Materi Kimia: Hidrokarbon

Kamis, 18 Juni 2026

Bahan bakar yang menggerakkan kendaraan, plastik yang membungkus makanan, obat-obatan, pewarna, serta jutaan produk lain di sekitar kita hampir semuanya berakar pada satu keluarga senyawa: hidrokarbon. Bab ini membahas kekhasan atom karbon yang memungkinkan keanekaragaman luar biasa tersebut, penggolongan hidrokarbon, tata nama, isomer, serta sifat dan reaksi-reaksinya.

  1. Kekhasan Atom Karbon
  2. Penggolongan Hidrokarbon
  3. Struktur, Sifat, dan Tata Nama Alkana, Alkena, Alkuna
  4. Isomer Hidrokarbon
  5. Sifat Fisik dan Kimia Hidrokarbon
  6. Reaksi-reaksi pada Senyawa Hidrokarbon

A. Kekhasan Atom Karbon

Konfigurasi Elektron dan Valensi Karbon

Atom karbon (C) memiliki nomor atom 6 dengan konfigurasi elektron 2, 4. Artinya, karbon memiliki empat elektron valensi dan membentuk tepat empat ikatan kovalen untuk mencapai konfigurasi oktet. Kemampuan membentuk empat ikatan inilah yang menjadi pangkal kekhasan karbon.

Konfigurasi elektron atom C = 1s2 2s2 2p2; H = 1s1,
struktur Lewis atom C dengan 4 elektron valensi
H C H H H H C H H H

Empat Kekhasan Atom Karbon

1. Dapat Membentuk Empat Ikatan Kovalen

Karena memiliki empat elektron valensi, satu atom karbon dapat mengikat empat atom lain sekaligus. Keempat ikatan ini dapat berupa ikatan tunggal (C-C), rangkap dua (C=C), maupun rangkap tiga (C≡C) dengan sesama atom karbon maupun dengan atom lain seperti H, O, N, dan halogen.

2. Dapat Membentuk Rantai Karbon yang Panjang (Katenasi)

Atom karbon mampu berikatan dengan atom karbon lain secara berulang membentuk rantai yang sangat panjang. Sifat ini disebut katenasi. Tidak ada unsur lain yang memiliki kemampuan katenasi sebaik karbon, karena ikatan C-C cukup kuat (347 kJ/mol) sekaligus stabil di berbagai kondisi. Inilah yang memungkinkan terbentuknya jutaan senyawa karbon berbeda.

3. Dapat Membentuk Rantai Lurus, Bercabang, maupun Melingkar (Siklik)

Rantai karbon tidak harus lurus. Karbon bisa membentuk cabang di berbagai posisi, serta menutup diri menjadi cincin (senyawa siklik). Fleksibilitas bentuk inilah yang menghasilkan isomer, yaitu senyawa berbeda dengan rumus molekul yang sama.

Rantai Lurus

Semua atom C tersusun berurutan dari ujung ke ujung. Contoh: n-butana.

Rantai Bercabang

Ada atom C yang berikatan dengan lebih dari dua C lain sehingga membentuk percabangan. Contoh: isobutana.

Rantai Melingkar (Siklik)

Kedua ujung rantai C bergabung membentuk cincin tertutup. Contoh: sikloheksana.

4. Dapat Membentuk Ikatan Tunggal, Rangkap Dua, dan Rangkap Tiga

Karbon tidak hanya membentuk ikatan tunggal. Dua atom karbon bisa berbagi dua pasang elektron (ikatan rangkap dua, C=C) atau tiga pasang elektron (ikatan rangkap tiga, C≡C). Perbedaan jenis ikatan ini menghasilkan sifat reaktivitas yang berbeda dan menjadi dasar penggolongan hidrokarbon menjadi alkana, alkena, dan alkuna.

Posisi Atom Karbon: Primer, Sekunder, Tersier, dan Kuarterner

Atom karbon dalam suatu rantai dibedakan berdasarkan jumlah atom C lain yang diikatnya secara langsung.

