Pernah memperhatikan besi yang berkarat, baterai yang menggerakkan ponsel, atau proses pelapisan logam pada perhiasan? Semua fenomena tersebut melibatkan reaksi reduksi-oksidasi (redoks) dan prinsip elektrokimia. Reaksi redoks merupakan salah satu jenis reaksi kimia yang paling luas aplikasinya dalam kehidupan manusia, mulai dari produksi energi listrik, industri metalurgi, hingga proses biologis di dalam sel tubuh kita.
- Menjelaskan konsep reaksi reduksi dan oksidasi beserta oksidator dan reduktor
- Menentukan bilangan oksidasi unsur dalam senyawa dan ion
- Menyetarakan persamaan reaksi redoks dengan metode setengah reaksi dan bilangan oksidasi
- Menganalisis prinsip kerja sel volta dan sel elektrolisis
- Menjelaskan proses korosi dan cara pencegahannya
- Menerapkan Hukum Faraday I dan II dalam perhitungan elektrolisis
A. Konsep Reaksi Reduksi-Oksidasi
Konsep reaksi redoks mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Terdapat tiga cara pandang dalam memahami reaksi ini, yaitu berdasarkan pengikatan dan pelepasan oksigen, perpindahan elektron, serta perubahan bilangan oksidasi.
1. Reaksi Reduksi
Reaksi reduksi dapat dipandang dari empat sudut.
Berdasarkan Oksigen
Reduksi adalah reaksi pelepasan oksigen dari suatu zat. Contoh: CuO diubah menjadi Cu dengan melepas oksigen.
Berdasarkan Elektron
Reduksi adalah reaksi penerimaan elektron oleh suatu atom atau ion. Ion Cu2+ menerima 2 elektron menjadi Cu.
Berdasarkan Biloks
Reduksi adalah reaksi yang menyebabkan penurunan bilangan oksidasi suatu unsur dalam suatu zat.
Berdasarkan Hidrogen
Dalam kimia organik, reduksi sering dikaitkan dengan penambahan hidrogen ke dalam suatu senyawa.
CuO mengalami reduksi: bilangan oksidasi Cu turun dari +2 menjadi 0. CuO melepaskan oksigennya kepada H2.
2. Reaksi Oksidasi
Reaksi oksidasi merupakan kebalikan dari reduksi dan dapat dipahami dari sudut yang sama.
Berdasarkan Oksigen
Oksidasi adalah reaksi pengikatan oksigen oleh suatu zat. Contoh: C dibakar menjadi CO2.
Berdasarkan Elektron
Oksidasi adalah reaksi pelepasan elektron oleh suatu atom atau ion. Zn melepas 2 elektron menjadi Zn2+.
Berdasarkan Biloks
Oksidasi adalah reaksi yang menyebabkan kenaikan bilangan oksidasi suatu unsur dalam suatu zat.
Berdasarkan Hidrogen
Dalam kimia organik, oksidasi dikaitkan dengan pelepasan hidrogen dari suatu senyawa.
Oksidasi Zn → Zn2+ + 2e− (biloks naik: 0 ke +2)
Reduksi Cu2+ + 2e− → Cu (biloks turun: +2 ke 0)
3. Oksidator dan Reduktor
Oksidator (Pengoksidasi)
Zat yang mengoksidasi zat lain. Oksidator sendiri mengalami reduksi (menerima elektron, biloksnya turun). Contoh: O2, F2, Cl2, KMnO4, K2Cr2O7.
Reduktor (Pereduksi)
Zat yang mereduksi zat lain. Reduktor sendiri mengalami oksidasi (melepas elektron, biloksnya naik). Contoh: Zn, Al, C, H2, SO2.
| Zat | Peran | Proses yang Dialami | Perubahan Biloks |
|---|---|---|---|
| Oksidator | Mengoksidasi zat lain | Mengalami reduksi (menerima e−) | Turun |
| Reduktor | Mereduksi zat lain | Mengalami oksidasi (melepas e−) | Naik |
B. Bilangan Oksidasi (Biloks)
Bilangan oksidasi adalah muatan listrik yang dimiliki suatu atom dalam molekul atau ion jika semua elektron ikatan diberikan kepada atom yang lebih elektronegatif. Biloks merupakan konsep formal yang sangat berguna untuk melacak perpindahan elektron dalam reaksi redoks.
