Pembahasan Soal OSP Kimia 2016 (Pilihan Ganda)

Jumat, 17 Maret 2017

Berikut ini adalah pembahasan soal Olimpiade Sains tingkat Provinsi Bidang Kimia Tahun 2016 khusus soal pilihan ganda (PG). Pembahasan soal OSP Kimia 2016 ini beberapa dirangkum dari hasil diskusi Grup Asosiasi Guru Kimia Indonesia (AGKI) di Facebook.

Ikuti pembahasan soal OSP Kimia tahun 2015 khusus pilihan ganda pada tulisan berikutnya 😉


Soal Nomor 1
Suatu oksida logam Pb mengandung persen massa 90,65% Pb. Rumus empiris oksida Pb tersebut adalah
A. Pb2O
B. PbO
C. Pb3O4
D. Pb2O3
E. PbO2

Pembahasan Soal Nomor 1

Unsur Pb O
Persen 90,65% 100% – 90,65% =9,35%
Massa per 100 g 90,65 g 9,35 g
Massa molar 207,2 g/mol 16,0 g/mol
Jumlah zat 0,4375 mol 0,584375 mol
Perbandingan 1 1,335714286
1/0,33 = 3,03030303 1,336/0,33 = 4,011154
Perbandingan empiris 3 4

Jadi rumus empiris oksida Pb adalah Pb3O4, jabawan yang tepat C.


Soal Nomor 2
Dalam suatu wadah tertutup yang mengandung campuran 90,0 g gas CH4 dan 10,0 g gas argon (Ar), pada temperatur dan volume yang tetap, mempunyai tekanan sebesar 250 torr. Tekanan parsial gas CH4 adalah

A. 143,0 torr
B. 100,0 torr
C. 10,7 torr
D. 239,0 torr
E. 26,6 torr

Pembahasan Soal Nomor 2
Tekanan total campuran gas = 250 torr
Unsur CH4 Ar
Massa per 100 g 90,0 g 10,0 g
Massa molar (g/mol) 16 39,95
Jumlah zat (mol) 5,625 0,250
Total jumlah zat (mol) 5,875
Fraksi mol 0,957 0,043
Tekanan parsial (torr) 5,875×0,957 = 239,25 5,875×0,043 = 10,75

Jawaban yang mendekati adalah D. 239 torr


Soal Nomor 3
Berapa massa air (dalam g) yang terkandung di dalam 75,0 g larutan yang mengandung 6,10% K3PO4 adalah
A. 75,0 g
B. 73,2 g
C. 70,4 g
D. 68,1 g
E. 62,8 g

Pembahasan Soal Nomor 3
Persen kandungan air dalam larutan = 100% – 6,10% = 93,90%
Massa air = 93,90% × 75,0 g = 70,425 g ≈ 70,4 g


Soal Nomor 4
Perhatikan reaksi berikut :
H2SO3(aq) + Sn4+(aq) + H2O(l) → Sn2+(aq) + HSO4 (aq) + 3H+(aq)
Pernyataan yang benar adalah :
  1. H2SO3 adalah reduktor karena cenderung direduksi
  2. H2SO3 adalah reduktor karena cenderung di oksidasi
  3. Sn4+ adalah oksidator karena cenderung di oksidasi
  4. Sn4+ adalah reduktor karena cenderung di oksidasi
  5. H2SO3 adalah reduktor dan oksidator

Pembahasan Soal Nomor 4
Atom S pada H2SO3 biloksnya +4 sedangkan bilangan oksidasi S pada HSO4 (adalah +6 berarti S mengalami oksidasi, H2SO3 adalah reduktor karena cenderung dioksidasi.

Bilangan oksidasi Sn pada Sn4+ = +4 turun menjadi +2 pada  Sn2+  (mengalami reduksi = oksidator tentu cenderung direduksi tidak cenderung dioksidasi).


