Mengapa Warna Ion Kompleks Berbeda-beda?

Sabtu, 03 Desember 2016

Beberapa soal pada olimpiade sains nasional beberapa kali ditanyakan soal tentang kemungkinan warna dari larutan atau ion atau senyawa kompleks. Mengapa ion berbeda memberikan respon warna berbeda pula ketika suatu cahaya mengenai larutan ion tersebut? Secara prinsip terjadinya perpindahan elektron ke orbital dengan tingkat energi yang lebih tinggi akibat terpapar cahaya (baca energi) maka ada warna tertentu yang diserap oleh larutan ion tersebut. Ingat bahwa setiap cahaya memiliki panjang gelombang tertentu, panjang gelombang tertentu ini dapat identik dengan suatu energi yang menyebabkan perpindahan elektron antartingkat energi. Ingat bahwa panjang gelombang itu  berbanding terbalik dengan energi $E~=\dfrac{h.c}{\lambda}$, $E$= Energi, h = tetapan Planck, c = kecepatan cahaya, $\lambda$= panjang gelombang.
Bagikan di

Soal Perhitungan Massa NaOH untuk membuat Buffer dengan pH Tertentu

Kamis, 01 Desember 2016

Soal:
Berapa gram NaOH (massa molar 40 g/mol) harus ditambahkan ke dalam 100 mL H3PO4 0,1 M untuk membuat larutan buffer (penyangga) dengan pH 7,3?
H3PO4 , pKa1 = 2,12; pKa2 = 7,21; pKa3 = 12,32.

Penyelesaian:
Larutan penyangga (buffer) fosfat dengan pH yang diharapkan adalah 7,3. pH buffer ini biasanya tidak jauh dari nilai pKa. pKa yang paling dekat dengan yang diharapkan adalah pKa2 dari H3PO4 yaitu 7,21. Ini berarti bahwa dalam larutan buffer tersebut akan terdiri dari NaH2PO4 dan Na2HPO4.
Bagikan di

Beasiswa Tanoto Foundation Untuk Warga Sumatera Utara, Riau, dan Jambi

Selasa, 29 November 2016

Bagi sebagian besar orang di Indonesia, pendidikan tinggi di Indonesia masih merupakan barang mahal. Belum banyak yang bisa mendapatkannya dengan mudah karena terhalang dengan kendala biaya. Menurut Ketua Pengurus Tanoto FoundationSihol Aritonang, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia baru 33 persen pada 2015.

Jumlah itu jelas sangat rendah. Artinya, ada sekitar 70 persen murid lulusan Sekolah Menengah Atas yang tidak mampu meneruskan ke pendidikan tinggi.
Bagikan di

Kalkulator pH Asam/Basa Kuat dengan Konsentrasi Sangat Encer

Seperti pada pembahasan tentang "Menghitung pH Larutan Asam/Basa Kuat yang Sangat Encer", kalkulator ini dibuat. Contoh dan dasar perhitungannya adalah sebagai berikut. Ketika asam atau basa kuat dengan konsentrasi sangat-sangat encer kita tidak dapat langsung menentukan konsentrasi H+ atau H3O+ atau menentukan pHnya dengan menggunakan data konsentrasi secara langsung. Misal terdapat asam kuat HA dengan konsentrasi 0,01 M, kita dapat saja langsung mengatakan konsentrasi [H+] pada asam tersebut adalah 0,01 M sehingga pH larutan HA tersebut dapat dihitung -log [H+] = -log 0,01 = 2. Berbeda jika asam kuat HA tersebut konsentrasinya sangat-sangat encer, misal 1×10-7 M. Tentu saja kalau kita hitung langsung pH larutan tersebut menjadi sama dengan 7. Asam kuat encer pH = 7? Ini indikasi larutan netral bukan asam kan? Lalu bagaimana menentukan pH larutan tersebut? Silakan baca tulisan saya yang ini.
Bagikan di

Kalkulator pH Asam Lemah Poliprotik dan Konsentrasi Spesinya

Senin, 28 November 2016

Kalkulator ini dapat digunakan untuk perhitungan pH dan konsentrasi spesi yang ada dalam sistem kesetimbangan asam lemah. Asam lemah yang dapat dihitung adalah asam monoprotik (HA) seperti HNO2, HF asam diprotik (H2A) seperti H2S, H2CO3, H2C2O4, dan asam triprotik (H3A) seperti H3PO4, H3BO3, H3AsO4. Silakan simak petunjuk penggunaan yang tersedia di bagian atas kalkulator.
Bagikan di

Soal dan Pembahasan Terkait Derajat Disoasiasi dan Kc dalam Kesetimbangan Kimia

Sabtu, 26 November 2016

Berikut ini adalah soal dan pembahasan yang ditulis untuk pembelajaran kimia siswa kelas 11 SMA di Indonesia pokok bahasan kesetimbangan kimia. Ini dibuat bukan untuk tujuan komersial, hanya sebagai contoh bagaimana menyelesaikan soal-soal yang berhubungan dengan derajat disosiasi, tetapan kesetimbangan dan spesi-spesi yang ada dalam sistem kesetimbangan. Beberapa soal diambil dari buku BSE Kimia kelas 2 (11). Untuk rekan pembaca/pemerhati pendidikan kimia, penulis dengan senang hati menerima koreksi bila ditemui kekurangtepatan pembahasan. Semoga bermanfaat bagi pemelajar kimia.
Bagikan di

Diagram Latimer dan Penentuan Potensial Reduksi Standar

Jumat, 25 November 2016

Beberapa soal terkait penentuan potensial reduksi standar dapat ditentukan dengan beberapa cara. Salah satu caranya adalah menggunakan diagram Latimer.
Berikut ini adalah diagram Latimer Mn dalam suasana asam.

+0,564
+0,274
+4,27
+0,95
+1,51
–1,18
MnO4MnO42–MnO43–MnO2Mn3+Mn2+Mn
+7
+6
+5
+4
+3
+2
0

$E^{o} = \dfrac{\sum n_{i} E_{i}}{\sum n_{i}} $
$n_{i} =~elektron~pada~reaksi~ke-i~(perubahan~biloks~unsur~yang~ditanya)\\
E_{i} =~potensial~reduksi~standar~pada~reaksi~ke-i$
Bagikan di

Contoh Perhitungan pH Larutan Asam Poliprotik

Jumat, 18 November 2016

Asam poliprotik adalah asam yang ketika terurai akan menghasilkan ion H+ lebih dari satu. Contoh asam poliprotik: H2CO3, H2SO4, H3PO4, H2S, H4P2O7. Untuk menentukan derajat keasamannya tentu diperlukan kecermatan dengan mempertimbangan besarnya konsentrasi asam dan besar-kecilnya nilai tetapan kesetimbangan asam (Ka), baik Ka1, Ka2, Ka3, Ka4  bila ada atau diketahui. Kadang aturan 5% untuk pengabaikan apakah suatu konsentrasi berpengaruh secara signifikan atau tidak perlu diuji bila diperlukan. Tentang aturan 5% ini dapat dibaca di sini.
Berikut ini beberapa contoh soal dan penyelesaian tentang perhitungan pH asam poliprotik.

Soal #1:
[H2CO3] = 0,16 M dengan Ka1 = 4,2 × 10−7 ; Ka2 = 4,8 × 10−11 berapakah pH asam tersebut dan tentukan [CO32-]
Penyelesaian #1:
Reaksi:H2CO3 (aq)H+ (aq)+HCO3- (aq)
[Awal] M :0,16

[Bereaksi] M:–x
+x
+x
[Kesetimbangan] M :0,16 – x
x
x

Bagikan di

Aturan 5% dalam Kesetimbangan Kimia

Kadang dalam pembahasan soal-soal kesetimbangan kimia sering dijumpai penentuan besarnya jumlah mol atau konsentrasi suatu zat dalam proses hitung dilakukan pengabaian dengan alasan nilainya dianggap jauh lebih kecil dari sesuatu yang dibandingkan dengannya (atau jika dijumlahkan atau dikurangkan tidak mengubah secara signifikan). Namun seberapa besar pengaruhnya sehingga dalam banyak hitungan lalu diabaikan begitu saja jarang terbahas dengan tuntas. Di beberapa referensi dimunculkan istilah aturan 5%. Artinya jika perubahan yang terjadi sama dengan atau kurang dari 5% dari jumlah semula maka ini dapat diabaikan. Pada artikel kali ini hal itu akan dibahas dan diharapkan alasannya dapat diterima dan terbukti secara kalkulatif.
Bagikan di
 
Copyright © 2015-2016 Urip dot Info | Disain Template Oleh Herdiansyah Hamzah Dimodivikasi Urip.Info