1. Latar Belakang Eksperimen
Sebelum Rutherford, model atom yang diterima luas adalah Model Atom Thomson (1897), sering disebut "plum pudding", yang menggambarkan atom sebagai bola bermuatan positif merata dengan elektron-elektron tersebar di dalamnya seperti kismis dalam puding. Model ini meramalkan bahwa partikel bermuatan yang ditembakkan ke lempeng logam tipis hanya akan mengalami defleksi kecil.
Pada tahun 1909, Hans Geiger dan Ernest Marsden, di bawah arahan Rutherford di Universitas Manchester, melakukan eksperimen menembakkan partikel alfa (α) berenergi tinggi ke lempeng emas sangat tipis (Au foil, ~400 nm) dalam ruang hampa. Partikel α adalah inti helium (42He) bermuatan +2, yang dipancarkan dari sumber radioaktif Ra-226.
2. Hasil Eksperimen (Geiger-Marsden, 1909)
3. Postulat Model Atom Rutherford (1911)
4. Keberhasilan Model
- Menjelaskan hamburan besar-sudut partikel α yang tidak dapat dijelaskan model Thomson.
- Memperkenalkan konsep nukleus atom yang menjadi dasar fisika modern.
- Formula hamburan Rutherford terbukti akurat secara kuantitatif dan menjadi alat diagnostik dalam fisika nuklir.
- Membuka jalan bagi penemuan proton (Rutherford, 1919) dan neutron (Chadwick, 1932).
- Menjadi landasan model atom Bohr (1913) yang menyempurnakan orbit elektron secara kuantum.
5. Kelemahan Fatal Model Rutherford
-
Ketidakstabilan klasik: Menurut elektrodinamika klasik, partikel bermuatan yang mengalami akselerasi (termasuk gerak melingkar) harus memancarkan radiasi elektromagnetik (radiasi sinkrotron). Elektron yang mengorbit inti terus-menerus mengalami percepatan sentripetal, sehingga seharusnya terus kehilangan energi dalam bentuk radiasi. Kalkulasi menunjukkan elektron akan berputar spiral ke dalam inti dalam waktu sangat singkat — sekitar 10−11 detik.
-
Tidak menjelaskan spektrum diskret: Model Rutherford tidak dapat menjelaskan mengapa atom memancarkan cahaya hanya pada panjang gelombang tertentu (spektrum garis), seperti spektrum emisi hidrogen yang hanya mengandung panjang gelombang diskret (656 nm, 486 nm, 434 nm, 410 nm dalam deret Balmer).
-
Penyelesaian: Kelemahan ini diselesaikan oleh Niels Bohr pada tahun 1913 dengan mengintroduksikan postulat kuantum: elektron hanya dapat mengorbit pada tingkat energi tertentu (kuantisasi momentum sudut: L = nℏ) dan tidak memancarkan energi selama berada di orbit tersebut.
6. Perkembangan Model Atom
| Tahun | Ilmuwan | Model / Kontribusi |
|---|---|---|
| 1803 | Dalton | Atom sebagai bola pejal tak terbagi, tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan |
| 1897 | Thomson | Menemukan elektron; model plum pudding, muatan positif merata dengan elektron tersebar di dalamnya |
| 1911 | Rutherford | Nukleus kecil & padat bermuatan positif; elektron mengorbit di luar; sebagian besar atom adalah ruang kosong |
| 1913 | Bohr | Orbit elektron terkuantisasi pada tingkat energi diskret; elektron tidak memancar selama di orbitnya |
| 1924 | de Broglie | Elektron bersifat gelombang; panjang gelombang elektron λ = h/mv |
| 1926 | Schrodinger | Model mekanika kuantum; posisi elektron dinyatakan sebagai fungsi gelombang ψ, orbital bukan lintasan pasti |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar