Hidrolisis bertingkat garam dari basa lemah polihidroksi adalah proses kation garam bereaksi dengan air secara bertahap (tidak sekaligus) karena kation tersebut mampu melepaskan proton (H+) lebih dari satu kali, masing-masing dengan konstanta kesetimbangan (Ka) yang berbeda.
Hal ini terjadi karena basa lemah polihidroksi (seperti Al(OH)3, Fe(OH)3, dan Zn(OH)2) menerima H+ secara bertahap saat membentuk garam. Akibatnya, kation logam yang terbentuk dalam wujud ion kompleks aqua, masih dapat melepaskan H+ ke air secara bertahap pula.
Yang menarik, kation kompleks antara (misalnya [Al(OH)(H2O)5]2+, [Fe(OH)(H2O)5]2+) juga bersifat amfiprotik, masih dapat melepas H+ lagi ke air. Setiap tahap pelepasan H+ memiliki konstanta yang semakin kecil, sehingga tahap pertama selalu dominan dalam menentukan pH larutan.
Dari setiap basa polihidroksi, dapat terbentuk dua jenis garam:
- Garam normal (reaksi sempurna), semua OH− basa sudah tergantikan oleh Cl−. Kationnya adalah ion logam telanjang yang langsung membentuk kompleks aqua dan terhidrolisis bertingkat. Contoh: AlCl3, FeCl3, ZnCl2.
- Garam basa (reaksi parsial), masih ada OH− basa yang belum tergantikan. Kationnya sudah membawa ligan OH− sekaligus ligan H2O, dan masih dapat melepas H+ lagi. Contoh: Al(OH)2Cl, Fe(OH)2Cl, Zn(OH)Cl.
Artikel ini fokus pada garam normal (AlCl3, FeCl3, ZnCl2) karena ini yang paling umum dijumpai. Anion Cl− berasal dari HCl (asam kuat) sehingga tidak terhidrolisis sama sekali.
Ketika kation logam dilarutkan dalam air, ia tidak berdiri sendiri. Ion logam menarik molekul air secara kuat membentuk ion kompleks aqua.
Kation logam memiliki muatan positif. Molekul air memiliki pasangan elektron bebas pada atom O.
Atom O mendonorkan elektron ke kation → terbentuk ikatan koordinasi (ikatan Lewis).
Hasilnya: ion kompleks aqua, kation dikelilingi molekul-molekul air yang terikat kuat.
Semakin kecil ukuran ion dan semakin tinggi muatannya, semakin kuat ia menarik elektron dari O dalam H2O.
r = 53 pm
muatan +3
r = 65 pm
muatan +3
r = 74 pm
muatan +2
r = 102 pm
muatan +1
(tidak hidrolisis)
Langkah 1: Kation Mn+ membentuk ikatan koordinasi dengan O dari H2O ligand.
Langkah 2: Kation menarik kerapatan elektron dari O. Akibatnya, kerapatan elektron pada ikatan O–H ikut berkurang.
Langkah 3: Ikatan O–H yang "miskin elektron" menjadi lebih mudah putus → H+ dilepaskan ke larutan.
Kesimpulan: Kation logam bertindak sebagai asam Lewis, dan ion kompleks aqua-nya bertindak sebagai asam Brønsted-Lowry!
Reaksi ini bisa berlanjut bertingkat, dengan setiap tahap melepas satu H+ lagi — inilah hidrolisis bertingkat kation.
Kerapatan muatan = $\dfrac{muatan}{volume~ion} ~atau~\propto \dfrac{muatan}{r^3}$
• Na+: muatan +1, r = 102 pm → kerapatan muatan rendah → tarikan pada elektron O–H lemah → H+ tidak bisa terlepas.
• Al3+: muatan +3, r = 53 pm → kerapatan muatan sangat tinggi → tarikan pada elektron O–H sangat kuat → H+ mudah terlepas.
Itulah sebabnya Na+ tidak menghidrolisis air, sementara Al3+, Fe3+, Zn2+ menghidrolisisnya.
| Ion | Muatan | Jari-jari (pm) | Kerapatan Muatan | Hidrolisis? |
|---|---|---|---|---|
| Na+ | +1 | 102 | Rendah | ❌ Tidak |
| Zn2+ | +2 | 74 | Sedang | ✅ Ya (bertingkat) |
| Fe3+ | +3 | 65 | Tinggi | ✅ Ya (bertingkat kuat) |
| Al3+ | +3 | 53 | Sangat Tinggi | ✅ Ya (bertingkat sangat kuat) |
Al3+ memiliki bilangan koordinasi 6, ia menarik 6 molekul air membentuk ion oktahedral.
Polarisasi O–H sangat kuat → Ka hidrolisis ≈ 10−5 (cukup besar untuk asam lemah).
Al3+ dapat menghidrolisis secara bertingkat hingga 3 tahap (sesuai muatan +3-nya):
Ion kompleks aqua melepas H+ pertama. Satu H2O ligand berubah menjadi OH−.
Ka1 ≈ 1,4 × 10−5
Ion dari tahap 1 melepas H+ lagi. Satu ligan H2O lain berubah menjadi OH−.
Ka2 << Ka1
Pada pH cukup tinggi, terjadi pengendapan Al(OH)3 (putih, gelatin).
Atau secara global: Al3+ + 3H2O ⇌ Al(OH)3(s) + 3H+
Dalam larutan encer AlCl3 pada kondisi normal, yang paling berpengaruh adalah tahap pertama.
Tahap-tahap berikutnya menghasilkan H+ yang jauh lebih sedikit (Ka2 << Ka1).
Persamaan yang biasa digunakan di tingkat SMA:
Al3+ + 3H2O ⇌ Al(OH)3 + 3H+
atau cukup:
Al3+ + H2O ⇌ Al(OH)2+ + H+
(Kh = Ka1 ≈ 1,4 × 10−5)
Untuk larutan AlCl3 konsentrasi C (mol/L), pH dihitung dari ionisasi kation:
Contoh: AlCl3 0,1 M
$$ \begin{aligned} [H^+] &= \sqrt{K_h \times C}\\ &= \sqrt{1,4 \times 10^{-5} \times 0,1} \\ &= \sqrt{1,4 \times 10^{-6}} \\ &= 1,18 \times 10^{-3}~M \\\\ pH &= -\log~ [H^+]\\ &= -\log~ (1,18 \times 10^{-3})\\ &= 2,93 \end{aligned} $$pH ≈ 2,93 → Larutan bersifat ASAM
Bisa larut dalam basa kuat: Al(OH)3 + NaOH → Na[Al(OH)4] (aluminat)
Sifat amfoter ini unik, berbeda dengan Fe(OH)3 yang hanya larut dalam asam.
Fe3+ juga memiliki bilangan koordinasi 6, membentuk ion oktahedral dengan 6 ligan air.
Ka hidrolisis ≈ 6,3 × 10−3 jauh lebih besar dari Al3+! Ini mengejutkan.
Meskipun Al3+ lebih kecil, Fe3+ memiliki Ka1 hidrolisis yang jauh lebih besar.
Ini karena Fe3+ memiliki orbital d yang kosong/setengah penuh, sehingga lebih kuat menerima elektron dari O ligan (asam Lewis lebih kuat secara elektronik).
Ka1 Fe3+ ≈ 6,3 × 10−3 vs Ka1 Al3+ ≈ 1,4 × 10−5, perbedaan ~450 kali lipat!
H+ pertama terlepas, inilah yang terutama menentukan pH larutan.
Ka1 ≈ 6,3 × 10−3 (asam sedang-kuat!)
Berlanjut melepas H+ kedua.
Endapan Fe(OH)3, cokelat kemerahan khas, terbentuk pada pH ≥ 3.
Atau: Fe3+ + 3H2O ⇌ Fe(OH)3(s) + 3H+
Contoh: FeCl3 0,1 M
$$ \begin{aligned} [H^+] &= \sqrt{K_h \times C}\\ &= \sqrt{6,3 \times 10^{-3} \times 0,1} \\ &= \sqrt{6,3 \times 10^{-4}} \\ &= 2,51 \times 10^{-2}~M \\\\ pH &= -\log ~[H^+]\\ &= -\log~ (2,51 \times 10^{-2})\\ &= 1,60 \end{aligned} $$pH ≈ 1,60 → Larutan sangat asam!
Catatan: Ka1 Fe3+ sangat besar sehingga asumsi [H+] = √(Kh·C) perlu dicek ketelitiannya.
[Fe(OH)(H2O)5]2+ → kuning-cokelat (warna khas FeCl3).
Fe(OH)3 → cokelat kemerahan (endapan). Warna "air karat" di alam!
Fe(OH)3 TIDAK larut dalam basa kuat (tidak ada reaksi dengan NaOH berlebih). Ini perbedaan mendasar dengan Al(OH)3.
Reagen etsa PCB (papan sirkuit elektronik).
Obat antiseptik (ferric chloride solution).
Zn2+ memiliki bilangan koordinasi 4 atau 6 bergantung kondisi, lebih sering tetrahedral ([Zn(H2O)4]2+) di larutan encer.
Ka hidrolisis ≈ 2,5 × 10−10 → hidrolisis jauh lebih lemah dari Al3+ dan Fe3+.
Zn2+ bermuatan +2 sehingga hidrolisis maksimal menghasilkan 2 tahap:
Pelepasan H+ pertama dari ligan air.
Ka1 ≈ 2,5 × 10−10
Pelepasan H+ kedua → endapan Zn(OH)2 putih.
Atau: Zn2+ + 2H2O ⇌ Zn(OH)2(s) + 2H+
Contoh: ZnCl2 0,1 M
$$ \begin{aligned} [H^+] &= \sqrt{K_h \times C}\\ &= \sqrt{2,5 \times 10^{-10} \times 0,1} \\ &= \sqrt{2,5 \times 10^{-11}} \\ &= 5,0 \times 10^{-6}~M \\\\ pH &= -\log ~[H^+]\\ &= -\log~ (5,0 \times 10^{-6})\\ &= 5,30 \end{aligned} $$pH ≈ 5,30 → Larutan bersifat asam, tapi lemah
Larut dalam basa: Zn(OH)2 + 2NaOH → Na2[Zn(OH)4] (zinkat)
Sifat amfoter Zn mirip Al, keduanya berbeda dari Fe yang tidak amfoter.
Orbital d yang penuh membuatnya kurang efektif menarik elektron dibanding Fe3+ (3d5). Ini menjelaskan mengapa Ka hidrolisis Zn2+ jauh lebih kecil dari Fe3+.
Larutan ZnCl2 digunakan sebagai flux (penghilang oksida) dalam penyolderan logam.
Antiseptik gigi (perawatan akar gigi).
| Aspek | AlCl3 | FeCl3 | ZnCl2 |
|---|---|---|---|
| Kation terhidrolisis | Al3+ | Fe3+ | Zn2+ |
| Muatan kation | +3 | +3 | +2 |
| Jari-jari ion (pm) | 53 | 65 | 74 |
| Ion kompleks aqua | [Al(H2O)6]3+ | [Fe(H2O)6]3+ | [Zn(H2O)4]2+ |
| Geometri | Oktahedral | Oktahedral | Tetrahedral |
| Konfigurasi elektron d | d0 | d5 | d10 |
| Kh (Ka1) | ≈ 1,4 × 10−5 | ≈ 6,3 × 10−3 | ≈ 2,5 × 10−10 |
| pH (0,1 M) | ≈ 2,93 | ≈ 1,60 | ≈ 5,30 |
| Jumlah tahap hidrolisis | 3 | 3 | 2 |
| Endapan basa | Al(OH)3 (putih) | Fe(OH)3 (cokelat) | Zn(OH)2 (putih) |
| Sifat hidroksida | Amfoter | Tidak amfoter | Amfoter |
| pH bergantung [C]? | Ya | Ya | Ya |
Al3+ dan Fe3+ jauh lebih asam dari Zn2+ di konsentrasi sama.
Al3+ (r=53 pm) vs Fe3+ (r=65 pm), tapi Fe3+ lebih asam karena efek elektronik orbital d.
Fe3+ (d5) lebih kuat menarik elektron dari O daripada Al3+ (d0) dan Zn2+ (d10).
Berlaku untuk perhitungan tahap pertama (hidrolisis tahap 1 dominan).
HCl adalah asam kuat → Cl− adalah basa sangat lemah → tidak bereaksi dengan air.
C = konsentrasi molar garam
AlCl3: Kh ≈ 1,4 × 10−5 ; FeCl3: Kh ≈ 6,3 × 10−3 ; ZnCl2: Kh ≈ 2,5 × 10−10
💡 Lihat Jawaban
💡 Lihat Jawaban
[H+] = √(6,3 × 10−3 × 0,01) = √(6,3 × 10−5) ≈ 7,94 × 10−3 M
pH = −log(7,94 × 10−3) ≈ 2,10 → Sangat asam!
💡 Lihat Jawaban
Alasan: Fe3+ memiliki orbital d5 yang efektif menarik elektron → Ka terbesar. Al3+ kecil tapi d0 → Ka sedang. Zn2+ bermuatan +2 dan d10 penuh → Ka terkecil.
💡 Lihat Jawaban
Al(OH)3, AMFOTER:
+ HCl: Al(OH)3 + 3HCl → AlCl3 + 3H2O
+ NaOH: Al(OH)3 + NaOH → Na[Al(OH)4] (natrium aluminat)
Fe(OH)3, TIDAK AMFOTER:
+ HCl: Fe(OH)3 + 3HCl → FeCl3 + 3H2O ✅
+ NaOH berlebih: tidak ada reaksi ❌

Tidak ada komentar:
Posting Komentar