Soal Nomor 5
Spesi yang mempunyai jumlah elektron yang sama dengan molekul air adalah
A. H2S
B. BH3
C. OH
D. BeH2
E. Ne+2

Pembahasan Soal Nomor 5:
Jumlah elektron (e) di sini yang dimaksud adalah jumlah elektron keseluruhan
  • H2O jumlah elektronnya = 2 e dari H + 8 e dari O = 10 e
  • H2S jumlah elektronnya = 2 e dari H + 16 e dari O = 18 e
  • BH3 jumlah elektronnya = 3 e dari H + 5 e dari B = 8 e
  • OH jumlah elektronnya = 1 e dari H + 8 e dari O + 1 e dari muatan = 10 e
  • BeH2 jumlah elektronnya = 2 e dari H + 4 e dari B = 6 e
  • Ne+2 jumlah elektronnya = 10 e dari Ne – 2 e yang dilepaskan = 8 e


Soal Nomor 6
Ion-ion berikut ini adalah isoelektrik. Di antara ion-ion berikut yang mempunyai radius paling kecil adalah
  1. Br
  2. Sr2+
  3. Rb+
  4. Se2–
  5. Semua spesi tersebut mempunyai radius yang sama karena mempunyai jumlah elektron
    yang sama
Pembahasan Soal Nomor 6
Isoelektrik artinya mempunyai jumlah elektron yang sama. Meskipun jumlah elektron sama namun jari-jari ionnya akan berbeda karena jumlah intinya berbeda. Selain itu ukuran jari-jari ion juga dipengaruhi jumlah kulit setiap ion.

Jika suatu atom mengikat elektron sehingga menjadi ion bermuatan negatif (–) maka jari-jarinya akan membesar karena penambahan efek perisai antar elektron valensi terhadap tarikan inti dan jika atom melepaskan elektron dan membentuk ion bermuatan positif maka jari-jarinya akan mengecil karena terlepasnya elektron dan meningkatnya muatan inti.

Lebih mudah membandingkan bila ion-ion itu satu periode atau satu golongan.
  • Se2– (Se menerima 2 elektron) dan Br (Br menerima 1 elektron), Se dan Br seperiode dalam tabel periodik unsur, maka jari-jari Se2– > Br.
  • Rb+ (Rb melepas 1 elektron) dan Sr2+ (Sr melepas 2 elektron), Rb dan Sr seperiode dalam tabel periodik unsur, maka jari-jari Rb+ > Sr2+. Biasanya meskipun selisih 1 jumlah kulit, ion negatif akan memiliki jari-jari ion lebih besar dibanding ion positif.

Jadi urutan jari-jari ion Se2– > Br > Rb+ > Sr2+.



Soal Nomor 7
Dari senyawa berikut: CH4, AsH3, CH3NH2, H2Te, HF, senyawa yang menunjukkan adanya ikatan hidrogen adalah
A. AsH3, H2Te
B. AsH3, CH3NH2
C. CH4, AsH3, H2Te
D. CH3NH2, HF
E. HF, H2Te

Pembahasan Soal Nomor 7
Senyawa yang mengandung unsur N, O, F dan unsur tersebut berikatan dengan unsur H serta masih memiliki pasangan elektron bebas, biasanya akan memiliki ikatan hidrogen yang cukup kuat.


Soal Nomor 8
Perhatikan pasangan cairan berikut ini
  1. Benzena, C6H6 dan heksana, C6H14
  2. Air dan metanol, CH3OH
  3. Air dan heksana, C6H14
Pasangan yang dapat saling melarutkan (miscible) adalah
  1. Hanya pasangan (i)
  2. Hanya pasangan (ii)
  3. Hanya pasangan (i) dan (ii)
  4. Pasangan (i), (ii), dan (iii)
  5. Hanya pasangan (ii) dan (iii)
Pembahasan Soal Nomor 8
Zat akan saling melarutkan bila memiliki kepolaran yang sama atau hampir sama.
Benzena → nonpolar
Heksana → nonpolar
Air → polar
Metanol → polar
  1. Benzena dan heksana, sama-sama nonpolar, pasangan ini saling melarutkan
  2. Air dan metanol, sama-sama polar, pasangan ini saling melarutkan
  3. Air dan heksana, kepolaran beda, pasangan ini tidak saling melarutkan.


