Perubahan kurikulum di Indonesia kerap disambut dengan kehebohan, mulai dari pelatihan besar-besaran hingga penyesuaian buku ajar dan administrasi. Namun, ketika hiruk-pikuk ini mereda, sebuah pertanyaan mendasar menggantung: apakah kemampuan berpikir kognitif siswa, yang tercermin dari hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA), benar-benar mengalami peningkatan signifikan?
Guru dan Belenggu Pikiran yang Tak Berubah: Akar Stagnasi Kognitif dalam TKA
Sabtu, 27 Desember 2025
Konversi Nilai Berkeadilan
Rabu, 05 Desember 2018
Mengolah nilai dari berbagai kegiatan pembelajaran selama satu semester. Mengolah nilai mulai dari penilaian harian (PH), tugas-tugas, hingga hasil PAS untuk dijadikan nilai rapor jadi.
Berikut ini berkas (file) Microsoft Excel yang dapat digunakan untuk membatu guru untuk mengonversi nilai yang berkeadilan beserta petunjuk penggunaanya. Silakan unduh (download) dari tautan di bawah kiriman ini.
Untuk versi online yang jauh lebih baik dalam pengaturannya dapat di akses di sini. Salin data dari excel, tempel di aplikasi blog ini, kemudian unduh hasil konversinya untuk mendapatkan hasil konversi berformat excel, resiko keliru sangat kecil.
KKM adalah Sumber Kekacauan Pendidikan
Sabtu, 16 Desember 2017
Masa akhir semester adalah masa tersibuk bagi guru: membuat laporan hasil belajar untuk siswa. Semula, dulu, pengolahan nilai akhir semester masih terasa biasa-biasa saja, tanpa gejolak apa pun.
Ketika belum ada KKM (kriteria ketuntasan minimal), masih banyak sekolah yang menjaga idealisme dalam pemberian nilai setiap mata pelajaran.
Lalu bagaimana setelah KKM diberlakukan?
Seolah-olah muncul huru‑hara. Awal-awal penerapan, rumusan penentuan KKM terlihat rapi dan sesuai rumus. Meskipun begitu, semua aspek itu tetap bersifat kualitatif sehingga objektivitasnya sulit dipertahankan.
Semakin ke belakang, seiring banyaknya kepentingan yang bermain di belakang angka KKM—mulai dari akreditasi, penerimaan siswa baru, hingga jalur mahasiswa—semuanya terasa makin rumit.
Mungkin niat awal pembuat kebijakan sangat mulia: agar mutu pendidikan di negeri ini meningkat. Namun, dalam praktiknya, pragmatisme pun menjalar ke ruang kelas.
KKM tidak lagi sepenuhnya mengacu pada rumusan aspek kompleksitas kompetensi dasar, sumber daya pembelajaran, dan kemampuan awal siswa. Persentase setiap aspek tetap dihitung, tapi hanya di atas kertas.
Ini sesuai petunjuk yang diterima para praktisi pendidikan di berbagai diklat atau pelatihan. Sekali lagi, ini hanya teori.