Aturan Penetapan Bilangan Oksidasi
Tentukan biloks Cr dalam K2Cr2O7!
Biloks K = +1, biloks O = −2. Misalkan biloks Cr = x.
2(+1) + 2x + 7(−2) = 0
2 + 2x − 14 = 0
2x = 12
x = +6
Jadi, biloks Cr dalam K2Cr2O7 adalah +6.
Tentukan biloks S dalam SO42−!
Muatan ion = −2, biloks O = −2. Misalkan biloks S = x.
x + 4(−2) = −2
x − 8 = −2
x = +6
| Senyawa/Ion | Biloks Unsur | Cara Menghitung |
|---|---|---|
| HNO3 | N = +5 | +1 + x + 3(−2) = 0; x = +5 |
| H2SO3 | S = +4 | 2(+1) + x + 3(−2) = 0; x = +4 |
| MnO4− | Mn = +7 | x + 4(−2) = −1; x = +7 |
| Cr2O72− | Cr = +6 | 2x + 7(−2) = −2; x = +6 |
| Fe3O4 | Fe = +8/3 | Campuran Fe2+ dan Fe3+ |
C. Penyetaraan Reaksi Redoks
Reaksi redoks harus disetarakan agar memenuhi hukum kekekalan massa dan kekekalan muatan. Terdapat dua metode yang umum digunakan.
1. Cara Setengah Reaksi (Metode Ion-Elektron)
Metode ini memisahkan reaksi redoks menjadi dua setengah reaksi terpisah: setengah reaksi oksidasi dan setengah reaksi reduksi, kemudian menggabungkannya kembali.
- Tuliskan persamaan reaksi ionik (pisahkan elektrolit kuat menjadi ion-ionnya).
- Tentukan zat yang mengalami reduksi dan oksidasi, lalu pisahkan menjadi dua setengah reaksi.
- Setarakan atom selain O dan H terlebih dahulu.
- Setarakan atom O dengan menambahkan H2O (dalam suasana asam atau basa).
- Setarakan atom H: dalam suasana asam tambahkan H+, dalam suasana basa tambahkan OH−.
- Setarakan muatan dengan menambahkan elektron (e−) pada ruas yang muatannya lebih positif.
- Samakan jumlah elektron pada kedua setengah reaksi dengan mengalikan faktor tertentu.
- Jumlahkan kedua setengah reaksi, sederhanakan, dan periksa kesetaraannya.
Setarakan: MnO4− + Fe2+ → Mn2+ + Fe3+ (dalam H2SO4)
Setengah reaksi reduksi (Mn):
MnO4− + 8H+ + 5e− → Mn2+ + 4H2OSetengah reaksi oksidasi (Fe):
Fe2+ → Fe3+ + e−Samakan elektron: kalikan reaksi oksidasi dengan 5.
5Fe2+ → 5Fe3+ + 5e−Jumlahkan dan sederhanakan:
MnO4− + 5Fe2+ + 8H+ → Mn2+ + 5Fe3+ + 4H2OSetarakan: MnO4− + SO32− → MnO2 + SO42− (dalam NaOH)
Setengah reaksi reduksi:
MnO4− + 2H2O + 3e− → MnO2 + 4OH−Setengah reaksi oksidasi:
SO32− + 2OH− → SO42− + H2O + 2e−Samakan elektron (KPK 3 dan 2 = 6): kalikan reaksi reduksi x2, oksidasi x3.
2MnO4− + 3SO32− + H2O → 2MnO2 + 3SO42− + 2OH−2. Cara Bilangan Oksidasi (Metode Perubahan Biloks)
Metode ini didasarkan pada prinsip bahwa jumlah kenaikan biloks (oksidasi) harus sama dengan jumlah penurunan biloks (reduksi) dalam satu reaksi redoks.
- Tentukan bilangan oksidasi semua unsur di ruas kiri dan kanan.
- Identifikasi unsur yang mengalami perubahan biloks.
- Hitung perubahan biloks untuk setiap unsur (kenaikan dan penurunan).
- Samakan total kenaikan biloks dengan total penurunan biloks menggunakan koefisien yang sesuai.
- Setarakan atom-atom lain (selain O dan H) yang tidak berubah biloksnya.
- Setarakan O dan H menggunakan H2O dan H+ (atau OH−).
- Periksa kesetaraan muatan dan jumlah atom di kedua ruas.
Setarakan: K2Cr2O7 + HCl → KCl + CrCl3 + Cl2 + H2O
Biloks Cr: K2Cr2O7 → +6 menjadi CrCl3 → +3. Penurunan = 3 per atom Cr, ada 2 atom Cr, total turun = 6.
Biloks Cl: HCl → −1 menjadi Cl2 → 0. Kenaikan = 1 per atom Cl. Agar total naik = 6, diperlukan 6 atom Cl.
Koefisien awal: K2Cr2O7 + 14HCl → 2KCl + 2CrCl3 + 3Cl2 + 7H2O
K2Cr2O7 + 14HCl → 2KCl + 2CrCl3 + 3Cl2 + 7H2OD. Sel Elektrokimia
Sel elektrokimia adalah perangkat yang mengubah energi kimia menjadi energi listrik (sel galvani/volta) atau sebaliknya, menggunakan energi listrik untuk menjalankan reaksi kimia (sel elektrolisis).
1. Sel Volta atau Sel Galvani
Sel volta adalah sel elektrokimia yang menghasilkan arus listrik dari reaksi redoks yang berlangsung secara spontan. Dinamakan sesuai nama Alessandro Volta dan Luigi Galvani.
Komponen Sel Volta
Elektron mengalir dari anoda ke katoda melalui kawat penghantar. Jembatan garam menjaga kenetralan larutan.
- Anoda: Elektroda negatif, tempat terjadinya reaksi oksidasi. Logam anoda melarut.
- Katoda: Elektroda positif, tempat terjadinya reaksi reduksi. Ion logam mengendap.
- Elektrolit: Larutan yang mengandung ion sebagai penghubung dalam larutan.
- Jembatan garam: Tabung berisi larutan elektrolit (KCl atau KNO3) yang menjaga keseimbangan muatan antara dua larutan.
Notasi Sel Volta
Sel volta dituliskan dalam notasi sel (notasi IUPAC) sebagai berikut:
Sel yang terdiri dari elektroda Zn dalam larutan ZnSO4 dan elektroda Cu dalam larutan CuSO4.
Zn(s) | Zn2+(aq) || Cu2+(aq) | Cu(s)Reaksi anoda (oksidasi): Zn → Zn2+ + 2e−
Reaksi katoda (reduksi): Cu2+ + 2e− → Cu
Reaksi sel keseluruhan: Zn + Cu2+ → Zn2+ + Cu
Potensial Sel (Eosel)
Potensial sel menyatakan kemampuan sel untuk mengalirkan arus listrik, dihitung dari nilai potensial elektroda standar (Eo) masing-masing elektroda.
| Elektroda | Setengah Reaksi Reduksi | Eo (Volt) |
|---|---|---|
| F2/F− | F2 + 2e− → 2F− | +2,87 |
| MnO4−/Mn2+ | MnO4− + 8H+ + 5e− → Mn2+ + 4H2O | +1,51 |
| Au3+/Au | Au3+ + 3e− → Au | +1,50 |
| Cl2/Cl− | Cl2 + 2e− → 2Cl− | +1,36 |
| Cu2+/Cu | Cu2+ + 2e− → Cu | +0,34 |
| H+/H2 | 2H+ + 2e− → H2 | 0,00 |
| Fe2+/Fe | Fe2+ + 2e− → Fe | −0,44 |
| Zn2+/Zn | Zn2+ + 2e− → Zn | −0,76 |
| Al3+/Al | Al3+ + 3e− → Al | −1,66 |
| Na+/Na | Na+ + e− → Na | −2,71 |
Sel volta terdiri dari elektroda Zn dan Cu. Hitung Eosel!
Eo(Zn2+/Zn) = −0,76 V; Eo(Cu2+/Cu) = +0,34 V
Karena Eo Cu lebih besar, Cu menjadi katoda dan Zn menjadi anoda.
Eosel = Eokatoda − Eoanoda = +0,34 − (−0,76) = +1,10 V
2. Sel Elektrolisis
Sel elektrolisis adalah kebalikan dari sel volta: energi listrik dari luar digunakan untuk memaksa berlangsungnya reaksi kimia yang tidak spontan. Digunakan dalam industri untuk produksi logam, pemurnian logam, dan pelapisan logam.