Soal Nomor 9
Struktur Lewis untuk molekul hidrogen sianida (HCN) menunjukan
  1. 2 ikatan rangkap 2 dan 2 pasang elektron bebas pada atom N
  2. 1 ikatan C–H, 1 ikatan C=N, 1 pasang elektron bebas pada atom C dan 1 pasang elektron bebas pada atom N
  3. 1 ikatan C–H, 1 ikatan C–N, 2 pasang elektron bebas pada atom C dan 3 pasanga elektron pada atom N
  4. 1 ikatan C≡N, 1 ikatan N–H dan 2 pasang elektron bebas pada atom C
  5. 1 ikatan C≡N, 1 ikatan C–H dan 1 pasang elektron bebas pada atom N
Pembahasan Soal Nomor 9
Untuk menjawab soal ini sebaiknya digambarkan lebih dahulu struktur lewis HCN
H (golongan 1A) memiliki 1 elektron
C (golongan 4A) memiliki 4 elektron
N (golongan 5A) memiliki 5 elektron


Soal Nomor 10
Bentuk geometri pasangan elektron untuk molekul yang atom pusatnya masing-masing mempunyai pasangan elektron berturut-turut sebanyak: 4 pasang, 3 pasang dan 2 pasang adalah
  1. tetrahedral, trigonal planar, linier
  2. tetrahedral, trigonal piramidal, linier
  3. tetrahedral, trigonal planar, bengkok(bent)
  4. piramidal, trigonal planar, linier
  5. tidak ada jawaban yang benar
Pembahasan Soal Nomor 10



Soal Nomor 11
Pernyataan yang benar mengenai metana (CH4) dan ion ammonium (NH4+) adalah
  1. secara kimia, CH4 dan NH4+ tidak dapat dibedakan satu dengan lainnya
  2. geometri CH4 adalah tetrahedral, sedangkan NH4+ adalah bidang segiempat datar
  3. keduanya mempunyai sifat fisik yang sama
  4. CH4 dan NH4+ adalah isoelektrik
  5. Pada temperatur kamar, CH4 dan NH4+ adalah gas
Pembahasan Soal Nomor 11


Soal Nomor 12
Perubahan entalpi, ΔH untuk reaksi
4HBr(g) + O2(g) ⇌2H2O(g) + 2Br2(g)

Adalah -276 kJ untuk permol O2. Bila campuran reaksi berada dalam keadaan kesetimbangan, maka perlakuan yang akan menggeser reaksi ke arah kanan adalah
  1. Penambahan katalis
  2. Memindahkan campuran reaksi ke bawah yang volumenya lebih besar
  3. Menurunkan tekanan luar
  4. Mengeluarkan sebagian Br2(g)
  5. Menaikan temperatur

Pembahasan Soal Nomor 12
  • Reaksi dalam soal ini bersifat eksoterm (ditandai dengan ∆H = -276 kJ), agar bergeser ke kanan maka temperatur harus diturunkan.
  • Penambahan katalis tidak menggeser kesetimbangan.
  • Jumlah zat ruas kiri lebih banyak (berdasar koefisien = 4+1) dibanding ruas kanan (koefisien 2+2), agar bergeser ke kanan volume sistem kesetimbangan harus diperkecil atau tekanan sistem kesetimbangan harus diperbesar.
  • Menambah konsentrasi spesi ruas kiri akan menggeser reaksi ke kanan.
  • Mengurangi konsentrasi spesi ruas kanan akan menggeser reaksi ke kanan, misalnya dengan mengurangi (mengeluarkan) sebagai gas Br2.


Soal Nomor 13
Suatu larutan mempunyai konsentrasi ion hidrogen 0,001 M. Pernyataan berikut ini:
  1. Larutan mempunyai pH = 3
  2. Larutan bersifat asam
  3. Konsentrasi ion hidroksida adalah 1×10–11 (Diketahui: Kw = 1×10–14)
Mengenai ketiga pernyataan mengenai larutan tersebut, pernyataan yang benar adalah
  1. Semua pernyatan benar
  2. Hanya (i)
  3. Hanya (i) dan (ii)
  4. Hanya (iii)
  5. Semua pernyataan salah
Pembahasan Soal Nomor 13
[H+] = 0,001 M = 1×10–3 M
→ pH = -log [H+]
→ pH = -log (1×10–3)
→ pH = 3
pH = 3 → larutan bersifat asam
[OH] = Kw / [H+]
→ [OH] = (1×10–14) /(1×10–3)
→ [OH] = 1×10–11 M

Jadi semua pernyataan benar.


Soal Nomor 14
Dalam pelarut air, anion yang merupakan basa paling kuat adalah
  1. HSO4
  2. Cl
  3. C2H3O2 (ion asetat)
  4. NO3
  5. Semua adalah basa konjugasi dari asam kuat dan mempunyai kekuatan basa yang sama
Pembahasan Soal Nomor 14
Asam paling kuat akan menghasilkan basa konjugasi paling lemah (karena anionnya sedikit/tidak terhidrolisis/berekasi dengan air sehingga konsentrasi ion OH nya juga sedikit), asam paling lemah akan menghasilkan basa konjugasi paling kuat (karena anionnya banyak yang terhidrolisis/bereaksi dengan air sehingga konsentrasi ion OH lebih banyak).

Anion dari asam lemah CH3COOH → CH3COO (atau C2H3O)
CH3COO + H2O ⇌ CH3COOH + OH


Soal Nomor 15
Dari rentang pH perubahan warna indikator berikut ini, maka indikator yang dapat digunakan untuk titrasi larutan NH3(aq) dengan larutan HCl(aq) adalah:

Indikator Warna rentang asam pH perubahan warna Warna rentang basa
A. Pink 1,2 – 2,8 Kuning
B. Biru 3,4 – 4,6 kuning
C. Kuning 6,5 – 7,8 Ungu
D. Tak berwarna 8,3 – 9,9 Merah
E. Bukan A, B, C dan D - -

Pembahasan Soal Nomor 15
Pemilihan indikator yang cocok harus disesuaikan dengan pH pada titik ekivalen antara NH3 dan HCl (titik ekivalen-nya sekitar 5,2).


Soal Nomor 16.
Untuk membuat larutan buffer, yang dapat di tambahkan ke dalam larutan asam asetat adalah
  1. Hanya natrium asetat
  2. Natrium asetat atau natrium hidroksida
  3. Hanya asam nitrat
  4. Asam hidrofluorat atau asam nitrat
  5. Hanya natrium hidroksida
Pembahasan Soal Nomor 16
Ada 7 cara untuk membuat larutan penyangga:
  1. Reaksi asam lemah berlebih dengan basa kuat.
  2. Reaksi basa lemah berlebih dengan asam kuat.
  3. Mencampurkan asam lemah A dengan garam yang berasal dari basa kuat dengan konjugat asam lemah A.
  4. Mencampurkan basa lemah B dengan garam yang berasal dari asam kuat dengan konjugat basa lemah B.
  5. Garam (dari asam lemah + basa kuat) berlebih dengan asam kuat.
  6. Garam (dari basa lemah + asam kuat) berlebih dengan basa kuat.
  7. Garam tertentu dengan garam tertentu yang mengandung konjugat yang mirip.
Larutan asam asetat merupakan asam lemah. Jadi ada 2 alternatif yaitu cara 1 dan 3, yaitu dengan menambahkan basa kuat atau garam yang berasal dari basa kuat dengan konjugat asam lemah tersebut. Dalam hal ini basa kuat yang tepat sesuai pilihan adalah NaOH dan garamnya adalah CH3COONa. Alternatif B benar.


Soal Nomor 17.
Warna hijau pada tumbuhan disebabkan oleh pigmen klorofil yang terdapat di dalam kloroplas. Pigmen ini berfungsi sebagai penangkap cahaya matahari dalam proses fotosintesis. Reaksi fotosintesis meruakan reaksi orde ke-nol. Perbandingan laju berkurangnya molekul air, H2O dan laju pembentukan glukosa (C6H12O6) dalam reaksi tersebut adalah
  1. 1 : 2
  2. 2 : 1
  3. 6 : 1
  4. 1 : 6
  5. 1 : 1

Pembahasan Soal Nomor 17
Reaksi setara: 6CO2 + 6H2O → C6H12O6 + 6O2

Tanda – pada rumus laju reaksi sebagai tanda berkurangnya pereaksi, tanda + pada rumus laju reaksi sebagai tanda bertambahnya hasil reaksi. Jadi tanda plus minus tidak bermakna secara matematis.

Soal Nomor 18.
Berikut ini adalah profil energi reaksi A → B
Nilai yang akan berubah bila ditambahkan katalis adalah
  1. Hanya I
  2. Hanya II
  3. Hanya III
  4. Hanya II dan III
  5. I, II, dan III
Pembahasan Soal Nomor 18
Penambahan katalis akan menurunkan energi aktivasi. Pada soal, I = ∆H reaksi, II = besarnya energi aktivasi, III = energi aktivasi balik.


Soal Nomor 19
Reaksi berikut ini
2HgCl2 + C2O42– → 2Cl + 2CO2 + Hg2Cl2
Untuk menentukan laju awal reaksi, reaksi dilakukan dengan menggunakan variasi konsentrasi dua pereaksi. Hasilnya diperoleh seperti pada data tabel berikut ini

Percobaan [HgCl2] M [C2O42–] M Laju awal (M/det)
1 0,05 0,15 8,75 × 10–6
2 0,05 0,30 3,50 × 10–5
3 0,10 0,15 1,75 × 10–5
4 0,10 0,30 7,00 × 10–5

Persamaan laju awal reaksi tersebut adalah
A. Laju = r = k[HgCl2] [C2O42–]
B. Laju = r = k[HgCl2] 2 [C2O42–]2
C. Laju = r = k[HgCl2] [C2O42–]2
D. Laju = r = k[HgCl2]2 [C2O42–]
E. Laju = r = k[HgCl2] [C2O42–]4

Pembahasan Soal Nomor 19
Untuk menentukan laju reaksi diperlukan orde reaksi setiap pereaksi dengan memanfaatkan data percobaan.
Orde reaksi terhadap HgCl2 dapat digunakan data C2O42– yang konsentrasinya tetap, dalam hal ini dapat menggunakan data percobaan 3 dan 1 atau 4 dan 2.

Pembahasan ini menggunakan data 4 dan 2:
(0,10/0,05)x = (7×10–5)/(3,50×10–5)
2x = 2,15 → 2x = 2 → x = 1

Orde reaksi terhadap C2O42– dapat digunakan data HgCl2 yang konsentrasinya tetap, dalam hal ini dapat menggunakan data percobaan 2 dan 1 atau 4 dan 3.
Pembahasan ini menggunakan data 4 dan 3:
(0,30/0,15)y = (7×10–5)/(1,75×10–5)
2y = 4 → y = 2
Jadi persamaan laju reaksi r = k[HgCl2] [C2O42–]2


Soal Nomor 20
Perhatikan diagram sel elektrokimia berikut

Bila anda mengamati reaksi di dalam sel tersebut berlangsung, ternyata elektroda timah putih (Sn) nampak semakin kecil sedangkan elektroda perak (Ag) terbentuk endapan (deposit). Pernyataan yang benar adalah :
  1. Elektroda perak adalah katoda dan elektroda timah putih adalah anoda
  2. Elekron mengalir dari elektroda perak ke elektroda timah putih
  3. Ion nitrat mengalir melalui jembatan garam ke larutan perak nitrat
  4. Setengah reaksi yang terjadi di elektroda timah putih adalah Sn4+ + 2e → Sn2+
  5. Elektroda perak adalah anoda dan elektroda timah putih adalah katoda
Pembahasan Soal Nomor 20.
Elektroda Sn semakin mengecil artinya ada Sn yang melarut, reaksi yang mungkin adalah
Sn → Sn2++ 2e dapat diartikan elektroda Sn mengalami oksidasi, elektroda tempat terjadi oksidasi disebut anoda. Elektron hasil oksidasi ini akan mengalir dari anoda menuju katoda.

Elektroda Ag terdapat endapan (membesar) artinya ada Ag+ (dari larutan) yang berubah menjadi Ag (endapan) dan menempel pada elektroda Ag.
Dapat diartikan terjadi reaksi reduksi dari Ag+ + e→ Ag. Di sekitar elektroda akan kelebihan ion NO3- sehingga akan dialirkan ke larutan Sn(NO3)2 melalui jembatan garam. Elektroda tempat terjadi reduksi disebut katoda.

Disimpulkan Ag adalah katoda dan Sn adalah anoda.

Soal Nomor 21.
Perhatikan sel volta dengan notasi berikut ini:
Pb|Pb(NO3)2(1,0 M) || AgNO3(1,0 M)|Ag
Bila sel tersebut bekerja, massa lempeng Ag semakin berat dan konsentrasi ion Ag+ dalam larutan disekeliling lempeng Ag semakin menurun, sedangkan lempengan Pb massanya semakin berkurang dan konsentrasi ion Pb2+ dalam larutan disekeliling lempeng Pb naik. Dari pernyataan berikut, reaksi setengah sel yang paling tepat untuk menyatakan reaksi pada elektroda negatif dari sel tersebut di atas adalah :
  1. Pb2+ + 2e → Pb
  2. Pb → Pb2+ + 2e
  3. Ag+ + e → Ag
  4. Ag → Ag+ + e
  5. Jawaban A, B, C dan D semua salah
Pembahasan Soal Nomor 21
Dari notasi sel volta Pb Pb(NO3)2 1,0 M) || AgNO3 1,0 M)|Ag
dapat diterjemahkan bahwa
Pb | Pb(NO3)2 (1,0 M) → Pb akan berubah menjadi larutan Pb(NO3)2
dengan reaksi: Pb → Pb2+ + 2e
AgNO3 (1,0 M) | Ag → Larutan AgNO3 (dalam hal ini Ag+) mengendap menjadi Ag
dengan berekasi : Ag+ + e → Ag

Soal Nomor 22
Reaksi reaksi berikut ini, manakah yang entropi sistemnya meningkat:
  1. Ag+(aq) + Cl(aq) → AgCl(s)
  2. C(s) + O2(g) → 2CO(g)
  3. H2(g) + Cl2(g) → 2HCl(g)
  4. N2(g) + 2H2(g) → 2NH3(g)
  5. H2O(l) → H2O(s)
Pembahasan Soal Nomor 22.
Entropi dapat diartikan sebagai derajat tidak teraturan suatu sistem. Secara fisik dapat ditinjau berdasarkan perubahan wujud suatu zat. Selain itu juga dapat dicontohkan terurai/terbentuknya suatu zat.

Zat padat mencair, zat cair menguap, zat padat menguap ini menunjukkan entropi zat meningkat, partikel dalam zat semakin bebas bergerak, bergerak semakin tidak teratur. Perubahan sebaliknya menunjukkan penurunan entropi (semakin teratur)

Zat yang semula satu partikel kemudian terurai menjadi 2 partikel atau lebih yang lebih tidak stabil juga menunjukkan peningkatan entropi.
  1. Ag+(aq) + Cl(aq) → AgCl(s) ⇒ (semakin teratur)
  2. C(s) + O2(g) → 2CO(g) ⇒ (sidak teratur karena gas CO sangat tidak stabil dibandingkan zat sebelumnya)
  3. H2(g) + Cl2(g) → 2HCl(g) ⇒ (semakin teratur)
  4. N2(g) + 2H2(g) → 2NH3(g) ⇒ (semakin teratur)
  5. H2O(l) → H2O(s) ⇒ (semakin teratur)

Soal Nomor 23
Berikut ini diberikan tabel data termodinamika :

Senyawa ΔHf (kJ/mol) So (J/mol.K)
PCl3 (g) -288,07 311,7
PCl3 (l) -319,6 217

Berdasarkan data tersebut di atas, penguapan PCl3(l) adalah:
  1. Tidak spontan pada temperatur rendah, dan spontan pada temperatur tinggi
  2. Spontan pada temperatur rendah dan non-spontan pada temperatur tinggi
  3. Spontan pada semua temperatur
  4. Non-spontan pada semua temperatur
  5. Tidak cukup informasi untuk menarik kesimpulan
Pembahasan Soal Nomor 23
Kespontanan suatu reaksi dapat ditinjau berdasarkan nilai enegi bebas Gibbs (∆G).
∆G = ∆H – T∆S
Bila ∆G bernilai negatif maka reaksi dapat dikatakan berlangsung spontan, sebaliknya jika Bila ∆G bernilai positif maka reaksi dapat dikatakan berlangsung tidak spontan.
Dari persamaan ∆G = ∆H – T∆S, agar diperoleh ∆G bernilai negatif, maka yang dapat diupayakan adalah ∆H = – , dan ∆S = +, untuk semua temperatur.


