Minggu, 19 November 2017
Minggu ini akhirnya kesampaian juga mengunjungi Kotawaringin Lama, sebuah kecamatan yang berada di barat laut kota Pangkalan Bun.
Jaraknya sekitar 41 KM dari Bundaran Tudung Saji Pangkalan Bun.
Jalanan nyaris datar tanpa ada tanjakan. Hal ini dapat dilihat dari rekam jejak Runtastic yang menunjukkan elevation gain hanya 987 dan elevation loss sebesar 994.
Namun demikian, menurut aplikasi ini total kalori yang terbakar mencapai 1990 kilokalori.
Kotawaringin Lama (selanjutnya disebut Kolam) menyimpan sejarah sebagai cikal bakal Kerajaan Kotawaringin.
Kami berdua berangkat dari rumah pukul 05.24 WIB dan kembali sampai di rumah pukul 12.11 WIB.
Alam sudah sangat terang benderang ketika kami pertama kali menginjak pedal sepeda. Matahari seolah ingin segera membagikan cahaya terangnya dengan kuat.
Dari rumah kami menuju Jalan Pasanah ke arah SMA 2 (Bundaran Gentong), lalu belok kanan menuju Jalan Natai Arahan.
Di pertigaan dekat tempat cuci mobil, kami belok kiri menyusuri Jalan Asta Perdana menuju Jalan Ahmad Yani.
Di pertigaan Ahmad Yani, kami lanjut menuju Bundaran Tudung Saji dan mengarah ke Jembatan Sungai Arut. Perjalanan berlanjut hingga ke Kolam sebagai tujuan akhir.
Sebenarnya ada dua jalur lain menuju Kolam selain yang kami lalui, tetapi jaraknya lebih jauh, yaitu melalui Kab. Lamandau.
|
| Bundaran Mahkota - Ikon Kotawaringin Lama |
|
| Rute Pangkalan Bun - Kotawaringin Lama - Pangkalan Bun |
Begitu kami keluar dari Kota Pangkalan Bun dan menuju tikungan dekat SMKN 4 Pangkalan Bun, jaraknya sekitar 5,5 KM (atau di KM 10,5 pada rekam jejak di atas) dari Bundaran Tudung Saji.
Jalanan aspal relatif mulus, hanya sesekali sepeda terhentak ketika melalui jembatan kecil yang kontur aspalnya tidak dibuat smooth.
Tidak ada hal istimewa hingga di sini. Yang paling berkesan justru banyaknya kotoran sapi milik warga yang membiarkan hewan piaraannya merumput di pinggir jalan.
Pemandangan dan aroma ini cukup mengganggu.
Meskipun demikian, kami tetap konsisten mengayuh pedal secara stabil, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, mengingat perjalanan yang kami tempuh cukup jauh.
Jalanan sangat sepi, mungkin karena hari Minggu. Sesekali kami hanya disalip pengendara motor yang tampaknya hendak memancing ke arah Kolam, terlihat dari perlengkapan yang mereka bawa.
Di tikungan dekat SMKN 4 Pangkalan Bun ini kami meneguk air mineral. Keringat mulai keluar, walau belum deras.
|
| Santai sejenak di tikungan jalan dekat SMKN 4 Pangkalan Bun |
Dari tikungan pertama ini, jalanan sangat mulus.
Pada KM 13 dari perjalanan kami, terdapat jembatan memanjang sekitar 1 KM. Daerah ini dulu sering banjir karena permukaan tanahnya relatif rendah.
Jalanan beraspal bagus ini berlanjut hingga KM 17 perjalanan kami.
Sepanjang kanan-kiri jalan, sejajar dengan badan jalan, tampak sungai dengan sesekali kapal kecil (sering kami sebut kapal klotok) yang mengangkut orang atau kelapa sawit.
Di seberang sungai masih tampak hijau semak belukar, dan sebagian lagi sudah tertanam rapi kelapa sawit yang belum panen.
Matahari semakin berani menyorotkan sinarnya ke badan kami. Hangat terasa di kulit.
Sejak KM 17 inilah tantangan sesungguhnya baru kami rasakan.
|
| Penghujung jalan beraspal menuju Kotawaringin Lama (KM 12 dari Pangkalan Bun) |
Jalanan kemudian berubah menjadi keras dengan material laterit berwarna kuning, perpaduan tanah liat dan kerikil alami.
Jalan ini sudah sangat layak dilalui kendaraan roda empat. Namun truk dan kendaraan roda enam ke atas tidak diperbolehkan melintas, kecuali untuk kendaraan proyek jalan.
Di sana-sini sepanjang jalan, kami serasa mengendarai sepeda di permukaan bulan karena banyak cekungan besar dan kecil.
Pemandangan jalan kali ini cukup eksotis, tetapi menjadi tidak bersahabat bagi pantat, pundak, dan lengan kami.
Hentakan pelan hingga keras tak terhindarkan ketika kami tidak bisa lagi mengelak dari cekungan jalan.
Bagi kendaraan bermotor, kondisi ini tidak terlalu bermasalah karena suspensi depan dan belakang mampu meredam hentakan.
Sepanjang jalan, kanan-kiri hanyalah semak belukar. Dasarnya sebagian besar adalah rawa-rawa bergambut, terlihat dari air yang berwarna kecokelatan.
|
| Kondisi jalan ke Kotawaringin Lama per 19 November 2017 |
Di tengah perjalanan, setelah menempuh jarak 25 KM, kami berhenti di sebuah jembatan bercat dominan kuning.
Di sini kami beristirahat untuk menggantikan air yang keluar sebagai keringat. Buah pisang pun kami santap untuk menambah energi.
Ini baru separuh perjalanan kami menuju Kolam.
Di kejauhan, sayup-sayup terdengar kicau burung menyambut siang yang mulai memanas. Langit membiru dengan saput awan kelabu.
Kami masih sangat bersemangat untuk menuntaskan rute yang direncanakan.
Jalanan masih lurus mengarah ke barat laut. Di KM 32,4 barulah jalur berbelok ke arah barat.
|
| Mengganti air yang hilang di Jembatan Kuning |
Sekitar KM 37 (dari perjalanan kami, bukan dari KM 0), kami menjumpai jembatan panjang dan cukup lebar, mungkin sekitar 8 meter.
Warga menyebutnya Jembatan Danau.
Memang benar, di bawah jembatan ini seolah terbentang danau. Saat kami melintas, airnya sudah mengering dan berganti hamparan rumput hijau serta semak belukar.
Kami kembali beristirahat sejenak sambil meneguk air yang kami bawa.
Karena saya mengenakan sarung tangan full finger, tugas mengambil foto saya serahkan kepada yunior. Praktis saya menjadi objek foto untuk menandai titik-titik tertentu di rute ini.
Sangat nikmat rasanya melintas jembatan ini, karena berkilometer sebelumnya pantat kami seperti dipijat tanpa ampun oleh jalan berlubang.
Gir belakang kami atur sedikit lebih berat, supaya bisa melaju lebih kencang di jalan mulus.
Kami tidak terlalu peduli dengan panjang jembatan ini, tetapi mungkin sekitar 2–4 KM.
|
| Jembatan Danau menuju Kotawaringin Lama |
Sekitar 5 KM kemudian, kami tiba di Jembatan Kolam yang tidak terlalu panjang dan menyeberangi Sungai Kotawaringin.
Di jembatan ini terpasang palang dari tiang listrik, menandakan bahwa kendaraan dengan tinggi melebihi palang dilarang melintas.
Praktis hanya kendaraan roda empat dan roda dua yang bisa lewat.
Memang sejak awal, di dekat Bundaran Tudung Saji Pangkalan Bun sudah ada peringatan bahwa truk tidak diperkenankan melintas karena jalan sedang dalam tahap perbaikan.
|
| Jembatan Sungai Kotawaringin |
Sesampai di jembatan, kami mendapat sudut pandang yang indah untuk mengabadikan perkampungan Kolam yang terasa tenteram.
Di kejauhan tampak tiga BTS pemancar GSM.
|
| Perkampungan Kotawaringin Lama sisi kanan - View dari Jembatan Kolam |
|
| Perkampungan Kotawaringin Lama sisi kiri - View dari Jembatan Kolam |
Hore, sampai juga akhirnya ke Kotawaringin Lama! 😃
|
| Peta perjalanan di Kotawaringin Lama |
Kami memang tidak berniat untuk berkeliling kampung. Kami hanya ingin memastikan bahwa kami pernah sampai ke Kolam.
Yang kami tuju hanya objek wisata, itu pun tidak sampai masuk ke dalam mengingat pakaian kami kurang pantas, bau keringat, dan sedikit berdebu.
Selepas Jembatan Kolam, sekitar 1 KM ada pertigaan dengan papan petunjuk menuju Puskesmas. Jalannya masih dalam tahap pengerasan, sehingga kami tidak memilih jalur tersebut.
Kami terus saja sampai di pertigaan berikutnya dekat toko kelontong, lalu berbelok ke kanan.
Tidak jauh dari situ ada pertigaan lagi, dan kami kembali mengambil arah kanan sambil memeriksa peta pada aplikasi Runtastic.
Di seberang jalan bercabang Y, kami melihat masjid khas berwarna kehijauan: Masjid Sultan Baladuddin.
Masjid ini kemungkinan besar dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila pada masa Presiden Soeharto, dilihat dari arsitekturnya yang khas berwarna dominan hijau dengan kubah berbentuk limas segi empat.
|
| Masjid Sultan Baladuddin Kotawaringin Lama |
Dari depan jalan masjid ini (Jalan Ampi), kami terus mengarah ke timur.
Tujuan kami adalah kompleks Makam Kyai Gede yang terkenal di daerah Kotawaringin Barat.
Dengan mengikuti petunjuk arah, kami dengan percaya diri menyusuri jalan tanpa bertanya kepada siapa pun, hingga akhirnya sampai juga.