Perbandingan Sel Volta vs Sel Elektrolisis
| Aspek | Sel Volta | Sel Elektrolisis |
|---|---|---|
| Sumber energi | Reaksi kimia | Listrik dari luar |
| Kespontanan | Spontan | Tidak spontan |
| Eosel | Positif | Negatif |
| Anoda | Negatif | Positif |
| Katoda | Positif | Negatif |
Reaksi di Elektroda
Katoda (negatif): Terjadi reduksi. Ion logam atau air direduksi. Kation bergerak ke katoda.
Anoda (positif): Terjadi oksidasi. Ion negatif atau air dioksidasi. Anion bergerak ke anoda.
Produk Elektrolisis Larutan
Dalam elektrolisis larutan, ada persaingan antara ion dari garam dan molekul air untuk dioksidasi/direduksi. Penentuan produknya mengikuti aturan berikut.
- Jika kation adalah logam aktif (Na, K, Ca, Mg, Al), yang direduksi adalah H2O, menghasilkan gas H2 dan ion OH−.
- Jika kation adalah logam kurang aktif (Cu, Ag, Au, Ni), kation logam yang direduksi, mengendapkan logam di katoda.
- Jika larutannya asam (ada H+), yang direduksi adalah H+, menghasilkan gas H2.
- Jika anoda dari logam aktif (bukan Pt atau C), maka logam anoda yang dioksidasi (anoda melarut).
- Jika anodanya inert (Pt atau C) dan anionnya halida (Cl−, Br−, I−), maka anion halida yang dioksidasi menghasilkan gas halogen.
- Jika anodanya inert dan anion adalah SO42−, NO3−, atau PO43−, maka yang dioksidasi adalah H2O, menghasilkan gas O2 dan H+.
Katoda (reduksi): Cu2+ lebih mudah direduksi dari H2O.
Cu2+(aq) + 2e− → Cu(s)Anoda (oksidasi): SO42− tidak dioksidasi, maka H2O yang dioksidasi.
2H2O(l) → O2(g) + 4H+(aq) + 4e−Hasil: logam Cu mengendap di katoda, gas O2 terbentuk di anoda, larutan menjadi asam.
Katoda: Na+(l) + e− → Na(l)
Anoda: 2Cl−(l) → Cl2(g) + 2e−
Reaksi ini digunakan secara industri untuk memproduksi logam Na murni dan gas Cl2.
Aplikasi Sel Elektrolisis
E. Korosi
Korosi adalah proses kerusakan logam akibat reaksi kimia atau elektrokimia dengan lingkungannya. Korosi paling umum terjadi pada besi, yang kita kenal sebagai perkaratan, membentuk Fe2O3.xH2O (karat besi berwarna cokelat kemerahan).
1. Proses Korosi
Korosi besi merupakan proses elektrokimia yang memerlukan adanya oksigen dan air (uap air). Proses ini berlangsung seperti sel elektrokimia galvanik mikro di permukaan besi.
Di daerah anoda (permukaan besi yang lebih aktif, misalnya di bekas goresan):
Fe(s) → Fe2+(aq) + 2e− (oksidasi)Di daerah katoda (permukaan besi yang lebih pasif, biasanya tergenang air):
O2(g) + 2H2O(l) + 4e− → 4OH−(aq) (reduksi)Ion Fe2+ dan OH− bereaksi:
Fe2+(aq) + 2OH−(aq) → Fe(OH)2(s)Oksidasi lanjutan oleh O2:
4Fe(OH)2(s) + O2(g) + 2H2O(l) → 4Fe(OH)3(s)Fe(OH)3 mengalami dehidrasi menjadi Fe2O3.xH2O (karat besi).
Faktor yang Mempercepat Korosi
- Kehadiran elektrolit: Air laut dan larutan asam mempercepat korosi karena meningkatkan konduktivitas larutan.
- Kontak dengan logam yang lebih mulia: Besi yang bersentuhan langsung dengan tembaga atau logam mulia lain akan lebih cepat berkarat (pasangan galvanik).
- Kehadiran asam: Lingkungan asam (pH rendah) mempercepat pelarutan besi.
- Tegangan permukaan: Bagian yang mengalami tekanan mekanis atau goresan lebih mudah berkarat.
- Temperatur tinggi: Laju reaksi kimia meningkat dengan suhu, sehingga korosi lebih cepat di lingkungan panas.
2. Pencegahan Korosi
Pencegahan korosi bertujuan mengisolasi logam dari faktor penyebab korosi atau mengubah sifat elektrokimianya.