Soal E. Nomor 24
Nama dari senyawa yang diilustrasikan berikut ini

adalah
A. diasetamida
B. formil asetmida
C. dimetilasetat
D. N,N-dimetilformamida
E. dimetilamina

Pembahasan Soal Nomor 24.
N primer (N yang mengikat 1 atom C)
N skunder (N yang mengikat 2 atom C) ditandai dengan memberi awalan N
N tersier (N yang mengikat 3 atom C) ditandai dengan memberi awalan N,N

Soal Nomor 25
Hubungan antara kedua struktur berikut ini adalah
A. Isomer struktur
B. Isomer geometri
C. Isomer konformasi
D. Isomer identik
E. Isomer optik

Pembahasan Soal Nomor 25


Soal Nomor 26
Alkohol yang bila dioksidasi akan menghasilkan keton adalah:
A. 1-propanol
B. Metanol
C. 2-metil-2-propanol
D. 2-propanol
E. Semuanya membentuk keton bila dioksidasi

Pembahasan Soal Nomor 26
Alkohol primer bila dioksidasi akan menghasilkan aldehid
Alkohol skunder bila dioksidasi akan menghasilkan keton.
Pada soal yang merupakan alkohol skuder adalah 2-propanol.

Soal Nomor 27
Pereaksi yang jika bereaksi dengan etuna akan menghasilkan CH2Br-CHBrCl adalah
  1. HCl, kemudian HBr
  2. HCl, kemudian Br2
  3. Cl2, kemudian HBr
  4. Cl2, kemudian Br2
  5. H2, kemudian Br2
Pembahasan Soal Nomor 27



Soal Nomor 28
Produk utama yang dihasilkan dari reaksi adisi antara satu equivalen HCl dengan 1-fenil-1,3-butadiena sesuai dengan skema reaksi berikut

adalah

Pembahasan Soal Nomor 28




Soal Nomor 29
Jika senyawa 1-naftol dinitrasi dengan reagan [HNO3, H2SO4] seperti pada persamaan reaksi berikut

Maka gugus nitro (NO2) akan menempati posisi :
  1. 3 dan 6
  2. 3 dan 4
  3. 6 dan 8
  4. 7 dan 5
  5. 2 dan 4
Pembahasan Soal Nomor 29
Gugus OH merupakan gugus pengarah orto atau para. Pada atom C struktur benzena, orto adalah berada di posisi nomor 2, para di posisi nomor 4.


Soal Nomor 30
Sifat kebasan turunan ammonia dipengaruhi oleh adanya subtituen dan struktur molekulnya,maka urutan kebasaan mulai dari yang paling basa sampai yang kurang basa dari senyawa berikut di bawah ini

 adalah
  1. II > III > I > IV
  2. II > IV > III > I
  3. I > II > III > IV
  4. I > III > IV > II
  5. IV > II > I > III
Pembahasan Soal Nomor 30
Sifat basa ditentukan berdasar adanya pasangan elektron bebas, ini sesuai teori asam-basa Lewis. Basa adalah zat yang dapat mendonorkan pasangan elektron bebas yang dimiliki.
  • Membandingkan struktur II dengan struktur III, pada struktur II N alifatik memiliki hibridisasinya sp3 dan tidak terjadi resonansi membuatnya kurang elektronegatif (sehingga lebih bersifat basa) dibanding N struktur III yang berhibridisasi sp2. II > III
  • Membandingkan struktur III dengan struktur I, sebenarnya N dengan hibridisasi sp2 kurang bersifat basa dibanding N dengan hibridisasi sp3, namun karena pasangan elektron bebas N pada struktur I itu dapat mengalami resonansi ke cincin fenil, ini menurunkan sifat basanya. III > I
  • Membandingkan struktur I dengan struktur IV, struktur IV lebih luas lagi resonansinya hingga gugus nitro-nya sehingga sifat basa struktur I > struktur IV, I > IV



Koreksi dan saran diterima dengan senang hati diterima untuk pembelajaran yang lebih baik. Terima kasih.
Bagikan di

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © 2015-2016 Urip dot Info | Disain Template Oleh Herdiansyah Hamzah Dimodivikasi Urip.Info