Berikut ini adalah soal-soal olimpiade sains nasional guru (OSNG) tingkat provinsi tahun 2015 bidang kimia. Jumlah semua soal 50 butir. Delapan soal pertama merupakan soal pedagogik dan sisanya adalah soal kompetensi guru kimia.
Pada soal asli disediakan tabel periodik unsur. Dalam mengerjakan soal diperkenankan menggunakan kalkulator. Cara menjawab semua soal adalah dengan cara mengisi titik-titik yang terdapat pada setiap soal. Jadi model soal dengan jawaban pendek ringkas tanpa perlu uraian.
Soal ini dapat diunduh pada pranala paling bawah di halaman ini. Untuk diskusi pembahasannya dapat diikuti di grup facebook Asosiasi Guru Kimia Indonesia (harus terdaftar terlebih dahulu, pastikan profil facebook rekan guru menunjukkan sebagai guru kimia, semua calon anggota akan diverifikasi lebih dulu).
Soal OSN Guru Bidang Kimia Tingkat Provinsi Tahun 2015
Minggu, 21 Agustus 2016
Kategori:
2015,
guru kimia,
Olimpiade Kimia,
OSN Kimia,
OSNG,
Tingkat Provinsi
Sifat Magnet Bahan Akibat Rotasi dan Spin Elektron
Kamis, 18 Agustus 2016
Berikut ini adalah penjelasan tentang sifat magnet bahan akibat rotasi dan spin elektron yang disadur dari penjelasan Muhamad Abdulkadir Martoprawiro, Ph.D. pada diskusi grup facebook Asosiasi Guru Kimia Indonesia, 17 Agustus 2016.
Pengantar
Pembelajaran Kimia di SMA, selayaknya selalu dapat dihadirkan dalam tiga tampilan: realitas makroskopiknya, realitasnya di tingkat submikroskopik (dunia atom dan molekul), dan perlambangannya untuk menyederhanakan pembahasan. Sebagai contoh, air bisa kita lihat dalam gelas, bisa dibayangkan seperti Mickey Mouse (bila digambarkan sebagai bola-bola atom O dan H yang berikatan membentuk huruf V), dan bisa dilambangkan sebagai H2O. Asam bisa dirasakan masamnya dan dilihat warnanya dengan indikator, bisa dibayangkan sebagai bola atom S yang mengikat 4 atom O dalam bentuk tetrahedral dengan dua di antaranya mengikat bola atom H, dan bisa dilambangkan pengionannya dalam persamaan kimia:
Pengantar
Pembelajaran Kimia di SMA, selayaknya selalu dapat dihadirkan dalam tiga tampilan: realitas makroskopiknya, realitasnya di tingkat submikroskopik (dunia atom dan molekul), dan perlambangannya untuk menyederhanakan pembahasan. Sebagai contoh, air bisa kita lihat dalam gelas, bisa dibayangkan seperti Mickey Mouse (bila digambarkan sebagai bola-bola atom O dan H yang berikatan membentuk huruf V), dan bisa dilambangkan sebagai H2O. Asam bisa dirasakan masamnya dan dilihat warnanya dengan indikator, bisa dibayangkan sebagai bola atom S yang mengikat 4 atom O dalam bentuk tetrahedral dengan dua di antaranya mengikat bola atom H, dan bisa dilambangkan pengionannya dalam persamaan kimia:
H2SO4 → 2H+ + SO42–.
Kategori:
Bilangan Kuantum,
Kimia-1,
Kimia-2,
Konfigurasi Elektron,
Sifat Magnet,
Spin Elektron
Penamaan Senyawa Biskloalkana
Rabu, 17 Agustus 2016
Berikut ini adalah beberapa contoh penamaan senyawa bisikloalkana. Atom karbon pada titik A dan B sebagai titik acu [penomoran] dalam beberapa referensi sering disebut sebagai brigdehead carbons. Pemberian nomor dalam penamaan bisikloalkana dari atom C di titik A ke atom C di titik B (A dan B sebagai bridgehead carbons) dapat ditempuh melalui 3 jalur.
Cara Menghitung Pengaruh Ion Senama Zat dengan Ksp Relatif Besar
Selasa, 16 Agustus 2016
Berikut ini adalah contoh soal perhitungan pengaruh ion senama terhadap kelarutan zat dengan nilai Ksp yang relatif besar. Secara umum zat-zat yang sukar larut yang ditandai dengan nilai Ksp yang kecil, biasa dilakukan proses hitung dengan mengabaikan beberapa faktor. Namun tidak untuk soal yang melibatkan zat dengan nilai Ksp yang relatif besar atau yang sedikit mudah larut. Kehadiran ion senama dipastikan akan menyebabkan kelarutan zat yang larut dalam pelarut akan mengalami penurunan.
Mari kita simak dan terapkan hal ini pada soal yang disalin dari diskusi grup Asosiasi Guru Kimia Indonesia di facebook.
Mari kita simak dan terapkan hal ini pada soal yang disalin dari diskusi grup Asosiasi Guru Kimia Indonesia di facebook.
Soal:
Ke dalam 1 liter larutan jenuh basa Ca(OH)2 dengan Ksp = 4 × 10-6, ditambahkan NaOH sebanyak 0,01 mol. Jika penambahan itu dianggap tidak mengubah volume larutan, tentukan kelarutan Ca(OH)2 sebelum dan sesudah penambahan NaOH. Hitung pula pH larutan sebelum dan sesudah penambahan NaOH.
Ke dalam 1 liter larutan jenuh basa Ca(OH)2 dengan Ksp = 4 × 10-6, ditambahkan NaOH sebanyak 0,01 mol. Jika penambahan itu dianggap tidak mengubah volume larutan, tentukan kelarutan Ca(OH)2 sebelum dan sesudah penambahan NaOH. Hitung pula pH larutan sebelum dan sesudah penambahan NaOH.
Pembahasan Soal Kimia KSM Tingkat Provinsi 2016
Jumat, 12 Agustus 2016
Berikut ini adalah pembahasan soal kimia pada ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat provinsi tahun 2016. Semua soal berjumlah 25 bentuk soal pilihan dengan alternatif jawaban a, b, c, d, e.
Kategori:
2016,
Kimia,
Kimia-1,
Kimia-2,
Kimia-3,
KSM,
OSN Kimia,
Pembahasan Soal,
Soal dan Pembahasan Lengkap,
Tingkat Provinsi
Dekomposisi Campuran Senyawa Karbonat dari Golongan 2A
Rabu, 10 Agustus 2016
Soal:
Suatu campuran yang terdiri dari dua jenis garam karbonat unsur-unsur golongan 2A. Bila campuran garam karbonat ini dipanaskan, akan diperoleh sisa pemanasan sebanyak 62% dari massa semula.
Diketahui Ar : C = 12; O = 16; Be = 9; Mg = 24; Ca = 40,1; Sr = 87,6; Ba = 137 dan Ra = 228
Pertanyaan:
a. Tentukan massa sisa hasil pemanasan bila pada awalnya komposisi campuran garam tersebut masing-masing 1 mol.
b. Logam-logam apakah yang membentuk garam karbonat dari campuran tersebut?
c. Tuliskan persamaan reaksi dekomposisi dari pemanasan garam karbonat tersebut.
Suatu campuran yang terdiri dari dua jenis garam karbonat unsur-unsur golongan 2A. Bila campuran garam karbonat ini dipanaskan, akan diperoleh sisa pemanasan sebanyak 62% dari massa semula.
Diketahui Ar : C = 12; O = 16; Be = 9; Mg = 24; Ca = 40,1; Sr = 87,6; Ba = 137 dan Ra = 228
Pertanyaan:
a. Tentukan massa sisa hasil pemanasan bila pada awalnya komposisi campuran garam tersebut masing-masing 1 mol.
b. Logam-logam apakah yang membentuk garam karbonat dari campuran tersebut?
c. Tuliskan persamaan reaksi dekomposisi dari pemanasan garam karbonat tersebut.
Kalkulator Uji Validitas Bilangan Kuantum
Jumat, 22 Juli 2016
Berikut ini adalah Kalkulator Uji Validitas Bilangan Kuantum. Sebagai dasar teori untuk memeriksa apakah bilangan-bilangan kuantum suatu elektron itu sesuai aturan atau tidak, dapat dilakukan dengan aturan sebagai berikut:
Dasar teori:
Untuk menentukan kedudukan orbital suatu atom dapat menggunakan 3 bilangan kuantum, yaitu bilangan kuantum utama(n), bilangan kuantum azimut (l), dan bilangan kuantum magnetik (m).
Untuk menentukan kedudukan elektron selain 3 bilangan kuantum n, l, dan m masih harus ditentukan berdasarkan bilangan kuantum spin (s).
Dasar teori:
Untuk menentukan kedudukan orbital suatu atom dapat menggunakan 3 bilangan kuantum, yaitu bilangan kuantum utama(n), bilangan kuantum azimut (l), dan bilangan kuantum magnetik (m).
Untuk menentukan kedudukan elektron selain 3 bilangan kuantum n, l, dan m masih harus ditentukan berdasarkan bilangan kuantum spin (s).
Kalkulator Konfigurasi Elektron
Kamis, 21 Juli 2016
Cara Penggunaan:
- Untuk menentukan konfigurasi elektron dari suatu unsur silakan memasukkan nomor atom untuk isotop unsur. Misal untuk menentukan konfigurasi elektron Sc yang memiliki nomor atom 21, masukkan angka 21 pada kotak input nomor atom.
- Klik di luar kotak input untuk melihat konfigurasi elektron. Sebagai keluaran (output) akan tersaji di bagian baris bawah kotak input. Secara standar pada kalkulator konfigurasi elektron ini menggunakan nomor atom 21.
- Silakan ganti untuk nomor atom yang lain dengan menekan tombol Hapus Data.
Hubungan Kp dengan Fraksi Mol Zat
Senin, 18 Juli 2016
Tetapan kesetimbangan kimia yang melibatkan gas-gas dapat dinyatakan sebagai Kp. Misalnya dalam sistem kesetimbangan terdapat zat A, zat B, zat C, zat K, zat L, dan zat M dengan persamaan reaksi kesetimbangan:
pA + qB + rC + ... ⇌vK + wL + xM + ...
Kp dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
$\mathsf {Kp = \Large \frac {P_{K}^{v} \times P_{L}^{w} \times P_{M}^{x}\times...}{P_{A}^{p} \times P_{B}^{q} \times P_{C}^{r}\times...}}$
pA + qB + rC + ... ⇌vK + wL + xM + ...
Kp dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:
$\mathsf {Kp = \Large \frac {P_{K}^{v} \times P_{L}^{w} \times P_{M}^{x}\times...}{P_{A}^{p} \times P_{B}^{q} \times P_{C}^{r}\times...}}$
Menambah/menghapus Baris/kolom pada Tabel HTML
Minggu, 17 Juli 2016
Sekadar catatan
Tabel HTML dengan Penomoran Otomatis
Jumat, 01 Juli 2016
Berikut ini adalah catatan kecil agar saya dan yang senasib yang baru belajar html dan css terkait tabel sedikit tercerahkan bila suatu saat lupa lagi. Ketika saya harus membuat tabel dengan pemutakhiran secara berkala tentu juga harus melakukan perbaikan urutan penomoran karena ada sisipkan pada baris. Tentu akan kurang praktis bila harus mengganti nomor seri ketika ada data baru yang mesti disisipkan. Dapatlah cara ini dari https://jsfiddle.net/javedfiddle/owhcnxhz. Keunggulan cara ini adalah menyelesaikan urusan yang seperti saya temui tadi. Kini bila ingin menyisipkan baris maka tidak perlu lagi repot untuk memperbaiki penomoran lagi. Penomoran akan dilakukan secara otomatis. Dengan memanfaatkan cascading style sheet masalah itu pun jadi bablas, lewat dah.
Kategori:
Baris,
CSS,
html,
Penomoran Otomatis,
Tabel,
Tutorial,
Tutorial Blogger
Cara Melipat Tabel yang Memanjang Vertikal
Suatu ketika kita mendapati harus membuat tabel yang sangat panjang secara vertikal, baris-nya (row) banyak, bisa ratusan bahkan ribuan . Kandang dikehendaki agar tabel yang memanjang tersebut untuk dibuat lebih ringkas dengan melipatnya pada bagian tertentu. Maksud tabel yang memanjang itu seperti pada contoh laman ini. Tujuannya adalah agar pembaca dimudahkan dalam menyimak isi tabel.
Kategori:
CSS,
Javascript,
melipat tabel,
tabel html,
Tutorial,
Tutorial Blogger
Langganan:
Postingan (Atom)
