Dua Konteks Perhitungan pH (Garam Terhidrolisis & Titrasi)

Rabu, 25 Februari 2026

Mengapa rumus pH larutan garam yang dilarutkan melibatkan konsentrasi, sementara rumus pH di titik ekuivalen titrasi tidak melibatkan konsentrasi dan apa kaitan matematis di antara keduanya.

Latar Belakang

Dalam kimia larutan, rumus pH = ½(pKan + pKan+1) muncul di dua situasi yang tampaknya berbeda: saat menghitung pH larutan garam amfiprotik yang dilarutkan langsung dalam air, dan saat menghitung pH di titik ekuivalen (TE) pada titrasi asam polipotik.

Kesamaan rumus ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah keduanya memang kasus yang sama? Lalu mengapa di satu sisi konsentrasi terlihat relevan, sementara di sisi lain tidak digunakan sama sekali?

💡 Inti Persoalan

Konsentrasi tidak pernah benar-benar diabaikan, hanya ia tereliminasi secara aljabar dalam kondisi tertentu. Memahami kapan dan mengapa hal itu terjadi adalah kunci membedakan kedua konteks ini secara tepat.

Artikel ini membedah kedua konteks secara terpisah, lengkap dengan derivasi singkat dan satu contoh kasus masing-masing, sehingga perbedaan dan kaitannya menjadi jelas.

Konteks 1
Konteks · 01
Larutan Garam yang Dapat
Terhidrolisis Secara Bertingkat
Garam sudah jadi, garam dilarutkan dalam air, oleh karenanya konsentrasi adalah variabel nyata yang menentukan pH.
Deskripsi Situasi

Pada konteks ini, kita memiliki garam murni yang dilarutkan ke dalam air dengan konsentrasi tertentu. Garam tersebut menghasilkan ion yang dapat bereaksi dengan air (terhidrolisis), dan seberapa banyak H+ atau OH yang terbentuk bergantung langsung pada berapa banyak garam yang dilarutkan.

Ada dua sub-kasus penting di sini:

Sub-kasus A
Spesi aktifKation / anion tunggal terhidrolisis satu arah
ContohAlCl3, FeCl3, Na2CO3
Rumus pHpH = ½(pKh − log C)
Peran CEksplisit, wajib diketahui
Sub-kasus B
Spesi aktifAnion amfiprotik (dua kesetimbangan bersamaan)
ContohNaHCO3, NaHSO3, NaH2PO4
Rumus pHpH = ½(pKan + pKan+1)
Peran CTereliminasi matematis (syarat: C ≫ Ka)
Mengapa Sub-kasus B Bisa Bebas dari Konsentrasi?

Untuk anion amfiprotik seperti HCO3, dua kesetimbangan berjalan bersamaan dan berlawanan arah:

Reaksi 1: HCO₃⁻ sebagai asam
HCO3 ⇌ H+ + CO32−     Ka2
Reaksi 2: HCO₃⁻ sebagai basa
HCO3 + H2O ⇌ H2CO3 + OH     Kb = Kw/Ka1

Dari kedua kesetimbangan ini, dengan menerapkan keseimbangan massa dan muatan, diperoleh persamaan eksak:

Derivasi Ringkas, Eliminasi Konsentrasi
$[H^+]^2 = K_{a1} \cdot K_{a2} \cdot \dfrac{[HCO_3^-] + K_{a1}}{K_{a1} + [H^+]}$
Persamaan eksak dari mass balance
↓   terapkan syarat: C ≫ Ka1   dan   Ka1 ≫ [H+]
$[H^+]^2 = K_{a1} \cdot K_{a2} \cdot \dfrac{C}{K_{a1}}$
Substitusi aproksimasi
↓   C di pembilang dan Ka1 di penyebut saling menghilangkan
[H+]² ≈ Ka1 · Ka2    →    pH = ½(pKa1 + pKa2)
C tereliminasi secara aljabar!
⚠️ Syarat Kritis, Bukan Tanpa Batas

Eliminasi C hanya sah jika C ≫ Ka1. Pada larutan yang sangat encer (misalnya C = 10−7 M), syarat ini tidak terpenuhi dan konsentrasi kembali berpengaruh. Dalam praktik analisis (C ≥ 0,001 M), aproksimasi ini sangat akurat.