Jenis C Terikat pada berapa atom C lain? Contoh posisi dalam rantai
Karbon primer (1°) 1 atom C Atom C di ujung rantai
Karbon sekunder (2°) 2 atom C Atom C di tengah rantai lurus
Karbon tersier (3°) 3 atom C Atom C di titik percabangan tiga
Karbon kuarterner (4°) 4 atom C Atom C di titik percabangan empat, tidak mengikat H
H 3 C C H C C H 2 C H 3 C H 3 C H 3 C H 3 C primer C skunder C tersier C kuarterner

B. Penggolongan Hidrokarbon

Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya tersusun dari atom karbon (C) dan hidrogen (H). Meskipun hanya terdiri dari dua jenis atom, variasi struktur yang dapat dibentuk sangatlah besar.

Skema Penggolongan Hidrokarbon

Hidrokarbon dibagi berdasarkan dua kriteria utama: bentuk rantai karbon dan jenis ikatan yang ada dalam rantai tersebut.

Penggolongan Hidrokarbon
Berdasarkan Bentuk Rantai Subgolongan Ciri Utama
Alifatik (rantai terbuka) Alkana Semua ikatan tunggal (jenuh)
Alkena Ada minimal satu ikatan rangkap dua C=C (tidak jenuh)
Alkuna Ada minimal satu ikatan rangkap tiga C≡C (tidak jenuh)
Alisiklik (rantai tertutup, non-aromatik) Sikloalkana, Sikloalkena Rantai karbon membentuk cincin, tidak memiliki sistem aromatik
Aromatik (rantai tertutup, sistem pi terdelokalisasi) Benzena dan turunannya Memiliki cincin benzena dengan elektron pi yang terdelokalisasi

Catatan: Pada kurikulum SMA kelas 10, fokus utama ada pada hidrokarbon alifatik (alkana, alkena, alkuna). Senyawa aromatik dan alisiklik dibahas lebih mendalam di kelas 12.

Perbedaan Hidrokarbon Jenuh dan Tidak Jenuh

Hidrokarbon Jenuh

Semua ikatan C-C berupa ikatan tunggal. Sudah "jenuh" dengan hidrogen, tidak bisa menambah atom H lagi tanpa memutus ikatan. Contoh: alkana (CnH2n+2).

Hidrokarbon Tidak Jenuh

Memiliki setidaknya satu ikatan rangkap dua atau rangkap tiga antar atom C. Masih dapat menambah atom H melalui reaksi adisi. Contoh: alkena dan alkuna.


C. Struktur, Sifat, dan Tata Nama

C.1 Alkana

Pengertian dan Rumus Umum

Alkana adalah hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon rantai terbuka yang seluruh ikatan C-C-nya berupa ikatan tunggal. Rumus umum alkana adalah:

CnH2n+2  (n = jumlah atom karbon, n ≥ 1)

Setiap atom karbon dalam alkana berikatan dengan empat atom lain (C atau H), memenuhi kaidah oktet secara penuh. Alkana juga disebut parafin (dari bahasa Latin parum affinis, artinya "kurang reaktif") karena kereaktifannya yang rendah dibanding golongan hidrokarbon lain.

Deret Homolog Alkana

Anggota-anggota alkana membentuk suatu deret homolog: setiap anggota berturutan berbeda satu gugus CH2. Berikut adalah 10 anggota pertama alkana.

n Nama Rumus Molekul Rumus Struktur Singkat Mr
1MetanaCH4CH416
2EtanaC2H6CH3-CH330
3PropanaC3H8CH3-CH2-CH344
4ButanaC4H10CH3-(CH2)2-CH358
5PentanaC5H12CH3-(CH2)3-CH372
6HeksanaC6H14CH3-(CH2)4-CH386
7HeptanaC7H16CH3-(CH2)5-CH3100
8OktanaC8H18CH3-(CH2)6-CH3114
9NonanaC9H20CH3-(CH2)7-CH3128
10DekanaC10H22CH3-(CH2)8-CH3142

Tips hafalan nama alkana C1-C10: Met-Et-Pro-But-Pent-Heks-Hept-Okt-Non-Dek. Awalan C5-C10 berasal dari bahasa Yunani untuk bilangan 5-10 (penta, hexa, hepta, okta, nona, deka).

Gugus Alkil

Ketika satu atom H dilepas dari alkana, terbentuk gugus yang disebut alkil. Gugus alkil tidak dapat berdiri sendiri dan selalu terikat sebagai cabang atau substituen. Nama gugus alkil diperoleh dengan mengganti akhiran -ana pada nama alkana dengan -il.