F. Hukum Faraday
Michael Faraday (1791-1867) menemukan hubungan kuantitatif antara jumlah listrik yang digunakan dalam elektrolisis dengan jumlah zat yang dihasilkan. Penemuan ini dirumuskan dalam dua hukum.
1. Hukum Faraday I
Massa zat yang diendapkan atau dilarutkan pada elektroda sebanding dengan jumlah muatan listrik yang digunakan.
- w = massa zat yang diendapkan (gram)
- e = massa ekivalen zat (Ar / valensi = Ar / jumlah elektron yang dipindahkan)
- Q = muatan listrik (coulomb), Q = I × t
- I = kuat arus listrik (ampere)
- t = waktu elektrolisis (detik)
- F = tetapan Faraday = 96.500 coulomb/mol elektron
Pada elektrolisis larutan CuSO4, dialirkan arus 5 A selama 1.930 detik. Tentukan massa Cu yang mengendap di katoda! (Ar Cu = 64)
Reaksi katoda: Cu2+ + 2e− → Cu (valensi = 2)
e = Ar/valensi = 64/2 = 32 g/ekivalen
Q = I × t = 5 × 1.930 = 9.650 C
w = (e × Q) / F = (32 × 9.650) / 96.500 = 3,2 gram
2. Hukum Faraday II
Jika jumlah muatan listrik yang sama dialirkan melalui beberapa sel elektrolisis yang dihubungkan secara seri, maka massa zat yang dihasilkan di setiap elektroda sebanding dengan massa ekivalen masing-masing zat.
Dua sel elektrolisis dihubungkan seri. Sel pertama berisi larutan AgNO3 dan sel kedua berisi larutan CuSO4. Jika pada sel pertama mengendap 10,8 gram Ag, berapa gram Cu yang mengendap di sel kedua? (Ar Ag = 108, Ar Cu = 64)
eAg = 108/1 = 108 (Ag+ + 1e− → Ag)
eCu = 64/2 = 32 (Cu2+ + 2e− → Cu)
Gunakan Hukum Faraday II:
wCu / eCu = wAg / eAg
wCu / 32 = 10,8 / 108
wCu = (10,8 × 32) / 108 = 3,2 gram
Hubungan dengan Mol Elektron
Hukum Faraday juga dapat dinyatakan dalam mol elektron. Satu mol elektron = 1 Faraday = 96.500 C.
mol elektron = Q / F = (I × t) / 96.500
Jika mol elektron diketahui, mol zat yang diendapkan = mol elektron / valensi
Massa zat = mol zat × Ar
Pada elektrolisis lelehan AlCl3, dialirkan arus 9,65 A selama 5.000 detik. Tentukan massa Al yang dihasilkan di katoda! (Ar Al = 27)
Q = I × t = 9,65 × 5.000 = 48.250 C
mol e− = Q / F = 48.250 / 96.500 = 0,5 mol
Reaksi: Al3+ + 3e− → Al (butuh 3 mol elektron per mol Al)
mol Al = 0,5 / 3 = 1/6 mol
massa Al = 1/6 × 27 = 4,5 gram
Ringkasan Reaksi Redoks dan Elektrokimia
- Redoks adalah reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi: oksidasi (biloks naik, melepas elektron) dan reduksi (biloks turun, menerima elektron).
- Oksidator adalah zat yang mengalami reduksi; reduktor adalah zat yang mengalami oksidasi.
- Biloks ditetapkan menggunakan delapan aturan dasar, dengan prinsip utama: total biloks dalam senyawa netral = 0, dalam ion = muatan ion.
- Penyetaraan reaksi redoks dapat dilakukan dengan metode setengah reaksi (ion-elektron) atau perubahan biloks.
- Sel volta mengubah energi kimia menjadi listrik secara spontan (Eosel > 0). Anoda bertanda negatif, katoda bertanda positif.
- Sel elektrolisis menggunakan energi listrik untuk reaksi tidak spontan. Anoda bertanda positif, katoda bertanda negatif.
- Korosi adalah perusakan logam secara elektrokimia. Pencegahannya meliputi pelapisan, galvanisasi, proteksi katodik, dan aliasi.
- Hukum Faraday I: w = (e × I × t) / F. Hukum Faraday II: massa yang diendapkan sebanding dengan massa ekivalen jika muatan listrik sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar