Elektrolisis Larutan CuSO4 dengan Elektrode Platina (Tinjauan Overpotensial dan Peran Katalitik Platina Oksida)

Sabtu, 28 Februari 2026

1. Dasar Elektrolisis Larutan CuSO4 dan Kompetisi Reaksi di anode

Elektrolisis larutan CuSO4 merupakan salah satu contoh paling umum dalam mempelajari reaksi redoks yang disebabkan oleh arus listrik. Dalam sistem ini, larutan mengandung ion Cu2+ dan SO42- yang terdisosiasi sempurna dalam air. Ketika dua elektrode inert seperti platina (Pt) dicelupkan dan dihubungkan dengan sumber arus searah, terjadi reaksi di kedua elektrode.

Di katode (elektrode negatif), ion Cu2+ akan mengalami reduksi mengendap sebagai logam tembaga:

Cu2+(aq) + 2e- → Cu(s)

Di anode (elektrode positif), terdapat tiga kemungkinan reaksi oksidasi, yaitu SO4^2-, H2O, da Pt. Di sini H2O dan Pt yang dibahas reaksinya:

  1. Oksidasi air menghasilkan gas oksigen:
    2H2O(l) → O2(g) + 4H+(aq) + 4e-
  2. Oksidasi elektrode platina itu sendiri, melarut sebagai ion Pt2+:
    Pt(s) → Pt2+(aq) + 2e-

Secara termodinamika, potensial oksidasi standar (E°oks) untuk kedua reaksi tersebut adalah:

  • Oksidasi air: E°oks = -1,23 V (pada kondisi standar)
  • Oksidasi platina: E°oks = -1,18 V (nilai pendekatan untuk Pt → Pt2+)

Catatan: Oksidasi SO4^2- dengan E°oks = -2,10 V (tidak dipertimbangkan karena lebih sulit teroksidasi). Lebih lanjut tentang oksidasi ini tidak terjadi bisa dibaca di sini. Sementara untuk leburannya memang dapat teroksidasi lebih lanjut dapat dibaca di sini.

Nilai E°oks yang lebih positif menunjukkan kecenderungan lebih besar untuk teroksidasi. Dengan demikian, berdasarkan data termodinamika murni, platina seharusnya lebih mudah teroksidasi dibandingkan air. Namun dalam praktik elektrolisis larutan CuSO4 dengan anode platina, yang diamati justru gelembung gas oksigen di anode, bukan pelarutan platina. Fenomena ini menunjukkan bahwa faktor lain, terutama overpotensial dan perubahan permukaan elektrode, memainkan peran yang menentukan.


2. Overpotensial sebagai Faktor Kinetika dalam Elektrolisis

Overpotensial didefinisikan sebagai selisih antara potensial elektrode yang sebenarnya diperlukan agar reaksi berlangsung dengan laju terukur, dengan potensial kesetimbangan termodinamikanya. Secara matematis:

η = Eaktual - Eteoritis

di mana η adalah overpotensial.

Overpotensial muncul akibat berbagai hambatan kinetik, terutama:

  • Hambatan aktivasi: Energi yang diperlukan untuk mengatasi barier energi aktivasi reaksi transfer muatan di permukaan elektrode.
  • Hambatan konsentrasi: Perbedaan konsentrasi spesi di dekat permukaan elektrode akibat laju reaksi yang lebih cepat daripada difusi.
  • Hambatan akibat gelembung gas: Penempelan gelembung gas pada permukaan elektrode mengurangi luas permukaan efektif.

Besarnya overpotensial sangat bergantung pada jenis reaksi dan material elektrode. Reaksi oksidasi air menjadi oksigen dikenal memiliki overpotensial yang cukup tinggi, terutama pada elektrode logam tertentu. Sebaliknya, reaksi oksidasi logam (pelarutan anode) umumnya memiliki overpotensial sangat rendah, karena prosesnya hanya melibatkan pelepasan ion logam ke larutan tanpa perubahan struktur yang kompleks.

Akibatnya, potensial aktual yang diperlukan untuk mengoksidasi air dapat mencapai sekitar +1,6 V (dalam skala potensial reduksi, atau -1,6 V dalam skala oksidasi), jauh lebih besar dari nilai teoritisnya. Sementara itu, potensial aktual untuk oksidasi platina hanya sedikit di atas nilai teoritisnya, sekitar -1,2 V. Berdasarkan perbandingan ini, secara kinetika murni, platina tetap lebih mudah teroksidasi karena memerlukan potensial yang lebih rendah. Namun, mengapa pada akhirnya air yang teroksidasi? Jawabannya terletak pada fenomena pasivasi permukaan platina.

Catatan: Overpotensial menyebabkan tegangan operasi elektrolisis selalu lebih tinggi dari perhitungan teoritis. Dalam kasus oksidasi air, overpotensial bisa mencapai 0,3-0,4 V pada elektrode platina.

3. Pasivasi Anodik Platina dan Pembentukan Lapisan PtO

Ketika potensial anode dinaikkan melewati nilai tertentu, atom-atom platina di permukaan mulai teroksidasi. Namun, berbeda dengan logam biasa yang langsung larut sebagai ion, oksidasi platina dalam lingkungan berair menghasilkan pembentukan lapisan tipis platina oksida (PtO atau PtO2) yang menempel kuat pada permukaan. Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai:

Pt(s) + H2O → PtO(s) + 2H+ + 2e-

Lapisan PtO ini bersifat pasif, artinya ia melindungi lapisan platina di bawahnya dari kontak langsung dengan elektrolit. Setelah lapisan ini terbentuk sempurna, reaksi oksidasi platina lebih lanjut terhenti karena ion Pt2+ harus berdifusi melalui lapisan padat tersebut—suatu proses yang sangat lambat dan memerlukan potensial jauh lebih tinggi. Dengan kata lain, platina menjadi terpasivasi terhadap pelarutan anodiknya sendiri.

Fenomena pasivasi ini mengubah seluruh skenario kompetisi reaksi di anode. Meskipun secara termodinamika dan kinetika awal platina lebih mudah teroksidasi, produk oksidasinya justru menutup jalur reaksi tersebut. Setelah pasivasi tercapai, untuk mempertahankan aliran arus listrik, satu-satunya spesi yang tersedia untuk dioksidasi adalah air. Namun, air tetap menghadapi hambatan overpotensial yang tinggi. Di sinilah peran lapisan PtO menjadi krusial.

Proses pasivasi ini berlangsung sangat cepat, sehingga dalam praktiknya, anode platina yang digunakan dalam elektrolisis larutan berair sebenarnya telah diselimuti oleh lapisan oksida tipis (ketebalan beberapa nanometer) segera setelah potensial melebihi nilai tertentu.


4. Peran Katalitik Lapisan PtO dalam Oksidasi Air

Lapisan PtO yang terbentuk di permukaan anode tidak hanya berfungsi sebagai penghalang pasif, tetapi juga berperan sebagai katalis untuk reaksi oksidasi air. Sifat katalitik ini berasal dari struktur elektronik dan geometri permukaan PtO yang memfasilitasi pemutusan ikatan O–H dan pembentukan ikatan O–O.

Mekanisme yang umum diterima melibatkan adsorpsi molekul air pada situs aktif permukaan PtO. Ikatan antara atom oksigen dalam air dengan atom Pt di permukaan oksida melemahkan ikatan O–H, sehingga pelepasan proton dan elektron menjadi lebih mudah. Selanjutnya, dua atom oksigen teradsorpsi bergabung membentuk molekul O2 yang kemudian lepas sebagai gelembung gas. Proses ini dapat diringkas dalam langkah-langkah berikut:

  1. Adsorpsi air: PtO + H2O → PtO···OH2
  2. Pelepasan proton: PtO···OH2 → PtO···OH + H+ + e-
  3. Pembentukan oksigen: 2(PtO···OH) → 2PtO + O2 + 2H+ + 2e-

Lapisan PtO menurunkan energi aktivasi untuk tahap-tahap ini, sehingga reaksi oksidasi air dapat berlangsung pada potensial yang lebih rendah dibandingkan jika air harus dioksidasi di permukaan inert tanpa katalis. Meskipun demikian, potensial yang diperlukan tetap lebih tinggi dari potensial oksidasi platina sebelum pasivasi. Namun, karena jalur oksidasi platina sudah tertutup, air menjadi satu-satunya spesi yang dapat dioksidasi.

Penting untuk dicatat bahwa PtO sendiri tidak habis dalam reaksi ini; ia berperan sebagai katalis heterogen yang menyediakan permukaan reaksi tanpa mengalami perubahan permanen. Stabilitas PtO dalam kondisi anodik memastikan bahwa anode platina dapat digunakan berulang kali untuk menghasilkan oksigen tanpa mengalami korosi.

Perbedaan peran: Pt di bawah lapisan berperan sebagai konduktor dan penyangga struktural, sedangkan PtO di permukaan berperan sebagai situs aktif katalitik.

5. Sintesis: Mengapa anode Platina Menghasilkan Oksigen dalam Elektrolisis CuSO4

Dengan memahami konsep overpotensial, pasivasi, dan katalisis oleh PtO, kita dapat menjelaskan secara utuh mengapa dalam elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektrode platina, anode menghasilkan gas oksigen dan bukan melarutkan platina.

Prosesnya berlangsung dalam tahapan berikut:

Tahap Potensial anode Fenomena
1. Awal elektrolisis Meningkat dari 0 V Potensial anode meningkat. Begitu mencapai sekitar -1,2 V,
atom permukaan platina mulai teroksidasi.
2. Pasivasi cepat Sekitar -1,2 V Oksidasi platina tidak berlanjut menjadi pelarutan, melainkan
membentuk lapisan tipis PtO yang segera menutupi permukaan.
Lapisan ini menghentikan kontak langsung Pt dengan elektrolit,
sehingga oksidasi Pt terhenti.
3. Peningkatan potensial -1,2 V hingga -1,6 V Karena arus harus tetap mengalir, potensial anode terus naik
hingga mencapai nilai yang cukup untuk mengoksidasi air.
Lapisan PtO yang telah terbentuk kini berfungsi
sebagai katalis.
4. Reaksi stabil Sekitar -1,6 V Air teroksidasi secara kontinu menjadi gelembung O2,
sementara lapisan PtO tetap utuh dan stabil.
Di katode, ion Cu2+ tereduksi menjadi logam Cu.

Dengan demikian, anode platina berperan sebagai elektrode inert secara fungsional: ia tidak ikut bereaksi, tetapi menyediakan permukaan katalitik (PtO) bagi oksidasi air. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam elektrokimia, produk akhir suatu reaksi tidak dapat diprediksi hanya dari data termodinamika, melainkan harus mempertimbangkan faktor kinetik (overpotensial) dan dinamika permukaan elektrode (pasivasi dan katalisis).


6. Kesimpulan

Elektrolisis larutan CuSO4 dengan anode platina menghasilkan oksigen di anode karena kombinasi tiga faktor utama:

  1. Overpotensial tinggi untuk oksidasi air, namun tetap dapat diatasi pada potensial yang cukup.
  2. Pasivasi anodik platina melalui pembentukan lapisan PtO yang menghentikan oksidasi platina lebih lanjut.
  3. Peran katalitik PtO yang memfasilitasi reaksi oksidasi air pada permukaannya.

Pemahaman ini penting tidak hanya untuk menjelaskan fenomena laboratorium, tetapi juga untuk aplikasi teknologi seperti elektrolisis air untuk produksi hidrogen, di mana pemilihan material anode yang tepat (seperti platina atau oksidanya) sangat menentukan efisiensi dan ketahanan sistem.

Ringkasan akhir: anode platina tetap utuh karena permukaannya segera terlindungi oleh lapisan PtO. Lapisan ini tidak hanya melindungi, tetapi juga mempercepat reaksi oksidasi air. Dengan demikian, platina layak disebut sebagai elektrode inert yang aktif secara katalitik.
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info