📋
Contoh Kasus · Konteks 1
Larutan NaH2PO4 0,1 M dan 0,001 M
Hitunglah pH larutan NaH2PO4 dengan konsentrasi 0,1 M dan 0,001 M. Apakah pH keduanya berbeda? Jelaskan mengapa.

Diketahui: Ka1 H3PO4 = 7,5 × 10−3  ;  Ka2 = 6,2 × 10−8  ;  Ka3 = 2,2 × 10−13
NaH2PO4 → Na+ + H2PO4 Na+: tidak terhidrolisis H2PO4: anion amfiprotik
LANGKAH 1: Identifikasi spesi

Na+ berasal dari basa kuat → tidak terhidrolisis. H2PO4 adalah anion amfiprotik: bisa melepas H+ (Ka2) dan menerima H+ (Kb = Kw/Ka1). Dua kesetimbangan berjalan bersamaan.

LANGKAH 2: Verifikasi syarat eliminasi C

Untuk C = 0,1 M: apakah C ≫ Ka1?

C = 0,1 M   vs   Ka1 = 7,5 × 10−3   →   0,1 ≫ 0,0075 ✓

Untuk C = 0,001 M: apakah C ≫ Ka1?

C = 0,001 M   vs   Ka1 = 7,5 × 10−3   →   0,001 < 0,0075 ✗ (syarat mulai tidak terpenuhi!)
LANGKAH 3: Hitung pH menggunakan rumus anion amfiprotik
pH = ½(pKa1 + pKa2) = ½(−log 7,5×10−3 + −log 6,2×10−8) = ½(2,12 + 7,21) = ½ × 9,33
pH = 4,66   (untuk kedua konsentrasi, selama syarat C ≫ Ka1 terpenuhi)
LANGKAH 4: Interpretasi
✓ Kesimpulan Kasus 1

Larutan NaH2PO4 0,1 M dan 0,001 M menghasilkan pH yang sama = 4,66. Konsentrasi tereliminasi secara matematis karena ada dua kesetimbangan berlawanan arah yang berinteraksi. Namun pada konsentrasi 0,001 M, syarat C ≫ Ka1 mulai goyah (C dan Ka1 sebanding), sehingga nilai pH 4,66 mulai kurang akurat, perlu perhitungan eksak dari persamaan ①.

Perbandingan konkret: larutan NaH2PO4 0,1 M menghasilkan pH yang sama dengan larutan NaH2PO4 1 M, suatu keistimewaan spesi amfiprotik yang tidak dijumpai pada hidrolisis biasa.

Konteks 2
Konteks · 02
pH di Titik Ekuivalen
pada Proses Titrasi
Garam terbentuk bertahap selama titrasi, pH dihitung tepat saat spesi amfiprotik tercipta di titik ekuivalen.
Deskripsi Situasi

Pada titrasi asam polipotik (misalnya H3PO4) dengan basa kuat (NaOH), garam tidak dilarutkan dari luar, ia terbentuk secara in situ selama proses titrasi. Setiap titik ekuivalen menandai momen ketika satu kelompok H+ habis dinetralkan.

Kurva Titrasi H₃PO₄ + NaOH (Skema Titik Ekuivalen)
H3PO4
pH ≈ 1,5
TE-1
H2PO4
pH = ½(pKa1+pKa2) = 4,66
buffer
antara TE-1 & TE-2
TE-2
HPO42−
pH = ½(pKa2+pKa3) = 9,93
PO43−
pH ≈ 12,5
Mengapa Konsentrasi Tidak Muncul di Rumus TE?

Pada titik ekuivalen, misalnya TE-1, semua H3PO4 sudah berubah menjadi H2PO4. Spesi yang ada di larutan persis sama dengan larutan NaH2PO4 yang dibahas di Konteks 1.

🔑 Argumen Kunci

Di TE-1, larutan hanya berisi H2PO4 dan Na+. Spesi ini bersifat amfiprotik, dua kesetimbangan berjalan bersamaan, dan aljabar derivasinya identik dengan Sub-kasus B di Konteks 1. Maka rumusnya pun sama: pH = ½(pKa1 + pKa2).

Konsentrasi tidak muncul bukan karena titrasi "menghapus" pengaruh konsentrasi, melainkan karena spesi amfiprotik memang selalu menghasilkan eliminasi C secara aljabar, di manapun spesi itu berada, baik di botol maupun di labu titrasi.