Setelah hanya mengambil beberapa foto, kami beristirahat sejenak di bawah pohon besar dan rindang di halaman kompleks Makam Kyai Gede.
Tampak beberapa kendaraan baru saja parkir. Para penumpangnya datang untuk berziarah.
|
| Kompleks Makam Kyai Gede |
Tujuan berikutnya adalah mengunjungi Masjid Kyai Gede.
Sesuai peta di Runtastic, kami menyusuri jalan hingga ke pinggiran Sungai Kolam.
Berikut ini adalah foto di pinggir Sungai Kolam, dengan Jembatan Kolam yang tampak samar di kejauhan.
|
| View dari perkampungan mengarah ke Jembatan Kotawaringin |
Yes, sampai juga di tempat yang kami tuju.
Benar, Masjid Kyai Gede ini terletak di pinggir Sungai Kolam.
Masjid ini terbuat dari kayu ulin, tanpa cat, sehingga tampak bersahaja.
Di depan masjid terdapat papan bertuliskan CAGAR BUDAYA. Masjid ini memang termasuk cagar budaya yang memiliki nilai sejarah bagi Kerajaan Kotawaringin dahulu.
|
| Masjid Kyai Gede di pinggir Sungai Kotawaringin |
Tak jauh dari Masjid Kyai Gede terdapat destinasi wisata lain, yaitu Astana Al-Nursari. Tentang tempat ini saya tidak tahu banyak.
Mungkin di dalamnya terdapat petilasan Kerajaan Kotawaringin dahulu.
Bangunannya khas Kalimantan, terbuat dari kayu ulin dengan halaman yang cukup luas dan dihiasi beberapa pohon pinang hias.
Sekali lagi kami tidak berani memasuki area ini. Pakaian kami terasa kurang pantas untuk mengunjungi objek yang dihormati warga Kolam, jadi kami cukup mengambil gambar dari kejauhan.
|
| Astana Al-Nursari |
Karena tidak ada lagi tempat yang ingin kami kunjungi, kami memutuskan untuk mengisi perut.
Kami kembali ke jalan semula. Warung makan khas Jawa yang direkomendasikan teman belum buka, jadi kami memilih warung Banjar sebagai alternatif.
Posisi warung ini tidak jauh dari Masjid Sultan Baladuddin.
Kami beristirahat sekitar 30 menit untuk sarapan pagi di Warung Makan Pelangi (Amang Madnoor).
Sebenarnya kami ingin mencicipi makanan khas Jawa seperti yang direkomendasikan teman, tetapi warung-warung tersebut belum buka.
Karena pilihan menu tidak banyak, akhirnya kami memesan ayam bakar komplit dengan segelas teh. Seporsi harganya Rp 30.000.
Warung Amang Madnoor ini tidak jauh dari pertigaan Masjid Sultan Baladuddin.
Saat itu masih pagi, sekitar pukul 08.15 WIB.
Kami makan tanpa terburu-buru, menikmati setiap suap sambil merasakan pedih di lidah yang sedang sariawan.
Setelah makan, kami sempat ngobrol dengan pelayan warung sebelum melanjutkan perjalanan ke arah barat menuju Bundaran Mahkota, ikon Kolam.
|
| Warung khas Banjar di dekat Masjid Sultan Baladuddin |
Jalan menuju Bundaran Mahkota sedikit menanjak.
Oh ya, jalan utama di kampung Kolam ini sudah beraspal meskipun tidak terlalu lebar.
Sebelum sampai bundaran, di sebelah kiri jalan akan dijumpai gedung SD, dan berikutnya bangunan SMPN 1 Kolam.
Jika diteruskan, di sebelah kanan jalan akan terlihat gedung SMAN 1 Kolam. Di seberangnya terdapat sebuah gereja.
Tidak jauh dari situ, Bundaran Mahkota sudah terlihat.
|
| SMA Negeri 1 Kotawaringin Lama tidak jauh dari Bundaran Mahkota |
Beberapa kali saya meminta yunior untuk mengambil foto ikon Kolam ini (gambarnya ada di bagian awal tulisan).
Cuaca mulai terik dan cukup menyengat kulit.
Mau tidak mau, kami harus melanjutkan perjalanan pulang.
Saking teriknya, kami terpaksa beberapa kali berhenti untuk menyeka keringat di wajah agar tidak masuk ke mata.
Tidak banyak tempat berteduh di sepanjang jalur ke Pangkalan Bun ini, apalagi matahari mulai mencapai puncaknya.
Hanya beberapa pohon akasia yang bisa kami manfaatkan untuk bersantai sejenak di bawah naungannya.
Mungkin ke depan perlu ada penghijauan di sepanjang tepi jalan agar kondisi jalannya tidak terlalu panas.
Tepat pukul 12.11, kami berdua sampai di rumah.
Aplikasi Runtastic pun kami matikan untuk mendapatkan laporan lengkap perjalanan hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar