleotida RNA (5'→3')
  3. Terminasi: Pengakhiran sintesis RNA
  4. Processing: Splicing, capping, polyadenylation (pada eukariot)

D6-c. Translasi

Sintesis protein menggunakan mRNA sebagai template. Komponen:

  • mRNA: Membawa kode genetik (kodon)
  • tRNA: Membawa asam amino spesifik, memiliki antikodon
  • Ribosom: Tempat sintesis protein (subunit kecil dan besar)
  • Kode genetik: Universal, degenerat, tanpa tumpang tindih

D7. Kode Genetik

Sistem pengkodean informasi genetik dari nukleotida ke asam amino:

  • Kodon: Triplet nukleotida pada mRNA yang mengkode asam amino spesifik
  • 64 kodon: 61 kodon sense (mengkode 20 asam amino), 3 kodon nonsense (stop: UAA, UAG, UGA)
  • Kodon start: AUG (metionin pada eukariot, formilmetionin pada prokariot)
  • Sifat kode genetik:
    • Universal: Sama pada hampir semua organisme
    • Degenerat/Redundan: Satu asam amino dikode oleh lebih dari satu kodon
    • Spesifik: Satu kodon hanya mengkode satu asam amino
    • Non-overlapping: Dibaca sebagai triplet yang terpisah

D8. Uji Pengenalan Asam Nukleat

Uji Prinsip Prosedur Hasil Positif
Uji Diferensial DNA-RNA Deoksiribosa DNA bereaksi dengan difenilamin dalam suasana asam Tambahkan difenilamin + H2SO4 + asetaldehid pada sampel, panaskan DNA: warna biru intens; RNA: warna hijau pucat
Uji Orcinol (Bial) Ribosa RNA bereaksi dengan orcinol dalam suasana asam dengan FeCl3 sebagai katalis Tambahkan reagen Bial (orcinol + HCl + FeCl3) pada sampel, panaskan RNA: warna hijau-biru
Uji Dische Reaksi deoksiribosa dengan difenilamin menghasilkan kompleks berwarna Tambahkan reagen Dische (difenilamin dalam asam asetat + H2SO4) DNA: warna biru; semakin pekat jika konsentrasi DNA tinggi
Uji Murexide Purina dalam asam nukleat menghasilkan murexide (ammonium purpurate) dengan HNO3 dan NH3 Panaskan dengan HNO3 pekat, netralkan dengan NH3 Warna merah/ungu (murexide)
Spektrofotometri UV Basa nitrogen menyerap sinar UV pada λ maks 260 nm Ukur absorbansi pada 260 nm dan 280 nm Rasio A260/A280: DNA murni ≈ 1.8, RNA murni ≈ 2.0

Catatan Penting: Uji difenilamin spesifik untuk DNA karena mendeteksi gula deoksiribosa. Uji orcinol spesifik untuk RNA karena mendeteksi gula ribosa.

D9. Latihan Soal dan Pembahasan Asam Nukleat

Soal 1: Struktur dan Komponen Asam Nukleat

Sebuah nukleotida DNA mengandung basa nitrogen adenin.

  1. Sebutkan tiga komponen penyusun nukleotida tersebut!
  2. Basa nitrogen apa yang akan berpasangan dengan adenin pada rantai DNA komplementer?
  3. Berapa banyak ikatan hidrogen yang menghubungkan pasangan basa tersebut?
  4. Jelaskan perbedaan gula pentosa pada DNA dan RNA!

Jawaban:

a. Tiga komponen penyusun nukleotida:

  1. Gula pentosa: Deoksiribosa (pada DNA)
  2. Gugus fosfat: PO43-
  3. Basa nitrogen: Adenin (dalam kasus ini)

b. Pada rantai DNA komplementer, adenin akan berpasangan dengan timin (T).

c. Pasangan basa A-T dihubungkan oleh 2 ikatan hidrogen.

d. Perbedaan gula pentosa:

Aspek DNA RNA
Nama gula Deoksiribosa Ribosa
Atom pada C2' H (hidrogen) OH (hidroksil)
Stabilitas Lebih stabil terhadap hidrolisis Kurang stabil (OH pada C2' rentan)
Soal 2: Perbedaan DNA dan RNA

Analisis dua sampel asam nukleat memberikan data berikut:

  • Sampel X: Mengandung deoksiribosa, basa timin, struktur double helix
  • Sampel Y: Mengandung ribosa, basa urasil, struktur single strand
  1. Identifikasi jenis asam nukleat pada sampel X dan Y!
  2. Mengapa sampel X lebih stabil secara kimia dibanding Y?
  3. Jika dilakukan uji difenilamin, sampel mana yang akan memberikan hasil positif?
  4. Sebutkan tiga jenis RNA dan fungsinya masing-masing!

Jawaban:

a. Identifikasi:

  • Sampel X: DNA (deoksiribosa, timin, double helix)
  • Sampel Y: RNA (ribosa, urasil, single strand)

b. Sampel X (DNA) lebih stabil karena:

  • Gula deoksiribosa tidak memiliki gugus OH pada C2', sehingga lebih tahan terhadap hidrolisis basa
  • Struktur double helix memberikan stabilitas tambahan melalui ikatan hidrogen dan interaksi stacking basa
  • DNA memiliki mekanisme perbaikan (repair) yang lebih efisien

c. Uji difenilamin akan positif pada sampel X (DNA) karena uji ini spesifik mendeteksi gula deoksiribosa yang hanya ada pada DNA.

d. Tiga jenis RNA dan fungsinya:

Jenis RNA Fungsi
mRNA (messenger RNA) Membawa kode genetik dari DNA ke ribosom untuk sintesis protein
tRNA (transfer RNA) Mengangkut asam amino spesifik ke ribosom selama sintesis protein
rRNA (ribosomal RNA) Komponen struktural dan katalitik ribosom
Soal 3: Replikasi dan Transkripsi DNA

Diberikan sekuens DNA sense: 5'-ATG CCT GAA TAC-3'

  1. Tuliskan sekuens DNA antisense yang komplementer!
  2. Tuliskan sekuens mRNA yang akan ditranskripsi dari DNA sense tersebut!
  3. Tentukan urutan asam amino yang dikode oleh mRNA tersebut (gunakan tabel kode genetik)!
  4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan replikasi semi-konservatif!

Jawaban:

a. Sekuens DNA antisense (komplementer, arah 3'→5'):

3'-TAC GGA CTT ATG-5'

Catatan: A berpasangan dengan T, C dengan G, G dengan C, T dengan A

b. Sekuens mRNA (transkripsi dari DNA sense, sama dengan DNA antisense tetapi U mengganti T dan arah 5'→3'):

5'-AUG CCU GAA UAC-3'

c. Urutan asam amino (setiap 3 nukleotida = 1 kodon):

Kodon Asam Amino
AUG Metionin (Met) [start]
CCU Prolin (Pro)
GAA Glutamat (Glu)
UAC Tirosin (Tyr)

Urutan asam amino: Met - Pro - Glu - Tyr

d. Replikasi semi-konservatif adalah cara duplikasi DNA dimana:

  • Setiap molekul DNA induk berpisah menjadi dua rantai tunggal
  • Masing-masing rantai berfungsi sebagai template untuk sintesis rantai baru
  • Hasilnya: Setiap molekul DNA anak terdiri dari satu rantai induk dan satu rantai baru
  • Dibuktikan oleh eksperimen Meselson-Stahl (1958) menggunakan isotop 15N
Soal 4: Kode Genetik dan Sintesis Protein

Kode genetik memiliki sifat-sifat tertentu yang penting dalam sintesis protein.

  1. Apa yang dimaksud dengan kode genetik yang degenerat/redundan?
  2. Berikan contoh: satu asam amino yang dikode oleh lebih dari satu kodon!
  3. Mengapa kode genetik disebut universal?
  4. Jelaskan peran tRNA dalam sintesis protein!
  5. Apa yang terjadi jika terjadi mutasi titik (point mutation) pada kodon?

Jawaban:

a. Kode genetik degenerat/redundan berarti satu asam amino dapat dikode oleh lebih dari satu kodon (triplet nukleotida). Misalnya, asam amino leusin dikode oleh 6 kodon berbeda (UUA, UUG, CUU, CUC, CUA, CUG).

b. Contoh: Leusin dikode oleh 6 kodon: UUA, UUG, CUU, CUC, CUA, CUG. Contoh lain: Serin dikode oleh UCU, UCC, UCA, UCG, AGU, AGC.

c. Kode genetik disebut universal karena kode yang sama digunakan oleh hampir semua organisme dari bakteri hingga manusia. Misalnya, kodon AUG selalu mengkode metionin (atau formilmetionin pada prokariot) dan berfungsi sebagai start codon. Pengecualian: beberapa kodon berbeda pada mitokondria dan organel tertentu.

d. Peran tRNA dalam sintesis protein:

  • Mengangkut asam amino spesifik ke ribosom
  • Mengenali kodon pada mRNA melalui antikodon yang komplementer
  • Memastikan urutan asam amino yang benar sesuai dengan kode genetik pada mRNA
  • Berperan dalam inisiasi, elongasi, dan terminasi sintesis protein

e. Mutasi titik dapat menyebabkan:

  • Mutasi salah arti (missense): Perubahan satu asam amino dalam protein
  • Mutasi tanpa arti (nonsense): Perubahan menjadi kodon stop prematur
  • Mutasi diam (silent): Tidak mengubah asam amino karena degenerasi kode
  • Dapat mengubah fungsi protein atau tidak berpengaruh, tergantung lokasi dan jenis perubahan
Soal 5: Aplikasi dan Teknologi Asam Nukleat

Teknologi DNA rekombinan telah merevolusi berbagai bidang.

  1. Apa yang dimaksud dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) dan apa kegunaannya?
  2. Bagaimana prinsip elektroforesis gel untuk memisahkan fragmen DNA?
  3. Jelaskan aplikasi teknologi DNA rekombinan dalam bidang medis!
  4. Apa perbedaan antara DNA genomik dan DNA plasmid?
  5. Mengapa enzim restriksi penting dalam rekayasa genetika?

Jawaban:

a. PCR (Polymerase Chain Reaction) adalah teknik amplifikasi (perbanyakan) DNA secara in vitro yang dikembangkan oleh Kary Mullis (1983).

Kegunaan PCR:

  • Amplifikasi DNA dari sampel sedikit untuk analisis
  • Diagnosis penyakit genetik dan infeksi
  • Forensik DNA (identifikasi individu)
  • Penelitian biologi molekuler
  • Kloning gen

b. Prinsip elektroforesis gel:

  • DNA bermuatan negatif karena gugus fosfat
  • Dalam medan listrik, DNA bergerak ke elektroda positif (anoda)
  • Fragmen DNA lebih kecil bergerak lebih cepat melalui pori-pori gel (agarosa/poliakrilamida)
  • Hasil: Pita DNA terpisah berdasarkan ukuran, dapat divisualisasi dengan pewarna (etidium bromida, SYBR Safe)

c. Aplikasi teknologi DNA rekombinan dalam bidang medis:

  • Produksi insulin manusia oleh bakteri rekombinan (E. coli)
  • Terapi gen untuk penyakit genetik (cystic fibrosis, hemofilia)
  • Vaksin rekombinan (hepatitis B, HPV)
  • Diagnostik molekuler (PCR untuk deteksi patogen)
  • Produksi hormon pertumbuhan dan faktor pembekuan darah

d. Perbedaan DNA genomik dan plasmid:

Aspek DNA Genomik DNA Plasmid
Lokasi Kromosom utama sel Di luar kromosom, sitoplasma
Ukuran Besar (jutaan bp) Kecil (ribuan bp)
Bentuk Linear (eukariot) atau sirkuler (prokariot) Sirkuler ganda
Fungsi Mengandung gen esensial untuk kehidupan Gen non-esensial (resistensi antibiotik, dll.)
Penggunaan Studi genom Vektor kloning dalam rekayasa genetika

e. Enzim restriksi penting karena:

  • Memotong DNA pada sekuens spesifik (situs restriksi)
  • Menghasilkan ujung sticky (kohesif) atau blunt yang dapat disambungkan
  • Memungkinkan penyisipan gen ke dalam vektor (plasmid)
  • Digunakan dalam pemetaan restriksi dan analisis DNA
  • Merupakan "gunting molekuler" dalam rekayasa genetika
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2025 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info