Asal Alkana Nama Gugus Alkil Lambang Rumus
MetanaMetilMe--CH3
EtanaEtilEt--CH2CH3
PropanaPropil / IsopropilPr- / iPr--CH2CH2CH3 / -CH(CH3)2
ButanaButil / Isobutil / sek-Butil / ters-ButilBu-berbagai bentuk

Tata Nama Alkana Bercabang (IUPAC)

Penamaan alkana bercabang mengikuti aturan IUPAC yang sistematis. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

  1. Tentukan rantai induk: yaitu rantai karbon terpanjang yang mengandung semua cabang utama. Rantai induk memberikan nama dasar senyawa.
  2. Beri nomor atom C pada rantai induk mulai dari ujung yang paling dekat dengan cabang pertama (nomor terkecil untuk cabang).
  3. Namai setiap cabang (gugus alkil) dengan nama gugus alkil yang sesuai dan cantumkan nomor posisinya.
  4. Jika ada cabang yang sama lebih dari satu, gunakan awalan di- (2), tri- (3), tetra- (4), dan seterusnya, diikuti nomor posisi masing-masing, dipisahkan koma.
  5. Urutan penulisan nama: nomor posisi-nama cabang (urut alfabetis) + nama rantai induk. Nomor dipisahkan tanda hubung dari nama, bukan dari nomor lain.
132H3CCHCH2CH3CH34
2-metilbutana

132H3CCCH3CH3CH3
2,2-dimetilpropana

H 3 C 1 CH 2 H C 3 H 2 C 4 CH 3 5 CH 3 CH 3
2,3-dimetilpentana

Aturan penting: Bila ada dua kemungkinan rantai induk dengan panjang yang sama, pilih yang memiliki cabang lebih banyak. Bila masih sama, pilih yang nomor lokan cabangnya lebih kecil (kumpulan nomor terkecil).

Contoh Penamaan Alkana

Rumus Struktur Singkat Nama IUPAC Penjelasan
CH3-CH(CH3)-CH3 2-metilpropana Rantai induk 3C (propana), cabang metil di C-2
CH3-CH(CH3)-CH2-CH3 2-metilbutana Rantai induk 4C (butana), cabang metil di C-2
CH3-C(CH3)2-CH3 2,2-dimetilpropana Rantai induk 3C, dua cabang metil keduanya di C-2
CH3-CH(CH3)-CH(CH3)-CH3 2,3-dimetilbutana Rantai induk 4C, cabang metil di C-2 dan C-3
CH3-CH(C2H5)-CH2-CH3 3-metilpentana Rantai induk 5C, cabang metil di C-3 (bukan "2-etilbutana")

C.2 Alkena

Pengertian dan Rumus Umum

Alkena adalah hidrokarbon alifatik tidak jenuh yang memiliki minimal satu ikatan rangkap dua C=C dalam rantainya. Rumus umum alkena dengan satu ikatan rangkap dua adalah:

CnH2n  (n ≥ 2)

Ikatan rangkap dua C=C terdiri dari satu ikatan sigma (σ) dan satu ikatan pi (π). Ikatan π bersifat lebih lemah dan lebih reaktif sehingga alkena jauh lebih mudah bereaksi dibanding alkana.

Deret Homolog Alkena

n Nama Rumus Molekul Rumus Struktur Singkat
2Etena (etilena)C2H4CH2=CH2
3Propena (propilena)C3H6CH2=CH-CH3
4ButenaC4H8CH2=CH-CH2-CH3 (1-butena)
5PentenaC5H10CH2=CH-(CH2)2-CH3 (1-pentena)
6HeksenaC6H12CH2=CH-(CH2)3-CH3 (1-heksena)

Tata Nama Alkena (IUPAC)

  1. Rantai induk adalah rantai karbon terpanjang yang memuat ikatan rangkap dua.
  2. Penomoran: mulai dari ujung yang paling dekat dengan ikatan rangkap, sehingga karbon pertama ikatan rangkap memperoleh nomor terkecil.
  3. Posisi ikatan rangkap ditunjukkan dengan nomor atom C pertama dari ikatan rangkap tersebut, ditulis sebelum akhiran -ena.
  4. Cabang (gugus alkil) diberi nama dan nomor seperti pada alkana.
  5. Akhiran nama rantai induk: -ana diganti -ena.
Rumus Struktur Singkat Nama IUPAC
CH2=CH-CH2-CH3 1-butena
CH3-CH=CH-CH3 2-butena
CH2=C(CH3)-CH3 2-metilpropena
CH3-CH=C(CH3)-CH2-CH3 3-metil-2-pentena
CH2=CH-CH=CH2 1,3-butadiena (dua ikatan rangkap)
H2C1HC2CH23CH34
1-butena

H3C1HC2CH3CH34
2-butena

H2C1C2CH33CH3
2-metilpropena

C.3 Alkuna

Pengertian dan Rumus Umum

Alkuna adalah hidrokarbon alifatik tidak jenuh yang memiliki minimal satu ikatan rangkap tiga C≡C dalam rantainya. Rumus umum alkuna dengan satu ikatan rangkap tiga adalah:

CnH2n-2  (n ≥ 2)

Ikatan rangkap tiga terdiri dari satu ikatan sigma (σ) dan dua ikatan pi (π). Dua atom C yang berikatan rangkap tiga beserta dua atom yang terikat langsung padanya membentuk geometri linear (sudut ikatan 180°).

Deret Homolog Alkuna

n Nama Rumus Molekul Rumus Struktur Singkat
2Etuna (asetilena)C2H2CH≡CH
3PropunaC3H4CH≡C-CH3
4ButunaC4H6CH≡C-CH2-CH3 (1-butuna)
5PentunaC5H8CH≡C-(CH2)2-CH3 (1-pentuna)
6HeksunaC6H10CH≡C-(CH2)3-CH3 (1-heksuna)

Tata Nama Alkuna (IUPAC)

Aturan penamaan alkuna identik dengan alkena, dengan perbedaan:

  • Rantai induk adalah rantai terpanjang yang memuat ikatan rangkap tiga.
  • Akhiran -ana diganti -una.
  • Penomoran dimulai dari ujung paling dekat dengan ikatan rangkap tiga.
Rumus Struktur Singkat Nama IUPAC
CH≡C-CH2-CH3 1-butuna
CH3-C≡C-CH3 2-butuna
CH≡C-CH(CH3)-CH3 3-metil-1-butuna
CH3-C≡C-CH2-CH3 2-pentuna

Perbandingan Rumus Umum Alkana-Alkena-Alkuna

Golongan Rumus Umum Jenis Ikatan Contoh (n=4) Rumus Molekul (n=4)
Alkana CnH2n+2 Semua ikatan tunggal Butana C4H10
Alkena CnH2n Ada satu C=C Butena C4H8
Alkuna CnH2n-2 Ada satu C≡C Butuna C4H6
Butana C4H10
H3C4CH23H2C2CH31

1-Butena C4H8
H2C1HC2CH23CH34

1-Butuna C4H6
HC1C2H2C3CH34

D. Isomer Hidrokarbon

Isomer adalah senyawa-senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi struktur atau susunan atomnya berbeda, sehingga sifatnya pun berbeda. Semakin banyak atom C, semakin banyak kemungkinan isomer yang dapat terbentuk.

Jenis-Jenis Isomer pada Hidrokarbon

1. Isomer Kerangka (Isomer Struktur)

Senyawa-senyawa ini memiliki rumus molekul sama tetapi kerangka atau bentuk rantai karbonnya berbeda (lurus atau bercabang). Isomer kerangka hanya ditemukan pada alkana, alkena, maupun alkuna dengan n ≥ 4.

Isomer kerangka butana: n-butana dan 2-metilpropana (isobutana)
H3C4CH23H2C2CH31
C4H10
n-butana ( \(-0,5^{\circ} \text{C}\))

H3CHCCH3CH3132
C4H10
2-metilpropana/isobutana (\(-11,7^{\circ} \text{C}\))

Contoh isomer kerangka C4H10 (butana): ada 2 isomer, yaitu n-butana (rantai lurus) dan 2-metilpropana (bercabang). C5H12 memiliki 3 isomer, C6H14 memiliki 5 isomer, C7H16 memiliki 9 isomer, dan seterusnya jumlahnya bertambah pesat.

2. Isomer Posisi

Senyawa yang rantai karbonnya sama, tetapi posisi ikatan rangkap (pada alkena atau alkuna) berada di tempat yang berbeda. Isomer posisi relevan mulai dari n ≥ 4 untuk alkena dan alkuna.