Tiga Titik Ekuivalen H₃PO₄ + NaOH
Titik Ekuivalen Reaksi yang Terjadi Spesi Dominan Rumus pH Nilai pH
TE-1 H3PO4 + NaOH → NaH2PO4 H2PO4 (amfiprotik) ½(pKa1 + pKa2) 4,66
TE-2 NaH2PO4 + NaOH → Na2HPO4 HPO42− (amfiprotik) ½(pKa2 + pKa3) 9,93
TE-3 Na2HPO4 + NaOH → Na3PO4 PO43− (basa lemah) ½(pKw + pKa3) ≈ 12,5
⚠️ Catatan TE-3, Berbeda dari TE-1 dan TE-2

Di TE-3, spesi yang terbentuk adalah PO43−, ini bukan anion amfiprotik, melainkan basa biasa yang terhidrolisis satu arah. Rumus pH-nya menggunakan Kb, bukan rumus eliminasi Ka ganda. pH di TE-3 bergantung pada konsentrasi, sama seperti Sub-kasus A di Konteks 1.

🧪
Contoh Kasus · Konteks 2
Titrasi 25 mL H3PO4 0,1 M dengan NaOH 0,1 M
Sebanyak 25 mL larutan H3PO4 0,1 M dititrasi dengan NaOH 0,1 M. Tentukan pH larutan tepat pada TE-1 dan TE-2. Jelaskan mengapa konsentrasi akhir larutan tidak perlu dihitung.

Diketahui: Ka1 = 7,5 × 10−3  ;  Ka2 = 6,2 × 10−8  ;  Ka3 = 2,2 × 10−13
LANGKAH 1: Tentukan volume NaOH di setiap TE

Mol H3PO4 = 0,025 L × 0,1 mol/L = 2,5 × 10−3 mol

TE-1: mol NaOH = mol H3PO4 = 2,5×10−3 mol → V = 25 mL NaOH
TE-2: mol NaOH = 2 × mol H3PO4 = 5,0×10−3 mol → V = 50 mL NaOH
LANGKAH 2: Identifikasi spesi di setiap TE
TE-1: H3PO4 + NaOH → NaH2PO4 + H2O Spesi dominan: H2PO4 (amfiprotik) dalam 50 mL larutan
TE-2: NaH2PO4 + NaOH → Na2HPO4 + H2O Spesi dominan: HPO42− (amfiprotik) dalam 75 mL larutan
LANGKAH 3: Hitung konsentrasi spesi di tiap TE (untuk menguji syarat)
[H2PO4] di TE-1 = (2,5×10−3 mol) / 0,050 L = 0,05 M
[HPO42−] di TE-2 = (2,5×10−3 mol) / 0,075 L = 0,033 M

Verifikasi syarat untuk TE-1: C = 0,05 M vs Ka1 = 7,5×10−3 → 0,05 ≫ 0,0075 ✓

Verifikasi syarat untuk TE-2: C = 0,033 M vs Ka2 = 6,2×10−8 → 0,033 ≫ 6,2×10−8 ✓✓

LANGKAH 4: Hitung pH di TE-1
pH(TE-1) = ½(pKa1 + pKa2) = ½(−log 7,5×10−3 + −log 6,2×10−8) = ½(2,12 + 7,21) = ½ × 9,33
pH (TE-1) = 4,66
LANGKAH 5: Hitung pH di TE-2
pH(TE-2) = ½(pKa2 + pKa3) = ½(−log 6,2×10−8 + −log 2,2×10−13) = ½(7,21 + 12,66) = ½ × 19,87
pH (TE-2) = 9,93
LANGKAH 6: Mengapa konsentrasi tidak perlu dimasukkan ke rumus?
✓ Kesimpulan Kasus 2

Kita memang menghitung konsentrasi di Langkah 3, tapi hanya untuk memverifikasi syarat C ≫ Ka, bukan untuk dimasukkan ke rumus pH. Begitu syarat terpenuhi, pH cukup dihitung dari ½(pKan + pKan+1) tanpa melibatkan C lagi.

Perhatikan hal menarik: jika konsentrasi H3PO4 diubah menjadi 0,2 M (dan NaOH 0,2 M), konsentrasi spesi di TE berubah, tetapi pH di TE-1 tetap 4,66 dan pH di TE-2 tetap 9,93. Inilah bukti bahwa konsentrasi tereliminasi secara matematis, bukan hanya diabaikan.

Perbandingan

Keterkaitan dan Perbedaan Kedua Konteks

Setelah memahami masing-masing konteks secara terpisah, berikut adalah perbandingan sistematis yang memperjelas di mana keduanya bertemu dan di mana mereka berbeda:

Aspek Konteks 1A
Hidrolisis Satu Arah
Konteks 1B
Anion Amfiprotik
Konteks 2
Titik Ekuivalen
Asal garam Dilarutkan dari luar Dilarutkan dari luar Terbentuk in situ saat titrasi
Spesi aktif Kation/anion satu arah Anion amfiprotik Anion amfiprotik (di TE-1, TE-2)
Jumlah kesetimbangan Satu Dua (berlawanan arah) Dua (berlawanan arah)
Rumus pH ½(pKh − log C) ½(pKaₙ + pKaₙ₊₁) ½(pKaₙ + pKaₙ₊₁)
Peran konsentrasi Eksplisit, wajib ada Tereliminasi matematis Tereliminasi matematis
Syarat berlaku Selalu C ≫ Ka C ≫ Ka (biasanya terpenuhi)
pH berubah jika C berubah? Ya Tidak Tidak
Kesamaan spesi dengan konteks lain Spesi identik ↔ rumus identik
💡 Insight Kunci, Mengapa Rumus 1B dan 2 Identik

Konteks 1B dan Konteks 2 menghasilkan rumus yang sama bukan karena kebetulan, melainkan karena spesi kimia di larutan memang identik. Larutan NaH2PO4 0,05 M yang terbentuk di TE-1 titrasi tidak bisa dibedakan secara kimia dari larutan NaH2PO4 0,05 M yang dibuat dengan melarutkan garam murni. Satu sendok garam = hasil titrasi di TE-1 = kimia yang sama = pH yang sama.

Simpulan

Simpulan Terstruktur

Aspek
Konteks 1
Garam Dilarutkan
Konteks 2
pH di Titik Ekuivalen
Skenario
Garam sudah jadi, langsung dilarutkan ke air
Garam terbentuk bertahap saat titrasi, pH diukur saat TE
Konsentrasi
Wajib ada (hidrolisis satu arah) atau tereliminasi matematis (anion amfiprotik, syarat C≫Ka)
Tereliminasi matematis (spesi di TE adalah anion amfiprotik, syarat umumnya terpenuhi)
Rumus
pH = ½(pKh − log C) untuk hidrolisis satu arah
pH = ½(pKaₙ + pKaₙ₊₁) untuk amfiprotik
pH = ½(pKaₙ + pKaₙ₊₁), identik dengan rumus amfiprotik di Konteks 1
Perspektif
Statis seperti "foto" komposisi larutan pada satu saat
Dinamis seperti "video" proses; pH dievaluasi di momen spesifik (TE)
Kaitan
Keduanya bukan kasus berbeda secara kimia, melainkan cara berbeda dalam memandang spesi yang sama. Rumus identik karena kimia di baliknya identik.
📌 Pernyataan Simpulan sebagai Pegangan

Konsentrasi diperlukan saat menghitung pH garam yang terhidrolisis satu arah, karena hanya satu kesetimbangan yang berjalan, dan jumlah H+ yang dihasilkan proporsional dengan konsentrasi.

Konsentrasi tereliminasi matematis, bukan diabaikan saat spesi di larutan bersifat amfiprotik (dua kesetimbangan berlawanan arah berinteraksi secara simultan). Hal ini berlaku baik saat garam amfiprotik dilarutkan langsung (Konteks 1B) maupun saat garam amfiprotik terbentuk di titik ekuivalen titrasi (Konteks 2). Syaratnya satu: konsentrasi harus jauh lebih besar dari Ka.

Kesamaan rumus antara Konteks 1B dan Konteks 2 bukan kebetulan, melainkan konsekuensi logis dari identitas kimia spesi yang terlibat.

Artikel Kimia Larutan · pH Garam Terhidrolisis & Titrasi · Bahan Ajar Tingkat Lanjut
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info