Contoh isomer posisi C4H8 (butena):

  • 1-butena: CH2=CH-CH2-CH3 (ikatan rangkap di C-1)
  • 2-butena: CH3-CH=CH-CH3 (ikatan rangkap di C-2)
Isomer posisi 1-butena dan 2-butena, serta isomer kerangka 2-metilpropena
1-butena (C4H8)
H2C1HC2CH23CH34

2-butena (C4H8)
H3C1HC2CH3CH34

2-metilpropena (C4H8)
H2C1C2CH33CH3

3. Isomer Gugus Fungsi

Senyawa yang memiliki rumus molekul sama tetapi berbeda golongan. Antara alkena dan sikloalkana keduanya memiliki rumus umum CnH2n, sehingga merupakan isomer gugus fungsi satu sama lain. Demikian pula alkuna dan sikloalkena (CnH2n-2).

Pasangan Isomer Gugus Fungsi Rumus Umum Contoh (n=3)
Alkena dan Sikloalkana CnH2n Propena (C3H6) dan siklopropana (C3H6)
Alkuna dan Sikloalkena CnH2n-2 Propuna (C3H4) dan siklopropen (C3H4)
Alkuna dan Alkadiena CnH2n-2 1-butuna dan 1,3-butadiena, keduanya C4H6

4. Isomer Geometri (Isomer cis-trans)

Isomer ini terjadi pada alkena ketika dua atom C yang terhubung oleh ikatan rangkap dua masing-masing mengikat dua gugus yang berbeda. Karena ikatan π mencegah rotasi bebas, kedua gugus dapat berada di sisi yang sama (cis) atau berseberangan (trans).

Syarat terbentuknya isomer geometri pada alkena:

  • Harus ada ikatan C=C (tidak terjadi pada alkana).
  • Setiap C pada ikatan rangkap harus mengikat dua gugus yang berbeda. Jika salah satu C mengikat dua gugus yang sama, isomer cis-trans tidak ada.
cis-2-butena dan trans-2-butena
H 3 C 1 C 2 C 3 H 4 H CH 3 H 3 C 1 C 2 C 3 CH 3 4 H H cis -2-butena trans -2-butena
Senyawa Deskripsi Geometri Titik Didih
cis-2-butena Dua gugus CH3 di sisi yang sama dari ikatan rangkap 3,7°C
trans-2-butena Dua gugus CH3 di sisi berseberangan dari ikatan rangkap 0,9°C

Jumlah Isomer Beberapa Alkana

Rumus Molekul Jumlah Isomer Alkana Nama-namanya
C4H10 2 n-butana, 2-metilpropana
C5H12 3 n-pentana, 2-metilbutana, 2,2-dimetilpropana
C6H14 5 n-heksana, 2-metilpentana, 3-metilpentana, 2,2-dimetilbutana, 2,3-dimetilbutana
C7H16 9 (terlalu panjang untuk dituliskan semua)

E. Sifat Fisik dan Kimia Hidrokarbon

Sifat Fisik Hidrokarbon

Wujud pada Suhu Kamar

Wujud hidrokarbon pada suhu kamar (sekitar 25°C) bergantung pada massa molekul relatifnya, yang berkaitan dengan kekuatan gaya dispersi London antarmolekul.

Jumlah Atom C Wujud pada 25°C Contoh Penggunaan
C1 sampai C4 Gas LPG (C3-C4), gas alam (C1-C2)
C5 sampai C17 Cair Bensin (C5-C8), minyak tanah (C9-C14), solar (C15-C17)
C18 ke atas Padat Lilin parafin (C20-C30), aspal

Titik Didih dan Titik Leleh

Titik didih dan titik leleh hidrokarbon meningkat seiring bertambahnya jumlah atom karbon dalam rantai. Hal ini disebabkan molekul yang lebih besar memiliki lebih banyak elektron sehingga gaya dispersi London antarmolekul lebih kuat dan diperlukan energi lebih besar untuk memisahkan molekul-molekulnya.

  • Pengaruh panjang rantai: rantai lebih panjang, titik didih lebih tinggi. n-pentana (Td = 36°C) lebih tinggi dari propana (Td = -42°C).
  • Pengaruh percabangan: isomer dengan cabang lebih banyak memiliki titik didih lebih rendah, karena bentuk molekul lebih kompak sehingga luas kontak antarmolekul berkurang. n-pentana (Td = 36°C) lebih tinggi dari 2,2-dimetilpropana (Td = 9,5°C) meskipun rumus molekulnya sama.
  • Pengaruh jenis ikatan (untuk jumlah C sama): alkuna memiliki titik didih sedikit lebih tinggi dari alkena, dan alkena sedikit lebih tinggi dari alkana.

Kelarutan

Hidrokarbon bersifat nonpolar karena perbedaan keelektronegatifan antara C dan H sangat kecil dan distribusi muatan molekulnya simetris. Sesuai prinsip "like dissolves like" (polar larut dalam polar, nonpolar larut dalam nonpolar):

  • Hidrokarbon tidak larut dalam air (pelarut polar).
  • Hidrokarbon larut dalam pelarut organik nonpolar seperti heksana, bensin, dan dietil eter.

Massa Jenis

Massa jenis semua hidrokarbon lebih kecil dari air (massa jenis air = 1 g/mL). Oleh karena itu, minyak dan bensin selalu berada di atas air jika keduanya dicampur. Massa jenis hidrokarbon berkisar antara 0,6 sampai 0,9 g/mL.

Sifat Kimia Hidrokarbon

Perbedaan Reaktivitas Alkana, Alkena, dan Alkuna

Sifat Kimia Alkana Alkena Alkuna
Reaktivitas umum Rendah (disebut parafin) Sedang-tinggi Tinggi
Reaksi khas Substitusi, oksidasi (pembakaran) Adisi, polimerisasi, oksidasi Adisi, polimerisasi, oksidasi
Reaksi dengan Br2/CCl4 Tidak bereaksi di gelap (hanya bereaksi dengan cahaya) Bereaksi cepat, warna cokelat memudar Bereaksi cepat, warna cokelat memudar
Reaksi dengan KMnO4 Tidak bereaksi (dalam kondisi biasa) Bereaksi, warna ungu memudar Bereaksi, warna ungu memudar

Uji warna untuk membedakan alkana dari alkena/alkuna: Tambahkan larutan Br2 dalam CCl4 (bromin, berwarna cokelat kemerahan). Alkena dan alkuna akan menghilangkan warna larutan tersebut dengan cepat karena terjadi reaksi adisi pada ikatan rangkap. Alkana tidak mengubah warna larutan ini dalam kondisi gelap.


F. Reaksi-reaksi pada Senyawa Hidrokarbon

1. Reaksi Pembakaran (Oksidasi)

Semua hidrokarbon dapat terbakar. Reaksi pembakaran adalah reaksi antara hidrokarbon dengan oksigen (O2) menghasilkan energi kalor yang besar. Ada dua jenis pembakaran.

Pembakaran Sempurna

Terjadi ketika pasokan oksigen berlebih. Produk utama adalah karbon dioksida (CO2) dan air (H2O).

CnH2n+2 + O2 → CO2 + H2O    (pembakaran sempurna alkana)

Contoh pembakaran sempurna metana (komponen utama gas alam):

CH4 + 2 O2 → CO2 + 2 H2O + energi

Contoh pembakaran sempurna propana (komponen LPG):

C3H8 + 5 O2 → 3 CO2 + 4 H2O + energi

Pembakaran Tidak Sempurna

Terjadi ketika pasokan oksigen terbatas. Produk yang dihasilkan adalah karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), jelaga (karbon padat, C), dan air. Karbon monoksida adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat beracun karena berikatan kuat dengan hemoglobin, menghalangi pengangkutan oksigen dalam darah.

2 CH4 + 3 O2 → 2 CO + 4 H2O (pembakaran tidak sempurna, O2 terbatas)

Bahaya pembakaran tidak sempurna: Penggunaan kompor gas atau tungku arang di ruangan tertutup yang tidak berventilasi dapat menyebabkan akumulasi gas CO. Keracunan CO bisa menyebabkan pusing, pingsan, kerusakan otak permanen, hingga kematian. Pastikan selalu ada sirkulasi udara yang cukup saat menggunakan bahan bakar apa pun.

Cara Menyetarakan Reaksi Pembakaran Sempurna

Untuk alkana CnH2n+2, persamaan umum yang sudah setara adalah:

CnH2n+2 + $\dfrac{3n+1}{2}$ O2 → n CO2 + (n+1) H2O

Untuk alkena CnH2n:

CnH2n + $\dfrac{3n}{2}$ O2 → n CO2 + n H2O

2. Reaksi Substitusi (Halogenasi Alkana)

Alkana dapat bereaksi dengan halogen (Cl2 atau Br2) ketika ada cahaya ultraviolet (UV) atau panas. Pada reaksi ini, satu atom H pada alkana digantikan oleh satu atom halogen. Disebut reaksi substitusi karena satu atom/gugus digantikan oleh atom/gugus lain.

CH4 + Cl2 → CH3Cl + HCl    (dengan cahaya UV, suhu tinggi)

Reaksi ini berlangsung melalui mekanisme radikal bebas (chain reaction) dalam tiga tahap: inisiasi (pembentukan radikal Cl• dari Cl2 oleh foton), propagasi (radikal Cl• menyerang CH4 menghasilkan CH3• yang kemudian bereaksi dengan Cl2 lagi), dan terminasi (dua radikal bertemu dan saling menetralkan).

Jika halogen berlebih, substitusi dapat terus berlanjut menghasilkan produk yang lebih terhalogenasi:

CH3Cl + Cl2 → CH2Cl2 + HCl (diklorometana)
CH2Cl2 + Cl2 → CHCl3 + HCl (kloroform)
CHCl3 + Cl2 → CCl4 + HCl (tetraklorometana)

3. Reaksi Adisi (Khusus Alkena dan Alkuna)

Reaksi adisi adalah reaksi penambahan atom atau gugus pada ikatan rangkap, sehingga ikatan rangkap berkurang derajatnya. Ini adalah reaksi khas alkena dan alkuna karena mereka memiliki ikatan π yang reaktif.

Adisi Hidrogen (Hidrogenasi)

Alkena atau alkuna bereaksi dengan H2 dengan bantuan katalis logam (Ni, Pt, atau Pd) menghasilkan alkana atau alkena. Reaksi ini juga dikenal sebagai reduksi.

CH2=CH2 + H2 $~~~\underrightarrow{\text{Ni,} 150 ^\circ\text{C}}~~~$ CH3-CH3 (etena → etana)
CH≡CH + H2 $~~~\underrightarrow{\text{Pd}}~~~$ CH2=CH2 $~~~\underrightarrow{\text{Ni}}~~~$ CH3-CH3

Adisi Halogen (Halogenasi)

Alkena bereaksi dengan Br2 atau Cl2 tanpa memerlukan cahaya, menghasilkan dihaloalkana. Reaksi ini digunakan sebagai uji konfirmasi adanya ikatan rangkap.

CH2=CH2 + Br2 → CH2Br-CH2Br (1,2-dibromoetana)

Larutan bromin (Br2/CCl4) berwarna cokelat kemerahan, tetapi warnanya hilang setelah bereaksi dengan alkena karena Br2 dikonsumsi.

Adisi Hidrogen Halida (HX)

Alkena bereaksi dengan HCl, HBr, atau HI menghasilkan haloalkana. Untuk alkena tidak simetris, berlaku Aturan Markovnikov: atom H dari HX akan terikat pada atom C ikatan rangkap yang sudah memiliki lebih banyak atom H (karbon lebih miskin), sedangkan atom halogen (X) terikat pada karbon yang lebih kaya substituen (lebih sedikit H).

CH3-CH=CH2 + HBr → CH3-CHBr-CH3 (2-bromopropana, bukan 1-bromopropana)

Aturan Markovnikov: "Atom H akan bergabung pada atom C yang sudah paling banyak mengandung H." Hasil reaksi yang mengikuti aturan ini disebut produk Markovnikov. Pada kondisi tertentu (adanya peroksida, radikal bebas), aturan ini dapat dilanggar menghasilkan produk anti-Markovnikov.

Adisi Air (Hidrasi)

Alkena bereaksi dengan air (H2O) dengan bantuan katalis asam (H2SO4 atau H3PO4) menghasilkan alkohol. Posisi gugus OH juga mengikuti aturan Markovnikov.

CH2=CH2 + H2O $~~\underrightarrow{\ce{H+}}~~$ CH3-CH2-OH (etanol)
CH3-CH=CH2 + H2O $~~\underrightarrow{\ce{H+}}~~$ CH3-CHOH-CH3 (2-propanol)

4. Reaksi Eliminasi

Reaksi eliminasi adalah kebalikan dari adisi: dua atom atau gugus pada atom C yang bersebelahan dilepas sehingga terbentuk ikatan rangkap baru. Reaksi eliminasi pada alkil halida menggunakan basa kuat (seperti KOH dalam alkohol) menghasilkan alkena, sedangkan eliminasi pada alkohol menggunakan asam kuat panas menghasilkan alkena dan air.

CH3-CHBr-CH3 + KOH(alkohol) → CH3-CH=CH2 + KBr + H2O
CH3-CHOH-CH3 + H2SO4(panas) → CH3-CH=CH2 + H2O

5. Reaksi Polimerisasi

Alkena (terutama etena, propena, dan stirena) dapat mengalami polimerisasi adisi: banyak molekul kecil (monomer) yang saling berikatan melalui pembukaan ikatan rangkap membentuk rantai polimer raksasa.

n CH2=CH2 → (-CH2-CH2-)n (polietilena, PE)
n CH2=CH-CH3 → (-CH2-CH(CH3)-)n (polipropilena, PP)
Monomer Polimer Kegunaan Umum
Etena (CH2=CH2) Polietilena (PE) Kantong plastik, botol, pipa
Propena (CH2=CHCH3) Polipropilena (PP) Wadah makanan, tali, karpet
Kloroetena (CH2=CHCl) PVC (polivinil klorida) Pipa air, lantai, kabel listrik
Tetrafluoroetena (CF2=CF2) PTFE (teflon) Lapisan anti lengket peralatan masak

Ringkasan Reaksi-reaksi Hidrokarbon

Jenis Reaksi Senyawa yang Bereaksi Kondisi Produk Khas
Pembakaran sempurna Semua hidrokarbon O2 berlebih CO2 dan H2O
Pembakaran tidak sempurna Semua hidrokarbon O2 terbatas CO, CO2, jelaga, H2O
Substitusi halogenasi Alkana + X2 Cahaya UV atau panas Alkil halida + HX
Adisi H2 (hidrogenasi) Alkena/alkuna + H2 Katalis Ni/Pt/Pd Alkana (atau alkena dari alkuna)
Adisi halogen Alkena/alkuna + X2 Suhu kamar Dihaloalkana
Adisi HX Alkena + HX Suhu kamar (Markovnikov) Alkil monohalida
Adisi air (hidrasi) Alkena + H2O Katalis asam, panas Alkohol
Eliminasi Alkil halida atau alkohol Basa kuat (alkohol) atau H+ panas Alkena
Polimerisasi adisi Monomer alkena Inisiator radikal atau asam Polimer (PE, PP, PVC, dsb.)

Rangkuman Bab 10

  • Kekhasan atom karbon: dapat membentuk 4 ikatan kovalen, rantai panjang (katenasi), rantai lurus/bercabang/siklik, dan ikatan tunggal/rangkap dua/rangkap tiga.
  • Hidrokarbon hanya mengandung C dan H; dibagi menjadi alifatik (alkana, alkena, alkuna), alisiklik, dan aromatik.
  • Alkana (CnH2n+2): jenuh, reaktivitas rendah. Alkena (CnH2n): ada C=C, lebih reaktif. Alkuna (CnH2n-2): ada C≡C, paling reaktif.
  • Penamaan IUPAC: tentukan rantai induk terpanjang (memuat ikatan rangkap untuk alkena/alkuna), nomori dari ujung terdekat ikatan rangkap atau cabang, namai cabang sebagai gugus alkil.
  • Isomer: kerangka (bentuk rantai berbeda), posisi (letak ikatan rangkap berbeda), gugus fungsi (golongan berbeda, misal alkena vs sikloalkana), geometri (cis-trans pada alkena).
  • Sifat fisik: titik didih naik dengan bertambahnya jumlah C; isomer bercabang lebih rendah titik didihnya; semua hidrokarbon tidak larut dalam air dan massa jenis lebih kecil dari air.
  • Reaksi: pembakaran (semua HC), substitusi (alkana + X2 dengan UV), adisi (alkena/alkuna: H2, X2, HX, H2O mengikuti aturan Markovnikov), eliminasi, dan polimerisasi.
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2026 Urip dot Info | Disain Template oleh Herdiansyah Dimodivikasi Urip.Info